Sabtu, 12 Oktober 2013

Muhammad Imron Tugas5_ Marxisme dan Teori Kritis

Tugas ke-5

DETERMINISME EKONOMI
Marx sering kali terkesan sebagai seorang determinis ekonomi; dia seolah melihat system ekonomi berada pada titik terpenting dan menentukan seluruh sector lain dalam kehidupan masyarakat-politik, agama system gagasan, dan lain sebagainya. Meskipun Marx melihat sector ekonomi sebagai sesuatu yang sangat penting, paling tidak dalam masyarakat kapitalis, namun sebagai sebagai penganut dialektika ia tidak dapat mengambil posisi deterministis, karena dialek dicirikan oleh pandangan bahwa terdapat umpan menarik terus menerus dan interaksi timbale balik antar berbagai sector kehidupan masyarakat.

Dira Rohmatun KPI 1C_Tugas6_Metode-Metode dalam Sosiologi

METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI

Setelah mendapatkan gambaran dan pokok-pokok tentang ruang lingkup sosiologi beserta hubungannya dengan ilmu-ilmu social lainnya dan teori-teorinya, perlu dijelaskan cara-cara sosiologi mempelajari obyeknya yaitu masyarakat. Untuk kepentingan itu sosiologi mempunyai cara kerja atau metode yang juga dipergunakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Pada dasarnya terdapat 2 jenis cara kerja atau metode, yaitu metode kualitatif dan metode kuantitatif.

Jumat, 11 Oktober 2013

Muhammad Oki Nugroho Kpi IB_tugas6_Metode Dalam Sosiologi

METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI

            Metode sosiologi menggunakan metode ilmiah dalam mempelajari gejala masyarakat. Di bedakan menjadi 2 yaitu kualitatif dan kuantitatif:

A)    Metode Kualitatif

Mempelajari bahan yang sulit di ukur dengan angka ataupun matematik, meskipun bahan tersebut terjadi di dalam masyarakat, yang termasuk metode kualitatif diantaranya:

1.      Metode Historis

Yaitu metode pengamatan dengan cara menganalisis suatu peristiwa masa lampau(histori) sehingga dapat mengetahui kejadian saat ini. Seseorang akan meneliti akibat dari suatu peristiwa yang akan di gunakan sebagai bahan untuk merumuskan hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang.

2.      Metode Komparatif

Yaitu metode yang membandingkan bermacam-macam masyarakat mulai dari bidang-bidangnya untuk mengetahui perbedaan, persamaan perilaku dalam masyarakat, di samping itu mengetahui penyebab terjadinya kondisi masyarakat yang demikian.

3.      Metode Studi Kasus

Yaitu metode dengan mengamati suatu keadaan, masalah, individu yang terjadi di dalam suatu masyarakat atau kelompok. Biasanya metode ini dilakukan peneliti selama berbulan-bulan agar dapat memahami kehidupan sehari-hari kelompok sosial tersebut. Peneliti harus benar-benar membaur dengan kelompok sosial dengan tidak memberi sugesti kepada masyarakat yang sedang di teliti melainkan hanya mengamati. Para peneliti menggunakan alat untuk studi kasus diantaranya adalah pertanyaan(questinnaire), wawancara(interview), dan keterlibatan peneliti dalam kehidupan sehari-hari yang sedang di amati (participant observer technique). Teknik wawancara merupakan yang sering di gunakan.

B)    Metode Kuantitatif

Cara penelitian dalam analisis datanya menggunakan angka-angka sehingga yang di teliti dapat di ukur dengan menggunakan skala, indeks, dan formula yang cenderung menggunakan uji statistik. Penggunaan statistik tidak harus menggunakan teknik tinggi tetapi dapat di lakukan secara sederhana. Seperti dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi mencari nilai rata(mean, median, modus). Terdapat beberapa metode lain dalam metode kuantitatif, di antaranya:

1.      Metode Deduktif

Yaitu metode yang di mulai dari suatu hal yang umum kemudian di persempit lagi menjadi hal yang khusus.

2.      Metode Induktif

Yaitu kebalikan dari Deduktif, dimulai dari mempelajari hal atau gejala yang khusus menjadi bersifat yang lebih luas dan juga umum.

3.      Metode Empiris

Yaitu metode yang mempelajari keadaan-keadaan yang real atau nyata di dalam suatu masyarakat.

4.      Metode Fungsional

Yaitu metode yang mempelajari fungsi-fungsi suatu lembaga yang ada di dalam masyarakat dan struktur sosial, dan kegunaan lembaga atau struktur di dalam masyarakat. Metode ini berpandangan bahwa unsur yang membentuk masyarakat harus mempunyai hubungan timbal balik yang saling berpengaruh tersendiri terhadap masyarakat.

5.      Metode Rasional

Yaitu metode yang menggunakan akal sehat dan nalar untuk mengetahui masalah yang terjadi di masyarakat.

            Metode sekurang-kurangnya memiliki beberapa ciri pokok:

-          Ada masalah yang akan di teliti.

-          Ada hipotesis, yaitu kesimuplan yang bersifat sementara yang harus di buktikan terlebih dahulu kebenarannya.

-          Ada usulan mengenai cara kerja atau cara penyelesaian masalah dan hipotesis yang ada.

Metode-metode sosiologi ini seringkali di pakai oleh para ahli sosiologi dalam meneliti dan mengkaji suatu masalah. Dan juga metode tersebut harus mempunyai alat untuk proses penelitian di dalam masyarakat.

NITA LISTIANAH KPI/1C_Tugas 6_METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI

METODE-METODE DALAM SOSIOLOGI
Setelah mendapatkan pokok-pokok tentang runag lingkup sosiologi beserta hubungannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya dan teori-teorinya, perlu dijelaskan cara-cara sosiologi mempelajari objeknya yaitu masyarakat. Untuk kepentingan itu sosiologi mempunyai cara kerja atau metode (method) yang juga dipergunakan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Pada dasarnya terdapat dua jenis cara kerja atau metode yaitu: a). metode kualitatif, b).metode kuantitatif.
a)      Metode Kualitatif mengutamakan bahan yang sukar dapat diukur dengan angka-angka atau dengan ukuran-ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan-bahan tersebut terdapat dengan nyata didalam masyarakat. Didalam metode kualitatif terdapat beberapa metode yaitu :
·         Metode Historis
·         Metode Komparatif
·         Metode Studi Kasus
Keduanya dikombinasikan menjadi historis dan komparatif. Metode historis menggunakan analisis atas peristiwa-peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum. Seorang sosiologi yang ingin menyelidiki akibat-akibat revolusi (secara umum) akan mempergunakan bahan-bahan sejarah untuk meneliti revolusi-revolusi penting yang terjadi dalam masa silam.
Metode komparatif mementingkan perbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidang-bidangnya, untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta sebab-sebabnya. Perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk mengenai perilaku masyarakat pada masa silam dan masa sekarang, dan juga mengenai masayarakat-masyarakat yang mempunyai tingkatan peradaban yang berbeda atau yang sama. Metode studi kasus (case Study) bertujuan untuk mempelajari  sedalam-dalamnya salah satu gejala nyata dalam kehidupan masyarakat. Studi kasus dapat digunakan untuk menelaah suatu keadaan, kelompok, masyarakat setempat (community), lembaga-lembaga maupun individu-individu. Dasarnya adalah bahwa penelaahan suatu persoalan khusus yang merupakan gejala umum dari persoalan-persoalan lainnya dapat menghasilkan dalil-dalil umum. Alat-alat yang dipergunakan oleh metode studi kasus adalah misalnya, wawancara (interview), pertanyaan-pertanyaan (questionnaires), dari daftar pertanyaan-pertanyaan (schedules), participant observer technique dan lain-lain. Teknik wawancara sering kali dipakai apabila diperlukan data penting dari masyarakat lain. Teknik wawancara dapat dilaksanakan secara tidak tersusun dan secara tersusun. Pada yang pertama, penyelidik menyerahkan pembicaraan kepada yang diajak berwawancara, sedangkan pada yang terakhir, penyelidik yang memimpin pembicaraan. Dalam mempergunakan teknik tersebut, penyelidik harus sadar bahwa apa yang dikemukakan oleh yang diajak berwawancara, sedikit banyaknya terpengaruh oleh kehdirannya. Pada teknik questionnairs, telah dibuatkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Teknik gtersebut hamper sama dengan schedules, dimana dilakukan wawancara melalui daftar pertanyaan- pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu.
Dalam participant observer technique, penyelidik ikut serta dalam kehidupan sehari-hari dari kelompok sosial yang sedang diselidikinya. Dalam hal ini penyelidk akan berusaha  sedapat-dapatnya untuk tidak mempengaruhi pola-pola kehidupan masyarakat yang sedang diselidikinya.
Metode kualitatif tersebut dalam istilah bahasa jerman dapat dinamakan sebagai metode berdasarkan verstehen (artinya pengertian).
b)      Metode Kuantitatif mengutamakan bahan-bahan keterangan dengan angka-angka, sehingga gejala-gejala yang diteliti dapat diukur dengan mempergunakan skala-skala, indeks, table dan formula. Formula yang semuanya itu sedikit banyaknya mempergunakan ilmu pasti atau matematika.yang termasuk jenis metode kuantitatif adalah Metode Statistic yang bertujuan menelaah gejala-gejala  sosial secara matematis. Akhir-akhir ini dihasilkan suatu teknik yang dinamakan sociemetry yang berusaha meneliti masyarakat secara kuantitatif sociemetry mempergunakan skala-skala dan angka-angka  untuk mepelajari hubungan-hubungan antar manusia dalam masyarakat. Jadi sociemetry adalah himpunan konsep-konsep dan metode-metode yang bertujuan untuk menggambarkan dan meneliti hubungan-hubungan antar manusia dalam masyarakat secara kuantitatif.
Disamping metode-metode diatas , metode-metode sosiologi lainnya didasarkan pada penjenisan antara Metode Induktif yang mempelajari suatu gejala yang ksusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lapangan yang lebih luas, dan Metode Deduktif yang mempergunakan proses sebaliknya yaitu mulai dengan kaidah-kaidah yang dianggap berlaku umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan yang khusus.
Hamper sama akan tetapi pada hakikatnya berbeda adalah penggolongan metode-metode sosiologi kedalam jenis Metode Empiris yang menyadarkan diri pada keadaan-keadaan yang dengan nyata didapat dalam masyarakat, dan jenis metode rationalisits yang mengutamakan pemikiran dengan logika dan fikiran sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah kemasyarakatan. Metode empiris dalam ilmu sosiologi modern diwujudkan dengan researchatau penelitian yaitu cara mempelajari suatu masalah secara sistematis dan intensif untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak mengenai maslah tersebut. Research dapat bersifat basic atau applied. Basic research adalah penelitian yang bertujuan  untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dari ilmu pengetahuan, sedangkan apllied research ditujukan pada penggunaan ilmu pengetahuan secara praktis. Metode rasionalistis banyak dipergunakan dahulu, sekarang masih dad fungsionalisme oleh para sarjana sosiologi di Eropa.
Akhirnya, sosiologi juga sering mempergunakan metode fungsionalisme. Secara singkat dapat dijelaskan bahwa metode fungsionalisme bertujuan untuk meneliti kegunaan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan struktur sosial dalam masyarakat. Metode tersebut berpendirian pokok bahwa unsur-unsur yang membentuk masyarakat mempunyai hubungan timbal-balik yang saling pengaruh mempengaruhi  masing-masing mempunyai fungsi tersendiri terhadap masyarakat. Dalam bidang antropologi, metode tersebut dipopulerkan oleh Bronislaw Malinowski dan A.R. Radcliffe Brown, sedangkan sarjana-sarjana sosiologi yang melaksanakan pendekatan fungsional terhadap masyarakat adalah antara lain Talcot Parsons dan Robert K. Merton.
Metode-metode sosiologi tersebut diatas bersifat saling melengkapi dan para ahli sosiologi seringkali menggunakan lebih dari satu metode untuk menyelidiki obyeknya. Kecuali metode-metode tersebut diatas, masing-masing ilmu pengetahuan dan juga sosiologi mempunyai perlengkapan alat-alatnya sendiri yaitu alat-alat yang disebut konsep (concept) untuk menganalisis masalah-masalah yang terdapat dalam lapangannya khususnya untuk sosiologi yaitu masyarakat.
Sumber : Prof. Dr. Soerjono Soekanto, SH, MA, SOSIOLOGI SUATU PENGANTAR, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1982

Rabu, 09 Oktober 2013

Sumber sumber dara kependudukan

Pengantar Ilmu Kependudukan
Demografi
Ahmad Afandi               1111054000007
 
v  Sumber-sumber Data Kependudukan/ Demogafi
Sumber-sumber data kependudukan yang pokok meliputi:
1.      Sensus
2.      Sistem regritasi kejadian-kejadian vital
3.      Regristasi penduduk dan survei-aurvei terbatas atau survei sampel
Dan ada sumber lain yang merupakan sumber data kependudukan yaitu seperti catatan-catatan dan dokumen-dokumen instansi pemerintah. Di antara sumber-sumber ini, sensus merupakan sumber data yang paling utama diberbagai negara.; terlebih-lebih di negara-negara berkembang. Dalam bagian ini akan diuraikan berbagai aspek yang meliputi sejarah sensus penduduk, kriteria modern dari sensus dan sensus di Indonesia.
v  Sejarah Sensus Penduduk
Pencacahan penduduk atau enumeration, dan kadang-kadang disebut cacah jiwa (dalam pelaksanaan kadang-kadang cacah rumah tangga), mungkin mempunyai sejarah hampir setua sejarah peradaban manusia[1].
Sensus penduduk yang yang pada mulanya mempunyai tujuan seperti yang telah disebut muka, sejak abad ke-19 telah banyak berubah baik dalam cakupan yang menjadi lebih luas dan ruang lingkup pemanfaatan yang makin meluas pula. Berbagai aspek telah dimasukan dalam daftar pertanyaan sensus seperti migrasi, karekteristik ekonomi, fertilitas, dan mengenai berbagai karakteristik penduduk yang penting yang ada gilirannya dapat memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga pemerintah dan non-pemerintah, dan masyarakat umumnya.
v  Kriteria Modern dari Sensus
Istilah "sensus" dalam paham modern mengandung makna perhitungan penduduk yang mencakup wilayah suatu negara.[2]Sensus dilakukan dengan pencacahan langsung tiap orang atau rumah tangga. Dengan demikian suatu sensus penduduk merupakan suatu usaha besar yang memerlukan banyak biaya dan tenaga.
Ciri-ciri utama dari suatu sensus penduduk nasional resmi mencakup kesponsoran, teritorial yang terdefinisi dengan jelas, universalitas, simultanitas, unit individual dan mengenai kompilasi dan publikasi. Berikut adalah secara singkat ciri-ciri utama:
1.      Kesponsoran
2.      Teritorial yang terdefinisi dengan jelas
3.      Universalitas
4.      Simunltanitas
5.      Unit individual
6.      Komplikasi dan publikasi
 
v  Sensus Penduduk di Indonesia
Di Indonesia seperti di lain-lain kawasan di dunia, perhitungan peduduk untuk tujuan terbatas seperti untuk perpajakan dan penentuan jumlah wajib kerja telah ada sejak dulu. Raja-raja Nusantara seperti Raja Lombok dan Raja-raja Mataram telah berusaha melakukan perhitungan jumlah rakyat masing-masing.
Di zaman kolonial, telah disebut sebelumnya adanya sensus penduduk Raffles, angka jumlah penduduk  dari sensus ini sering digunakan sebagai pangkal tolak pembicaraan-pembicaraan perkembangan penduduk di abad ke-19. Raffles melakukan perhitungan jumlah penduduk dalam rangka penetapan sistem pajak tanah (land rent). Pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1880 hingga 1905 mengadakan sensus-sensus penduduk dengan periode lima tahun sekali (Quinguennial population census).
v  Registrasi Kejadian Vital dan Penduduk
Pada umumnya sistem registrasi kejadian-kejadian vital dibedakan dari sistem registrasi penduduk. Sistem registrasi penduduk merupakan suatu siste registrsi yang dipelihara penguasa setempat di mana biasnya dicatat setiap kelahiran, kematian, adopsi perkawinan, perceraian, perubahan pekerjaan, perubahan nama dan perubahan tempat tinggal. Catatan dibuat bagi tiaptiap individu, dan perubahan-perubahan dilakukan selama masa hidupnya. Sedangkan sistem registrasi kejadian-kejadian vital bertalian dengan registrasi seperti kelahiran, kematian, kematian janin, abortus, perkawinan dan perceraian. Perubahan nama, perubahan pekerjaan dan tempat tinggal tidak termasuk ke dalam registrasi kejadian-kejadian vital.
v  Survai
Survai demografi pada dasarnya dapat dikelompokan ke dalam tiga tipe yaitu:
1.      Survai bertahap tunggal (single round suveys)
Informasi demografi yang dikumpulkan melalui survai bertahap tunggal diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan mengenai berbagi kejadian demografi yang dialami seseorang di masa lampau dalam periode tertentu. Sebagai contoh, kepada seorang wanita diajukan pertanyaan: jumlah anak yang dilahirkan hidup dan berapa banyak  di antaranya anak-anak dilahirkan hidup iru masih hidup pada saat survai dilakukan.
2.      Survai bertahap ganda (multi round surveys)
Dalam survai bertahap ganda dilakukan kunjungan berulang kali ke rumah tangga- rumah tangga di mana berbagai kejadian demografi dalam interval waktu antar kunjungan dicatat seperti kelahiran, kematian dan migrasi.
3.      Survai bertipe kombinasi, yaitu kombinasi antara survai bertahap tunggal atau survai bertahap ganda dengan sistem registrasi.
Sedangkan survai bertipe kombinasi selain berguna bagi penaksiran-penaksiran reit vital, data yang dikumpulkan juga dapat menilai sejauh mana kelengkapan dan dapat dipervayanya informasi demografi yang dikumpulkan oleh sistem registrasi.
 
Komposisi dan Piramida Penduduk
Penduduk merupakan jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil proses-proses demografi yaitu, fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Komposisi penduduk menggambarkan susunan penduduk yang dibuat berdasarkan pengelompokan penduduk menurut karakteristik-karakteristik yang sama. Beragam pengelompokan dapat dibuat seperti atas dasar etnis, umur, agama, kewarganegaraan, bahasa, pendidikan, yang diselesaikan, umur, jenis, kelamin dan golongan pendapatan. Adakalanya, istilah tertentu umpamanya, struktur penduduk dan piramida penduduk bagi komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, dan distribusi penduduk bagi komposisi penduduk menurut geografis tempat tinggal.
Ø  Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin
Di antara beragam komposisi penduduk yang dapat disusun, komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan yang terpenting. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin bagi suatu masyarakat penting baik dalam kerangka biologis, ekonomis, maupun sosial. Umpamanya penting dalam pertaliannya dengan angka-angka kelahiran, kematian, rasio beban tanggungan, dan jumlah penduduk usia sekolah. Perbedaan yang besar mungkin terdapat antar negri-negri tertentu dalam hal komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin.
Ø  Pengaruh kematian, kelahiran dan migrasi terhadap bentuk piramida penduduk
Bentuk piramida penduduk banyak ditentukan oleh keadaan fertilitas dan mortalitas. Sekitarn 100  tahun diperlukan untuk menghasilkan suatu piramita baru, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menggantikan semua penduduk yang menyusun suatu piramida di suatu daerah atau negara. Tanpa migarasi atau kalaupun ada dalam jumlah yang relatif sedikit maka penambahan dan pengurangan penduduk hanya terjadi melalui kelahiran dan kematian.
Turunnya mortalitas terlebih-lebih pertama-tama jika hal ini terjadi pada umur-umur sangat muda yaitu umur-umur permulaan kehidupan, maka dalam keadaan fertilitas tetap tinggi, secara keseluruhan umur penduduk menjadi lebih muda. Dalam keadaan ini, seperti halnya banyak negara-negara berkembang, lebih dari 40 persen penduduk berada di bawah umur 15 tahun. Namun bentuk piramida juga dipengaruhi dari bagian atas karena makin banyaknya penduduk yang mencapai umur tua. Turunnya reit kematian berarti kebanyaknya orang akan hidup lebih lama. Reit kematian yang tinggi, yang umumnya karena tingginya reit kematian bayi, memberikan bentuk piramida yang lebih sempit di bagian bawah, mortalitas yang tinggi dari kelompok-kelompok umur tertentu di suatu negara seperti akibat peperangan memberikan bentuk yang khas pada piramida yaitu, menciutnya kelompok-kelompok umur yang bersangkutan.
 
 


[1] M. Spiegelman, introduction to Demography (Chicago: The Society of Actuaries, 1974) dan pollard A.H. et al. Demographic Technigues (Oxford: Peramon Press, 1974)
[2] G.W. Barclay, Technigues of population Analysis (New York: John Wiley & Sons, 1985) hal.6

Pengantar Ilmu Kependudukan

Pengantar Ilmu Kependudukan
Demografi
Ahmad Afandi                        1111054000007
 
 
Ilmu Kependudukan dan Demografi
Ilmu kependudukan adalah suatu disiplin ilmu yang tidak dapat dipisahkan dalam pendalaman ilmu kesehatan masyarakat, karena dalam penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, maka yang paling urgent untuk diketahui struktur dari suatu masyarakat itu sendiri dan pendekatan jenis apa yang harus dipakai untuk dapat berinterkasi dalam sebuah populasi masyarakat.
Sedangkan Demografi itu sendiri menurut salah satu pengertian adalah studi mengenai jumlah, distribusi teritorial, dan komposisi penduduk, perubahan-perubahan yang bertalian dengannya serta komponen-komponen yang menyebabkan perubahan yang bersangkutan yang dapat diidentifikasi sebagai natalitas, mortalitas, gerak penduduk teritorial dan mobilitas sosial (perubahan status).
Demografi dapat juga dipandang dalam makna yang sempit, yang dalam hal ini sama dengan analisa demografi atau dalam makna yang luas yang mencakup baik analisis demografi maupun studi kependudukan.
Pemisahan antara studi kependudukan dan analisa demografi umpamanya telah dilakukan oleh Huser yang menyatakan bahwa:
1.      Analisa demografi merupakan analisa statistik terhadap jumlah, distribusi, dan komposisi penduduk, serta komponen-komponen variasinya dan perubahan; sedangkan,
2.      Studi kependudukan mempersoalkan hubungan antara label demografi, baik yang diperlukan sebagai variabel independen maupun variabel dependen.
Ilmu kependudukan mungkin melihat variabel non-demogarafi sebagai variabel independen, dan variabel demografi sebagai variabel dependen, atau sebaliknya.
Studi kependudukan dapat pula dilihat sebagai mencakup penelitian makro dan mikro demografi. Penelitian makro demografi terdiri dari penelitan uanit skala besar, agregat orang dengan kesluruhan sisitem dengan kebudayaan dan masyarakat. Sasaran ruang lingkup daerah penelitan makro demografi adalah benua, bangsa. Sedangkan penelitan mikro demografi merupakan penelitan unit skala kecil yang umumnya bersifat internal.
 
Teori Transisi Demografi dan Aliran-aliran Pemikiran
Dewasa ini teori transisi demografi merupakan teori kependudukan yang dominan meskipun bukan dengan tanpa kritikan-kritikan. Teori ini merupakan salah satu di antara teori-teori kependudukan yang tergolong social theoris.  Kelompok teori kependudukan sosial beranggapan bahea perubahan penduduk merupakan hasil dari kondisi sosial ekonomi penduduk yang bersangkutan. Teori transisi demografi menyatakan bahwa setiap masyarakat memulai dengan fase angka kelahiran-kematian tinggi, kemudian disusul oleh fase menurunnya angka kematian sementara angka kelahiran masih tetap tinggi dan fase menurunnya angka kelahiran secara perlahan-lahan hingga berada pada angka kelahiran dan kematian rendah.
Beberapa peristiwa demografis dapat diukur dengan berbagai cara, diantaranya : rasio, proporsi, dan tingkat (rates). Di dalam mengukur peristiwa-peristiwa demografis tersebut, perlulah di ketahui dengan pasti :
a.       pada periode waktu mana peristiwa itu terjadi
b.      kelompok penduduk mana yang mengalami peristiwa tersebut
c.       peristiwa apa yang diukur.
Rasio adalah bilangan yang menyatakan nilai relatif antara dua bilangan. Banyak perhitungan-perhitungan rasio dan proporsi yang dipergunakan dalam pengukuran  demografi. Dalam masing-masing rasio tersebut perlu disebutkan dengan jelas peristiwa-peristiwa demografis yang mau dihitung atau diukur, karena rasio ini dapat berarti bermacam-macam :
a.       perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan di Indonesia.
b.      Perbandingan jumlah anak laki-laki umur 0-4 tahun dengan jumlah anak perempuan dalam kelompok umur yang sama.
c.       Perbandingan jenis kelamin kelahiran bayi laki-laki dengan bayi perempuan.
Pada umumnya rasio dan proporsi digunakan untuk menganalisa komposisi demografis dari kelompok-kelompok, sedangkan tingkat (rates) digunakan untuk menganalisa peristiwa-peristiwa demografis dalam jenjang waktu tertentu (palmore 1971.3). Secara umum, tingkat (rates) tersebut didefinisikan sebagai berikut :
 
Jumlah peristiwa yang
                                                terjadi dalam jenjang
                                                waktu tertentu            
 Tingkat peristiwa
 demografis tertentu =                                                            X 1000           
                                                Jumlah kelompok penduduk
                                                 yang  mempunyai resiko 
                                                dalam peristiw tsb dalam
                                                jenjang waktu yang sama       
Sejarah Perkembangan Penduduk: Dunia dan Indonesia
Yang dimaksud dengan keseimbangan lama dari perkembangan penduduk adalah, ketika reit kematian dan kelahiran dari penduduk suatu wilayah masing-masing berada pada tingkat yang tinggi, sehingga perkembangan masing-masing berada pada tingkat yang tinggi, hingga perkembangan jumlah penduduk sangat lambat, bahkan untuk sebagian besar periode, jumlah kelahiran tak banyak berbeda dengan jumlah kematian.
Keseimbangan baru berarti keadaan dimana reit kelahiran dan kematian berada pada tingkat yang rendah, sehubungan dengan reit kelahiran dan kematian, perserikatan bangsa-bangsa mengklasifikasikan penduduk-penduduk dalam tipe-tipe: kelahiran tinggi-kematian tinggi, kelahiran tinggi-kematian cukup tinggi/sedang menurun, kelahiran tinggi-kematian rendah, kelahiran sedang menurun-kematian rendah, dan kelahiran rendah-kematian rendah.
Di Indonesia sekalipun untuk jawa, informasi atau data demografi abad ke-19 yang tersedia sangat terbatas. Bahkan informasi yang sangat dasar seperti angka-angka jumlah penduduk sering merupakan sumber perdebatan. Jumlah penduduk Jawa hasil perkiraan atau perhitungan resmi untuk tahun-tahun tertentu antara tahun 1795-1900, dan reit perkembangan tahunan untuk berbagai periode dalam masa itu. Para ahli dan umumnya berpendapat adanya under enumeration bagai angka-angka tersebut seperti seperti angka "sensus" Raffles masih dipandang bermanfaat. Bahkan ada penulis-penulis yang walaupun mengakui angka Raffles terlalu rendah sebagai penduduk Jawa dipermulaan abad ke-19, telah mengambil data "sensus" Raffles tersebut sebagai starting point. Jumlah penduduk Jawa diperkirakan sekitar 28,5 juta pada akhir abad ke-19. Sedangkan untuk lain-lain daerah atau pulau-pulau di Indonesia, bagi periode sampai tahun 1905 informasi demografi  yang tersedia secara terbatas diragukan kemanfaatannya karena sangat kurang reabilitasnya.              
 
 

Cari Blog Ini