Minggu, 30 September 2012

M.Badruzzaman Jurnalistik 1A

Teori Kritis

Oleh: M.Badruzzaman

Teori kritis adalah produk sekelompok neo-marxis yang tak puas dengan keadaan teori Marxian (Bernstein, 1995; Kallner, 1993), terutama kecenderungannya menuju determinisme ekonomi. The Institute of Social Research, organisasi yang berkeaitan dengan teori kritis ini resmi didirikan di Frankfurt Jerman, 23 Februari 1923, meski sejumlah anggotanya telah aktif sebelum oganisasi itu didirikan. Teori kritis telah berkembang melampaui batas aliran Frankfurt. Teori kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan sosial dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat.

Kritik terhadap Teori Marxian. Teori kritis mengambil kritik terhadap teori Marxian titik tolaknya. Teoritisi kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi yang mekanistis. Beberapa orang diantaranya (misalnya, Habermas, 1971) mengkritik determinisme yang tersirat di bagian tertentu dari pemikiran asli Marx, tetapi kritik mereka sangat ditekankan pada neo-marxis terutama karena mereka telah menafsirkan pemikiran Marx terlalu mekanistis. Teoritisi kritis tak menyatakan bahwa determinis eknomi keliru, ketika memusatkan pada bidang ekonomi, tetapi karena mereka seharusnya juga memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain. Seperti akan kita lihat, aliran kritis mencoba meralat ketakseimbangan ini dengan memusatkan perhatiannya pada bidang cultural (Fuery, 2000; SchroranZyer, 1973:33). Selain menyerang teori Marxian lain, aliran kritis mengkritik masyarakat seperti bekas Uni Soviet yang pura-pura dibangun berdasarkan teori Marxian (Marcuse, 1958).

Kritik terhadap Teori Positivisme. Aliran kritis menentang positivisme karena berbagai alasan (Sewart, 1978). Pertama, positivism cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah. Teoritis kritis lebih menyukai memusatkan perhatiaan pada aktivitas manusia maupun pada cara-cara aktivitas tersebut mempengaruhi struktur sosial yang lebih luas. Sigkatnya positivism dianggap mengabaikan actor (Habermas, 1971), menurunkan actor ke derajat yang pasif yang ditentukan oleh kekuatan alamiah. Karena mereka yakin atas kekhasan sifat actor, teorotis kritis tak dapat menerima gagasan bahwa hokum umum sains dapat diterapkan terhadap tindakan manusia begitu saja. Positivism diserang karena berpuas diri hanya dengan menilai alat untuk mencapai tujuan tertentu, dan karena tak membuat penilaian serupa terhadap tujuan. Kritik ini mengarah ke pandangan bahwa positivism berwatak konservativ, tak mampu menantang system yang ada.

Kritik terhadap Sosiologi. Menurut anggota aliran ini, sosiologi lebih memperhatikan masyarkat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat, maka mereka mengabaikan interaksi individu dan masyarakat. Walau sebagian besar perspektif sosiologi tidak bersalah ketika mengabaikan interaksi ini, namun pandangan ini menjadi landasan serangan aliran kritis terhadap sosiologi. Karena mengabaikan individu sosiolog dianggap tak mampu mengatakan seuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang dapat mengarah ke sebuah masyarakat manusia dan yang adil (Institut Riset Sosial Frankfurt, 1976:46). Seperti di katakan Zoltan Tar, Sosiologi menjadi "bagian Integral masyarakat yang ada ketimbang menjadi alat mengkritiknya dan menjadi rugi untuk pembaruan" (1977:x).

Kritik terhadap Masyarakat Modern. Kebenyakan karya aliran kritis ditunjukan untuk mengkritik masyarakat modern dan berbagai jenis komponennya. Kebnyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bidang ekonomi, sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat cultural mengingat kultur dianggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern. Artinya, tempat dominasi dalam masyarakat modern telah bergeser dari bidang ekonomi ke bidang cultural. Aliran kritis masih tetap memperhatikan masalah dominasi, meski masyarakat modern mungkin lebih didominasi oleh elemen cultural ketimbang oleh elemen ekonomi. Karena itulah aliran kritis mencoba memusatkan perhatian pada penindasan cultural atas individu dalam masyarakat.

Kritik terhadap Kultur. Teoritis kritis melontarkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut "industry kultur" yakni struktur yang dirasionalkan dan dibirokrasikan yang mengendalikan kultur modern. Perhatian terhadap industry kultur lebih mencerminkan perhatian mereka terhadap konsep superstruktur Marxian ketimbang terhadap basis ekonomi. Industri kultur menghasilkan apa yang secara konvensional disebut kultur massa yang didefinisikan sebagai kultur yang diatur …tak sepontan, dimaterialkan, dan palsu, bukan ketimbang sesuatu yang nyata (Jay,1973:216) ada dua hal yang paling dicemaskan oleh pemikir kritis mengenai industry kultur ini. Pertama, mereka menghawatirkan mengenai kepalsuannya. Mereka membayangkannya sebagai sekumpulan paket gagasan yang di produksi secara massal dan disebarkan ke tengah-tengah massa melalui media. Kedua, teoritisi kritis terganggu oleh pengaruh yang bersifat menentramkan, menindas, dan membius dari industri kultur terhadap rakyat.

Kritik terhadap Teori kritis

Sejumlah kritik telah diajukan kepada teori kritik (Bottomore, 1984). Pertama, teori kritis dituduh bersifat ahistoris, mwneliti berbagai peristiwa tanpa banyak memperhatikan pada konteks sejarah dan komparatifnya (Misalnya, Nazisme pada 1930-an). Ini adalah kritik terhadap teori Marxian, yang semestinya historis dan komperatif. Kedua, aliran kritis, seperti telah kita lihat, umumnya mengabaikan ekonomi. Ketiga, teoritis kritik cenderung berargumen bahwa kelas pekerja telah hilang sebagaimana halnya kekuatan revolusioner, pandangan yag bertentangan dengan analisis Marxian tradisional.

kritik-kritik tersebut membuat tokoh Marxis tradisional terkemuka seperti Bottomore berkesimpulan: "Aliran Frankfurt, dalam bentuk orisinilnya, dan aliran Marxisme atau sosiologi telah mati". Sentimen yang sama diekspresikan oleh Greisman, yang menyebut teori kritik sebagai "Pradigma yang gagal". Jika ia menjadi aliran yang berbeda, itu disebabkan banyak dari ide-ide dasarnya sampai pada Marxisme, sosiologi neo-Marxian dan bahkan sosiologi arus utama. Jadi, seperi dikatakan Battomore dalam kasus Habermas, aliran kritis telah mengalami penyesuaian dengan Marxisme dan sosiologi, dan"pada saat yang sama beberapa ide penting aliran Frankfurt dipelihara dan dikembangkan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini