Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Jumat, 21 September 2012
biografi_Hilda Dziah Jrn 1B_tugas1
Biografi_RikiSubagiaJurnalistik1B_TugasKe1
Motto hidup saya : tetap semangat dalam kedaan apapun,
Cukup sekian dan terima kasih.
Teori Konflik
Teori Konflik
Oleh: Rizka Arfheinia PMI-3
Tugas ke-2
Pada dasarnya, dunia sosial dan politik selalu disarati oleh hubungan konflik kepentingan dan identitas. Menurut derwinisme, inilah dunia survival of the fittest, yang paling kuat adalah pemenangnya, yang kalah harus mati dan menderita. Memahami dunia konflik akan membawa pada kompleks dari mobilisasi berbagai sumber daya konflik, seperti ideology, massa kekerasan, dan militer. Bukankah ini tampak mengerikan? Negara bangsa hidup dalam dunia konflik yang tak berkesudahan, konflik separatism, komunal etnoreligius, politik, dan identitas. Konflik adalah mesin pembentuk sejarah masyarakat manusia dan pencipta peradaban berbagai Negara bangsa sampai detik Negara modern termuda Republik Timor Leste dilahirkan pada abad ini. Eksistensi Negara bangsa tumbuh dan bertahan dalam narasi konflik yang menjadi hukum sejarah dan fakta sosial.
Studi konflik telah dimulai semenjak perkembangan ilmu sosial klasik sampai abad postmodern terutama melalui disiplin ilmu sosiologi, psikologi, dan hubungan internasional. Akan tetapi studi ini, menjadi perhatian serius dan berkembang di Indonesia melalui berbagai peristiwa konflik kekerasan baikdalam dimensi etnis, agama, dan separatism pasca kekuasaan Orba (Orde Baru)
Konflik menjadi fenomena yang paling sering muncul karena konflik selalu menjadi bagian hidup manusia yang bersosial dan berpolitik serta menjadi pendorong dalam dinamika dan perubahan sosial politik.
Teori Konflik
Konflik adalah unsur terpenting dalam kehidupan manusia. Karena konflik memiliki fungsi positif(George simel. 1918; Lewis Coser, 1957)
Sedangkan yang dimaksud dengan Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.
1. Asumsi Dasar
Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional. Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke-19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri,
menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka. Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat.
Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang dianggap mengecewakan.
Contohnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji dinaikkan.
2. Konflik Non-Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan yang antagonis, tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam masyarakat yang buta huruf pembasan dendam biasanya melalui ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain-lain. Sebagaimana halnya masyarakat maju melakukan pengkambing hitaman sebagai pengganti ketidakmampuan melawan kelompok yang seharusnya menjadi lawan mereka.
Teori-Teori Konflik Masa Kini
Para penulis pendekatan konflik masa kini melihat perilaku kriminal sebagai suatu refleksi dari kekuasaan yang memiliki perbedaan dalam mendefinisikan kejahatan/ penyimpangan. Ada sebagian pemikir konflik kontemporer yang mendefinisikan kriminalitas sebagai suatu fungsi dari posisi kelas sosial. Karena kelompok elit dan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan memiliki kepentingan yang berbeda, apapun keuntungan dari kelompok elit akan bekerja melawan kepentingan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila data dan catatan resmi tentang angka kejahatan di kantor polisi secara mendasar lebih tinggi pada kelas bawah dibandingkan kelas-kelas yang memiliki hak-hak khusus. Teori-teori konflik kontemporer sering kali juga menganggap kejahatan sebagai suatu tindak rasional. Kejahatan yang terorganisir adalah suatu cara rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ilegal dalam masyarakat kapitalis. Teori-teori konflik menganggap kejahatan sebagai suatu ciri yang tidak dapat diubah dari masyarakat kapitalis. Amerika Serikat adalah satu dari masyarakat kapitalis tingkat tinggi/ lanjut dan angka kejahatan tertinggi di dunia saat ini.
Proposisi dalam Teori Konflik
Untuk lebih memahami adanya konflik sosial, ada beberapa proposisi yang perlu dipahami, yaitu:
1. Semakin tidak merata distribusi sumber-sumber di dalam suatu sistem, akan semakin besar konflik kepentingan antara segmen dominan atau lemah.
