Rabu, 11 Mei 2016

Tugas matakuliah Ekologi Manusia PMI 6 tugas ke 5

SUKU DAYAK HINDU BUDHA BUMI SEGANDU
LOSARANG INDRAMAYU

 

Zaenal Arifin             1113054000029

Fadly Rahman           1113054000018

PMI_6

Ekologi Manusia

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

 

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan denagn segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber-sumber daya alam yang ada disekitarnya.

Suku Dayak atau Dyak adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni pedalaman yang mendiami pulau Kalimantan. Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu Suku Banjar, Suku Dayak Indonesia dan Suku asal Kalimantan lainnya.

Jika biasanya Suku Dayak berada di Kalimantan saya ingin memberitahu khlayak ramai bahwa di Kota tercinta saya Indramayu juga terdapat Suku Dayak yang terletak di desa Krimun Losarang, Indramayu. Tetapi suku dayak yang berada di desa Krimun bukanlah seperti suku dayak yang berada di Kalimantan.

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Sejarah Kampung dan Asal Usul Suku Dayak Indramayu

Suku Dayak ini mempunyai nama asli yaitu "Dayak Hindu Budha Bumi Segandu" namun orang-orang sering menyebutnya "Dayak losarang" atau "Dayak indramayu".      Dayak Hindu Budha bumi segandu sendiri memilik arti, yaitu :

1.      Suku, maksud disini adalah kaki. Maksudnya adalah setiap manusia berdiri diatas kakinya masing-masing. Mereka pun berhak memilih keyakinan mereka masing-masing.

2.      Dayak, maksud dari kata ini adalah ayak atau mengayak. Maksudnya adalah mengayak atau menyaring mana yang baik dan mana yang benar.

3.      Hindu, maksud dari kata ini bukanlah agama Hindu, namun arti dari Hindu sendiri ialah rahim. Maknanya adalah bahwa setiap manusia lahir dari seorang rahim ibu.

4.      Budha, maksud dari kata ini pun bukan Budha sebagai agama. Arti dari Budha sendiri ialaha Udha atau Telanjang. Filosofinya adalah setiap manusia itu lahir dalam keadaan telanjang (fitrah) tidak membawa apa-apa.

5.      Bumi Segandu, Bumi mempunyai arti wujud, sedangkan segandu artinya sekujur tubuh.

6.      Indramayu, "In" bermakna inti "Darma" berarti orang tua dan "Ayu" artinya permpuan. Fiolosfinya adalah kita sebagai manusia dikeluarkan dari inti rahim seorang ibu. Maka seorang ibu itu haru dihormati.

Mereka tinggal di sebuah komplek yang tak lebih dari 50m persegi, dan mereka hidup ditengah riuhnya keramaian masyarakat sekelilingnya.

Jadi, penyebutan kata "suku" pada komunitas tersebut bukan dalam konteks terminologi suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari kata-kata dalam bahasa daerah (Jawa). Demikian pula, dengan kata "dayak" bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju serta mengenakan aksesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki). Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata "Hindu-Budha" pada sebutan komunitas ini. Kendatipun komunitas ini menggunakan kata "Hindu-Budha" bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata "Hindu" karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas : Yudistira, Bima (Wrekudara), Arjuna (Permadi), Nakula, dan Sadewa, serta tokoh Semar dalam kemiskinan dan kepada bahasa Indonesia. Ia hanya menguasai bahasa Jawa Indramayu. Akhiran yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata "Budha" karena mereka mengambil inti ajaran   "aji rasa" (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

 

B.     Lokasi Dan Gambaran Umum Mengetahui Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu

Orang Indramayu atau wong Dermayu tidak asing mendengar sebutan Suku Dayak Indramayu. Keunikan mereka adalah dari penampilannya yang tidak berbaju dan hanya bercelana pendek serta mengenakan topi ala petani. Komunitas eksklusif ini juga kerap disebut Dayak Losarang. Markasnya terletak di RT 13 RW 03, Desa Krimun, Kec. Losarang, atau 300 m dari jalur utama Pantura Indramayu.

Mereka adalah sekumpulan orang yang memiliki ajaran dan gaya hidup yang berbeda dengan suku di Indonesia pada umumnya. Bahkan tidak diatur dalam kehidupan oleh pemerintah. Dayak Sugandu sendiri berarti mengayak pribadi. Mereka tidak berhubungan dengan suku Dayak dari Kalimantan.

