Selasa, 01 Oktober 2013

Arianne Sarah_PMI 3_Tugas3_Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme

Oleh: Arianne Sarah

1112054000014

Pengembangan Masyarakat Islam 3

 

Menurut Max Weber:

Max Weber mendefinisikan konstruksifisme sebagai suatu tindakan individu yang berpengaruh terhadap masyarakat sosial. Pada dasarnya konstruktivis berfokus pada kekuatan ide yang menjadi kesepakatan bersama. Asumsi dasarnya adalah bahwa ide membentuk realitas. Karena itu realitas bukan hal yang bersifat objektif dan terpisah dari pengamat. Maka dari itu realitas sosial adalah sebuah konstruksi sosial yang intersubjektif.

Konstruksivisme yang ditelusuri dari pemikiran weber merupakan suatu ide yang menjadikan ide tersebut menjadi sebuah realita atau tindakan individu yang dapat mengkonstruksikannya ke dalam nilai, etika, cinta, pelajaran yang disebabkan oleh tindakan sosial tersebut. Ada perbedaan antara Rasionalis dan Konstruktivis dalam memandang sebuah fenomena. Rasionalis memandang fenomena melalui logika konsekuensi. Seorang aktor akan mempertimbangkan untung rugi dalam mengambil sebuah tindakan atau beraksi atas lingkungan. Sedangkan Konstruktivis akan memandang sebuah fenomena dengan logika kelayakan. Seorang aktor akan bertindak sesuai dengan konstruksi sosial yang membentuk identitas mereka. Hal ini menimbulkan kerancuan apabila identitas itu mengendalikan logika konsekuen seorang aktor. Karena pada dasarnya kedua logika di atas dapat berlangsung secara sekaligus.

 

Menurut Peter L. Berger:

Konstruksi sosial adalah Pemikiran Berger dan Luckmannyang lebih menekankan pada tindakan manusia sebagai aktor yang kreatif dan realitas sosialnya. Bagi mereka, kenyataan kehidupan sehari-hari dianggap menampilkan diri sebagai kenyataan yang baik sehingga disebutnya sebagai kenyataan yang utama. Maksudnya, gambaran kehidupan yang sesuai kenyataan adalah realitas, tidak ditambah-tambahkan. Berger & Luckmann berpandangan bahwa kenyataan itu dibangun secara sosial, artinya individu-individu dalam masyarakat itulah yang membangun masyarakat. Maka pengalaman individu tidak terpisahkan dengan masyarakatnya. Berger memandang manusia sebagai pencipta kenyataan sosial yang objeketif melalui tiga momen:yaitu eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi.

1.      Eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia kedalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Proses ini merupakan bentuk ekspresi diri untuk menguatkan eksistensi individu dalam masyarakat. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai produk manusia. Seperti dalam hal gaya berpakaian dan berbicara.

2.      Objektifikasi, adalah hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu berupa realitas objektif. Realitas objektif itu berbeda dengan kenyataan subjketif perorangan. Ia menjadi kenyataan empiris yang bisa dialami oleh setiap orang. Pada tahap ini masyarakat dilihat sebagai realitas yang atau proses interaksi sosial dalam dunia intersubjektif yang dilembagakan atau mengalami proses institusionalisasi (proses berjalan dan terujinya sebuah kebiasaan dalam masyarakat menjadi institusi pranata, yang akhirnya menjadi Patokan).

3.      Internalisasi, lebih merupakan penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifikasi tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas diluar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi manusia menjadi hasil dari masyarakat.

Eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi adalah tiga dialektis yang simultan dalam proses (re)produksi. Secara berkesinambungan adalah agen sosial yang mengeksternalisasi realitas sosial. Pada saat yang bersamaan, pemahaman akan realitas yang dianggap objektif pun terbentuk. Pada akhirnya, melalui proses eksternalisasi dan objektifasi, individu dibentuk sebagai produk sosial. Sehingga dapat dikatakan, tiap individu memiliki pengetahuan dan identitas sosial sesuai dengan peran institusional yang terbentuk atau yang diperankannya.Saat ini, masyarakat kota adalah masyarakat modern. Modernitas ini merupakan fenomena sosial sehingga tidak dapat terelakan. Bagi Berger, modernitas dipengaruhi oleh kapitalisme yang tumbuh dalam waktu yang lama. Kapitalisme selalu dikombinasikan dengan industrialisme untuk menciptakan apa yang sekarang disebut dunia modern. Modernitas berkaitan dengan pengalaman modern, seperti pengalaman kehidupan di kota dan pengalaman komunikasi massa modern. Kota lah yang telah menciptakan gaya hidup (termasuk gaya pikir, gaya rasa, dan pada umumnya gaya mengalami realitas), yang sekarang menjadi standar untuk masyarakat luas. Modernitas lebih dipahami sebagai cara hidup yang lebih modern dan bercorak kekinian. Apa yang disebut modernitas adalah sebagai pengaruh kapitalisme. Paradigma modernisasi memandang kapitalisme sebagai satu penyebab yang penting, sebab kapitalisme yang menyebabkan terjadinya serangkaian proses besar. Dampaknya, ditandai dengan cara hidup modern, befoya-foya yang digerakkan oleh industri dan teknologi modern. Kehidupan modern ditandai dengan kecepatan dan percepatan, produksi yang besar, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya. Modernitas dibentuk oleh rasionalitas, birokrasi (institusi), industrialisasi (teknologi), kapitalisme, dan pluralitas. Kenyataan hidup sehari-hari bersifat intersubjektif, dipahami bersama-sama oleh orang yang hidup dalam masyarakat sebagai kenyataan yang dialami. Kendatipun kenyataan hidup sehari-hari merupakan dunia intersubjektif namun bukan berarti antara orang yang satu dengan orang yang lain selalu memiliki kesamaan perspektif dalam memandang dunia bersama. Setiap orang memiliki perspektif berbeda-beda dalam memandang dunia bersama yang bersifat intersubjektif. Perspektif orang yang satu dengan yang lain tidak hanya berbeda tetapi sangat mungkin juga bertentangan. Namun, bagi Berger dan Luckmann (1990:34), ada persesuaian yang berlangsung terus-menerus antara makna-makna orang yang satu dengan yang lain tadi. Ada kesadaran bersama mengenai kenyataan di dalamnya menuju sikap alamiah atau sikap kesadaran akal sehat. Sikap ini kemudian mengacu kepada suatu dunia yang sama-sama dialami banyak orang. Jika ini sudah terjadi maka dapat disebut dengan pengetahuan akal sehat (common-sense knowledge), yakni pengetahuan yang dimiliki semua orang dalam kegiatan rutin yang normal dan sudah jelas dengan sendirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan hidup sehari-hari, yang diterima sebagai kenyataan oleh masyarakat merupakan faktisitas yang memaksa dan sudah jelas dengan sendirinya, dan juga akan berlangsung terus-menerus. Namun, masyarakat dapat saja menyangsikan atau mengubahnya. Untuk mengubah kenyataan, perlu peralihan yang sangat besar, kerja keras, dan pikiran kritis.

Oleh karena itu, pandangan Berger dan Luckmann (1990:47) dapat dimengerti bahwa kenyataan sosial kehidupan sehari-hari dipahami dalam suatu rangkaian (continuum) berbagai tipifikasi, yang menjadi semakin anonim dengan semakin jauhnya tipifikasi itu dari di sini dan sekarang dalam situasi tatap-muka. Pada satu sisi, di dalam rangkaian itu terdapat orang-orang yang saling berinteraksi secara intensif dalam situasi tatap muka; dan di sisi lain, terdapat abstraksi-abstraksi yang sangat anonim karena sifatnya yang tidak terlibat dalam tatap muka. Dalam konteks ini, struktur sosial merupakan jumlah keseluruhan tipifikasi dan pola-pola interaksi yang terjadi berulang-ulang melalui tipifikasi, dan ia merupakan satu unsur yang esensial dari kenyataan hidup sehari-hari.