2. Segmen-segmen yang lebih lemah (subordinate) semakin menyadari akan kepentingan kepentingan kolektif mereka
maka akan semakin besar kemungkinannya mereka itu akan mempertanyakan keabsahan distribusi sumber-sumber yang tidak merata.
3. Segmen-segmen yang lemah dalam suatu sistem semakin sadar akan kepentingan-kepentinagn kelompok mereka maka semakin besar kemungkinan mereka mempersalahkan keabsahan distribusi sumber-sumber dan semakin besar pula kemungkinannya mereka mengorganisir untuk memulai konflik secara terang-terangan terhadap segmen-segmen dominan suatu sistem.
4. Apabila segmen-segmen subordinate semakin sipersatukan oleh keyakinan umum dan semakin berkembang struktur kepemimpinan politik mereka, maka segmen-segmen dominan dan segmen-segmen yang dikuasai yang lebih lemah akan terpolarisasi.
6. Tahapan-Tahapan Konflik
Perkembangan konflik biasanya melewati tiga tahapan, yaitu:
1. Latent Tension (unreal conflict), konflik masih dalam bentuk kesalahpahaman antara satu dengan lainnya, tetapi anatara pihak yang bertentangan belum terlibat dalam konflik.
2. Nescent Confilct, konflik mulai tampak dalam bentuk pertentangan meskipun belum menyertakan ungkapan-ungkapan ideologis dan pemetaan terhadap pihak lawan secara terorganisir.
3. Intensified Conflict, konflik berkembang dalam bentuk yang terbuka disertai dengan radikalisasi gerakan di antara pihak yang saling bertentangan dan masuknya pihak ketiga ke dalam arena konflik.
DAFTAR PUSTAKA
Susan, Novri. 2010. Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: kencana
ATIKA SURI JURNALISTIK 1A
| KARL MARX 1. PERTENTANGAN KELAS
Marx sering memakai istilah pertentangan kelas dalam tulisan-tulisannya, tetapi dia tidak pernah mendefinisikan secara sistematis apa yang dia maksud tentang istilah ini. Biasanya dia menggunakannya untuk menyatakan sekelompok orang yang berada dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan kontrol mereka terhadap alat-alat produksi. Namun, hal ini belumlah merupakan deskripsi yang sempurna dari istilah kelas sebagaimana yang di gunakan Marx. Kelas bagi Marx, selalu di definisikan berdasarkan potensinya terhadap konflik. Individu-individu membentuk kelas sepanjang mereka berada didalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lain tentang nilai surplus. Didalam kapitalisme terdapat konflik kepentingan yang inheren antara orang yang memberi upah para buruh dengan para buruh yang kerja mereka diubah kembali menjadi nilai-nilai surplus. Konflik inheren inilah yang membentuk kelas-kelas (ollman, 1976). Karena kelas disefinisikan sebagai sesuatu yang menimbulkan konflik, maka konflik ini berbeda-beda baik secara teoritis, maupun sevara historis. Sebelum mengidentifikasi sebuah kelas, diperlukan suatu teori tentang dimana suatu konflik berpotensi terjadi dalam sebuah masyarakat. Bagi Marx, sebuah kelas benar-benar eksis hanya ketika orang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas lain. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan membentuk apa yang disebut Marx dengan suatu kelas didalam dirinya. Ketika merekamenyadari konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, suatu kelas untuk dirinya. Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisis kapitalisme, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis, merupakan nama khusus untuk para kapitalis ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Konflik antar kelas borjuis dan proletar adalah contoh lain dari kontradiksi antara kerja dan kapitalisme. Tidak satupun dari kontradiksi-kontradiksi ini yang bisa diselesaikan kecuali dengan mengubah struktur kapitalis. Bahkan sampai perubahan tersebut tercapai, kontradiksi semakin memburuk. Masyarakat akan semakin berisi pertentangan dua kelas besar yang berlawanan. Kompetisi dengan toko-toko besar dirantai monopoli akan mematikan bisnis-bisnis kecil dan independen, mekanisasi akan menggantikan buruh tangan yang cekatan, dan bahkan beberapa kpitalis akan ditekan melalui cara-cara ampuh untuk monopoli, misalnya melakukan merger. Semua orang yang digantikan ini akan terpaksa turun kelas menjadi proletariat. Marx menyebut pembengkakan yang tak terelakkan didalam jumlah proletariat ini dengan proletarianisasi. Sebagai tambahan, karena kapitalis telah mengganti para pekerja dengan mesin-mesin yang menjalankan serangkaian operasi yang sedrhana, maka mekanisasi akan semakin mudah. Sebagai jalannya mekanisai maka semakin banyak orang yang keluar dari pekerjan dan terjatuh dari proletariat ke "tentara cadangan" industri. Akhirnya marx meramalkan suatu situasi dimana masyarakat akan terdiri atas secuil kalangan kapitalis eksploratif dan kelas prolateriat dan "tentara cadangan" industri yang sangat besar. Dengan mereduksi banyak orang kedalam kondisi ini, kapitalisme menciptakan massa yang akan membawa nya kepada keruntuhan. Makin terpusatnya kerja pabrik, sebagaimana kepulihannya memperhebat kemungkinan resistensi yang terorganisasi terhadap kapitalisme. Kemudian daripada itu, hubungan internasional pabrik-pabrik dan pasar-pasar menganjurkan para pekerja untuk menyadari lebih dari sekadarkepentingan lokal mereka sendiri. Inilah yang membawa sebuah revolusi.
