Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Kamis, 13 Maret 2014
Erby Eko Y_Tugas 2_Teori Max Weber
Julia Rahmania_Tugas2_Max Weber
Pembahasan klasik dan paling berpengaruh tentang hubungan antara etika dan agama, khususnya yang berkaitan dengan bidang ekonomi, adalah yang dilakukan oleh Weber. Tesisnya yang terkenal yang diungkapkan dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism membuktikan bahwa munculnya zaman modern dengan Kapitalisme-nya itu mempunyai akar dalam pandangan etis dan keagamaan Kristen Protestan, khususnya Calvinisme. Tesis ini merupakan bantahan terhadap tesis Marx tentang transisi dari feodalisme ke kapitalisme.
Rabu, 12 Maret 2014
Muh Nur Muhaimin_tugas1_Dinamika pedesaan
Oleh : Muh Nur Muhaimin
A. Transformasi dan perubahan sosial masyarakat pedesaan.
Pembangunan atau pengembangan pedesaan sangat di perlukan untuk Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sebesar kurang lebih 60%, melakukan pertanian sebagai mata pencaharian, dan mereka tinggal di pedesaan. Pembangunan atau pengembangan pedesaan ('rural development), menurut Mosher (Mosher, 1969, h. 91), dapat mempunyai tujuan:
1. Pertumbuhan sektor pertanian.
Anindia Prestiawani Rizki_Tugas2_Max Weber
Nama : Anindia Prestiawani Rizki
NIM : 1113054100013
Jurusan/Kelas : Kesejahteraan Sosial / 2A
Teori Birokrasi
Organisasi merupakan satu unit sosial yang dibentuk untuk mencapai matlamat tertentu. Sekolah juga merupakan satu contoh organisasi. Di dalam organisasi, kita tidak boleh lari daripada mengaplikasikan teori-teori organisasi yang ada dan salah satu teori yang paling berpengaruh dalam bidang organisasi dan pentadbiran ialah Teori Birokrasi.
Dari segi konsep, Weber merujuk birokrasi sebagai satu jenis struktur pentadbiran yang dibangunkan dalam satu pertubuhan dimana adanya autoriti “rasional-sah” (Scott, 2003). Weber menerangkan jenis birokrasi yang ideal dari sudut yang positif, beliau menganggap organisasi birokrasi adalah organisasi yang lebih rasional dan lebih cekap. Jenis birokrasi yang ideal termasuklah tidak ada jenis autoriti atau perhubungan yang lain, tidak mempunyai persahabatan dan permusuhan, tidak mempunyai komplot, dan tidak mempunyai badan jawatankuasa. Sesuatu birokrasi yang dikatakan ideal hanya wujud dimana individu memberi dan menerima arahan sebagai satu peraturan dalam sistem rasional.
Terdapat tiga jenis autoriti yang dikenalpasti oleh Weber iaitu autoriti tradisional, autoriti “rasional-sah” dan autoriti karismatik :-
a) Autoriti tradisional (Traditional authority) yaitu kepercayaan dalam tradisi yang telah diamalkan sejak berzaman-zaman lamanya. Ini adalah berlandaskan perwarisan daripada autoriti terdahulu, kemudian orang yang memegang autoriti tersebut mempunyai kuasa dan memberi arahan manakala orang bawahan pula akan menerima sahaja perintah atasan dengan alasan bahawa perkara yang diperintahkan oleh orang atasan itu merupakan cara untuk menyelesaikan semua masalah.
b) Autoriti rasional-sah (Rational-legal authority) iaitu kepercayaan dalam “legaliti” sebagai corak dalam peraturan normatif dan mengangkat kebenaran dalam autoriti seperti isu-isu berkenaan arahan. Autoriti “rasional-sah” adalah berdasarkan sistem peraturan yang menghormati arahan, oleh sebab itulah sistem ini disebutkan mempunyai kerasionalan. Perintah atau arahan harus dipatuhi selagi mana mereka konsisten dengan peraturan tersebut.
c) Autoriti karismatik (charismatic authority) pula merujuk kepada kepatuhan kepada sifat-sifat yang ada pada seseorang individu yang boleh dicontohi. Individu yang memegang autoriti seperti ini akan menunjukkan ciri-ciri pemerintahan dalam corak normatif ataupun peraturan. Autoriti ini juga melibatkan kualiti luar biasa yang ada pada pemimpin dimana arahan tidak terikat kepada penghormatan dan kesetiaan.
Objektif utama teori birokrasi ialah untuk menjadikan sesebuah organisasi menjadi lebih cekap dan segala urusan pekerjaan di dalam organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar. Tujuan diwujudkan sistem hierarki dalam organisasi birokrasi pula adalah untuk membina sistem rantaian arahan yang tersusun.
Pada pendapat saya, teori Weber ini adalah baik diamalkan di mana-mana organisasi mahupun di sekolah. Teori ini membuatkan sistem organisasi di sekolah menjadi lebih sistematik dan efisyen. Sistem hierarki yang dilaksanakan membantu pentadbir membahagikan tugas-tugas orang bawahannya seperti Guru Penolong Kanan, guru-guru, kerani dan sebagainya mengikut tugas masing-masing dan tidak berlaku persilangan/pertindihan tugas. Selain itu juga, teori ini dapat mengukuhkan tanggungjawab masing-masing terhadap bidang tugas sendiri. Walaubagaimanapun, teori ini cenderung kepada amalan pengurusan berbentuk pemusatan kuasa iaitu autoriti atau kuasa dalam sesebuah organisasi terletak didalam tangan satu golongan kecil.autoriti atau kuasa dalam sesebuah organisasi terletak didalam tangan satu golongan kecil. Golongan ini biasanya terdiri daripada Pengetua dan Penolong Kanan. Kebiasaannya, arahan mereka perlu didengar dan dilaksanakan tanpa sebarang bantahan.
Selasa, 11 Maret 2014
Bls: kartika al ashzim_tugas(1)_Pembahasan(teori emile durkheim)
indahchoirunnissa_tugas1_teori Emile Durkheim
Senin, 10 Maret 2014
Enung khoeriyah_tugas1_teori sosiologi modern Emile Durkheim
Irsyadi Farhan Tugas 1 Dinamika Desa
Dinamika Desa dalam Tinjauan Sejarah dan kebijakan Pembangunan di Indonesia
A. Transformasi dan perubahan sosial masyarakat pedesaan.
Pembangunan atau pengembangan pedesaan sangat di perlukan untuk
Indonesia karena sebagian besar penduduk Indonesia, yaitu sebesar
kurang lebih 60%, melakukan pertanian sebagai mata pencaharian, dan
mereka tinggal di pedesaan. Pembangunan atau pengembangan pedesaan
('rural development), menurut Mosher (Mosher, 1969, h. 91), dapat
mempunyai tujuan: 1. Pertumbuhan sektor pertanian,
Iis Sudianti Tugas1 Kabuyutan
Iis Sudiyanti_1111054000006_PMI6
Istilah Kabuyutan dalam agama Sunda setidaknya sudah ada pada awal abad ke-11 M. Prasasti Sanghyang Tapak yang dibuat kira-kira tahun 1006-1016 M, menerangkan bahwa Prabu Sri Jayabupati (selaku Raja Sunda) sudah menetapkan sebagian dari wilayah walungan Sanghyang Tapak (ketika itu) selaku kabuyutan, yaitu tempat yang mempunyai pantangan yang harus dituruti oleh semua rakyatnya. Istilah ini terbentuk dari kata dasar buyut. Adapun kata buyut mengandung dua arti.
Muhammad Dzul Azmi Tugas1_Konsep Kabuyutan
Fevi Saleha Tugas1 Konsep Kabuyutan
Lutfi Amrullah Tugas1 konsep kabuyutan
Nilai-nilai pokok atau dimensi paling penting dari suatu kebudayaan adalah nilai-nilai yang universal yang akan diterima oleh bangsa apa pun di dunia ini; atau nilai-nilai yang kebenarannya tidak perlu diperdebatkan lagi dan yang diperlukan hanyalah aplikasi atau pengamalannya. Nilai-nilai pokok adalah landasan, sumber, dan muara dimensi-dimensi atau nilai-nilai penting lainnya dari suatu kebudayaan. Apabila suatu bangsa berhasil merevitalisasi nilai-nilai pokok budayanya, maka bangsa tersebut berpeluang untuk meraih kembali kejayannya.