 

Daftar Pustaka:

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Maximilian_Weber

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Peter_L._Berger

 

Muhammad Ihsan Fauzi_KPI1C_Tugas4_Max Weber (the protestant ethic and the spirit of capitalism, economy and society

Muhammad Ihsan Fauzi (1113051000118)

MAXIMILIAN WEBER (1864-1920)
Maximilian weber atau sering dikenal Max Weber lahir di kota Erfurt,
Jerman, 21 April 1864. Adanya Weber sangat berpengaruh dalam
perkembangan sosiologi (khususnya Jerman). Karea itu, weber dianggap
sebagai bapak sosiologi Jerman. Salah satu karyanya terbaiknya " The
Protestant Ethnic and The Spirit of Capitalism", ia memusatkan
perhatiannya pada Protestantisme sebagai sebuah sistem gagasan dan
pengaruhnya terhadap munculnya gagasan lain, yakni semangat
kapitalisme dan sistem ekonomi kapitalis. Ia mendefinisikan semangat
kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran
keuntungan ekonomi secara rasional (rasionalisasi). Menurut Weber,
bentuk rasionalitas manusia meliputi alat/mean (yang menjadi sasaran
utama) dan tujuan/ends (meliputi aspek kultural), sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya orang besar mampu hidup dengan pola
fikir rasional yang ada pada seperangkat alat yang dimiliki dan
kebudayaan yang mendukung kehidupannya. Orang yang rasional akan
memilih alat mana yang paling benar untuk mencapai tujuannya.
Pada bukunya "Economy and Society" Weber lebih menekankan bagaimana
tindakan sosial dan sisem politik (kekuasaan) membentuk dan
mempengaruhi sistem ekonomi. Ia mendefinisikan tindakan sosial (social
action) sebagai tindakan individu (aktor) yang memiliki makna
subyektif bagi individu tersebut tetapi berdampak pada individu lain
dan berharap ada reaksi dari individu lain tersebut.
Weber menyebutkan empat tipe tindakan sosial, sebagai berikut.
Tindakan tradisional (traditional action) yaitu tindakan sosial murni,
tindakan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan
sesuatu di masa lalu saja.
Tindakan afektif (Affection Action) yaitu tindakan yang dibuat-buat,
dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si pelaku. Tindakan
ini sukar dipahami, tidak rasional.
Tindakan rasionalitas instrumental (Werktrational Action) yaitu
tindakan dimana pelaku menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu
merupakan cara yang paling tepat untuk mencapai tujuannya. Tindakan
ini menunjuk terhadap tujuan itu sendiri. Tindakan ini rasional,
karena pilihan-pilihan terhadap cara-cara kiranya sudah menentukan
tujuan yang diinginkan.
Tindakan rasionalitas nilai yaitu tindakan sosial ini murni, dalam
tindakan ini pelaku tidak hanya sekedar menilai cara yang baik untuk
mencapai tujuannya tetapi juga menentukan nilai dari tujuan itu
sendiri.
Dari teori tentang tindakan sosial ini, Weber mendefinisikan konsepnya
tentang tindakan ekonomi. Menurutnya, tindakan ekonomi adalah tindakan
sosial yang berorientasi ekonomi, yaitu upaya memenuhi kebutuhan,
termasuk di dalamnya upaya menguasai sumber daya ekonomi dan mencar
keuntungan. Dari tindakan ekonomi inilah yang menjadi asal dari
terbentuknya sistem ekonomi. Dimulai dari tindakan ekonomi yang
sederhana, yaitu saling tukar menukar barang kebutuhan, hingga upaya
mencari keuntungan mulai dari model kapitalisme tradisional hingga
modern.

Tubagus Zhiya KPI 1A - Tugas 4_ Max Weber

Max Weber

 

1.    The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism

 

The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism adalah karya Weber yang paling populer  tentang keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. muncul dan berkembangnya kapitalisme didunia barat beralngsung secara bersamaan dengan perkembangan sekte Kalvinise dalam agama protestan. Ajaran ini dikembangkan oleh Calvin menyatakan bahwa pada intinya seseorang sudah ditakdirkan untuk masuk neraka atau surga, tergantung perbuatan yang dikerjakannya.

 

Dalam buku ini weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas dengan meyeleraskan hubungan antara sejumlah faktor sosial. Adanya  kemnungkinan jika peristiwa terjadi disertai peristiwa lain. Weber menemukan korelasi antara afliasi agama protestan pada kondisi prakapitalis pada kemajuan. Hal itu dikarenakan etika protestan medorong seseorang untuk bekerja sungguh-sungguh, tidak befoya-foya, dan tidak konsumtif, sehingga tak heran jika orang-orang protestan meendapat kesuksean dengan menjadi pimpinan perusahaan, maupun komersial.  Doktrin protestan tersebut melahirkan etos kerja yang sukses. Ukuran sukses di dunia merupakan tolak ukur kesuksesan di akhirat yang dapat dilihat dari aktivitas sosial ekonominya.

