Minggu, 08 Mei 2016

Rizky Arif Santoso dan Ade Fauzan_Nilai-nilai Ekologi pada Suku Asmat_Tugas 5

A.    Sejarah Suku Asmat


Suku Asmat meyakini bahwa mereka berasal dari keturunan dewa Fumeripitsy yang turun dari dunia gaib yang berada diseberang laut dibelakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menurut keyakinan mereka, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi (disuatu tempat yang jauh di pegunungan). Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan.

Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungau ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Sehingga terjadi perkelahian yang akhirnya ia dapat membunuh buaya tersebut, tetapi ia sendiri luka parah. Ia kemudian terbawa arus dan terdampar di tepi sungai Asewetsy, desa Syuru sekarang. Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali, kemudian ia membangun rumah Yew dan mengukir dua patung yang sangat indah serta membuat sebuah gendering yang sangat kuat bunyinya.

Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.

 

B.     Lokasi dan Gambaran Umum


Suku asmat tersebar dan mendiami wilayah disekitar pantai laut Arafuru dan hutan belantara di pegunungan Jaya Wijaya. Dalam kehidupan suku Asmat, batu sangat berharga bagi mereka dan dapat dijadikan sebagai mas kawin. Hal ini karena tempat tinggal suku Asmat yang berada di rawa-rawa sangat sulit menemukan batu-batu yang berguna untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya.

Rumah Tradisional Suku Asmat adalah Jeu dengan panjang sampai 25 meter.Sampai sekarang masih dijumpai Rumah Tradisional ini jika kita berkunjung ke Asmat Pedalaman. Bahkan masih ada juga di antara mereka yang membangun rumah tinggal diatas pohon.

Masyarakat Suku Asmat beragama Katolik, Protestan, dan Animisme yakni suatu ajaran dan praktek keseimbangan alam dan penyembahan kepada roh orang mati atau patung. Ciri Fisik Suku Asmat memiliki ciri fisik yang khas yaitu berkulit hitam dan berambut keriting. Rata-rata tinggi badan orang Asmat wanita sekitar 162cm dan tinggi badan laki-laki mencapai 172cm.

Mata pencaharian dan makanan pokok Suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mencari nafkah dengan berburu binatang hutan seperti, ular, kasuari babi hutan dll. Mereka juga selalu menggunakan sagu sebagai makanan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan.

Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup dibatang pohon sagu, biasanya ulat sagu dibungkus dengan daun nipah, ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api. Selain itu sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap. Namun mereka sangat sulit mendapatkan air bersih karena wilayah mereka merupakan tanah berawa. Sehingga menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Cara merias diri Dalam merias diri Suku Asmat membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah, warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan dan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Mereka menggunakannya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air untuk digunakan mewarnai tubuh.

Ada istiadat suku asmat mempunyai ritual atau acara-acara khusus, yaitu :

1.      Kehamilan

Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua.

2.      Kelahiran

Tidak lama setelah kelahiran bayi dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.

3.      Pernikahan

Pernikahan berlaku bagi suku Asmat yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.

 

4.      Kematian


Bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

 

Kepercayaan Dasar

Orang Asmat yakin bahwa di lingkungan tempat tinggal manusia juga diam berbagai macam roh yang mereka bagi dalam 3 golongan :

a)   Yi – ow atau roh nenek moyang yang bersifat baik terutama bagi keturunannya.

b)   Osbopan atau roh jahat dianggap penghuni beberapa jenis tertentu.

c)   Dambin – Ow atau roh jahat yang mati konyol.

Kehidupan orang Asmat banyak diisi oleh upacara-upacara. Upacara besar menyangkut seluruh komuniti desa yang selalu berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang seperti berikut ini :

1.   Mbismbu (pembuat tiang)

2.   Yentpokmbu (pembuatan dan pengukuhan rumah yew)

3.   Tsyimbu (pembuatan dan pengukuhan perahu lesung)

4.   Yamasy pokumbu (upacara perisai)

C.     Nilai-nilai Ekologi Masyarakat Suku Asmat

1)      Pola Hidup

Satu hal yang patut ditiru dari pola hidup penduduk asli suku asmat, mereka merasa dirinya adalah bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka.

2)      Cara Merias Diri

Dalam merias diri Suku Asmat membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah, warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan dan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Mereka menggunakannya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air untuk digunakan mewarnai tubuh.

 

3)      Wanita Dalam Pandangan Suku Asmat

Simbolisasi perempuan dengan Flora & Fauna yang berharga bagi masyarakat Asmat (pohon/kayu, kuskus, anjing, burung kakatua dan nuri, serta bakung), seperti kata Asmat diatas,menunjukkan bagaimana sesungguhnya masyarakat Asmat menempatkan perempuan yang sangat berharga bagi mereka. Hal ini tersirat juga dalam berbagai seni ukiran dan pahatan mereka. Namun dalam gegap gempitanya serta kemasyuran pahatan dan ukiran Asmat, tersembunyi suatu realita derita para Ibu dan gadis Asmat yang tak terdengar dari dunia luar.

Perempuan Asmat sangat menanggung beban yang berat. Setiap harinya mereka harus menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya,mulai dari mencari ikan,udang,kepiting,dan tembelo sampai kepada mencari pohon sagu yang tua,menebang pohon sagu,menokok,membawa sagu dari hutan,memasak dan menyajikan. Setelah itu mencuci tempat makanan atau tempat masak termaksud mengambil air dari telaga atau sungai yang jernih untuk keperluan minum keluarga.

 

4)      Hubungannya dengan ukiran kayu Suku Asmat


Selain terkenal dengan seni ukirnya yang adiluhung, Suku Asmat juga memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Tidak salah jika menganggap pakaian Suku Asmat merupakan representasi kedekatan mereka dengan alam raya.

Tidak hanya bahan, desain pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat, misalnya, yang dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.

Hiasan hidung biasanya hanya dikenakan oleh kaum laki-laki. Hiasan ini terbuat dari taring babi atau bisa dibuat dari batang pohon sagu. Hiasan hidung yang dikenakan kaum laki-laki memiliki dua fungsi: simbol kejantanan dan untuk menakuti musuh. Sementara, aksesori kalung dan gelang dibuat dari kulit kerang, gigi anjing, dan bulu burung cendrawasih.

Dalam berbagai upacara adat, masyarakat Suku Asmat biasanya melengkapi penampilan mereka dengan gambar-gambar di tubuh. Gambar yang didominasi warna merah dan putih tersebut konon merupakan lambang perjuangan untuk terus mengarungi kehidupan. Warna merah yang digunakan berasal dari campuran tanah liat dan air, sementara warna putih berasal dari tumbukan kerang.

Seiring pengaruh modernisasi dan budaya dari luar, sebagian masyarakat Suku Asmat mulai meninggalkan pakaian tradisional mereka. Hanya masyarakat Suku Asmat yang tinggal di pedalaman yang masih menggunakan pakaian tradisional tersebut.

D.    Analisys Suku Asmat dalam Perspektif Ekologis

Suku Asmat memiliki nilai dan budaya hang masih tergolong unik walau sudah memasuki era digital saat ini. Mereka merasa dirinya adalah bagian dari alam, oleh karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya, bahkan, pohon disekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka. Suku Asmat juga memiliki pakaian tradisional yang khas. Seluruh bahan untuk membuat pakaian tersebut berasal dari alam. Tidak salah jika menganggap pakaian Suku Asmat merupakan representasi kedekatan mereka dengan alam raya.

Busana atau pakaian Suku Asmat pun terinspirasi dari alam. Pakaian laki-laki Suku Asmat, misalnya, yang dibuat menyerupai burung dan binatang lain yang dianggap melambangkan kejantanan. Sementara, rok dan penutup dada kaum perempuan menggunakan daun sagu sehingga menyerupai kecantikan burung kasuari.

Dari keterangan diatas bisa kita ketahui dan kita analisa bahwa Suku Asmat menurut Perspektif Durkheimian ialah bahwa manusia dan alam saling korelasi dan bersinergi. Suku Asmat dalam kehidupannya tidak pernah terlepas dari alam, baik tingkah laku, busana, tradisi hingga kebutuan biologis. Mereka memahami dirinya bagian dari alam, mereka selalu menganalogikan dirinya layak sebuah pohon. Batang pohon diibaratkan sebagai tangan, buah layaknya kepala dan akar digambarkan layaknya kaki. Sehingga organisme tubuh manusia memiliki system kerja yang saling ketergantungan, jika salah satu organ yang mereka sakit, maka organ lain pun merasakannya pula.

Hal ini pula yang menjadikan pohon sebagai suatu objek yang sangat dihormati oleh suku Asmat. Merusak pohon hingga menebangnya, sama halnya merusak kestabilan hidup suku Asmat. Dalam hal inilah, Durkheimian menyatakan bahwa suku Asmat sangat bergantung dengan alam dan sebagai suatu system yang tak terpisahkan.

