Rabu, 15 Oktober 2014

TUGAS_UTS_Ahmad Nurul Macky_1112051000086

I.                   Latar Belakang
 
a.       Persoalan Etika yang dikaji
Istilah "Kindegarden" atau taman kanak-kanak baru dipakai Froebel tahun 1837 pemikiran untuk mendirikan sekolah khusus bagi anak-anak telah ada jauh sebelum itu. Bebrapa tokoh penting seperti Martin Luther, Comenius, Pestalozzi, Darwin dan Saguin memberi sumbangan yang tak ternilai untuk menyarankan agar anak laki-laki sebaiknya di beri pendidikan formal. Hal ini didasarkan atas penyataan bahwa anak laki-laki pada saat itu merupakan tulang punggung keluarga yang harus mampu menghidupi keluarganya, mendidik, membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Untuk itu  anak laki-laki sebaiknya bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ia juga menyarankan agar musik dan olahraga di masukkan dalam kurikulum (Frost dan Kissinger 1976).
Tokoh lain adalah John Comenius (1592-1670) ia menginginkan agar semua anak mendapat kesempatan belajar di sekolah. Idenya yang cemerlang dan masih dipakai sampai sekarang adalah kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum) dan kurikulum yang memberi kesempatan anak untuk belajar pengalaman langsung. Kurikulum yang terintegrasi tidak memisahkan bidang studi seperti matematika, sains, ilmu sosial, seni dan bahasa.
Charles Darwin (1959) menulis buku tentang The Origin of species dimana ia menyatakan bahwa setiap individu yang adaftif akan survive atau tetap hidup dan melanjutkan keturunannya. Oleh karena itu agar anak bisa tetap hidup maka ia harus berlatih beradaptasi dengan lingkungannya. Disamping itu, para pendidik perlu menyadari adanya perbedaan antar individu yang berdampak pada perbedaan cara belajarnya.
Jean jacques Rousseau (1712-1778) ia menuangkan pikirannya tentang paud dalam novelnya Emile. Ia menuangkan pendapat bahwa anak adalah miniatur oarang dewasa dan menyarankan agar anak di didik sebagaimana kodratnya. Ia berpendapat bahwa pendidikan sebaiknya di sesuaikan dengan usia anak. Menurutnya anak usia lahir sampai lima tahun belajar terbanyak melalui aktivitas fisiknya. Sementara anak usia lima tahun sampai dua belas tahun belajar melalui pengalaman langsung dan melalui eksplorasi terhadap lingkungannya.
 
b.      Alasan (Filosofis dan Praktis)
Saat ini sudah ada begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang berdiri di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari yang bersertifikasi internasional, berlatar agama, hingga lainnya. Begitu banyaknya penawaran dan embel-embel tersebut, tak heran orangtua kebingungan harus memilih yang mana yang tepat untuk anak. 
Namun, pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa diberikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini.
Begitu juga hal yang dilakukan oleh R.A Nurul Yaqin. R.A yang didirikan oleh Hj. Nurjannah ini terbentuk pada tanggal 11 November 2006 terinspirasi dari kurangnya pendidikan anak usia dini yang berada di lingkungan kampung baru kebon jeruk sukabumi selatan. R.A yang awalnya menggunakan halaman masjid ini, kini telah berpindah ke kediaman beliau yang terletak di jl. Pahlawan raya no.51 sukabumi selatan kebon jeruk Jakarta barat. Tujuan dibentuk nya R.A Nurul Yaqin ini adalah:
·         Meningkatkan pemahaman dalam beragama
·         Mengembangkan nilai sosialisasi dan potensi dalam diri anak
·         Meningkatkan pengetahuan atau pengalaman melalui kemampuan daya pikir
·         Menumbuhkan minat baca dan rasa ingin tahu pada anak
·         Memberikan fasilitas bermain bagi keluarga yang tidak mampu
·         Membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa dan meningkatkan SDM anak sejak usia dini
 
c.       Kasus yang diangkat
Ada banyak masalah yang dihadapi oleh R.A Nurul Yaqin. Diantaranya ada anak usia dini yang ia temui memperbolehkan pengasuhnya ikut ke dalam kelas. Disini jelas, pengasuh mengambil alih otoritas orangtua. Padahal tenaga pendidik tidak menyarankan pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak harus belajar mandiri. Kemudian saya pernah melihat dalam kelas ada seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya berani mengambil risiko. Yang jadi masalah di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, adalah kurangnya pelatihan guru-guru agar terus menjadi lebih baik, tak adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua, dan kurang kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini lainnya.
 Perlu diketahui lagi, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari 18 bulan.
BAB II
II.                Teori Etika
1. Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme. Pertama,
egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan manusia
dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang boleh saja
yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan
yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi.
Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Menurut teori ini, tidak
ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitu suatu tindakan yang peduli pada
orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan mengorbankan kepentingan
dirinya. Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri
(self-interest).
Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang
lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan kepentingan orang
lain.
2. Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi sebanyak
mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number). Paham
utilitarianisme sebagai berikut: (1) Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat,
konsekuensi, atau tujuan dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak, (2) dalam
mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah
kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan, (3) kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa yang
memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu,
sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang kepentingan orang banyak.
 
BAB III
III.             Metodologi
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang merupakan penggambaran, pemahaman, interpretasi,  penafsiran, pengembangan,  dan eksplorasi terhadap suatu masalah penelitian. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan serta pengaruh dari suatu fenomena. Dalam pendekatan metode ini bentuk penjelasan tentang fenomena yang dibahas, yang bertujuan untuk memahami makna sehingga menghasilkan daya deskriptif yang mampu menggambarkan secara luas tentang prosedur etika pada lembaga/institusi komunikasi yang pada penilitian kali ini mengangkat permasalah etika yang ada di R.A Nurul Yaqin JL.Pahlawan Raya No.51 Sukabumi Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat.
 
1.      Subjek dan Objek Penelitian
-      Subjek Penelitian
Subjek penelitianya adalah  R.A Nurul Yaqin sebagai suatu lembaga institusi yang akan diteliti.
-          Objek Penelitian
Objek penelitianya adalah  mengapa dalam melaksanakan tugas mulia tersebut, di R.A ini seringkali banyak masalh etika yang terjadi?
 
2.      Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian kualitatif dikenal dengan istilah populasi dan sample. Istilah yang digunakan adalah setting atau tempat penelitian. Tempat penelitianya adalah di secretariat R.A Nurul Yaqin Sukabumi Selatan Kebon Jeruk Jakarta Barat dari tanggal 9 Oktober 2014 s/d 10 Oktober 2014
 
3.      Teknik Pengumpulan Data
 Alat pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah sebagai berikut
-          Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
-           Observasi
Observasi adalah pengamatan secara sengaja, sistematis, mengenai fenomena social yang kemudian dilakukan pencatatan.
 
 
 

