Sabtu, 03 Mei 2014

Erby Eko Y_Tugas 5 Perbaikan_Laporan Penelitian Lapangan

Nama:Erby Eko Y

NIM:1113054100008

Kelas:Kessos 2A

Tema; Kesadaran Masyarakat Terhadap Kebersihan di Kranggan

 

A. LATAR BELAKANG

Kata sampah pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Jika mendengar kata sampah, pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah setumpuk kotoran yang menimbulkan aroma busuk yang sangat menyengat. Sampah diartikan sebagai material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses yang cenderung merusak lingkungan di sekitarnya.

Unsur-unsur yang mempengaruhi bertambahnya jumlah sampah adalah aktivitas manusia, jumlah penduduk, dan sistem pengelolaan sampah. Pertama, sampah disebabkan oleh aktivitas manusia. Jumlah sampah tidak sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang yang kita gunakan sehari-hari. Kedua, jumlah penduduk,laju pertumbuhan penduduk yang semakin pesat di kota-kota besar, khususnya Kranggan juga menyebabkan peningkatan dari jumlah sampah. Ketiga, sistem pengelolaan sampah,sistem pengelolaan sampah, khususnya di Kranggan juga perlu mendapat perhatian khusus. Timbunan sampah yang semakin luas, terbatasnya lahan yang akan difungsikan sebagai tempat pengolahan sampah menjadi aspek yang perlu diperhatikan oleh semua lapisan masyarakat. Problematika seperti ini timbul karena tidak seimbangnya produksi sampah dengan pengolahannya dan semakin menurunnya daya dukung alam sebagai tempat pembuangan sampah.

Kesadaran masyarkat tehadap kebersihan masih sangat kurang,masih banyak yang mengesampingkan tentang kebersihan. Seharusnya masyarakat sadar dengan kebersihan karena kebersihan sangat mencermikan pribadi mereka masing-masing.

 

B. TEORI SOSIOLOGI YANG MENDUKUNG RISET LAPANGAN

Teori yang digunakan adalah teori Emil Durkheim. Dengan metode teori mengamati kelompok masyarakat,dengan cara observasi dan menjelaskan secara narasi.

 

C. PERTANYAAN PENELITIAN

1. Bagaimana cara dalam mengelola sampah,agar tidak terbuang sembarangan?

2. Apa yang membuat kesadaran terhadap lingkungan itu kurang?

 

C. METODE PENELITIAN

Metode yang saya gunakan yaitu metode kualitatif karena mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang di peroleh. Metode ini digunakan, karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.

 

E. AREA RISET

Penelitian dilaksanakan di daerah Cibubur tepatnya di sebuah perumahan Kranggan Permai,objeknya adalah kebersihan,subjeknya adalah kelompok masyarakat,waktu penelitian dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 2 Mei 2014.

Hasil Laporan Penelitian

Program untuk membuat masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan sudah dilakukan dengan berbagai cara,tetapi masalah ini masih saja diabaikan oleh masyarakat,khususnya yang berada pada daerah Perumahan Kranggan ini.

Masyarakat masih saja tidak peduli akan sampah yang ada disekitar mereka padahal sampah ini akan menyebabkan masalah kesehatan dan bau yang tidak enak,bila dibiarkan terlalu lama. Bukan sekedar masalah pemerintah saja,tetapi ini bisa menjadi masalah bersama.

Bila masyarakat bisa kreatif, sampah bisa saja dijadikan uang atau barang yang lebih berguna, cenderung bisa dijadikan pekerjaan oleh para masyarakat yang tidak memeliki pekerjaan. Mereka bisa mengelola sampah-sampah ini menjadi lebih berharga.