Budhi Baihakki, PMI 6, Konsep Kabuyutan
M. Irhamni Tugas1 Kabuyutan
ZAENAL ARIFIN Tugas1 Desa dalam Tinjauan
A. Transformasi dan perubahan sosial masyarakat pedesaan
Pembangunan desa sangan di butuhkan buat orang-orang yang kurang mampu seperti di pedesaan. Sebagian besar masyarakat indonesia kurang lebih 50% yaitu pekerja pertanian atau bercocok tanan dan 40% di kuasai oleh orang-orang yang mampu atau bisa di namakan orang kaya. orang desa melakukan pertanian dan tinggal di pedesaan.[1] Dan wilayah pedesaan terdiri atas teritorium alam dan penduduk manusia serta kebudayaannya. Pada tahun 1992, di Indonesia terdapat kurang lebih 62.000 desa dan kelurahan, dan pada tahun 2000 ada kurang lebih 67.000 serta pada tahun 2003 terdapat 72.000 desa dan kelurahan.
Siti Nuraini_Tugas1_Konsep Kabuyutan
Aulia Ulfa_Tugas 1_ Dinamika Desa
Dinamika Desa dalam Tinjauan Sejarah dan kebijakan Pembangunandi Indonesia
Maksud pembangunan desa adalah menghilangkan atau mengurangi berbagai hambatandalam kehidupan sosial - ekonomi, seperti kurang pengetahuan dan keterampilan, kurang kesempatan kerja, dan sebagainya. Akibat berbagai hambatan tersebut, penduduk wilayah pedesaan umumnya miskin. Salah satu hambatan tersebut adalah tidak meratanya kepemilikan tanah. Misalnya , pada tahun 1973, di Nepal (Misra, 1981,
h. 233-237), 63% dari keluarga petani kecil hanya memiliki 10,6% dari
seluruh tanah pertanian, sedangkan 17,6% dari keluarga petani besar memiliki
71,50%.
SarahAmaliaKusnendar_tugas1_teori durkheim
Syifa Thoyyibah. PMI 6. Tugas Mata Kuliah Ekologi Manusia
Antara manusia dan alam mempunyai ketergantungan yang tinggi satu sama lain. Sehingga eksistensi alam adalah eksistensi manusia, dan sebaliknya.
Konsepsi alam yang ekologis tersebut kemudian mengarahkan kepada pandangan alam, terutama air, sebagai yang “sakral.” Makna air/tanah air sendiri dalam kamus bahasa Sunda (Danadiberata:2006) sepadan dengan kata “kabuyutan” yang mempunyai beberapa makna antara lain: hulu air, hutan, tempat tinggal manusia, dan juga barang-barang kerajaan yang dikeramatkan. Sakralitas kabuyutan sebenarnya bukan disebabkan karena daya magisnya, melainkan karena vitalitasnya bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kata lain, sakralitas kabuyutan tersebut ditujukan untuk menjamin semua yang dibutuhkan manusia itu tersedia di alam.
Nur Fajrina_ Tugas1 Ekologi (KABUYUTAN)
Qayumah tugas1_teori emile durkheim
ALFIAN BAYU PRASETIO_Tugas1 Dinamika Desa dalam Tinjauan
Elitanoveliyanti_Tugas1_Teori Sosiologi durkheim
Lahir di Epinal propinsi Lorraine, Perancis Timur pada tanggal 15April 1858. Dia termasuk dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran
logika filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuanyang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi.Dia dilahirkan dalam keluarga agamis namun pada usia
belasan tahun minat terhadap agama lebih akademis daripada teologis.
Adiatma_Tugas1_Sosiologi_Pedesaan
Minggu, 09 Maret 2014
Mughni Labib Tugas1 Desa dalam Tinjaun
Nurul andani_Tugas 0_sosiologi pedesaan
Abidin Tugas1 Dinamika Desa
Ahmad Afandi_Tugas1_Konsep Kabuyutan
Edi Firdiansyah_Tugas1_Teori Emil Durkheim
Lahir di Epinal propinsi Lorraine, Perancis Timur pada tanggal 15 April 1858. Dia termasuk dalam tokoh Sosiologi yang memperbaiki metode berpikir Sosiologis yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi Sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang benar apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi.
ADITIYA AWALUDIN_Tugas1_Dinamika desa
Janos Prakoso_Tugas1_Teori Emil Durkheim
Yusmar Abdillah_Tugas1_Teori Sosiologi Emil Durkheim
- 1. TEORI-TEORI EMILE DURKHEIM Oleh: Yusmar Abdillah.1113054100021.Kesejahteraan Sosial 2A.Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi.Uin Syarif Hidayatullah Jakarta
- 2. BIOGRAFI EMILE DURKHEIM • Tahun 1858, Emile Durkheim lahir di propinsi Lorraine Perancis Timur pada tanggal 15 April. • Pada usia 21 tahun Durkheim diterima di Ecole Normale Superieure setelah sebelumnya gagal dalam ujian masuk.
AHMAD ALI NIDAULHAQ Tugas1 Dinamika Desa
Isra Wahyuni_Tugas1_teori sosiologi Emil Durkheim
Isra Wahyuni_Tugas1_teori sosiologi Emil Durkheim
Nama : Isra Wahyuni
Nim: 1113054100023
Jurusan: Kessos II A
Teori sosiologi Emil Durkheim
Emil Durkheim adalah sosiologi Perancis keturunan Yahudi. Baginya sosiologi adalah mempelajari social fact (fakta sosial); dan fakta sosial bukanlah fakta individual. Social fact (fakta sosial) adalah aspek-aspek kehidupan sosial yang tidak dapat dijelaskan dalam pengertian biologis atau psikologis dari seorang individu. Fakta sosial bersifat eksternal (berada di luar individu). Karena sifat eksternalnya, fakta eksternal merupakan realitas independen dan membentuk lingkungan objektifnya sendiri. Contoh yang paling jelas dari fakta sosial adalah kebiasaan, peraturan, norma, dan sebagainya. Contoh fakta sosial yang paling besar dan umum adalah masyarakat.
Selain bersifat eksternal, fakta sosial mempunyai sifat menekan individu, memaksa untuk berbuat sesuai dengan fakta sosial. Sifat eksternal dan memaksanya ini berlaku bagi semua orang di wilayah yang sama dalam kurun waktu tertentu. Individu harus tunduk pada fakta sosial. Karena itu dalam pandangan Durkheim, individu nampak tidak penting sama sekali.
Dalam The Rule of Sociological Method ia membedakan antara dua tipe fakta sosial:
Material dan nonmaterial. Perhatian utama Durkheim lebih tertuju pada fakta sosial nonmaterial (misalnya kultur dan institusi sosial) dari pada faka sosial material (birokrasi dan hukum).
Dalam studi klasiknya tentang bunuh diri yang berjudul Suicide (1897-1951), Durkheim menggarap serius pengumpulan dan analisis data untuk menguji teorinya. Ia membuat proposisi bahawa Suicide adalah fakta sosial (social fact), oleh karena itu bunuh diri bisa dijelaskan melalui faktor-faktor sosial. Durkheim menguji teorinya terhadap penyebab yang berbeda-beda dalam rata-rata perilaku bunuh diri di dalam kelompok wilayah, negara, dan dikalangan golongan individu yang bebeda (misalnya anatara orang kawin dan lajang). Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosiallah yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. Misalnya perang atau depresi ekonomi dapat menciptakan perasaan depresi kolektif yang selanjutnya dapat meningkatkan angka bunuh diri.
Dalam karyanya yang lain, The Division of Labour in Society (1893-1964), Durkheim membahas tentang solidaritas sosial. Ia membedakan antara solidaritas yang ada pada masyarakat awal dengan yang ada pada masyarakat modern. Di masyarakat awal struktur sosial relatif simple degan pembagian kerja yang sedikit. Orang-orang terlibat dalam pekerjaan yang sama, karena kesamaan itulah pengalaman hidup mereka juga banyak kesamaan. Rasa keutuhan (oneness) diantara mereka berasal dari fakta ini : mereka begitu sama yang kemudian disebut oleh Durkheim memiliki solidaritas mekanik.
Kebalikannya, masyarakat modern dicirikan dengan susunan sosial yang amat kompleks dan pembagian kerja yang amat beragam. Orang-orang memiliki tanggungjawab yang spesifik di pabrik-pabrik, di kantor-kantor, dan di sekolah-sekolah. Karena tanggung jawab yang berbeda-beda itulah orang satu sama lain menjadi saling tergantung untuk bisa bertahan hidup. Durkheim menyebutnya dengan sebutan masyarakat yang memiliki solidaritas organik.
Bagi Durkheim, solidaritas sosial itu dibutuhkan untuk memelihara keteraturan sosial dan untuk kebahagiaan masing-masing individu yang ada di dalamnya. Jika saja solidaritas sosial itu rusak maka bisa membawa konsekuensi-konsekuensi negatif. Dalam situasi semacam ini bisa saja orang terdorong untuk melakukan bunuh diri Suicide.
Dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms of Religious Life, ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhir fakta sosial nonmaterial yakni agama. Dalam karya ini Durkheim membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Durkheim yakin bahwa ia akan dapat secara lebih baik menemukan akar agama itu dengan jalan membandingkan masyarakat primitif yang sederhana dibandingkan dengan masyarakat modern yang komples. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sakral dan yang lainnya bersifat profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme. Dalam agama primitif (totemisme) ini benda-beda seperti tumbuhan-tumbuhan dan binatang didewakan atau dipuja. Selanjutnya totemisme dilihat sebagai tipe khusus fakta sosial nonmaterial. Akhirnya Durkheim menyimpulkan bahwa masyarakat dan agama adalah satu dan sama. Agama adalah cara masyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial nonmaterial.
Rizkianingsih_Tugas1_TeoriSosiologiDurkheim
Emil Durkheim lahir pada tahun 1858 di Epinal, suatu perkampungan kecil orang Yahudi di bagian Timur Perancis yang agak terpencil dari masyarakat yang luas. Ayah Durkheim adalah seorang rabi, seperti kakeknya juga dan kalau Durkheim sudah mengikuti kebiasaan tradisional, dia juga sudah menjadi seorang rabi. Namun dia menyimpang dari kebiasaan ini, sebagian mungkin karena suatu pengalaman mistik dan dia masuk katolik dibawah pengaruh seorang gurunya yang beragama katolik. Lalu dia meninggalkan katolisisme dan menjadi orang yang tidak mau tahu dengan agama(agnostik), tetapi masalah-masalah dasar tentang moralitas dan usaha meningkatkan moralitas masyarakat merupakan perhatian pokok selama hidupnya. Mungkin dari sebagian perhatiannya terhadap solidaritas dan integrasi bertumbuh dari kesadarannya bahwa berkurangnya agama tradisional merusakan salah satu dukungan tradisional yang utama untuk standar moral bersama yang membantu mempersatukan masyarakat di masa lampau.
Durkheim bertekad menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurut dia tidak relevan dengan masalah sosial dan moral. Pendirian ideologis Durkheim secara pribadi bersifat liberal. Walaupun mudah untuk melihat beberapa implikasi konservatif penting dalam karya teoritisnya, sebagiannya karena tekanan yang terlampau mementingkan struktur sosial serta kepatuhan individu terhadap masyarakat secara mutlak untuk perkembangannya. Namun dalam prakteknya, dia membela hak-hak individu melawan pernyataan-pernyataan yang tidak adil atau berlebih-lebihan yang dibuat atas nama masyarakat.
Durkheim terkenal sebagai sosiolog yang brilian dan memiliki latar belakang akademis dalam ilmu sosiologis. Dalam usia 21 tahun ia masuk pendidikan di Ecole Normale Superiure. Dalam waktu singkat ia membaca Renouvier, Neo Kantian yang sangat dipengaruhi pemikiran Saint Simon dan August Comte, dan bahkan melahap karya-karya Comte sendiri. Disertasinya The Division of Labor in Society yang diterbitkan tahun 1893 memaparkan konsep-konsep evolusi sejarah moral atau norma-norma tertib social, serta menempatkan krisis moral yang hebat dalam masyarakat modern. Itu sebabnya, disertasi itu menjadi karya klasik dalam tradisi sosiologi. Durkheim mempunyai pandangan konsensus yang agak ortodoks mengenau struktur sosial. Cirinya yang sangat penting. Katanya, adalah bahwa struktur sosial itu terdiri dari norma-norma dan nilai-nilai, definisi kebudayaan dari perilaku yang dianggap pantas dan penting dalam setting yang berbeda-beda. Adalah melalui sosialisasi kita mempelajari definisi-definisi normatif ini, hanya melalui proses ini yang membuat anggota-anggota masyarakat menjalankan kehidupan sosial mereka.
Menurut Durkheim, walaupun kita mungkin menganggap dapat memilih perilaku tertentu untuk berhadapan dengan orang lain, dalam realitasnya pilihan itu sebenarnya sudah disediakan untuk kita. Durkheim lah yang pertama kali menekankan pandangan konsensus bahwa fikiran dan pengalaman sekalipun diwariskan tidak ditemukan.