2. AGAMA
Marx melihat agama sebagai ideologi. Dia merujuk agama sebagai candu masyarakat, namun berikut adalah kutipan catatan Marx: "Kesukaran agama-agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang sebenarya. Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya dunia yang tak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat (marx, 1843/1970)." Marx percaya bahwa agama seperti halnya ideologi merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama. Bentuk keagamaan ini, mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Kita juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada digarda depan dalam melawan kapitalisme. Meskipun demikia, Marx merasa bahwa agama khusunya menjadi bentuk kedua ideologi dengan menggambarkan ketidak adilan kapitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan mendorong perubahan revolusioner ke akhirat. Dengan cara ini, teriakan orang-orang tertindas justru digunakan untuk penindasan selanjutnya.
3. IDEOLOGI Perubahan-perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan-kekuatan produksi tidak hanya cenderung di cegah oleh relasi-relasi yang sedang eksis, akan juga ileh relasi-relasi yang pendukung, institusi-institusi dan khususnya, ide-ide umum. Ketika ide-ide umum menunjukkan fungsi ini, Marx memberikan nama khusus terhadapnya: Ideologi. Marx tidak selalu persis tentang penggunaan kata ideologi. Dia menggunakan kata tersebut untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan. Pertama, ideologi merujuk kepada ide-ide yang secara alamiah muncul setiap saat didalam kapitalisme, akan tetapi yang karena hakikat kapitalisme, merefleksikan realitas didalam suatu cara yang terbalik. Untuk hal ini, dia menggunakan metafora kamera obscura, yang menggunakan optik quirk untuk menunjukkan bayang-bayang nyata yang nampak terbalik. Inilah tipe ideologi yang direpresentasikan oleh fetisisme komoditas atau oleh uang. Meskipun kita mengetahui bahwa uang yang hanyalah potongan kertas yang memiliki nilai hanya karena relasi-relasi sosial yang mendsarinya, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita harus memperlakukan uang seolah-ola memiliki nilai sendiri. Walaupun pada hakikatnya kitalah yang memberi nilai pada uang tersebut, akan tetapi yang sering terlihat bahwa uanglah yang memberi kita nilai. Tipe ideologi ini mudah terganggu karena didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi material yang mendasarinya. Nilai manusia tidak benar-benar tergantung pada uang, dan kita sering menemui orang yang hidup membuktikan kntradiksi-kontradiksi itu. Faktanya, disinilah level yang sering menjadikan kita sadar bahwa kontradiksi-kontradiksi material yang diyakini Marx akan membawa kapitalisme ke fase selanjutnya. Misalnya kita menjadi sadar bahwa kerja kita bukan sekadar komoditas, dan bahwa penjualannya melalui umpan menimbulkan alienasi. Atau jika kita tidak menyadari kekacauan karena gerakan politis yang terang-terangan didalam pengamatan gangguan-gangguan inilah penggunaan dari kedua ideologi relevan. Ketika gangguan-gangguan muncul dan kontradiksi-kontradiksi material mendasar terungkap, tipe kedua ideologi akan muncul. Disini Marx menggunakan istilah ideologi untuk merujuk keada sistem-sistem aturan ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem kapitalis. Pada kebanyakan kasus, mereka melakukan hal ini dengansalah satu dari tiga cara berikut: a. Mereka menghadirkan suatu sistem ide, sistem agama, filsafat, literature, hukum yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi tampak koheren, b. Mereka menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut yang mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi, biasanya sebagai problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual, atau c. Mereka menghadirkan kontradiksi kapitalis sebagai yang benar-benar menjadi suatu kontradiksi pada hakikat manusia dan oleh karena itu satu hal yang tidak bisa di penuhi oleh perubahan sosial. Secara umum, golongan-golongan yang berkuasa menciptakan kedua tipe ideologi ini. Misalnya Karl Marx merujuk kepada ekonomi-ekonomi borjuis yang merepresentasikan filsuf-filsuf borjuis, seperi Hegel, karena menganggap bahwa kontradiksi-kontradiksi material bisa diatasi dengan mengubah cara berpikir. Bagaimanapun, proletariat pun bisa menciptakan tipe ideolog ini. Namun, persoalannya bukan siapa yang menciptakan, akan tetapi bahwa ideologi-ideologi selalu menguntungkan golongan yang berkuasa engan menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang akan membawa perubahan sosial.
4. MODAL PRODUKSI Dalam produksi sosial eksistensi, manusia menjalin hubungan dengan hal tertentu yang dibutuhkan dan bebas sesuai keinginan mereka. Hubungan-hubungan produksi ini berkaitan dengan level tertentu yang terkait dengan perkembangan tenaga produksi material. Keseluruhan kebutuhan ini membentuk struktur ekonomi masyarakat, sebagai pondasi riil yang menjadi dasar berdirinya bangunan yuridis dan polotik, dan sebagai jawaban atas bentuk-bentuk tertentu dalam kesadaran sosial. Cara produksi dalam kehidupan material pada umumnya mendominasi perkembangan kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, namun sebaliknya, eksistensi sosial mereka menentukan kesadaran tersebut. Pada taraf perkembangan tertentu tenaga kerja produksi material dalam masyarakat berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, mulailah era revolusi sosial. Perubahan dalam pondasi ekonomi disertai dengan kekacauan bangunan besar itu cepat atau lambat terdapat kekacauan dalam kondisi-kondisi produksi ekonomi. Namun ada juga bentuk-bentuk yuridis, politik, religius, artistik, dan filosofis, pendeknya bentuk-bentuk ideologis tempat manusia didalamnya memperoleh kesadaran akan adanya konflik itu dan akan mendorongnya hingga ke ujung akhir. Jika di reduksi hingga ke garis-garis besarnya, maka cara produksi ala asia, kuno, feodal, dan borjuis tampak sebagai zaman progresif terbentuknya ekonomi dalam masyarakat. Hubungan produksi model borjuis adalah bentuk antagonis terakhir dalam proses sosial produksi. Masa prasejarah kemanusiaan berakhir dengan sistem sosial ini. |
Biografi_RizaTasyaCandraDewiJurnalistik1B_TugasKe1
Nama saya Riza Tasya Candra Dewi, saya lahir di Jakarta, 11 mei 1995 . Saya anak ke 4 dari 4 bersaudara. Saya terlahir dari seorang Designer interior dan seorang ibu rumah tangga yang hebat, dan saya memiliki 3 saudara yang selalu mendukung dan membimbing saya, kakak saya yang pertama, Erwinsyah seorang sarjana ekonomi, dan yang kedua, Irwansyah seorang sarjana teknik, dan kaka saya yang terakhir, Shanty herawati seorang sarjana hukum. Sesungguhnya unik rasanya memiliki saudara-saudara yang memiliki perbedaan dalam minat pendidikan.
Saya lulusan dari Sahid International Islamic Boarding School dan SMAN 87 Jakarta. Saya seseorang yang menggilai dunia perfilman dan saya sesungguhnya berambisi untuk menjadi seorang sutradara yang membuat karya-karya film yang berkualitas, tapi sayangnya keluarga saya tidak mendukung ambisi saya itu. Tapi tetap tidak menggubris saya untuk mewujudkan ambisi dan impian saya. Karena saya sangat terinspirasi oleh seorang sutradara joko anwar.
Alasan saya mengapa saya ambil jurusan jurnalistik karena saya suka sesuatu yang bisa saya tekuni dan langsung terjun ke lapangan, dan ketika saya sudah menjajaki ke arah jurnalistik saya akan berusaha untuk terus bersikap skeptis karena seorang jurnalistik membutuhkan sikap skeptis.
Dalam dunia juralistik saya menjadikan Senandung Nacita, karena dia sangat terlihat intelek dan anggun. Saya berharap kelak saya akan menjadi seorang jurnalis yang seperti beliau.
Untuk menyemangati hidup yang saya akui sulit ini, saya berpegang teguh pada pedoman hidup saya. Moto hidup saya 'make a dream,and make it real!'.
Biografi_DwindaNurOceaniJurnalistik1B_TugasKe1
Saya Dwinda Nur Oceani biasa di panggil Dwinda, dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang luar biasa di Jakarta tanggal 18 Januari 1994. Saya adalah anak ke 2 dari 2 bersaudara, Ayah saya bernama Achmad Apip dan Ibu saya benama Zaidah Destiana, saya memiliki saudari/kakak perempuan yang benama Ade Eka Putri saya bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari mereka karena mereka adalah semangat hidup bagi saya. Saya menempuh pendidikan di SDN CIPUTAT IV lalu dilanjutkan di SLTP DAHLIA dan SMK YADIKA 5. Mulai dari SMP saya sudah mulai suka mengikuti organisasi intra sekolah (OSIS) dan aktif dibeberapa ektrakulikuler, saat SMK pun juga begitu saya aktif di OSIS dan beberapa ekstrakulikuler seperti design grafis yang akhirnya pada tahun 2009 saya menjadi utusan sekolah untuk mengikuti lomba design grafis yang kebetulan diadakan di UIN pada saat itu, saya sangat suka membaca buku – buku/ novel inspiratif seperti novel karya Iwan Setyawan selain membaca novel saya juga suka berimajinasi dan saya tuangkan menjadi sebuah script/naskah biasa disebut, saya suka mendengarkan musik jazz,blues dan soul karna biasanya ketika saya mendengarkan musik akan mempermudah datangnya inspirasi.
Saat ini saya kuliah dijurusan konsentrasi jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alasan saya memilih jurnalistik menurut saya jurnalistik itu menarik dari kata jurnalis saja sudah banyak pertanyaan dikepala saya apa sebenarnya itu? karna Banyak hal yang bisa saya dapat dari jurnalistik dari pengetahuan yang tak terbatas, bermacam – macam pengalaman nanti yang akan didapat dan selalu dituntut untuk mengikuti perkembangan apapun itu dan satu lagi karna seorang jurnalis adalah survivor. Harapan saya nanti kalau saya sudah lulus dan resmi menjadi seorang jurnalis saya bisa memberi pengaruh yang baik untuk INDONESIA dan mengabdian kepada INDONESIA dengan mengekplorasi dan meng expose kemampuan kemampuan dan kekayaan kekayaan yang dimiliki INDONESIA ke kancah International.
Tokoh jurnalis yang menginspirasi saya adalah Meutya Hafid, beliau salah satu inspirator yang luar biasa karna pengabdiannya pada pekerjaannya dan tanggung jawabnya selama beliau masih menjadi seorang jurnalis dan yang benar benar di expose pada saat beliau bertugas di Irak untuk meliput perang di Irak dan beliau sempat di sandera selama 3 hari dan tetap SURVIVE walaupun seorang perempuan dan juga banyak prestasi yang diraihnya seperti terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill, dari pemerintah Australia dll nya walaupun sekarang beliau sudah melepas profesi lamanya dari seorang jurnalistik sekarang menjadi Anggota DPR tetapi pengalaman – pengalamannya di dunia jurnalistik sangat menginspirasi saya.
Motto hidup saya adalah "Life is a choice"
Biografi_Muh.Firman.Hadi.Jurnalis1B_TugasKe1
Nama saya Muhammad Firman Hadi biasa dipanggil Firman, saya lahir di Pekalongan Jawa Tengah pada tanggal 7 April 1993. Sejak kecil saya tinggal di Jakarta dari umur 3 tahun hingga sekarang, tepatnya di kalideres jakarta barat saya tinggal dan menetap untuk mengadu nasib di Ibu kota. Pada tahun ajaran 2012 ini saya lulus dari jenjang SMA dengan jurusan IPS di SMAN 94 JakBar sebagai pilihannya. Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana dan anak ke 4 dari 4 bersaudara, walaupun anak bontot tapi orang tua selalu mengajarkan hidup mandiri dan pantang mengeluh. kakak pertama saya adalah tulang punggung keluarga karena Ayah sudah meninggal sejak saya masih dibangku SD, ayah saya seorang pekerja keras begitu juga dengan kakak saya, dia selalu melakukan hal yang terbaik untuk adik-adiknya dan juga untuk ibu tercinta,
Alasan saya mengapa memilih jurusan Jurnalistik di Universitas Islam Negeri Jakarta untuk jenjang pendidikan selanjutnya sebenarnya sangat sederhana, karna saya ingin mencari ilmu baru dan mencoba dunia baru dalam hidup ini. Karena Dunia yang selama ini saya geluti hanya seputar dunia IT dan Programmer, dengan berbekal niat tersebut saya bulatkan tekad untuk memilih Jurnalistik UIN dan dijurusan ini juga saya jadikan sebagai media untuk menyalurkan salah satu hobi saya yaitu Bloging.
Selain itu hobi saya yang lainnya yaitu main Game Online #biar kaya bocah haha, Optimasi blog, dan design web/blog.
jika ada waktu bisa main keblog kecil saya, minimal komen/ sekedar sundul postingan juga tidak apa'' hehe, http://seven4.heck.in
#maaf ijin promo pak, hehe :)
Jika ditanya Salah satu tokoh inspirasi saya dalam bidang jurnalistik, jujur saja saya masih bingung karena saya baru terjun dan belum terfikir siapa tokoh tersebut???. Tapi satu bulan sebelum saya memilih UIN jurusan jurnalistik, di tempat saya magang di daerah Jakarta Barat tepatnya saya bertemu Bang Hasman lulusan STM Listrik yang pernah mencicipi dunia media walaupun hanya satu tahun #ujarnya. Akan tetapi wawasannya sangat luas dan mulai saat itu saya jadi sering ngobrol seputar dunia media dengan beliau, akhirnya saya jadi tertarik dengan dunia jurnalis dan saya jadi punya cita-cita baru yaitu menjadi jurnalis di media online. semoga impian baru di dunia baru ini dapat tercapai. Aamiin Ya Allah :)
Motto hidup saya yaitu :
***Jangan Takut Mencoba Hal Baru Dalam Hidupmu. Jika Kamu Benar Kamu Akan Bahagia. Jika Tidak Kamu Akan Bijaksana :)***
cupuk sederhana namun punya arti tersendiri untuk saya pribadi. Hehe
Biografi_triahermalisjurnal1B_tugaske1
biografi_achmadfauzijurnal1b_tugaske1
Biografi_AnnisaRahmahJurnalistik1B_tugaske1
Biografi_AnggaSatriaPerkasaJurnalistik1B_Tugaske1
Biografi_RoniKurniawanJurnal1b_TugasKe1
Nama saya Roni Kurniawan, sejak kecil saya biasa dipanggil Encek karena mata saya sipit seperti orang cina walaupun saya ga ada silsilah keturunan cina. Saya lahir di Jakarta tanggal 11 Mei 1994. Saya anak ke 3 dari 3 bersaudara. Saya lahir dikeluarga yang sederhana ayah saya hanyalah seorang pensiunan guru dan ibu saya hanya seorang ibu rumah tangga. Ayah saya bernama Drs. Didi Juhaedi dan Ibu saya bernama Sariah, Saya mempunyai 2 kakak yang saya cintai , kakak saya yang pertama bernama Yanti sulistiawati dan Kakak saya yang kedua bernama Dani Faturakhman. Saya SD di SDN Larangan 10 Ciledug lulusan tahun 2006, SMP di SMPN 48 Jakarta lulusan tahun 2009 , SMA di SMAN 32 Jakarta lulusan tahun 2012, dan sekaramg saya sedang mengenyam pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Jurnalistik semester 1. Sejak saya kelas 3 SMP hobi saya Travelling/Touring ke berbagai tempat yang menarik, dan saya paling gemar touring dengan menggunakan motor bebek kesayangan saya yang sudah saya miliki sejak saya berumur 11 tahun yang saya beri nama vegi.