Asal mula Suku Dayak Indramayu ini terkait erat dengan perjalanan hidup pendirinya, yaitu Takmad Diningrat, yang oleh para pengikutnya disebut dengan panggilan Pak Tua. Ia adalah asli orang Indramayu yang berasal dari sebuah desa yang bernama Desa Segandu. Menurut penuturannya, Ia adalah seorang yatim dalam kandungan, yaitu ayahnya meninggal ketika ia sedang dikandung oleh ibunya dalam usia kandungan 3 bulan. Ia pun selama ini hidup dalam kemiskinan dan kepapaan.

Ajaran dan suku ini sendiri mulai terbentuk pada tahun 1970. Ta'mad, sang pendiri menemukan titik jenuh akan aturan pemerintah. Melihat keadaan sekitar yang tidak berubah, Ta'mad mulai instropeksi diri dan menyadari bahwa cara tersebut adalah paling baik bagi manusia.

Selain itu, filosofi kehidupan mereka adalah alam. Bagaimana cara terbaik untuk mendekatkan diri dengan alam. Mereka percaya bahwa inti ajaran dalam hidup adalah alam.

Warga komunitas Suku Dayak Indramayu memang eksklusif. Namun dalam keseharian, mereka terkenal ramah dan suka menolong. Siapa pun yang datang ke pendopo istilah warga Suku Dayak Indramayu menyebut markasnya, pasti disambut dengan tangan terbuka dan keramahan khas ala "Bumi Segandu", polos, lugas, jujur, murni dan apa adanya Penampilannya aneh. Sehari-hari, baik hujan atau panas, mereka tak pernah memakai baju Yang menempel di tubuhnya hanya celana pendek sedengkul, warna hitam atau hitam padu putih. Rambutnya dibiarkan panjang dan jarang pula mandi.

Namun herannya, mereka cukup kebal terhadap berbagai penyakit. Saat musim kemarau datang, mereka melakukan semadi atau tapa di bawah terik matahari. Ritual itu dilakukan sebagai penghormatan terhadap matahari. Selain itu, mereka juga vegetarian alias tak makan daging atau hewan hidup lain. Otomatis, mereka pun menjauhi membunuh binatang, bahkan terhadap seekor cacingpun. Pemimpin mereka adalah Ki Takmad. Didalam komunitas Suku Dayak Indramayu, nama lengkap lelaki berusia 70 tahunan ini adalah Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam. Sepintas lalu, penampilan Ki Takmad dan para pengikutnya bisa aneh dan berkesan menakutkan. Namun ketika sudah terlibat kontak dengan mereka, maka kesan akrab akan didapat.

  

C.     Nilai-Nilai Ekologi Manusia

 

Ajaran dari kelompok "Dayak Indramayu" dinamakan dengan sebutan Sajarah Alam Ngaji Rasa. Menurut penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, "sajarah" adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, "alam" adalah sebagai ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan. Adapun "ngaji rasa" adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. "Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dengan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya dengan proses ujian mengabdikan diri kepada anak dan istri-istrinya", ungkapnya.

Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agama, maupun akar budaya tertentu. Mereka berusaha mencari pemurnian diri dengan mengambil teladan sikap dan perilaku tokoh pewayangan Semar dan Pandawa Lima yang di anggapnya sangat bertanggung jawab terhadap keluarga.

1.      Pakaian Suku dayak

Mereka sendiri mempunyai pakaian yang khas. Ketika saya menemui sang Kepala Suku, Mereka  menggunakan celana bercorak hitam dan putih, mereka pun tidak memakai baju. Lalu saya bertanya kepada sang kepala suku, apakah pakaian yang ia pakai adalah pakaian yang dipakai oleh seluruh anggota dayak losarang? Ia menjawab bahwa tidak semua anggota suku dayak memakai pakaian seperti dia. Ia menyampaikan bahwa yang memakai pakaian seperti dia ini hanyalah anggota Suku Dayak yang tulen, mereka tidak memiliki agama. Mereka hanya percaya pada kekuatan alam. Mereka menyebutnya dengan  

sejarah alam ngaji rasa. Berbeda halnya dengan anggota biasa, anggota biasa hanya memakai pakaian serba Hitam. Mereka juga masih mempunyai kepercayaan masing-masing. Mereka memiliki adat dan kebiasaan sebagai berikut:

2.      Tidak pernah memakan binatang

Mereka tidak pernah memakan binatang atau makhluk yang bergerak. Mereka hanya memakan tumbuh-tumbuhan. Mereka menganggap bahwa binatang adalah anugerah alam yang harus dijaga. Maka mereka memilih untuk tidak memakannya 

3.      Tidak mengikatkan diri pada apapun

Mereka memiliki kepercayaan bahwa manusia memiliki kehendaknya masing-masing. Jadi mereka tidak mengikatkan diri pada Agama, Negara ataupun lainnya yang sifatnya mengikat. Mereka hidup dalam tatanan aturan mereka sendiri. Mereka juga tidak memaksakan kehendak manusia harus menjadi seperti ini itu. Ia hanya berkeyakinan bahwa manusia berhak atas kehendaknya sendiri.

 

4.      Tidak mengobati diri

Mereka  tidak pernah mengobati diri sendiri. Ketika mereka sakit, mereka hanya beranggapan bahwa mereka masih salah dalam menjalankan hidup. Maka dari itu mereka hanya diam dan merenungi diri.

5.      Perempuan adalah segalanya

Satu lagi yang unik dari Suku dayak adalah, mereka menganggap perempuan adalah segalanya. Dikarenakan merekalah calon ibu. Jadi, pekerjaan seperti mencuci, memasak, dan merapihkan rumah itu semua dilakukan oleh kaum laki-laki. Berbahagialah para perempuan jika kalian menikah dengan orang dari suku dayak. Itulah yang saya dapat dari pengalaman saya berkunjung ke pemukiman Suku Dayak Losarang, Indramayu. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Suku Bumi Segandu adalah suku tanpa memiliki kartu identitas. Bukan berarti mereka menentang negara Indonesia. Meskipun berbeda paham dan agama mereka tetap mengakui bagian dari Indonesia. Bagi mereka kartu identitas hanyalah sebuah kartu yang merepotkan. Identitas utama mereka adalah diri mereka yang kasat mata dan dibawa kemanapun mereka pergi. Meski sempat mengalami kesulitan tidak punya KTP saat bepergian ataupun saat mengurus surat-surat penting lainnya.

 

·         Ritual Suku Dayak Bumi Segandu Indramayu

a.       Berendam (Kumkum)

Suku Dayak Bumi Segandu biasanya melakukan ritual rendeman atau menurut bahasa setempat disebut "kumkum" yang berfungsi untuk melatih kesabaran. Ritual kumkum (berendam) ini dilakukan selama 4 bulan dalam setahun. Ritual kumkum dimulai dengan melakukan kidung di malam hari pukul 23.00 WIB. Usai kidung, mereka beranjak ke sungai kecil di dekat perkampungan mereka untuk merendamkan diri hingga pagi hari tiba.

Selama ritual kumkum mereka tidak menggunakan baju atasan, selama 8 jam mereka harus menahan dingin dan juga gigitan ikan-ikan kecil yang usil di dalam sungai tersebut. Ya, memang karena tujuannya untuk melatih kesabaran. Tidak semua orang bisa melakukan dalam sekejap. Butuh latihan perlahan-lahan untuk membiasakan diri dengan suhu air dan dinginnya udara malam. Usai berendam semalaman, ritual dilanjutkan dengan "mepe" atau berjemur.

 

b.      Berjemur (Mepe)

Ritual mepe ini dilakukan hingga celana mereka kering. Memang fungsi dari mepe yaitu untuk mengeringkan badan sekaligus mendekatkan diri dengan alam tanah. Hasil dari ritual ini, mereka merasa menjadi orang baru. Kemudian kembali mencari nafkah cukup selama 8 bulan untuk hidup bersama anak dan istri. Kalau ada rezeki lebih, biasanya diberikan kepada komunitas yang membutuhkan. 4 bulan sisanya digunakan untuk melakukan ritual.

 

D.    Analisis Perspektif Ekologi

Manusia tidak dibedakan mana yang baik mana yang buruk, manusia semuanya berperilaku baik namun dengan pola pikir kehidupan yang membedakan baik dari budaya, adat, cara kehidupan dan agama. Apa yang di jelaskan di atas masyarakat suku dayak yang kehidupanya bergantung pada alam semesta yang memberi kepercayaan bahwa alam yang bisa menghidupkan mereka. Suku dayak tidak seperti manusia pada umumnya yang memiliki ajaran, peraturan, hukum dan agama yang harus di jalani dan di patuhi.

Namun dengan suku dayak bumi segandu ini tidak memiliki ajaran, peraturan, hukum bahkan agama,suku tersebut bahkan tidak mengikuti sistem peraturan yang di selenggarakan oleh pemerintah. Suku dayak membuat peraturan sendiri dan kepercayaan bagaimana cara menjalani hidupnya dengan baik. Walaupun suku dayak bumi segandu ini yang terletak di desa losarang kabupaten indramayu dan berbaur dengan penduduk asli tetapi suku dayak ini tidak mengganggu warga tersebut yang berada di sekitar wilayah suku dayak. Identitas diri pada suku dayak pun tidak memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Keengganan mereka untuk terikat dengan aturan-aturan formal, terbukti dari keengganan mereka membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Padahal kepemilikan KTP dan identitas kependudukan atau kewarganegaraan adalah hak sipil bagi semua warga negara yang telah cukup umur. Salah satu penyebab keenganan warga kelompok ini untuk memenuhi hak sipil mereka adalah karena adanya keharusan mengisi kolom agama/kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam format KTP, sementara mereka  tidak mengikatkan diri pada salah satu agama maupun Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

BAB III

PENUTUP

 

Dari hasil pengamatan sepintas, penulis dapat merumuskan beberapa kesimpulan mengenai suku Dayak bumi segandu ini antara lain :

Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu, adalah sebuah komunitas independen, yang tidak mengikatkan diri pada salah satu agama, organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maupun partai politik tertentu, maupun organisasi kemasyarakatan.

Warga komunitas ini meyakini ajaran yang diajarkan oleh pimpinan mereka, Takmad Dinigrat, yang disebut dengan ajaran "Sajarah Alam Ngaji Rasa". Inti ajaran ini adalah mencari kebenaran, melalui penyatuan diri dengan alam, pemuliaan terhadap lingkungan alam, pengabdian kepada keluarga, berperilaku jujur dan sabar.

Istilah "Suku Dayak" yang mereka kenakan sebagai identitas kelompok ini, bukanlah "suku" dalam etnik (suku bangsa), melainkan sebuah istilah dalam bahasa Jawa Indramayu. Demikian pula kata "Dayak" bukan dalam arti suku bangsa Dayak, melainkan juga diambil dari kata dalam bahasa Jawa Indramayu, yang artinya menyaring atau memilih.

Pemimpin kelompok ini telah mengalami banyak kekecewaan hidup yang menimbulkan sikap apatis mereka terhadap aturan-aturan formal pemerintah, maupun hak-hak sipil mereka. Sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Dalam pengamatan penulis, kelompok ini cenderung lebih mengarah pada suatu kelompok aliran kepercayaan, ketimbang kelompok suku bangsa sebagaimana mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai suku Dayak Hindu-Budha. Kesatuan dan kebersamaan mereka lebih didasari oleh adanya keyakinan bersama akan kebenaran ajaran yang diberikan oleh pemimpin mereka kepada warganya. Implikasi dari sering adanya bantuan dari luar yang diterima oleh kelompok ini, baik dari perorangan maupun kelembagaan, telah menimbulkan kekhawatiran pada pihak Pemerintah Daerah setempat, antara lain :

·         Dikhawatirkan oleh Pemerintah Daerah Setempat akan menimbulkan

·         Kecemburuan sosial dari warga masyarakat di sekitarnya.

·         Semakin banyak warga masyarakat di sekitarnya yang tertarik dengan

·         Ajaran-ajaran mereka, terlebih dengan banyaknya bantuan dari pihak luar sehingga menarik warga masyarakat di sekitarnya untuk bergabung  dengan komunitas ini. Padahal komunitas ini belum mendapat pengakuan dari Pemerintah Daerah Setempat.

Abidin, Rosa Juni Andri, Tugas 5_ekologi Manusia

suku anak dalam

A.    Sejarah dan Gambaran Umum Suku Anak Dalam (Suku Kubu)

 

Suku anak dalam disebut juga suku kubu, suku ini berada di sumatra dan menyebar di beberapa kawasan, suku kubu atau anak dalam ini bertempat tinggal di dalam hutan dengan berpindah-pindah, cara hidup mereka sangat baik dengan tidak merusak alam. sejarah awal suku Anak Dalam atau SAD masih misteri, bahkan hingga kini tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka. Sejarah lisan Orang Rimba selalu diturunkan para leluhur. Tengganai Ngembar (80), pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah Orang Rimba dari para terdahulu. Ia memperkirakan dua versi ini punya keterkaitan.

1.      Leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, TNBD (taman nasional bukit duabelas) Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.

2.      Penghuni rimba adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Diperkirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun menetap di hutan itu. Versi kedua ini lebih banyak dikuatkan dari segi bahasa, karena terdapat sejumlah kesamaan antara bahasa rimba dan Minang. Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. "Kami beranak pinak dalam rimba, makan sirih, berburu, dan meramu obat alam, sehingga lupa dengan peradaban orang desa. Kami terbentuk jadi Orang Rimba," tuturnya. Mereka hidup seminomaden, karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuannya, bisa jadi "melangun" atau pindah ketika ada warga meninggal, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang Rimba tinggal di pondok-pondok, yang disebut sesudungon, bangunan kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.

Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas, 1975) menyebutkan bermacam cerita/hikayat dari penuturan lisan yakni: Cerita Buah Gelumpang, Tambo Anak Dalam (Minangkabau), Cerita Orang Kayu Hitam, Cerita Seri Sumatera Tengah, Cerita Perang Jambi dengan Belanda, Cerita Tambo Sriwijaya, Cerita Turunan Ulu Besar dan Bayat, Cerita tentang Orang Kubu. Dari cerita/hikayat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal dari 3 keturunan, yakni :

a.      Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari.

b.      Keturunan dari Minangkabau umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersan.

c.       Keturunan dari Jambi Asli ialah Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko.

 

Secara mitologi, mereka (Suku Anak-Dalam) masih menganggap satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Desa Cambai, Muara Enim. Menurut pengingatan mereka, yang didapat dari penuturan kakek-neneknya, bahwa sebelum mereka bertempat tinggal di wilayah Sako Suban, mereka tinggal di dusun Belani, wilayah Muara Rupit. Mereka hijrah karena terdesak waktu perang ketika zaman kesultanan Palembang dan ketika masa penjajahan kolonial Belanda. Secara tepat waktu kapan mereka hijrah tidak diketahui lagi, yang mereka (Suku Anak Dalam) ingat berdasarkan penuturan, hanya masa kesultanan Palembang dan masa penjajahan Belanda. Dari Dusun Belani, Suku Anak-Dalam mundur lebih masuk ke hutan dan sampai di wilayah Sako Suban. Di wilayah Sako Suban ini, mereka bermukim di wilayah daratan diantara sungai Sako Suban dan sungai Sialang, keduanya sebagai anak dari sungai Batanghari Leko. Wilayah pemukiman yang mereka tempati disebut dengan Tunggul Mangris. Aturan rimba sendiri melarang adanya Pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan. Inilah larangan terberat, yang jika dilanggar akan dikenai hukuman 500 lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat, dan sangat sulit disanggupi, karenanya Orang Rimba berusaha untuk mematuhi.

 

B.     LOKASI DAN GAMBARAN PENDUDUK

 

Hasil survei Kelompok Konservasi Indonesia (KKI) Warsi tahun 2004 menyatakan, jumlah keseluruhan Orang Rimba di TNBD ada 1.542 jiwa. Mereka menempati hutan yang kemudian dinyatakan kawasan TNBD, terletak di perbatasan empat kabupaten, yaitu Batanghari, Tebo, Merangin, dan Sarolangun. Hingga tahun 2006, paling sedikit terdapat 59 kelompok kecil Orang Rimba. Beberapa ada yang mulai hidup dan menyatukan diri dengan kehidupan desa sekitarnya. Namun sebagian besar masih tinggal di hutan dan menerapkan hukum adat sebagaimana nenek moyang dahulu.

Selain di TNBD, kelompok- kelompok Orang Rimba juga tersebar di tiga wilayah lain. Populasi terbesar terdapat di Bayung Lencir, Sumatera Selatan, sekitar 8.000 orang. Mereka hidup pada sepanjang aliran anak-anak sungai keempat (lebih kecil dari sungai tersier), seperti anak Sungai Bayung Lencir, Sungai Lilin, dan Sungai Bahar. Ada juga yang hidup di Kabupaten Sarolangun, sepanjang anak Sungai Limun, Batang Asai, Merangin, Tabir, Pelepak, dan Kembang Bungo, jumlahnya sekitar 1.200 orang.

Kelompok lainnya menempati Taman Nasional Bukit Tigapuluh, sekitar 500 orang.
Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern, Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba. Mereka menyebutnya seloka adat.

 

C.      NILAI EKOLOGIS

Nilai ekologis yang ada di suku anak dalam ini cukup banyak seperti Mereka sehari-harinya tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dinding dari kayu. Cara hidup dengan makan buah-buahan di hutan, berburu, dan mengonsumsi air dari sungai yang diambil dengan bonggol kayu. Makanan mereka bukan hewan ternak, tetapi kijang, ayam hutan, dan rusa. Identitas Orang Rimba yang tertuang lewat seloka, membedakannya dari orang terang sebutan untuk masyarakat di desa.

 Orang Rimba yang selama hidupnya aktifitas dilakukan di hutan, memiliki starata budaya dan kearifan lokal yang khas dalam mengelola sumberdaya alam. Hutan bagi mereka adalah harta yang tidak ternilai harganya karena tempat  kami hidup, beranak- pinak, sumber pangan, sampai menjadi tempat dilakukannya upacara adat istiadat mereka. Begitupula dengan sungai sebagai sumber air minum dan fungsi lainnya. Dalam hal pengelolaan sumberdaya hutan, mereka mengenal wilayah peruntukan seperti adanya tanoh peranokon, rimbo, ladang, sesap, belukor dan benuaron. Peruntukan wilayah merupakan rotasi penggunaan tanah yang berurutan dan dapat dikatakan sebagai keberlajutan sistem lestari sumber daya hutan yang dapat diolah sebagai ladang untuk suplai makanan pokok seperti ubi kayu, padi ladang, ubi jalar, pisang, tebu, kemudian berubah menjadi sesap. Sesap merupakan ladang yang ditinggalkan yang masih menghasilkan sumber pangan bagi mereka.

Selanjutnya setelah tidak menghasilkan sumber makanan pokok, sesap berganti menjadi belukor. Belukor meski tidak menghasilkan sumber makanan pokok, tetapi masih menyisakan tanaman buah–buahan dan berbagai tumbuhan yang bermanfaat bagi mereka seperti durian, duku, bedaro, tampui, bekil, nadai, kuduk kuya, buah sio, dekat, tayoy, buah buntor, rambutan, cempedak, petai, pohon sialong (jenis pohon kayu Kruing, Kedundung, Pulai, Kayu Kawon/Muaro Keluang), pohon setubung dan tenggeris (sebagai tempat menanam tali pusar bayi yang baru lahir), pohon benal (daunnya digunakan untuk atap rumah), kayu berisil (digunakan untuk tuba ikan) dan berbagai jenis rotan termasuk manau dan jernang.

Dahulunya "Orang Rimbo" jika sakit obatnya diramu dari tanaman -tanaman yang ada di hutan, namun sekarang sudah sangat sulit untuk didapatkan dengan berkurangnya luas hutan akibat banyaknya perusahaan - perusahaan yang membuka hutan kami.

Benuaron adalah kebun yang berperan sebagai sumber penghasil makanan (buah - buahan) dan kayu bermanfaat (pohon benal, sialong, dan berisil) juga berperan sebagai tanoh peranokon. Tanah peranokon merupakan tempat yang sangat dijaga keberadaanya, tidak boleh dibuka atau dialih fungsikan untuk lahan kegiatan lain, misalnya untuk lahan perladangan atau kebun karena merupakan tempat proses persalinan ibu dalam melahirkan bayi. Tanoh peranokon yang dipilih biasanya yang relatif dekat dengan tempat permukiman atau ladang kami serta sumber air atau sungai. Seiring berjalannya waktu, disaat seluruh tumbuhan yang terdapat di benuaron tersebut semakin besar dan tua, maka pada akhirnya benuaron tersebut kembali menjadi rimbo. Rotasi penggunaan sumberdaya hutan dari rimba menjadi ladang kemudian sesap, belukor dan benuaron, terakhir menjadi rimbo kembali, merupakan warisan budaya leluhur kami, yang mempunyai kearifan tradisional dimana selama ini dilupakan oleh pemerintah daerah maupun pusat. Bagi "Orang Rimbo".

Pepohonan di hutan bukan hanya sekadar pengisi hutan tapi juga mengandung makna spiritual bagi dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya kami tidak bisa sembarangan menebang pohon, termasuk pohon Tengeris yang dipercara menjadi penolak bala. Getah Tengeris juga menjadi penanda kelahiran "Orang Rimbo" dikenal masih menjunjung tinggi adat mereka, meski bagi sebagian orang terkesan primitif. Namun bagi kami adat istiadat itu adalah warisan leluhur yang harus dijaga.

Menurut kepercayaan "Orang Rimbo" pohon tengeris berfungsi sebagai pengingat kelahiran mereka. Karena setiap "Orang Rimbo"pasti punya satu pohon tengeris ". Getah kayu tersebut nantinya dioleskan ke ubun-ubun bayi yang baru lahir, dan dipercaya bisa menolak bala. Mencatuk/mengapak/menebas saja menurut kepercayaan "Orang Rimbo" sama dengan membunuh orang dan dikenakan denda 60 keping kain, apalagi menebang akan dikenai denda bayar bangun sejumlah 500 keping kain. Ketentuan serupa juga berlaku buat pohon sentubung. Sebab kayu sentubung dalam bentuk segitiga digunakan "Orang Rimbo" untuk menanam ari-ari mereka. Selain kedua pohon tersebut hal yang sangat dilarang adalah menebang pohon sialang, kedundung yang merupakan sarang bagi lebah madu. Dendanya bisa sangat berat yaitu 500 keping kain.

 Mereka sangat menyayangkan, hilangnya habitat tumbuhan pengatur jarak kelahiran yang selama ini kami konsumsi sebagai obat itu sudah tidak ada lagi. Begitu juga sungai-sungai sudah menjadi kering dan kotor, jika hujan turun menjadi cepat banjir. Perusahaan yang menebang pohon kayu tersebut sudah kami tuntutuntuk membayar denda sesuai dengan hukum adat kami,namun mereka mengurung kam secara fisik di camp perusahaan tersebut dan hingga kini tidak ada penyelesaian.

 

D.    ANALISIS MENGGUNAKAN PERSPEKTIF EKOLOGI

 

Suku anak dalam adalah salah satu suku di Indonesia yang bertempat tinggal di dalam hutan, suku ini sangat mengedepankan sisi ekologis dalam hidupnya, bagi mereka pohon dihutan bukan hanya sekedar pengisi hutan tetapi juga memiliki makna yang sangat spiritual. mereka bertahan hidup dengan memakan buah dan hewan sepeti rusa dan lainnya yang ada dihutan, mereka juga masih memiliki memegang adat istiadat yang ada sejak dahulu seperti menandakan tempat lahir dengan menandakannya ke suatu pohon terangis dan getah dari pohon itu dioleskan ke kening bayi sebagai penolak bala, suku anak dalam juga tidak menebang beberapa jenis pohon, dan lainnya.

Selain itu suku anak dalam juga memiliki lahan khusus bernama Benuaron atau kebun yang berperan sebagai sumber penghasil makanan (buah - buahan) dan kayu bermanfaat (pohon benal, sialong, dan berisil) juga berperan sebagai tanoh peranokon.tanah ini khusus dan tidak boleh di alih fungsikan menjadi lading atau kebun. Dan ada juga tanoh peranokon ,Tanoh peranokon yang dipilih biasanya yang relatif dekat dengan tempat permukiman atau ladang kami serta sumber air atau sungai. Dengan menjaga alam tempat tinggal mereka hingga kini suku anak dalam tetap mengedepankan nilai ekologis dan sangat menjaga tempat tinggalnya yaitu hutan dari perlakuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

 

Mir'atun Nisa, Nurul Andani_Ekologi Manusia_Tugas 5_Suku Tengger

Nurul Andani (1113054000033)
Mir'atun Nisa (1113054000038)
TUGAS MATA KULIAH EKOLGI
ANALISIS KAMPUNG TENGGER
 
