Rabu, 11 Mei 2016

tugas ekologi manusi " suku madura" (muhammad fahmi dan chairul bahri)

Ekologi Manusia
"Suku Madura"
Dosen: Tantan Hermansyah, M.Si
Description: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSew1G_90WEsm3QulO5vj2D20fyKUSdPJnfx-uD-LNU6GA8H_0v
Disusun Oleh:
Muhammad Fahmi
Chairul Bahri
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Suku bangsa atau etnisitas adalah suatu golongan manusia yang anggota – anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku pun ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut dan oleh kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku atau ciri-ciri biologis.
Indonesia sebagai Negara yang memiliki banyak pulau tentulah memiliki banyak suku atau etnis pula sebab pasti dari jumlah pulau maupun suku tersebut pastilah ada perbedaan yang menimbulkan ketidaksamaan identitas dan ciri khas .Antara suku satu dan suku yang lainnya pastilah muncul adanya masyhurul ahwal baik dari segi sejarah, sistem teknologi, mata pencaharian, kesenian dan agama .Maka sehubungan dengan tugas paper mata kuliah Ekologi Manusia, maka kami susun warna warni etnisitas Madura yang merupakan suku penulis, Waba`du penulis harap koreksi dan edit dosen pemangku dapat menyempurnakan paper yang penuh dengan keterbatasan ini.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.   Sejarah suku Madura
Dikisahkan bahwa ada suatu negara yang bernama Mendangkamulan dengan seorang Raja yang bernama Sang yang tunggal beliau mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Yang pada suatu hari hamil dan diketahui Ayahnya. Raja amat marah karena kehamilan putri kesayangannya tidak bisa masuk akal akhirnya dia menyuruh sang Patih yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu. Karena tidak tega melihat putrid Bendoro ging maka ia tidak membunuh anak Raja itu melainkan mengasingkannya ke tepi laut sambil berucap perkgilah ke "Madu Oro" (waktu itu hanya sebuah dua bukit di tengah laut yang kemudian sekarang tempat tersebut disebut gunung Geger di Bangkalan dan bukit yang kedua adalah gunung Pajudan Sumenep) dan patih yang baik hati itu tidak kembali ke Istana dengan tujuan takut di bunuh oleh raja karena telah melalaikan tugasnya dia juga merubah namanya dengan Ki Poleng serta melepas pakaian kebangsawanannya dan di ganti dengan kain tenun (kain sederhana yang kemudian menjadi ciri khas orang Madura). Putri raja yang hamil yang malang merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Ki Poleng dengan cara mengepakkan kakinya kebumi sebanyak tiga kali sesuai petunjuknya dulu. Tidak lama kemudian Ki Poleng datang dan mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak Akhirnya putra tersebut yang diberi nama Raden Segoro (artinya laut, sebab dia lahir ditengah laut).
Maka dapat disimpulkan bahwa istilah Madura berasal dari akar kata Madu Oro yang merupakan lontaran dari patih yang bijaksana dalam menyimbolkan dua bukit ditengah lautan. Sedangkan asal usul penduduk pulau Madura merupakan anak cucu dari Raden Segoro dari ibu Bendoro Gung.
B.     GAMBARAN WILAYAH SUKU MADURA
Kondisi geografis pulau Madura dengan topografi yang relatif datar di bagian selatan dan semakin kearah utara tidak terjadi perbedaan elevansi ketinggian yang begitu mencolok. Selain itu juga merupakan dataran tinggi tanpa gunung berapi dan tanah pertanian lahan kering. Komposisi tanah dan curah hujan yang tidak sama dilereng-lereng yang tinggi letaknya justru terlalu banyak sedangkan di lereng-lereng yang rendah malah kekurangan dengan demikian mengakibatkan Madura kurang memiliki tanah yang subur.
Secara geologis Madura merupakan kelanjutan bagian utara Jawa, kelanjutan dari pengunungan kapur yang terletak di sebelah utara dan di sebelah selatan lembah solo. Bukit-bukit kapur di Madura merupakan bukit-bukit yang lebih rendah, lebih kasar dan lebih bulat daripada bukit-bukit di Jawa dan letaknyapun lebih bergabung. Luas keseluruhan Pulau Madura kurang lebih 5.168 km², atau kurang lebih 10 persen dari luas daratan Jawa Timur. Adapun panjang daratan kepulauannya dari ujung barat di Kamal sampai dengan ujung Timur di Kalianget sekitar 180 km dan lebarnya berkisar 40 km. Pulau ini terbagi dalam empat wilayah kabupaten. Dengan Luas wilayah untuk kabupaten Bangkalan 1.144, 75 km² terbagi dalam 8 wilayah kecamatan, kabupaten Sampang berluas wilayah 1.321,86 km², terbagi dalam 12 kecamatan, Kabupaten Pamekasan memiliki luas wilayah 844,19 km², yang terbagi dalam 13 kecamatan, dan kabupaten Sumenep mempunyai luas wilayah 1.857,530 km², terbagi dalam 27 kecamatan yang tersebar diwilayah daratan dan kepulauan.
C.    NILAI-NILAI EKOLOGI MASYARAKAT
·         Kesopanan
Walau orang di luar Madura menilai mereka sangat kasar, namun penghormatan terhadap nilai-nilai kesopanan sangat tinggi sekali. Betapa pentingnya nilai kesopanan ini nampak dari ungkapan ta'tao batona langgar (tidak pernah merasakan lantainya langgar). Maksudnya, orang tersebut belum pernah masuk langgar dan mengaji atau belum pernah mondok, sehingga tidak tahu tatakrama kesopanan. Ungkapan ini untuk orang yang tidak tahu atau melanggar nilai-nilai kesopanan. Ungkapan lain yang memberikan nasihat dan ajaran tentang keharusan bersopan santun adalah : pa tao ajalan jalana jalane, pa tao neng ngenneng, pa tao a ca ca (yang menjadi kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan aturan. Harus tahu saatnya diam, harus tahu saatnya berbicara).
Hal ini bermakna bahwa orang Madura harus selalu tahu aturan, nilai dan tatakrama dalam setiap tindakannya Selain itu, setiap kewajiban harus dilaksanakan dengan mendasarkan pada aturan-aturan tata krama yang ada. Orang dan masyarakat Madura selalu menekankan bahwa mon oreng riya benni bagusse, tape tatakramana, sanajjan bagus tapi tatakramana jube', ma' celep ka ate (yang penting bukan ketampanan atau kecantikan, namun utama tatakramanya) Dasar utama dari nilai-nilai kesopanan adalah penghormatan orang Madura kepada orang lain, terutama yang lebih tua. Nilai-nilai kesopanan ini mengatur hubungan antargenerasi, kelamin, pangkat dan posisi sosial
·         Kehormatan
Masyarakat Madura sangat mengutamakan penghormatan dan penghargaan, apalagi kepada yang lebih tua atau yang mempunyai kedudukan sosial yang lebih tinggi, sehingga menjadikan nilai-nilai kesopanan menjadi sangat penting sekali dalam kehidupan bermasyarakat. masyarakat Madura tidak mau diremehkan, namun demikian penonjolan diri juga tidak dihargai. contohnya ungkapan madu ben dere (madu dan darah), yang berarti bila orang Madura diperlakukan secara baik, menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan penghormatan, maka balasannya adalah kebaikan pula. Sebaliknya, bila ia diperlakukan secara sewenang-wenang dan tidak adil, maka balasannya jauh lebih berat bahkan dapat menimbulkan pertumpahan darah. Hubungan sosial masyarakat Madura selalu saling menghormati dan menghargai sebagai sesama manusia dan menjaga untuk tidak saling menyakiti. Hal ini sangat nampak dari ajaran ja' nobi' oreng mon aba'na e tobi' sake' (janganlah menyakiti orang lain, kalau diri-sendiri merasa sakit jika disakiti orang).
Harga diri atau martabat adalah nilai yang sangat mendasar dalam masyarakat Madura. Harga diri harus selalu dipertahankan agar tidak diremehkan orang lain. Dasar utama dari harga diri adalah rasa malu (rasa malo atau todus). Orang Madura selalu menekankan bahwa tambana todus mate' (obatnya malu adalah mati). lebih bagus apote tolang etembang apote mata (lebih baik mati daripada malu tidak dapat mempertahankan harga diri). Nilai-nilai harga diri bagi masyarakat Madura selain berkaitan dengan ego, wanita dan agama juga berkait erat dengan masalah tanah dan air
·         Agama
Simbol keagamaan yang seringkali digunakan adalah kyai. Itulah yang menyebabkan lapisan atas pada stratifikasi sosial ditempati oleh para kiai. Mereka bukan hanya sebagai pemuka agama namun juga sebagai pemimpin masyarakat. Para kyai dipandang memiliki kendali legitimasi dan otoritas kharismatis, sehingga buah pikirannya mudah sekali untuk disepakati. Kepemimpinan yang disandang para kyai adalah bersifat berpengaruh penting dalam beberapa bidang sekaligus. Bukan hanya dalam bidang keagamaan, melainkan juga dalam kegiatan sosial, bahkan mungkin juga politik.
Tiga ciri dasar kehidupan sosial budaya tersebut merupakan ciri orang dan masyarakat Madura secara keseluruhan, tak terkecuali orang dan masyarakat Madura yang bertempat tinggal di luar pulau Madura namun Tidak hanya itu karakter orang Madura, masih banyak ahwal yang sering 'membidani' perbedaan mencolok dengan etnis lain salah satunya adalah Harga diri, sifat ini masyhur juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa "Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata". Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata), Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.
 
D.    ANALISIS PERSPEKTIF
Saya memakai perspektif ekologi konstrutivitas di mana keadaan lingkungan di suku madura sangat dipengaruhi cara pandang tiap orang ( individu ). Misalnya mereka memandang bahwa keadaan laut hari ini sangat kurang baik maka apa yang terjadi akan benar terjadi. 
 
 
 
 
 
 
 
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk mengilustrasikan Suku Madura sebenarnya kita hanya butuh mengkaji satu bait syair yang dilonratkan oleh Syekh Abdul Madjid Al – Manduri yang berbunyi :
وما شيء اذا زدناه ينقص وان ينقص باذن لله زاد
Dengan makna sastra tinggi ; Sebab bagaimanapun Madura memiliki nilai hitam dan putih dengan katagori Analisa perkembangan penduduk yang banyak namun hidup diluar daerahnya atau melalui katagori strata sosialnya baik namun kasar atau pula dengan katagori seni baik namun bertentangan dengan naluri mahluk hidup seperti kerapan sapi


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA

Van Dijk, K., de Jonge, H. & Touwen-Bouwsma, E., Introduction, di dalam: van Dijk et al. (penyunting),

Across Madura Strait: the dynamics of an insular society, (Leiden: KITLV Press, 1995) 1-6, via Wikipedia date 04-06-2009

Saifurrachman, Surat Kepada Anjing Hitam 'Biografi dan Karomah Syaikhona Khalil Bangkalan', Jakarta Pustaka Ciganjur, 1999

Rasul Junaidi, Madura Dalam Gelombang Reformasi, (Radar Madura) terbit selasa 5 Oktober 1999


 

Dauatus saidah, Nur syamsiyah_ekologi manusia_pmi 6_tugas 5

Sejarah Suku BADUY

Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek a–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja. Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal-usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Baduy yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Baduy sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.

Ada versi lain dari sejarah suku baduy, dimulai ketika Kian Santang putra prabu siliwangi pulang dari arabia setelah berislam di tangan sayyidina Ali. Sang putra ingin mengislamkan sang prabu beserta para pengikutnya. Di akhir cerita, dengan 'wangsit siliwangi' yang diterima sang prabu, mereka berkeberatan masuk islam, dan menyebar ke penjuru sunda untuk tetap dalam keyakinannya. Dan Prabu Siliwangi dikejar hingga ke daerah lebak (baduy sekarang), dan bersembunyi hingga ditinggalkan. Lalu sang prabu di daerah baduy tersebut berganti nama dengan gelar baru Prabu Kencana Wungu, yang mungkin gelar tersebut sudah berganti lagi. Dan di baduy dalamlah prabu siliwangi bertahta dengan 40 pengikut setianya, hingga nanti akan terjadi perang saudara antara mereka dengan kita yang diwakili oleh ki saih seorang yang berupa manusia tetapi sekujur tubuh dan wajahnya tertutupi oleh bulu-bulu laiknya monyet.dan ki saih ini kehadirannya di kita adalah atas permintaan para wali kepada Allah agar memenangkan kebenaran.

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan sesedikit mungkin: Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung).

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya pun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a). Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan uyang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

1.      Baduy Luar

Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam. Penyebab Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam. Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam menikah dengan anggota Baduy Luar. Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam.

Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.

2.      Baduy Dalam

Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan Suku Baduy. Tidak seperti Baduy Luar, warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka. Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasiTidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun) Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)Menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat). Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk. Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup

 

Lokasi Suku BADUY Banten

Suku Baduy merupakan salah satu suku asli Banten dengan jumlah penduduk suku baduy sekitar 5000-8000 orang. Lokasi suku Baduy berada di kaki pegunungan Kendeng, Desa Kenkes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.  Baduy merupakan sebutan yang diberikan oleh masyarakat luar dan berawal dari sebutan para peneliti. Peneliti menyamakan mereka dengan kelompok masyarakat yang berpindah atau nomaden. Pada sejarah "baduy" diberikan oleh pemerintahan kesultanan banten, ketika itu masyarakat asli Banten enggan menerima ajaran islam mereka menolak dan diasingkan ke daerah pedalaman. Namun orang suku baduy lebih senang dengan sbeutan lain untuk mereka yaitu "urang kenakes" atau dalam artinya orang kenakes berdasarkan asal daerah mereka yang tinggal di Kenakes. Masyarakat suku baduy benar-benar menjaga adat istiadat dan sangat menjaga alam sekitarnya. Karena mereka sadar mereka hidup oleh alam dan berdampingan dengan alam. Banyak ajaran suku baduy yang berupa larangan bila diabaikan akan terkena hukum alam. Di provinsi Banten terdapat suku asli yaitu suku baduy dalam dan suku baduy luar. Suku baduy dalam masi menjaga tradisi, adat istidat dan anti modernisasi baik cara berpakaian, pola hidup dan lainnya. Sedangkan suku baduy luar masih menjaga tradisi dan adat istiadat tetapi sudah mampu beinteraksi dengan masyarakat dari luar suku baduy.

Nilai-nilai Ekologi Masyarakat Suku Baduy

1.Menjaga dan merawat alam di lingkungannya.

2.Menjaga kebersihan terutama kebersihan sungai, contohnya di Baduy Dalam dengan tidak bolehnya mandi menggunakan bahan yang mengandung sabun.

3.Tidak diperbolehkannya bagi Baduy Dalam menggunakan alat transportasi, dengan begini alam menjadi bersih karena tidak ada asap udara yang kotor.

4. Bercocok tanam dengan cara-cara tradisional. Dan dapat menjaga kandungan unsur hara dalam tanah.

Analisis Menggunakan Persektif Ekologi

Menurut kami, suku Baduy cocok menggunakan perspektif Weberian. Karena, tindakan setiap individu akan memberikan dampak yang signifikan pada lingkungan: misalnya tidak boleh mandi menggunakan dengan menggunakan sabun yang berbusa, karena akan merusak sungai. Ketika masyarakat suku Baduy tidak melakukan hal tersebut, sungai pun tidak tercemar.

 

Aditiya Awaludin, Suryo Widodo_Ekologi Manusia_Tugas 5_Suku Bajo

Nama Anggota Kelompok :   Aditiya Awaludin

                                               Suryo Widodo

Jurusan                               :  PMI/6

Mata Kuliah                       : Ekologi

SUKU BAJO

A.    SEJARAH SUKU BAJO (BAJAU)

Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Sehingga, ketangguhan dan keterampilannya mengarungi samudera jelas tidak terbantahkan.

Sejumlah antropolog mencatat, suku Bajo lari ke laut karena mereka menghindari perang dan kericuhan di darat. Sejak itu, bermunculan manusia-manusia perahu yang sepenuhnya hidup di atas air. Nama suku Bajo diberikan oleh warga suku lain di Pulau Sulawesi sendiri atau di luar Pulau Sulawesi. Sedangkan warga suku Bajo menyebutnyadirinya sebagai suku Same. Dan, mereka menyebut warga di luar sukunya sebagai suku Bagai.

Nama "Bajo" sendiri ada yang mengartikannya secara negatif, yakni perompak atau bajak laut. Menurut cerita tutur yang berkembang di kalangan antropolog, kalangan perompak di zaman dulu diyakini berasal dari suku Same. Sejak itu, orang-orang menyebut suku Same sebagai suku Bajo. Artinya, ya suku Perompak. Anehnya, nama suku Bajo itu lebih terkenal dan menyebar hingga ke seluruh nusantara. Sehingga, suku laut apa pun di bumi nusantara ini kerap disamaratakan sebagai suku Bajo! Belakangan, pemaknaan negatif ini membangkitkan polemik berkepanjangan.

Banyak kalangan yang tidak menyetujui dan membantah arti "bajo" sebagai perompak atau bajak laut. Karena, itu sama artinya dengan menempatkan suku Bajo di tempat yang tidak semestinya dalam buku sejarah kita. Apa pun hasil akhir perdebatan itu, faktanya banyak juga kalangan antropolog yang sangat yakin dengan akurasi konotasi negatif itu. Lucunya, perdebatan demi perdebatan tentang suatu masalah, justru tidak pernah menghasilkan kesimpulan yang kian sempurna. Sehingga, hanya kebingunganlah yang mesti dinikmati orang-orang yang berniat mempelajari ilmu pengetahuan tersebut. Termasuk juga tentang asal-muasal kata "bajo"! Yang pasti, suku Bajo adalah suku Same atau suku laut yang hingga sekarang masih memukimi banyak lokasi di seluruh nusantara. Di mana ada tanjung, maka di sanalah suku Bajo membangun kehidupan.

B.     Lokasi dan gambaran umum penduduknya

Suku bajo tersebar di penjuru Pulau Sulawesi. Berikut daerah yang menjadi tempat tinggal suku bajo:

1.      Gorontalo

Sepanjang pesisir Teluk Tomini, terpusat di wilayah Kabupaten Boalemo dan Gorontalo.

2.      Sulawesi Tengah

Kepulauan Togian di Teluk Tomini, Tojo Una-Una, Kepulauan Banggai. Selain itu dimungkinkan dijumpai di pesisir Kabupaten Toli-Toli, Parigi Moutong dan Poso.

3.      Sulawesi Tenggara

Terdapat di pesisir Konawe dan Kolaka (pulau utama). Di Pulau Muna (Desa Bangko, Kecamatan Baginti yang konon sudah ada sejak abad ke-16), Pulau Kabaena, Pulau Wolio, Pulau Buton, Kepulauan Wakatobi (Kaledupa, Binongko, Kapotta dan Tomea).

4.      Sulawesi Selatan

Terpusat di Kelurahan Bajoe, Kabupaten Bone. Orang Bajo banyak tinggal di kawasan sepanjang pesisir teluk Bone sejak ratusan tahun silam.

Namun selain tinggal disulawesi, suku bajo juga terdapat atau dapat dijumpai di Nusa Tenggara Barat dan Timur. Berikut penjelasannya :

1.      Nusa Tenggara Barat

Suku Bajo di pulau Lombok ditemui disebuah kampung di Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur. Sedangkan di Pulau Sumbawa, mereka banyak dijumpai di Pulau Moyo dan sekitarnya, serta kawasan Bima di belahan timur Sumbawa.

2.      Nusa Tenggara Timur

Di Pulau Flores mereka dapat dijumpai di kawasan pesisir, mulai dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Flores Timur (di sana ada kota bernama Labuhan Bajo yang diambil dari nama suku itu). Pemukiman mereka di Nusa Tenggara Timur antara lain di Lembata yakni di wilayah Balauring, Wairiang, Waijarang, Lalaba dan Lewoleba. Pulau Adonara : Meko, Sagu dan Waiwerang. Sedangkan sisanya bermukim di Pulau Solor, Alor dan Timor, terutama Timor Barat. Mereka sudah bermukim disana sejak ratusan tahun silam dan hidup rukun dengan penduduk setempat. Orang Bajo juga banyak dijumpai dikawasan sekitar Pulau Komodo dan Rinca.[1]

 

Dari segi bahasa, kendati orang Bajo mempunyai satu bahasa. Namun dialek mereka terpengaruh dengan bahasa-bahasa daerah tempat mereka bermukim. Seperti di kabupaten Lembata, mereka hanya berbahasa Bajo dengan kaumnya, sementara itu mereka berbahasa Lamaholot bila bertemu di pasar atau berinteraksi dengan penduduk luar kelompoknya. Orang Bajo terutama di Sulawesi Selatan banyak mengadaptasi adat istiadat orang Bugis atau Makassar. Atau juga adat istiadat Buton di Sulawesi Tenggara. Sedangkan orang Bajo di Sumbawa cenderung mengambil adat Bugis, bahkan seringkali mengidentifikasi dirinya sebagai orang Bugis/Buton di beberapa daerah. Meskipun telah ratusan tahun tinggal bersama penduduk lokal yang beragama Katolik atau Kristen di NTT, orang Bajo tetap sampai sekarang taat menganut agama Islam, dan bagi mereka Islam adalah satu-satunya agama yang menjadi ciri khas suku ini. Menjaga kekayaan laut adalah salah sifat yang diemban oleh suku Bajo. Dengan kearifannya mereka mampu menyesuaikan diri dengan ganasnya lautan.

Suku Bajo dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup matinya berada diatas lautan. Bahkan perkampungan merekapun dibangun jauh menjorok kearah lautan bebas, tempat mereka mencari penghidupan. Laut bagi mereka adalah satu-satunya tempat yang dapat diandalkankarena pada mulanya mereka memang hidup terapung-apung diatas rumah perahu. Orang Bajo inipun menyebar ke segala penjuru wilayah semenjak abad ke-16 hingga sekitar 40-50 tahun silam (perpindahan terakhir terjadi di berbagai wilayah di NTT).

Diberbagai tempat, orang Bajo banyak yang akhirnya menetap, baik dengan inisiatif sendiri atau di'paksa' pemerintah. Namun tempat tinggalnyapun tidak pernah jauh dari laut. Banyak orang Bajo yang akhirnya menetap, sedang lainnya masih berkelana dilautan. Mereka membangun pemukiman-pemukiman baru di berbagai penjuru Indonesia. Berikut sebagian dari tempat bermukimnya suku Bajo ini, utamanya di Pulau Sulawesi dan Nusa Tenggara sebagai pusat pemukimannya. Orang Bajo dikenal mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, kendati tradisinya sendiri tetap berjalan.

Seluruh aktivitas mereka dihabiskan di atas perahu. Karena itu, mereka dikenal dengan julukan suku nomaden laut. Hal inilah yang ingin dipelajari dan diterapkan para ilmuwan menghadapi ancaman pulau-pulau tenggelam. antropolog dari Universitas Hasanuddin Makassar, jumlah suku Bajo yang menggantungkan hidupnya di atas perahu diperkirakan semakin sedikit karena hidup menepi di pesisir pantai dan mendirikan rumah panggung. Digambarkan dalam buku Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, rumah panggung suku Bajo dibangun menggunakan bahan yang terbilang ramah lingkungan. Dindingnya terbuat dari kombinasi kayu dan anyaman bambu. Sedangkan bagian atap dari daun rumbia.

C.     NILAI-NILAI EKOLOGIS

Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Bajo Suku bajo memiliki karateristik berbeda dengan komunitas suku-suku di nusantara pada umumnya, karena Suku Bajo tidak dapat dipisahkan dengan laut dan perahu. Orang Bajo mulai mengalami kehidupan sosial berubah setelah menetap dipermukiman di darat. Namun tak dapat  dipungkiri dalam hal menyangkut persoalan kelautan, Suku Bajo diakui paling mengenal soal kelautan bila di banding dengan suku-suku lain di nusantara.[2]

Ada sebuah ungkapan dari nenek moyang mereka yang mengatakan "Papu Manak Ita Lino Bake Isi-isina, kitanaja manusiamamikira bhatingga kolekna mengelolana." Artinya Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, kita sebagai manusia memikirkan bagaimana mengelolanya. filsafat hidup yang diwariskan leluhur mereka sangat meresap dalam kehidupan mereka dan menjadikan orang Bajo berusaha memahami gejala alam sediri mungkin agar dapat mengelola seisi bumi.

Menurut sejarahwan Universitas Halu Oleo (Unhalu) di Kendari, Dr. Anwar Hafidz, sedemikian dalam pengenalan mereka terhadap kehidupan di laut, orang Bajo memiliki kemampuan diagnosis penyakit ikan tertentu di laut. Demikian pula pengetahuan mereka tentang gejala alam yang member pertanda tentang ada atau tidak adanya kosentrasi ikan di suatu tempat di tengah laut. Filsafat hidup lainya yang menjadi orang Bajo memiliki semangat untuk menjaga keseinbangan dalam kehidupan sosial mereka adalah tertuang dalam apa yang mereka sebut dengan "Tellu Temmaliseng, Dua Temmserang"–Tiga unsure yang tidak dapat dipisahkan yaitu: Allah, Muhammad dan Manusia serta dua hal yang tidak bisa dibedakan yaitu: Allah dan Hamba-Nya.Keberadaan suatu komunitas Suku Bajo di suatu lokasi, berawal dari kegiatan mencari hasil laut. Pontensi hasil laut di suatu kawasan tertentu yang melimpah menjadi penyebab mereka membagun pondok yang berfungsi sebagai tempat berteduh pada saat cuaca laut memburuk dan juga menjadi tempat mengeloah hasil tangkapan. Bila lokasi tersebut memenuhi persyaratan untuk pemukiman, misalnya tidak jauh bersumber air tawar dan kemudian dalam pemasaran hasil tangkapan, maka tempat tersebut di putuskan sebagai tempat tinggal baru (Ponulele, 1997:29).[3]Komunitas Suku Bajo dimana mereka bermukim, cenderung hidup mengelompok di tengah wilayah suatu desa yang dihuni

berbagai etnik. Permukiman Suku Bajo lebih dominan memusat di suatu bagian wilayah dan terpisah dari komunitas etnik lainnya

Nilai ekologis yang bisa diambil kembali dari suku bajo adalah rumah tinggalnya yang sangat ramah lingkungan, yaitu rumah panggung suku Bajo yang dibangun menggunakan bahan yang terbilang ramah lingkungan. Dindingnya terbuat dari kombinasi kayu dan anyaman bambu. Sedangkan bagian atap dari daun rumbia.

D.    Analisis menggunakkan perspektif ekologi

 terlihat dari ulasan di atas, dapat disimpulkan kehidupan suku bajo dalam perspsektif ekologi, yang pertama pengertian teori ekologi itu sendiri mengatakan alam atau lingkungan sangat berpengaruh terhadap manusia, dan proses sosial antara keluarga, teman, saudara serta lingkungan sekitar.

Yang ke dua, Seperti yang sudah diketahui suku bajo tinggal di laut dengan berkelompok. Satuhal yang perlu dicatat, suku bajo sangat terbiasa dengan laut, dan sangat menjunjung tinggi kelestarian laut . suku bajo yang percaya kepada pepatah leluhurnya dalam menjaga lingkungan sangat mengecap jelas dalam pemikiran mereka . sehingga bagi mereka laut adalah tempat tinggal mereka, tempat mereka hidup tempat yang perlu dijaga bukan untuk dieksploitasi. Dalam segi tempat tinggal pun sangat ramah lingkungan.

Yang ketiga, kesiapan suku bajo dalam masa mendatang. Bila prediksi dampak perubahan iklim benar-benar terjadi antara 2050-2100, suku Bajo boleh dibilang masyarakat paling siap menghadapinya. Pasalnya, sejak lahir, keturunan suku Bajo sudah dikenalkan dengan kehidupan di atas permukaan air. Di tengah kesibukan para ilmuwan mencari solusi dari perubahan iklim, ternyata sebagian jawabannya ada pada kearifan suku Bajo. Menurut Profesor AB Lapian, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, suku Bajo atau bajau merupakan sekumpulan orang yang menggantungkan hidupnya di laut. "Boleh dibilang hidup dan mati mereka bergantung dengan laut," ujar Lapian.

Dalam bentuk sosial dengan masuyarakat lainnya, komunitas Suku Bajo dimana mereka bermukim, cenderung hidup mengelompok di tengah wilayah suatu desa yang dihuni berbagai etnik. Permukiman Suku Bajo lebih dominan memusat di suatu bagian wilayah dan terpisah dari komunitas etnik lainnya. Hal ini antara lain disebabkan

keakraban dan keeratan hubungan antar angota keluarga Suku Bajo  membuat mereka tinggal berkelompok. Meskipun demikian, tidak berarti  komunitas Suku Bajo menutup diri dari pergaulan dengan komunitas lain. Mereka sangat menyadari keterbukaan terhadap komunitas lain dalam kehidupan bermasyarakat sangat diperlukan untuk menjamin kebutuhan hidup. Interaksi ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga mendorong mereka berinteraksi sosial dengan komunitas lain

 

DAFTAR PUSTAKA

www.sejarahini.blogspot.co.id

Triwari Lumalan. 2011. Skripsi : hak-hak Masyarakat suku bajo atas sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. Bagian hukum perdata fakultas hukum Universitas Hasanudin Makassar.

Sudirman Saad. 2009. Bajo, berumah di laut nusantara. Coremap II : Jakarta.



[2] Triwari Lumalan. Skripsi : hak-hak Masyarakat suku bajo atas sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. Bagian hukum perdata fakultas hukum Universitas Hasanudin Makassar. 2011, hal. 72

[3] Sudirman Saad. Bajo, berumah di laut nusantara. Coremap II : Jakarta, 2009. Hal 60

Fauzia Nurul Khotimah, Vikron Fahreza_Ekologi Manusia_Tugas 5

A      Sejarah suku Semendo

Suku Semendo (Semende), adalah salah satu etnis yang berada di kecamatan Semendo kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan. Populasi suku Semendo diperkirakan sebesar 105.000 orang.

            Masyarakat suku Semendo, berbicara dalam bahasa Semendo, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu. Bahasa Semendo banyak terdapat kemiripan dengan bahasa Palembang. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari pada bahasa Semendo pada umumnya berakhiran "e." Suatu ciri khas dari karakter bahasa Melayu.
            Asal usul suku Semendo secara pasti tidak diketahui darimana, salah satu versi cerita rakyat yang menyatakan suku Semendo dahulunya hidup bersama-sama dengan suku Palembang, sebelum masa pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Kemungkinan karena tekanan dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang memperluas wilayah kekuasaannya, mendesak suku ini masuk lebih ke pedalaman Sumatra Selatan. Sepertinya suku Semendo ini berasal dari suku bangsa deutro-malayan yang bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah Asia Tenggara dari daratan Indochina pada awal tahun Masehi sekitar abad 3 Masehi, yang mana kelompok Semendo ini mendarat di pesisir Sumatra Selatan dan sempat bermukim sekian lama di wilayah pesisir, hidup bersama-sama kelompok deutro-malayan lainnya, seperti suku Palembang dan lain-lain.

 

Seluruh adat-istiadat dan budaya dalam masyarakat suku Semendo terlihat jelas sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu Islam. Dari musik rebana, lagu daerah dan tarian seluruhnya dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Salah satu adat pada suku Semendo adalah adat Tunggu Tubang, yaitu adat yang mengatur hak warisan pada keluarga, adat ini menentukan hak atas warisan adalah anak wanita yang paling tua.

B       Lokasi dan Gambaran umum

Orang bersuku Semendo sekarang tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Aslinya suku ini banyak berdiam di Sumatera Selatan, misalnya di Kabupaten Muaraenim, Kecamatan Muaradua, sebagian di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Baturaja, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan. Di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, etnik Semendo juga banyak. Sebagian ada juga yang menetap di Lampung dan daerah lainnya, yang berdekatan dengan Sumatera Selatan. Nama Semendo ini di internal etniknya akrab disapa "Semende". Akhiran "e" memangkhas suku bangsa ini.

Suku bangsa Semendo menganut matrilineal, artinya garis keturunan dari pihak ibu. Maka itu, ada istilah yang terkenal dari suku ini, yakni tunggu tubang. Apa itu? Tunggu tubang bermakna anak perempuan atau menantu perempuan pertama akan mendapatkan harta berumah rumah, tanah, dan ladang. Tapi, pemberian ini bukannya gratis. Warisan berbentuk sebidang sawah dan sebuah rumah yang diwariskan dari generasi ke generasi secara terus menerus. Adat inilah yang menyebabkan tingginya hasrat untuk merantau bagi anak laki-laki. Budaya dan adat-istiadat Islami yang diamalkan suku Semendo ini diperkirakan berasal dari bangsa-bangsa Melayu yang membawa budaya mereka dari daratan Riau atau Malaysia.

Ajaran Islam pada masyarakat suku Semendo sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Semendo. Mereka sangat patuh menjalankan syariat Islam secara rutin dan teratur, sesuai dengan rukun Islam. Hampir di setiap tempat terdapat tempat ibadah bagi masyarakat ini. Selain itu pesantren juga banyak terdapat di wilayah suku Semendo ini, yang secara khusus mendidik putra-putri suku Semendo menjadi penyebar agama Islam di daerahnya.

Suku Semendo membutuhkan peningkatan pengolahan lahan pertanian agar dapat dikerjakan dengan lebih modern. Saat ini telah ada proyek kerja sama yaitu : proyek penggilingan kopi, perikanan dan percontohan perikanan. Proyek ini perlu didukung dan dikembangkan lagi untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat. Mereka juga membutuhkan peningkatan dalam bidang pendidikan.

Masyarakat Semendo hidup dari hasil pertanian terutama pada tanaman padi sawah dan ladang, yang diolah dengan cara tradisional. Pada umumnya mereka menanam kopi jenis Robusta dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dari daerah suku Semendo ini jumlah produksi kopi Robusta pada setiap panen bisa mencapai 300 ton per tahun. Selain itu masyarakat suku Semendo ini juga bergerak pada bidang perikanan dan pembibitan ikan

Orang bersuku Semendo sekarang tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Aslinya suku ini banyak berdiam di Sumatera Selatan, misalnya di Kabupaten Muaraenim, Kecamatan Muaradua, sebagian di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Baturaja, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan. Di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, etnik Semendo juga banyak. Sebagian ada juga yang menetap di Lampung dan daerah lainnya, yang berdekatan dengan Sumatera Selatan. Nama Semendo ini di internal etniknya akrab disapa "Semende". Akhiran "e" memangkhas suku bangsa ini.

 Suku bangsa Semendo menganut matrilineal, artinya garis keturunan dari pihak ibu. Maka itu, ada istilah yang terkenal dari suku ini, yakni tunggu tubang. Apa itu? Tunggu tubang bermakna anak perempuan atau menantu perempuan pertama akan mendapatkan harta berumah rumah, tanah, dan ladang. Tapi, pemberian ini bukannya gratis. Tunggu tubang mesti mengelola harta itu dengan baik. Sebab, semua anak turun dari garis keturunan itu, kalau ada kebutuhan keuangan, berhak meminta kepada tunggu tubang. Misalnya untuk biaya sekolah, biaya menikah, dan pemecahan masalah dalam keluarga. Bisa dibilang, menjadi tunggu tubang ini berat tanggung jawabnya.

menyatakan bahwa Tunggu tubang terdiri dari dua kata yang berlainan artinya : Tunggu dan Tubang. Tunggu dapat diartikan menanti atau menunggu, sedangkan tubing adalah sepotong bambu yang terletak di bawah tirai di dapur yang dipergunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan sehari-hari seperti terasi, ikan kering, serta yang lain-lainnya, yang dalam pepatah disebutkan tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan, begitulah kira-kira artinya sifat yang dimiliki oleh anak tunggu tubing.

Tunggu tubang adalah nama jabatan yang dipercayakan kepada anak perempuan tertua dalam suatu keluarga, dimana jabatan tersebut adalah merupakan jabatan otomatis yang sifatnya turun temurun dan biasanya jabatan tersebut diadakan penyerahan setelah anak perempuan tertua menginjak berumah tangga, namun dalam hal ini orang tua dari anak tunggu tubing tersebut masih tinggal bersama-sama dengan anak tunggu tubing sampai anak tersebut dapat hidup mandiri dalam keluarga sebagaimana layaknya anak-anak tunggu tubing yang lainnya hidup dalam masyarakat.

C      Nilai-nilai Ekologi suku Semendo

Kehidupan masyarakat Semende sehari-harinya terkait erat dengan adat-istiadat dan tidak akan lepas dari lambing adat yang terdiri dari lima bagian yang masing-masing mempunyai yaitu:
1.
Kujur/tombak, memiliki makna cepat tanggap pada setiap permasalahan, dan jika hal itu merupakan perintah dari meraje, tidak pernah membantah (dalam hal yang baik-baik) dan segera melaksanakannya. Mencerminkan kejujuran dalam bahasa Semende disebut kujur.
2. Kampak/kapak, yang terdiri dari dua sisi. Ini melambangkan bahwa masyarakat Semende melihat perlakuan yang sama antara pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan dalam membina jurai, mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga dengan seadil-adilnya/ tidak berat sebelah.
3. Jala/jale, yang digunakan untuk alat menangkap ikan. Jala terdiri dari tiga bagian yaitu pusat jala, daun jala dan rantai atau batu jala. Jala bila ditarik berawal dari pusat, sehingga rantai yang berbentuk cincin akan terkumpul. Secara filosofis melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat/keluarga yang dinamakan Jurai yang dikomandoi oleh Meraje.
4. Tebat/kolam. Berbeda dengan sungai, kolam tidak memiliki riak-riak seperti sungai, selalu tenang. Kondisi ini didukung dengan kondisi alam yang dingin dan air gunung selalu mengalir. Kolam ini perlambang kepribadian tunggu tubing yang tetap sabar dan konsisten menghadapi persoalan dalam jurai. Jika ada perselisihan dalam rumah tangga, harus dapat diselesaikan tanpa perlu melibatkan orang tua, mertua apalagi sampai keluarga besar.
5. Guci, sebagai tempat menyimpan makanan untuk persiapan dan diperlukan ketika ada tamu. Hal ini melambangkan bahwa Tunggu tubing bersifat hemat dan bila ada jurai yang bertandang dapatlah dijamu. Merupakan aib, jika jurai yang bertamu, tunggu tubing tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan. Bahkan merupakan kebiasaan jika ada jurai atau keluarga yang dating dari jauh akan kembali ke tempatnya, maka tunggu tubang memberikan oleh-oleh. Ini membuktikan warga Semende terbuka untuk menerima tamu baik keluarga dekat atau orang lain.

Durkhemian, hubungan

1.      Proposisi teori diletakkan pada model hubungan rasional-struktural

2.      Hubungan didasarkan pada moralitas dan etika

3.      Individu dianggap "hilang" dalam masyarakat

4.      Program dianggap anomali "patologi – penyakit sosial"

5.      Metode pasitivis apriori

6.      Mengajukan klasifikasi pada hasil temuan

Perspektif ekologi  struktural :

Hubungan manusia dan lingkungan saling memberikan pengaruh

Apa yang diperbuat oleh manusia akan memberikan dampak ekologis :

·         Bentang alam : reklamasi

·         Kesejahteraan masyarakat

·         Keberlanjutan lingkungan

·         Masyarakat merupakan subyek utama

Pada masyarakat Semende menurut analisis yang sudah kami lakukan masyarakat Semende menggunakan perspektif Durkhemian karena didalam masyarakat ini terdapat berbagai macam nilai-nilai moral yang sudah dikukuhkan dan menjadi sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging, hampir sebagian nilai-nilai yang terkandung itu merupakan nilai yang positif dan berdampak baik bagi masyarakat Semendo sendiri. Semua itu terbukti dari beberapa nilai-nilai yang ada diatas seperti kujur/tambak, kampak/kapak, jala/jale, semua itu merupakan nilai-nilai kebaikan yang dibungkus dalam bahasa mereka sehari-hari sehingga dapat dikatakan mereka memaknai dengan cara yang unik tanpa meremehkan budaya leluhur mereka akan tetapi mudah untuk diingat karena menggunakan bahasa sehari-hari.

Dikutip dari :

http://wimpi-shi.blogspot.co.id/2012/01/adat-istiiadat-semende.html

http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/07/suku-semendo-semende.html

Selasa, 10 Mei 2016

Tugas Analisis Kampung Sasak Lombok Ahmad Ali dan M Fahmi Nurdin

AHMAD ALI NIDAULHAQ

1113054000027

M FAHMI NURDIN

1113054000023

TUGAS MATA KULIAH EKOLGI

ANALISIS KAMPUNG SASAK LOMBOK

Sejarah Kampung Sasak Lombok

Sebelum Abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit, dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada ke Lombok. Malah ada kabar kalau beliau wafat di Pulau Lombok dan dimakamkan di Lombok Timur. Pada Akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17, lombok banyak dipengaruhi oleh Jawa Islam melalui dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri, juga dipengaruhi oleh Makassar. Hal ini yang menyebabkan perubahan Agama Suku Sasak, yang sebelumnya Hindu menjadi Islam.

Pada awal abad ke 18 Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali. Peninggalan Bali yang sangat mudah dilihat adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yang mendiami daerah Mataram dan Lombok Barat. Beberapa Pura besar juga gampang di temukan di kedua daerah ini. Lombok berhasil Bebas dari pengaruh Gel Gel setelah terjadinya pengusiran yang dilakukan Kerajaan Selapang (Lombok timur) dengan dibantu oleh kerajaan yang ada di Sumbawa (pengaruh Makassar). Beberapa prajurit Sumbawa kabarnya banyak yang akhirnya menetap di Lombok Timur, terbukti dengan adanya beberapa desa di Tepi Timur Laut Lombok Timur yang penduduknya mayoritas berbicara menggunakan bahasa Samawa. Kalau kita lihat dari aspek sejarah, orang Sasak bisa jadi berasal Jawa, Bali, Makassar dan Sumbawa. Tapi bisa juga ke empat etnis tersebut bukan Papuk Bloq orang sasak, melainkan hanya memberi pengaruh besar pada perkembangan Suku Sasak

Asal Mula Suku Sasak Nama sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata "sa'-saq" yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa' Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus.

Gambaran Umum Kampung Sasak Lombok

Suku sasak adalah salah satu suku terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Sekitar 80% penduduk di pulau Lombok  ini diduduki oleh Suku Sasak dan selebihnya adalah suku lainnya, seperti suku mbojo (bima), dompu, samawa (sambawa), jawa dan hindu (Bali Lombok). Suku sasak mendiami seluruh pulau Lombok, yang tersebar di tiga Kabupaten, yakni Kab. Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur. Menurut catatan sensus yang diadakan  tahun 2000 populasinya mencapai 2,6 juta jiwa. Tapi itu belum termasuk "sasak diaspora" alias sasak rantau yang menetap di Pulau Sumbawa bagian Barat, di Kalimantan Timur (akibat proyek transmigrasi), di Malaysia (TKI) dan di beberapa Kota besar di Indonesia (yang umumnya karena faktor pekerjaan dan status sebagai Mahasiswa).

Dalam keseharian, mereka menggunakan bahasa Sasak. Sebagian besar mereka beragama Islam. Tapi  uniknya pada sebagian kecil masyarakat suku Sasak, ada yang melakukan praktik agama Islam yang agak berbeda dengan Islam pada umumnya yakni Islam Wetu Telu. Jumlah penganutnya  hanya sekitar 1%. Praktek yang agak berbeda misalnya mereka menggunakan syahadat dengan menggunakan bahasa jawa kuno. Hal itu terjadi karena para wali yang menyebarkan agama Islam tidak meneyelsaikan ajarannya, sehingga masyarakat terjebak pada masa peralihan itu. Selain itu, ada juga warga suku Sasak yang menganut kepercayaan  yang disebut dengan nama "sasak Boda".

Bahasa Sasak, terutama aksara (bahasa tertulis) nya sangat dekat dengan aksara Jawa dan Bali, sama sama menggunakan aksara Ha Na Ca Ra Ka …dst. Tapi secara pelafalan cukup dekat dengan Bali. Sementara kalau diperhatikan secara langsung, bahasa Sasak yang berkembang di Lombok ternyata sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, Walaupun secara umum bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan) Dari Aspek Bahasa, Papuk Bloq kita bisa jadi berasal dari Jawa (Malayo-Polynesian), Vitname atau Philipine ( Austronesian), atau dari Sulawesi (Sunda-Sulawesi)

Rumah Adat Suku Sasak Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah adat tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Pintu yang rendah sengaja dibuat terutama di rumah kepala suku yang menandakan kehormatan karena ketika masuk harus menundukan badannya.

Perekonomian Suku Sasak Kehidupan perekonomian suku sasak yaitu dalam bidang pertanian dan perkebunan. Mereka bertani dan menanam berbagai kebutuhan mereka sehari-hari. Sepulangnya mereka dari bertani, mereka menyempatkan diri untuk bertenun di sore hari. Tetapi, untuk saat ini dengan semakin terkenalnya suku sasak dan makin banyaknya 'pelancong' yang datang ke perkampungan mereka, maka mereka pun menjual berbagai hasil karya baik tenun maupun kerajinan tangan mereka yang lainnya. Di satu desa Sade yang saya datangi pun hampir setiap 3 meter atau setiap rumah menjual hasil karya mereka. Saat ini, suku sasak di desa Sade jauh lebih berkembang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kerejinan tangan mereka sudah dikoordinir oleh koperasi desa yang dikelola oleh pengurus desa yang tidak lain masih satu

 

Nilai-nilai Budaya Kampung Sasak Lombok

Sistem Perkawinan Suku Sasak Adat istiadat suku sasak dapat dilihat pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan jika mau dinikahkan lelaki maka yang perempuan harus  dilarikan dulu dan dibawa kerumah keluarga pihak laki laki. Tradisi ini dikenal dengan sebutan merarik atau selarian. Sehari setelah dilarikan maka akan diutus salah seorang untuk memberitahukan kepada pihak keluarga perempuan bahwa anaknya akan dinikahkan oleh seseorang lelaki. Tradisi ini disebut dengan mesejati atau semacam pemberitahuan kepada keluarga perempuan. Setalah selesai makan akan diadakan yang disebut dengan nyelabar atau kesepakatan mengenai biaya resepsi. Perkawinan yang terjadi pun masih bersifat perkawinan saudara, yaitu perkawinan antar sepupu. Informasi yang kami dapat dari juru bicara Suku Sasak, di satu desa Sade terdiri dari 150 KK/ Kepala Keluarga dan semuanya masih bersifat saudara, perkawinan yang terjadi pun masih seputar satu lingkungan mereka. Walaupun mereka mayoritas beragama islam, namun adat perkawinan antar saudara masih tetap dilestarikan. Jika  suku sasak ingin menikah dengan suku lain yang berbeda provinsi, biasanya si calon pasangannya harus membayar denda yang cukup banyak di setiap desa yang dia lalui.

Sejak masa lampau etnis Sasak telah mengenal tentang wadah yang menjadi induk dalam kehidupan bermasyarakat mereka, yang mengatur tentang pedoman hidup warga masyarakat, dan tempat mereka mencari rujukan untuk menetapkan sanksi atas terjadi pelanggaran dalam tata pergaulan komunitasnya. Wadah itu dikenal dengan istilah karma. Konsepsi ini teraktualisasikan atau terjabarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak sejak masa lampau. Sehingga pelaksanaan dari konsepsi kultural itu telah menjelma menjadi berbagai elemen atau unsur yang tidak terpisahkan. Pola yang lahir merupakan bagian dari karma, yang dapat ditelusuri sampai dengan saat ini.

Dari penerapan karma dalam kehidupan etnis Sasak itu, telah ikut mendorong lahirnya berbagai bentuk kearifan lokal dalam kumunitas tersebut, yang mengandung nilai-nilai yang masih cocok dengan kehidupan kekinian, dan relefan diwariskan melalui pendidikan bagi peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian Ismail, dkk, dapat disarikan pola-pola kearifan lokal yang dimaksud, di bawah ini. Ada tiga kategori bentuk kearifan lokal masyarakat Sasak Lombok, yaitu :

1.Bidang politik, sosial, kemasyarakatan, tercermin dari 10 (sepuluh) macam saling sebagai pengikat tali silaturrahmi masyarakat Sasak, yaitu saling jot/perasak(saling memberi atau mengantarkan makanan), pesilaq (saling undang untuk suatu hajatan keluarga), saling pelangarin (saling layat jika ada kerabat/sahabat yang meninggal), ayoin (saling mengunjungi), dan saling ajinan (saling menghormati atau saling menghargai terhadap pebedaan, menghargai adanya kelebihan dan kekurangan yang dimilki oleh seseorang atau kelompok tertentu), saling jangoq (silaturrahmi saling menjenguk jika ada di antara sahabat sedang mendapat atau mengalami musibah), saling bait (saling ambil-ambilan dalam adat perkawinan), wales/bales (saling balas silaturrahmi, kunjungan atau semu budi (kebaikan) yang pernah terjadi karena kedekatan-persahabatan), saling tembung/sapak(saling tegur sapa jika bertemu atau bertatap muka antarseorang dengan orang lain dengan tidak membedakan suku atau agama) dan saling saduq (saling mempercayai dalam pergaulan dan persahabatan, terutama membangun peranakan Sasak Jati (persaudaraan Sasak sejati) di antara sesama sanak (saudara) Sasak dan antarorang Sasak dengan batur luah (non Sasak), dan saling ilingan/peringet, yaitu saling mengingatkan satu sama lain antara seseorang (kerabat/sahabat) dengan tulus hati demi kebaikan dalam menjamin persaudaraan/silaturrahmi.

2.Bidang ekonomi perdagangan, tercermin dari tiga praktik kearifan lokal (tiga saling)yaitu:saling peliwat (suatu bentuk menolong seseorang yang sedang pailit atau jatuh rugi dalam usaha dagangannya, saling liliq/gentik (suatu bentuk menolong kawan dengan membantu membayar hutang tanggungan sahabat atau kawan, dengan tidak memberatkannya dalam bentuk bunga atau ikatan lainnya yang mengikat), dansaling sangkul/sangkol/sangkon (salingmenolong dengan memberikan bantuan material terhadap kawan yang sedang menerima musibah dalam usaha perdagangan).

3.Bidang adat budaya, tercermin dari saling tulung (bentuk tolong menolong dalam membajak menggaru sawah ladang para petani); saling sero (saling tolong dalam menanami sawah ladang); saur alap (saling tolong dalam mengolah sawah ladang, seperti dalam hal ngekiskis/membersihkan rerumputan dengan alat potong kikis atau ngoma/ngome/mencabuti rumput; dan besesiru/besiru yaitunilai kearifan lokal ini juga hampir sama dengan saur alap, yaitu pekerjaan gotong royong bekerja di sawah dari menanam bibit sampai panen. Nilai-nilai kearifan lokal dalam komunitas Sasak yang tinggi dan sangat cocok diterapkan dalam kehidupan dewasa ini dan di masa depan, terdapat dalam ungkapan bahasa yang dipegang teguh dalam pergaulan, yang berwujud peribahasa dan pepatah sebagai perekat pergaulan masyarakat Sasak. Dalam komunitas Sasak diistilahkan dengan sesenggak.

Berdasarkan uraian di atas, dari masalah krama sampai dengan sesenggak, Ismail, dkk (2009), menyimpulkan bahwa "terdapat 10 (sepuluh) unsur atau komponen nilai demokrasi yang tercermin dalam kearifan lokal masyarakat Sasak, yaitu demokrasi berketuhanan; toleransi; kerja sama dengan orang lain; menghargai pendapat orang lain; memahami dan menerima kultur dalam masyarakat; berpikir kritis dan sistematik; penyelesaian konflik tanpa kekerasan; kemauan mengubah gaya hidup dan kebiasaan konsumtif; sensitif terhadap kesulitan orang lain; kemauan dan kemampuan berpartispasi dalam kehidupan sosial". Berdasarkan hal itu, kearifan lokal etnis Sasak sejak masa lampau mengandung nilai-nilai yang sangat luhur dalam sistem kehidupan bermasyarakat. Memiliki relevansi dan makna yang untuk dijadikan sebagai roh dan nilai-nilai baru di era kekinian. Namun dewasa ini, nilai-nilai yang telah diwariskan oleh leluhur etnis Sasak itu telah mengalami pergeseran, mengalami kelunturan, dan seakan-akan kehilangan makna sesungguhnya. Kelunturan nilai-nilai itu terjadi karena adanya pengaruh kemajuan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi atau globalisasi, serta laju pembangunan yang tidak didasarkan atas budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, generasi penerus dalam komunitas Sasak dewasa ini tidak lagi sepenuhnya mempedomani nilai-nilai tersebut, bahkan ada kecenderungan untuk ditinggalkan. Keadaan yang mengkhawatirkan itu menuntut adanya upaya untuk menerapkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan masyarakat Sasak dewasa ini, sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri. Usaha ini akan efektif dilakukan melalui pendidikan, dan membangun kembali kesepakatan antar kelompok yang ada dalam komunitas Sasak itu sendiri secara sungguh-sungguh untuk memfotmat kembali nilai-nilai luhur tersebut, menyesuaikannya dengan kehidupan masa kini dan dikemas dengan afik sebagai modal untuk menghadapi tantangan masa depan. Transformasi nilai melalui pendidikan dan kesepakatan yang dibangun itu, hendaknya ditujukan untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur tersebut "dalam kehidupan bermasyarakat secara teguq (kuat dan utuh), bender atau tornboq (lurus dan jujur), patut (benar) tuhu (sungguh-sungguh) dan trasna (penuh rasa kasih atau kasih sayang)" (Ismail, dkk, 2009). Dalam usaha membangun kesepakatan dan memformat kembali nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur itu, hendaknya memperhatiokan dan memahami bahwa "Kearifan lokal masyarakat Sasak dilem dengan krama dan awig-awig(lisan banjar gubuk/desa). Jadi, hidup bermasyarakat akan tetap harmonis, apabila lembaga adat ditopang awig-awig adat secara arif dapat dihidupkan, dirancang kembali, disesuaikan kebutuhan dan tuntutan masa kini" (Ismail, dkk, 2009). Transformasi nilai-nilai kearifan lokal (nilai-nilai moral) masyarakat Sasak di atas melalui pendidikan, terutama melalui pembelajaran IPS menjadi sangat urgen dan relevan, karena akan mampu mengarahkan peserta didikuntuk dapat menjadi warga negara Indonesia yangdemokratis, bertanggung jawab, dan cinta damai. Maksudnya adalah pengembangan sikap dan prilaku berdemokrasi, bertanggung jawab, dan cinta damai, dapat dilakukan dengan menerapkan pengembangan pembelajaran IPS melalui kajian kearifan lokal masyarakat setempat (bernuansa keindonesiaan).Dengan kata lain, materi pembelajaran IPS yang disajikan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran di kelasadalah "mesti tumbuh dan lahir dari masyarakatnya sendiri, sehingga mencerminkan kondisi dan keadaan masayarakat yang ada" (Ismail, dkk, 2009).

Analisis Persfektif Ekologis Weberian.

Suku sasak memiliki beberapa kearifan local yang menjadi nilai pembeda antara suku sasak dengan suku-suku yang lain. Mengenai kearifan local yang dimiliki suku sasak, beberapa kearifan yang dimiliki mereka diantaranya dari bahasa yang beragam, kebiasaan pernikahan yang berbeda pada umumnya, sampai kepada kepercayaan akan hukum karma yang menurut mereka berlaku bagi kehidupan suku sasak, konsepsi ini teraktualisasikan atau terjabarkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sasak sejak masa lampau. Sehingga pelaksanaan dari konsepsi kultural itu telah menjelma menjadi berbagai elemen atau unsur yang tidak terpisahkan. Pola yang lahir merupakan bagian dari karma, yang dapat ditelusuri sampai dengan saat ini. Dari penerapan karma dalam kehidupan etnis Sasak itu, telah ikut mendorong lahirnya berbagai bentuk kearifan lokal dalam kumunitas tersebut, yang mengandung nilai-nilai yang masih cocok dengan kehidupan kekinian.

Dari nilai kearifan local di atas bisa dikatakan kampung sasak Lombok sangat mengjunjung tinggi nilai karma yang berlaku, maksudnya dalam konteks ekologi setiap individu sangat mematuhi hukum karma yang menyebabkan perilaku setiap individu sangat ramah akan lingkungan. Dari hal tersebut memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Prinsip karma ini sangat baik dalam konteks ekologi lingkungan, individu menjadi takut untuk membuang sampah sembarangan, mencenmarkan lingkungan, penebangan pohon secara liar. Karena dalam prinsip masyarakat kampong sasak Lombok yang sangat takut dengan hukum karma. Mereka takut apa yang dilakukan akan di balas. Baik di balas baik, dan buruk di balas buruk.

Bahan Bacaan

Posted on April 30, 2012 by estimurdiastuti

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/akbarzainudin/pesona-kampung-suku-sasak-sade-lombok_5517e8aea333114907b661f7

 

 

 

 

Cari Blog Ini