 

Dikutip dari :

http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-asal-usul-dan-kebudayaan-suku-asmat.html

http://dunia-kesenian.blogspot.co.id/2015/01/sejarah-asal-usul-dan-kebudayaan-suku-asmat.html?m=1

http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/pakaian-adat-suku-asmat-antara-alam-dan-manusia-sejati

 

Rabu, 04 Mei 2016

Milva susanti dan Rafi fajrin_tugas 5_Kampung Mahmud

Kampung Mahmud


A.    Sejarah

Menurut masyarakat setempat pendirian Kampung Mahmud, diperkirakan berlangsung sekitar abad 15 Masehi. Sejarah pendiriannya dimulai sejak Abdul Manaf meninggalkan kampung halamannya menuju ke Mekkah dan untuk beberapa lamanya dia menetap di sana. Sampai pada suatu saat dia memutuskan kembali ke tanah aimya. Sebelum pulang dia berdoa secara khusus disatu tempat yang dinamakan Gubah Mahmud, dekat Masjidil Haram. Dalam doanya dia memohon petunjuk agar dapat kembali ke tempat yang tidak akan tersentuh oleh penjajah. Kemudian petunjuk yang diyakininya sebagai ilham mengisyaratkan bahwa dia akan tinggal di tempat yang berawa. Sesampainya di tanah air, sesuai dengan petunjuk yang didapatkannya di Gubah Mahmud, dia segera mencari rawa dan pencariannya berakhir saat ditemukannya lahan rawa yang terdapat dipinggiran sungai Citarum, lambat-laun lahan yang semula rawa telah menjadi lahan yang layak untuk sebuah perkampungan, dan kampung tersebut kemudian diberi nama Kampung Mahmud, nama yang sama dengan Gubah tempat Eyang Manaf berdoa ketika berada di Mekah.

Berbicara tentang Kampung Mahmud, sejarah, serta peranannya di masa lalu tidak dapat lepas dari nama besar Eyang Dalem Abdul Manaf. Penduduk menyebutnya sebagai waliyullah. Beliau adalah putra dari Eyang Dalem Nayaderga (dimakamkan di Sentak Dulang, Ujungberung) dan merupakan keturunan ketujuh dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

B.     Lokasi dan Gambaran Umum Penduduk

Kampung Adat Mahmud, adalah sebuah kampung kecil di sisi sungai Citarum. Sebuah kampung adat yang menyimpan nilai historis perkembangan dan persebaran agama Islam di Kota Bandung. Sebuah kampung sederhana yang ternyata memiliki peranan sangat besar di masa lalu. "Maqom Mahmud", Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung, pemandangan fisik dari luar memang semua tampak seperti biasa saja, tidak ada bangunan rumah tradisional yang mencolok atau orang-orang dengan pakaian khas yang biasanya bisa kita temui di kampung-kampung adat.

Rute ke kampung ini yaitu setelah melewati jembatan Citarum Baru, di sebelah kiri terdapat terminal angkutan umum jurusan Mahmud-Tegallega. Seperti terminal di pinggiran kota, jumlah angkutan umum tersebut tidak begitu banyak, begitu lengang tanpa ada aktivitas seperti layaknya sebuah terminal. Lurus dari jembatan terdapat sebuah mulut jalan dengan plang bernuansa khas Islam yang sejuk berwarna hijau penanda gerbang Kampung Mahmud. Tertulis "Maqom Mahmud", Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung. Plang nama kampung yang sekaligus juga menandakan adanya situs keramat di dalamnya.

Jalanan utama Kampung Mahmud tampak lenggang berdebu. Sejumlah warung yang menyediakan jajanan berupa makanan kecil dan minuman-minuman dingin tersebar di sudut-sudut kampung. Juga rumah-rumah yang memproduksi meubel  berupa kursi, kayu, dan lemari dengan ukiran yang sederhana namun unik.

Kawasan yang hampir dikelilingi oleh aliran Sungai Citarum ini, memiliki kebun-kebun bambu yang tinggi menjulang dan rindang. Penghuninya kurang lebih ada 400 kepala keluarga, yang di dalamnya terdapat 1 RW dan 4 RT. Sebagian besar mata pencaharian warga adalah petani, pengrajin dan pengusaha meubel, sebagian kecil pedagang, dan sisanya pekerja.

Sekarang ini penduduk Kampung Mahmud merupakan masyarakat asli kampung dan sebagian lagi pendatang dari kawasan Jawa Barat dan sekitarnya. Menurut keterangan Lilis, warga pendatang yang berprofesi sebagai pedagang (warung), "Tahun 1984 kampung ini masih sepi. Banyak kebun bambu yang lebat dan suka ditinggali oleh berbagai jenis ular. Aliran sungai yang besar juga masih jernih, jadi warga tidak pernah kesulitan air bersih."

Meskipun sedikit terpencil di pinggiran kota Bandung, Kampung Mahmud dapat dijangkau dari berbagai arah. Baik itu dari Kota Bandung maupun dari arah Soreang. Dari arah Bandung pengunjung bisa menggunakan angkot jurusan Tegalega-Mahmud, sedangkan dari Soreang, harus menggunakan angkot yang menuju Cilampeni dan melanjutkan dengan ojek menuju Kampung Pameuntasan yang berseberangan dengan Kampung Mahmud. Namun perlu diperhatikan, jam operasional angkot dari dan menuju kampung ini hanya sampai pukul 18.00. Selewat itu maka transportasi umum hanya dapat menggunakan ojek.


