Senin, 12 Mei 2014

Hendri Afriliansyah_Tugas6_Supir Angkot Ugal Ugalan Di Jalan

HENDRI AFRILIANSYAH_TUGAG 6_TOR DAN PENELITIAN KE 2

TEMA:PENYEBAB SUPIR ANGKOT UGAL-UGALAN DIJALAN

A. LATAR BELAKANG 
                Saat ini yang terbayangkan di benak kita saat mendengar
supir angkot yang ugal-ugalan adalah pandangan negatif. Gambaran ini ada benarnya jika kita melongok kawasan pasar jum'at.  Problematika ini hampir ada di setiap kota-kota besar di Indonesia dan  tidak kurang upaya pemerintah memberi sangsi terhadap supir yang ugal-ugalan, masyarakatpun sebenarnya menginginkan hal yang sama.  Namun hal tersebut ternyata tidak mudah untuk mewujudkannya, karena beberapa terkendala beberapa kepentingan.

B. TEORI RISET LAPANGAN 
Teori yang digunakan dalam pen
elitian ini yaitu menggunakan teori Emiel Durkheim.


C. PERTAYAAN PENELITIAN 
a. Apa yang menyebabka
n supir-supir ugal-ugalan dijalan?
b.
Menurut anda apa yang dilakukan ini melanggar peraturan lalulintas atau tidak?
c. Menurut anda jalan yang nyaman itu seperti apa?


D. METODE 
                Adapun metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Metode ini  mengarah kepada analisis data yang mengutamakan keterangan penelitian yang ada berdasarkan kenyataan yang ada. Cara metode ini yaitu dengan cara mengamati, menganalisis dan mewawancarai sehingga dapat menyimpulkan apa saja yang menjadi pembahasan pola-pola pekerjaan yang terjadi di masyarakat. 

E. AREA RISET 
• Kegiatan penelitian dilakukan diterminal Lebak Bulus  
• Narasumber : 
 Nama   :
Rusdianto

Umur    : 34 Tahun

Status   : Supir Angkot 
• Waktu penelitian:
Minggu, 11 Mei 2014 

-Pertanyaan  Lapangan

Sudah berapa lama bapak menjadi supir angkot?

Berapa penghasilan bapak perbulan?

Apakah penghasilan bapak menutupi kebutuhan keluarga?

Mengapa sering kali supir angkot ugal-ugalan?

-Jawaban Pertanyaan

Sudah 7 Tahun lamanya.

Penghasilan saya perbulan 750 ribu belum untung dari penumpang selain setoran.

Sangat tidak mencukupi.

Karena kejar setoran dan terburu-burunya setoran.


F. KESIMPULAN 
                Banyak hal yang harus diperhatikan dalam
hal ini, karna tidak mudah kalau hanya dengan memberi teguran kepada supir angkot. Dibutuhkan aturan yang ketat juga agar supir angkot tidak ugal-ugalan dijalan. Saat ini sudah mulai akan menerapkan aturan bagi supir ugal-ugalan dijalan . Semoga saja aturan tersebut bisa dilakukan dan tentunya menjadi ancaman bagi semua supir-supir angkot yang lain.

 

HENDRI AFRILIANSYAH
1113054100019

KESEJAHTERAAN SOSIAL 2A

Lutio Adnan & Dimas Pratio _Tugas ke-7_Menganalisis Perpindahan Penduduk Dari Desa Ke Kota_pmi2

