| TEORI KRITIS Teori kritis adalah produk sekelompok noe-Marxis jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian. Teori kritis telah berkembang melampaui batas aliran Frankfrut. Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi amerika. Kritik Utama terhadap Kehidupan Sosial dan Intelektual Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek krhidupan sosial dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat (Bleich,1997). Kritik terhadap Teori Marxian. Teori kritis mengambil kritik terhadap teori marxian titik tolaknya. Teoritis kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi yang mekanistis (Antonio,1981;Schroyer,1973;Sewart,1978). Kritik terhadap Positivisme. Aliran kritis menentang positivisme karena berbagai alasan(Sewart,1978). Pertama, positivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah. Teoritis kritis lebih menyukai memusatkan perhatian pada aktivitas manusia maupun pada cara-cara aktivitas tersebut memengaruhi stuktur sosial yang lebih luas. Ada segelintir Marxis tipe tertentu yang mendukung pandangan yang menyatakan teori dan praktiktak dapat dihubungkan. Meski kritikkan ada kritik terhadap positivisme, beberapa orang Marxis mendukung positivisme, dan Marx sendiri tampaknya yang terlalu positivis(Habermas,1971). Kritik terhadap Sosiologi. Sosiologi diserang karena "keilmiahannya", karena menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri. Selain dari itu sosiologi dituduh menerima status quo. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini. Kritik terhadap Masyarakat Modern. Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat kultural mengingat kultur dianggap sebagai ralitas masyarakat kapitalis modern. Aliran kritis masih tetap memperhatikan masalah dominasi, meski masyarakat modern mungkin lebih didominasi oleh elemen kultural ketimbang oleh elemen ekonomi. Karena itulah aliran kritis mencoba memusatkan perhatian pada penindasan kultural atas individu dalam masyarakat. Pemikiran kritis telah dibentuk tak hanya oleh teori Marxian, tetapi juga oleh teori Weberian, seperti tercermin pada perhatian mereka kepada rasionalitas sebagai perkembangan dominan dalam dunia modern. Menurut teoritis kritis, rasionalitas formal tak mencerminkan perhatian mengenai cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan apapun yang dianggap penting oleh pemegang kekuasaan. Teoritisi kritis memandang Nazisme pada umumnya dan konsentrasi Nazi pada khususnya, sebagai contoh rasionalitas formal yang bertempur mati-matian dengan nalar sehat. Kritik terhadap Kultur. Teoritisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut "industri kultur", yakni stuktur yang dirasionalkan dan dibirokratisasikan yang mengendalikan kultur modern. Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang disebut sebagai "industri pengetahuan", yang mengacu kepada entitas-entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan. Analisis kritis Marx terhadap kapitalisme membuatnya berharap pada masa depan, tetapi banyak teoritisi kritis malah masuk pada pandangan putus asa dan tanpa harapan. Ereka elihat problem-problem dunia modern bukan hanya ada pada kapitalisme, tetapi mewabah sampai ke dunia yang dirasionalkan(rationalized).sebagian besar teori kritik adalah sejalan dengan analisis kritik. Meskipun teori kritik juga mempunyai sejumlah inat positif, tetapi lebih banyak memberi kontribusi yang lebih kritis ketimbang kontribusi positif. Dan karena alasan ini mereka merasa bahwa teori kritik ini tak banyak memberi sumbangan pada teori sosiologi. Sebagian besar teori kritik (seperti rumusan asli Marx) adalah sejalan dengan analisis kritik. Meskipun teori kritik juga mempunyai sejumlah minat positif, tetapi ia lebih banyak memberi kontribusi yang lebih kritis ketimbang kontribusi positif. Dan karena alasan ini mereka erasa bahwa teori kritik tak banyak memberi sumbangan pada teori sosiologi. Teori kritis juga memikirkan tentang masa depan, tetapi dengan mengikuti pemikiran orisinil Marx, mereka menolak menjadi utopian, mereka menitikberatkan pada kritik dan mengubah masyarakat kontemporer (Alway, 1995). Akan tetapi, ketimbang mengarahkan perhatian mereka pada stuktur ekonomi masyarakat seperti dilakukan Marx, mereka berkonsentrasi pada superstruktur kulturalnya. Dalam term yang lebih abstrak, pemikir kritis dapat dikatakan sibuk dengan hubungan yang saling memengaruhi antara teori dan praktik. |
Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Senin, 01 Oktober 2012
TUGAS 4 / SITI AISYAH / KPI 1E
tugas 4.milki amirus sholeh .KPI 1E
"TEORI KRITIS KARL MARX"
Buku : TEORI SOSIOLOGI MODERN
Penerbit :PRENADA MEDIA GROUP
Oleh : Milki Amirus Sholeh
NIM :1112051000138
Seiring dengan bertambahnya wawasan berfikir serta keilmuan yang berkembang di benua biru maka dengan mudah segalanya akan mudah terjadi baik dengan cara evolusi maupun revolusi , perubahan secara cepat (revolusi) bisa dilihat dari beberapa kisah menakutkan di erofa dan bisa kita berikan contoh perancis dengan revolusinya atau jerman seperti yang kita ketahui bahwa terjadi perang kedudukan dan ideologi kaum proletar dan bourjuis yang sama sama ingin mempertahankan haknya masing masing
Bukan tak mungkin suatu yang dianggap relatif tak bisa di rekonstruksi lagi ataukah di perbaharui dengan metode baru , seperi keterangan ibnu khaldun kejayaan paling lama bertahan selama tiga abad tapi hal ini nampaknya tak berlaku di era moderm atau dengan revolsinya berubah menjadi post modern
Dalam tulisan singkat ini kita akan di hadapkan persoalan teori kritis karl marx , teori kritis merupakan metode baru yang lahir dari beberapa hal yang nampaknya bersumber dari faham marxisme dan beberapa determinisme yang berlaku pada saat itu , teori kritis sendiri berawal dari kegelisahan terhadap pengejawantahan marxisme yang pada awalnya memberikan jaminan penyelesaian namun mengalami kegagalan total yang berakibat runtuhnya faham marxisme , namun, kita juga tak bisa mnengelak bahwa terbentuknya asal negara rusia yang dikatakan mengimplementasikan kedalam bentuk asas negara terrnyata hanya alih alih saja dan lebih besar terhadap permainan dan keuntungan politik saja , sekuat apapun suatu teori yang dikembang namun tak ada pengakuanyang bersifat dasar pula dari manusia sendiri juga akan menimbulkan timbal balik antara keduanya
Teori kritis sendiri juga tak jauh dari hal tersebut karena ketidak puasan yang menimpa para pengamat serta masyarakat yang merasa sudah gerah dengan pakaian yang merekka kenakan serta merasa bahwa hal tersebut mengakibatkan keterasingan sendiri
Teori kritis pada marxian lebih pada determiniisme ekonomi yang juga jadi perhatian terhadap pemikir salah satunya habermas yang secara tegas mendukung marxian yang dinilai konservative dalam teori kritis ini mengklasivikasikan dalam beberapa pecahan dan pembahasan yang manuangkan teori kritisnya , bisa jadi ada saja kegamangan yang terjadi kita bisa lihat struktur pembangunan teori marxian yang yang dipandang oleh teori kritis amatlah kaku ketika dituangkan dalam bentuk realita , semula marxisme sangat menjajikan adanya tatanan sosial yang baru dalam kemanuisan yang dengan latar konflik ketidakadilan dalam pegangannya maxrxian berpedoman pada apa yang dinamakan rasionaliatas purposif (tujuan nyata) sehingga pola marx sebelum merumuskan tentang pandangannya lebih mengedepankan prospek kenyataan dilapangan apapun alasannya kita bisa amendalami secara selik meliknya maka akan kita adapati bahwa rasionalitas bukanlah sebuah jaminan kita merubah dan membangun ruang gerak baru kepada manusia belum tentu juga pula ketimpangan yang terjadi dilingkunagan sosial sendiri malah memberikan jalan penilaian akan hal tersebut . dari sinilah marx melihat dengan segala pemahamanya akan pertentangan kelasnya yan amat berpengaruh pada pilar faham marxisme bahwa memang tak akan bisa suatu bentuk pengejawantahaan rasionalitas akan bisa dengan cepat menusuk pada perubahan sejati