Wisata Religi di Kampung Mahmud

Ma Haji, ibunda dari H. Syafeii, menuturkan bahwa Eyang Syeikh Dalem Abdul Manaf adalah Wali Bandung, dengan kata lain, beliau yang memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di Bandung. Makamnya sampai saat ini menjadi sering diziarahi oleh banyak orang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

"Berziarah berarti mengingat mati, dan mengingat mati berarti berusaha berbuat baik di sisa kehidupan," tutur salah satu peziarah dari Desa Bojong, H. Hasan, seorang pensiunan dari RSHS Bandung.

Beberapa kegiatan religi biasanya dilaksanakan pada hari-hari besar dalam Islam, Rajaban (27 Rajab) atau Muludan (12 Mulud). Pada acara seperti ini umumnya digelar shalawatan,  pengajian, serta permainan terbang sebagai salah satu kesenian buhun orang Sunda. Ritus besar lainnya adalah Ziarah Massal yang biasa diselenggarakan pada minggu kedua di bulan Syawal.

Dalam kegiatan ziarah massal, masyarakat kampung dan  pengunjung akan bersama-sama berziarah di Makam Eyang Syeikh Dalem Abdul Manaf, untuk memanjatkan doa serta bershalawat.

Kampung Adat Mahmud tidak memiliki larangan hari dalam berziarah, setiap harinya kampung ini dapat dikunjungi. Namun ada baiknya datang pada hari Kamis, Senin, dan Jum'at karena biasanya akan banyak peziarah yang berkunjung.

Dari segi arsitektur, salah satu kekhasan yang dapat kita temui adalah bumi adat, atau rumah panggung tradisional masyarakat Sunda, yang sarat akan filosofi hidup sederhana dan religius. Rumah panggung ini dibuat dengan bahan utama kayu dan bilik sebagai dinding rumah. Pembuatan rumah panggung menghindari penggunaan bahan kaca, genteng barong, dan tembok. Pembuatan sumur juga awalnya dilarang di sini.

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Menurut sesepuh desa, rumah merupakan tempat tinggal sementara yang tidak kekal. Manusia hendaknya membangun fondasi dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Menurut ajaran Islam tidak baik seorang manusia lebih memikirkan pembangunan fisik yang sifatnya duniawi seperti pembangunan rumah tinggal. Sebaiknya aktivitas lebih banyak dilakukan di luar rumah dengan bekerja, beribadah di masjid atau bersilaturahmi dengan tetangga.

"Dengan rumah panggung, yang mencerminkan kesederhanaan, rasa iri dengki dan sombong tidak akan muncul dalam masyarakat. Yang penting itu beribadah, membangun fondasi iman dan takwa yang seharusnya dilakukan dengan sungguh-sungguh" tutur H. Syafeii, yang rumahnya masih berbentuk panggung sejak awal dibangun.

Namun sekarang ini sulit ditemui bentuk asli dari bumi adat di Kampung Mahmud. Masyarakat sudah banyak membangun rumah menggunakan bahan tembok. Sumur-sumur pun sudah banyak ditemui di kampung ini.

Hal lain yang dilarang di Kampung Mahmud adalah memelihara kambing dan soang (angsa). Kampung adat ini juga tidak memperkenankan pertunjukan wayang, menabuh go'ong atau menampilkan kesenian jaipongan. Larangan secara tertulis memang tidak ada, namun biasanya bila dilanggar akan menimbulkan bencana bagi yang melanggarnya. Bencana yang dimaksud biasanya berupa penyakit, kesulitan ekonomi, kerusakan hubungan rumah tangga, dan hal lain yang akibatnya buruk.

Pada hari-hari besar dan peristiwa bersejarah bagi kampung, kesenian terbang biasanya ditampilkan di Kampung Mahmud. Terbang adalah sajian kesenian bernuansa Islam yang penuh pesan dakwah dan nilai-nilai ajaran para waliyullah. Bentuk kesenian ini dapat berupa komposisi musik dan syair, seperti qasidahan. Terbang menggunakan alat musik pukul yang terdiri dari dogdog, kecrek, dengan dominasi rebana dari berbagai ukuran. Setiap ukuran menghasilkan suara yang berbeda dan khas. Salah satu grup terbang yang terkenal adalah "AL-Madar"pimpinan H. Didin.

Kini terbang dimainkan dalam acara-acara hajatan, seperti hajat khitanan atau acara pernikahan. "Sekarang mah terbang tidak hanya dipakai sebagai media dakwah saja, tapi juga sebagai sajian hiburan yang bernuansa Islami," tutur H. Syafeii.

