Sabtu, 18 Oktober 2014

Trisaka Oktarian_KPI 5/E_Tugas Etika 4

Nama   : Trisaka Octarian

Kelas   : KPI 5/E

NIM    : 1112051000130

Filsafat Komunikasi

 

Komunikasi sebagai ilmu telah dipelajari dan telah ditunjukkan ciri-cirinya pada kegiatan sebelumnya. Sekarang sampailah pada pengertian filsafat komunikasi. Filsafat sebagai cara berpikir yang radikal dan menyeluruh untuk mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Untuk itu kita berusaha mengupas komunikasi sedalam-dalamnya, artinya kita mencoba menemukan hak ikat/inti/esensi dari komunikasi.

Onong U. Effendi dalam bukunya ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis dan holitis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, teknisnya dan metodenya.

Mengacu pada paradigma Lasswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan tempat, waktu, gangguan (noise)  dan lain sebagainya.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1. Dimensi fisik.

2. Dimensi sosial-psikologis.

3. Dimensi temporal (waktu).

            Dimensi fisik artinya lingkungan nyata atau berwujud (tangible). Contohnya adalah dalam ruang bangunan (bangsal) baik ruang rapat, ruang sekolah (kelas), ruang keluarga atau diluar ruangan, baik ditaman, dijalan dan sebagainya.

            Dimensi fisik ini berkaitan dengan tempat, dimana komunikasi berlangsung. Apa pun bentuk tersebut, pastilah mempunyai pengaruh tertentu atas kandungan pesan kita (apa yang kita sampaikan) selain juga bentuk pesan (bagaimana kita menyampaikan).

            Dimensi sosial-psikologis artinya lingkungan hubungan kejiwaan antara komunikator dan komunikan. Contohnya adalah: status pendidikan, status ekonomi, norma agama, norma budaya, rasa persahabatan, rasa permusuhan, rasa gembira, rasa duka dan sebagainya.

            Dimensi sosial psikologis berkaitan dengan suasana di mana komunikasi berlangsung. Suasana baik pada diri komunikator maupun komunikasn akan berpengaruh terhadap pesan yang akan disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya. Suasana formalitas maupun informalitas, suasana serius atau senda gurau pastilah akan berbea suasana komunikasinya. Komunikasi yang berlangsung di tempat pesta berbeda dengan di tempat orang berduka cita, yang satu suasana gembira, yang lainnya suasana sedih

            Dimensi temporal (waktu) mencakup waktu dalam sehari maupun dalam hitungan sejarah di mana komunikasi berlangsung. Dimensi temporal ini jelas berkaitan dengan waktu. Sebagian orang menggunakan waktu di pagi hari sebelum berangkat kerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Demikian pula waktu dalam hitungan sejarah tidak kalah pentingnya, karena kelayakan dan dampak dari suatu pesan bergantung sepenuhnya atau sebagian pada waktu pesan terseut dikomunikasikan. Yang lebih penting adalah bagaimana suatu pesan tertentu disesuaikan dengan rangkaian temporal peristiwa komunikasi.

            Ketiga dimensi lingkungan komunikasi  di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Hal lain dalam proses komunikasi yang perlu mendapat pehatian adalah unsur gangguan (noise). Noise adlah gangguan komunikaso yang mendistorsi pesan. Dalam suatu sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada suara dari selain komunikator), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala komunikator-komunikan) serta gangguan semantik (salah mengartikan makna). (Devito, 1997:29).

            Salah satu gangguan dalam proses komunikasi, yaitu gangguan semantik, perlu mendapat pembahasan yang lebih khusus. Hal ini disebabkan berkaitan dengan bahasa yang dilakukan baik oleh komunikator ataupun komunikan, yaitu manusia itu sendiri.

Kemudian ada beberapa faham atau aliran mengenai manusia itu menurut Onong U. Effendy yaitu:

 

 

1. Faham materialisme

       Pemahaman ini berpandangan bahwa manusia pada prinsipnya hanyalah materi, atau benda;lain tidak. Memang manusia ada kelebihannya dibandingkan dengan benda lainnya. Seperti kerbau atau batu.

2. Faham idealisme

       Faham idealisme adalah aliran yang bertentangan secara ekstrim dengan faham materialisme. Idealisme berasal dari perkataan eidos, yang berarti pikiran. Manusia adalah manusia, karena ia berpikir, karena ia mempunyai idea, karena ia sadar akan dirinya.

       Descrates memandang manusia sama saja dengan kesadarannya. Dan kesadaran tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan persentuhan dengan alam jasmani. Dalam kesadaran itu terdapat idea, tetapi idea itu sama sekali tidak berasal dari kontak dengan alam di luar kesadaran. Memang Descrates tidak memungkiri adanya realitas di luar kesadaran, tetapi ia memisahkan kesadaran dari dunia luar.

       Menurut Descrates, manusia itu terdiri dari dua macam zat yang berbeda secara hakiki, yaitu :

Res exstensa adalah zat materi, tidak bebas, terikat dan dikuasai oleh hukum alam.

Res cogitans adalah zat roh, zat yang bebas, tidak terikat oleh hukum alam, bersifat rohanian.

3. Faham eksistensialisme

            Aliran eksistensialisme menentang kedua aliran terdahulu. Menurut kata asalnya:

-eks berarti keluar

-sistensia berarti berdiri

- eksistensi berarti: berdiri sebagian diri sendiri dengan keluar dari diri sendiri

            Yang dimaksudkan dengan eksistensi ialah cara manusia berada di dunia, dan cara ini adalah khusus untuk manusia, ia tidak untuk lain benda. Sebab beradanya manusia di dunia berbeda dengan beradanya benda-benda lain di dunia.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain mnuju kemengertiaan bersama.

 

Sumber:

DRS. Onong U. Effendy, M.A. Dimensi-dimensi Komunikasi.

 

Annisah Bilqis, 1112051000158, KPI 5E, tugas ke-4

Nama   : Annisah Bilqis

NIM    : 1112051000158

Kelas   : KPI 5E

Tugas   : Etika dan Filsafat Komunikasi ke-4

 

Filsafat Komunikasi

Filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (versethen) secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, dan metodenya. Mengacu pada paradigm Laswell dengan 5 unsur komunikasi, ada komunikator, pesan, komunikan, media, dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan kelima unsur tersebut. Misalnya berkaitan dengan waktu, tempat, gangguan (noise) dan lain-lain.

Joseph A. Devito dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia (1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi :

-          Dimensi fisik

-          Dimensi sosial-piskologis

-          Dimensi temporal (waktu)

Ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.

            Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berfikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berfikir. Dalam melihat objek disekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia akan selalu bertanya-tanya. Usaha manusia untuk memikirkan dunia sekitarmya menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga pokok masalah, yaitu :

1.      Ontologi          : apakah yang ingin kita ketahui?

Membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, hakikat apa yang dikaji.

2.      Epistomologi   : bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan?

Membahas tentang pengetahuan.

3.      Aksiologi         : apakah nilai pengetahuan tersebut bagi kita?

Membahas tentang nilali kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh akan dijawab oleh aksiologi yaitu teori tentang nilai.

Ketiga pertanyaan tersebut ternyata sangat mendasar dan merupakan pengkajian secara filsafat terhadap ilmu.  Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan oleh jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pokok dibawah ini:

1.      Apa yang aku ketahui?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya?

3.      Apakah aku yakin?

4.      Apakah aku benar?

Keempat pertanyaan ini berkaitan dengan penyelidikan secara sistematis, studi terhadap metafisika, epistemologi, aksiologi, dan logika.

            Menurut Lanigan metafisika adalah suatu studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita.

            Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelediki asal, sifat, metode dan batasan pengetahuan. Epistemologi berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan lebih fundamental lagi bersangkutan dengan criteria bagi penelitian terhadap kebenaran dan kepalsuan.

            Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun itu.

            Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar.

            Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang penyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengerrtian bersama.

Jumat, 17 Oktober 2014

Tugas 4: Filsafat Komunikasi?

Nama                                      : Syifa Maulidina

NIM                                        : 1112051000150

Semester/ Prodi/ Kelas          : 5/ KPI/ E

            Onong Uchjana Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodelogis, sistematis, analitis, kritis, dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya, dan metodenya, menyadari bahwa begitu rumit dan kompleks proses komunikasi yang dilakukan manusia.

            Ada banyak hal yang mempengaruhi proses komunikasi dengan melibatkan lima unsur, yakni dalam model komunikasi Harold Lasswell (1948) who (komunikator), says what (pesan), in which channel (media), in whom (komunikan), with what effect (efek).

            Joseph A. Devito (1997) dalam bukunya Komunikasi Antar Manusia menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan (konteks) komunikasi sedikitnya mempunyai tiga dimensi:

1.      Dimensi fisik, lingkungan nyata atau berwujud.

2.      Dimensi sosial psikologis, lingkungan hubungan kejiwaan antar komunikator dan komunikan.

3.      Dimensi temporal (waktu), mencakup waktu dalam sehari mau pun dalam hubungan sejarah di mana komunikasi berlangsung.

Pada teori ini, ketiga dimensi lingkungan komunikasi akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Contohnya: orang A berjanji dengan orang B akan datang jam 10 pagi (dimensi temporal), tetapi orang A terlambat dan membuat orang B merasa jengkel (dimensi sosial psikologis), akhirnya orang B mengubah jam dan tempat pertemuan yang lain (dimensi fisik).

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yg merupakan studi sistematis mengenal sifat alami dari ilmu, khususnya dari metode-metodenya, konsep-konsep dasar penggarapan-penggarapannya, dan letaknya dalam kerangka umum dari bidang-bidang intelektual (A. Cornelius Benjamin, 1975).

Berkaitan dengan manusia sebagai makhluk yang berpikir, maka sepanjang hidupnya manusia akan selalu menggunakan akalnya untuk berpikir. Dalam melihat objek di sekitarnya bahkan dirinya sendiri, manusia sekitarnya menghasilkan pengetahuan, ilmu dan teknologi. Beraneka ragam hasil pemikiran manusia, namun pada hakikatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada tiga masalah pokok, yaitu:

  1. Ontologi: menjawab "Apa objek formalnya?"
  2. Epistemologi: menjawab "Bagaimana menemukan ilmu itu?"
  3. Aksiologi: menjawab "Mengapa demikian?"

Ontologi membahas tentang apa objek formal yang ingin diketahui, hakikat apa yang ingin dikaji. Menekankan pada usaha untuk menemukan jawaban terhadap objek formal. Apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya? Metafisika sebagai cabang filsafat yang membahas hakikat kenyataan.

Epistemologi adalah tentang pengetahuan, menjawab pertanyaan kedua, bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Berupaya menemukan jawaban bagaimana munculnya ilmu itu.

Aksiologi adalah tentang nilai, menjawab pertanyaan ketiga, penilaian kegunaan, penilaian baik dan buruk, dari pengetahuan yang kita peroleh. Menekankan pada mengapa ilmu itu demikian.

Fungsi teori komunikasi sangat relevan dan bermanfaat dalam mempelajari filsafat komunikasi. Manfaat teori komunikasi, yakni memperjelas proses pencapaian kebenaran dalam ilmu komunikasi sebagaimana yang dicari dalam filsafat komunikasi. Sejalannya teori komunikasi dan filsafat komunikasi adalah pendekatan umum dalam mengamati proses komunikasi :

  1. Tingkat bertanya
  2. Tingkat observasi
  3. Tingkat membentuk jawaban (teori)

Dasar-dasar ilmiah suatu ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, akan selalu berpijak pada tiga hal isu: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Jadi tujuan mempelajari filsafat komunikasi adalah mencari jawaban-jawaban yg berpijak dari tiga isu penting filsafat ilmu. Dengan demikian, filsafat komunikasi adalah studi mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.

Tugas 4/ Filsafat Komunikasi/ Apik Sopankatanya/ 1112051000162/ KPI 5E

Tugas 6/ Filsafat Komunikasi/ Apik Sopankatanya/ 1112051000162/ KPI 5E

 

FILSAFAT KOMUNIKASI

A.    Pengertian filsafat komunikasi

Onong U Effendi dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman ( verstehen ) secara fundamental, metodoligis, sistemik, analitis, kritis dan holitis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi dan metodenya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa filsafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang peryataan manusia yang disampaikan kepada manusia lain menuju kemengertian bersama.