TUGAS_3_Ahmad Nurul Macky_1112051000086

FILSAFAT
A.    Definisi Filsafat
Secara harfiah, istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani yakniPhilosophia, kemudian dalam perkembangannya dikenal juga dalam beberapa bahasa diantaranya Belanda, Jerman dan Perancis yang dikenal sebagai philosophie, dalam bahasa Inggris disebut philosophy, philosophia dalam bahasa Lain dan falsafah dalam bahasa Arab.
Dari pengertian-pengertian secara istilah diatas, memunculkan beberapa pemahaman makna filsafat yang berbeda-beda. Namun para filsuf yang berupa philosophien merumuskan bahwa terdapat dua unsur pokok dalam istilah filsafat secara harfiah tersebut yang terbagi atas dua akar kata yaitu phillien dan shopos  serta philos  dan sophia.
Kemudian para filsuf tersebut mencoba untuk menguraikan satu persatu pengertian dari kedua kelompok unsur pokok tersebut. Unsur pokok pertama yakni phillien dan shopos,phillien memiliki arti mencintai dan shopos memiliki arti bijaksana. Dari pengertian secara harfiah dari kedua kata tersebut, maka bermakna bahwa filsafat berarti mencintai segala sesuatu yang memiliki sifat kebijaksanaan.
Sedangkan arti atau makna dari kata philosophia ditinjau dari akar kata philos dan shopia memiliki arti kawan kebijaksanaan. Dengan kata lain philosopie berarti menurut katanya ialah mencintai akan kebijaksanaan dan berusaha untuk memilikinya.Kebijaksanaan yang dimaksud memiliki kandungan arti hakikat. Seorang filsuf berarti seorang yang mencintai kebijaksanaan dan mencari hakikat sedalam-dalamnya.
Untuk batasan-batasan filsafat sendiri, para filsuf memiliki ukuran dan batasan yang berbeda. Setiap masing-masing filsuf memiliki rumusan dan batasan tersendiri mengenai filsafat. Perbedaan tersebut sangat beragam, terkadang perbedaan itu berdasarkan essensialnya. Namun semua perbedaan itu tidak benar-benar mendasar. Namun secara jelasnya, perbedaan yang beragam tersebut dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi etimologi dan dari segi terminologi.
Secara etimologi, seperti yang sudah diuraikan diatas sebelumnya bahwa filsafat berasal dari beberapa bahasa sesuai dengan pendapat masing-masing. Ada yang beranggapan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', ada juga yang berasal dari bahasa Yunani ''philosophia' yang merupakan sumber akar pula dari 'philosophy' yang berasal dari bahasa Inggris.
Sedangkan secara terminologi, ada banyak tokoh dan ahli dalam bidang filsafat yang mengemukakan definisi filsafat tersebut sesuai dengan kecenderungan pemikiran dan pandangan mereka masing-masing terhadap filsafat itu sendiri. Diantaranya yaitu:
1.      Menurut Plato filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan yang asli.
2.      Menurut Aristoteles filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,ekonomi, politik dan estetika.
3.      Menurut Al Farabi filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Dan beberapa pengertian lainnya masih banyak filsuf yang mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun dari semua uraian diatas dapat ditarik garis besarnya bahwa filsafat ialah ilmu yang mencari dan mendalami tentang sesuatu secara sungguh-sungguh sehingga mencapai hakikat dari situasi tersebut.
B.     Unsur-unsur filsafat
Unsur-unsur filsafat terbagi menjadi tiga macam, antara lain:
1.      Ontologi
Secara harfiah, ontologi berasal dari bahasa Yunani; ta onta yang berarti 'yang berbeda' dan logi yang berarti ilmu pengetahuan/ajaran. Bisa disimpulkan ontologi ialah ilmu pengetahuan tentang yang berada. Secara sederhananya ontologi ialah ilmu tentang agama. Dalam levelnya ia berada di metafisik/abstrak, kemudian diurunkan ke ilmu pengetahuan (epistomologi).
Tokoh yang memperkenalkan istilah ontologi ini ialah C. Wolff (1679-1714)
2.      Epistomologi
Secara harfiah epistomologi terdiri dari kata 'episteme' yang berarti pengetahuan dan kata 'logos' yang berarti teori. Sehingga dalam istilah bahasa Inggris epistomlogi dikenal sebagai 'Theory of knowledge'. Epistomologi secara artian yang lebih rinci diistilahkan sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari lebih dalam tentang asal  mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.
3.      Aksiologi
Secara harfiahnya aksiologi berasal kata Yunani yang terdiri dari axion yang berarti nilai dan logos  yang berarti teori tentang nilai. Sedangkan secara istilahnya aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mempertanyakan dan mempelajari secara mendalam tentang bagaimana manusia menggunakan ilmunya. 
Aksiologi dibagi menjadi dua yaitu estetika yang berarti artistik, praktis dan bersifat relatif, serta etika yang berarti nilai atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai kata ethic.
C.     Metode
Dalam ilmu filsafat ada banyak sekali metode-metode yang dimilikinya. Sesuai dengan referensi buku yang dikutip ini, ada sekitar sepuluh metode filsafat konkret yang terdapat didalam Dicionary Of Philosophy yang dikutip oleh DR. Anton Bakker, antara lain:
1.      Metode kritis
Dipelopori oleh Socrates dan Plato yang bersifat analisa isitilah pendapat melalui cara diskusi dan bertanya.
2.      Metode intuitif
Dipelopori oleh Platinos dan Bregson, dengan cara intropeksi pembersihan intelektual serta persucian moral dan dengan jalan pembaruan antara kesadaran dan proses perubahan.
3.      Metode skolastik
Dipelopori oleh Aristoteles, Tomas Aquinas dan filsuf abad pertengahan. Bersifat sintetis deduktif.
4.      Metode matematis
Yang dipeolopori oleh Descrates dan pengikutnya. Dengan cara menganalisa hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat yang sederhana.
5.      Metode empiris
Dipelopori oleh Hobbes, Locke, Barkeley dan Hume. Metode ini mengatakan bahwa hanya pengalaman lah yang menyajikan pengertian yang benar.
6.      Metode transendental
Dipelopori oleh Kant dan Neo-Skolastik. Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
7.      Metode dialektis
Dipelopori oleh Marx dan Hegel. Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri.
8.      Metode fenomenologis
Dipelopori oleh Husserl dan eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis, refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
9.      Metode Neo-Positivitis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.
10.  Metode analitika bahasa
Dipelopori oleh Wittgenstein, dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknyaucapan-ucapan filosofi. 
D.    Hakikat Filsafat
Pada hakikatnya filsafat merupakan ilmu yang berasal dari pemikirian manusia secara menyeluruh. Dapat dikatakan juga filsafat ialah sumber dari segala ilmu. Ilmu yang mencari dan mendalami tentang kebenaran dari sebuah kebenaran yang sudah ada melalui beragai proses dan metode-metode yang beragam. 
Dalam penacapaian kebenerannya yang sudah dianggap benar sebelumnya, hal ini menandakan bahwa pengetahuan manusia terhadap kebenaran itu sebenarnya terbatas dan tidak berkembang dengan pemikiran yang lain. Karena filsafat adalah satu titik penemuan tentang hakikat kebenaran yang sudah ada namun ingin dikembangkan lagi secara mendalam karena penyelesaian masalah dalam filsafat itu bersifat mendalam dan universal.
Berfikir mengenai filsafat sebenarnya lebih unggul daripada berfikiran tentang ilmu yang lainnya. Karena filsafat tidak hanya berhenti di satu titik saja,namun berkembang. Berbeda halnya dengan ilmu lain yang hanya selesai dan berhenti sampai pada pemikiran awal saja.
Dikutip pula dari pengertian filsafat oleh Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segtala sesuatu dengtan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat mengahsilakn pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya mencapai pengetahuan itu. 
 
 

Selasa, 14 Oktober 2014

Trs: Tugas UTS_Tiara Desta Arum_1112051000124_KPI5D



Pada Senin, 13 Oktober 2014 22:44, Tiara Desta arum <tiaradestaarum@ymail.com> menulis:


ETIKA ARISAN DALAM PENGAJIAN DI MAJLIS TA'LIM MIFTAHUL JANNAH Jl. BULAK BARAT DEPOK".
BAB I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Etika merupakan hal yang sangat berkaitan dengan akhlak dan perilaku manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu melakukan aktivitas dengan lingkungan sekitarnya. Berbicara dengan aktivitas lingkungan sekitar manusia akan melakukan berbagai macam perilaku dan tindakan yang dilakukannya untuk memperlihatkan eksistensinya. Filsafat merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang nilai-nilai kebenaran yang dilakukan oleh manusia. Dikatakan bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan, kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya.[1]
Banyak perubahan etika yang telah terjadi saat ini, etika yang tidak didasari pada asal-usul sejarah yang ada. Datang seketika dan membudaya pada kehidupan dilingkungan masyarakat, menjadi tradisi yang sulit dihilangkan. Seperti pada kasus arisan yang diadakan dalam sebuah pengajian di Majlis Ta'lim. Hal ini bukan hal asing lagi dalam kehidupan kita, tapi apakah benar hal ini harus terus berlangsung? Padahal pada zaman Nabi saat mengenalkan al-Qur'an tidak menggunakan arisan dan itu dapat berlangsung dan sampai saat ini kita tetap mengenal al-Qur'an.
            Pada kenyataannya arisan dalam Majlis Ta'lim atau pengajian tetap ada sampai saat ini. Bahkan ada perbandingan jumlah massa yang menarik ketika arisan dalam pengajian Majlis Ta'lim ini dihilangkan. Sebenarnya arisan dalam pengajian Majlis Ta'lim ini belum memiliki alasan yang jelas dari tokoh ataupun sejarah islam tentang adanya arisan ini. Alasan yang pasti berdasarkan pendapat mereka adalah ketika adanya arisan didalam pengajian akan menyebabkan tali ikatan yang sulit terlepas.
            Dari penjelasan singkat diatas penulis tertarik untuk melakukan analisis etika tentang, "ETIKA ARISAN DALAM PENGAJIAN DI MAJLIS TA'LIM MIFTAHUL JANNAH Jl. BULAK BARAT DEPOK".
 
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah penyebab dari adanya arisan didalam Majlis Ta'lim?
2.      Apakah sesuai etika arisan dalam pengajian dengan ajaran Islam?
3.      Bagaimana tinjauan teori dalam  kasus tersebut?
 
BAB II
Pembahasan
A.    Persoalan Etika dalam Arisan Pengajian di Majlis Ta'lim
Etika mendukung keberadaan agama dimana etika sanggup membantu manusia dalam menggunakan akal pikiran untuk memecahkan masalah. Dalam agama ada etika dan sebaliknya agama merupakan salah satu norma dalam etika. Kedua berkaitan namun terpisahkan secara teoritis. Dalam tataran praktis kita tidak bisa mengesampingkan salah satu di antaranya. Kita misalnya, tidak bisa berbuat suatu hal yang lantas hanya didasarkan  pada agama saja tanpa memperhatikan etika atau sebaliknya. Keberadaan agama pada dasarnya memperhatikan etika yang berlaku, dan sebaliknya seseorang akan dikatakan memiliki etika, jika kemudian memperhatikan agama yang ada.[2]
Pengajian dalam sebuah Majlis Ta'lim merupakan sekumpulan orang-orang yang melakukan ritual dalam agama Islam, yaitu dengan mempelajari kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk diajarkan kepada ummatnya. Didalam pengajian Majlis Ta'lim juga diajarkan tentang sunnah-sunnah Rasulullah agar ummatnya dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh Beliau. Didalam al-Qur'an dan Sunnah terdapat ajaran-ajaran tentang tindakan yang dianjurkan, ini berkaitan dengan etika untuk melakukan tindakan yang baik dan menjauhi tindakan yang buruk. Etika pun juga menjadi hal yang ada dalam agama Islam. Dan etika ini juga dipelajari dalam sebuah pengajian Majlis Ta'lim.
Arisan merupakan kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi diantara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya, undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya.[3] Arisan ini juga menjadi fenomena tersendiri dalam sebuah perkumpulan yang salah satu diantaranya adalah pengajian. Ini juga terdapat hampir disemua pengajian-pengajian, yang mayoritas arisan didalam pengajian ini dilakukan oleh kaum wanita dewasa atau ibu-ibu.
Majlis Ta'lim Miftahul Jannah, merupakan salah satu Majlis Ta'lim yang berada di Jl. Bulak Barat Cipayung, Depok. Majlis Ta'lim ini sudah berusia lima tahun sejak didirikannya pada Tahun 2009. Didirikan atas kerjasama tokoh masyarakat bersama warga yang berlokasi di Rt. 004/07. Dengan tujuan untuk pengajian Bapak-bapak, Ibu-ibu dan remaja. Untuk mengisi kegiatan belajar mengajar agama Islam.
Penyebab dari adanya arisan didalam Majlis Ta'lim di Miftahul Jannah yaitu, berawal dari belum adanya sebuah kegiatan kerohanian untuk ibu-ibu atau pengajian di daerah desa Bulak Barat. Sosok Ibu Hj. Rukiyah memiliki pengalaman yang panjang pada awal adanya Majlis Ta'lim di Bulak Barat. Dari Mulai mengajarkan surat-surat pendek dari al-Qur'an dengan metode menghafal, karena mayoritas yang mengikuti pengajian adalah ibu-ibu yang buta huruf dan sudah tua. Sekaligus mengajarkan ilmu fiqih yang mudah diterima oleh masyarakat agar dapat dipraktikan oleh ibu-ibu.
Berdasarkan ungkapan Ibu Hj. Rukiyah, respon ibu-ibu terhadap pengajian di daerah ini masih cukup baik. Dari awal yang belum ada pengajian dan sekarang sudah mulai banyak wadah tempat untuk ibu-ibu belajar mengaji di Majlis Ta'lim. Yang sampai sekarang ini menjadi salah satu tempat beliau mengajar yaitu di Majlis Ta'lim Miftahul Jannah. Berawal hanya dari belajar mengaji, lalu datang ide atau metode khusus untuk menarik massa yang diantaranya adalah ibu-ibu yaitu dengan adanya arisan didalam pengajian. Dan fenomena arisan dalam pengajian ini juga terdapat didalam pengajian di Majlis Ta'lim Miftahul Jannah.
Terdapat perbedaan jumlah massa yang signifikan dari ada dan tidak nya arisan dalam kegiatan pengajian, kejadian ini juga terjadi di dalam Majlis Ta'lim Miftahul Jannah. Ada beberapa hari tertentu dimana kegiatan pengajian yang mengadakan arisan didalamnya dan tidak terdapat arisan. Pada jadwal hari pengajian yang terdapat arisan memiliki jumlah massa anggota pengajian yang lebih banyak dibandingkan yang tidak ada arisannya. Sebaliknya jumlah anggota pengajian pada hari yang tidak terdapat arisannya memiliki jumlah yang lebih sedikit.
Seperti yang dijelaskan juga oleh beberapa anggota pengajian Majlis Ta'lim Miftahul Jannah, pada hari dimana pengajian yang tidak ada arisannya hanya berkisar lima belas orang, sedangkan yang ada arisannya sudah pasti lebih banyak jumlahnya. Padahal bisa dikatakan mengaji dengan arisan sudah pasti harus mengeluarkan uang. Sebaliknya mengaji tidak ada arisan tidak terlalu mengeluarkan uang. Tapi kenyataannya berbanding terbalik, dan alasan-alasan lain bahwa bila terdapat arisan seperti ada tolong-menolong dalam kegiatan tersebut.
Entah berasal dari mana, berdasarkan pendapat Ibu Hj. Rukiyah arisan didalam pengajian ini sudah ada sejak dahulu. Karena, menurut opini masyarakat dengan adanya arisan ini akan mengikat seperti tali. Apabila sebuah Majlis Ta'lim tidak arisan tidak akan kuat atau bertahan lama. Dari adanya arisan ini tidak hanya sekedar arisan uang saja, melainkan akan timbul arisan-arisan yang lainnya seperti arisan piring, kegiatan menabung dan lainnya. Tapi positifnya dari arisan ini akan menimbulkan rasa tanggung jawab dari ibu-ibu untuk mengadakan uang kas dan amal. Dan uang tersebut akan digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan dalam berlangsungnya pengajian.
Apakah sesuai etika arisan ini sesuai dengan ajaran islam? Dan bagaimana jika yang datang ke pengajian ini benar-benar berniat untuk menuntut ilmu, bukan untuk arisan saja? Padahal sejak zaman Nabi dalam menyebarkan agama Islam tidak menggunakan metode arisan, walaupun pasti ada metode lain tapi arisan ini menjadi hal yang menarik pada saat ini. Ibu Hj. Rukiyah juga sudah memberitahu pada ibu-ibu yang ingin mengikuti pengajian lebih baik untuk mementingkan menuntut ilmu walaupun jika tidak ada arisan pengajian akan sedikit peminat. Ia mengatakan awal mula pengajian pasti kita mulai dengan kegiatan membaca al-Qur'an dan pelajaran yang lain setelah itu barulah kegiatan arisan dilakukan. Perkara untuk arisan didalam pengajian masing-masing anggota juga tidak dituntut untuk mengikuti arisan, melainkan hanya yang ingin ikut arisan saja. Karena apabila arisan dipaksakan akan menyulitkan ibu-ibu yang punya niat menuntut ilmu tapi memiliki ekonomi yang lemah.
           
B.     Tinjauan Teori
Berdasarkan penjelasan diatas, penulis mengkaitkan kasus arisan didalam Majlis Ta'lim ini dengan Teori Kebenaran dalam Etika dan Filsafat Komunikasi, yaitu Teori Koherensi. Menurut teori ini sesuatu dianggap benar bila ia berkaitan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pasti benar.[4]
Berdasarkan teori ini penulis berpendapat arisan didalam sebuah pengajian akan memiliki nilai kebenaran etika karena kegiatan arisan ini sudah diadakan sejak lama dan berlangsung sampai sekarang. Seperti yang disampaikan Ibu Hj. Rukiyah "Jika tidak ada arisan maka pengajian akan menjadi kendur, arisan menjadi tali pengikat". Pernyataan tersebut membenarkan bahwa arisan memang harus diadakan sebagai penarik massa. Walaupun dalam sisi lain etika, arisan ini benar karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat. Namun dari sisi Filsafat apakah benar arisan ini menjadi benar, karena filsafat yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.[5] Apalagi arisan dalam pengajian ini juga masih menjadi kontroversi ulama dalam membenarkan hal tersebut. Namun arisan secara umum menjadi hal yang belum pernah disinggung dalam al-Qur'an  dan as-Sunnah secara langsung, maka hukumnya dikembalikan kepada asal Muamalah yaitu, dibolehkan.[6]
 
C.    Metode Penelitian
Metode yang dilakukan oleh peneliti adalah metode Kualitatif karena metode kualitatif adalah penelitian yang mendalam, dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi- situasi atau kejadian- kejadian.[7]
Untuk mendapat data penulis menggunakan beberapa teknik pengambilan data, yaitu :
1.      Wawancara, yaitu melakukan percakapan tanya jawab dengan Ibu Hj. Rukiyah selaku guru mengaji di Majlis Ta'lim Miftahul Jannah, Bapak dan Ibu RT dari wilayah Majlis Ta'lim Miftahul Jannah.
2.      Dokumentasi, pengambilan gambar dari narasumber yang bersangkutan dengan analisis teori etika.
 
BAB III
Kesimpulan
Etika merupakan hal tidak bisa lepas dalam agama, karena didalam agama terdapat etika. Fenomena arisan dalam pengajian menjadi hal yang kontroversi dalam kebenarannya, namun tidak bisa dipungkiri adanya arisan dalam pengajian ini memiliki tali ikatan yang kuat antara anggota pengajian satu sama lain. Niat hati seseorang yang tulus untuk menuntut ilmu tidak ditentukan dalam sebuah kegiatan arisan.
 


[1] Mufid Muhammad, Etika dan Filsafat Komunikasi, Jakarta: Kencana: 2009, hlm. 3
[2] Mufid Muhammad, Etika dan Filsafat Komunikasi, Jakarta: Kencana: 2009, hlm. 180
[3] http://www.artikata.com/arti-319579-arisan.html
[4] Mufid Muhammad, Etika dan Filsafat Komunikasi, Jakarta: Kencana: 2009, hlm. 69
[5] Ibid, hlm. 8
[6] http://www.fimadani.com/hukum-arisan-menurut-islam/
[7] Sumardi Suryabrata, Metodologi Penelitian,(Jakarta: Rajawali Pers, 2012)



Cari Blog Ini