Rabu, 10 Oktober 2012

FACHRUL RODZI PMI 3 PROPOSAL SOSIOLOGI PERKOTAAN

m,ihamni tugas proposal sosisologi perkotaan

PROPOSAL PENELITIAN TINGKAT SELF ESTEEM PADA ANAK JALANAN DI AREA SIMPANG DAGO BANDUNG

Di Susun Oleh:
Lutfi Amrullah (PMI 3)
 
PROPOSAL PENELITIAN
TINGKAT SELF ESTEEM PADA ANAK JALANAN
DI AREA SIMPANG DAGO BANDUNG
I.      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Anak jalanan, umumnya berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Mereka itu ada yang tinggal di kota setempat, di kota lain terdekat, atau di propinsi lain. Ada anak jalanan yang ibunya tinggal di kota yang berbeda dengan tempat tinggal ayahnya karena pekerjaan, menikah lagi, atau cerai. Ada anak jalan yang masih tinggal bersama keluarga, ada yang tinggal terpisah tetapi masih sering pulang ke tempat keluarga, ada yang sama sekali tak pernah tinggal bersama keluarganya atau bahkan ada anak yang tak mengenal keluarganya.
 
Dari hasil penelitian yayasan Nanda (1996 : 112) ada beberapa ciri secara umum anak jalanan antara lain : a. Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan) selama 24 jam. b. Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, serta sedikit sekali yang lulus SD). c. Berasal dari keluarga-keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban dan beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya). d. Melakukan aktifitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor informal).
 
Kehadiran anak jalanan merupakan sesuatu yang sangat dilematis. Di satu sisi mereka dapat mencari nafkah dan mendapatkan pendapatan(income) yang dapat membuatnya bertahan hidup dan menopang kehidupan keluarganya. Namun di sisi lain kadang mereka juga berbuat hal-hal yang merugikan orang lain, misalnya berkata kotor, mengganggu ketertiban jalan, merusak body mobil dengan goresan dan lain-lain. Selain itu permasalahan anak jalan juga adalah sebagai objek kekerasan. Mereka merupakan kelompok sosial yang sangat rentan  dari berbagai tindakan kekerasan baik fisik, emosi, seksual maupun kekerasan sosial.
 
Self esteem adalah gabungan dari kepercayaan atau perasaan yang kita miliki terhadap diri kita sendiri dengan kata lain persepsi kita terhadap diri kita sendiri. Bagaimana seseorang memandang dirinya mempengaruhi motivasi, sikap (attitude) dan tingkah laku (behaviour), serta mempengaruhi pengendalian emosinya. Self esteem dibangun mulai dari awal kehidupan. Sebagai contoh, bayi yang belajar berguling yang setelah lusinan kali gagal dan akhirnya berhasil, ia belajar sikap "saya bisa".
 
Ketika seorang anak mencoba sesuatu, dan kemudian gagal, coba lagi, gagal lagi dan akhirnya berhasil, ia sedang membangun ide mengenai kemampuannya sendiri. Secara bersamaan, ia menciptakan konsep diri berdasarkan hasil interaksi dengan orang-orang lain. Inilah mengapa keterlibatan orang tua merupakan kunci untuk menolong anak membentuk persepsi diri yang sehat dan akurat mengenai dirinya.
 
Self esteem dapat juga didefinisikan sebagai pandangan terhadap kemampuan diri dikombinasikan dengan perasaan bahwa diri dicintai. Seorang anak yang bahagia karena suatu pencapaian tetapi tidak merasa dicintai dapat saja memiliki self esteem yang rendah. Self esteem dapat berfluktuasi sepanjang pertumbuhan dan perkembangan anak. Seringkali berubah karena dipengaruhi pengalaman-pengalaman hidup yang dialami anak dan persepsi-persepsi baru mengenai dirinya. Oleh karenanya, anda perlu mengetahui tanda-tanda self esteem yang baik dan buruk.
 
Berdasarkan data dari Dinas Sosial Jawa Barat, kota Bandung pada tahun 2009 memiliki anak jalanan sejumlah 573 orang. Ini bukanlah jumlah yang sedikit mengingat jumlah keseluruhan anak jalanan di Jawa Barat berjumlah 6.776 orang. Banyaknya anak jalanan menjadikan suramnya kondisi kesejahteraan suatu kota, apalagi penanganan anak jalanan yang sudah dilakukan sejak tahun akhir 80-an hingga saat ini masih saja tidak ada habisnya.
 
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui betapa pentingnya self esteem pada anak. Dan kaitannya dengan anak jalanan, maka peneliti tertarik dan memilih penelitian dengan judul "Tingkat Self Esteem pada Anak Jalanan di Area Simpang Dago Bandung".
 
B.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkapkan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah self esteem anak jalanan, antara lain :
a.       Anak jalanan sulit keluar dari kebiasaan dan kehidupan di jalanan meskipun sudah banyak sekali program yang dicanangkan untuk mengentaskan anak jalanan.
b.      Mengamen menjadi penghasilan utama anak jalanan dan tidak ada usaha lain selain mengamen.
C.      Batasan Masalah
Penelitian ini adalah terbatas pada anak jalanan yang berada di lingkungan area Simpang Dago Bandung dengan tema khusus self esteem
D.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka timbul beberapa pertanyaan sebagai rumusan masalah dari penelitian ini yang antara lain sebagai berikut :
1.       Bagaimana karakteristik anak jalanan di area simpang dago?
2.       Bagaimana self esteem anak jalanan di area simpang dago?
E.       Tujuan Penelitian
Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.       Mengetahui karakteristik anak jalanan di area Simpang Dago
2.       Mengetahui self esteem anak jalanan di area Simpang Dago
F.       Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan penelitian ini bias ditinjau dari sisi kegunaan praktis dan kegunaan bidang keilmuan.
1.       Kegunaan praktis. Dapat mengetahui dan memahami karakteristik dan self esteem yang melekat pada anak jalanan sehingga memudahkan pekerja sosial dan pemerintah dalam menganalisis kebutuhan dan upaya pengentasan anak jalanan di Kota Bandung
2.       Keguanaan bidang keilmuan. Dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan bagi khasanah bidang keilmuan pekerjaan sosial terutama pada pelayanan anak jalanan berdasarkan analisis self esteem
 
II.    LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.      Deskripsi Teori
1.       Self Esteem
Self esteem adalah perasaan tentang worth/berharga dan confidence, didasarkan pada reputasi atau prestige artinya mempunyai kekuatan untuk berprestasi, for adequacy, untuk mastery dan competence, confidence, independence dan freedom. Self esteem adalah didasarkan pada kompetensi riil, tidak semata-mata pendapat orang lain. Dengan harga diri individu merasa dapat aktualisasi diri (Feist & Feist, 2002).
Self-esteem berhubungan dengan bagaimana seseorang merasakan sesuatu hal, bagaimana mereka berpikir, dan bagaimana mereka bertindak.  Meskipun global self-esteem terlihat penting dalam konteks akademik, namun self-concept pada bidang akademik telah ditemukan menjadi penaksir yang baik untuk prestasi akademik siswa (Byrne, 1996; Marsh, 1992).
Self-esteem yang tinggi ditandai dengan kepercayaan diri yang tinggi, rasa puas, memiliki tujuan yang jelas, selalu berpikir positif, mampu untuk berinteraksi sosial, solving problem yang tinggi, serta mampu menghargai diri sendiri (Robson, 1988; Maria, 2007). sedangkan self-esteem yang rendah ditandai dengan rasa takut, cemas, depresi, dan tidak percaya diri (Robson, 1988; Maria, 2007).
 
Self-esteem memiliki pandangan yang berbeda antara laki-laki dan wanita mengenai penilaian diri. Crain (dalam Respati dkk, 2006) mengemukakan bahwa laki-laki akan memiliki self-esteem lebih tinggi bila memiliki fisik yang diinginkan, sedangkan wanita lebih kearah tingkah laku ataupun bersosialisasi akan meningkatkan nilai harga diri. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa self-esteem (harga diri) merupakan gambaran yang mengenai individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, baik dari pengalaman yang dialaminya maupun pengalaman yang dipelajari dari orang lain.
 