Teori kritis yang paling tepat ketika diajukan kepada marx itu sendri berpijak pada orientasi terhadap pemahamann marx pada perilaku kerja serta hubunganya dengan orientasi komunikatif dalam kerja
Marx tak hanya memusatkan perhatiannya pada kerja , tetapi menempatkan kerja dan kreatif yang merdeka dan kreativ sebagai basis analisis kritis kerja itu dalam berbagai epos sejarah , terutama dalam masa kapitalisme
Dalam pandangan lebih jauh lagi teori kritis juga tak tak menandai marx sebagai bahan kritik tapi juga terhadap sosiologi yang pada saat yang sama seperti yang kita ketahui bahwa dalam perannya sangat teguh dengan apa yang dinamakan fisika sosial damun dalam waktu yang sama teori kritis juga tak tak bisa mengindahkan sosiologi sebagai bahasa kritisnya, sosiologi dipandang terlalu ilmiah yakni karena menjadikanhya metode ilmiah sebagai tujuan didalam dirinya sendiri selain dari itu sosiologi dituduh menerima status quo,
aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tak serius mengkritik masyarakat ,tak berupaya merombak sruktur sosial masa kini , menururt aliran kritis sosiologi telah melepaskan kewajibannya umtuk membantu rakyat kecil yang tertindas oleh masyarakatmasa kini
Menurut anggota liran ini sosiolog lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat , walaupun sebagian besar perspektif sosiologi tidak bersalah ketika mengabaikan interaksi ini ,namun pandangan ini menjadi landasan serangan aliran kritis terhasap sosiologi , karena mengabaikan individu sisolog dianggap tak mampu mengatakan sesuatu yang bernakna tentang perubahan politik yang dapat mengarah ke sebuah masyarakat manusia yang adil
Dalam teori kritis nampaknya tak ada yang absolut bahkan yang vital sekalipun juga dapat dibantah akan kehujahannya, teori kritis bisa diarikan tindakan afirmatif yang bertujuan untuk meluruskan suatu ketidakcocokan terhadap berbagai hal diantaranya protes kaum maexian
Walaupun demikian kita juga dapat beberapa penjelasan bahwa setiap asas yang dijadikan landasan pacu serta pola fikir kita juga harus bersikap kritis karena kritis disinilah yang nantinya bisa memberikan penjelasan utuh akan suatu pola baik dan buruk , tepat ataukah tidak tepatnya peletakannya, dalam pandangan apapun yang namanya teori kritis juga harus mendapatkan tempat khusus dalam pengkajian oleh karena itu teori kritis sepatutnya mendapatkan perhatian dalam penyikapannya secara objektif
Tugas ke 4 Imas Hayati Nufus KPI 1E
Nama : Imas Hayati Nufus
Nim : 1112051000159
Kelas : KPI 1E
Karl Marx
a. Konflik Kelas
Marx sering menggunakan istilah kelas dalam tulisan-tulisannya, tetapi dia tidak pernah mendefinisikan secara sistematis apa yang di maksud dengan istilah ini. Biasanya dia menggunakannya untuk menyatakan sekelompok orang yang berada di dalam situasi yang sama dalam hubungannya dengan control mereka terhadap alat-alat produksi. Kelas, bagi Marx, selalu didefinisikan berdasarkan potensinya terhadap konflik. Individu-individu membentuk kelas sepanjang mereka berada di dalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lain tentang nilai surplus. (mendapatkan hasil lebih dari yang semestinya didapat).
Karena kelas didefinisikan sebagai sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik, maka konsep ini berbeda-beda baik secara teoritis maupun historis. Sebelum mengidentifikasi sebuah kelas, diperlukan suatu teori tentang di mana suatu konflik berpotensi terjadi dalam sebuah masyarakat. Marx mengakui bahwa konflik kelas sering disebabkan oleh bentuk-bentuk lain dari stratifikasi, seperti etnis, ras, gender, dan agama; akan tetapi, dia tidak menerima hal ini sebagai sesuatu yang utama. Richard Miller (1991:99) menyatakan bahwa "tidak ada aturan yang pada prinsipnya bisa digunakan untuk menengelompokkan orang di dalam suatu masyarakat tanpa memepelajari interaksi-interaksi yang actual di antara proses-proses ekonomi di satu sisi, dan antara proses-proses politis dan cultural di sisi lain".
Bagi Marx, sebuah kelas benar-benar eksis hanya ketika orang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas yang lain. Tanpa kesadaran ini, mereka hanya akan membentuk apa yang disebut Marx dengan suatu kelas di dalam dirinya. Ketika mereka menyadari adanya suatu konflik, maka mereka menjadi suatu kelas yang sebenarnya, yang disebut suatu kelas untuk dirnya. Ada dua kelas, yang di temukan Marx ketika ia menganalisis kapitalisme, yaitu borjuis dan proletar. Borjuis adalah mereka yang mempunyai alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan. Sementara proletar adalah orang-orang yang mendapat upah.
Pembagian yang paling penting dalam masyarakat adalah pembagian antara kelas-kelas yang berbeda; factor yang paling penting mempengaruhi gaya hidup dan kesadaran individu adalah posisi kelas; ketegangan konflik yang paling besar dalam masyarakat, tersembunyi atau terbuka, adalah yang terjadi antarkelas yang berbeda, dan salah satu sumber perbedaan social yang paling ampuh adalah yang muncul dari kemenangan satu kelas lawan kelas lainnya.
Perbedaan-perbedaan penting dalam struktur-struktur kelas antara tipe-tipe masyarakat yang berbeda atau tahap-tahap yang berbeda dalam sejarah, yang terutama disebabkan oleh perbedaan variasi dalam sumber-sumber dan alat produksi. Dorongan yang paling penting untuk perubahan-perubahan adalah ekspansi alat produksi yang dihasilkan oleh perkembangan produksi.
Bersama dengan perbedaan-perbedaan dalam hubungan kelas pelbagai tahap sejarah, ada pula perbedaan-perbedaan internal gaya hidup dan bentuk kesadaran dalam kelas-kelas utama. Meskipun bangsawan yang memiliki tanah dan kapitalis borjuis masing-masing berkuasa dalam tahap-tahap sejarahnya sendiri, ada perbedaan pokok antara kelas-kelas ini. Memang kapitalis borjuis harus terlibat dalam perjuangan revolusioner melawan kelas aristocrat untuk memperkuat dominasinya. Juga sama halnya dengan kelas proletar kota secara substansial berbeda dengan petani desa meskipun keduanya merupakan kelas yang tunduk.
Marx mejelaskan konflik kelas ini karena kelas yang tinggi atau yang memberi upah selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih, sehingga ia terus menerus menambahkan sahamnya hingga banyak. Sedangkan kelas rendah atau kelas yang di beri upah tidak menerima karena menurutnya yang kaya semakin menjadi kaya sedangkan yang miskin menjadi semakin miskin. Maka, timbullah konflik kelas ini.
b. Ideologi
Perubahan-perubahan yang penting untuk perkembangan kekuatan-kekuatan produksi tidak hanya cenderung dicegah oleh reaksi-reaksi yang sedang eksis, akan tetapi juga oleh reaksi-reaksi pendukung, institusi-institusi, dan khusunya, ide-ide umum. Ketika ide-ide umum menunjukkan fungsi ini, Marx memberi nama khusus terhadapnya, yaitu ideology.
Marx menggunakan kata ideology tersebut untuk menunjukkan bentuk ide-ide yang berhubungan. Pertama, ideology merujuk kepada ide-ide yang secara alamiah muncul setiap saat dalam setiap kapitalisme, merefleksikan realitas di dalam suatu cara yang terbalik. Untuk hal ini dia menggunakan metafora kamera obscura, yang menggunakan optic quirk untuk menunjukkan bayang-bayang nyata yang Nampak terbalik. Seperti uang.
Tipe ideology ini mulai terganggu karena didasarkan pada kontradiksi material yang mendasarinya. Nilai manusia tidak benar-benar begantung pada uang, dan kita sering menemui orang yang hidup membuktikan kontradiksi-kontradiksi itu. Faktanya, disinilah level yang sering kita jadikan dasar akan ke fase selanjutnya. Misalnya, kita sadar bahwa ekonomi bukanlah sebuah system objektif dan independen, melainkan hanya sebuah ranah politis.
Ketika gangguan-gangguan muncul dan kontradiksi-kontradiksi material mendasar terungkap, tipe kedua ideology akan muncul. Disini Marx menggunakan istilah ideology untuk merujuk kepada system-sistem aturan ide-ide yang sekali lagi berusaha menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat kapitalis.
Pada kebanyakan kasus, mereka melakukan hal ini dengan salah satu dari tiga cara berikut:
1) Mereka menghadirkan suatu system ide, system-agama, filsafat, literature, hukum- yang menjadikan kontradiksi-kontradiksi tampak koheren.
2) Mereka menjelaskan pengalaman-pengalaman tersebut yang mengungkapkan kontradiksi-kontradiksi, biasanya sebagai problem-problem personal atau keanehan-keanehan individual, atau
3) Mereka menghadirkan kontradiksi kapitalis sebagai yang benar-benar menjadi suatu kontradiksi pada hakikat manusia dan oleh karena itu satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh perubahan social.
c. Agama
Marx juga melihat bahwa agama sebagai sebuah ideology. Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat, namun sebaiknya kita simak seluruh catatannya:
Kesukaran agama-agama pada saat yang sama merupakan ekspresi dari kesukaran yang sebenarnya dan juga protes melawan kesukaran yang sebenarnya. Agama adalah napas lega makhluk yang tertindas, hatinya dunia yang tidak punya hati, spiritnya kondisi yang tanpa spirit. Agama adalah candu masyarakat.
(Marx, 1843/1970)
Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik. Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh system kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama, pada hakikatnya, melainkan menolak suatu system yang mengandung ilusi-ilusi agama.
Bentuk keagamaan ini mudah dikacaukan dan oleh karena itu selalu berkemungkinan selalu menjadi dasar suatu gerakan revolusioner. Kita juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada di garda depan dalam melawan kapitalisme (lihat; misalnya teologi pembebasan). Meskipun demikian, Marx merasa bahwa agama khususnya menjadi bentuk kedua ideology dengan menggambarkan ketidakadilan kapitalisme sebagai sebuah ujian bagi keyakinan dan mendorong perubahan revolusioner ke akhirat. Dengan cara ini, teriakan-teriakan orang-orang tertindas justru di gunakan untuk penindasan selanjutnya.
d. Moda Produksi (Mode Of Production)
Dasar atau fundamen masyarakat terletak dalam kehidupan materiilnya. Dengan bekerja manusia menghasilkan (berproduksi) untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat. Jadi, "dalam ekonomi politik kita bisa menemukan anatomi masyarakat sipil". Struktur ekonomi masyarakat merupakan "fondasi riil yang menjadi dasar pendirian bangunan yuridis dan politik, serta menjadi jawaban atas bentuk-bentuk kesadaran social yang telah ditentukan". Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, malahan, "sebaliknya eksistensi sosiallah yang menetukan kesadaran mereka".
Cara produksi dari sebuah masyarakat berupa "tenaga kerja produksi" (manusia, mesin dan teknik) dan "hubungan produksi" (perbudakan, system bagi hasil, system kerajinan tangan, bekerja upahan). Cara produksi ini membentuk 'kaki penopang' yang menyangga super struktur politik, yuridis dan ideologis masyarakat. Selama kurun waktu berlangsungnya sejarah terjadi pergantian cara berproduksi: dari model kuno, model asia, feodalistis dan borjuis. Ketika sampai pada tingkat perkembangan tertentu, tenaga produksi mulai terlibat konflik dengan hubungan produksi. Itu sebabnya maka, "dimulailah era revolusi".
Perubahan landasan ekonomi disertai dengan semacam kekacauan secara cepat atau lambat pada bangunan "bentuk yuridis, politik, relijius, artistic dan filosofis. Pendeknya bangunan ini adalah bentuk-bentuk ideology yang di dalamnya manusia memperoleh kesadaran akan konflik tersebut dan akan menekannya sampai ke ujung batas".
Ketika ia menulis tentang transisi dari kapitalisme menuju sosialisme, Marx lalu mengembangkan sebuah konsep "dialektika" transformasi social. Kapitalisme biasanya tunduk pada kontradiksi-kontradiksi ekonomi yang akhirnya menimbulkan krisis-krisis periodic.
Cara produksi dalam kehidupan material pada umumnya mendominasi perkembangan kehidupan social, politik dan intelektual. Seperti yang di jelaskan di atas, Bukan kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, namun sebaliknya, eksistensi social mereka yang menentukan kesadaran tersebut.
TEORI KRITIS MARX (M. RIDHO ANDRIANSYAH KPI 1E - TUGAS 4)
Teori kritis Teori ini berkembang melampaui batas aliran Frankfurt. Sebagian besar teori kritis ini terdiri dari kritikan-kritikan terhadap aspek-aspek kehidupan sosial dan intelektual yang tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat lebih akurat.
Kritik terhadap Teori Marxian Dimana kaum borjuis 'menekan' para kaum proletar untuk bekerja seharian dan memberikan upah yang minimum untuk mendapatkan hasil kekayaan yang berlimpah. Para kapitalisme ini berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan yang banyak namun tidak mengimbangi dengan menggaji para buruh dengan nilai yang seharusnya. Menurut Marx, bila kejadian ini terus berlangsung para buruh atau kaum proletar akan semakin merasa terdesak, memberontak dan menuntut keadilan dari para kapitalisme atau kaum borjuis.
Kritik terhadap Positivisme Kritik terhadap positivism sebagian berkaitan dengan perekonomian pada waktu itu, karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerima sebagian teori positivisme tersebut tentang peng etahuan. Ilmu fisika menjadi patokan positivisme sebagai standar kepastian dan ketepatan untuk semua disiplin ilmu. Tetapi beberapa pemikiran muncul bahwa slmu tak berada dalam posisi mendukung bentuk tindak-tindak sosial khusus apapun. Postivisme cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah, yang mengabaikan individunya sebagai aktor atau pemain, tidak memerhatikan aktifitas atau cara-cara aktifitas individu tersebut. Akibatnya, para individu atau aktor tersebut menjadi terlihat pasif. Ini dikarenakan positivisme hanya memerhatikan atau menilai alat-alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Kritik terhadap Sosiologi diserang karena 'keilmiahannya' Karena menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, yang membuat para aliran kritis berpandangan bahwa sosiologi tak akan membuat struktur sosial masa kini berubah. Anggota aliran kritis ini juga berpendapat bahwa sosiolog lebih memerhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan dibandingkan dengan individu dalam masyarakat, hingga akhirnya interaksi individu dengan masyarakat terabaikan. Karena diabaikannya interaksi individu-individu tersebut dengan masyarakat, para sosiolog pun dianggap tak mampu mengatakan sesuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang bisa mengarah ke sebuah maysarakat yang adil.
Kritik terhadap Masyarakat Modern
Sebagian besar teori Marxian awal secara tegas tertuju kebidang ekonomi, sedangkan aliran kritisnya menggeser orientasi ke tingkat cultural mengingat cultural dianggap sebagai realitas masyarakat modern. Yang artinya, pendominasian masyarakat modern yang sebelumnya di bidang ekonomi bergeser ke bidang cultural.
Kritik terhadap Kultur Ada dua hal yang paling dicemaskan oleh pemikir kritis mengenai industri kultur ini. Pertama, mereka mengkhawatirkan mengenai kepalsuannya. Kedua, teoritisi kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas, dan membius dari industri kultur terhadap rakyat. Douglas Kellner (1990) mengkritik aliran kritis karena mengabaikan analisis rinci tentang ekonomi politik media televisi, mengonseptualisasikan kultur massa sebagai sebuah instrumen ideologi kapitalis semata". ". Aliran kritis juga tertarik dan kritis terhadap apa yang disebut sebagai "industri pengetahuan", yang mengacu pada entitas-entitas yang berhubungan dengan produksi pengetahuan yang menjadi struktur otonom di dalam masyarakat. Meskipun teori kritik juga mempunyai sejumlah minat positif, tetapi ia lebih banyak memberi konstribusi yang lebih kritis ketimbang konstribusi positif.
Langganan:
Postingan (Atom)