Selasa, 29 April 2014

Lisda Nur Asiah_tugas6_Term of Reference

Komunitas Anak Punk dan Pengaruhnya Bagi Para Penumpang Kendaraan Umum
 
        I.            Latar Belakang
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir pada awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wbah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.
      II.            Teori Sosiologi
Teori yang digunakan dalam penelitian adalah  teori tindakan sosial yang dipelopori oleh Max Weber . Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti tindakan oranglain (Weber dalam Ritzer 1975).  Adapun ciri-ciri pokok tindakan sosial menurut Max Weber, sebagai berikut :
-          Jika tindakan manusia itu menurut aktornya mengandung makna subjektif dan hal ini bisa meliputi berbagai tindakan nyata.
-          Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu
-          Tindakan itu memeperhatikan tindakan oranglain dan terarah kepada oranglain itu.
Menurut Weber tindakan sosial dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang diarahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu, atau waktu yang akan datang.
Weber membedakan tindakan sosial manusia kedalam empat tipe yaitu :
-          Tindakan Rasionalitas Instrumental (Zwerk Rational)
-          Tindakan Rasional Nilai (Werk Rational)
-          Tindakan Afektif atau Tindak yang Dipengaruhi Emosi (Affectual Action)
-          Tindakan Tradisional atau Tindakan karena Kebiasaan (Traditional Action)
 
    III.            Pertanyaan penelitian
 
1)      Apa faktor penyebab dengan adanya komunitas anak punk ini ?
2)      Apa tanggapan para penumpang angkutan umum dengan adanya komunitas seperti ini ?
 
    IV.            Metode
Metode yang saya gunakan adalah "Metode Kualitatif" yaitu metode yang mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, di samping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik. Sebagian datanya dapat dihitung sebagaimana data sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif. Pengamatan dilakukan dengan cara wawancara.
      V.            Area
Penelitian dilaksanakan di Mayestik, Blok M, Jakarta Selatan . penilitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai beberapa anak punk dan penumpang angkutan umum . Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 19 April 2014 .
 

Qayumah_tugas6_Term of Reference

TEMA : KESEJAHTERAAN PEKERJA PEMBERSIH JALAN DI WILAYAH RAGUNAN

A.    LATAR BELAKANG

Pekerja pembersih jalanan bertugas untuk membersihkan jalanan dan menjaga  kebersihan di Negara kita. Pekerja pembersih jalan  memiliki jasa yang sangat besar dalam kehidupan didunia ini, mereka setiap harinnya disibuk kan untuk membersihkan jalanan dan menjaga kebersihan jalanan. Pekerjaan sebagai pembersih jalanan sama dengan pahlawan pada dasarnya namun berbeda dengan pahlawan perang  mereka adalah pahlawan dalam bidang kebersihan.
Sesuai dengan kerja kerasnnya  mereka pantas disebut sebagai  pahlawan karena jasa mereka dalam membersihkan jalanan, menahan baunnya sampah, melawan arusnya lalu lintas dan siap diberbagai cuaca baik panas maupun hujan yang akan mengguyur badannya, namun masih banyak orang yang meremehkan pekerjaan mereka ,beberapa orang masih menganggap pekerjaan yang mereka jalani sebagai pekerjaan yang kotor dan rendahan (miskin), namun seharusnya mereka adalah orang yang kaya dan lebih memiliki banyak harta karena kerja kerasnya, namun sekarang hasil dari pekerjaannya tidak sesuai dengan kerja keras yang mereka lakukan.

B.      PERTANNYAAN

1.      kenapa memilih untuk menjadi seorang pembersih jalanan?

2.      apa harapan anda sebagai pembersih jalanan ?

 

C.     METODE PENELITIAN
Metode Kualitatif
Didalam metode kuantitatif ini mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Penelitian yang saya lakukan yaitu menggunakan metode kualitatif  yaitu dengan wawanca yang saya lakukan  dengan seorang pembersih jalanan.

 

D.    AREA RISET

Penelitian dilaksanakan di sekitar halte Busway  kawasa Kebun Binatang Ragunan Jakarta Selatan ( Halte Busway SMK NEGRI 57 ), melalui wancara dengan seorang pembersih jalanan.

E.     TEORI SOSIOLOGI

Penelitian ini menggunakan teori fakta sosial EMILE DURKHEM karena dalam peneltian yang saya lakukan merupakan suatu paksaan eksternal yang dialami seorang pembersih jalanan. Menurut durkheim Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual. (Durkheim, 1895/111982: 13).

Isra Wahyuni_Tugas6_Term of Reference

​

Antusiasme Para Pemilih Muda Pada Pemilu Calon Legislatif  2014 Dikalangan Mahasiswa

A.                Pendahuluan

 

I.                   Latar Belakang

Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan kegiatan lain-lain.

Dari sekitar 190 juta warga yang memiliki hak pilih dalam pemilu, 7,4 persen di antaranya atau sekitar 14 juta orang adalah generasi muda yang akan memakai hak pilih untuk pertama kalinya, yang berkesempatan menentukan wajah baru Indonesia dalam pemilu 2014. Antusiasme para pemilih pemula begitu terasa. Untuk pertama kali dalam hidupnya, mereka akan menjalankan hak politiknya. Jumlah pemilih kelompok pemula di Indonesia dari pemilu ke pemilu terus bertambah. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih pemula pada Pemilu 2014 mencapai 11 persen dari total 186 juta jiwa pemilih. Jumlah ini meningkat dibandingkan dua pemilu sebelumnya.

Dengan jumlah pemilih muda yang relatif besar membuat mereka sering menjadi rebutan partai politik maupun para politisi untuk mendongkrak perolehan suara.
Para pemilih pemula biasanya antusias untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) karena untuk pertama kali menggunakan hak pilih mereka.

Jiwa muda dan coba-coba masih mewarnai alur berpikir para pemilih pemula, sebagian besar dari mereka hanya melihat momen pemilu sebagai ajang partisipasi dengan memberikan hak suara mereka kepada partai dan tokoh yang mereka sukai/gandrungi. Antusiasme mereka untuk datang ke TPS tidak bisa langsung diterjemahkan bahwa kesadaran politik mereka sudah tinggi. Kebanyakan pemilih pemula baru sebatas partisipasi parokial semata. Mereka masih membutuhkan pendewasaan politik sehingga mampu berpartisipasi aktif dan dapat berkontribusi positif dalam upaya menjaga dan menyukseskan demokratisasi.

 

II.                Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar antusiasme para pemilih muda dalam pemilihan umum.

III.                  Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah agar peneliti mengetahui seberapa besar partisipasi para pemilih muda dalam pemilihan umum, khususnya dalam pemilu calon legislatif, yang menurut keterangan KPU suara pemilih muda ini menentukan kemenangan suatu partai politik, yang jumlah pemilihnya meningkat dibanding  dua pemilu sebelumnya.

IV.                  Batasan Masalah

Perolehan data dalam penelitian ini terbatas, hanya pada hasil wawancara dari beberapa mahasiswa/i Universitas Islam Negeri Jakarta, khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan beberapa pelajar yang sudah mendapatkan hak pilih.

 

 

B.                 Teori Penelitian

Dalam penelitian ini, teori sosiologi yang mendukung riset lapangan adalah teori Tindakan Sosial Max Weber. Menurut Weber teori tindakan sosial adalah suatu  tindakan  individu sepanjang  tindakan  itu mempunyai makna atau arti subjektif  bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Suatu  tindakan  individu  yang  diarahkan  kepada  benda  mati  tidak  masuk  dalam  kategori tindakan sosial. Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan sosial ketika  tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada   orang  lain (individu lainnya). Meski tak jarang tindakan  sosial  dapat  berupa  tindakan  yang  bersifat membatin  atau  bersifat  subjektif  yang mungkin terjadi  karena  pengaruh  positif  dari  situasi  tertentu.  Bahkan terkadang tindakan dapat berulang kembali  dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu

.

 

C.                Pertanyaan Penelitian

1. Sebagai pemilih pemula, seberapa besar partisipasi Anda dalam pemilihan umum, khususnya pada pemilu calon legislatif?

 

2.  Faktor apa yang menyebabkan Anda, harus andil dalam menggunakan hak suara  anda dalam pemilu?

 

 

D.                Metode Penelitian Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kualitatif, karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka ataupun ukuran matematis lainnya. Yakni penelitian dilakukan dengan menggunakan pengumpulan data hassil wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi.

 

 

E.                 Area Riset

Lokasi penelitian dilaksanakan di kampus Universitas Islam Negeri Jakarta. Untuk memperoleh data, objek penelitiannya yaitu dengan mewawancarai beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta, khususnya Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Penelitian dilaksanakan setelah pengajuan term of refrence ini.

 

 

​

kartika al ashzim_tugas5_TOR

I.                   
Perilaku PKL KS Tubun terhadap penolakan relokasi
            Latar belakang
Maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang kembali memilih berjualan di jalan berdampak luas. Meski Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah melakukan beragam cara untuk mendorong para PKL agar bersedia berjualan di gedung-gedung pasar. Banyak cara dilakukan Pemprov DKI, yakni menggratiskan sewa kios selama enam bulan, menggelar hiburan musik di tempat-tempat yang dijadikan relokasi, menggelar event promosi yang mampu menarik minat pengunjung.
Salah satu lokasi yang menjadi tempat penelitian saya yaitu di KS Tubun, Petamburan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah merelokasi para PKL KS Tubun ke Gedung PD Pasar Jaya Slipi. Pada awalnya, para PKL KS Tubun bersedia direlokasi ke pasar slipi. Tetapi dalam proses perelokasian, para PKL merasa tidak betah. Sehingga pada kenyataannya, para PKL kembali menjajakan dagangannya ke badan jalan dan trotoar. Hal itu mengakibatkan arus lalu lintas di kawasan KS Tubun menjadi macet. Budaya PKL berjualan di pinggir jalan, itu karena mereka benar-benar merasakan keuntungan yang diperoleh. Dibandingkan berjualan di gedung-gedung pasar yang telah disiapkan oleh Pemprov DKI.
Sampai saat ini, para PKL masih berjualan disekitar Museum Tekstil. Itu karena para PKL sangat membutuhkan pendapatan untuk menopang kehidupan keluarganya. Sebenarnya para PKL bukan tidak mau di relokasi, melainkan menginginkan tempat yang memungkinkan serta memadai.

II.                  PERTANYAAN PENELITIAN
1.       Apakah yang menjadi alasan para PKL di KS Tubun tidak mau direlokasi ke pasar Slipi?
2.       Apakah perilaku PKL KS Tubun memberikan dampak terhadap pengguna jalan ?
3.       Apakah para PKL KS Tubun sudah merasa puas dengan perelokasian lokasi ke pasar Slipi?
4.       Apakah perelokasian lokasi ini dapat menjadi solusi terbaik untuk para PKL KS Tubun?
 
III.                 Landasan teori
Dalam penelitian ini menggunakan teori karl marx.
Teorinya tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat dasar manusia. Dengan kata lain, manusia pada hakikatnya adalah makhluk social. Mereka perlu bekerja bersama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.
 
IV.                Metode
Dalam penelitian ini, saya menggunakan metode kualitatif.
Metode kualitatif secara umum sifatnya:
1. Menggali informasi secara mendalam
2. Menjawab pertanyaan mengapa
3. Mengetahui tentang motivasi, persepsi, perilaku, sikap dan kepercayaan
4. Memungkinkan untuk mendapatkan hal2 yang tersirat
5. Mendapatkan suatu hipotesa
tehnik yang digunakan berupa wawancara mendalam, fokus group discussion dan observas
 
V.                  AREA RISET
Tempat : Jalan KS Tubun
Waktu : 20 s/d 26 April 2014
Objek : para PKL KS Tubun
Narasumber : Ketua RT daerah setempat
 

Cari Blog Ini