Rabu, 24 September 2014

Nama : M. Hidayatul Munir NIM : 1112051000131 Kelas/semester/jurusan : 5 KPI E Tugas : Etika dan Filsafat Komunikasi

1.      Etika
Secara etimologi (bahasa) " etika" berasal dari kata bahasa Yunani ethos. Dalam bentuk tunggal , "ethos" berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan , adat, akhlak, perasaan, cara berfikir. Dalam bentuk jamak, ta etha berarti adat kebiasaan. Dalam istilah filsafat etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.
2.      Pengertian Moral
Arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bawa moral adalah penentuan baik buruk terhada perbuatan dan kelakuan.
Secara istilah moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, peringai, kehendak, pendapat atau perbuatan secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Selanjutnya pengertian moral dijumpai juga dalam The Anvenced Leaner's Dictionary of Current English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral sebagai berikut:
1.   Prinsip-prinsip yang berkenaan dangan benar dan salah, baik dan buruk.
2.   Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
3.   Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
3.      Pengertian Amoral dan imoral
Ø  K. Bertens, Etika, 1993;7-8 mengatakan mengenai istilah antara amoral dan immoral dalam bahasa Indonesia mengalami kesulitan. Oleh Concise Oxford Dictionary kata amoral diterangkan 'unconcerned with,out of the sphere of moral, non moral'. Jadi kata Inggris amoral berarti tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis, non moral. Sedangkan immoral dijelaskan sebagai opposed to morality, morally evil yang berarti bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk tidak etis.
Ø  Menurut Dr. W. Poespoprodjo, L. Ph. S. S., Filsafat Moral, 1986;102; kata amoral, nonmoral berarti bahwa tidak mempunyai hubungan dengan moral tidak mempunyai arti moral. Istilah immoral artinya moral buruk (buruk secara moral).
 
4.      Perbedaan Etika dan Etiket
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, batas antara etika dan etiket bisa sangat tipis. Padahal dua terminologi tersebut sangat berbeda satu sama lain, meskipun di sana sini tetap masih ada persamaan antara etika dan etiket.
Sementara ada perbedaan pokok antara etika dan etiket (lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004; 257):
a)      Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri.
b)     Etiket hanya berlaku dalam pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku ketika ada orang lain. Sementara itu, etika tidak memerhatikan orang lain atau tidak.
c)      Etiket bersifat relatif. Dalam arti bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan etiket tertentu
d)     Etiket hanya menyangkut segi lahiriah saja, sedangkan etika lebih menyangkut aspek internal manusia
5.      Pengertian Moralitas
Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas atau nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Dua kaidah dasar Moral :
a)      Kaidah sikap baik. Pada dasarnya kita mesti bersikap baik terhadap apa saja. Bagaimana sikap baik baik itu harus dinyatakan dalm bentuk yang konkret tergantung dari apa yang baik dalam situasi konkret itu.
b)      Kaidah keadilan. Prinsip keadilan adalah kesamaan yang masih tetap mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Kesamaan beban yang terpakai harus dipikulkan harus sama, yang tentu saja disesuaikan dengan kadar anggota masing-masing.
6.      Subyektif
Norma bersifat subyektif dan akibatnya sering kali di ganggu oleh pertanyaan atau diskusi yang menginginkan kejelasan tentang etis atau tidaknya.
7.      Perbedaan Etika Deskritif, Etika Normatif dan Metaetika
 
 
a)      Etika Deskritif
Etika Deskritif adalah cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan tentang baik dan buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskritif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau subkultur tertentu. Oleh karena itu, etika deskritif tidak memberikan pemikiran apapun, ia hanya memaparkan, serta lebih bersifat netral.
b)      Etika Normatif
Etika Normatif mendasarkan pendiriannya atas norma. Ia dapat mempersoalkan norma yang diterima seseorang atau masyarakat secara lebih kritis. Etika Normatif berarti sistem-sistem yang dimaksud  untuk memberikan petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik atau buruk (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, 1996:217).
Etika Normatif dibagi menjadi dua bagian yaitu:
Ø  Etika umum
Ø  Etika Khusus
Etika umum menekankan pada tema-tema umum, seperti. Apa yang dimaksud norma etis?  Mengapa norma moral mengikat kita? Bagaimana hubungan tanggung jawab dengan kebebasan? Sedangkan etika khusus adalah upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip etika umum ke dalam perilaku manusia yang khusus. Etika khusus juga dinamakan etika terapan.
c)      Metaetika
Bagian lain etika adalah metaetika, yaitu kajian etika yang ditujukan pada ungkapan-ungkapan etis. Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan baik atau buruk. Perkembangan lebih lanjut dari metaetika adalah filsafat analitis.
            Lorens Bagus dalam kamus filsafat (1996) merincikan pandangan beberapa filsuf mengenai teori etika, antara lain:
 
