Sabtu, 04 Oktober 2014

TUGAS 3_Ridho Falah Adli_KPI 5/E

Nama   : Ridho Falah Adli (1112051000143)

Kelas   : KPI 5/E

Filsafat

A.    Definisi

Definisi filsafat berdasarkan asal-usulnya berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosphia, yang terdiri dari dua kata dasar yaitu philein yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebjaksanaan. Sehingga istilah filsafat bisa disebut dengan cinta kebijaksanaan. Plato pada abad 427-347 SM menyatakan pengertian dari filsafat. Menurut Plato filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli. Maksudnya adalah filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu

B.     Unsur-unsur

Dalam pembelajarannya filsafat terbagi atas tiga usur, yang meliputi: Ontologi, Epistomologi dan Aksiologi. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh suatu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah hakikat yang ada (being,sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

Epistomologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu : pengetahuan sains, pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik.

Yang terakhir adalah Aksiologi , aksiologi adalah ilmu yang menyelidiki hakikat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Sederhananya dapat disebut dengan teori yang membicarakan guna nilai pengetahuan itu. Maksudnya adalah kelanjutan dari pengetahuan yang telah didapat dan diasumsikan lalu kita terapkan dalam aktifitas keseharian.

C.    Metode

Metode filsafat adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Didalam buku dictinary of philosophy yang dikutip oleh Anton Bakker, metode filsafat dibagi menjadi sepuluh, yaitu :

1.      Metode kritis (Socrates dan Plato)

Metode ini bersifat analisa istilah dan pendapat.

2.      Metode instuitif (Platinos dan Bregson)

Dengan jalan instropeksi pembersihan intelektual, sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.

3.      Metode skolastik (Aristoteles dan Tomas Aquinas)

Metode ini bertitik tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya ditarik kesimpulan-kesimpulan.

4.      Metode matematis (Descrates)

Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai institusi akan hakikat-hakikat sederhana, dari hakikat itu didiskusikan secara matematis segala pengertian lainnya.

5.      Metode empiris (Hobbes, Locke, Barkeley dan Hume)

Hanya pengalamanlah yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian dalam instropeksi dibandingkan dengan serapan-serapan dan kemudian disusunbersama secara geometris.

6.      Metode transendental (Kant dan Neo-skolastik)

Metode ini bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu dengan jalananalisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian demikian.

7.      Metode dialektis (Hegel dan Marx)

Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri.

8.      Metode fenomenologis (Husserl)

Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis, refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.

9.      Metode Neo-Positivistis

Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.

10.  Metode Analitika Bahasa (Wittgenstein)

Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi.

 

D.    Hakikat

Pada hakikatnya ilmu filsafat adalah ilmu tentang bertanya kepada semua aspek kehidupan manusia. Filsafat merupakan dasar dari semua ilmu.  Filsafat merupakan ilmu yang digunakan untuk mencari dan mendalami tentang kebenaran dari sebuah kebenaranyang sudah ada melaui proses dan metode-metode yang beragam

Suatu kebenaran dalam ilmu filsafat itu relatif. Suatu hal yang kita anggap benar menurut suatu golongan belum tentu benar pula bila kita terapkan ke golongan lain. Itulah yang menyebabkan filsafat merupakan titik temu tentang hakikat kebenaran yang sudah ada namun ingin dikembangkan lagi secara mendalam, karena, untuk memecahkan masalah dalam filsafat itu bersifat mendalam dan universal.

Filsafat dapat dijadikan pedoman berfikir, bersikap dan bertindak dalam menghadapi peristiwa alam dan sosial. Dan dapat dijadikan metode berfikir kritis dan rasional untuk meghadapi paeristiwa alam dan lingkungan serta guna memecahkan konflik yang berkembang di lingkungan sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini