Selasa, 25 September 2012

EmileDurkheim_RikiSubagia1B_Tugas ke2

I. FAKTA SOSIAL

Durkheim mengembangkan masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Dalam bukunya The Rule of Sociological Method (1895/1982) Durkheim menegaskan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang disebut fakta-fakta sosial. Dukheim mendeskripsikan fakta sosial sebagai kekuatan (forces) dan struktur yang bersifat eksternal serta memaksa individu. Ia juga menegaskan bahwa tugas sosiologi ialah mempelajari apa yang disebut sebagai fakta-fakta sosial. Degan demikian durkhem membedakan dua fakta sosial yaitu :
1. Material : yaitu suatu barang yang dapat disimak, ditangkap dan diobservasi. Contohnya arsitektur dan norma hidup.
2.  Nonmaterial : sesuatu yang dianggap nyata atau eksternal, contohnya egoisme dan opini.
Namun durkheim lebih memfokuskan pada fakta sosial nonmaterial (misalnya kultur, institusi sosial) ketimbang pada fakta sosial material (birokrsi, hukum).
Durkheim tidak menyatakan bahwa fakta sosial itu selalu berbentuk sesuatu yang nyata. Melainkan Sebagian suatu yang dianggap sebagai barang. Beberapa fakta sosial seperti arsitektur dan norma hukum merupakan suatu barang yang berbentuk material. Alasannya karena dapat disimak dan diobservasi. Sedangkan fakta sosial yang lain seperti opini hanya dapan dinyatakan sebagai suatu barang, tidak dapat diraba. Fakta sosial yang berbentuk material mudah dipahami. Norma hukum jelas merupakan suatu barang yang nyata dan berpengaruh terhadap kehidupan individu. Lalu Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan oleh fakta sosial non material, khusunya oleh kuatnya ikatanan moralitas bersama.  
 
II. Pembagian Kerja (Division of Labour)
             Pemikiran Durkheim dalam The Division of Labour in Society pada tahun  (1893) sebenarny pembelaan atas modernitas. Merupakan menyanggah pandangan bahwa industrialisasi dapat mengakibatkan hancurnya tatanan sosial. Durkheim berpendapat bahwa surutnya otoritas keyakinan-keyakinan moral tradisional bukanlah indikasi adanya disentegrasi sosial melainkan perubahan sosial , pergeseran historis dari suatu bentuk tatanan sosial yang didasarkan pada keyakinan bersama dan control yang ketat (solidaritas mekanis) menuju tatanan yang berdasarkan ketergantungan mutual antar-individu yang relative otonom (solidaritas organis).
Ia mencirikan solidaritas mekanis masyarakat tradisional sebagai solidaritas yang tergantung pada keseragaman para anggotanya, yang kebersamanya diciptakan bagi keyakinan dan nilai-nilai bersama. Dalam kondisi solidaritas mekanis , menurutnya individualitas tak berarti sebab kesadaran individual tergantung pada tipe kolektif dan mengikuti segala geraknya. Sedangkan solidaritas Organis diciptakan oleh pembagian kerja. Durkmeim mengelopmpokan konsekuensi aktualnya disini sebagai sesuatu yang abnormal. Ia mengidentifikasi dua penyebab utama abnormalitas ini. Yang pertama adalah anomie , dan yang kedua adalah ketimpangan terstruktur:adanya kelas-kelas sosial.
 
III.  AGAMA

Dalam bukunya yang berjudul 'Les Formes Elementaires De La Vie Religion' ( bentuk-bentuk awal kehidupan agama), yang diterbitkan dalam bahasa perancis pada tahun 1912. Durkheim melihah bahwa semua agama membedakan antara hal-hal yang dianggap sakral dan yang dianggap profan. Durkhein membuat definisi agama sebagai berikut, suatu agama adalah sebuah sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan hal-hal yang dianggap sakral, yaitu hal-hal yang dipisahkan dan dilarang―kepercayaan dan perilaku yang mempersatukan semua penganutnya menjadi satu komunitas moral, yaitu berdasarkan nilai-nilai bersama yang disebut umat)'. Dengan kata lain, masyarakat yang tidak ingin terpecah harus memerlukan agama untuk mempersatukan masyarakat tersebut. Walaupun Durkheim sendiri seorang atheis, dalam semua karyanya ia berulang kali menekankan sumbangan positif agama terhadap kesehatan (persatuan) masyarakat.

Durkheim juga mencerna perbedaan tajam antara religi dan magi. Namun letak perbedaan itu juga dilihat dari sudut sosiologis, religi adalah kolektif sedangkan magi adalah individual (tidak ada umat magi). Ritual religi adalah berkaitan dengan sesuatu yang sakral, sedangkan ritual magi sering kali mengingkari, menolak, memprofankan, malahan meledek yang sakral (lihat Les Formes Elementaires, h.42-45). Dalam religi asal hukuman itu ada dua yaitu :
1. Tuhan atau kekuatan gaib yang diimani
2. Masyarakat
Dalam magi tidak ada konsep dosa, kalau larangan magi (misalnya pantangan) dilanggar, masyarakat tidak peduli, akibat buruk yang dipercayai adalah pribadi saja.
 
IV. FUNGSIONALISME
      Sebagai ahli waris tradisi pemikiran sosial Prancis, khususnya ajaran organisme yang dilancarkan oleh Comte, tidaklah terlalu mengherankan jika hasil karya Emile Durkheim terpengaruh terminologi organismik. Dalam bukunya The Division of Labor, Durkheim melancarkan kritik terhadap Spencer, namun hasil karya sesudahnya sangat terpengaruh oleh aliran biologis dalam situasi intelektual abad ke – 19. Asumsi – asumsi dasar Durkheim mencerminkan pokok – pokok pikiran mereka yang sangat terpengaruh oleh aliran organisme, yaitu:
A.   Masyarakat tidak dapat dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri yang dapat dibedakan dari bagian – bagiannya. Masyarakat juga tidak dapat dihabiskan ke dalam bagian – bagiannya. Masyarakat harus dilihat sebagai suatu keseluruhan.
B.    Bagian – bagian suatu sistem dianggap memenuhi fungsi – fungsi pokok, maupun kebutuhan sistem secara keseluruhan.
C.    Kebutuhan pokok suatu sistem sosial harus dipenuhi untuk mencegah terjadinya keadaan abnormal atau patologis.
D.   Setiap sistem mempunyai pokok – pokok keserasian tertentu yang segala sesuatunya akan berfungsi secara normal.
            Durkheim mengakui analisa yang diperkenalkannya mengandung perbagai bahaya, namundia memberikan beberapa alternatif untuk mengatasi kelemahan itu. Pertama ia menyadari kelemahan analisa teologis, yakni bahwa berbagai konsekuensi yang terjadi di mada mendatang suatu gejala menjadi penyebab terjadinya gejala tersebut. Dengan demikian harus dibedakan antara sebab-sebab terjadinya suatu jegala dengan tujuan akhirnya, yaitu fungsinya. Dengan demikian, walaupun Durkheim mengingatkan perihal analisa teologis yang kadang-kandang tidak benar, dia sendiri kadangkala terjerumus ke dalamnya. Kemungkinan besar penyebabnya adalah pembentukan asumsi-asumsi organismik ke dalam analisa sosiologis. Walaupun Durkheim memberikan tekanan pada keseluruhan system sosial, namun dengan memasukkan asumsi-asumsi organismik seperti fungsi, kebutuhan, keadaaan normal, patologi dan lain sebagainya, dia memasukkan konsep-konsep tersebut ke dalam teori-teori sosiologi selama hamper tiga-perempat abad lamanya. Namun perlu diakui bahwa analisanya terhadap topic-topik substansif, menyebabkan analisa secara fungsional menjadi suatu cara yang sangat disukai para sosiolog selam beberapa generasi.
 
V. ANOMALI
Dalam karya Durkheim, Suicide (Bunuh Diri) (1987). Dia membagi bunuh diri menjadi tiga macam :
1.      Alturastik (diman kasus bunuh diri terjadi demi kepentingan kelompok seperti  (misalnya seorang pahlawan perang).
2.      Egoistik (karena adanya kekurangan dalam organisasi sosial berupaya untuk menjauhkan diri dari kelompok tersebut).
3.      Anomanik, dimana penyesuaian diri  masyarakat terganggu (oleh perubahan-perubahan ekonomi, dan bangkit serta jatuhnya suatu kelas ).
Ide tentang anomie itu diperkenalkan sebagai  suatu tandingan tepat atas ide tentang solidaritas sosial. Sementara solidaritas sosial adalah suatu bentuk integrasi ideologi kolektif, anomie adalah bentuk kebingungan, ketidak amanan, "kehampaan norma".
Apabils kondisi masyarakat sudah tidak mempunyai sistem pengaturan utama dan tidak berfungsi lagi dalam membentuk keteraturan dan hubungan harmonisnya, maka hal demikian membawa kepada kondisi "anomi".  Ada tekanan budaya yang kuat pada individualisme. Fenomena dalam membentuk penyakit masyarakat :
1.      Anomi pada pembagian kerja, seperti kasus krisis industri dimana terjadi permusuhan antara buruh dan pengusaha, sehingga individu terisolasi.
2.      Tingginya intensitas pembagian kerja, sehingga penempatan individu tidak berdasarkan kemampuannya.
3.      Bentuk patologis lainnya yaitu fungsi tugas tidak dikerjakan secara penuh pada sistem.



REFERENSI
1. Beilharz Peter. (2005) "Teori-Teori Sosial", Yogyakarta, Pustaka Belajar.
2. Ritzer George. (2011) "Teori Sosiologi Modern", Jakarta, Kencana.
3. Giddens Anthony. (2004) "Sosiologi Sejarah Dan Berbagai Pemikirannya", Bantul, Kreasi Wacana.

 

E.Durkheim_dahlan JNR 1b_tugas ke-2

EMILE DURKHEIM
DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD ZAENI DAHLAN (1112051100030)
TUGAS SOSIOLOGI KE-2
 
DOSEN PEMBIMBING : Tantan Hermansyah,M.Si
 
Jurusan Jurnalistik
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu komunikasi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
JAKARTA
Tahun 2012/2013
 
 
Kata Pengantar
 
            Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat dan karunianya. Shalawat serta salam tak lupa kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, atas berkat rahmat-Nya makalah ini dapat kami selesaikan tepat waktu.
            Makalah dengan tema EMILE DURKHEIM  ini kami susun dalam rangka menyelesaikan tugas dari dosen kami  Bapak Tantan Hermansyah.Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan kami tentang Ilmu sosiologi.
            Makalah ini terdiri dari 5 (lima) sub-bab, yaitu fakta social,pembagian kerja,agama,fungsionalisme dan anomali menurut Emile Durkheim.Kami  berharap agar makalah ini dapat memberikan pelajaran dan rujukan bagi semua orang yang suka belajar dan bersosialisasi dalam masyarakat.
                                               
                                                                                                 
 
                                                                                           
                                                                                                     Jakarta,September 2012
                                                                                               
 
 
M.Zaeni Dahlan
 
 
 
 
 
 
       Dalam pembahasan kali ini saya akan menerangkan beberapa teori yang telah saya rangkum dari beberapa buku sosiologi menurut pandangan Emile Durkheim,diantaranya :
-Fakta Sosial
-Pembagian Kerja (division of  labour)
-Agama
-Fungsionalisme
-Anomali
 
1.      Fakta Sosial
        Emile Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris.Dalam the rule of sociological method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta social.Ia membayangkan fakta social sebagai kekuatan (forces)(takla dan pope,1985) dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu.Studi tentang kekuatan dan struktur berskala luas ini misalnya,hukum yang melembaga dan keyakinan moral bersama dan pengaruhnya terhadap individu menjadi sasaran studi banyak teoritisi sosiologi dikemudian hari (misalnya parsons).Dalam bukunya yang berjudul suicide (1897/1951) Durkheim berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab social (fakta social) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi.Tetapi Durkheim tak sampai menguji mengapa individu A atau B melakukan bunuh diri,ia lebih tertarik terhadap penyebab yang berbeda-beda dalam rata-rata perilaku bunuh diri dikalangan kelompok,wilayah,Negara dan dikalangan golongan individu yang berbeda misalnya antara orang yang kawin dan lajang.Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosiallah yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri.
          Dalam the rule of sociological method ia membedakan antara dua tipe fakta social : material dan nonmaterial.meski ia membahas keduanya dalam karyanya,perhatian utamanya lebih tertuju pada fakta social nonmaterial (misalnya kultur,institusi social) ketimbang pada fakta sosial material (birokrasi,hukum).perhatiannya terhadap fakta social nonmaterial ini telah jelas dalam karyanya paling awal,the division of labour in society (1893/1964).
2.      Pembagian kerja (division of  labour)
          Dalam bukunya ini,Emile Durkheim menerangkan bahwa perhatiannya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan primitive atau modern.ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitive dipersatukan terutama oleh fakta social nonmaterial,khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama,atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif yang kuat.tetapi karena kompleksitas masyarakat modern,kekuatan kesadaraan kolektif itu telah menurun.ikatan utama dalam masyarakat modern adalah pembagian kerja yang ruwet,yang mengikat orang yang satu dengan orang lainnya dalam hubungan saling tergantung.tetapi menurut Durkheim,pembagian kerja dalam masyarakat modern menimbulkan beberapa patologi (pathologies).dengan kata lain,divisi kerja bukan metode yang memadai yang dapat membantu menyatukan masyarakat.kecenderungan sosiologi konservatif Durkheim terlihat ketika ia menganggap revolusi tak diperlukan untuk menyelesaikan masalah.menurutnya,berbagai reformasi dapat memperbaiki dan menjaga system social modern agar tetap berfungsi.meski ia mengakui bahwa tak mungkin kembali kemasa lalu dimana kesadaran kolektif masih menonjol,namun ia menganggap bahwa dalam masyarakat modern moralitas bersama dapat diperkuat dan karena itu manusia akan dapat menanggulangi penyakit social yang mereka alami dengan cara yang lebih baik.
3.      Agama
         Dalam bukunya the elementary forms of religious life (1912/1965),ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhir fakta social nonmaterial yakni agama.dalam karya ini Durkheim membahas masyarakat primitive untuk menemukan akar agama.durkheim yakin bahwa ia akan dapat secara lebih baik menemukan akar agama itu dengan jalan membandingkan masyarakat primitive yang sederhana ketimbang didalam masyarkat modern yang kompleks.temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri.masyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sakral dan yang lainnya bersifat profane,khususnya dalam kasus yang disebut totemisme.dalam agama primitive (totemisme) ini benda-benda seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan.durkheim menjelaskan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama (kesatuan kolektif).
         Dalam karangannya itu Durkheim menyimpulkan bahwa  "Agama sesungguhnya adalah masalah social."dan ia juga meyakini bahwa  "agama adalah hal primitive dari segala fenomena sosial.semua manifestasi lain dalam aktivitas kolektif  berasal dari agama dan melalui berbagai transformasi secara berturut-turut antara lain menyangkut hukum,moral,seni,bentuk politik dsb."
4.      Fungsionalisme
         Durkheim membedakan antara sebab dengan fungsi,namun ancaman dan kebutuhan akan adanya tertib social merupakan penyebab terjadinya pembagian kerja,penalaran demikian dapat dianggap sebagai teleology yang tidak tepat,sebab akibat pembagian kerja meruopakan penyebab pula dari pembagian kerja.walaupun Durkheim mengingatkan perihal analisa teleologis yang kadang-kadang tidak benar,dia sendiri kadangkala terjerumus kedalamnya.kemungkinan besar penyebabnya adalah pembentukan asumsi-asumsi organismik kedalam analisa sosiologis.walaupun Durkheim memberikan tekanan pada keseluruhan system social,namun dengan memasukkan asumsi-asumsi organismik seperti fungsi,kebutuhan,keadaan normal,patologi dsb,dia memasukkan konsep-konsep tersebut kedalam teori-teori sosiologi selama hamper tiga-perempat abad lamanya.namun perlu diakui bahwa analisanya terhadap topic-topik substantif,menyebabkan anlisa secara fungsional menjadi suatu cara yang sangat disukai para sosiolog selama beberapa generasi.
5.      Anomali
           Untuk sampai kesebuah moral baru kita tidak cukup hanya membicarakannya,tetapi pertama-tama harus mempercepat momen terjadinya reformasi yang bertujuan unuk membangun solidaritas baru antar individu.
           Saat ini "lingkup kehidupan kolektif tunduk pada peraturan yang menjadi perantaranya.dari situasi anomie inilah asal-usul berbagai konflik yang tiada henti bermunculan beserta kekacauan segala jenisnya seperti yang diberikan oleh dunia ekonomi sehingga menyajikan pemandangan yang menyedihkan,sia-sia saja kita menjustifikasi ketidakteraturan ini dengan menilai bahwa hal ini akan mendukung perkembangan kebebasan individu.tidak ada yang lebih keliru lagi selain antagonisme  antara otoritas pemegang peraturan dengan kebebasan individu.sebaliknya kebebasan itu sendiri adalah hasil dari peraturan."
           Durkheim sendiri yakin bahwa orang harus membentuk pengelompokan-pengelompokan professional baru,korporasi baru yang mempertautkan seluruh pekerjaan yang berkolaborasi dalam sector kehidupan ekonomi : "jika anatomie itu sebuah kejahatan,itu semata-mata karena masyarakat memang menderita dan meraka tidak dapat hidup tanpa kohesi dan keteraturan.agar anatomie bisa diakhiri maka harus ada atau harus dibentuk satu kelompok  yang bisa berbentuk system peraturan yang faktanya memang masih kurang memadai.masyarakat politiksecara keseluruhan ataupun Negara sebenarnya tidak bisa dibangun dari fungsi ini : kehidupan ekonomi,karena bersifat sangat khusus dan setiap hari mengalami spesialisasi,mulai terlepas dari kompetensi dan tindakannya.aktivitas sebuah profesi hanya bisa diatur secara efektif oleh sebuah kelompok yang cukup dekat dengan profesi itu,baik untuk mengenali fungsinya untuk merasakan segala kebutuhan dan kemampuan untuk mengikuti seluruh variasinya."
Orang boleh saja meragukan penyesalan ini,yang jadi masalah hanya tidak ada peraturan ekonomi yang bisa mengarah pada perang social dan kesengsaraan moral,sama seperti tidak adanya peraturan internasional yang telah memicu perang dunia.
 
 
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
George Ritcher dan Douglas J.Goodman. edisi 6. "Teori Sosiologi Modern".
Soekanto,Soerjono. "Mengenal tujuh tokoh Sosiologi".
Philippe Cabin dan Jean. "Sosial,Sejarah dan berbagai pemikirannya".
 

pandangan menurut karl marx tentang pertentangan kelas,agama,ideologi dan moda produksi

Pandangan Karl Marx Mengenai Pertentangan Kelas, Agama, Ideologi dan Moda Produksi
 
Nama                           : Trisaka Octarian
NIM                            : 1112051000130
Jurusan                        : Komunikasi dan Penyiaran Islam                            
Kelas/semester            : 1/E
 
 
A.Pertentangan kelas
            Karl Marx sangat sering sekali menggunakan istilah kelas didalam karya-karya yang telah dia lahirkan,namun Marx sering juga tidak mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah kelas ini.Sebenenarnya kelas bagi Marx selalu didefinisikan sesuai dengan potensinya itu sendiri terhadap  konflik.Kemudian para individu-individu ini membentuk sebuah kelas selama para individu ini berada didalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lainnya terhadap nilai surplus.
            Karena kelas telah didefinisikan sebagai salah satu factor penyebab terjadinya konflik,maka konsep ini memiliki perbedaaan-perbedaan baik ditelaah secara teoritis maupun secara historis.Marx juga berpendapat bahwa sebuah kelas akan memliki eksistensi hanya ketika seseorang sedang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas yang lainnya,dan disaat mereka menyadari akan terjadinya konflik,maka mereka akan menjadi suatu kelas yang sebenarnya,yaitu suatu kelas untuk dirinya.
           
            Marx pun menemukan ada dua macam kelas ketika marx sedang menganalisis kapitalisme yaitu sebgai berikut :
1.      Kelas Borjuis, merupakan nama yang dibuat khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka telah memiliki alat-alat produksi dan juga mempekerjakan pekerja upahan.
2.      Kelas Proletar, untuk kelas proletar sendiri sebenarnya berbanding terbalik dengan pengertian kelas Borjuis.Dimana, sebuah individu-individu yang sangat dibutuhkan didalam masyarakat seperti buruh yang cekatan,kemudin bisnis-bisnis kecil yang telah dibangun akan tergerus oleh sebuah mekanisme yang lambat laun semakin mudah. Mekanisme inilah yang menjadi faktor perubahan karena kapitalis telah mengganti para pekerja dengan mesin-mesin yang telah dijalankan.Dan semua orang yang digantikan inilah akan terpaksa turun dari jabatannya  menjadi proletariat.
 
            Tidak satu pun dari kontradiksi-kontradiksi ini yang bisa diselesaikan kecuali dengan mengubah strukur kapitalis.Marx juga mengakui bahwa konflik kelas sering disebabkan oleh bentuk-bentuk lain dari stratifikasi,seperti etnis, ras, gender, dan juga agama.Bagaimana pun dia tidak menerima hal ini sebagai bagian yang utama.
 
B. AGAMA SEBAGAI CANDU
Kemudian pandangan agama menurut karl Marx adalah, agama juga sebagai ideologi,Karena agama merujuk sebagai candu masyarakat,kesukaran agama-agama pada saat yang bersamaan merupakan sebuah kesukaran yang sebenarnya.Agama juga sebagai nafas lega bagi mahluk yang tertindas didunia,ketika didunia hatinya sering merasa bergejolak karena keadilan yang tidak ada,membuat agama sebagai candu didalam masyarakat.

Seperti halnya ideologi,agama juga sebagai perefleksian suatu kebenaran,namun semua berbanding terbalik,karena orang-orang tidak bisa menerima akan hal ketertindasan kapitalis,oleh karena itu mereka diberikan suatu bentuk agama.Sebenarnya Karl Marx tidak menentang akan agama,namun marx menolak suatu sistem atau tata cara yang mengandung ilusi-ilusi agama.

Sebuah bentuk keagamaan seperti ini sangatlah mudah dikacaukan dan mungkin juga kita bisa sebagai peletak dasar sebuah perubahan revolusioner.Sering kali kita melihat bahwa agama selalu berada diposisi yang paling depan untuk melawan para kapitalis.Tetapi Marx tetap menganggap bahwa agama sebagai ideologi kedua dengan menggambarkan kapitalisme sebuah ujian dan mendorong akan terjadinya perubahan revolusioner keakhirat.Sebenarnya isi hati dari para kaum yang tertindas akan mendorong terjadinya penindasaan yang selanjutnya.Karena tidak mungkin kaum kapitalis akan membentuk sebuah keadilan bagi kaum yang tertindas.
 
C. IDEOLOGI
            Perubahan-perubahan penting yang terjadi bagi kemajuan kekuatan-kekuatan produksi tidak akan bisa dicegah hanya dengan relasi-relasi yang berkembang dengan keeksistensiannya saja,namun harus sejalan juga dengan relasi-relasi pendukung,institusi-institusi dan khususnya ide-ide umum yang bisa menjadi pencegahan,disaat-saat ide-ide umum ini berkembang,lambat laun telah menunjukan fungsinya,marx memberikan nama khusus terhadap ide-ide ini dengan sebutan ideology.
          
            Disini Marx menggunakan kata ideologi untuk merujuk kepada system-sistem aturan ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada dipusat sistem kapitalis,sebagai salah satu contoh misalnya,Marx merujuk kepada ekonom-ekonom borjuis yang merepresentasikan bentuk komuditas sebagai yang alamiah dan universal.Atau dia mengkritisi filsuf-filsuf borjuis.
 
D. MODA PRODUKSI
            Didalam sebuah proses produksi sosial yang dilakukannya,dimana manusia memasuki relasi-relasi tertentu dan nisyaca mereka tidak akan mengikuti  atau bergantung pada keinginan mereka tersebut.Melainkan relasi-relasi ini lebih bergantung terhadap pada suatu langkah tertentu dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka.Pada tahap tertentu kekuatan-kekuatan produksi material didalam masyarakat berkonflik dengan relasi-relasi produksi yang ada dan juga karena ekspresi legal dari hal yang sama,dengan relasi property tempat mereka bekerja sebelumnya.
 
 
 
 
  DAFTAR PUSTAKA :
 
Teori Sosiologi, George Ritzar, Douglas J Goodman, Penerbit: Kreasi Warna
 
 
 
 
 
 
 
           
           
           
 
 
 

Cari Blog Ini