Pertanyaan Penelitian

1. Apakah masyarakat bisa sadar akan lingkungan disekitar mereka?

2. Bagaimana cara yang harus dilakukan untuk bisa membersihkan sampah-sampah ini?

Narasumber

Ketua RW dan Ketua RT

Dinara Oktaviana_Tugas 5 (revisi)_Laporan Penelitian

ANGGAPAN MASYARAKAT DENGAN ADANYA TAMAN SPATHODEA

KEBAGUSAN JAKARTA SELATAN

 

       I.            Latar Belakang

Kota Jakarta sudah sesak dengan adanya gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, berdiri tegak besi dan beton sebagai penyanggah, bahkan berlapiskan kaca mengkilap menyilaukan mata dan dapat memantulkan kembali cahaya matahari. Ruang terbuka hijau di Jakarta semakin sulit dicari dan semakin besar juga pemerintah atau masyarakat memutar otak untuk menemukan lahan hijau. Di satu tempat kawasan Kebagusan tepat di pinggir jalan ada lahan kosong dan luas dijadikan tempat pembuangan sampah yang tak terawat, tak terjamah dan terabaikan, tentu itu sangat mengganggu masyarakat sekitar bahkan pengguna jalan yang hanya sekedar lewat. Tetapi, kini tempat pembuangan sampah itu telah dibenahi dan disulap oleh Dinas Pertamanan Provinsi DKI Jakarta menjadi taman yang rasanya wajib dikunjungi, yaitu Taman Spathodea. Taman ini selesai pada pertengahan 2012 cukup singkat jika mengingat awal pembuatannya 2011. Di wilayah Kebagusan memang banyak perumahan elite bergaya Town House dan dipadati oleh pemukiman warga asli sana. Jadi tidak terlalu berlebihan jika hadirnya Taman Spathodea memberi nafas lega kepada masyarakat yang sesak akan padatnya Jakarta. Taman Spathodea berperan penting di kawasan tersebut karena selain menjadi ruang terbuka hijau Jakarta, taman ini juga menjadi tempat rekreasi dan tempat masyarakat berinteraksi sosial dan juga sebagai resapan air. Masyarakat sangat antusias terhadap taman ini, dapat dilihat dari keadaan taman yang tak pernah sepi pengunjung mulai matahari terbit hingga terbenam.

 

-          Mengapa penting untuk diteliti

Penelitian ini menjadi penting karena mengingat sebelum berdiri Taman Spathodea, disalah satu kawasan Kebagusan ada tempat pembuangan sampah. Hal ini membuat ada rasa ketidaknyamanan masyarakat sekitar. Penting untuk diteliti agar dapat mengetahui kebijakan pemerintah dengan mendirikan Taman Spathodea suatu kebijakan yang positif atau sebaliknya, negatif.

-          Asumsi

Adanya ruang terbuka hijau menjadikan suatu wilayah lebih asri dan dapat dijadikan tempat interaksi sosial bagi masyarakat.

 

    II.            Teori Sosiologi

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori fakta sosial yang dipelopori oleh Emile Durkheim dalam karyanya The Rule of Sociological Method. Fakta sosial dibagi dua tipe, yaitu material dan non-material. Sedangkan dalam penelitian ini memakai teori fakta sosial material, karena Fakta sosial material dicontohkan Durkheim seperti gaya arsitektur : rumah adat, istana, tempat ibadah , bentuk teknologi: gadget, obat-obatan, satelit, transportasi, hukum perundang-undangan: hukum adat, hukum dagang, hukum pidana perdata.

 

 III.            Pertanyaan Penelitian

1)      Bagaimana masyarakat menanggapi adanya ruang terbuka hijau di kawasan ini?

2)      Bagaimana anggapan masyarakat jika pemerintah mendirikan taman lagi ?

 

 IV.            Metode Lapangan

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif, karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati fenomena yang tengah terjadi di masyarakat yang tidak dapat diukur dengan angka atau uji statistik.

 

    V.            Area Riset

Penelitian dilaksanakan di Taman Spathodea, Kebagusan, Jakarta Selatan dan mewawancarai beberapa masyarakat  diantaranya 2 mahasiswa dan seorang ibu yang sedang berkunjung ke taman. Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2014.

 

 VI.            Pertanyaan Lapangan

1)      Menurut And ataman Spathodea tempat yang seperti apa ?

2)      Bagaimana keamanan dan kebersihan di taman ini ?

3)      Jika datang ke taman biasanya apa yang dilakukan atau ada tujuan khusus ?

4)      Apakah fasilitas disini sudah cukup atau ada yang perlu ditambah ?

 

VII.            Hasil Laporan Penelitian

Pembangunan Taman Spathodea mendapat respon positif bagi masyarakat. Kehadiran taman ini memberikan nuansa dan pemandangan baru di daerah Kebagusan, Jakarta Selatan. Bagi masyarakat pembangunan taman ini letaknya strategis, karena tepat di pinggir jalan jadi siapa saja dapat berkunjung kesana. Selain itu, letaknya juga dekat dengan minimarket, SPBU dan masjid. Fasilitas yang diberikan Taman Spathodea cukup memadai. Disana ada 2 danau buatan yang diisi dengan ikan-ikan air tawar, toilet, jogging track kurang lebih 100 meter dan 2 area bermain anak seperti ayunan, perosotan, jungkat-jungkit dan bak pasir. 2 area bermain anak ini terletak di depan dan belakang taman, karena luas taman sekitar 1 hektar dimana tidak cukup jika hanya ada 1 area bermain. Sehingga masyarakat yang datang bersama anak tidak merasa bosan, dengan adanya area bermain yang memanjakan anak-anak. Biasanya, masyarakat terutama para orang tua yang bekunjung ke sini bersama anak-anaknya membawa mainan seperti bola atau layang-layang . Ada juga yang membawa hewan peliharaan sekedar untuk jalan-jalan sore. Sering terlihat beberapa masyarakat yang membawa sepeda untuk mengitari taman. Taman Spathodea kurang dari segi pencahayaan. Kurangnya pencahayaan membuat taman terlihat tampak gelap sekali di malam hari. Dikhawatirkan ada suatu kejahatan seksual atau kriminalitas lainnya. Maka dari itu masyarakat berharap pemerintah menambah pencahayaan agar apa yang dikhawatirkan tidak benar-benar terjadi. Selain kurang pencahayaan, taman ini juga butuh tempat sampah yang lebih. Mengingat luas taman 1 hektar, tidak cukup dengan tempat sampah yang sekarang tersedia. Kurangnya tempat sampah membuat taman agak kotor bahkan di danau ada botol plastik. Itu akan mencemari danau dan mengganggu kehidupan di bawah air. Dari keseluruhan Taman Spathodea hampir menyentuh sempurna. Mendapat respon positif dari Taman Spatodhea, pemerintah mendirikan taman lagi di samping Taman Pemakaman Umum Jagakarsa yag bernama Taman Matoa. Sama halnya dengan Taman Spathodea, Taman Matoa pun mendapat perhatian masyarakat, padahal taman ini lebih kecil dari Spathodea dan belum selesai semua pembangunannya.

 

Profil Narasumber:

Nama               : Indah Pusparita

Pekerjaan         : Mahasiswi

Umur               : 18

 

Nama               : Dea Herdiana Utami

Pekerjaan         : Mahasiswi

Umur               : 17

 

Nama               : Ningsih

Pekerjaan         : Ibu rumah tangga

Umur               : 42

 

 

 

 

Julia Rahmania_Tugas 5 Perbaikan_Hasil Penelitian

PERBAIKAN
 
JUDUL           : PROFIL PENERIMA BERAS MISKIN (RASKIN) DI SEKITAR DAERAH SAWANGAN
 
NAMA            : JULIA RAHMANIA
NIM                : 1113054100012
JURUSAN      : KESEJAHTERAAN SOSIAL
KELAS           : 2A
 
I.                   LATAR BELAKANG
 
Raskin adalah salah satu program pemerintah untuk membantu masyarakat yang miskin dan rawan pangan, agar mereka mendapatkan beras untuk kebutuhan rumah tangganya. Penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat miskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin.
Tidak semua masyarakat Indonesia yang berhak atas raskin, hanya mereka yang tergolong miskin dan rawan pangan yang dapat menerima raskin. Untuk memilih kelompok yaitu sesuai criteria yang ditetapkan data keluarga miskin dan rawan pangan dikumpulkan dari berbagai sumber seperti kelurahan, LSM, dll.
Biaya hidup yang semakin naik dari tahun ke tahun tetapi pendapatan yang stagnan (bahkan minim) dari masyarakat marginal atau miskin adalah asusmi awalnya.
II.                PERTANYAAN PENELITIAN
1.      Apa yang menyebabkan raskin ini ada?
2.      Bagaimana cara mensosialisasikan kepada warga tentang adanya raskin?
III.             METODE PENELITIAN 
Menggunakan Metode Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis . Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu "teori".
IV.             Teori Yang Digunakan
Dalam penelitian ini, saya menggunakan teori sosiologi klasik yaitu emile durkheim. Metode yang digunakan adalah observasi dan hasil dari penelitian tersebut beruba narasi.
V.                Area Riset
Ø  Kegiatan penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sawangan-Depok.
Ø  Objek                    : Beras Miskin ( Raskin )        
Ø  Subjek                   : Kelompok
Ø  Narasumber           : Pekerja di Kelurahan Sawangan-Depok
                               Salah satu warga masyarakat penerima raskin yang berada    di sekitar Sawangan-Depok
Ø  Waktu                   : Penelitian pertama berlangsung pada hari Jum'at 25 April 2014 dan akan dilanjutkan pada hari                                        Rabu 30 April 2014
VI.             Output penelitian
Program Raskin adalah program nasional yang bertujuan membantu rumah tangga miskin dalam memenuhi kecukupan kebutuhan pangan dan mengurangi beban finansial melalui penyediaan beras bersubsidi. Program ini merupakan kelanjutan Program Operasi Pasar Khusus (OPK) yang diluncurkan pada Juli 1998. Pada 2013, Program Raskin menargetkan penyediaan 1,9 juta ton beras bagi 15,8 juta rumah tangga miskin dengan total biaya Rp 6,28 triliun. Setiap rumah tangga menerima 4 liter beras setiap bulan dengan harga Rp10.000 per 4 liter di titik distribusi. Penyaluran beras hingga titik distribusi menjadi tanggung jawab Bulog, sementara dari titik distribusi kepada rumah tangga sasaran menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
Kajian ini menggunakan pendekatan tinjauan dokumen dan analisis data sekunder (metaevaluasi) yang didukung dengan wawancara informan kelurahan dan masyarakat sekitar sawangan; dan studi lapangan. Berikut ini adalah temuan utama hasil kajian.
Dari sisi penyaluran hingga titik distribusi, Badan Urusan Logistik (Bulog) telah melaksanakan tugasnya dengan relatif baik dan sesuai dengan pedoman program. Namun, penilaian keberhasilan program tidak dapat dilakukan secara parsial karena Program Raskin merupakan sebuah kesatuan program untuk menyampaikan beras bersubsidi kepada rumah tangga miskin. Permasalahan pelaksanaan Program Raskin banyak terjadi dari titik distribusi hingga rumahtangga penerima.
Menurut Pedoman Umum (Pedum) Raskin, keberhasilan Program Raskin diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator 6T, yaitu tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepatkualitas, dan tepat administrasi. Secara umum, hasil kajian terhadap pelaksanaan Program Raskin menunjukkan bahwa efektivitas program masih relatif lemah. Hal ini ditandai oleh sosialisasi dan transparansi yang kurang memadai; target penerima, harga, jumlah, dan frekuensi penerimaan beras yang kurang tepat; biaya pengelolaan program yang tinggi; pelaksanaan pemantauan yang belum optimal; dan mekanisme pengaduan yang kurang berfungsi.
            Sosialisasi program merupakan salah satu kunci keberhasilan sebuah program, namun kegiatan penting ini tidak diatur secara rinci dalam Pedum Raskin. Hal ini menjadi salah satu penyebab bervariasinya kegiatan sosialisasi tingkat aparat antarwilayah dan lemahnya sosialisasi kepada masyarakat.
            Dapat disimpulkan dari tinjauan dokumen dan kunjungan lapangan bahwa sosialisasi kepada masyarakat yang mengandalkan penyebaran informasi informal dari aparat desa/kelurahan dan petugas pembagi merupakan salah satu titik lemah program. Umumnya masyarakat dan penerima manfaat tidak memperoleh informasi program secara menyeluruh. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak mengetahui informasi umum, seperti arti Raskin, jatah beras yang seharusnya diterima, harga beras di titik distribusi, dan frekuensi penerimaan per tahun. Namun demikian, di wilayah yang dikunjungi, umumnya masyarakat sudah mengetahui esensi program sebagai bantuan beras dari pemerintah untuk masyarakat miskin.
            Tinjauan dokumen dan kunjungan lapangan menunjukkan bahwa transparansi program masih lemah, baik tentang ketersediaan informasi umum program, daftar penerima manfaat, maupun tentang penentuan harga.
            Secara umum pendistribusian beras Raskin masih mengalami beberapa masalah, seperti pagu rumah tangga miskin (RTM) sasaran lebih rendah daripada jumlah total RTM, penargetan kurang akurat, jumlah beras dan frekuensi penerimaan oleh penerima manfaat sebagian besar kurang dari ketentuan, dan harga yang dibayar penerima manfaat tidak selalu tepat.
            Pedum Raskin 2005-2009 menyatakan bahwa penentuan rumah tangga sasaran dilakukan
melalui musyawarah desa (mudes) dengan mengacu pada data KPS dan KS-1 BKKBN. Namun pada Pedum Raskin 2010–2014, tidak ada ketentuan bahwa mudes harus mengacu pada data RTM BPS. Apalagi dalam bab "Penetapan Penerima Manfaat" tidak disebutkan bahwa penerima manfaat harus rumah tangga miskin. Tidak adanya ketentuan tersebut dapat dijadikan dasar pembenaran petugas pelaksana untuk membagikan beras Raskin tidak hanya kepada RTM atau bahkan dibagi rata, asal keputusannya diambil melalui mudes.
            Menurut tinjauan dokumen, penargetan merupakan poin utama kelemahan Program Raskin karena tidak seluruh rumah tangga miskin menerima beras Raskin dan banyak rumah tangga tidak miskin yang menerimanya. Hasil analisis data yang saya teliti menyimpulkan kondisi yang sama, yakni:
 
a.       Beras Raskin diterima oleh semua kelompok rumah tangga berdasarkan tingkat kesejahteraan (kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita). Rumah tangga dari kuintil 1 dan 2 yang merupakan kelompok paling tidak sejahtera hanya mencapai 53% dari total penerima.
b.      Korelasi antara penerima Raskin dan status rumah tangga miskin antara 2013 dan 2014 mengalami peningkatan, namun nilainya tetap rendah, yakni dari 40% menjadi 48%.
 
Alokasi beras untuk setiap rumah tangga mengalami beberapa kali perubahan. Tinjauan dokumen menunjukkan bahwa ketika alokasi beras ditetapkan 4 liter/penerima raskin. Harga yang dibayar oleh penerima raskin berkisar Rp.10.000/4 liternya. Hasil tinjauan berbagai dokumen menyatakan bahwa penerima raskin selalu menerima beras Raskin setiap bulan sekali.
Untuk pelaksanaan Program Raskin periode Juni-Desember 2014, Tim Koordinasi Raskin Pusat telah mencetak daftar nama dan alamat RTS-PM dan mengirimkan ke setiap desa/kelurahan untuk ditempelkan di kantor desa/kelurahan. Dengan cara ini, RTS-PM dan masyarakat umum dapat mengetahui rumah tangga mana saja di desa/kelurahan tersebut yang berhak menerima beras Raskin.  Menurut tinjauan lapangan, masyarakat belum merasa sejahtera. Karena kualitas beras yang diberikan masih rendah. Raskin tidak boeh diperualbelikan untuk orang mampu.
Pertanyaan penelitian yang diajukan kepada wakil anggota dari kelurahan  :
1.      Apa yang menjadi tujuan utama dalam program raskin?
2.      Bagaimana tingkat penetapan penerima maanfaat raskin?
3.      Adakah profil atau ketentuan khusus untuk penerima raskin?
4.      Bagaimana cara menentukan tingkat keberhasilan raskin?
5.      Bagaimana tingkat kesejahteraan warga dengan adanya program raskin ini?
6.      Adakah jadwal khusus untuk penerimaan raskin ini?
7.      Bagaimana system pengelolaan raskin?
8.      Bagaimana cara mensosialisasikan kepada warga tentang adanya raskin?
9.      Bagaimana pendistribusiannya?
10.  Apakah Raskin itu berbayar atau tidak?
11.  Bagaimanakah tanggapan warga tergadap kualitas beras raskin?
12.  Bolehkah raskin diperjualbelikan untuk orang yang mampu?
 
Pertanyaan penelitian kepada salah satu warga sawangan :
1.      Bagaimana tingkat kesejahteraan warga dengan adanya program raskin ini?
2.      Apakah warga sudah benar-benar tahu apa itu raskin?
3.      Apakah raskin itu berbayar atau tidak?
4.      Bagaimana tingkat kualitas berasnya?
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Trs: Agung Laksono Wibowo _Tugas 6_TOR & Hasil Penelitian Lapangan


Pada Sabtu, 3 Mei 2014 16:38, Agung Laksono <agunglaksono155@yahoo.com> menulis:
 
 
Dampak Ditutupnya Terminal Lebak Bulus Bagi Perekonomian Para Supir Bus Travel
   I.                  Latar Belakang
         Terminal Lebak Bulus adalah terminal bus yang terletak di Kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Terminal bus ini merupakan salah satu terminal bertipe A yang ada di Provinsi DKI Jakarta ini. Terminal Lebak Bulus memiliki keberfungsian sebagai sarana penyedia transportasi umum yang  terbagi menjadi dua, yaitu untuk melayani penumpang dengan tujuan dalam dan luar kota. Terminal ini menjadi terminal tujuan awal atau akhir dan juga terminal yang dilewati untuk beberapa rute perjalanan. Dan terminal ini juga bersebelahan dengan Stadion Lebak Bulus, namun sekarang sudah tidak dapat diberfungsikan lagi sebagaimana semestinya, karena adanya proyek pembangunan MRT.
          Terkait dengan permasalahan pada tema penelitian ini, pada dasarnya bersumber pada perencanaan Proyek MRT. Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta adalah sebuah proyek jangka panjang pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam upaya menanggulangi kemacetan yang sudah menjadi hal yang lumrah dialami oleh seluruh masyarakat Ibukota, Jakarta. Namun, besar harapan segera dapat terselesaikan proyek MRT ini sebagai sarana angkutan transportasi missal yang lebih modern, serta ramah lingkungan ini, demi mengurangi angka kemacetan di DKI Jakarta.
 
Latar Belakang Proyek Transportasi Massal Cepat Berbasis Rel MRT
         Perkiraan Jakarta akan macet total : saat ini pertumbuhan jalan di DKI Jakarta kurang dari 1 persen per/tahun dan setiap hari, setidaknya ada 1000 lebih unit kendaraan bermotor baru turun ke jalan di Jakarta (Data DinasPerhubungan DKI Jakarta). Berdasarkan hasil survey studi Japan International Corporation Agency (JICA) 2004, menyatakan bahwa bila tidak dilakukan perbaikan pada sistem transportasi, maka diperkirakan lalu lintas Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP II)).
          Adapun kerugian ekonomi yang dapat timbul akibat dari kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitianYayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara, berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukkan bahwa bila sampai 2020, tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi, maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun. Polusi udara akibat kendaraan bermotor telah berdampak pada 80 persen polusi di Jakarta. MRT Jakarta digerakkan oleh tenaga listrik, sehingga tidak menimbulkan gas emisi CO2 di perkotaan. Berdasarkan riset tersebut, makajelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan transportasi massal yang lebih handal serta teknologi yang jauh lebih actual, seperti  MRT yang dapat menjadi solusi alternatif transportasi massal yang ramah lingkungan bagimasyarakat.
          Membangun sistem jaringan MRT, bukanlah hanya mengenai urusan kelayakan ekonomi dan finansial saja, melainkan lebih dari itu. Pembangunan MRT pada dasarnya mencerminkan visi sebuah kota. Kehidupan dan  aktivitas ekonomi sebuah kota antara lain ; tergantung dari seberapa mudah warga  kota melakukan perjalanan/mobilitas dan seberapa sering mereka dapat melakukannya keberbagai tujuan dalam kota. Tujuan utama dibangunnya sistem MRT ialah memberikan kesempatan kepada warga kota untuk meningkatkan kualitas, serta kuantitas perjalanan / mobilitasnya menjadi lebih berperadaban,praktis, aman, nyaman, terjangkau dan lebih ekonomis, serta efisien waktu perjalanannya.
 
A.    Penting Penelitian
   Adapun beberapa alasan mengapa saya mengangkat tema penelitian ini yakni yang terkait dengan Pembangunan Proyek MRT yang berdampak pada ditutupnya Terminal Lebak Bulus. Sebenarnya Proyek Pembangunan MRT ini, telah lama dirancang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Gubernur Ir. Joko Widodo dan Wakil Gubernur, Basuki Tjahya Purnama, yang telah menggagas, serta berkontribusi besar terhadap pelaksanaan Proyek MRT ini sehingga dapat terwujud.
   Terminal Lebak Bulus merupakan salah satu jantung perekonomian di DKI Jakarta ini, sebab di terminal ini digunakan sebagai salah satu sentral/pusat transit para pelaku urbanisasi yang datang ke Jakarta. Dengan ditutupnya terminal ini, maka secara otomatis telah memberikan dampak yang amat besar bagi para pelaku ekonomi disana yang meliputi para supir travel, pedagang, maupun masyarakat di sekitarnya. Di satu sisi, Pemprov DKI memiliki niat yang mulia yakni dengan mengurangi, bahkan berusaha mengentaskan kemacetan di ibukota ini dengan perencanaan pembangunan proyek MRT.
B.     Asumsi
   Namun pada realitas sosialnya, penutupan terminal ini telah menghentikan laju perekonomian bagi seluruh supir bus travel serta pedagang, maupun masyarakat di sekitarnya yang memperoleh mata pencaharian di Terminal Lebak Bulus ini. Karena melalui mata pencaharian di terminal tersebut mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, terlebih lagi di zaman globalisasi ini terbilang sulit mencari pekerjaan, sebab semakin ke sini, persaingan semakin sulit. Terlebih lagi, mereka hanya mengenyam pendidikan yang terbilang rendah.
 
    II.               Metode Penelitian
-         Kualitatif
   Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yaitu suatu metode yang mengarah kepada analisis data yang mengutamakan keterangan penelitian yang ada berdasarkan kenyataan yang ada, dengan cara mengamati dan wawancara dapat menyimpulkan apa saja yang menjadi pembahasan pola-pola pekerjaan yang terjadi di masyarakat. Dan mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang telah diperoleh, sebagai jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistika atau bentuk hitungan lainnya.
   III.           Teori
Teori yang digunakan pada observasi ini adalah teori Emile Durkheim, karena subjek yang diteliti ialah kelompok supir bus travel terminal Lebak Bulus. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah pemaparan dari pelbagai penemuan observasi yang telah ditelaah.
 
    IV.           Pertanyaan
-         Penelitian
1.      Bagaimana kronologi peristiwa hingga ditutupnya Terminal Lebak Bulus ?
2.      Bagaimana reaksi dari berbagai pihak yang merasa dirugikan terkait penutupan Terminal Lebak Bulus ini ?
 
   Awal mula, kronologi dari penutupannya Terminal Lebak Bulus dikarenakan oleh Pembangunan Proyek Transportasi Massal MRT yang dicanangkan oleh PemProv DKI. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur, Jokowi dan Ahok untuk menutup Terminal Lebak Bulus, serta memberhentikan seluruh aktifitas perekonomian maupun perhubungan di Terminal Lebak Bulus. Hal ini diberlakukan, demi mewujudkan program Jokowi-Ahok yakni mengurangi angka kemacetan di Provinsi DKI Jakarta ini dengan memperbanyak jumlah transportasi umum dan salah satunya dengan MRT ini. Hal ini tak pelak telah menimbulkan reaksi dahsyat dari para supir bus travel, beserta para kernet mereka, maupun warga sekitar kawasan Terminal Lebak Bulus yang menolak Penutupan Terminal Lebak Bulus ini untuk Pembangunan Proyek MRT. Berbagai langkah demonstrasi unjuk rasa maupun blokade jalan raya, mereka lakukan di sepanjang kawasan terminal tersebut sebagai upaya penolakan keras terhadap kebijakan Jokowi – Ahok tersebut, karena telah memutus mata pencaharian mereka dan kurangnya sosialisasi terlebih dahulu atas tindakan kebijakan yang telah mereka lakukan.
 
 
-         Lapangan
1.      Siapa saja pihak yang dirugikan akibat pembangunan proyek MRT ini?
2.      Apakah dampak yang ditimbulkan dari ditutupnya terminal Lebak Bulus ini bagi perekonomian para bus travel ?
3.      Apakah pembangunan proyek MRT ini sesuai dengan AMDAL yang berlaku pada lingkungan sekitar terminal?
4.      Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan ini demi kesejahteraan para supir bus travel serta kenyamanan semua pihak yang dirugikan ?
 
   Adapun berbagai pihak yang dirugikan akibat pembangunan proyek MRT yang dicanangkan oleh Pemprov DKI ini ialah diantaranya para supir bus travel beserta para kernet mereka, karena telah memutus mata pencaharian mereka sehari-hari, dan di samping itu penduduk sekitar terminal Lebak Bulus yang merasa terganggu akibat pengadaan proyek MRT ini. Karena proyek ini dapat mengorbankan tempat tinggal mereka yang digusur untuk perluasan wilayah pengadaan proyek MRT dan pedagang yang biasa berjualan di terminal ini turut serta merasa dirugikan sebab dapat memutuskan sumber pereekonomian mereka.
   Secara otomatis, di samping adanya dampak positif dari pembangunan proyek ini, yakni untuk mengurangi angka kemacetan di ibukota, namun terdapat pula banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari pengadaan proyek ini, yaitu telah memutus perekonomian para bus travel, beserta para kernet mereka, pedagang, maupun warga sekitarnya karena penggusuran tempat tinggal mereka untuk perluasan wilayah proyek MRT.
   Pada dasarnya pembangunan proyek MRT ini belum berbasis secara AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), karena berdasarkan Perpu Kementrian Lingkungan Hidup belum memenuhi segala kriteria yang ada dalam prosedur yang ada di dalamnya yakni mengidentifikasi dampak dari rencana usaha/kegiatan, menguraikan rona lingkungan awal, memprediksi dampak penting, dan evaluasi perumusan masalah RKL/RPL.
 
   V.               Kesimpulan
    Terlepas dari hal itu semua, harus ada langkah solusi yang kongkrit pada permasalahan ini, pertama dibutuhkan sosialisasi yang intensif oleh pemerintah kepada masyarakat, agar tidak terulangnya kembali permasalahan seperti ini dikemusian hari. Kedua, perlu adanya jaminan sosial bagi warga sekitar terminal yang tempat tinggalnya tergusur akibat pembangunan proyek ini, yakni dengan mengganti rugi, maupun menggantikan tempat tinggal mereka di tempat lain. Ketiga, Pemprov DKI harus mengambil langkah yang cepat untuk berdiskusi dengan para bus travel dan kernet untuk memutasikan mereka ke terminal lain yang ada di wilayah Jakarta ini sebagai upaya mensejahterakan kehidupan mereka dan bukannya memiskinkan mereka.
 
Profil Narasumber :
Nama             : Ahmad Badrun
Usia                : 52 tahun
Daerah Asal   : Indramayu, Jawa Barat
Profesi            : Supir Bus Travel
Lama Profesi : 25 tahun

Nama : Agung Laksono Wibowo
NIM   : 1113054100004
Prodi  : Kesejahteraan Sosial
Kelas  : 2A
 
 
 


Cari Blog Ini