Selasa, 09 Oktober 2012

Tugas Proposal Budhi Baihakki PMI3

Proposal Penelitian Kemacetan Transportasi dan Kurang Baiknya Infrastruktur di Ciputat

Nama : Budhi Baihakki (1111054000010)

Mata Kuliah : Sosiologi Perkotaan

Tugas : Proposal Penelitian

Pengembangan Masyarakat Islam 3

Proposal Penelitian Kemacetan Transportasi dan Kurang Baiknya Infrastruktur di Ciputat

LATARBELAKANG MASALAH

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Seringkali aktifitas terhambat karena kemacetan yang seringkali terjadi di kota-kota besar. Sehingga pertumbuhan ekonomi di suatu negarapun dapat terhambat. Macet pun dapat menjadi akibat dari kecelakaan dan konflik antar pengendara yang terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Kadang pengendara yang tidak sabar akan mudah tersulut emosinya dan akan terjadi konflik bahkan saling senggol ataupun jatuh di jalan saat kemacetan. Hal ini terjadi terutama pada pengguna sepeda motor.

Menurut penelitian terdahulu tentang kemacetan, menjelaskan bahwa Kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah yang kronis di wilayah DKI Jakarta. Nyaris setiap hari masyarakat yang menggunakan moda transportasi darat (kecuali kereta api) di Jakarta dipusingkan oleh kemacetan yang seperti tiada habisnya. Berbagai usaha pemerintah daerah DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan pun telah dilakukan akan tetapi belum membuahkan hasil. Bahkan kini kemacetan di Jakarta justru bertambah parah. Jika sebelumnya kemacetan hanya terjadi di saat pagi hari (jam berangkat kantor) dan sore hari (jam pulang kantor), kini kemacetan nyaris terjadi sepanjang hari di banyak titik di jalan-jalan di Jakarta.

Kemacetan adalah kondisi dimana terjadi penumpukan kendaraan di jalan. Penumpukan tersebut disebabkan karena banyaknya kendaraan tidak mampu diimbangi oleh sarana dan prasana lalu lintas yang memadai. Akibatnya, arus kendaraan menjadi tersendat dan kecepatan berkendara pun menurun. Rata-rata kecepatan berkendara di Jakarta saat ini berada di kisaran 15 km/jam, yang menurut standar internasional angka ini tergolong sebagai macet. Angka ini di bawah angka kecepatan berkendara di kota di dunia, seperti misalnya Tokyo. Data ini menunjukkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta cukup parah. Kemacetan ini disebabkan karena melonjaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di Jakarta. Tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta ini tidak diimbangi oleh meningkatnya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta diperkirakan berada di kisaran 5-10% per tahun dengan motor sebagai porsi terbesar penyumbangnya. Berbanding kontras dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, pertumbuhan panjang jalan bahkan kurang dari 1% per tahunnya. Akibatnya, kendaraan bermotor semakin menumpuk di jalanan Jakarta dan kemacetan pun tidak terhindari.

Kemacetan pada akhirnya menimbulkan banyak sekali kerugian terhadap masyarakat dan negara. Kerugian yang paling nyata adalah pemborosan bahan bakar. Pakar Transportasi, Danang Parikesit, menyatakan, menurut survei, masyarakat Jakarta akan menghabiskan 6-8% PDB untuk biaya transportasi. Padahal idealnya menurut standar internasional adalah 4% dari PDB. Pemborosan ini membuat uang seharusnya digunakan/dialokasikan masyarakat untuk penggunaan lain harus dikeluarkan untuk biaya transportasi. Kondisi ini jelas merugikan masyarakat. Selain itu, kemacetan juga menciptakan dampak yang lainnya, yaitu kerusakan lingkungan akibat polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

Fungsi penelitian ini dalam mata kuliah Sosiologi perkotaan adalah, agar kita dapat meneliti persoalan-persoalan mengenai kemacetan dan infrastruktur yg msh kurang dari suatu kota, dan dapat menemukan pemecahan masalah tentang bagaimana cara kita untuk berpartisipasi dalam rangka mengurangi kemacetan tersebut dengan berbagai cara yang paling kecil hingga yang besar.

BATASAN MASALAH

            Karena keterbatasan dalam hal waktu, kemampuan peneliti, dan kesempatan dalam penelitian. Maka penelitian ini hanya akan membahas tentang Kemacetan Transportasi dan Kurang Baiknya Infrastruktur di Ciputat.

RUMUSAN MASALAH

1.      Apa yang menyebabkan kemacetan di Ciputat?

2.      Apa saja dampak dari kemacetan di Ciputat?

3.      Bagaimana cara untuk mengurangi kemacetan di Ciputat?

TUJUAN PENELITIAN

1.      Ingin mengetahui penyebab kemacetan di Ciputat.

2.      Untuk meneliti dampak yang ditimbulkan dari peristiwa kemacetan setiap harinya di Ciputat.

3.      Untuk meneliti cara mengurangi kemacetan yang setiap harinya terjadi di Ciputat.

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi penelitian adalah di Jalan Insinyur Haji Juanda, depan Ciputat Mega Mall. Karena di setiap harinya lokasi ini menjadi salah satu pusat kemacetan di Ciputat. Penelitian akan dilakukan setiap pagi hari saat jam sibuk warga berangkat beraktifitas kerja atau sekolah, dan sore hari saat semua aktifitas kerja dan kegiatan sekolah telah selesai.

Tekhnik pengambilan data akan dilakukan secara:

1.      Observasi langsung.

2.      Wawancara .

3.      Dokumentasi penelitian.

LANDASAN TEORI

Pengertian Kemacetan Lalulintas

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta dan Bangkok. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Penyebab kemacetan

Kemacetan dapat terjadi karena beberapa alasan:

·         Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan.

·         Terjadi kecelakaan terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas.

·         Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan.

·         Ada perbaikan jalan.

·         Bagian jalan tertentu yang longsor.

·         Kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat sirene tsunami.

·         Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan lalu lintas, Seperti: berjalan lambat di lajur kanan dan sebagainya.

·         Adanya parkir liar dari sebuah kegiatan.

·         Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.

·         Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas

Dampak negatif kemacetan

·         Kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain disebabkan:

·         Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah

·         Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,

·         Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi,

·         Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,

·         Meningkatkan stress pengguna jalan,

·         Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya

Pemecahan permasalahan kemacetan

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

Peningkatan kapasitas

Salah satu langkah yang penting dalam memecahkan kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti:

  1. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
  2. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
  3. Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
  4. Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
  5. Mengembangkan inteligent transport sistem.

Keberpihakan kepada angkutan umum

Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:

  1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
  2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway,
  3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura
  4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum,

Pembatasan kendaraan pribadi

Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:

  1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya,
  2. Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
  3. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.

PENUTUPAN

Jadi kemacetan adalah atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.macet juga salah satu masalah yang paling menjengkelkan bagi warga di daerah kota-kota besar. Selain membuang waktu dan menghambat, kemacetan juga banyak membuang energi yang sebenarnya harus kita irit, contohnya Bahan Bakar Minyak yang semakin lama tentunya akan semakin menipis. Macet bisa kita cegah dengan berbagai cara yang bisa dibilang sangat efektif. Tetapi kurangnya kesadaran manusia untuk bisa hidup dengan lebih efektif dan efisien malah mengakibatkan kota sebagai suatu tempat yang mewah. Dimana di dalamnya terdapat masyarakat yang konsumtif dengan berbagai kendaraan bermotor yang semakin lama semakin memadati perkotaan jika tidak di batasi. Apalagi di masa ini orang tidak harus membeli kendaraan bermotor dengan cara tunai. Tetapi bisa dengan cara dicicil, sehingga lama kelamaan kendaraan semakin padat dan Kota besar semakin macet.

Dityan Zahra Pranissa, KPI 1E, Tugas Ke-5

NAMA : Dityan Zahra P
KELAS : KPI 1/E
NIM : 1112051000149
TUGAS : Ke-5

Tindakan Sosial dan Rasionalitas Max Weber

Tindakan Sosial
Max Weber berpendapat, bahwa ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial adalah ilmu sosiologi awal atau mula-mula. Dia juga berpendapat, dunia adalah saksi dari tindakan-tindakan sosial yang dilakukan manusia. Max menyakinkan bahwa masyarakat adalah produk (hasil) dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional. Yang artinya, menjelaskan tentang sosial dan berarti harus menyadari cara manusia meninjau atau memandang kembali tindakannya. Langkah ini disebut dengan sosiologi "komperhensif". Weber mengatakan; "Yang kita maksudkan dengan sosiologi adalah ilmu yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi (pandangan teoritis terhadap sesuatu) atas aktivitas sosial atau tindakan-tindakan sosial." Sebab itulah, Weber menolak pembandingan dalam masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Marx dan Durkheim, yang mengurung manusia dalam sebuah jarring paksaan yang tidak disadari. Paksaan dan perbandingan-perbandingan tersebut halnya bersifat relatif.
 
Rasionalitas
Dalam makna sosiologi yang lebih umum, rasionalitas lebih mengacu pada kata "rasio" yang artinya motif-motif yang disadari manusia sehingga terdorong untuk bertindak dengan suatu cara. Dalam makna yang lebih terbatas rasionalitas melihatkan adanya efektivitas dan koherensi antara tujuan dengan cara bertindak, yang tindakan tersebut adalah berusaha mencapai tujuannya dengan cara yang paling efektif.

gilang sakti, kpi 1E (tugas ke-5)

Gilang Sakti Perdana
1112051000161
KPI 1E
Tugas Ke-5

 

Ilmu tentang Tindakan Sosial
Max Weber

Bagi Weber sosiologi mula-mula adalah ilmu pengetahuan tentang tindakan sosial. Ia menolak determinisme seperti yang dikhotbahkan oleh Marx dan Durkheim yang mengurung manusia dalam sebuah jaring paksaan sosial yang tidak disadari. Weber menganggap bahwa paksaan dan determinisme itu bersifat relatif. Yang ada bukanlah hukum yang absolut melainkan tendesi-tendesi yang selalu memungkinkan terjadinya suatu kebetulan dan pada keputusan individual. Ia yakin bahwa masyarakat adalah produk dari tindakan individu-individu yang berbuat dalam kerangka fungsi nilai., motif dan karkulasi rasional. Jadi menjelaskan tentang sosial berarti harus menyadari manusia mengorientasikan tindakanya. Langkah ini disebut dengan sosiologi "komperhensif". "yang kita maksudkan dengan sosiologi, ucap Weber, adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dengan cara melakukan interpretasi atas aktivitas sosial.

Menurut Weber masyarakat modern adalah masyarakat rasional. Dengan berbekal perangkat metodologis berupa langkah komperhensif dan metode "tipe-ideal", Weber menyadari adanya berbagai studi komperatif menyangkut bentuk-bentuk hukum, tipe agama, cara organisasi ekonomi dan politik. Menurut sang penulis ekonomie et societe ini " rasionalisasi kehidupan sosial" menjadi ciri paling signifikan masyarakat modern. Apa yang dimaksud " rasionalisasi" dalam hal ini? Weber menjelaskan tiga tipe besar aktivitas manusia yaitu:

·    Tindakan tradisional yang terkait dengan adat istiadat. Aktivitas sehari-hari seperti makan dengan menggunakan garpu atau cara memberi salam kepada teman merupakan tindakan tradisional.

·    Tindakan efektif yang digerakan oleh nafsu. Para rentenir dan penjudi bertindak pada level ini.

·    Tindakan rasional yang merupakan alat (instrumen) ditujukan ke arah nilai atau tujuan yang bermanfaat dan berimplikasi pada kesesuaian antara tujuan dengan cara. Strategi (militer atau ekonomi) termasuk dalam kategori ini.

Menurut Weber tindakan rasional menjadi ciri masyarakat modern: yaitu mewujudkan dirinya sebagai pengusaha kapitalis, ilmuwan, konsumen atau pegawai yang bekerja/ bertindak sesuai dengan logika tersebut.

Sekalipun demikian Weber menegaskan bahwa "jarang sekali aktivitas terutama aktivitas sosial yang hanya berorentasi pada salah satu jenis aktivitas saja. Jenis-jenis aktivitas itu hanya berupa tipe-tipe murni yang dibangun untuk tujuan riset sosiologi. Aktivitas ril itu kurang lebih sebanding dan lebih sering berkombinasi. Produktivitas (fekondite), menurut hemat saya, menyebabkan munculnya kebutuhan untuk membangun aktivitasnya.

proposal sosiologi perkotaan

                                                   M.IRHAMNI(1111054000014)
PENDAHULUAN                     PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM (3)
1.1 Latar Belakang                 TUGAS PROPOSAL SOSIOLOGI PERKOTAAN
                                                 
Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan timbulnya masalah permukiman. Masalah permukiman lebih terasa di daerah perkotaan dari pada di daerah perdesaan. Masalah perumukiman perkotaan di Indonesia pada saat ini di antaranya adalah tempat tinggal serta lingkungan yang pada umumnya jauh dari syarat-syarat kehidupan keluarga yang layak. Permasalahan permukiman perkotaan yang terjadi terdapat pada kota-kota besar yang dapat menarik tingginya jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang semakin besar mengakibatkan tingginya beban permukiman terhadap kota tangerang selatan.
Kota Tangetang Selatan merupakan salah satu kota penyangga bagi Kota Jakarta. Keadaan tersebut menjadikan Kota Tangerang Selatan sebagai tempat hunian bagi orang-orang yang bekerja di Kota Jakarta, sehingga laju pertumbuhan penduduk menjadi begitu pesat. Hal tersebut mengakibatkan meningkatnya kebutuhan lahan permukiman di Kota Tangerang Selatan. Para migran dan para pekerja yang berhuni di Kota Tangerang Selatan memiliki penghasilan yang berbeda-beda, sedangkan kebutuhan akan permukiman semakin meningkat sehingga mengakibatkan adanya permukiman dari yang sederhana atau menengah sampai dengan permukiman yang atas atau orang kaya.
. Banyaknya kendala yang terjadi di lapangan menjadi salah satu penghambat tersendatnya revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sekaligus mem-Perda-kannya. Kendala urusan anggaran menjadi salah satu faktor disamping terbatasnya SDM yang menangani penataan ruang dan tidak efektifnya fungsi Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah.tanah semakin terbatas sedangkan jumlah penduduk terus terjadi peningkatan bersamaan dengan peningkatan akan kebutuhan sarana dan prasarana umum. Konteks dengan kebutuhanlahan masyarakat dan permukiman perlu adanya kebijakan dari pemerintah yang dalam hal ini bertindak sebagai fasilitator dan mediator antara pihak konsumen (penduduk) dengan pihak pengembang bahkan dengan lembaga- lembaga keuangan yang memiliki kompetensi tempat bagi masyarakat sekitar.
 
