Senin, 06 Oktober 2014

IdhaChusaini_PMI5_Tugas Demografi3

A.    ANGKATAN KERJA
Angkatan kerja atau labour force adalah jumlah penduduk dengan usia produktif, yaitu 15-64 tahun yang sedang bekerja maupun mencari pekerjaan. Usia produktif tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu :
1.      Bukan angkatan kerja
Bukan angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang tidak bersedia bekerja atau belum bekerja. Misal, pelajar dan mahasiswa yang masih bersekolah.

Muhammad Arif Fathurrahman_KPI 5E_ Etika dan Filsafat Tugas 3

Nama: Muhammad Arif fathurrahman

NIM: 1112051000154

Kelas: KPI 5E


Definisi Filsafat

Poedjawijatna (1947: 11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Hasbullah Bakry (1971: 11) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya, sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaranyang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika dan bagi Al-Farabi filsafat ialah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.

Pythagoras, orang yang mula-mula menggunakan kata filsafat, memberikan definisi filsafat sebagai the love for wisdom. Menurut Pythagoras, manusia yang paling tinggi nilainya ialah manusia pencinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud olehnya dengan wisdom ialah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Ia membagi kualitas manusia menjadi tiga tingkatan: lovers of wisdom, lovers of success, dan lovers of pleasure (Mayer, 1950: 26).

Perbedaan definisi itu menurut Abu Bakar Atjeh (1970: 9) disebabkan oleh berbedanya konotasi filsafat pada tokoh-tokoh itu karena perbedaan keyakinan hidup yang dianut mereka. Perbedaan itu juga dapat muncul karena perkembangan filsafat itu sendiri yang menyebabkan beberapa pengetahuan khusus memisahkan diri dari filsafat. Sampai di sini dapat diambil kesimpulan bahwa perbedaan difinisi filsafat antara satu tokoh dengan tokoh lainnya disebabkan oleh konotasi filsafat pada mereka masing-masing.



Unsur-unsur Filsafat

1.        Epistemologi

            Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.

Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan. Istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F.Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971: 94).

2.        Ontologi

Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Ada yang menamakan bagian ini ontologi.

Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan (Langeveld).

Hakikat ialah realitas; realitas ialah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.

3.        Aksiologi

Seandainya ditanyakan kepada Socrates atau Nietzsche apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadi manusia, dengan filsafat orang akan mungkin menjadi orang bijaksana. Kegunaan filsafat dalam rumusan itu terlalu umum sehingga sulit dipahami.

Untuk mengetahui kegunaan filsafat atau untuk apa filsafat itu digunakan atau apa sih guna filsafat itu, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagau tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philosophy of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah.

 

Metode Filsafat

Sebenarnya jumlah metode filsafat hampir sama banyaknya dengan defenisi dari para ahli dan filsuf sendiri karena metode ini adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Penjelasan secara singkat metode-metode filsafat yang khas adlah sebagai berikut:
1. Metode Kritis : Socrates dan plato
            Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode Intuitif : Plotinus dan bergson
            Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.

3. Metode Skolastik : aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.
         Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.

4. Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
           Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.

5. Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
            Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.

6. Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
         Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.

7. Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
            Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a. reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b. Reduksi eidetis.
c. Reduksi transendental

8. Metode Dialektis : Hegel dan Mark
            Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).

9. Metode Non-positivistis
            Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).

10. Metode analitika bahasa : Wittgenstein
            Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.


Hakikat Filsafat

karakteristik berfikir filsafat sendiri adalah meliputi  karakteristik yang bersifat menyeluruh,  bersifat mendasar, dan bahkan bersifat spekulatif. Maksudnya adalah bahwa seseorang dalam mereka berfilsafat itu tidak hanya ingin tahu pada satu objek saja namun ingin mengetahui seluruh objek yang belum mereka ketahui secara filsafati. Lalu seseorang yang berfikir filsafat itu tidak mau hanya sekedar menerima pendapat dari satu objek, namun ia ingin mengkaji dengan sendirinya tentang hakikat kebenaran dari suatu objek kajian. Dan dalam  mereka menemukan hakikat kebenaran yang sesungguhnya, mereka membutuhkan landasan atau patokan yang menguatkan mereka dan menjadi dasar bagi mereka atas kebenaran yang mereka peroleh dari suatu objek kajian.