B.     Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis terhadap komunikasi

Untuk mengkaji secara ontologis, epistemologis dan aksiologis terhadap komunikasi pemikiran Richard Lanigan dalam karyanya yang berjudul "Communication Models in Philosophy, Review and Commentary" membahas secara khusus "analisis filsafat mengenai komunikasi" (philosophic analysis on communication). (Effendi, 1993:332). Filsafat sebagai disiplin biasanya dikategorikan menjadi subbidang utama menurut justifikasinya yang diakomodasikan oleh jawaban terhadap pertanyaan di bawah ini :

1.      Apa yang aku ketahui ?

2.      Bagaimana aku mengetahuinya ?

3.      Apakah aku yakin ?

4.      Apakah aku benar ?

Keempat pertanyaan di atas berkaitan dengan penyelidikan secara sistemstis, studi terhadap metafifika-berkaitan dengan kajian ontologis-epistemologis, aksiologis dan logika.

1.      Metafisika

Metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realita. Berkaitan dengan komunikasi, metafisika berkaitan dengan :

a.       Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan individual dengan realita dengan alam semesta

b.      Sifat dan fakta bagi tujuan,perilaku, penyebab dan aturan.

c.       Problema pilihan, khusunya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia.

 

2.      Epistemologi

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah dilandasi oleh :

a.       Kerangka pemikiran yang logis

b.      Penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran

c.       Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara factual

 

3.      Aksiologi

Aksiologi berkaitan dengan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun. Tinjauan terhadap filsafat komunikasi, Ricard Lanigan mengatakan bahwa aksiologi merupakan studi tentang etika dan estetika. 

Masalah ini sangat penting bagi komunikator ketika ia mengemas pikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa lambing. Hal ini berkaitan dengan efek yang ditimbulkan oleh pesan tersebut. Karena itu, seorang komunikator harus terlebih dahulu melakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pesan yang akan dikomunikasikan etis atau tidak,estetis atau tidak.[1]

 

 

 



[1] Sumarno AP,Kisyanti EL Karimah, Ninis Agustini Damayanti, Filsafat dan Etika Komunikasi, (Jakarta: Universitas Terbuka,2007), hlm.2.14-2.21

TUGAS KE 4 ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI_DEWI UTARI_1112051000134_KPI 5E

NAMA: DEWI UTARI                             NIM: 1112051000134
KPI 5E
TUGAS KE 4
ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
       I.            Pengertian Filsafat Komunikasi
Onong .U. Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. mendefinisikan filsafat komunikasi sebagai suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara fundamental, metedologis, sistematis, analitis, kritis dan holistis teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatanannya, tujuannya, fungsinya, tekniknya dan metodenya.[1]
Mengacu pada paradigma Laswell dengan 5 unsur komunikasi, adalah komunikator pesan, komunikan, media dan efek tentunya tidaklah cukup untuk mengupas komunikasi secara mendalam. Ada banyak hal yang mempengaruhi komunikasi dengan melibatkan unsure tersebut.
Joseph A.Devito dalam bukunya komunikasi antar manusia(1997) menyebut adanya lingkungan komunikasi. Lingkungan komunikasi (konteks) komunikasi sedikitnya mempunya tiga dimensi, yaitu Dimensi fisik, dimensi social-psikologis dan dimensi temporal. Dimensi fisik artinya lingkungan nyataatau berwujud. Dimensi social-psikologis berkaitan dengan suasana di mana komunikasi berlangsung. Dan dimensi temporal berkaitan dengan waktu.
Ketiga dimensi lingkungan di atas akan selalu berinteraksi, masing-masing dimensi akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain.[2] Dalam sistem komunikasi ada gangguan apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Untuk itulah, seorang komunikator harus menciptakan komunikasi yang efektif sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi dapat tercapai
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fisafat komunikasi adalah studi secara mendalam tentang pernyataan manusia yang disampaikan pada manusia lain menuju kemengertian bersama.
 
DAFTAR PUSTAKA
AP, Sumarno dan Kismiyati, filsafat dan etika komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka. 2007.
 
 


[1] Drs, Sumarno AP, S.H., Dra. Hj. Kismiyati, dkk, Filsafat dan etika komunikasi. (Jakarta: Universitas Terbuka), 2007. h 2.14.
[2] Drs, Sumarno AP, S.H., Dra. Hj. Kismiyati, dkk, Filsafat dan etika komunikasi. h 2.16.

Rabu, 15 Oktober 2014

Arif Syahrizal KPI 5 E tugas 3 1112051000133

Nama               : Arif Syahrizal
NIM                : 1112051000133
Kelas               : KPI 5 E
Tugas Ke         : 3 (tiga)
 
            Poedjawijatna menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia. Philo yang berarti cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu. Arti dari kata sophi adalah kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh diartukan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.
            Menurut kutipan dari Abu Bakar Atjeh dapat diketahui bahawa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. Melihat pengertian filsafat dari segi istilah berarti kita ingin melihat filsafat pada segi definisinya. Untuk membuat definis suatu objek kita harus mengetahui konotasi objek itu. Berikut ini dikutipkan beberapa definis yang dikemukakan oleh beberapa pengarang , sesuai dengan konotasi filsafat yang ditangkap oleh mereka.
            Poedjawijatna mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam dalamnya bagi segala sesuatu bedasarkan pikiran belaka. Kemudian Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah ia mendapatkan pengetahuan itu. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli. Sedangkan menurut Al-Farabi filsafat ialah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.
            Dalam rangka memahami apa filsafat itu, marilah kita perdalam sedikit pembahasan ini. Bila dirinci, dapatlah diketahui bahwa kesulitan membuat definisi filsafat, jadi berarti juga sulitnya memahami apa itu filsafat, adalah pertama kerena pengertian filsafat berkembang dari masa ke masa. Kesulitan yang kedua adalah karena pengertian filsafat itu berbeda antara satu tokoh dengan tokoh yang lainnya, dan kesulitan yang ketiga adalah karena kata filsafat itu telah dipakai untuk menunjuk bermacam-macam objek yang sesungguhnya berbeda.
 
 
 
            Dalam garis besarnya filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan, teori hakikat, teori nilai. Teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua objek, dan hasilnya ialah pengetahuan filsafat. Yang ketiga, teori nilai atau disebut juga sebagai aksiologi, membicarakan guna pengetahuan tadi. Dalam ringkasannya adalah sebagai berikut ini :
Ø  Teori pengetahuan membicarakan cara memperoleh pengetahuan, disebut dengan epistemologi.
Ø  Teori hakikat membicarakan pengetahuan itu sendiri, disebut dengan ontologi.
Ø  Teori nilai membicarakan guna pengetahuan itu, disebut aksiologi.
 
A.    EPISTEMOLOGI
 
Epistemologi membicarakan simber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.
Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, tatkala ia 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara kawannya yang seumur dengan dia mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dari pada dia dalam bidang yang sama atau berbeda.
Pengetahuan manusia itu ada 3 macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui berbagai cara dan menggunakan berbagai alat.
Jhon Locke, bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti, bagaimana pun kompleks (ruwet)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Kerana itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.
Kelemahan aliran ini cukup banyak. Kelemahan pertama ialah indera terbatas. Dalam hal ini indera tidak mampu melihat kerbau secara keseluruhan dari badannya. Jika kita melihatnya dari depan, yang kelihatan adalah kepala kerbau, dan kerbau pada saat itu memang tidak mampu sekaligus memperlihatkan ekornya. Kesimpulannya adalah empiris lemah karena keterbatasan indera manusia. Oleh karena itu muncullah aliran rasionalisme.
Secara singkat aliran rasionalisme menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek.
 
 
 
 
 
 
Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan, pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Akan tetapi, manusia untuk sampainya manusia kepada kebenaran adalah semata-mata dengana akal. Akal mengatur bahan itu sehingga dapatlah terbentuk pengetahuan yang benar. Jadi, akal bekerja karena ada bahan dari indera.
Indera dan akal yang bekerja sama belum juga dapat dipercaya mampu mempeoleh pengetahuan yang  lengkap, yang utuh atau sempurna. Dengan indera, manusia hanya mampu mengetahui bagian bagian tertentu tentang objek.
 
 

Cari Blog Ini