 

            Akhirnya Etika protestan dimaknai oleh Weber dengan cara kerja yang luwes, bersemangat, dan rela melepas imbalan materilnya. Sedangkan Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi.

 

2.     Economic and Society

 

Economic and society adalah karya weber selanjutnya yang membahas berbagai jenis hubungan sosial, terutama bentuk-bentuk dominasi politikyang dibedakan menjadi 3 bentuk, yaitu :

 

A.      Dominasi tradisional yang didasarkan pada legitimasi karena ciri sakralitas tradisi yg melekat.

B.      Dominasi karismatik karena dikaruniai aura khusus dengan mendasarkan kekuasaannya pada kekuatan untuk meyakinkan dan mengumpulkan banyak orang.

C.       Dominasi legal-rasional yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal melalui kepatuhan kitab hukum.

 

Selain itu Weber mengemukakan perbedaan antara sejarah dengan sosiologi. Menurutnya, sosilogi berusaha merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Sehingga tidak heran jika buku ini juga membahas tentang tipe-tipe ideal. Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah yang berfungsi sebagai alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian untuk menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual.

 

Karena memiliki deinisi yang seperti ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Itu terbukti pada buku Econimic and Society. Weber menyajikan tipe ideal berupa campuran dari definisi, klasifikasi, dan hipotesis spesifik yang tampak sulit disamakan dengan pernyataan Weber.

 

Tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya. Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, makna komponen-komponennya harus jelas, dan semua hal itu harus membantu kita memahami dunia nyata. Beberapa tipenya adalah histories, sosiologis umum, tindakan dan struktural.

 

Dimas Darmawan KPI 1B_Tugas 4_Teori Weber

TEORI MAX WEBER
oleh : Dimas Darmawan

ECONOMY AND SOCIETY


     Dalam karyanya Economy and Society Weber menyampaikan konsep umum membahas tipe-tipe ideal. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
    Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :

1.  Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.  Tipe ideal sosiologi umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.  Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.  Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.



THE PROTESTANT ETHNIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME

  
Buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme.
   Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi.

Dimas Darmawan KPI 1B_Tugas 4_Teori Max Weber

ECONOMY AND SOCIETY

     Dalam karyanya Economy and Society Weber menyampaikan konsep umum membahas tipe-tipe ideal. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
    Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :

1.     1.  Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.    2.  Tipe ideal sosiologi umum. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.    3.  Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.  Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.



THE PROTESTANT ETHNIC AND THE SPIRIT OF CAPITALISME

  
Buku The Protestant Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern (karena sebelumnya memang telah ada beberapa bentuk kapitalisme) berkembang dan mulai mendominasi ekonomi.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme.
   Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi.

Syarifah Zahrina Firda_Kpi B_Tugas4_Teori Max Weber

TEORI MAX WEBER
 
1. The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism
 
Pada karyanya ini, The Protestan Ethic bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal-usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Bukti yang mendukung pandangan Weber tentang signifikasi Protestanisme dapat ditemukan dalam kajiannya atas negara-negara dengan sistem keagamaan majemuk. Ketika menelaah negara tersebut, ia menemukan bahwa para pemimpin sistem ekonomi, pemilik modal, pekerja berketerampilan tinggi dan orang-orang yang memiliki keunggulan teknis – semuanya beragama Protestan.
Menurut Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi; dalam banyak hal justru sebaliknya. Weber melacak dampak Protestanisme Asketis – terutama Calvinisme terhadap kelahiran semangat kapitalisme. Calvinisme ialah aliran Protestanisme yang paling menarik perhatian Weber. Salah satu ciri Calvinisme yaitu gagasan bahwa hanya sejumlah kecil orang terpilih yang memperoleh keselamatan. Selain itu, Calvinisme berujung pada gagasan predestinasi; orang telah ditakdirkan apakah termasuk ke dalam golongan orang yang diselamatkan atau dikutuk. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi nasib ini, kecuali mereka yang dapat menemukan kesuksesan ekonomi. Mereka harus terlibat dalam aktivitas intens dan duniawi dan menjadi "manusia pekerja".
Meskipun dalam karya ini Weber memusatkan perhatiannya pada efek Calvinisme dengan semangat kapitalisme, ia sadar bahwa kondisi sosial dan ekonomi membawa dampak timbal balik terhadap agama. Ia memilih untuk tidak membahas hubungan tersebut dalam bukunya, namun ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah mengganti tafsir spiritualis yang berisi tunggal dengan penjelasan materialis yang bersisi ganda yang berasal dari Marx. Buku The Protestan Ethic mengangkat beberapa isu yang jadi jantung teori sosiologi kontemporer.
2. Economy and Society
 
Untuk membahas metodologi Weber, mula-mula kita harus mengurai pemikirannya yang membicarakan hubungan sejarah dengan sosiologi. Sosiologi berusaha merumuskan konsep tipe dan keseragaman umum proses-proses empiris. Berbeda dengan sejarah, yang berorientasi pada analisis kausal dan penjelasan atas tindakan, struktur dan kepribadian individu yang memiliki signifikasi kultural. Pandangannya bahwa sosiologi historis sebagian digabung oleh ketersediaan dan komitmennya pada studi tentang data historis.
Weber merasa bahwa sosiologi historis membahas individualitas dan generalitas. Penyatuan ini dilakukan melalui perkembangan dan pemanfaatan konsep umum dengan membahas tipe-tipe ideal dalam studi terhadap individu, peristiwa atau masyarakat tertentu. Konsep-konsep umum ini digunakan untuk "mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara berbeda dari orang lain.  
Tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami ciri utama fenomena sosial. Tipe ideal ini dijadikan perangkat heuristik; mereka berguna dan membantu dalam melakukan penelitian empiris dan dalam memahami aspek tertentu dari dunia sosial.
Seperti dicatat Burger, "Tipe-tipe ideal yang disajikan dalam "Economy and Society" ialah campuran dari definisi, klasifikasi dan hipotesis spesifik yang tampaknya sulit diselaraskan dengan pernyataan Weber. Meskipun tidak setuju dengan Burger terkait dengan inkonsistensi Weber dalam mendefinisikan tipe-tipe ideal, Hekman (1983: 38-59) juga mengakui bahwa Weber mengelompokkan macam-macam tipe ideal yaitu sebagai berikut :
1.     Tipe ideal historis. Ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada masa sejarah tertentu. Misalnya, pasar kapitalis modern.
2.     Tipe ideal sosiologi umu. Ini terkait dengan fenomena yang bersinggungan dengan beberapa periode historis dan masyarakat. Misalnya, birokrasi.
3.     Tipe ideal tindakan. Ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku. Misalnya, tindakan afektual.
4.     Tipe ideal struktural. Ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial. Misalnya dominasi tradisional.
 
Sumber :
Ritzer george dan daulag. Teori sosiologi, Edisi terbaru.
 

Suci Robiatus S KPI 1C_Tugas 4_Max Weber

The Protestant Ethic
and the spirit of capitalism
Dalam the protestant
ethic and the spirit of capitalism, weber menyatakan bahwa ketelitian yang
khusus, perhitungan dan kerja keras daro bisnis barat didorong oleh
perkembangan etika protestan yang muncul pada abad ke-16 dan digerakkan oleh
doktrin calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir
menuntut adanya keprcayaan bahwa Tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan
kecelakaan.
Menurut Weber etika kerja dari Calvinisme yang berkombinasi
dengan semangat kapitalisme membawa masyarakat kapitalis modern. Jadi, doktrin
Calvinisme tentang takdir memberikan daya dorong psikologis bagi rasionalisasi
dan sebagai perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan system ekonomi
kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya.
Hubungan antara semangat kapitalisme dan etika protestan,
oleh karena itu, memiliki kaitan konsistensi logis dan pengaruh motivasional
yang bersifat mendukung secara timbale balik.

The theory of social
and economic organization
Weber menemukan administrasi organisasi tradisional tidak
efisien, boros dan tidak rasional. Oleh karena itu, weber mengusulkan suatu
tipe ideal untuk administrasi organisasi (birokrasi) agar mencapai tingkat
efisiensi dan efektivitas yang lebih tinggi yang dilandasi pada tindakan
legal-rasional.
Adapun tipe ideal birokrasi modern yang diusulkan weber
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.       Berbagai aktivitas regular yang diperlukan untuk
pencapaian tujuan-tujuan organisasi yang didistribusikan dengan suatu cara yang
baku sebagai kewajiban-kewajiban resmi.
2.       Organisasi kantor-kantor mengikuti prinsip
hierarki, yaitu setiap kantor yang lebih rendah berada di bawah control dan
pengawasan yang lebih tinggi.
 
3.       Operasi-operasi birokratis diselenggarakan
"melalui suatu system kaidah-kaidah abstrak yang konsisten … (dan) terdiri atas
penerapan kaidah-kaidah ini terhadap kasus-kasus spesifik"
 
4.       Pejabat yang ideal menjalankan kantornya…
berdasarkan impersonalitas formalistis, 'sine ira et studio,' tanpa kebencian
atau kegairahan, dan karenanya tanpa antusiasme atau afeksi
 
 
5.       Perekrutan dalam organisasi birokrasi didasarkan
pada kualifikasi-kualifikasi teknis dan yang terhindar dan tindakan pemecatan
yang sewenang-wenang. Ada satu system promosi berdasarkan senioritas atau prestasi
menurut kedua-duanya.
 
6.       Tipe organisasi adminstrasi yang murni
birokratis, dalam arti tenis murni, mampu mencapai tingkat efisiensi yang
paling tinggi.
s

Nurapzafidah Kpi 1B_tugas4_Max Weber

Economy and Sosciety
Tipe-tipe ideal
tipe ideal adalah salah satu sumbangan terpenting Weber terhadap sosiologi kontemporer (Drysdale, 1996; Hekman, 1883; Lindbekk, 1992; McKinney, 1996).
Macam tipe ideal:
1. Tipe ideal historis. ini terkait dengan fenomena yang ditemukan pada epos sejarah tertentu (misalnya, pasar kapasitas modern).
2. Tipe ideal sosiologis umum. ini terkait dengan fenomena yang bersinggugan dengan beberapa periode historis dan masyarakat (misalnya, biokrasi).
3. Tipe ideal tindakan. ini merupakan tipe tindakan murni yang didasarkan pada motivasi pelaku (misalnya, tindakan afektual).
4.Tipe ideal struktural. ini merupakan bentuk sebab dan akibat tindakan sosial (misalnya, dominasi tradisional).

Nilai
sampai batas-batas tertentu, pemikiran sosiologi modern Amerika dalam kaitannya dengan peran nilai dalam ilmu sosial dibentuk oleh penafsiran, yang sayangnya sering kali simplistis dan keliru, terhadap pandangan Weber tentang sosiologi yang bebas-nilai (Hennis, 1994).
a. Nilai dan Ajaran. Weber dengan tegas menyatakan kewajiban guru mengotrol nilai-nilai pribadi mereka di ruang kelas. dari sudut pandang ini, akademis memiliki hak penuh untuk mengekspresikan nilai pribadi mereka secara bebas dalam pidato, pers, dan lain sebagainya, namun ruang kuliah akademik berbeda.
b. Nilai dan Penelitian. pendapat Weber tentang tempat nilai dalam penelitian sosial jauh lebih membigungkan lagi. Weber memang percaya adanya kemampuan untuk memisahkan fakta dengan nilai, dan pandangan ini dapat diperluas ke dunia penelitian.

The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
Weber tertarik dengan pertanyaan tentang kausalitas, namun ia tidak menggunakan model satu-jalan sederhana; ia selalu menyelaraskan hubungan antara sejumlah faktor sosial. yang perli diingat dalam pemikiran weber tentang ausalitas adalah keyakinan dia bahwa kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan soaial, pengetahuan kausal atas ilmu-ilmu sosial berbeda dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam. oleh karena itu, kriteria kita untuk penjelasan kasual mengandung kepuasan unik dlam penjelasan 'historis' dari 'entitas' tersebut. pemikiran weber tentang kausalitas terkait erat dengan upayanya memahami konflik antara pengetahuan nomotetis dengan pengetahuan idiografi. mereka yang menganut sudut pandang nomotetis akan beragumen bahwa terdapat hubugan pasti antara fenomena sosial, sementara itu para pendukung perspektif idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak antar etnis-etnis tersebut.

Senin, 30 September 2013

nurlaila PMI 3_Tugas 4_teori kritis marx & marxisme

 
Nama : Nurlaila
NIM : 1112054000027
Jurusan : PMI 3
Teori kritis marx dan marxisme
Teori Kritis secara subtansif tidak memerdulikan prinsip-prinsip umum. Tidak pula berupaya membentuk sebuah sistem ide, melainkan berusaha untuk memberikan `Marxisme dianggap sebagai dasar pemikiran dari semua teori-teori yang ada dalam tradisi kritis. Marxiesme ( dengan M besar) berasal dari pemikiran Karl Marx, seorang ahli filsafat, sosiologi dan ekonomi dan Friedrich Engels, sahabatna. Marxisme beranggapan bahwa sarana produksi dalam masyarakat bersifat terbatas. Ekonomi adalah basis seuruh kehidupan sosial. Saat ini, kehidupan sosial dikuasai oleh kelompok kapitalis, atau sistem ekonomi yang ada saat ini adalah sistem ekonomi kapitalis.
Dalam masyarakat yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis, profit merupakan faktor yang mendorong proses produksi, dan menekan buruh atau kelas pekerja. Hanya dengan perlawanan terhadap kelas dominan (pemilik kapital) dan menguasai alat-alat produksi, kaum pekerja dapat memperoleh kebebasan. Teori Marxist klasik ini dinamakan 'The Critique of Political Economy' (kritik terhadap Ekonomi Politik).
Marx ingin membangun suatu filsafat praxis yang benar-benar dapat menghasilkan kesadran untuk merubah realitas, pada saat Marx hidup, yakni masyarakat kapitalis berkelas dan bercirikan penghisapan. Teori Marx meletakkan filsafat dalam konteks yang historis, sosiologis dan ekonomis.
Teori Marx bukan sekedar analisa terhadap masyarakat. Teori Marx tidak bicara eonomi semata tetapi "usahanya untuk membuka pembebasan manusia dari penindasan kekuatan-kekutan ekonomis".
Menurut Marx, dalam sistem ekonomi kapitalis yang mengutamakan profit, masing-masing kapitalis beruang mati-matian untuk mengeruk untuk sebanyak mungkin. Jalan paling langsung untuk mencapai sasaran itu adalah dengan penghisapan kerja kaum pekerja. Namun kaum pekerja lama-lama memiliki kesadaran kelas dan melawan kaum kapitalis.
Yang akan terjadi menurut ramalan Marx adalah penghisapan ekonomi dengan cara penciptaan kebutuhan-kebutuhan artifisial (palsu) lewat kepandaian teknologi kaum kapitalis. Oleh karena itu kaum kapitalis monopolis ditandai dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Dengan difasilitasi teknologi, tidak lagi terjadi penghisapan pekerja oleh majikan di sebuah perusahaan, tetapi penghisapan ekonomi "si miskin" oleh "si kaya" di luar jam kerja, di luar institusi ekonomi. Kapitalisme dapat menimbun untung karena nilai yang diberikan oleh tenaga kerja secara gratis, di luar waktu yang sebenarnya diperlukan untuk memproduksi suatu pekerjaan, Inilah salah satu kritik ekonomi politik kapitalisme Marx.
Pada tahun 1972,  Max Horkheimer menulis sebuah artikel panjang berjudul Traditional and Critical Theory. Artikel tersebutlah yang kemudian melahirkan sebuah gerakan intelektual dengan nama: Teori Kritis. Dalam artikel tersebut Max Horkheimer menganalisis fungsi ilmu pengetahuan dan filsafat dalam sebuah masyarakat. Sebetulnya Teori Kritis yang diintrodusir oleh Max Horkheimer adalah sebuah tiwikrama, sebuah elaborasi yang adiptif dari karya-karya Karl Marx (dialektis materialis ekonomi), Hegel (ideal rasional historis), Immanuel Kant (perspektif normatif subjek otonom), dan pada perkembangannya, Horkheimer memasukan pemikiran Sigmund Freud (psikoanalisa). Teori Kritis sebetulnya adalah sebuah penyesuainan dengan kondisi zaman pada saat itu atau, dengan kata lain sebuah cara pandang filsafat sosial yang terbarukan. Artinya, Teori Kritis mempunyai subtansi tersendiri dan bukan semata istilah baru.
kesadaran untuk membebaskan manusia dari irrasionalisme. Karenanya, fungsi dari Teori Kritis adalah emansipatoris yang bersifat iluminatis. Hal ini jelas berbeda dengan padangan kaum tradisonalis yang memisahkan fakta dengan nilai dan hanya menganalisis fakta-fakta sosial atas dasar hukum yang metodis, dan hal tersebut melahirkan sifat yang anti-historis; memutlakan ilmu pengetahuan dan menegasi individu dalam dialektika historisnya. Dengan kata lain tidak memikirkan implikasi tertentu karena memisahkan teori dan praksis.
Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Max Horkheimer dan Theodor Adorno dalam Dialektik der Aufklärung (Dialektika Pencerahan) menulis bahwa pencerahan telah membuat umat manusia membuka selubung misteri alam semesta dengan pengetahuan rasional. Dewa-dewa, roh, jin adalah bentuk usaha manusia memahami alam dan masyarakat. "Manusia," tulis mereka, "Membayangkan dirinya bebas dari ketakutan bila tidak ada lagi sesuatu yang tidak diketahuinya." Dengan rasionalitas mereka melahirkan cara berpikir positivistik dan saintis. Tapi dari pemahaman semacam itu, manusia justru membelenggu dirinya sendiri dengan mitos. pemikiran Horkheimer dan Adorno dapat menjadi landasan dalam memahami awal pemikiran positivistik yang menghasilkan konsumerisme.
Teori Kritis pada seluruh bangunan teori dan filsafatnya ingin memerjelas secara rasional struktur yang dimiliki oleh masyarakat pasca industri dan melihat akibat-akibat struktur tersebut dalam kehidupan manusia dan dalam kebudayaan. Teori Kritis ingin menjelaskan hubungan manusia dengan bertolak dari pemahaman rasio instrumental. Teori Kritis ingin membangun teori yang mengkritik struktur dan konfigurasi masyarakat aktual sebagai akibat dari suatu pemahaman yang keliru tentang rasionalitas. Teori Kritis selanjutnya adalah kritik terhadap masyarakat. Lebih tepatnya, kritik atas masyarakat modern pasca industri. Dalam masyarakat modern, baik manusia maupun realitas, direduksi menjadi sesuatu yang sangat fungsional, pragmatis, dan pasif. Manusia modern kehilangan prinsip kritis. Konsep kritis dan kebenaran harus dikembalikan pada tataran normatif, mengatasi taraf empirisme dan formalitas logika Aristotelian.
Horkheimer memulai Teori Kritisnya dengan pertanyaan-pertanyaan: "Dapatkan teori rasional tentang diri manusia dalam lingkungannya?", "Bagaimanakah teori ini menjadi emansipatoris?", "Manakah teori yang mampu mengembalikan manusia menjadi rasional kembali?", "Di mana martabat dan kepenuhan individu dapat terpenuhi?". Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Max kemudian berteori berbagai bidang sosial dalam usaha menyadarkan manusia agar tidak terjerat proses kapitalisme yang sedang memonopoli kemanusiaannya. Menukil fungsi dari Teori Kritis yang diintrodusir Max Horkheimer dalam Kontruksi Epistimologis Max Horkheimer: Kritik Atas Masyarakat Modern karya Sunarto menjelaskan bahwa Teori Kritis harus:
1.       Kritis terhadap masyarakat. Max menjalankan kritik terhadap ekonomi dan politik pada zamannya. Juga memertanyakan penyelewengan-penyelewengan dalam masyaraka. Struktur masyarakat rapuh dan brengsek. Karenanya harus diubah.
2.      Teori Kritis berpikir secara historis dengan berpijak pada proses masyarakat yang historis. Teori Kritis meneruskan posisi dasar Hegel dan Marx. Dengan demikian teori teori tersebut berakar pada situasi sosial tertentu, misalnya material-historis.
3.      Teori Kritis menyadari resiko setiap teori untuk jatuh dalam sebuah bentuk ideologis yang dimiliki oleh struktur dasar masyarakatnya. Itulah yang terjadi dalam pemikiran filsafat modern. Pemikiran yang kemudian berubah menjadi ideology kaum kapitalis. Teori harus memiliki kekuatan, nilai, dan kebebasan untuk mengkritik dirinya sendiri dan menghindari kemungkinan untuk menjadi ideology.
4.      Teori Kritis tidak memisahkan teori dan praktek, pengetahuan dari tindakan, rasio teoritis dan rasio praktis. Teori kritis selalu harus melayani transformasi praktis masyarakat.

Cari Blog Ini