 

Tugas3_Ahmad Zainuddin Syah_1112051000089_KPI5C

FILSAFAT
A. Definisi Filsafat
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa yunani, philosophia. Kata ini terdiri dari kata philo dan shopia. Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dank arena itu timbul usaha untuk mencapai yang dicintai atau yang diinginkan itu. Shopia artinya kebijaksanaan, kepandaian, atau pengertian yang dalam. Menurut arti harfiah, filsafat boleh diartikan cinta kepada kebijaksanaan.
Filsafat menurut beberapa ahli
• Aristoteles (384 SM-322 SM) mengatakan: filsafat adalahilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki dan asas segala benda.
• Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
a. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
b. Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
c. Sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
d. Apa itu manusia? ( dijawab olh Antropologi )

B. Unsur-Unsur Filsafat
Berdasarkankajian Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya "Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer" kajian filsafat ilmu adalah mencakup 3 dimensi, yakni; Landasan Ontologis, Landasan Epistemologis, Landasan Aksiologis
a. Dimensi Ontologis
Ontology menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berada di mana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan (objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam rangka tradisional ontology dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan akhir-akhir ini ontology dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada (Susanto, 2011).
b. Dimensi Epistemologi
Epistemologi juga sering disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemology berasal dari bahasa Yunani episteme, yang artinya pengetahuan, dan logos yang artinya ilmu atau teori. Jadi epestemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal-usul dan mula atau sumber, struktur, metode, dan syahnya pengetahuan (Ismaun, 2002; M. Thoyibi, 2003; Sudarsono, 2008; Susanto, 2011).
c. Dimensi Aksiologis
aksiologi adalah "teori tentang nilai". Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika. Aksiologi sebagai salah satu cabang filsafat membahas nilai sebagai imperative dalam penerapan ilmu pengetahuan secara praksis (Ismaun, 2002; M. Thoyibi, 2003; Sudarsono, 2008; Susanto, 2011).

C. METODE FILSAFAT
1. Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode Intuitif : Plotinus dan Bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3. Metode Skolastik
aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4. Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5. Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
6. Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.
7. Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a. reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b. Reduksi eidetis.
c. Reduksi transcendental
8. Metode Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).
9. Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10. Metode analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.

D. HAKIKAT FILSAFAT
Dalam dunia filsafat bahasan masalah 'hakikat' masuk kedalam ranah ontologis, tetapi dalam dunia filsafat pemahaman tentang hakikat tentu saja dibatasi pengertiannya sebatas pemahaman terhadap "segala sesuatu yang bersifat mendasr" artinya filsafat tidak menyandarkan pengertian hakikat dengan hal-hal yang bersifat Ilahiah.


SUMBER
- Suriasumantri. S. Jujun. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
- Ismaun. H. 2002. Filsafat Ilmu. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
- Susanto. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

Tugas3_Ahmad Zainuddin Syah_1112051000089_KPI5C

FILSAFAT
A. Definisi Filsafat
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa yunani, philosophia. Kata ini terdiri dari kata philo dan shopia. Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dank arena itu timbul usaha untuk mencapai yang dicintai atau yang diinginkan itu. Shopia artinya kebijaksanaan, kepandaian, atau pengertian yang dalam. Menurut arti harfiah, filsafat boleh diartikan cinta kepada kebijaksanaan.
Filsafat menurut beberapa ahli
• Aristoteles (384 SM-322 SM) mengatakan: filsafat adalahilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki dan asas segala benda.
• Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
a. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
b. Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
c. Sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)
d. Apa itu manusia? ( dijawab olh Antropologi )

B. Unsur-Unsur Filsafat
Berdasarkankajian Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya "Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer" kajian filsafat ilmu adalah mencakup 3 dimensi, yakni; Landasan Ontologis, Landasan Epistemologis, Landasan Aksiologis
a. Dimensi Ontologis
Ontology menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berada di mana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan (objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada; dalam rangka tradisional ontology dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan akhir-akhir ini ontology dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada (Susanto, 2011).
b. Dimensi Epistemologi
Epistemologi juga sering disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemology berasal dari bahasa Yunani episteme, yang artinya pengetahuan, dan logos yang artinya ilmu atau teori. Jadi epestemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal-usul dan mula atau sumber, struktur, metode, dan syahnya pengetahuan (Ismaun, 2002; M. Thoyibi, 2003; Sudarsono, 2008; Susanto, 2011).
c. Dimensi Aksiologis
aksiologi adalah "teori tentang nilai". Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki oleh manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada permasalahan etika dan estetika. Aksiologi sebagai salah satu cabang filsafat membahas nilai sebagai imperative dalam penerapan ilmu pengetahuan secara praksis (Ismaun, 2002; M. Thoyibi, 2003; Sudarsono, 2008; Susanto, 2011).

C. METODE FILSAFAT
1. Metode Kritis : Socrates dan plato
Metode ini bersifat analisis istilah dan pendapat atau aturan-aturan yang di kemukakan orang. Merupakan hermeneutika, yangmenjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak yang akhirnya di temukan hakikat.
2. Metode Intuitif : Plotinus dan Bergson
Dengan jalan metode intropeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol di usahakan membersihkan intelektual (bersama dengan pencucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pemikiran. Sedangkan bergson dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3. Metode Skolastik
aristoteles, thomas aquinas, filsafat abad pertengahan.Metode ini bersifat sintetis-deduktif dengan bertitik tolak dari defenisi-defenisi atau prindip-prinsip yang jelas dengan sendirinya di tarik kesimpulan-kesimpulan.
4. Metode Geometris : rene descartes dan pengikutnya
Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks di capai intiuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain), dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5. Metode Empiris :Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume
Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide ) dalam intropeksi di bandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian di susun bersama secara geometris.
6. Metode Transendental : Immanuel Kant dan Neo skolastik
Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalan analisis di selidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.
7. Metode fenomenologis : Husserl, Eksistensialisme
Yakni dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. Fenomelogi adalah suatu aliran yang membicarakan tentang segala sesuatu yang menampakkan diri, atau yang membicarakan gejala. Hakikat segala sesuatu adalah reduksi atau penyaringan dan menurut Husserl ada tiga macam reduksi yaitu:
a. reduksi fenomologis, kita harus menyaring pengalaman-pengalaman kita agar mendapat fenomena semurni-murninya.
b. Reduksi eidetis.
c. Reduksi transcendental
8. Metode Dialektis : Hegel dan Mark
Dengan jalan mengikuti dinamik pikiran atau alam sendiri menurut triade tesis, antitetis, sistesis di capai hakikat kenyataan. Dialektis itu di ungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu dua pengertian yang bertentangan kemudian di damaikan (tesis-antitesis-sintesis).
9. Metode Non-positivistis
Kenyataan yang di pahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10. Metode analitika bahasa : Wittgenstein
Dengan jalan analisa pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis. Metode ini di nilai cukup netral sebab tidak sama sekali mengendalikan salah satu filsafat. Keistimewaannya adalah semua kesimpulan dan hasilnya senantiasa di dasarkan kepada penelitian bahasa yang logis.

D. HAKIKAT FILSAFAT
Dalam dunia filsafat bahasan masalah 'hakikat' masuk kedalam ranah ontologis, tetapi dalam dunia filsafat pemahaman tentang hakikat tentu saja dibatasi pengertiannya sebatas pemahaman terhadap "segala sesuatu yang bersifat mendasr" artinya filsafat tidak menyandarkan pengertian hakikat dengan hal-hal yang bersifat Ilahiah.


SUMBER
- Suriasumantri. S. Jujun. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan.
- Ismaun. H. 2002. Filsafat Ilmu. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
- Susanto. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.

Filsafat: Definisi, unsur-unsur, metode, hakikat.

Nama : Nenden Nelawati
Nim     :1112051000135
Kelas  : KPI 5E

A.    Definisi filsafat
Sebelum kita menarik kesimpulang tentang apakah definisi filsafat itu, maka sebaiknya kita berkelana sejenak dengan beberapa tokoh ilmuan-ilmuan terkemuka seperti di bawah ini.
            Plato (427-347 sebelum masehi) seorang murid dari tokoh Sokrates merumuskan sebagai berikut: "filsafat tidaklah lain dari pengetahuan tentang segala yang ada."
            Al-kindi (384-322) satu-satunya orang arab asli diantara para pilsuf karenanya dia bergelar "al-faylasuf al-arab", menulis tentang filsafat pertama atau metafisika sebagai berikut: "kegiatan manusia yang bertingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa definisi Filsafat adalah ilmu pengetahuan mengenai segala sesuatu dengan memandang sebab-sebab yang terdalam, tercapai dengan budi murni.[1]
B.     Unsur-unsur filsafat
1.      Epistemologi
Yaitu pentingnya makna dan kebenaran. Pemakaian dan penyebutan, harap diperhatikan bila saya menanyakan makna suatu kata, saya biasannya membubuhkan tanda petik pada kata tersebut. Ini menunjukan bahwa saya menghendaki makna kata yang memakai simbol yang bersangkutan.
Situasi-tanda, baiklah kita definisikan tanda sebagai sesuatu yang merupakan wahana makna. Ada dua jenis tanda, yakni tanda yang rasional dan tanda yang buatan. Analisa terhadap situasi tanda, di dalam situasi-tanda, ada tiga segi yang dapat ditunjukan, yaitu: segi pragmatis, semantik dan sintaksis.
Makna, sejalan dengan ketiga situasi tanda atau situasi makna tersebut terdapat tiga corak makna yang pokok yakni corak pragmatis, semantik dan sintaksis. Makna denotatif dapat diketahui melalui asosiasi. Makna sebagai sesuatu yang dianggap sebagai materi. Santayana berpandangan bahwa esensi atau makna mempunyai kenyataan sendiri, dan kemudian terdapat di dalam materi. Makna sebagai operasi bagi Brigman seorang ahli fisika ia menolak tegas bahwa makna sudah ada sebelumnya. Baginya makna suatu kata terdiri dari seperangkat tindakan-tindakan khusus yang diasosiasikan dengan makna tersebut. Atas dasar itu maka ajarannya dikenal sebagai operasionisme. Makna sebagai konsekuensi. Makna sebagai pengalaman. Makna, pengalaman yang dibentuk oleh akal. Kebenaran, adalah suatu perkataan yang bersifat semantik. Ukuran-ukuran kebenaran  
2.      Ontologi
Menanggapi kenyataan yang terdalam.
Ontologi yang bersahaja, kebanyakan orang setidak-tidaknya mengadakan pembedaan antara barang-barang yang dapat dilihat, diraba yang tidak bersifat kejasmanian atau yang dipahamkan jiwa.
Ontologi kuantitatif dan kualitatif, ontologi dapat mendekati masalah hakekat kenyataan dari dua macam sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan, "kenyataan itu tunggal atau jamak?" yang demikian ini merupakan pendekatan kuantitatif atau orang dapat juga mengajukan pertanyaan "dalam babak terakhir, apakah yang merupakan kenyataan itu?" yang demikian ini merupakan pendekatankualitatif.
ontologi monistik, lama berselang di Yunani kuno, Parmenides mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat semu belaka.
3.      Aksiologi (makna nilai)
Makna yang dikandung oleh nilai dan yang baik. Sejumlah penggunaan istilah baik, "ini pisau baik", sudah pasti yang saya maksudkan berbeda dengan apabila saya mengatakan "pisau merupakan sesuatu yang baik" dalam hal ini kesehatan dalam dirinya sudah mengandung unsur kebaikan, sedangkan pisau dikatakan baik karena dapat menjadi alat untuk melakukan sesuatu.
Masalah baik dan masalah nilai,
Filsafat nilai,  aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.[2]
C.    Metode-metode Filsafat
1.      Analisa : ekstensi dan intense. Maksud pokok mengadakan analisa ialah melakukan pemeriksaan konsepsional atas makna yang dikandung oleh istilah-istilah yang digunakan dan pernyataan-pernyataan yang dibuat. Pemeriksaan ini mempunyai dua segi. Kita berusaha memperoleh makna baru yang terkandung dalm istilah-istilah yang bersangkutan, dan kita menguji istilah-istilah itu melalui penggunannya, atau dengan melakukan pengamatan terhadap contohnya.
2.      Sintesa : filsafat spekulatif sebagai penyusunan sistem. Lawan analisa atau perincian adalah sintesa atau pengumpulan. Maksud sintesa yang utama adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia. Penyusunan sistem. Penyusunan sistem, demikian proses ini sering dinamakan, atau filsafat spekulatif.[3]
D.    Hakekat Permasalahan Filsafat
1.      Filsafat dikatakan suatu ilmu pengetahuan, suatu bentuk pengetahuan. Orang berhubungan dengan kenyataan melalui pengetahuannya, timbullah soal-soal dan usaha-usaha untuk memecahkannya yang merupakan pekerjaan pengetahuan pula.
2.      Obyek pengetahuan kita ialah: semua yang ada. Inilah lapangan filsafat.
3.      Dunia tempat manusia hidup dapat dipersoalkan pula.
4.      Dan terutama:apakah sebenarnya pada hakikat manusia itu? [4]
 
                                 
                                                    


[1] Drs. Burhanudin Salam. Pengantar Filsafat.  (PT. Buni Aksara: Jakarta, 2009), hal. 67-70
[2] Louiso O. Kattsoff. Pengantar Filsafat. (Tiara Wacana Yogya:Yogyakarta, 2004:, hal. 159-319
[3] Louiso O. Kattsoff. Pengantar Filsafat. hal: 18-22
[4] Drs. Burhanudin Salam. Pengantar Filsafat.  hal. 126-128

Tugas ke III / Novi Fitriani / 1112051000147 / KPI 5E

Novi Fitriani / 1112051000147 / KPI 5E

1.      Definisi   Filsafat

-          Plato : Filsafat adalah pengetahuan yang berniat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.

-          Aristoteles : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan)

-          Kesimpulan : Filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.

2.      Unsur-unsur Filsafat

a.      Epistemologi (membicarakan cara memperoleh pengetahuan)

Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure methods and validity of knowledge.

Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains. Pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, yaitu: Empirisme, Rasionalisme, Positivisme.

b.      Ontologi (membicarakan pengetahuan itu sendiri)

Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Ada yang menamakan bagian ini ontologi.

Hakitat yaitu realitas; realitas ialah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.

c.       Aksiologi (membicarakan nilai guna pengetahuan)

Untuk mengetahui kegunaan filsafat, dapat dilihat dari tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kumpulan teori filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran, karena dunia dibangun dan dibentuk oleh dua kekuatan yaitu agama dan filsafat.  kedua filsafat sebagai pandangan hidup, yaitu filsafat sama halnya dengan kegunaan agama, sebagai jalan kehidupan atau pedoman. ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah. Sesuai dengan sifat filsafat yang memecahkan masalah secara mendalam dan universal. Pertama-tama mencari penyebab paling awal munculnya masalah, universal artinya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.

 

3.      Metode-metode Filsafat

d.      Metode Kritis : bersifat analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan, dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat. (Sokrates, Plato)

e.      Metode Intuitif : Dengan jalan intropeksi pembersihan intelekual (bersama dengan persucian moral), sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.(Platinos). Dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.(Bergson).

f.        Metode Skolastik : bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.(Aristoteles, Tomas Aquinas, filsafat abad pertengahan)

g.      Metode matematis : Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana (ide terang dan berbeda dari yang lain) ; dari hakikat-hakikat itu di dedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya. (Decrates dan pengikutnya)

h.      Metode empiris : hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam instropeksi dibandingkan dengan serapan-serapan (impressi) dan kemudian disusun bersama secara geometris. (Hobbes, Locke, Barkeley, Hume).

i.        Metode transendental : Bertitik-tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat aprioribagi pengertian sedemikian. (Kant, Neo-Skolastik).

j.        Metode dialektis : dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis dicapai hakikat kenyataan. (Hegel, Marx)

k.      Metode fenomenologis : dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni. (Husserl, eksistensialisme)

l.        Metode Neo-positivistis : kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.

m.    Metode analitika bahasa : dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi. (Wittgenstein).

4.      Hakikat

Definisi Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry menjelaskan satu hal yang penting yaitu bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir. Ciri khas filsafat ialah ia diperoleh dengan berpikir dan hasilnya berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empiris). Kita sebenarnya tidak cukup hanya mengatkan filsafat itu hasil pemikiran yang tidak empiris, karena pernyataan itu memang belum lengkap. D. C. Mulder mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Namun dengan mengatakan bahwa filsafat ialah hasil pemikiran yang hanya logis, kita telah menyebutkan intisari filsafat. Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan logis dan tidak empiris.

 

Sumber : Poerwantana, dkk.. Seluk Beluk Filsafat. Salatiga: CV Rosda. 1987

Sudarsono, Ilmu Filsafat. Jakarta: Rineka Cipta. 1993

Ajeng dwi rahma putri_tugas ke 4_PMI 3_ relasi-relasi produktif dan tidak produktif masyarakat kota

Relasi – relasi produktif dan tidak produktif masyarakat kota

1. Pengertian relasi , produktif dan tidak produktif

Pengertian produktivitas Produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang dipergunakan per satuan waktu, definisi kerja ini mengandung cara atau metode pengukuran, walaupun secara teori dapat dilakukan secara tetapi secara praktek sukar dilaksanakan, terutama karena sumber daya masukan yang dipergunakan umumnya terdiri dari banyak macam dan di proporsi yang berbeda.

Usaha-usaha Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja
Guna mencapai efisiensi, produktivitas karyawan sangat diperlukan. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain (Ravianto, 1986):
1. Peningkatan pendidikan
Pendidikan dan latihan menambah pengetahuan dan ketrampilan kerja. Latihan dapat dilakukan di dalam maupun di luar pekerjaan. Latihan yang dilakukan umumnya bersifat formal.
2. Perbaikan penghasilan dan pengupahan
Perbaikan pengupahan pada akhirnya akan dapat menjamin perbaikan gizi dan kesehatan. Kekurangan gizi masyarakat bukan saja menghambat pertumbuhan anak-anak tetapi juga secara langsung mempengaruhi produktivitas karyawan. Rendahnya tingkat pendapatan menyebabkan seseorang tidak dpat memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan dan kesehatan yang memadai, yang lebih lanjut menyebabkan produktivitas yang rendah.
3. Pemilihan teknologi sarana pelengkap untuk berproduksi
Seseorang yang menggunakan peralatan yang lengkap dan sempurna lebih tinggi produktivitasnya dibanding dengan orang yang menggunakan peralatan yang lebih sederhana.
4. Peningkatan kemampuan pimpinan
Kemampuan dan tingkat produktivitas kerja yang tinggi dari karyawan tidak ada begitu saja jika tidak didukung oleh pimpinan yang kreatif dan partisipatif. Untuk itulah pihak manajemen sangat diperlukan partisipasinya.
Tidak produktif berarti tidak menghasilkan suatu karya atau tidak tercapainya suatu pengeluaran yang akibatnya akan terjadi kerugian.
Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut. Sedangkan Pengertian masyarakata kota menurut Max Weber. Kota menurutnya apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal.



2. Pertanyaan penelitian
a. Apakah masyarakat kota purwakarta terbilang produktif ?
b. Bagaimana mereka bisa mempertahankan nilai produktif itu ?
c. Apakah dengan saling berkompetisi hubungan masyarakat masih harmonis?
3. Analisis terhadap 3 persepektif
• Teori structural fungsionalis menurut Durkheim
Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian – bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern.
Teori fungsionalisme yang menekankan kepada keteraturan bahwa masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain, dengan kata lain masyarakat senantiasa berada dalam keadaan berubah secara berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa dan setiap struktur yang ada, fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian pula semua institusi yang ada diperlukan oleh sistem sosial itu, bahkan kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat dari kondisi dinamika dalam keseimbangan. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, fungsional terhadap yang lain. Sebaliknya jika tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.
Masyarakat kota purwakarta terbilang produktif karna banyak warga yang berwirausaha seperti membuka warnet, berdagang, menyewakan kamar untuk kos kostan dll. Walaupun mereka tau tempat nya tidak sesuai dengan harapan karna purwakarta bukanlah kota yang besar dan maju.
• Teori tindakan social Max Weber
Tindakan sosial menurut Max Weber adalah suatu tindakan individu sepanjang tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain (Weber dalam Ritzer 1975). Suatu tindakan akan dikatakan sebagai tindakan social ketika tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada orang lain (individu lainnya). Meski tak jarang tindakan social dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Bahkan terkadang tindakan dapat berulang kembali dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Weber dalam Turner 2000). menurut Weber tindakan sosial dapat pula dibedakan dari sudut waktu sehingga ada tindakan yang diarahkan kepada waktu sekarang, waktu lalu, atau waktu yang akan datang. Sasaran suatu tindakan social bisa individu tetapi juga bisa kelompok
atau sekumpulan orang. Campbell (1981).
Mereka bisa mempertahankan nilai produktif itu karna mereka berfikir bahwa hidup penuh berkompetisi sehingga mereka tidak putus asa dan terus mengembangkan usahanya dengan harapan usahanya bisa maju lebih dari sekarang.
• Teori kelas menurut Karl Mark
Teori Kelas merupakan teori yang berdasarkan pemikiran bahwa: "sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian anatara golongan". Analisa Marx mengemukakan bagaiamana hubungan antar manusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-sarana Produksi, yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang langka. Perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi sebab pertikaian antar golongan. Marx Beranggapan bahwa posisi didalam struktur yang seperti ini selallu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka. Marx beranggapan bahwa meskipun gejala-gejala historis adalah hasil dari mempengaruhi berbagai komponen, namun pada analisa terakhir hanya ada satu independent variable yaitu Faktor Ekonomi. Dan menurut Marx sendiri, perkembangan-perkembangan politik, hukum filsafat, kesusasteraan serta kesenian, semuanya
tertopang pada faktor ekonomi. Kelas sosial atau golongan sosial merujuk pada stratifikasi (penggolongan) anatara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya. Berdasarkan karakteristik stratifikasi sosial, dapat ditemukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam masyarakat.
Walaupun banyaknya persaingan tetapi masyarakat purwakarta tetap saling bertoleransi dan harmonis, karna mereka berfikir bahwasanya rizki sudah ada yang mengatur. Mereka juga menganggap mereka berdagang itu untuk memenuhi kebutuhuhan hidup dan memacu mereka untuk mebuat masakan atau dagangan yang enak dan bagus. Sehingga masakan atau dagangan yang mereka jual laku di beli. Itu lah yang menyebabkan tidak ada perselisihan diantara mereka.

Cari Blog Ini