 




Senin, 22 September 2014

Ferdy Rizky Saputra_KPI/5E_Etika dan Filsafat Komunikasi

A.    ETIKA DAN ETIKET

Pengertian Etika

Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah "Ethos", yang berarti sikap, cara berfikir, watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya identik atau berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupa¬kan istilah dari bahasa Latin, yaitu "Mos" dan dalam bentuk jamaknya "Mores", yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghin¬dari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika merupakan cabang dari filsafat etika mencari ukuran baik buruk'a dari tingkah laku manusia. Etika adalah ajaran atau ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan kebiasaan baik atau buruk yang diterima umum mengenai sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya.

            Etika adalah merupakan suatu cabang ilmu filsafat, tujuannya adalah mempelajari perilaku, baik moral maupun immoral dengan tujuan membuat pertimbangan yang cukup beralasan dan akhirnya sampai pada rekomendasi yang memadai yang dapat diterima oleh suatu golongan tertentu atau individu.

 

Pengertian Etiket


            Etiket adalah prilaku yang dianggap pas, cocok, sopan dan terhormat dari seseorang yang bersifat pribadi seperti gaya makan, gaya berpakaian, gaya berbicara, gaya berjalan, gaya duduk, gaya tidur. Namun karena etiketseseorang menghubungkannya dengan pihak lain, maka menjadi peraturan sopan santun dalam pergaulan dan hidup bermasyarakat.

 

Perbedaan antara Etika dengan etiket:

  • Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan trtentu. Sedangkan etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika juga menyangkut maslah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukakn atau tidak boleh dilakukan
  • Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Sedangkan etika selalu berlaku walaupun ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
  • Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopa dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Sedangkan etika jauh lebih absolut. Perintah seperti "jangan berbohong", "jangan mencuri" merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
  • Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan setika memandang manusia dari segi dalam. Penipuan misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidk mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak berskapetis orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik

B.     MORAL DAN MORALITAS

Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata 'moral' yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata 'etika', maka secara etimologis, kata 'etika' sama dengan kata 'moral' karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata 'moral' sama dengan kata 'etika', maka rumusan arti kata 'moral' adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu 'etika' dari bahasa Yunani dan 'moral' dari bahasa Latin.

 

 'Moralitas' (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan 'moral', hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang "moralitas suatu perbuatan", artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

 

C.    AMMORAL DAN IMMORAL

            Kata "amoral" dalam Concise Oxford Dictionary diartikan sebagai "unconcerned with, out of the sphere of moral, non-moral". Jadi, amoral berarti "tidak berhubungan dengan konteks moral", "di luar suasana etis", "non-moral".

Kata "immoral" dalam kamus yang sama dimaknai sebagai "opposed to morality; moralyy evil". Jadi, immoral berarti "bertentangan dengan moralitas yang baik", "secara moral buruk", "tidak etis".

Much Mugni Noorrachman (NIM. 11.12.051.000.104) – KPI 5D 2014 – Etika dan Filsafat Komunikasi – Tugas I “Etika I”

Much Mugni Noorrachman (NIM. 11.12.051.000.104) – KPI 5D 2014 – Etika
dan Filsafat Komunikasi – Tugas I "Etika I"

بسم الله الرّحمٰن الرّحيم
Etika I: Seputar Istilah dan Kerancuan Istilah: Etika dan Moral,
Ammoral dan Immoral, Etika dan Etiket, Moralitas, Subyektif, dsb.
Membedakan antara: Etika Diskriptif, Etika Normatif, dan Metaetika,
Hakikat Etika Filosofis.
++ SEPUTAR ISTILAH
Etika dan Moral
Etika; Ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh
akal pikiran.
Moral; sesuai dengan ide-ide umum diterima tentang tindakan manusia,
mana yang baik dan wajar. Sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan yang
oleh umum diterima yang meliputi sosial atau lingkungan tertentu.
Ammoral dan Immoral
Ammoral; sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak
berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut kamus
Bahasa Indonesia, tidak bermoral berarti tidak berakhlak. Sedangkan
dalam sudut bhasa latin, netral dari sudut moral atau tidak mempunyai
relevansi etis.
Immoral; tindakan tidak bermoral yang dilakukan oleh seseorang
walaupun orang tersebut sudah tahu bahwa hal tersebut memang salah dan
tetap melakukannya. Contohnya adalah pencuri. Sudah tahu mencuri
adalah tindakan yang buruk, tetap saja dilakukan.
Etika dan Etiket
Etika dan etiket adalah hal yang menyangkut perilaku manusia. Namun,
kedua-duanya memiliki perbedaan. Etika selalu berlaku walaupun tidak
ada saksi mata, sedangkan etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Etiket
tidak berlaku saat tidak ada orang lain atau saksi mata yang melihat.
Etika bersifat jauh lebih absolut atau mutlak, etiket bersifat
relative. Etika memandang manusia dari segi dalam, etiket hanya
memandang manusia dari segi lahiriah saja. Etika Memberi norma tentang
perbuatan itu sendiri, etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus
dilakukan oleh manusia.
Moralitas
Moralitas; berasal dari kata dasar "moral" berasal dari kata "mos"
yang berarti kebiasaan. Kata "mores" yang berarti kesusilaan, dari
"mos", "mores". Moralitas yang secara dapat dipahami sebagai suatu
tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan
kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang
boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu
azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat.
Subyektif
Subyektif; pemikiran relatif, di mana pendapat tersebut benar bagi
dirinya dan belum tentu bagi orang lain (tidak universal).

++ SEPUTAR ETIKA
Etika Deskriptif
Etika Deskriptif; cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas,
seperti adat kebasaan, anggapan tentang baik dan buruk, tindakan yang
diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari
moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan atau subkultur
tertentu. Oleh karena itu, etika deskriptif tidak memberikan pemikiran
apa pun, ia hanya memaparkan. Etika deskriptif lebih bersifat netral.
Etika Normatif
Etika Normatif; berarti sistem-sistem yang dimaksud untuk memberikan
petunjuk atau penuntun dalam mengambil keputusan yang menyangkut baik
atau buruk. (Lauren Bagus, Kamus Filasafat, 1996: 217).
Metaetika
Metaetika; kajian etika yang ditunjukan pada ungkapan-ungkapan etis.
Bahasa etis atau bahasa yang digunakan dalam bidang moral dikaji
secara logis. Metaetika menganalisis logika perbuatan dalam kaitan
dengan 'baik' atau 'buruk.' Perkembangan lebih lanjut dari metaetika
adalah fisafat analitis.
Hakikat Etika Filosofis
Hakikat Etika Filosofis; adalah dasar ilmu yang menanamkan tentang
sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang
mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar
dan penilaian.

++SUMBER
1. Dr. Hamzah Ya'qub, "Etika Islam, Pembinaan Akhlaqulkarimah (suatu
pengantar)," cetakan IV, CV Diponegoro, Bandung: 1988.
2. Muhamad Mufid, "Etika dan Filsafat Komunikasi," Kencana, Jakarta: 2009.
3. Prof. Dr. Nina W. Syam, M.S., "Filasafat sebagai Akar Ilmu
Komunikasi," Simbiosa Rekatama Media, Bandung: 2010.