C.    Nilai-nilai Ekologi Masyarakat

Keberadaan sungai citarum yang dekat dengan lingkungan kampung Mahmud mendukung kelangsungan hidup para warga kampung, dimana para warga sering memanfaatkan air jernih sungai citarum sebagai sumber air kehidupan mereka. Namun, seiring berjalan waktu , dan seiring tumbuh pesatnya pabrik di wilayah dekat sungai citarum menyebabkan sungai citarum tercemar. Air sungai yang dahulu bersih dan jernih sekarang mulai hitam, kotor dan berbau.

Keberadaan pabrik yang cukup dekat dengan kampung Mahmud, membuat ekologi udara di kampung Mahmud juga ikut tercemar. Tentu hal ini berdampak pada keseimbangan lingkungan dan kualitas udara di wilayah kampung Mahmud.

D.    Analisis dalam Perspektif Ekologi

Dalam kasus kampung Mahmud, dapat kami analisis bahwa perspektif ekologi yang bersesuaian adalah perspektif ekologi struktural (perspektif Durkhemian). Di kampung Mahmud, hubungan masyarakat dengan lingkungan dalam hal ini sungai citarum saling berkaitan. Sungai citarum yang dulu bersih dan berair jernih merupakan sumber mata air bagi masyarakat kampung citarum kini sudah berubah menjadi sungai yang kototr dan hitam karena sudah tercemar limbah pabrik industri, sehingga sekarang sumber mata air warga berubah menjadi sumur. Padahal para leluhur dahulu pernah melarang adanya pembuatan sumur, namun sekarang kepercayaan itu melonggar karena warga kampung tidak punya pilihan lain selain membuat sumur untuk memperoleh air bersih. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam perspektif ekologi struktural bahwa hal-hal  yang diperbuat manusia akan memberikan dampak ekologi, dalam kasus Mahmud dampak ekologi nya yaitu pencemaran sungai citarum akibat limbah industry pabrik di dekatnya.

Jika dianalisis lebih dalam, dampak yang ditimbulkan dari pencemaran ekologi sungai citarum juga akan berpengarh pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Makhluk hidup yang ada di sungai citarum yang telah tercemar limbah secara otomatis akan mati, sehingga populasi ikan berkurang, padahal ikan air tawar di sungai tersebut dahulunya bisa menjadi bahan makanan untuk warga kampung. Pencemaran ekologi sungai yang menyebabkan pencemaran air juga dikhawatirkan akan merusak kualitas air yang digunakan wrga kampung. Meski warga kampung sudah menggunakan sumur, dikhawatirkan masih ada kandungan zat-zat kimia dalam air yang mengalir ke sumur warga kampung, akibatnya warga menjadi mudah terserang penyakit dan kualitas air menurun. Hal ini juga bersesuaian dengan perspektif ekologi structural bahwa masyarakat lah yang dianggap sebagai subjek utamanya.

Sumber Bacaan

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=25&

http://kampungmahmud.blogspot.co.id/

http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/kampung-adat-mahmud-pusat-penyebaran-islam-di-bandung

Rabu, 20 April 2016

Suryo Widodo_Jawaban Untuk Soal UTS_Tugas UTS

1,a)     Pemikiran Rene Descartes (1596 – 1650), menyatakan bahwa perlunya menempatkan rasio subjek sebagai titik pangkal bahwa manusia yang berpikir sebagai pusat dunia. Subjektifitas Descartes mengacu pada aktivitas rasio subjek. Descartes berupaya mematematika-kan seluruh jenis pengetahuan manusia selaras dengan asumsi kosmologinya yang memandang alam memiliki struktur matematis. Descrates tidak menerima apapun sebagai kebenaran jika tidak dapat dideduksi dengan gambaran matematika, dari pengertian-pengertian umum yang kebenarannya tidak dapat kita ragukan. Semua fenomena alam dapat dijelaskan dengan cara deduksi matematika.Upaya Descartes untuk mematematikasi alam mendorongnya berkesimpulan: "alam raya tak lain adalah mesin raksasa". Keterpilahan pemikiran dengan tubuh, menjadi konsep sentral ontologi dan epistemologi Descartes yang dikenal dengan paham Dualisme. Dualisme pada gilirannya menciptakan pola pikir yang serba dikotomis atau logika biner. Dalam pandangan Descartes, alam bekerja sesuai dengan hukum-hukum mekanik, dan segala sesuatu dalam alam materi dapat diterangkan dalam pengertian tatanan dan gerakan dari bagian-bagiannya. Tidak ada tujuan, kehidupan dan spirtualitas dalam alam semesta.[1]

 

1,b)             Pemikiran Isaac Newton (1642-1727), menggabungkan mimpi visioner rasionalisme Descartes dan visi empirisme Bacon. Jadi dalam Bacon ini memandang pengetahuan adalah kekuasaan dan memimpikan sebuah negara yang berteknologi tinggi, Bacon mengidentifikasi kebenaran dengan identifikasi kegunaan industrialisasi. Bukan hanya itu saja bacon juga berperan dalam mempopulerkan sains baru, yang lebih berperan sebagai pencarian kekuasaan guna mendominasi alam daripada memahami alam, sedemikian sehingga berakibat pada pemaksaan alam untuk melayani kepentingan material manusia. Prinsip ini juga mempunyai ciri dominasi manusia terhadap alam raya.[2]

 

1,c)Pandangan Cartesian-Newtonian ini menimbulkan banyak krisis ekologi. Pemikiran mereka yang menggangap bahwa alam itu mekanistik telah melahirkan pencemaran udara, air, tanah yang mengancam balik kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia modern, Manusia secara sadar atau tidak menganut paradigma Cartesian-Newtonian sebagai bagian,cara,sistem, dan pola dinamika modernisme. Para manusia modern menganggap dapat mengendalikan alam dan memiliki kekuasaan untuk mengeksploitasi alam untuk pemenuhan kebutuhannya.

 

2,a)Dalam fisika baru capra,ia menjelaskan bahwa kita harus melihat secara penuh tentang pandangan terhadap alam semesta. Capra bahkan juga menekankan agar perlunya untuk meninggalkan tentang fisika klasik. Pada tindak lanjut,capra memasukan konsep panteisme dan mistisme Timur sebagai paradigma Sains. yaitu memandang seluruh keberadaan sebagai keberadaan tunggal, yang menyatu dan tidak perlu dan tidak bisa diperbedakan lagi. Bahkan dalam teori quatum atomnya ia menganggap semua terhubung dan saling bergantung satu dengan lainnya. Ia mengatakan sebagai berikut:

Quantum theory forces us to see the universe not as collection of physical object, but rather as a complicated web of relations between the various parts of a unified whole.[3]

 

Dan ia melanjutkan:

 

This, however, is the way in which Eastern mystics have experienced the world, and some of them have expressed their experience in words which is almost identical with those used by atomic physicist.[4]

 

Dengan penjelasan tersebut capra mengembalikan pemikiran bahwa alam bukanlah benda mati dan setara dengan manusia, bahkan sebuah kayu pun adalah benda hidup dan saling berhubungan dengan yang lainnya. Sehingga untuk sesama makhluk hidup yang setara kita harus saling menghormati dan dilarang untuk menyakiti.

2,b)            Pendekatan yang capra ingin dianggap solusi oleh para ilmuwan karena pendekatan ini lebih mensetarakan manusia dengan yang lainnya membawa kepada kebahagiaan dan kesejahteraan di bandingkan pemikiran cartes-newtonian.

Dalam pendekatan ini juga menjelaskan bahwa alam bukanlah sebagai ciptaan tuhan/allah melainkan bagian dari tuhan/allah. Dan alam ini dianggap berhubungan dengan manusia dan saling ketergantungan dimana setiap hal buruk terjadi terhadap alam maka manusia juga turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

 

3.      Kekacauan Ekologis yang sekarang benar-benar terjadi yaitu yang terjadi di daerah PIK(Pantai Indah Kapuk) yang di pelopori oleh Perusahaan besar Agung Sedayu yang dimana lahan-lahan tersebut yang seharusnya adalah hutan mangrove kini berubah menjadi kawasan elit yang tanahnya berharga puluhan bahkan ratusan juta per meternya. Hal ini mengakibatkan di Ibu kota kekurangan lahan terbuka hijau yang dimana seharusnya lahan tersebut untuk mangrove bukan untuk kawasan perumahan atau bahkan lahan bisnis.

Secara akademisi ada beberapa hal yang dapat di jadikan solusi

(1)   ini meminta pemerintah penataan ulang kembali lahan-lahan yang seharusnya di jadikan lahan terbuka hijau

(2)   lalu menindak tegas para pebisnis yang telah  melanggar aturan/ketentuan yang sudah pemerintah jalankan

(3)   Meningkatkan kapasitas kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan mangrove secara bertanggung jawab

(4)   Apabila sudah banyak hutan mangrove yang di robohkan maka harus adanya penanaman ulang

(5)   Lalu yang terakhir monitoring dan evaluasi tentang apakah hutan manggrove tersebut sudah sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi

 

4.      Dalam pendidikan (Formal & non Formal) menurut saya sangat berperan aktif dalam penanganan masalah-masalah ekologi di karenakan apabila sudah adanya pendidikan tentang ekologi maka manusia akan lebih menghargai makhluk hidup(Alam) yang ada.

 

Sedangkan untuk strateginya sendiri saya berpendapat sebagai berikut:

(1)   Setelah mereka mengerti atau sudah di berikan pendidikan tentang ekologi, saya harus menyatukan persepsi tentang ekologi itu sendiri.

(2)   Membuat Program atau mendukung program ekologi yang berkelanjutan untuk pengelolaan sumber daya maupun kelestariannya.

(3)   Menggunakan Penggunaan sumber daya atau program secara efisien dan tidak membahayakan lingkungan sekitar.

(4)   Membuat atau mengembangkan teknologi maju yang ramah lingkungan untuk mendukung program

(5)   Lalu yang terakhir melakukan Monitoring dan Evaluasi secara berkala tentang program ekologi tersebut



[1] Heriyanto, Husein. 2003. Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju. Hlm.34

[2] Ibid. Hlm.40

[3] Capra, Fritjof. Tao of Physics, London: Flamingo, 1991. Hlm.150

[4] Ibid, Hlm.150

Rabu, 13 April 2016

Rizky Arif Santoso & Abidin_Dampak Keberadaan Pondok Pesantren Daar el-Hikam pada Masyarakat dan Lingkungannya

NAMA PEMBUAT TUGAS :

1.      RIZKY ARIF SANTOSO

2.      ABIDIN

 

DAMPAK KEBERADAAN PONDOK PESANTREN DAAR EL-HIKAM BAGI MASYARAKAT DAN LINGKUNGANNYA

 

A.    Alur Sejarah (Timeline)

Sebelum berdirinya pondok pesantren Daar el Hikam ini, tempat ini dahulunya adalah terdapat beberapa petak rumah kontrakan yang cukup ramai dan padat. Rumah kontrakan ini sudah berdiri sejak tahun 1970an. Rumah kontrakan ini dimiliki oleh seorang  KH. Sulaiman yaitu kakek dari istri KH. Bahruddin. Selama tahun 1970 bangunan kontrakan itu berdiri, banyak sudah yang menempati rumah kontrakan tersebut. ini dikarenakan sewa rumah kontrakan yang cukup murah pada saat itu. Banyak penghuni kontrakan yang memanfatkan lahan kontrakan yang kosong itu dengan bebas untuk membuat ternak, tanaman hias, tumbuhan dan yang lainnya tanpa sepenghetauan dan seizin pemilik rumah kontrakan.

Setelah sudah sekian lama rumah kontrakan itu berdiri dan banyak yang memanfaatkan lahan yang kosong tanpa sepenghetahuan sang pemilik dan tanpa izin juga maka, kakek dari istri KH. Baharuddin yaitu KH Sulaiman memberikan wasiat kepada beliau untuk segera membangun sebuah pondok pesantren ditempat rumah kontrakan itu berdiri. KH. Sulaiman memutuskan untuk membangun sebuah pondok pesantren karena beliau ingin menabung pahala jariyah untuk kehidupan dirinya dan keluarganya di akhirat kelak.  Beliau juga membangun pesantren untuk membagikan ilmunya kepada orang banyak yang telah beliau pelajari selama masa hidupnya. 

Pondok Pesantren Daar el Hikam ini terletak di RT 04 RW01 kelurahan Pondok Ranji  Kecamatan Ciputat Timur Kota Tanggerang Selatan Provinsi Banten. Luas tanah yang akan dibangun untuk pondok pesantren yaitu 5000 meter2. Sesuai dengan luas tanah yang ada pada beberapa petak rumah kontrakan tersebut.

Barulah kemudian Pada awal tahun 1997, pembangunan pondok pesantren akan dimulai. Banyak masyarakat yang kurang setuju terutama masyarakat yang tinggal di rumah kontrakan dengan dibangunnya pondok pesantren karena mereka sudah lama menetap di kontrakan tersebut selam berpuluh puluh tahun lamanya disamping harga sewa rumah kontrakan tersebut yang tergolong lebih murah dari tempat sewa rumah kontrakan yang lainnya.

 Akhirnya dengan penuh kesabaran serta dengan komunikasi yang baik dibantu juga dengan ketua RT dan RW setempat dan juga dengan masyarakat sekitar dan dengan Istiqomah, pondok pesantren Daar el hikam pun resmi  dibang

Berikut table Timeline History Pondok Pesantren Daar El-Hikam :

No

Waktu

Peristiwa

1

Tahun 1970

Masih berupa sebuah rumah kontrakan

2

Tahun 1997

Pembangunan pondok pesantren dimulai

3

Tahun 1997

Banyak yang menentang pembangunan pesantren

4

Tahun 2002

Pondok pesantren telah  selesai dibangun

5

Tahun 2002

Pesantren dinamakan Daar el-hikam As-Sulaimany

6

Tahun 2007

Pergantian nama pesantren menjadi Daar El-Hikam

 Hubungan Kausalitas (Sebab-Akibat) :

No.

Sebab

Akibat

1.

Biaya sewa kontrakan lebih murah dan memiliki lahan yang luas

Banyak (calon) penghuni menetap sewa di kontrakan H. Sulaiman

2.

Permintaan dan wasiat H. Sulaiman untuk mendirikan pondok

KH. Bahrudin mengganti fungsi kontrakan dan mendirikan pondok

3.

Mengalihfungsikan kontrakan menjadi pondok secara tak langsung menghilangkan tempat tinggal penghuni nya

Banyak yang menentang pembangunan pondok baik penghuni maupun masyarakat luar karena penghuninya sudah merasa nyaman dan betah sejah 27 tahun silam

4.

Mendapat dukungan dari RT, RW dan forum Organisasi Islam

Pondok pesantren rampung dan selesai dibangun

5.

Nama pesantren berasal dari Almarhum H. Sulaiman

Pondok bernama Daar Eh-Hikam As-Sulaimany

6.

Mayoritas pengurusnya tinggal diluar pondok bukan berdomisili di dalam pondok. Berharap agar orientasi santri menjadi insan yang bijak

Perubahan nama menjadi Pondok Daar El-Hikam

  

B.     Diagram Venn

 

 

 

Berbagai kegiatan islami yang berada di area lingkungan Pondok Pesantren Daar el-Hikam baik yang diadakan pihak pemilik pesantren yaiti KH. Bahruddin, S.Ag maupun yang diprogramkan oleh para pengurus pesantren tentu memiliki dampak yang baik bagi masyarakat.

Keberadaan pesantren Daar el-Hikam ini memberi keuntungan tersendiri bagi Ibu Tuti pemilik usaha warteg ini. Selain konsumen yang berasal dari tetangga ataupun orang yang bepergian jauh, namun ternyata Ibu Tuti si pemilikusaha warteg ini memiliki langganan tetap yaitu para santri Pondok Pesantren Daar el-Hikam.

Menurut pengakuannya, setiap pagi para santri sarapan pagi sebelum berangkat kuliah. Tidak hanya pagi, siang bahkan malam pun para santri tetap setia membeli sebungkus makanan atau terkadang makan ditempat warteg ibu Tuti. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi Ibu Tuti, disamping masakan buatannya habis terjual, juga memberikan keuntungan dalam hal ekonomi. Pendapatan ekonominya diakuinya lebih meningkat dibanding sebelum keberadaan pondok pesantren tersebut.

Dampak yang berpengaruh dari keberadaan pondok ini ailah masyarakat umum (setempat) yang bisa mendengarkan syiar dakwah dari Masjid Pondok Daar El-Hikam, bahkan berkontribusi aktif dalam kegiatan Islami. Masyarakat setempat mengakui keberadaan pondok pesantren didekat lingkungan masyarakat memberi nilai-nilai rohani dan kehidupan yang religi.

Selain itu, dampak yang bisa terasa oleh keberadaan pondok pesantren tersebut ialah Majlis Ta'lim khususnya Majlis Ta'lim kaum ibu, karena Majlis ta'lim yang dimiliki masyarakat memanfaatkan fasilitas masjid pondok dalam kegiatan syiar dan pengkajian agama. Majlis ta'lim milik masyarakat ini sering dan mudah berelasi serta saling kerjasama dengan pondok daar El-hikam.

Dampak lain yang bisa dirasakan masyarakat yakni, lulusan atau alumnus Pondok Pesantren Daar el-Hikam sudah berhasil mempraktikan ilmunya ketika di pondok kepada masyarakat disekitarnya, hal ini merupakan wujud bakti bagi santri bisa kembali ke masyarakat dengan perubahan yang lebih baik. Seperti santri alumni Daar el-Hikam yang bernama ananda Khaliq, ia sekarang menjadi tokoh agama dikampung halamannya,

Berbeda halnya dengan ananda Syaiful Amri yang menjadi pegawai salah satu Bank Syari'ah di Jakarta. Ilmu yang ia peroleh walau ia dapatkan di perkuliahan, namun budaya pesantren yang ia rasakan membantunya untuk menambah ilmu agama khususnya perihal Mu'amalat membantunya mencerahkan pikirannya mengenai keuangan berbasis syari'ah hingga ia menjadi pegawai suatu Bank Syari'ah di ibukota.Selain itu, ada juga alumni pondok pesantren Daar el-Hikam yang bernama ananda Burhan yang menjadi guru TPA, ananda Muhammad Syafri yang menjadi guru les Bahasa Inggris, ananda Haryanto dan ananda Ubaidillah yang menjadi guru SMP di suatu sekolah. Masih banyak lagi alumni-alumni yang sukses dan berhasil membaktikan dirinya ke masyarakat dan mereka juga masih menyambungkan tali silaturrahim ke pondok pesantren Daar el-Hikam.

Cari Blog Ini