Aspek-aspek Self Esteem
Adapun aspek-aspek yang berhubungan dengan self-esteem, menurut Brown (dalam Christia, 2007) terdapat 3 aspek, yakni :
a.       Global self-esteem merupakan variabel keseluruhan dalam diri individu secara keseluruhan dan relatif menetap dalam berbagai waktu dan situasi
b.      Self-evaluation merupakan bagaimana cara seseorang dalam mengevaluasi variabel dan atribusi yang terdapat pada diri mereka. Misalnya ada seseorang yang kurang yakin kemampuannya di sekolah, maka bisa dikatakan bahwa ia memiliki self-esteem yang rendah dalam bidang akademis, sedangkan seseorang yang berpikir bahwa dia terkenal dan cukup disukai oleh orang lain, maka bias dikatakan memiliki self-esteem sosial yang tinggi.
c.       Emotion adalah keadaan emosi sesaat terutama seseuatu yang muncul sebagai konsekuensi positif dan negatif. Hal ini terlihat ketika seseorang menyatakan bahwa pengalaman yang terjadi pada dirinya meningkatkan self-esteem atau menurunkan self-esteem mereka. Misalnya, seseorang memiliki self-esteem yang tinggi karena mendapat promosi jabatan, atau seseorang memiliki self-esteem yang rendah setelah mengalami perceraian
2.       Anak Jalanan
Dari hasil penelitian yayasan Nanda (1996 : 112) ada beberapa ciri secara umum anak jalanan antara lain : a. Berada di tempat umum (jalanan, pasar, pertokoan, tempat-tempat hiburan) selama 24 jam. b. Berpendidikan rendah (kebanyakan putus sekolah, serta sedikit sekali yang lulus SD). c. Berasal dari keluarga-keluarga tidak mampu (kebanyakan kaum urban dan beberapa diantaranya tidak jelas keluarganya). d. Melakukan aktifitas ekonomi (melakukan pekerjaan pada sektor informal).
 
Anak jalanan, umumnya berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif.
 
Mereka itu ada yang tinggal di kota setempat, di kota lain terdekat, atau di propinsi lain. Ada anak jalanan yang ibunya tinggal di kota yang berbeda dengan tempat tinggal ayahnya karena pekerjaan, menikah lagi, atau cerai. Ada anak jalan yang masih tinggal bersama keluarga, ada yang tinggal terpisah tetapi masih sering pulang ke tempat keluarga, ada yang sama sekali tak pernah tinggal bersama keluarganya atau bahkan ada anak yang tak mengenal keluarganya.

Kegiatan Anak Jalanan
Menurut M. Ishaq (2000), ada tiga ketegori kegiatan anak jalanan, yakni : (1) mencari kepuasan; (2) mengais nafkah; dan (3) tindakan asusila. Kegiatan anak jalanan itu erat kaitannya dengan tempat mereka mangkal sehari-hari, yakni di alun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan mall.
 
Faktor-faktor yang Menyebabkan Anak Menjadi Anak Jalanan
Keadaan kota mengundang maraknya anak jalanan. Kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih sayang dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, dan hidup merdeka, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa.
 
Di antara anak-anak jalanan, sebagian ada yang sering berpindah antar kota. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif.
 
Seorang anak yang terhempas dari keluarganya, lantas menjadi anak jalanan disebabkan oleh banyak hal. Penganiayaan kepada anak merupakan penyebab utama anak menjadi anak jalanan. Penganiayaan itu meliputi mental dan fisik mereka. Lain daripada itu, pada umumnya anak jalanan berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah.
 
Fenomena sosial anak jalanan terutama terlihat nyata di kota-kota besar terutama setelah dipicu krisis ekonomi di Indonesia sejak lima tahun terakhir. Departemen Sosial tahun 1998 di 12 kota besar melaporkan bahwa jumlah anak jalanan sebanyak 39.861 orang dan sekitar 48% merupakan anak-anak yang baru turun ke jalan sejak tahun 1998. Secara nasional diperkirakan terdapat sebanyak 60.000 sampai 75.000 anak jalanan. Depsos mencatat bahwa 60% anak jalanan telah putus sekolah (drop out) dan 80% masih ada hubungan dengan keluarganya, serta sebanyak 18% adalah anak jalanan perempuan yang beresiko tinggi terhadap kekerasan seksual, perkosaan, kehamilan di luar nikah dan terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) serta HIV/AIDS.
 
Umumnya anak jalanan hampir tidak mempunyai akses terhadap pelayanan pendidikan, kesehatan dan perlindungan. Keberadaan mereka cenderung ditolak oleh masyarakat dan sering mengalami penggarukan (sweeping) oleh pemerintah kota setempat.
B.      Kerangka Berpikir
Self esteem adalah salah satu modal dasar untuk pengembangan diri seseorang. Dan juga self esteem ini berperan vital terhadap pengentasan perasaan dari keadaan keterpurukan. Anak jalanan yang sudah berada di jalanan sejak lahir kemungkinan memiliki self esteem yang rendah, dan dengan self esteem yang rendah maka seseorang akan susah untuk
bangkit dari ketidakberdayaan. Maka, sejalan dengan kerangka berpikir tersebut di atas, dapat diduga bahwa terdapat hubungan positif antara self esteem dengan perilaku dan pemikiran anak jalanan.
C.      Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir yang telah disebutkan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis berikut ini : terdapat hubungan korelasi positif antara self esteem terhadap sikap dan perilaku anak jalanan.
 
III.  PROSEDUR PENELITIAN
A.      Metode
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.
B.      Populasi dan Sampel
Populasi dari penelitian ini adalah semua anak jalanan di area Simpang Dago Bandung. Serta sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah 10 anak jalanan yang berada di area Simpang Dago
C.      Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini digunakan untuk mengukur self esteem pada anak jalanan. Dan untuk mengukur tingkat self esteem, peneliti menggunakan Rossenberg Self Esteem Scale (1965) dengan tingkat reliabilitas yang cukup baik (α=0.92). Serta menggunakan bantuan angket/kuesioner skala Likert.
D.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain :
1.       Angket, yaitu dengan cara pengumpulan data dengan menyerahkan daftar pertanyaan kepada responden yang dipilih dan diambil kembali setelah dijawab oleh responden.
2.       Observasi, yaitu dengan kunjungan ke lapangan secara langsung dengan mengumpulkan data melalui wawancara
3.       Studi Dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan berbagi macam literature mengenai self esteem dan kaitannya dengan anak jalanan
E.       Teknik Analisis Data
Teknik analisis data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis data kuantitatif yang sebagian besar diolah menggunakan ilmu statistik dibantu dengan software SPSS.
 
IV. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN
A.      Organisasi Penelitian
Organisasi pelaksana penelitian ini adalah dari Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung Jurusan Rehabilitasi Sosial.
B.      Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian ini dilakukan selama tiga bulan yang dimulai dari Bulan Nopember 2010 – Januari 2010
 
V.   SOLUSI PROBLEM ANAK JALANAN

Akar persoalan anak jalanan adalah kemiskinan sehingga penanganan dari masalah sosial ini harus berawal dari kemiskinan itu sendiri yang menyebabkan mereka turun ke jalan.
 
"Seandainya ada undang-undang yang melarang anak turun ke jalan itu malah bentuk kriminalisasi. Jadi pendekatan yang mesti dijalankan dalam menangani anak jalanan bukan dengan razia dubur, tapi mengatasi kemiskinan mereka,"
 
Menurut dia, hal terpenting terhadap penanganan anak jalanan adalah memikirkan pemenuhan jaminan kebutuhannya untuk membebaskan mereka dari kemiskinan sehingga tidak turun ke jalan. "Bisa dengan cara memberikan tempat tinggal, fasilitas belajar atau sarana usaha,".
 
Dia juga mengatakan, dalam konteks eksploitasi anak jalanan ini banyak modus. Pelakunya malah terkadang orangtuanya sendiri. Sebab itu, orangtua juga harus menjadi salah satu pusat perhatian, selain pihak-pihak lain yang mengorganisir mereka di jalanan.
 
Menurut dia, tindakan razia dubur yang tidak etis ini kurang efektif untuk mencegah anak-anak jalanan dari pelaku sodomi. "Masa mencegah kejahatan dengan cara seperti itu. Akan lebih efektif pantau dan mencari para pengorganisir anak jalanan, tujuan dan motivasinya untuk apa, bukan anaknya yang dijadikan target,".

Selasa, 09 Oktober 2012

”Dampak Seven Eleven bagi Warung-warung kopi dan PKL”

Nama : Ahmad Munsorif
Kelas : PMI 3
Tugas : Proposal penelitian sosiologi perkotaan.
 "Dampak Seven Eleven bagi Warung-warung kopi dan PKL"
 1.      Latar Belakang
Perekonomian Indonesia semakin berkembang di era globalisasi ini. Dalam krisis dunia pun Indonesia dikatakan masih bisa bertahan, karena adanya ukm-ukm yang masih berjalan dengan baik. Dalam dunia ekonomi UKM merupakan usaha indepenpen atau non formal, jadi adanya krisis dunia itu tidak berdampak terhadap Indonesia. Ukuran krisis dunia adalah perhitungan ekonomi pemerintah.
Oleh sebab itu, UKM di Indonesia sangatlah urgen dalam roda perekonomian Indonesia. PKL, warung-warung kopi merupakn sebagian daripada UKM, mereka membantu Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi dunia yang melanda Indonesia.

PERJUANGAN PEDAGANG KAKI LIMA PASAR SERPONG DALAM MENGHADAPI PETUGAS KETERTIBAN


PROPOSAL
PERJUANGAN PEDAGANG KAKI LIMA PASAR SERPONG  DALAM MENGHADAPI PETUGAS KETERTIBAN

 Nur halimah (111105400005) Kaki Lima

 BAB I
PENDAHULIAN
A.    Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa pasar adalah sentral dari perekonomian di Indonesia, semua kegiatan ekonomi banyak dilakukan di pasar. Dalam kondisi saat ini pula pasar menjadi  salah satu tempat yang dicari orang untuk mencari nafkah. Namun kegiatan ekonomi di pasar tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan utama pasar, yaitu menciptakan suasana yang aman serta nyaman dalam proses jual beli, sehingga proses jual beli yang di lakukan sesuai dengan peraturan negara ataupun agama. Tidak hanya itu diharapkan antara penjual dan pembeli merasa nyaman dengan  tempat dan kondisi ketika melakukan trasaksi jual beli.

tugas 5 rahmat agung aditya kpi1E


PEMIKIRIAN MAX WEBER TENTANG TINDAKAN SOSIAL DAN RASIONALITAS
A.RASIONALITAS
Dalam filsafat , rasionalitas pelaksanaan alasan. Ini adalah cara di mana orang menarik kesimpulan ketika mempertimbangkan hal-hal yang sengaja. Hal ini juga mengacu pada kesesuaian keyakinan seseorang dengan seseorang alasan untuk keyakinan, atau dengan tindakan seseorang dengan seseorang alasan untuk tindakan. Namun, "rasionalitas" istilah cenderung digunakan dalam diskusi khusus ekonomi , sosiologi , psikologi dan ilmu politik . Sebuah keputusan yang rasional adalah salah satu yang tidak hanya beralasan, tetapi juga optimal untuk mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan masalah. "Rasionalitas" digunakan berbeda di berbagai disiplin ilmu..

TOR demografi_Nurul Vivi Aryanti Pulungan_tugas ke -5

TOR (Term of Reference)
Praktik lapangan demografi
Nurul Vivi Aryanti Pulungan
(1110054000007)
Tugas ke-5
A.    PENDAHULUAN
Fertilitas sebagai istilah demografi di artikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak.
Natalis mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran padaperubahan penduduk sedangkan natalis mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia.
Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu factor penambah jumlah  penduduk di samping migrasi masuk. Kelahiran bayi membawa konsekuensi pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang bayi tersebut, termasuk pemenuhan gizi dan cukup kalori dan perawatan kesehatan. Pada giliran nya bayi ini akan tumbuh menjadi anak usia sekolah yang menuntut pendidikan, lalu masuk angkatan kerja dan menuntut pekerjaan. Bayi perempuan akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan perempuan usia subur yang akan menikah dan melahirkan bayi.

TOR_resa purnama_tugas ke 5

                Nama    : Resa Purnama
                NIM       : 1110054000039
                Jurusan : Pengembangan Masyarakat Islam
                                                                                TOR (Term Of Refrence)
I.                    Latar Belakang  
Kata Demografi berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'Demos' adalah rakyat atau penduduk dan 'Grafein' adalah menulis. Jadi Demografi adalah tulisan atau karangan mengenai penduduk. Istilah ini pertama kali dipakai untuk pertama kalinya oleh Achille Guilard dalam karangannya yang berjudul 'Elements de Statistique Humaine on Demographic Compares' pada tahun 1885.
      Demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah. Stuktur penduduk meliputi jumlah, persebaran dan komposisi penduduk. Stuktur ini berubah-ubah yang disebabkan oleh proses demografi yaitu kelahiran, kematian dan migarsi. Ketiga faktor ini disebut dengan komponen pertumbuhan penduduk. Selain ketiga faktor tersebut struktur penduduk ditentukan juga oleh faktor yang lain misal perkawinan, perceraian. Perubahan stuktur yaitu perubahan dalam jumlah maupun komposisi akan memberikan pengaruh sosial, ekonomi dan politis terhadap penduduk yang tinggal disuatu wilayah. Namun, dalam ukuran dasar demografi pada hal ini saya hanya akan melakukan pendataan penduduk yang migrasi di Desa Garut.

PROPOSAL PENELITIAN TINGKAT SELF ESTEEM PADA ANAK JALANAN DI AREA SIMPANG DAGO BANDUNG


PROPOSAL PENELITIAN
TINGKAT SELF ESTEEM PADA ANAK JALANAN
DI AREA SIMPANG DAGO BANDUNG

Nama: Lutfi Amrullah
Kelas/Jurusan: Pmi 3
TUGAS


I.      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Anak jalanan, umumnya berasal dari keluarga yang pekerjaannya berat dan ekonominya lemah. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Mereka itu ada yang tinggal di kota setempat, di kota lain terdekat, atau di propinsi lain. Ada anak jalanan yang ibunya tinggal di kota yang berbeda dengan tempat tinggal ayahnya karena pekerjaan, menikah lagi, atau cerai. Ada anak jalan yang masih tinggal bersama keluarga, ada yang tinggal terpisah tetapi masih sering pulang ke tempat keluarga, ada yang sama sekali tak pernah tinggal bersama keluarganya atau bahkan ada anak yang tak mengenal keluarganya.

Proposal Sosiologi Perkotaan_Fachrul Rodzi

.
 PENDAHULUAN    Fachrul rodzi 1111054000004 pmi3
Permintaan perumahan dan permukiman berkaitan dengan dinamika kependudukan dan
rumah tangga yang mencakup pertumbuhan,persebaran, mobilitas penduduk dan
perkembangan rumah tangga. Aspek kependudukan memang menjadi dasar
perumusan segala kebijakan pembangunan dan juga menjadi objek pembangunan. Perumahan
dan permukiman juga menghadapi juga permasalahan dinamika penduduk. Ada dua hal
yang patut dicatat dalam kaitan antara perumahan dengan kependudukan. Pertama,
perkembangan penduduk perkotaan melebihilaju pertumbuhan penduduk tingkat nasional dan
pertumbuhan penduduk perkotaan tidak merata,ada daerah yang pertumbuhan penduduk kotanya
sangat tinggi, tetapi ada juga bagian kawasankota penduduknya mengalami penurunan.
Kedua, ternyata laju pertumbuhan rumah tangga lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan
enduduk, antara lain jumlah penduduk perrumah tangga makin mengecil. Di pihak lain
perumahan dan permukiman dapat menjadi instrumen untuk mencapai suatu tujuan dari pembangunan wilayah atau kota, dapat pula menjadi tujuan pembangunan itu sendiri.

PENGEMIS YANG TERORGANISIR_Iis Sudiyanti

NAMA : IIS SUDIYANTI
PMI-3
TUGAS PROPOSAL-SOSPER


PENGEMIS YANG TERORGANISIR
1.Latar belakang Masalah
Faktor kemiskinan (struktural, kultural, natural, dan mental) sangat memengaruhi terjadinya perilaku seseorang yang ujungnya adalah munculnya fenomena peminta-minta atau pengemis. Semakin banyak jumlah orang miskin semakin potensial mereka menjadi pengemis. Dalam bahasa pembangunan terjadinya kebergantungan ekonomi pada orang lain yang semakin tinggi. Secara lebih rinci, dalam prakteknya ada lima jenis pengemis yang disebabkan karena keterbatasan aset dan sumber ekonomi, rendahnya mutu mental seperti rasa malu dan spirit mandiri yang kurang.
Pertama, mengemis karena mereka tidak berdaya sama sekali dalam segi materi, karena  cact fisik, kurangnya pendidikan, tidak punya rumah tetap atau gelandangan, dan orang lanjut usia miskin yang sudah tidak punya saudara sama sekali. Mengemis menjadi bentuk keterpaksaan.

IIS SUDIYANTI PMI3_TUGAS PROPOSAL SOSIOLOGI PERKOTAAN


PENGEMIS YANG TERORGANISIR
NAMA : IIS SUDIYANTI (1111000006) PMI3
tugas proposal Sosiologi Perkotaan


1.Latar belakang Masalah
Faktor kemiskinan (struktural, kultural, natural, dan mental) sangat memengaruhi terjadinya perilaku seseorang yang ujungnya adalah munculnya fenomena peminta-minta atau pengemis. Semakin banyak jumlah orang miskin semakin potensial mereka menjadi pengemis. Dalam bahasa pembangunan terjadinya kebergantungan ekonomi pada orang lain yang semakin tinggi. Secara lebih rinci, dalam prakteknya ada lima jenis pengemis yang disebabkan karena keterbatasan aset dan sumber ekonomi, rendahnya mutu mental seperti rasa malu dan spirit mandiri yang kurang.

Pemukiman dan Kependudukan_Ahmad Afandi


Pemukiman dan Kependudukan

AHMAD AFANDI  1111054000007
PMI 3
TUGAS PROPOSAL SOSPER

 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua, yaitu:
1.      Orang yang tinggal di daerah tersebut
2.      Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.
Sensus penduduk (cacah jiwa) adalah pengumpulan, pengolahan, penyajian dan penyebarluasan data kependudukan. Jumlah penduduk ditentukan oleh :
·         Angka kelahiran;
·         Angka kematian;
·         Perpindahan penduduk, yang meliputi :

TOR (Term Of Reference)_Mia Maisyatur R (1110054000022)_Tugas ke 5

Judul                  : TOR (Term Of Reference)
Nama               : Mia Maisyatur R (1110054000022)
Tugas               : 5
1.        LATAR BELAKANG
Migrasi merupakan salah satu dari ketiga factor dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk selain factor kelahiran dan kematian. Untuk lebih jelas pengertian migrasi adalah perpindahan suatu penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain yang melampaui batas politik/Negara ataupun batas administrative/batas bagian dalam suatu Negara. Jadi migrasi sering diartikan sebagai perpindahan yang relative permanen dari suatu daerah kedaerah lain.
Pada dasarnya ada dua pengelompokkan factor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi, diantara factor tersebuut adalah:
·                     Factor pendorong, diantaranya:
-          Semakin berkurangnya sumber alam
-          Menyempitnya lapangan kerja di tempat asal diakibatkan masuknya teknologi
-          Adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku dll
-          Ketidak cocokan adat/budaya/kepercayaan
-          Alas an pekerjaan atau perkawinan yang menyebabkan tidak bias mengembangkan karir pribadi
-          Bencana alam
·               

muhammad arif fathurrahman kpi 1E tugas ke 5

Pemikiran Max Weber tentang Tindakan Sosial dan Rasionalitas

A.      Tindakan Sosial
Weber berpendapat bahwa studi kehidupan sosial yang mempelajari pranata dan struktur sosial dari luar saja, seakan-akan tidak ada inside-story, dan karena itu mengesampingkan pengarahan diri oleh individu, tidak menjangkau unsur utama dan pokok dari kehidupan sosial itu. Sosiologi sendiri  haruslah berusaha menjelaskan dan menerangkan kelakuan manusia dengan menyelami dan memahami seluruh arti sistem subyektif. Weber membuat klasifikasi mengenai perilaku sosial atau tindakan sosial menjadi 4 yaitu :
1.      Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara cara dan tujuan. Contohnya Bekerja Keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup.
2.      Kelakuan yang berorientasi kepada nilai. Berkaitan dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat, nilai disini seperti keindahan, kemerdekaan, persaudaraan, dll. misalnya ketika kita melihat warga suatu negara yang berasal dari berbagai kalangan berbaur bersama tanpa membeda-bedakan.
3.      Kelakuan yang menerima orientasi dari perasaan atau emosi atau Afektif . contohnya seperti orang yang melampiaskan nafsu mereka.
4.  Kelakuan Tradisional bisa dikatakan sebagai Tindakan  yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional. Contohnya Berbagai macam upacara/tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan kebudayaan leluhur.
B.   Rasionalitas
Di tahun-tahun terakhir makin banyak muncul  kesadaran bahwa rasionalisasi berada di jantung sosiologi substantif weber. Namun, sulit memperoleh definisi yang jelas tentang rasionalisasi dari karya weber. Sebaliknya, ia membahasnya menggunakan sejumlah definisi, dan sering kali ia menjelaskan definisi mana yang tengah ia gunakan dalam diskusi tertentu. Tipe–tipe rasionalitas menurut weber adalah: tipe pertama adalah rasionalis praktis, tipe rasionalitas ini muncul seiring dengan longgarnya ikatan magi primitif, dan dia terdapat dan dia terdapat dalam setiap peradaban dan melintasi sejarah. Tipe rasionalitas ini berlawanan dengan segala hal yang mengancam akan melampui rutinitas sehari-hari. Dia mendorong orang untuk tidak percaya pada seluruh nilai yang tidak praktis, religius atau utopia sekuler, maupun rasionalitas teoritis kaum intelektual.
Tipe kedua adalah rasionalitas teoritis meilbatkan upaya kognitif untuk menguasai realitas melalui konsep-konsep yang makin abstrak dan bukannya melalui tindakan. Tipe rasionalitas ini mulai dijalankan pada awal sejarah oleh tukang sihir dan pendeta ritual dan selanjutnya oleh filsuf, hakim dan ilmuwan. Tidak seperti rasionalitas praktis, rasionalitis teoritis menggiring aktor untuk mengatasi realitas sehari-hari dalam upayanya memahami dunia sebagai kosmos yang mengandung makna. Efek rasionalitas intelektual pada tindakan sangat terbatas. Di dalamnya berlangsung proseskognitif, tidak memengaruhi tindakan yang akan diambil, dan secara tidak langsung hanya mengandung potensi untuk memperkenalkan pola-pola baru tindakan.
             Tipe ketiga adalah Rasionalitas substantif (seperti rasionalitas praktis, namun tidak seperti rasionalitas teoritis) secara langsung menyusun tindakan-tindakan ke dalam sejumlah pola melalui kluster-kluster nilai. Rasionalitas substantif melibatkan pemilihan sarana untuk mencapai tujuan dalam konteks sistem nilai. Suatu sistem nilai (secara substantif) tidak lebih rasional daripada sistem lainnya. Jadi, tipe rasionalitas ini juga bersifat lintas peradaban dan lintas sejarah, selama ada postulat nilai yang konsisten.

Cari Blog Ini