Rabu, 02 Desember 2015

Tugas Soskot_Risna Siti Rahmah_PMI 3_Aliran Teori Weberian

A.  Pendahuluan

Sebagian besar masalah yang dihadapi di lingkungan sekitar ini adalah banyaknya jumlah pengangguran dan sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan. Hal ini tentu saja agak sedikit kompleks untuk dengan mudah terselesaikan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut sangat dibutuhkan peran wirausaha (entrepreneur), yaitu sumber daya manusia yang memiliki kemampuan yang kreatif, inovatif, dinamis, dan proaktif terhadap tantangan yang ada. Selain itu, dengan adanya peran wirausaha yang mampu melihat peluang dan tantangan yang ada, dapat juga memberi manfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Namun, saat ini menjadi entrepreneur business saja tidak cukup, tetapi sudah seharusnya menjadi social entrepreneur.

Social Entrepreneurship merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, social yang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan (education) dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007).

Perbedaan pokok keduanya terletak pada pemanfaatan keuntungan. Bagi business entrepreneur keuntungan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha, sedangkan social entrepreneur keuntungan yang didapat sebagian atau seluruhnya diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan masyarakat. Maka, keberhasilan social entrepreneur diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atau masyarakat.

Social Entrepreneur memiliki peran dalam mengurangi angka pengangguran. Kegiatan Social Entrepreneur secara otomatis menyerap tenaga kerja sehingga memberi kesempatan kerja. Social Entrepreneur merupakan suatu usaha yang dibuat orang kemungkinan besar dibidang pendidikan, kesehatan, lingkungan dan bidang lainnya yang membutuhkan manusia sebagai tenaga kerja.

Salah satu contoh Social Entrepreneur yang bergerak di bidang pendidikan adalah Lembaga Bimbingan Belajar atau yang lebih dikenal dengan istilah Bimbel (Bimbingan Belajar). Dengan didirikannya Bimbel ini tentu saja membuka peluang bagi para guru, mahasiswa, atau ahli di bidang ilmu untuk menjadi pengajar dengan ilmu atau keahlian yang dimilikinya. Manfaat yang jelas dirasakan bagi mahasiwa dengan adanya Bimbel ini tentu selain sebagai laboratorium untuk mengasah kemampuan tentu juga sebagai pekerjaan sampingan.

Oleh karena itu, menarik untuk dikaji lebih lanjut mengenai Lembaga atau Perusahaan yang membuka usaha di bidang pendidikan ini. Terutama lembaga bimbingan belajar dengan produk semi privat dan privat karena dirasa lebih fleksibel bagi pengajar dan murid. Salah satu lembaga bimbingan belajar yang sudah banyak memiliki tenaga pengajar adalah "BIMBAL Education".

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif digunakan karena studi yang diteliti mengenai peran individu dengan motivasinya mempelopori atau mendirikan sesuatu. Sehingga sesuai dengan teori yang digunakan, yaitu teori Max Weber. Metode pengumpulan data yang berhubungan dengan tindakan sosial individu. Metode ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tindakan individu atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian dan untuk apa dia bertindak seperti itu. Selain itu metode kualitatif lebih bersifat fleksibel, dikarenakan melihat sesuatu dari apa adanya bukan dunia yang seharusnya.

Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pendiri BIMBAL Education dan data sekunder diperoleh dari dokumen BIMBAL Education untuk menunjang penelitian. Penelitian ini dilakukan di Kantor BIMBAL Education yang beralamat di Jln. Amal Bakti no. 43 Rt 05/02 Kel. Rengas Kec.  Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan Prov. Banten. Waktu penelitian dimulai dari tanggal 25 November 2015 s/d 28 November 2015.

 

B.  Tinjauan Teoritis

Max Weber adalah sosiolog kelahiran Jerman dan sebaya dengan George Simmel, seorang sosiolog Jerman lainnya. Kontribusi penting Weber adalah penjelasannya mengenai verstehen, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan understanding, yang berarti memahami atau mengerti. Secara istilah, verstehen adalah metode pengumpulan data yang berhubungan dengan tindakan sosial individu. Bagi Weber, sosiologi adalah bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tindakan individu atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian dan untuk apa dia bertindak seperti itu. (Zanden, 1988:19)[1]

Verstehen, istilah Jerman yang jika diindonesiakan menjadi "pemahaman interpretatif", adalah metode yang menekankan individu yang memberikan arti secara subjektif pada sesuatu yang ada diluarnya. (Zanden, ibid). Weber memang memiliki perhatian pada individu, atau lebih tepatnya tindakan individu. Untuk mengerti tentang masyarakat, maka yang harus dilihat adalah tindakan individunya. Tindakan yang dilakukan harus dilihat apa yang memotivasinya mereka melakukan tindakan demikian.