A.    Sejarah dan Perkembangan Suku Tengger
Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, "Teng" dari Roro Anteng dan "Ger" dari Joko Seger.
 Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger. Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
Wong Tengger atau orang-orang pegunungan merupakan sebuah kelompok khusus karena mereka merupakan keturunan terakhir dari peradaban Majapahit pada akhir masa periodenya. Menurut mitos atau legenda yang berkembang di masyarakat suku Tengger, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng yang merupakan putri dari Raja Brawijaya dengan Joko Seger putra seorang Brahmana. Nama suku Tengger diambil dari akhiran nama kedua pasang suami istri itu yaitu, "Teng" dari Roro Anteng dan "Ger" dari Joko Seger. Legenda tentang Roro Anteng dan Joko Seger yang berjanji pada Dewa untuk menyerahkan putra bungsu mereka, Raden Kusuma merupakan awal mula terjadinya upacara Kasodo di Tengger.
Menurut beberapa ahli sejarah, suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang pada saat itu hidup pada masa kejayaan Majapahit. Saat masuknya Islam di Indonesia (pulau Jawa) saat itu terjadi persinggungan antara Islam dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa, salah satunya adalah Majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman di sekitar Gunung Bromo dan Semeru. Mereka yang berdiam di sekitar pedalaman Gunung Bromo ini kemudian mendirikan kampung yang namanya diambil dari akhiran nama pemimpin mereka yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
Mayoritas masyarakat Tengger memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut berbeda dengan agama Hindu di Bali, yaitu Hindu Dharma. Hindu yang berkembang di masyarakat Tengger adalah Hindu Mahayana. Selain agama Hindu, agama laiin yang dipeluk adalah agama Islam, Protestan, Kristen, dll. Berdasarkan ajaran agama Hindu yang dianut, setiap tahun mereka melakukan upacara Kasono.
B.     Lokasi dan Gambaran Umum Penduduknya
Masyarakat suku tengger merupakan salah satu suku yang mendiami lereng gunung Bromo-Bemeru. Gunung bromo (2.392m) adalah gunung yang dianggap suci bagi masyarakat tengger karena merupakan lambang tempat dewa Brahma, tempat wisata terkenal di jawa timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten, yaitu : Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Puncak gunung Bromo yang luasnya 10 km merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang menakjubkan bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 50 km. Kawah gunung Bromo berada dibagian utara berketinggian 2.392 m diatas permukaan laut yang masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke udara. Suhu rata-rata digunung Bromo antara 3-170C. Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang membentang di kaki gunung semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh merupakan pesona alam yang mengagumkan. Disamping pemandangan alam yang indah gunung bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat-istiadat dan budaya yang menjadi pedomannya.
Masyarakat tengger memiliki rasa persaudaraan serta solidaritas yang sangat tinggi.
Menurur nara sumber (bpk. Sugik) di masyarakat tengger kriminalitas sangatlah kecil semua itu disebabkan oleh rasa percaya pada adanya tradisi, kualat, serta akibat yang akan didapat dari sang HYang Widhi jika mereka melakukan suatu kesalahan. Masyarakat Suku tengger berjumlah sekitar 40 ribu (1985) tinggal dilereng gunung semeru dan disekitar kaldera tengger.        

 
C.    Nilai-nilai Ekologi Suku Tengger
Hal yang penting lainnya dari masyarakat Tengger adalah pandangan tentang Perilaku sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil).
Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan tentang watak yaitu:
      1.            prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya
  1. prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana
  2. pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah
  3. prasetya berarti setya
  4. prayitna berarti waspada.
Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya. Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong-royong.
Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya.
Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur. Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas).
D.    Analisis Persfektif Ekologis Weberian
Persepektif yang cocok atas suku ini adalah perspektif Weberian karena, menurut kami suku tengger ini masih kental dalam menjujung tinggi budaya di daerah setempat. Salah satu contoh yang dapat dilihat dengan jelas adalah suku tengger memiliki pembagian ruang atas pemukiman, lading, ternak dll. Dengan demikian, nilai-nilai yang tertera pada suku tengger sangat cocok dengan perspektif weberian.
 
http://blog-sejarah.blogspot.co.id/2008/10/sejarah-dan-asal-usul-suku-tengger.html

Cari Blog Ini