 
Pertumbuhan konsentrasi penduduk di kota-kota besar terjadi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kinsley Davis (Breese, 1968 : 15) mencatat, misalnya bahwa pertumbuhan penduduk perkotaan di 34 negara sedang berkembang di dunia ketiga tahun 1940-an dan 1950-an mencapai angka rata-rata 4,5% per tahun (dengan variasi regional sebesar 4,7% untuk tujuh negara di Afrika, 15 negara Asia dan 4,3% untuk 12 negara di Amerika Latin), jauh lebih tinggi dari angka pertumbuhan 2,1% yang di alami negara-negara Eropa pada paro kedua abad XIX ketika negara-negara Eropa berada padatingkat perkembangan yang sama. Pada saat yang sama, pertumbuhan kota-kota tersebut ternyata tidak diikuti dengan kecepatan yang sebanding oleh pertumbuhan industrialisasi.
Dunia kontemporer telah mengalami perubahan yang dramatis, di mana masalah sosial ekonomi, politik, ekonomi dan lingkungan dipahami dan dijelaskan secara global. Dalam hal ini, urbanisasi di dunia ketiga dipahami dalam konteks akibat adanya proses sosial-ekonomi dan politik global. Prespektif logis analisis ini dikembangkan dengan dihubungkan pada perubahan sosio-ekonomi dunia dan dinamika mikro ekonomi, maka arena yang lebih luas dari ekonomi global dipengaruhi individu, keluarga, komunitas politik dan lainnya merupakan bagian dari proses perubahan.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
PERTANYAAN PENELITIAN .
  Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive)  pada pemukiman dan kependudukan? 
  Sebenarnya terjadi (descriptive)  di pemukiman dan kependudukan?                   
       Apa yang diperlukan (what is needed)   di pemukiman dan kependudukan?                         
 Apa yang tersedia (what is available)    pada pemukiman dan kependudukan?             
        Apa yang diharapkan (what is expectected) di pemukiman dan kependudukan?                            
       Apa yang dicapai (what is achieved) pada pemukiman dan kependudukan?                         
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
METODOLOGI  PENDUDUK DAN PEMUKIMAN
Sensus Penduduk
Berdasarkan peraturan pemerintah (No.6/1960; No.7/1960) Sensus penduduk dilaksanakan setiap sepuluh tahun. Dalam pelaksanaannya, sensus penduduk menggunakan dua tahap, yaitu pencacahan lengkap dan pencacahan sampel.informasi yang lebih lengkap dikumpulkan dalam pencacahan sampel.
Pendekatan de jure dan de facto diterapkan untuk mencakup semua orang dalam area pencacahan. Mereka yang mempunyai tempat tinggal tetap didekati dengan pendekatan de jure, dimana mereka dicatat sesuai dengan tempat tinggal mereka secara formal; sedangkan mereka yang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap didekati dengan pendekatan de facto dan dicatat dimana mereka berada. Semua anggota kedutaan besar dan keluarganya tidak tercakup dalam sensus.
Pemukiman sering disebut sebagai perumahan. Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana lingkungan. Perumahan menitikberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Pemukiman memberikan kesan tentang pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human) (Kurniasih, 2007; 3).
Pemukiman penduduk selalu berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi, industrialisasi dan pembangunan. Pemukiman dapat diartikan sebagai perumahan atau kumpulan rumah dengan segala unsur serta kegiatan yang berkaitan dan yang ada di dalam pemukiman. Pemukiman dapat terhindar dari kondisi kumuh dan tidak layak huni jika pembangunan perumahan sesuai dengan standar yang berlaku, salah satunya adalah dengan menerapkan persyaratan rumah sehat (Kurniasih, 2007: 1).
 
 
Menurut Undang–Undang No. 4 tahun 1992 dalam Surtiani (2006: 39) pengertian tentang perumahan atau pemukiman yaitu sebagai berikut:
1 . Pengertian rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga.
2 . Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan.
3 . Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung (kota dan desa) yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal dan tempat melakukan berbagai macam kegiatan atau aktivitas.
2.1.2 Kriteria Pemukiman yang Layak Huni
Suatu patokan atau standar penilaian rumah yang sehat dan ekologis dapat digunakan untuk menentukan kualitas dan kondisi suatu pemukiman guna meningkatkan kualitas lingkungan khususnya pada pemukiman padat penduduk. Menurut Krista (2009: 2) patokan atau standar penilaian yang dapat digunakan dalam pembangunan rumah yang sehat dan ekologis adalah sebagai berikut:
1) Menciptakan kawasan penghijauan di antara kawasan pembangunan sebagai paru-paru hijau.
2) Mempertimbangkan rantai bahan dan menggunakan bahan bangunan alamiah.
3) Menggunakan ventilasi alam untuk menyejukkan udara dalam bangunan.
4) Menghindari kelembaban tanah naik ke dalam konstruksi bangunan.
5) Memilih lapisan permukaan dinding dan langit-langit ruang yang mampu mengalirkan uap air.
6) Menjamin kesinambungan pada struktur sebagai hubungan antara masa pakai bahan bangunan dan struktur bangunan.
7) Mempertimbangkan bentuk atau proporsi ruangan.
8) Menjamin bahwa bangunan yang direncanakan tidak menimbulkan masalah.

Cari Blog Ini