Dalam paradigma ilmu sosial, teori Weber termasuk dalam paradigma realitas subjektif, yaitu realitas yang berada di dalam subjek individu atau dari subjek ke subjek. Realitas subjektif mengandaikan bahwa tindakan selalu bermakna subjektif bagi individu yang bersangkutan. Weber mendifinisikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh pemahaman interpretatif mengenai arah dan akibat-akibat dari suatu tindakan.[2]

Dalam konteks ini, Weber lebih melihat kenyataan sosial sebagai suatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan sosial. Sosiologi bagi Weber merupakan ilmu yang empiris yang berusaha memahami perilaku manusia dari perspektif pemahaman mereka sendiri.

Max Weber mengatakan, individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari pada paksaan fakta sosial. Manusia selalu menjadi agen di dalam kontruksi aktif dari realitas sosial, dimana mereka bertindak tergantung kepada pemahaman atau pemberian makna pada perilaku mereka.

Empat tipologi tindakan sosial yang dikaji oleh Weber anatara lain: (1) Zweckrationalitat (rasionalitas instrumental), yaitu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sebuh tindakan yang mencerminkan efektivitas dan efesiensi. (2) Wetrationalitat (rasionalitas tujuan), yaitu tindakan yang melihat alat-alat hanya sekedar pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sebab tujuan yang terkait dengan nilai-nilai sudah ditentukan. (3) Tindakan tradisional ialah tindakan yang dilakukan berdasarkan kebiasaan tanpa perencanaan, tanpa refleksi yang sadar. (4) Tindakan efektif, yaitu tindakan yang dilakukan dan didominasi oleh perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.[3]

Selain Weber, tokoh lain yang juga berpendapat sepertinya adalah Peter Ludwing Berger dan Thomas Luckman. Sekitar tahun 1962, mereka bekerja sama dan menulis buku berjudul Social Contruction of Reality; A Treatise in The Sociology of knowledge, dalam buku tersebut, Berger dan Luckman dengan jelas menunjukkan peran sentral sosiologi pengetahuan sebgai instrumen penting dalam membangun teori sosiologi ke depan.

Peter L. Berger dan Thomas Luckman mencetuskan sebuah teori sosiologi kontemporer, yaitu kontruksi sosial. Dalam menjelaskan paradigma kontruktivis, realitas sosial merupakan kontruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Individu adalah manusia yang bebas melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikontruksi berdasarkan kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi dunia sosialnya (Basrowi dan Sukidin, 2002: 194).

Kontruktivisme dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang di sekitarnya. Individu kemudian membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihatnya itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya, inilah yang oleh Berger dan Luckman disebut dengan kontruksi sosial

Sekali lagi, Max Weber dan sosiolog aliran Weberian lainnya memang sangat menekankan individu. Tekanannya pada individu ini bukan berarti ia tidak mengakui adanya masyarakat sebagai kenyataan, akan tetapi kenyataan itu hanya akan mungkin dipahami jika diberi arti oleh individu.

 

C.  Hasil Observasi Lapangan

1.        Hasil Penelitian

a.    Profil Subjek/Objek

Nama Perusahaan          : BIMBAL Education

Bidang Usaha                : Bimbingan Belajar

Jenis Produk                  : Semi Privat dan Privat

Pendiri                           : Iqbal Zaenal Muttaqin

Mulai Berdiri                 : 5 Oktober 2013

Alamat Perusahaan        : Jln. Amal Bakti no. 43 Rt 05/02 Kel. Rengas Kec.                                                    Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan Prov. Banten

Visi                              : Menjadi lembaga pendidikan yang dibutuhkan                                                          masyarakat dengan selalu memberi program bimbingan                                               yang bermutu.

Misi                             : - Menjadi sahabat untuk meraih prestasi dan berakhlak                                                 mulia.

-          Memberikan layanan jasa yang inovatif & progresif.

-          Membangun profesionalisme manajemen lembaga.

-          Menjadi sarana bagi guru untuk mengamalkan ilmu.