Dauatus Saidah_PMI 3_Tugas 2_Urbanisasi dan Budaya Perkotaan

Nama: Dauatus Saidah
Nim : 1113054000016
Jurusan : PMI 3
Judul : Urbanisasi dan Budaya perkotaan
Kepadatan Penduduk Sebagai Akar dari Permasalahan Kota Jakarta

Berbicara mengenai permasalahan perkotaan di Indonesia, pikiran kita tidak bisa terlepas dari Jakarta. Jakarta adalah contoh yang sangat pas untuk membahas sebuah – permasalahan dalam kota. Khususnya masalah kepadatan penduduk. Masih jelas di kepala kita, beberapa waktu yang lalu banyak isu yang menyebutkan bahwa ada rencana pemindahan ibu kota Republik Indonesia. Kenapa? Karena Ibu kota yang sekarang dinilai tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai ibu kota. Ada alasan yang begitu rumit untuk dijelaskan bahkan, aparat yang katanya pemimpin kota dan negeri ini pun kelimpungan dan terkesan ngumpet-ngumpet ketika ditanyakan mengenai kota yang amat sembrawut ini. Tidak hanya mengenai pemindahan kota Jakarta, tetapi yang lebih mengerikan dari pada itu adalah ada wacana yang disebutkan para ahli bahwa 2080 ada kemungkinan Jakarta akan tenggelam. Tidak heran jika Koran Jakarta Post edisi Jumat, 08/21/2010 juga memperjelas hal tersebut mungkin akan terjadi, karena hari-hari ini pun kerap terjadi banjir di Jakarta.

Untuk itu, baik buat kita sekalian untuk mengerti arti dari sebuah kota. Kota. Sangat sulit mendefinisikan kota secara umum, Pakar Perkotaan Gino Germani pun sepakat dengan hal itu. Untuk dapat mendefinisikan kota harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Misalnya Gino Germani, ia mengatakan bahwa kota itu dapat dilihat dari dua sudut. Pertama demografis, yaitu bahwa kota itu pasti dihuni oleh penduduk yang relative besar. Kedua sosiologis, yaitu dilihat dari banyak aspek seperti hukum (Athena dan Sparta), ekonomi (Pusat Industri) dan social (personal). Jika pendapat ini dihubungkan dengan Jakarta, maka Jakarta dapat dikatakan sebagai akumulasi dari semua aspek tersebut. Jakarta sebagai pusat ekonomi, social, budaya, hukum pemerintahan dan juga politik. Jakarta menjadi pusat segala peradaban yang terjadi di Indonesia. Semuanya ada di Jakarta. Masyarakat Indonesia memandang Jakarta sebagai tambang emas, karena semuanya ada di Jakarta. Oleh karena itu banyak para urban berbondong-bondong ke kota ini dengan tujuan dapat merubah kondisi perekonomian di desa.
 
Jakarta dalam Surat kabar The Jakarta Post (edisi Jumat, 21 Agustus 2010) menyebutkan bahwa penduduk Jakarta berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut hasil sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4 persen dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.
 
Dengan angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen selama 10 tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang dikatakan angka-angka ini? "Ibukota telah kelebihan penduduk." Pada tingkat ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer persegi. Sebagai akibatnya, para pembuat kebijakan kota perlu merevisi banyak target pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan, perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.


PENYEBAB

Jumlah penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2. Angka kematian 3. Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b. Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi. Yang menjadi focus penyebab kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah Urbanisasi. Dimana, fakta berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas adalah para urban. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika tidak ada program dari pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, maka pada 2020 Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka berurbanisasi ke Jakarta?
 
Ada banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya; modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Pendidikan. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik di Indonesia baik negeri maupun swasta ada perkotaan termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta sebagai kota besar dan berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang kecil yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sngat menjanjikan untuk hidup.emir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang penting bisa bekerja tanpa nmempunyai keahlian khusus. Jika ditambah dengan orang-arang yang berkeahlian khusus yang didatangkan dari luar kota maupunh luar negeri untuk bekerja di Jakarta. Pusat Hiburan. Jakarta merupakan magnet dan pintu gerbang Indonesia. Indonesia mempunyai daya tarik tersendiri sebagai kota Jakarta dekat dengan tempat – tempat hiburan yang sperti mall, pantai indah kapuk, dufan, pantai Tidung, sea world dan banyak arena-arena yang lainnya yang tidak ada di kota-kota lain di Indonesia.

DAMPAK

Pasti ada dampak dari suatu hal yang berlebihan begitu pula overloadnya Jakarta. Kesesakan yang diakibatkan oleh berlebihannya pendduduk Jakarta mengakibatkan; Sifat Konsumtif, Kekumuhan kota, Kemacetan lalu lintas, Kriminalitas yang tinggi, Struktur kota yang berantakan, isu Jakarta tenggelam, Banjir, pelebaran kota dengan tata kota yang tidak baik, melonjaknya sector informal, terjadinya kemerosotan kota, dan pengembangan industry yang menghasilkan limbah.
 
Dalam hal perbaikan, pemerintah Jakarta memang mengambil langkah-langkah untuk membatasi urbanisasi. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi masuknya migran ke kota, dengan hanya mereka yang telah dijamin pekerjaannya diijinkan untuk tinggal di kota, sementara petugas dari lembaga ketertiban umum kota sering melakukan serangan terhadap warga ilegal.
 
Semua upaya untuk mengekang tingkat kelahiran di kota itu akan menjadi tidak berarti jika kita tidak dapat membatasi urbanisasi. Untuk mengatasi masalah ini, Jakarta tidak bisa bekerja sendiri karena masih ada faktor yang mendorong urbanisasi dari berbagai daerah. Namun Semua masalah ini hanya bisa dipecahkan jika ada kemauan politik dari pemerintah pusat untuk menangani masalah mengurangi kesenjangan antara Jakarta dan provinsi-provinsi lainnya.
·         Teori Durkheim
Sesuai perspektif atau paham Durkheim akan struktural yang satu sama lainya akan bergantungan. Menurut kasus perkotaan di atas menjelaskan bahwa setiap perkotaan memiliki masalah yang dihadapi, apalagi itu mengenai ibu kota dalam suatu Negara. Permasalahan perkotaan di Jakarta adalah kepadatan penduduknya, yang bisa memunculkan permasalahan yang lain. Jadi, apabila tidak adanyakepadatan penduduk baik dari 1. Angka kelahiran tinggi 2. Angka kematian rendah 3. Peningkatan Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b. Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi. Maka tidak aka nada pemasalahan dalam prkotaan.
·         Teori Marx Weber
Menurut Marx Weber dalam tindakan social dengan masalah perkotaan di atas adalah suatu komunikasi antara pemerintahan dengan masyarakat, baik permasalahan ekonomi, lalu lintas dan lain-lain. Dengan adanya komunikasi di antara keduanya maka akan terlihat komunikasi social dalam perkotaan.
·         Teori Karl Marx
Dari teorinya tentang kelas social dalam perkotaan. Bisa terbilang dalam penempatan pemerintahan kota Jakarta. Baik dari gubernur, wali kota, dan lain-lain. Penempatan dalam pemerataan pembangunan gedung juga harus di tata dengan tempatnya masing-masing. Seperti Mall, gedung perusahaan, dan perumahan warga. Semua sudah memiliki kelasnya untuk penempatanya.

Lilis. okviyani . PMI V . tugas demografi

Nama: Lilis. Okviyani

Nim: 1112054000002

Pengembangan Masyarakat Islam ( V)

Demografi


Studi kependudukan terdiri dari analisa-analisa yang bertujuan dan mencakup :

1.      Informasi dasar tentang distribusi penduduk, karakteristik , dan perubahan-perubahannya.

2.      Menerangkan sebab-sebab perubahan dari faktor dasar tersebut.

3.      Menganalisa segala konsekuensi yang mungkin sekali terjadi di masa depan sebagai hasil perubahan-perubahan itu.

Kata demografi berasal dari Greek ( Yunani) yang untuk pertama kali digunakan oleh Guillard lebih dari seabad yang lalu, digunakan sebagai sinonim bagi Population study. Sedangkan kata population study bersumber dari bahasa Latin. Demografi adalah studi ilmiah terhadap penduduk manusia , terutama mengenai jumlah , struktur , dan perkembangannya. Sementara menurut Bogue, demografi adalah studi matematik dan statistik terhadap jumlah , komposisi , dan distribusi spasial dari penduduk manusia dan perubahan-perubahan dari aspek –aspek tersebut yang senantiasa terjadi sebagai akibat bekerjanya lima proses, yaitu: fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.

Robert Thomas Malthus ( 1766-1834) terkenal sebagai pelopor ilmu kependudukan ( population study) sebagian dari rentetan perkembangan demografi yang dimulai sejak pertengahan abad ke 17. Dalam tulisan esay yang populer dengan sebutan Prinsip Kependudukan ( 1798), Malthus memulai dengan merumuskan dua postulat, yaitu:

1.      Bahwa pangan dibutuhkan untuk hidup manusia , dan

2.      Bahwa kebutuhan nafsu seksuil antar jenis kelamin akan tetap sifatnya sepanjang masa.

Atas dasar postulat tersebut, Menurut Malthus ada pengekangan, kecenderungan pertambahan jumlah manusia akan lebih cepat dari pertambahan pangan. Namun abad ke 19 teori Malthus semakin melemah karena timbul kesadaran bahwa ekspoitasi sumber daya dunia ada batasnya. Jika cepatnya penduduk dunia berlangsung terus pada suatu saat akan melampaui kemampuan dunia menyediakan berbagai kebutuhan untuk mendukung suatu tingkat hidup yang lebih layak.

Komponen sederhana  untuk mengestimasi jumlah penduduk jika tersedia data sensus  penduduk dan data registrasi kelahiran,  kematian dan perpindahan penduduk:

 Pt =P0 + ( B-D) + Mi –Mo)

Teori transisi demografi dan aliran –aliran pemikiran mengenai kependudukan

1.      Tahap I ( pre Industrial)

Pertumbuhan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, sekitar 40-50 per 1.000 penduduk.

2.      Tahap II ( early industrial )

Angka kematian menurun dengan tajam  akibat revolusi industri serta kemajuan teknologi dan juga mulai ditemukannya obat-obatan , terutama antibiotik penisilin.

3.      Tahap III ( industrial)

Angka kematian terus menurun dengan kecepatan yang melambat.

4.      Tahap IV ( mature industrial)

Kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertumbuhan penduduk juga rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang maju.

Dalam arah perkembangan teori kependudukan ini seperti pemikiran Caldwell yang mengemukakan bahwa ada dua tipe renzim fertilitas, yaitu pertama, tipe renzim dimana individu-individu tidak memperoleh keuntungan ekonomis dengan membatasi fertilitas. Kedua, merupakan renzim yang sering atau kemungkinan besar memberikan  keuntungan ekonomis bagi individu-individu yang membatasi fertilitas.

Sejarah perkembangan penduduk dunia dan Indonesia

Angka –angka perkembangan penduduk dunia pada berbagai periode

Sejak munculnya manusia hingga masa permulaan sejarah, reit perkembangan penduduk dunia mungkin hanya sekitar 0,002 persen pertahun  atau 20 juta per tahun.  Fenomena ledakan penduduk ( cepat) muncul pada abad-abad terakhir. Dengan perkembangan sekitar 1, 7 persen per tahun. Jika pada permulaan tahun masehi penduduk bumi ditaksir hanya sekitar 250 juta, dan pada tahun 1650 baru menjadi sekitar 500 juta , pada tahun 1975 mencapai 4 milyar , dan pada tahun 1987 menjadi 5 milyar. Perkembangan penduduk yang cepat sedang terjadi di negara yang sedang berkembang. Sekitar 71 persen penduduk dunia tinggal di wilayah  negara berkembang.

Perkembangan penduduk jawa abad ke 19

Jumlah penduduk jawa hasil perkiraan atau perhitungan antara tahun 1795-1900 semakin meningkat dari 1, 25 persen menjadi 1, 86 persen. Menurut Breman berpendapat bahwa angka-angka pertambahan penduduk Jawa abad ke 19 mengalami pertambahan penduduk yang sangat cepat.

Penduduk  Indonesia di abad ke 20

Pada zaman Indonesia sebelum merdeka pengumpulan data jumlah penduduk yang lebih seksama mencakup seluruh wilayah  pada tahun 1920 sebanyak 49,3 juta dan jawa 35, 0 juta. Dalam masa 60 tahun terakhir antara 1930-1990 jumlah penduduk Indonesia hampir menjadi tiga kali lipat .

 

Daftar Pustaka

Rusli, Said. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta: LP3ES

 

 

Wita Eka Sucita (NIM. 112051000126) - KPI 5E 2014 - Etika dan Filsafat Komunikasi -  Tugas 1 "Etika 1"
Seputar Istilah dan Kerancuan Istilah: Etika dan Moral, Amoral dan Immoral, Etika dan Etiket, Moralitas, Subyektif,dst. Membedakan antara: Etika Deskriptif, Etika Normatif, dan MetaEtika; Hakikat Etika Filosofis
Etika berasal dari kata ethos (bahasa yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan, atau adat. Sebagai suatu subjek, etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, baik atau buruk. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Etika adalah refleksi dari "self control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri. Pendapat lain bahwa etika berasal dari bahasa inggris yang disebut dengan ethic (singular) yang berarti a system of moral principles or rules of behaviour, atau suatu sistem, prinsip moral, aturan atau cara berprilaku. Akan tetapi, terkadang ethics (dengan tambahan huruf s) dapat berarti singular. Jika ini yang dimaksud, ethics berarti the branch of philosophy that deals with moral principles, suatu cabang filsafat yang memberikan batasan prinsip-prinsip moral. Ethics dengan maksud plural (jamak) berarti moral principles that govern of influence a person's behaviour, prinsip-prinsip moral yang dipengaruhi oleh prilaku pribadi. Jadi, jika kita membatasi diri pada asal-usul kata ini "etika" berarti ilmu tentang apa yang bisa dilakukan atau ilmu tentang kebiasaan. Arti inilah yang menjadi latar belakang terbentuknya istilah "etika" yang oleh Aristoteles (384-322 SM) dipakai untuk menunjukan filsafah moral.
Moral menurut definisinya antara lain hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma. Saran untuk mengukur benar atau tidaknya tindakan manusia. Menurut Helden dan Richard "Kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dibandingkan tindakan-tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip-prinsip dan aturan aturan" (Helden dan Richard: 1997). Sedangkan menurut Atkinson pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan manusia (Atkinson:1969). Penerimaan sebuah nilai erat kaitannya dengan upaya-upaya rasinal manusia dalam mencari pembuktian-pembuktian yang meyakinkan dirinya akan kebenarannya, sehingga ia pun dapat hidup dengan cara yang baik dan pantas setiap saat. Oleh karena itu, pernyataan spesifik apa yang disebut "yang baik " dan "yang buruk", "apa yang pantas" dan "apa yang tidak pantas".serta bagaimana cara mengetahuinya merupakan persoalan yang urgen untuk dijawab untuk melihat aktivitas pembenaran moral yang sesungguhnya bagi manusia.
Etika dan etiket menyangkut prilaku manusia istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket. Kedua-duanya mengatur manusia secara normatif artinya memberi norma bagi prilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Justru karena keduanya bersifat nomatif maka keduanya sering dicampur adukan. Perbedaan yang sangat mendasar terletak pada cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukan cara yang tepat artinya cara yang tepat dan diharapkan, sedangkan etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan. Etika menyangkut apakah perbuatan itu boleh dilakukan.
Komunikasi hampir menyentuh semua aspek kehidupan keseharian manusia. Sebelum lebih jauh membahas tentang etika itu sendiri mari kita terlebih dahulu mengungkapkan etika yang berhubungan langsung dengan komunikasi. Etika dibagi menjadi tiga, yaitu etika deskriptif, etika normatif dan metaetika. Etika deskriptif adalah etika yang mendeskritifkan tingkah laku moral dalam arti luas, seperti adat kebiasaan, anggapan baik dan buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Objek penelitiannya adalah individu dan kebudayaan. Etika normatif dalam hal ini, seseorang dapat dikatakan sebagai participation approach karena yang bersangkutan telah melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang prilaku manusia. Ia tidak netral karena berhak untuk mengatakan atau menolak etika tertentu. MetaEtika yang berkata awalnya meta (Yunani) berarti melebihi atau melampaui. MetaEtika sendiri bergerak seolah-olah bergerak pada taraf lebih tinggi daripada prilaku etis, yaitu taraf "bahasa etis" atau bahasa yang digunakan di bidang moral.
Pengertian filsafat dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda dan hampir sama banyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Menurut Surajiyo Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan terminologi. (Surajiyo: 2010). Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan gabungan dari dua kata, yakni "philo" yang berarti "cinta" dan "sophos" yang berarti "kebijaksanaan". Dengan demikian, secara etimologi filsafat mempunyai arti "cinta akan kebijaksanaan" (love of wisdom). (Muhamad Mufid: 2009) Jadi, menurut namanya, filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta kepada kebijaksanaan. (M. Ahmad Syadalim: 1999) Kata filsafat petama kali digunakan oleh pythagoras (582-496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti halnya yang banyak dipakai sekarang ini oleh para kaum sophist dan juga oleh Socrates (470-399 SM). Etika disebut juga filsafat moral, merupakan cabang filsafat yang berbicara tentang tindakan manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, tetapi mempersoalkan cara manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma, diantaranya norma hukum, norma moral, norma agama, dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, norma moral berasal dari suara hati, dan norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari.

Referensi :
Drs. A. Ilham Macmud, Dipl. Sci., Apt dan Drs. Frans A. Rumate, Apt. Etika dan Prilaku, Universitas Hasanudin, 2005
H. Aang Ridwan,M. Ag, Filsafat Komunikasi, Bandung: Pustaka Setia, 2013

Tugas Etika dan Filsafat I (KPI 5 C)

Tugas Etika dan Filsafat I (KPI 5 C)

Muhammad Arif Fathurrahman_KPI 5E_Etika dan Filsafat

Nama : Muhammad Arif Fathurrahman
NIM : 1112051000154
Kelas : KPI/5E

Etika dan Etiket
Etika mengandung tiga pengertian, yaitu:
1.      Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai/norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
2.      Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral, misalnya kode etik.
3.      Etika merupakan ilmu tentang baik atau buruk. Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat seringkali tanpa disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis (Rizal, dkk, 2001: 29)
Perbedaan etika dan etiket
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, batas antara etika dan etiket bisa sangat tipis. Padahal dua terminologi tersebut sangat berbeda satu sama lain, meskipun di sana sini tetap masih ada persamaan antara etika dan etiket. Persamaannya adalah bahwa etika dan etiket menyangkut tindakan dan perilaku manusia, etika dan etiket mengatur perilaku manusia secara normatif.
Sementara itu ada beberapa perbedaan pokok antara etika dan etiket (lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004: 257):
1.      Etika menyangkut cara perbuatan yang harus dilakukan oleh seorang atau kelompok tertentu. Etiket memberikan dan menunjukkan cara yang tepat dalam bertindak. Sementara itu, etika memberikan norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut apakah suatu perbuatan bisa dilakukan antara ya dan tidak.
2.      Etiket hanya berlaku dalam pergaulan sosial. Jadi etiket selalu berlaku ketika ada orang lain. Sementara itu, etika tidak memerhatikan orang lain atau tidak.
3.      Etiket bersifat relatif. Dalam arti bahwa terjadi keragaman dalam menafsirkan perilaku yang sesuai dengan etiket tertentu. Etika jauh lebih bersifat mutlak. Prinsip etika bisa sangat universal dan tidak bisa ada proses tawar menawar.
4.      Etiket hanya menyangkut segi lahiriah saja. Sementara, etika lebih menyangkut aspek internal manusia. Dalam hal etiket, orang bisa munafik. Tetapi dalam hal dan perilaku etis, manusia tidak bisa bersifat kontradiktif.
 
Moral dan Moralitas
Istilah Moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata 'moral' yaitu mos  sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata 'etika', maka secara etimologis, kata 'etika' sama dengan kata 'moral' karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan,adat. Dengan kata lain, kalau arti kata 'moral' sama dengan kata 'etika', maka rumusan arti kata 'moral' adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu 'etika' dari bahasa Yunani dan 'moral' dari bahasa Latin.
'Moralitas' (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan 'moral', hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang "moralitas suatu perbuatan", artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.
 
Ammoral dan Immoral
Amoral sama artinya dengan non moral adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan konteks moral, diluar suasana etis. Menurut kamus Bahasa Indonesia, tidak bermoral berarti tidak berakhlak. Sedangkan dalam sudut bhasa latin, netral dari sudut moral atau tidak mempunyai relevansi etis.
Immoral menurut Concise Oxford Dictionary adalah sesuatu yang bertentangan dengan moralitas yang baik, secara moral buruk, tidak etis.

Cari Blog Ini