Menganalisis Perpindahan Penduduk Dari Desa Ke Kota
Studi Kasus Urbanisasi
Pendahuluan
 Penduduk adalah orang-orang yang tinggal menetap pada suatu daerah tertentu. Penduduk Indonesia adalah semua orang yang tinggal dan menetap di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. Mereka terdiri dari warga Negara asli atau pribumi dan warga Negara asing yang menetap di Indonesia dan mengubah status kewarganegaraannya menjadi warga Negara Indonesia. Pemerintah mengadakan sensus penduduk setiap 10 tahun sekali. Tujuannya untuk mengetahui jumlah penduduk, tingkat pertambahan penduduk serta mengetahui persebaran penduduk. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 1990, Indonesia menduduki urutan keempat Negara dengan penduduk terbanyak di dunia.
Pembahasan
Study Kasus: Analisis alasan pemuda didesa berpindah dari desa ke kota
            Maraknya pembangunan di kota-kota besar di Indonesia dapat memacu pertumbuhan ekonomi. Sebagai dampaknya, kota-kota tersebut akan menjadi magnet bagi penduduk untuk berdatangan mencari pekerjaan dan bertempat tinggal. Hal ini sering disebut dengan urbanisasi. Namun urbanisasi ini menimbulkan berbagai macam masalah karena tidak ada pengendalian di dalamnya. Masalah ini yang dihadapi Negara Indonesia saat ini yaitu pertumbuhan konsentrasi penduduk yang tinggi. Lebih buruk lagi, hal ini tidak diikuti dengan kecepatan yang sebanding dengan perkembangan industrialisasi. Masalah ini akhirnya menimbulkan fenomena yaitu urbanisasi berlebih.
            Disisi lain pemerintah terus menggenjot agar penduduk desa tidak berpindah ke kota dan membikin desa menjadi berkembang dengan membikin undang undang desa.  Khususnya dipulau jawa merupakan salah satu pulau besar di Indonesia, di samping Kalimantan, papua, Sumatra dan Sulawesi. Jawa memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Indonesia karena di pulau ini terdapat ibu kota Negara Indonesia yaitu Jakarta.  Laju transmigrasi dari desa-desa ke Jakarta dan beberapa kota-kota besar lainnya di Indonesia semakin tahun semakin meningkat.
Alasan penduduk desa ke kota
Keinginan penduduk desa untuk pindah ke kota disesabkan oleh beberapa faktor, kami mengambil contoh yaitu:
1.       Ketersediaan lapangan kerja di kota lebih banyak daripada di desa. Banyak perusahaan-perusahaan, pabrik, serta  industri  di bangun dan tersebar di perkotaan. Hal ini berbanding terbalik dengan di daerah pedesaan. Sehingga tidak sedikit yang tergiur untuk mengadu nasib di kota dibandingkan di desa walaupun  tanpa memiliki keahlian apa-apa dan hanya bermodal nekat.
2.       Pembangunan yang tidak merata. Semua hasil pertambangan dan pengolahan sumber daya hanya di alokasikan sepersekian persen untuk daerah penghasil  dari hasil yang didapatkan dan selebihnya di bawa untuk membangun infrastruktur dan  kemajuan daerah perkotaan.
3.   Ilmu yang diperoleh di bangku sekolah dan kuliah lebih bisa tersalurkan di daerah perkotaan dibandingkan di daerah pedesaan  dikarenakan materi serta teori-teori yang diajarkan di sekolah-sekolah dan bangku kuliah kurang aplikatif jika diterapkan di daerah pedesaan dan lebih mengarah untuk diterapkan di daerah industry atau perkotaan di mana perusahaan-perusahaan serta industry dan instansi penting pemerintah berada. 
Dampak Perpindahan Penduduk Desa Ke Kota
Ada Sebab ada akibat begitupun penduduk desa ke kota atau Urbanisasi, berikut kami sebutkan dampak urbanisasi baik itu ke desa maupun ke kota.
1.      Kepadatan penduduk melebihi daya tamping kota
2.      Permasalahan pemukiman (pemukiman dikota kumuh)
3.      Permasalahan dalam bidang kesehatan
4.      Pencemaran lingkungan
5.      Meningkatnya pengangguran
Tidak semua masyarakat desa yang berurbanisasi mencapai impiannya, bahkan lebih banyak di antara mereka yang kurang berhasil mengubah nasib. Keadaan ini menyebabkan kekecewaan dan pengangguran tersebar di mana-mana. Banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi pengemis dan tunawisma. Terkadang karena terdesak faktor ekonomi, banyak di antara mereka yang memilih jalan pintas melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum sehingga tingkat kriminalitas meningkat. 
Kesimpulan
Dari data diatas ini kami menggunakan teori Teori Durkhaeim yang dimana subjeknya merupakan kelompok yakni penduduk desa, metedologi yang digunakan adalah observasi dan output yang digunakan dalam penelitian berupa narasi.Subjeknya yaitu pengelompokan tentang masalah urbanisasi Metodologi observasi, Melihat ke beberapa tempat dikampung kampung desa dan melalui survey yang telah dilakukanOutput, kami menggunakan output berupa narasi yaitu kami peneliti memilih survey kelapangan dengan membuat narasi

Janos Prakoso_Tugas6_Kehidupan Sosial Tukang Becak Di Rempoa Tangerang Selatan

Kehidupan Sosial Tukang Becak Di Tangerang Selatan


Nama : Janos Prakoso

NIM : 1113054100031

Kelas : Kessos 2 A


A.    Latar Belakang Masalah

Tukang becak adalah profesi unik yang keneradaannya hanya ada di Indonesia. Meskipun di Zaman yang serba canggih ini, Mereka masih bisa bertahan dan masih menjadi salah satu angkutan umum yang diminati oleh Masyarakat Indonesia.

Keberadaan Tukang becak sering dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas, karena Mereka tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Selain kedua latar belakang di atas, ada latar belakang khusus dalam diri saya sehingga saya melakukan penelitian mengenai profesi ini. Saya penasaran akan kehidupan Mereka, bagaimana mereka bisa bertahan hidup ditengah tantangan yang semakin berat ini. Saya juga ingin tahu, apa yang diharapkan oleh Tukang becak kepada Pemerintah.

 

B.     Pertanyaan Penelitian

1 . Bagaimana mereka bisa bertahan hidup ditengah tantangan yang semakin berat ini?

2.  Apa yang diharapkan oleh Tukang becak kepada Pemerintah.

 

C.    Metode

Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kualitatif karena penelitian ini dilaksanakan dengan wawancara mengajukan beberapa pertanyaan dan observasi. Metode kualitatif dipilih karena penelitian ini mengamati kenyataan yang terjadi di tengah sekitar lingkungan kita.

 

D.    Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori Emile Durkheim, 
karena subjek yang diteliti adalah tukang becak. Serta metode yang 
ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan berupa narasi 
atau sebuah penjelasan dari penemuan-penemuan observasi yang telah 
dilakukan. 

 

 

E.      Area Riset

Lokasi penelitian dilaksanakan di daerah Rempoa , Tangerang Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan cara mewawancarai seorang tukang becak yang sedang berada di pinggir jalan. Penelitian tersebut dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2014.

1. Profil Narasumber :

-Nama        : Mulyono

-Umur        : 45 tahun

-Pekerjaan:  Tukang Becak

2. Pertanyaan lapangan

-Apa yang menyebabkan anda bisa menjadi tukang becak?

-Bagaimana rasanya suka dan duka selama anda menjadi tukang becak?

-Bagaimana untuk pengahasilan sehari-hari?

-Apakah pemerintah memihak pada tukang becak?

-Bagaimana respon anda tentang pemerintahan sekarang?

-Apa pesan anda untuk pemerintah sekarang?

3. Jawaban

Nama saya Mulyono,umur saya 45 tahun, saya sehari-hari berpropesi menjadi tukang becak sejak tahun 1990. Saya biasa mangkal di depan lapangan Rempoa, Tangerang Selatan, saya tinggal di Jl.  SMAN didaerah Jakarta Selatan,saya tinggal di jl.Kamboja  Rempoa  Tangerang Selatan.

-Saya menjadi tukang becak karena tidak mempunyai keahlian dalam bidang lain.

-Sukanya kalau malam hari banyak yang naik becak saya tidak ada kendaraan umum lagi saya mengantarkan penumpang yang pulang kerjanya tengah malam . Kalau dukanya saya jarang mendapatkan penumpang di siang hari karena saya bersaing dengan angkutan umum yang lebih modern lagi.

-Untuk penghasilan saya sehari-hari sangatlah minim sekali karena sepinya penumpang. Biasanya satu hari saya mendapatkan uang 30ribu, itu hanya cukup untuk makan hari itu saja dan belum termasuk dengan kebutuhan yang lain.

-Menurut saya pemerintah belum optimal melihat keadaan sosial para tukang becak dijaman sekarang.

-Selain pemerintah  belum optimal melihat keadaan sosial para tukang becak dijaman sekarang, pemerintah tidak melindungi kami para tukang becak , malahan becak sudah dilarang beroprasi di sekitaran pinggiran Jakarta karena becak dianggap biang kemacetan di ibukota.

-Tolong pemerintah perhatikan kesejahteraan untuk kami para tukang becak yang hidupnya semakin miskin di jaman yang serba modern.

 

F.    Kesimpulan

Sebagian hidup tukang becak di daerah Rempoa, Tangerang Selatan masih hidup dalam kekurangan. Peran pemerintah disini harus ditegakan lagi untuk kesejahteraan tukang becak. Menurut saya, peran pemerintah sangatlah kurang sekali dalam memperhatikan kesejahteraan kehidupan tukang becak. Faktor yang membelit kehidupan tukang becak tak lepas juga dari era globalisasi dijaman yang semodern ini. Saingan terberat dari kendaraan tradisional becak adalah angkutan umum ibukota. Becak dianggap juga sebagai biang dari kemacetan di ibukota dan becak juga dianggap sebagai pekerjaan yang kurang manusiawi.

kartika al ashzim_tugas6_tor dan hasil penelitian

I.
                                                   INTERAKSI ANTARA PEDAGANG DAN PEMBELI DI PASAR CIPADU
               LATAR BELAKANG
    L
Pasar Cipadu sebagai salah satu pusat grosir tekstil dan garmen dengan harga miring di sekitar Jakarta. Pasar cipadu terletak di kelurahan Cipadu, kecamatan Larangan, Tangerang . Awalnya pemerintah setempat berencana menjadikan Cipadu sebagai kawasan perumahan, tapi karena ramai dan banyak pedagang tekstil, akhirnya Cipadu diakui pemerintah sebagai kawasan perdagangan tekstil dan berubah menjadi salah satu pusat perbelanjaan baru, khususnya tekstil dan garmen. Beragam produk tekstil dan garmen ada di sini, mulai dari kain/bahan, baju, sprei, bedcover, hingga produk interior seperti gordyn.
Pasar Cipadu ini bukan merupakan satu pasar utuh yang menempati satu lokasi saja seperti kebanyakan pasar pada umumnya. Pasar Cipadu ini merupakan sebutan untuk sentra tekstil dan garmen yang berada di sepanjang Jalan K.H. Wahid Hasyim yang membentang dari Kreo (tepatnya di samping Giant Ciledug) hingga ke Jalan Raya Ceger di Pondok Aren.
Kawasan Cipadu yang dulunya tanah kosong, mulai ramai oleh keberadaan para pedagang dan kosumen yang datang. Sehingga pada tahun 1996, kawasan Cipadu mulai dikenal sebagai pasar karena ramai dan ada transaksi jual-beli. Di situ ada Cipadu Square, Pertokoan Anugerah, Pertokoan Dionasi, Pertokoan Kospin Jaya, hingga Pertokoan Mulia Jaya. Yang belakangan disebut ini adalah pelopor perkembangan daerah Cipadu sekaligus pusat perbelanjaan paling ramai.
 
II.                  TEORI
Teori sosiologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori EMIKE DURKHEIM.
Ia menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
 
III.                PERTANYAAN PENELITIAN
1.       Bagaimana interaksi antara pedagang dan pembeli di pasar cipadu?
 
IV.                METODE
Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif.
Secaraumum sifatnya:
1. Menggali informasi secara mendalam
2. Menjawab pertanyaan mengapa
3. Mengetahui tentang motivasi, persepsi, perilaku, sikap dan kepercayaan
4. Memungkinkan untuk mendapatkan hal2 yang tersirat
5. Mendapatkan suatu hipotesa
tehnik yang digunakan berupa wawancara mendalam, fokus group discussion dan observasi
 
V.                  AREA RISET
Tanggal         : 6 s/d 9 Mei 2014
Tempat        : Pasar Cipadu, di kelurahan cipadum kecamatan larangam.
Objek            : para pedagang dan pembeli di pasar cipadu.
 
VI.                HASIL PENELITIAN
Pedagang-pedagang di pasar cipadu terdiri dari pedagang kain/bahan, baju, sprei, bedcover, hingga produk interior seperti gordyn. Mereka menjual secara grosir dan eceran. Para pedagang grosir dan ritel kebanyakan adalah orang Minang baik yang lahir dan besar di Jakarta ataupun mereka yang baru datang. Mereka berasal hampir dari semua daerah di ranah Minang yang terbanyak berasal dari Pariaman, Lubuk Basung, Bikittinggi, Payakumbuh dan daerah lain. Kualitas barang yang dipasarkan, dijamin tak jauh berbeda dengan yang ada di Tanah Abang. Untuk bahan kain, pedagang Pasar Cipadu selain dipasok dari Pasar Tanah Abang, juga menerima kiriman dari Korea dan Jepang. Barang dari kedua negeri itu mereka jual dengan harga miring. Selain membeli secara meteran, di Cipadu juga tersedia bahan pakaian yang dijual perkilo. Harga satu kilo berkisar 30 ribu – 80 ribu. Sedangkan harga per meter mulai dari 12.000 – 80.000 tergantung jenis bahan dan coraknya.
Selain pedagang, di pasar cipadu dihuni oleh para pembeli-pembeli yang berasal dari berbagai daerah. Para pembeli di pasar Cipadu bisa dikelompokkan menjadi dua, kelompok pertama adalah pembeli grosir. Mereka membeli bahan tekstil untuk keperluan kompeksi baik yang ada dilokasi ini ataupun dari tempat lain bahkan dari luar kota. Banyak dari kalangan perancang busana kelas atas berpelanja di di Cipadu. Bahan tekstil ini kebanyakan berasal dari Korea dan dari pabrik besar lain di Indonesia. Bahan Korea ini diimport langsung dan diborong dari pengusaha besar dan didistribusikan di Cipadu. Ada beberapa orang Korea yang mempunyai toko di sana.
Kelompok kedua adalah para pembeli ritel. Mereka datang setiap hari tapi kebanyakan mereka datang pada hari Sabtu dan Ahad dan hari libur lainnya. Mereka tertarik untuk berbelanja di pasar Cipadu karena harganya yang miring dan bersaing dengan harga dari pasar-pasar lain seperti pasar Tanah Abang, Mayestik dan Jatinegara. Tak jarang pula pembeli datang luar kota. Para pedagang pasar Cipadu bisa menekan harga jual karena harga bahan lebih murah dan ongkos produksi juga rendah karena mereka sendiri yang membuatnya.
Dalam penelitian ini, saya melakukan observasi langsung ke pasar cipadu dan mewawancarai para pedagang dan pembeli. Terdapat interaksi antara pedagang dan pembeli di setiap toko. salah satu toko yang saya observasi yaitu toko Mikalu Sprei yang berlokasi di pasar cipadu. Mereka bergerak di bidang penjualan berbagai macam perangkat tidur seperti sprei, bed cover, bantal, gorden dan lain sebagainya. Selain menjual sprei secara grosir, mereka juga melayani penjualan sprei secara eceran. Toko Mikalu merupakan produsen sprei langsyng. Secara bersamaan, saya mewawancarai salah satu pembelinya, yang bernama Heni (25).
"kebetulan memang lagi butuh sprei, alhasil saya pun memilih beli eceran di Cipadu daripada beli satuan di pusat perbelanjaan modern. Dan saya memilih toko mikalu karena desain dan motif spreiny beragam, mulai dari warna polos maupun yang memiliki corak. Corak motif pun sangat beragam, dari yang simpel,ada motif bunga-bunga, kartun, dan banyak lagi." Kata Heni.
Di tempat lain, saya mendatangi toko yang menjual kain sifon dan wallis. Salah satu pedagangnya bernama Faisal. Menurut Faisal, alasan memilih berdagang di Pasar Cipadu karena kondisinya bersih, aman, nyaman, dan konsumen juga ramai. "Tiap hari ada konsumen yang membeli, khusus Sabtu-Minggu atau hari libur tingkat penjualan menjadi lebih tinggi," kata Faisal, yang laris menjual kain sifon dan wallis. Menurut Faisal, alasan memilih berdagang di Pasar Cipadu karena kondisinya bersih, aman, nyaman, dan konsumen juga ramai. "Tiap hari ada konsumen yang membeli, khusus Sabtu-Minggu atau hari libur tingkat penjualan menjadi lebih tinggi," kata Faisal, yang laris menjual kain sifon dan wallis. secara bersamaan, saya mewawancarai pembeli yang ada ditoko tersebut yang bernama, Tuti (28). "Saya mendatangi toko ini karena sedang membutuhkan kain siffon. dan ternyata toko ini merupakan toko yang strategis bagi saya. disini menjual grosiran."

Cari Blog Ini