 

Jumlah Siswa di BIMBAL Education sampai November 2015:

SD       : 6

SMP    : 7

SMA   : 21

Jumlah : 34

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut:

 

Jumlah Siswa/i BIMBAL Education

Tingkat

Jumlah Kelompok

Jumlah Siswa Perkelompok

Jumlah

SD

2

3

6

Jumlah

6

SMP

2

3

6

 

1

1

1

Jumlah

7

X SMA

1

3

3

 

1

4

4

 

1

2

2

Jumlah

9

XI SMA

2

2

4

 

1

1

1

Jumlah

5

XII SMA

1

1

1

 

2

3

6

Jumlah

7


Jumlah pengajar di BIMBAL Education ada 78 pengajar, dengan rincian 19 pengajar tetap dan 56 pengajar freelance. Untuk jumlah karyawan ada 3 karyawan tetap, yang terbagi sebagai tenaga administrasi dan keuangan.

 

Jumlah Pengajar dan Pegawai di BIMBAL Education

Tingkat

Mata Pelajaran

Jumlah

TK/PAUD

Calistung

3

SD

Matematika + Eksak SD

4

SMP

IPA

4

IPS

4

Bahasa Inggris

3

Matematika

5

Bahasa Indonesia

2

SMA

Fisika

6

Matematika

9

Kimia

7

Biologi

5

Ekonomi

5

Geografi

4

Sosiologi

4

Bahasa Inggris

6

Bahasa Indonesia

3

Bahasa Arab

4

JUMLAH

78

 

 

b.   Tujuan Berdiri

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, tujuan dberdirinya "BIMBAL Education" adalah:

1)   Membuat lembaga bimbingan belajar dengan inovasi baru.

2)   Menciptakan ide-ide kreatif dalam dunia pendidikan.

3)   Mempraktikkan dan memulai usaha sederhana dengan mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki.

4)   Membuka lapangan pekerjaan bagi guru, mahasiwa, dan masyarakat sekitar dengan bidang keahliannya.

5)   Memudahkan bagi mahasiswa untuk mencari kerja sampingan sebagai pengajar.

6)   Mendapat keuntungan dari produk ini.

 

2.        Analisis Hasil

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan analisis dengan merujuk pada teori sosial yang dikemukakan oleh Max Weber, yaitu teori kontruktivis. Dalam teori Max Weber dijelaskan bahwa individu manusia dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif. Oleh karena itu dalam hal ini yang dianalisis berhubungan dengan tindakan sosial individu. Hal ini untuk memberikan penjelasan tentang tindakan individu atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian dan untuk apa dia bertindak seperti itu.

Dari hal yang dilakukan oleh Iqbal Zaenal Muttaqin ini sesuai dengan teori Weber yaitu, sebagai aktor atau orang yang mempelopori. Dia dapat melihat peluang dan tantangan yang ada disekitarnya. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan bahwa dia mendirikan lembaga bimbingan belajar bukan hanya sekedar untuk mencari keuntungan diri sendiri. Pertama, mendirikan bimbingan belajar dengan produk semi privat dan privat. Jadi siswa lebih fleksibel dalam belajar, mereka bisa memilih kelompok, tempat, waktu, dan pengajar sendiri sesuai dengan kecocokan mereka. Siswa tidak perlu datang ke tempat bimbingan belajar, melainkan pengajar yang datang ke rumah mereka atau ke tempat sesuai keinginan siswa. Selain itu, biaya di bimbingan belajar ini lebih ekonomis dibandingkan dengan di lembaga bimbingan belajar yang lainnya. Kedua, dengan didirikannya lembaga bimbingan belajar ini tentu secara otomatis dapat menyerap tenaga kerja. Sehingga dapat memberi kesempatan kerja bagi para guru, mahasiwa, ataupun masyarakat dengan keahlian yang dimilikinya sesuai bidang ilmunya. Karena sifat bimbingan belajar ini fleksibel, dimana siswa bisa memilih dengan siapa mereka belajar, dan bebas memilih guru, maka lebih banyak tenaga pengajar yag diterima agar dengan mudah siswa memilihnya.

Dengan adanya bimbingan belajar ini telah memberi banyak kesempatan kerja bagi yang memiliki sumber daya manusia yang sesuai. Kesempatan pekerjaan bukan saja dirasakan oleh para guru yang ahli di bidang ilmunya, tetapi juga bagi yang ahli administrasi, keuangan. Jika dilihat dari jumlah pegawai yang ada di BIMBAL Education, tidak semua pegawai sebagai pengajar, ada juga staff ahli administrasi dan keuangan. Berdirinya bimbingan belajar ini tentu setidaknya mengurangi sedikit jumlah pengangguran yang  ada dan membantu orang mendapatkan pekerjaan.

Namun, dari hasil pengamatan dan hasil wawancara yang telah dilakukan ada beberapa faktor yang dapat dianalisis dengan analisis SWOT, mulai dari faktor internal hingga faktor eksternal. Faktor internal pertama dimulai dari kekuatan (Strength), kekuatan dari lembaga bimbingan belajar ini adalah harga yang ekonomis. Namun, dari segi kualitas tidak kalah dengan lembaga bimbingan belajar yang lain. Selain itu, kekuatan yang lain adalah fleksibel, siswa dapat memilih tempat, waktu, kelompok belajar dan pengajar sendiri. Kedua, kelemahan (weakness), kelemahan yang terlihat adalah pendiri belum memiliki cukup pengalaman. Karena lembaga ini baru berdiri dua tahun, sehingga minimnya pengalaman masih perlu diatasi. Kelemahan lain yang ada adalah kurangnya pengajar yang berkomitmen, hal ini dikarenakan banyaknya pengajar dari kalangan mahasiwa. Mahasiswa lebih banyak menjadikan pekerjaan ini sebagai sampingan bukan sebagai profesi, jadi pengajar yang kurang berkomitmen menjadi sebuah penghalang.

Dari faktor eksternal, pertama, jika dilihat dari peluang (opportunities) banyak siswa yang ingin benar-benar menguasi mata pelajaran yang dianggap sulit, sehingga memilih untuk mengikuti bimbingan belajar. Selain itu, pemasaran yang mudah yaitu di lingkungan sekolah. Kedua, ancaman (Threats), ancaman yang paling dikhawatirkan adalah keacuhan konsumen. Biasanya konsumen kurang tertarik terhadap bimbingan belajar yang masih baru dan masih terdengar asing.

Namun, dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, tetap saja dengan didirikannya BIMBAL Education oleh Iqbal Zaenal Muttaqin ini setidaknya memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Jenis wirausaha ini tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata seperti business entrepreneur, yang keuntungannya akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha. Tetapi dengan didirikannya bimbingan belajar ini lebih menjadi social entrepreneur, keuntungan yang didapat sebagian atau seluruhnya diinvestasikan kembali untuk orang lain yang telibat aktif sebagai pekerja. Maka, keberhasilan social entrepreneur diukur dari manfaat yang dirasakan oleh orang lain.

Secara luas, kita dapat mengatakan bahwa  social entrepreneurhip merupakan istilah dari segala bentuk aktivitas yang bermanfaat secara sosial. Entrepreneur sosial adalah orang-orang yang mampu menciptakan sesuatu yang dapat mempengaruhi paradigma dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Namun dalam pandangan global, dikotomi smacam itu kian kabur. Mereka (business entrepreneur dan social entrepreneur) sesungguhnya berbicara dalam bahasa yang sama, yaitu inovasi, manajemen, efektivitas, mutu, dan kompetisi.

 

D.  Kesimpulan

Bagi Weber, sosiologi adalah bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tindakan individu atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian dan untuk apa dia bertindak seperti itu. Max Weber dan sosiolog aliran Weberian lainnya memang sangat menekankan individu. Tekanannya pada individu ini bukan berarti ia tidak mengakui adanya masyarakat sebagai kenyataan, akan tetapi kenyataan itu hanya akan mungkin dipahami jika diberi arti oleh individu.

Tindakan individu ini salah satu contohnya bisa dibuktikan dengan menjadi Social Entrepreneur, yaitu seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change). Salah satu contoh Social Entrepreneur yang bergerak di bidang pendidikan adalah Lembaga Bimbingan Belajar atau yang lebih dikenal dengan istilah Bimbel (Bimbingan Belajar). Dengan didirikannya Bimbel ini tentu saja membuka peluang bagi para guru, mahasiswa, atau ahli di bidang ilmu untuk menjadi pengajar dengan ilmu atau keahlian yang dimilikinya.

Social entrepreneur keuntungan yang didapat sebagian atau seluruhnya diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan masyarakat. Maka, keberhasilan social entrepreneur diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat atau masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Wirawan, I. B. 2012. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Definisi Sosial, Dan Perilaku Sosial. Jakarta: KENCANA.

Nurdin, Amin & Ahmad Abrori. 2006. Mengerti Sosiologi: Pengantar untuk Memahami Konsep-Konsep Dasar. Jakarta: UIN Jakarta Press.



[1] Drs. M. Amin Nurdin, MA & Ahmad Abrori, M. Si, Mengerti Sosiologi: Pengantar untuk Memahami Konsep-konsep Dasar, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), hlm. 10-11.

[2] Prof. Dr. I. B. Wirawan, Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Definisi Sosial, & Perilaku Sosial, (Jakarta: KENCANA, 2012), hlm. 104.

[3] Ibid, hlm. 101.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini