Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Selasa, 14 Mei 2013
pencemaran lingkungan akibat ulah manusia_Nurul Vivi
Dampak Penambangan Pasir Laut Meluas_Viqih Akbar_PMI 6
Mia Maisyatur R_pencemaran didaerah pesisir pantai Indramayu
Pencemaran Limbah Padat, Cair dan Gas_Muhammad Iqbal_PMI6
tugas pencemaran lingkungan masyarakat_umu salamah_pencemaran lingkungan pada limbah rumah tangga
Nama : Umu Salamah (1110054000016)
Tema : Penceramaran Lingkungan Pada Limbah Rumah Tangga
BAB I
PENDAHULUAN
Kehidupan masyarakat yang semakin modern dan produktif mendorong timbulnya limbah tidak terelakkan lagi. Tindakan pabrik-pabrik yang seenaknya membuang hasil limbahnya ke sungai juga semakin memperparah keadaan, ditambah lagi warga juga berbondong buang sampah ke sungai yang semua itu merupakan limbah. Pengelolaan limbah di Indonesia yang masih buruk semakin memperbesar resiko pencemaran dan polusi di negara kita ini, kita berharap pemerintah dan masyarakat mampu menangani masalah yang semakin hari semakin memprihatinkan. Limbah adalah sisa hasil produksi/ usaha aktivitas manusia yang tidak bermanfaat dan tidak bernilai ekonomi serta dapat mencemari lingkungan/ menimbulkan dampak negative.[1]
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri. Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik hangat di berbagai media masa, misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk yang tinggal di sekitar teluk tersebut.
|
Senin, 13 Mei 2013
Annisa fathonah _ limbah sampah plastik dan daur ulang
Globalisasi dan Realitas Media_Nurul Rizki Salam_109051000154_Tugas 9
Globalisasi dan Realitas Media / Nur Oktaviani_Tugas 9
Tugas 8; Media Sosial (social Media) dll (Struktur, Sistem, dan Dampak) / Nur Oktaviani (109051000126)
- Kesederhanaan
- Membangun Hubungan
- Jangkauan Global
- Terukur
- Memperluas pergaulan, karena mudah berinteraksi dengan orang-orang dari seluruh dunia.
- Dapat digunakan sebagai media promosi yang efektif dalam bisnis.
- Penyebaran informasi dapat dimaksimalkan.
- Dapat menyebabkan kecanduan situs media sosial, hal ini membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Akibat tindak mengisolasikan diri ini adalah dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respon kekebalan, level hormon tidak stabil dan merusak performa mental.
- Seseorang yang menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar computer cenderung jarang berolahraga sehingga dapat mengakibatkan kondisi fisik yang menurun, bahkan obesitas.
- Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, seseorang dapat mengalami cedera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi, pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer.
- Media elektronik, seperti komputer, laptop, atau handphone (ponsel) juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. Maksudnya adalah seseorang akan mengalami pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari-nya menyebabkan jumlah orang yang tidak dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting, menjadi semakin meningkat setiap harinya.
Globalisasi dan dampak komunikasi massa_sutrisno sugiyono_109051000171_tugas 10
I . Pendahuluan
Globalisasi dan Dampak komunikasi Massa
Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakanGlobalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.
Efek atau Dampak Komunikasi Massa
McLuhans menyatakan bahwa media adalah perluasan dari alat indra manusia, telepon merupakan perpanjangan telinga dan televise merupakan perpanjangan mata, berikut ini dampak atau efek komunikasi massa menurut Steven H. Chaffee.
a. Dampak Ekonomis
Kehadiran surat kabar berarti mempengaruhi kegiatan ekonomis,terutama industry media massa. Sebab, di dalamnya terdapat kegiatan pabrik, menyuplai Koran, menyuburkan pengusaha percetakan dan grafika, mendatangkan lapangan pekerjaan bagi wartawan, desain grafis, pengedar atau pengecer, pencari iklan, dan sebagainya
b. Dampak Sosial
Dampak sosial ini berkenaan dengan perubahan struktur atau interaksi sosial akibat kehadiran media massa. Kehadiran televise dapat meningkatkan status sosial pemiliknya. Di pedesaan, televise telah membentuk jaringan – jaringan interaksi sosial baru. Sekarang, pemilik televise di pedesaan menjadi jaringan sosial yang dapat menghimpun tetangga atau masayarakat sekitar .
c. Dampak Pada Penjadwalan Kegiatan
Berdasarkan hasil penelitian Rusdi Muchtar ( tahun 1979 ) di Sulawesi utara, bahwa sebelum adanya TV, orang biasanya tidur sekitar pukul 20.00 dan bangun pagi karna harus berangkat kerja di tempat yang jau. Setelah adanya TV, banyak di anatara mereka, terutama muda – mudi menonton TV sampai larut malam sehingga telah mengubah kebiasaan mereka. Orang tua mereka mengeluh karna anak – anak mereka lebih malas dan lebih sukar belajar atau berangkat ke sekolah pada waktu dini. Demikian pula mereka tidak dapat bekerja seperti dulu lagi ketika TV belum masuk
( dengan siaran 10 sampai 11 jam sehari ). Mereka berangkat ke lading cenderung lebih siang dan pulang cepat. Televisi telah mengubah kegiatan penduduk desa
d. Dampak pada Penyaluran atau Penghilangan Perasaan Tertentu
Dampak atau efek media massa terhadap pengalihan kegiatan masyarakat meliputi berbagai aktivitas. Misalnya, surat kabar sore dapat menyebabkan pelanggan menyisihkan waktu membaca Koran pada sore hari, adanya siaran langsung sepak bola dari stasiun televise pada waktu dini hari
sebelumnya, dini hari merupakan waktu yang digunakan untuk beristirahat atau tidur
e. Dampak pada Perasaan Orang Terhadap Media
Tidak jarang media massa di gunakan orang untuk menghilangkan perasaan tertentu pada dirinya, seperti marah, kritik, kekecewaan, dan sebagainya. Contoh , akibat tidak kepuasan pemberitaan, seseorang seseorang menyampaikan ketidak puasanya melalui surat pembaca, atau seorang gadis yang kesepian, memutar radio tanpa mempersoalkan progam yang di siarkan, atau orang yang sedang marah masuk ke gedung bioskop hanya sekedar untuk menenangkan kembali perasaanya
II . Metodologi Studi
Dalam penulisan Resume ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis mencari dan mendapatkan sumber informasi dari buku-buku yang membahas mengenai teori-teori sosiologi. Sepert buku (Teori Sosiologi Modrn: Edisi keenam) (George Ritzer dan Doulglas J. Goodman) dan mencari sumber di wikipedia dan google.
III . Analisis
Globalisasi dapat dianalisa secara cultural, ekonomi, politik, dan atau institusional. Dalam masing-masing kasus, perbedaan kuncinya adalah apakah seseorang melihat meningkatnya homegenitas atau heterogenitas. Pada titik eksterm, globalisasi kultur dapat dilihat sebagai ekspansi transnasional dari kode dan praktik bersama (homogenitas), atau sebagai proses di mana banyak input kultur local dan global saling berinteraksi untuk menciptakan semacam perpaduan yang mengarah ke pencangkokan kultur (heterogenitas). Trend menuju homogenitas seringkali diasosiasikan dengan imprealisme kultur atau dengan kata lain, bertambahnya pengaruh internasional terhadap kultur tertentu. Ada banyak variasi imprealisme kultur termasuk yang menekankan peran yang dimainkan oleh kultur Amerika (kuisel, 1993; Ritzer, 1995, 2000a). Barat (Giddens, 1990) atau Negara-negara pusat (Hannerz, 1990). Robertson (1992), meskipun dia tak menggunakan istilah imprealisme cultural, menetang ide tersebut melalui konsepnya yang sangat terkenal, glocalization, dimana dunia global dilihat berinteraksi dengan dunia local untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda yakn glocal.
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi
http://sepherd21.blogspot.com/2012/09/efek-atau-dampak-komunikasi-massa.html
George Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern Edisi Ke Enam, Prenada Media Group
Teori kritis (pendekatan konteks kepentingan)_sutrisno sugiyono_109051000171_tugas 4
I . Pendahuluan
Teori Kritis
Teori kritis adalah produk sekelompok neo-marxis jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian (Berntein, 1995; Kellner, 1993; untuk tinjauan yang lebih luas terhadap teori kritis, lihat Agger, 1998), terutama kecenderungannya menuju determinime ekonomi. The Institute of social Research, organisasi yang berkaitan dengan teori kritis ini resmi didirikan di frankfrut, jerman, 23 februari 1923, meski jumlah anggotanya telah aktif sebelum oganisasi itu didirikan (Wiggershaus, 1994). Teori kritis ini telah berkembang melampaui batas aliran frankfrut (Calhoun dan karaganis, 2001;telos, 1989-90). Teori kritis berasal dari dan sebagian besar berorientasi ke pemikir Eropa, meski pengaruhnya tumbuh dalam sosiologi Amerika (Marcus, 1999; van den Berg, 1980).
Kelompok teori krtis dan interpretative. Mengacu pada pandangan sendjaja (2002:1.25), bahwa kelompok teori ini gagasan-gagasanya bayak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretative, pemikiran max Weber, phenomenology dan hermeneutics, Marxisme dan aliran frankfrut school serta berbagai pendekatan tekstual, seperti teori-teori retorika, biblical, dan kesusastraan. Pendekatan kelompok teori ini terutama sekali popular di Negara-negara eropa. Teori-teori kritis dan interpretative ini kemudian melahirkan teori dan pendekatan baru dalam komunikasi seperti sosiologi komunikasi, hokum komunikasi dan hokum media, komunikasi antar budaya, komunikasi politik, omunikasi organisasi, komunikasi public, public relation, dan sebagainya. Meskipun ada beberapa perbedaan di antara-antara teori-teori yang termasuk dalam kelompok ini, namun terdapat dua karakteristik umum. Pertama, penekanan terhadap peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Kedua, makna atau meaning merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered atau dasar pemahaman makna. Dengan memahami makna dari suatu pengalaman seseorang menjadi sadar akan kehidupan dirinya. Dalam hal ini bahasa menjadi konsep sentral karena bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia. Disamping persamaan umum, juga terdapat perbedaan yang mendasar antara teori-teori interpretative dan teori-teori kritis dalam hal pendekatannya. Pendekatan teori interpretative cenderung menghindarkan sifat-sifat prespektif dan keputusan-keputusan absolute tentang fenomena yang diamati. Pengamatan menurut teori interpretative, hanyalah sesuatu yang bersifat tertatif dan relative. Sementara teori-teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan absolute, perspektif, dan juga politis sifatnya.
II . Metode Studi
Dalam penulisan Resume ini, penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam pengerjaannya, penulis mencari dan mendapatkan sumber informasi dari buku-buku yang membahas mengenai teori-teori sosiologi dan buku yang berkaitan dengan sosiologi.. Seperti buku teori sosiologi modern (George Ritzer-Douglas J. Godman). Sosiologi komunikasi: teori, paradigama, dan diskursus teknologi komunikasi masyarakat (Burhan Bungin).
III . Analisis
Teori Kritis merupakan salah suatu perspektif teoritis yang bersumber pada berbagai pemikiran yang berbeda seperti pemikiran Aristoteles, Foucault, Gadamer, Hegel, Marx, Kant, Wittgenstein dan pemikiran-pemikiran lain. Pemikiran-pemikiran berbeda tersebut disatukan oleh sebuah orientasi atau semangat teoretis yang sama, yakni semangat untuk melakukan emansipasi.
Tujuan teori kritis adalah menghilangkan berbagai bentuk dominasi dan mendorong kebebasan, keadilan dan persamaan. Teori ini menggunakan metode reflektif dengan cara mengkritik secara terus menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomi yang ada, yang cenderung tidak kondusif bagi pencapaian kebebasan, keadilan, dan persamaan.
Ciri khas Teori Kritis tidak lain ialah bahwa teori ini tidak sama dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Singkatnya, pendekatan teori ini tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni. Pada titik tertentu, ia memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris.Selain itu, tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah.
Pada dasarnya, esensi Teori Kritis adalah konstruktivisme, yaitu memahami keberadaan struktur-stuktur sosial dan politik sebagai bagian atau produk dari intersubyektivitas dan pengetahuan secara alamiah memiliki karakter politis, terkait dengan kehidupan sosial dan politik. Sifat politis pengetahuan ini berkembang dari atau dipengaruhi oleh tiga pemikiran yang berbeda
- Pertama, pemikiran Kant mengenai keterbatasan pengetahuan, yaitu bahwa manusia tidak dapat memahami dunia secara keseluruhan melainkan hanya sebagian saja (parsial).
- Kedua, pemikiran Hegel dan Marx bahwa teori dan pembentukan teori tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Ilmuwan harus melakukan refleksi terhadap teori atau proses pembentukan teori tersebut.
- Ketiga, pemikiran Horkheimer yang membedakan teori ke dalam dua kategori, yakni tradisional dan kritis. Teori tradisional menganggap adanya pemisahan antara teoretisi dan obyek kajiannya. Artinya, teori tradisional berangkat dari asumsi mengenai keberadaan realitas yang berada di luar pengamat, sementara teori kritis menolak asumsi pemisahan antara subyek-obyek dan berargumen bahwa teori selalu memiliki dan melayani tujuan atau fungsi tertentu.
Daftar Pustaka
Burhan Bungin, (Sosiologi Komunikasi: Teori Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi Masyarakat) teori sosiologi modern (George Ritzer-Douglas J. Godman). http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_kritis
Teori idealis (pendekatan isi/konten)_sutrisno sugiyono_109051000171_tugas 3
I. Pendahuluan
Teori Idealis Teori Idealis atau dalam bahasa latinya Idealis Utopian/Liberalis Utopian memiliki dasar-dasar legalistic dan moralistic, hal ini dikarenakan paham yang mereka kemukakan mengenai Manusia itu cinta damai. Pasca perang tepatnya tahun 1920-an, teori idealis berpendapat mengenai Peperangan yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan penyebab kecelakaan, pertumpahan darah dan dosa. Mengapa peperangan dapat terjadi? apa yang melatarbelakangi kejadian tersebut? Paham idealis menyatakan bahwasanya peperangan terjadi dikarenakan tidak adanya organisasi anti peperangan atau pencegah peperangan. Akhirnya muncullah metode dari paham idealis seputar bagaimana menghindari peperanagan dengan membuat organisasi perdamaiann dan peredam peperangan, yaitu dengan cara menjadikan system internasional dan struktur-struktur demokrasi sebagai peredam dan pencegahan terjadinya peperangan. Dari observasi panjang tadi, dibentuklah Liga Bangsa-bangsa (LBB) yang disetujui oleh Presiden Woodrow Wilson dilanjutkan dengan diadakanya sebuah konferensi pada Konferensi Perdamaian di Paris tahun 1919. Dalam konferensi tersebut Presiden Wilson menyatakan keinginanya dengan meminta diakhirinya diplomasi rahasia dengan kesepakatan secara luas, kebebasan bernavigasi di lautan lepas, penghapusan hambatan-hambatan perdagangan bebas dan dikuranginya persenjataan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Paham idealis malah menjadi surut oleh pengaruh dan invasi kelompok Nazi dan Fasis yang bersifat otoriter, munculnya perang dunia 2 sebagai symbol ketidakpuasan akan paham idealis dan juga meredupnya LBB pada tahun 1930. Disisi lain, Para pengurus LBB dianggap tidak serius dalam mengurus lembaga tersebut ditambah lagi dengan tidak diterimanya Amerika Serikat sebagai anggota LBB atas penolakan para senat LBB. Dipertengahan masa kaum idealis pula merupakan tahun permulaan munculnya Ilmu Hubungan internasional dengan kesepakatan para ahli kajian ilmu tersebut yang diresmikan Presiden Woodrow Wilson Chair di Abberystwyth (sekarang Universitas Wales) pada tahun 1918. Setelah peresmian tersebut muncul juga Universitas yang khusus untuk mengkaji ilmu tersebut di 'Graduate Institute of Internasional & Development Studies diikuti lagi dengan munculnya kajian ilmu Hubungan internasional di Amerika Serikat dan di Jenewa, Swiss. Teori Realis Teori Realis muncul dan berkembang setelah runtuhnya teori idealis oleh Nazi dan Fasis. Teori ini memulai gerakan dengan melakukan ekspansi ke beberapa Negara. Dalam hal ini ilmu Hubungan Interrnasional memiliki suatu tujuan yang dirancang untuk memiliki semangat perjuangan untuk Authority kekuasaan. Adapun pandangan Kaum Realis dalam melihat Negara dalam Hubungan Internasional; Negara selalu mempunyai kepentingan yang berbenturan, perbedaan kepentingan itu menimbulkan suatu konflik, power itu memengaruhi penyelesaian konflik, Politik sebagai media perluasan, pertahanan dan identitas power, anjuran kepada Negara untuk membangun kekuatan untuk membangun aliansi dengan Negara lain dan perdamaian akan tercapai jika terwujud 'Balance of Power' atau keseimbangan kekuatan. Setelah 2 konflik teori tersebut muncul juga perdebatan yang tidak kalah dahsyatnya pada tahun 1960, 1970 dan 1980 yang berkelanjutan dengan perdebatan mengenai Explaining & Understanding, Positivism & Post Positivism dan Rationalism & Reflectivism.
pengertian Idealisme :
- Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu penjelmaan pikiran.
- Untuk menyatakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran.
- Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
- Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk fisik tidak ada.
- Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. dunia eksternal tidak bersifat fisik.
II. Metode Studi
Dalam penulisan Resume ini, penulis menggunakan metode studi Pustaka dan google. Dalam pengerjaannya, penulis mencari dan mendapatkan sumber informasi dari google yang membahas mengenai teori-teori idealis.
III. Analisis
Pandangan beberapa filsuf mengenai Idealisme.
1. Schelling memberikan nama Idealisme subyektif pada filsafat Fichte, dengan alasan bahwa dalam Fichte dunia merupakan postulat subyek yang memutuskan.
2. Idealisme obyektif adalah nama yang diberikan oleh Schelling pada pemikiran filsafatnya. Menurutnya, alam adalah inteligensi yang kelihatan. Hal tersebut menunjukkan semua filsafat yang mengindentikkan realitas dengan ide, akal atau roh.
3. Hegel menerima klasifikasi Schelling, dan mengubahnya menjadi idealisme absolut sebagai sintesis dari pandangan idealisme subyektif (tesis) dan obyektif (antitesis).
4. Idealismetransendental adalah pandangan dan penyebutan dari Immanuel Kant. Sering disebut juga disebut sebagai idealisme kritis. Pandangan ini mempunyai alternatif yaitu isi dari pengalaman langsung tidak dianggap sebagai benda dalam dirinya sendiri, sedangkan ruang dan waktu merupakan forma intuisi kita sendiri
Daftar Sumber
Bahan : Dari : Kamus Filsafat , L. Bagus
http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=8035