Sekarang saya berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Jurnalistik semester 1. Alasan saya memilih dan menekuni jurusan jurnalistik karena saya tertarik pada bidang kejurnalistikan terutama prospek kerja pada bidang kejurnalistikan bisa dibilang menjanjikan bila kita menekuninya dengan serius dan bersungguh sungguh untuk menjadi jurnalis yang handal dan berkompenten dibidang kejurnalistikan. Terlebih lagi saya suka berjalan jalan keluar kota dan menurut saya hobi saya itu bisa menunjang untuk saya bisa berkompenten di bidang kejurnalistikan.
Tokoh kejurnalistikkan yang saya idolakan dan sangat menjadi inspirator saya untuk menjadi seorang jurnalis yang hebat adalah Putra Nababan. Menurut saya beliau adalah seorang jurnalis yang hebat dan sangat berkompenten dibidang kejurnalistikan. Selain handal menjadi seorang reporter beliau juga handal menjadi seorang pembawa berita disalah satu media Televisi ternama di Indonesia. Saya ingin sekali menjadi Putra Nababan yang bisa sukses melalui bidang kejurnalistikkan, dan saya harus bisa sukses seperti Putra Nababan yang bisa sukses. Saya sebagai anak terakhir dikeluarga saya harus bisa lebih sukses dan lebih maju dari ayah saya dan kakak kakak saya. Dengan menyebut bismillah sejak saya masuk UIN Syarif Hidayatullah dengan mengambil jurusan jurnalistik bisa menjadi batu loncatan saya untuk menjadi jurnalis yang hebat, terkenal, dan sukses seperti tokoh jurnalis idola saya Putra Nababan sesuai motto hidup saya "Sukses, mapan, kaya, dan bahagia dalam menjalani hidup ini ada ditangan saya! Bisaaaaaa!".
Biografi_IndahPermataSariJurnalistikB_Tugaske1
Biografi_AzmyAzisJurnalis1B_Tugaske1
Nama saya Azmy Azis, tapi orang-orang biasa memanggil saya dengan sebutan Amy. Saya di lahirkan 18 tahun yang lalu di Jakarta tepatnya tanggal 24 Maret 1994. Saya anak ke2 dari 3 bersaudara. Saudara laki-laki saya bernama Ridho Zuliansyah Azis yang saat ini berumur 21 tahun,Mahasiswa semester 7 Universitas Mercu Buana dan saudara perempuan saya yang bernama Resva Dini Azis yg saat ini berumur 7 tahun siswi dari SDN 09 Bintaro. Saya memulai pendidikan saya di TK Raudhatul Atfal (MIN 15 Bintaro), lalu melanjutkan di SDN 09 Bintaro,setelah itu di SMPN 178 Jakarta,dan melanjutkan lagi di SMAN 87 Jakarta, dan saat ini di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Jurusan Jurnalistik. Hobi saya adalah membaca komik, dan mendengarkan musik. Saya mempunyai pengalaman berorganisasi di Osis. Saya menjadi Ketua MPK periode 2010-2011 di SMA. Alasan mengapa saya memilih jurnalistik karena pada dasarnya saya menyukai dunia kejurnalistikan karena jurnalis itu kerja di lapangan(outdoor) yg bisa terjun langsung apabila ada suatu kejadian dan tentunya bias mengapresiasi apa ide saya melalui tulisan maupun lisan yang tentunya bermanfaat bagi masyarakat luas. Tokoh idola saya di dunia kejurnalistikan adalah Putra Nababan. Saya bangga dengan beliau karena dapat mewawancarai Presiden Amerika saat ini yaitu Barrack Obama dan satu-satunya orang dari Indonesia yg dapat mewawancarai beliau secara ekslusif. Apabila saya menjadi seorang jurnalis nantinya saya ingin menjadi seperti beliau yang dapat bertemu dan mewawancarai langsung tokoh-tokoh penting di dunia ini. Moto hidup saya adalah "kegagalan bukanlah akhir dari segalanya tetapi awal dari kesuksesan" |