Minggu, 11 Oktober 2015

Nanda Aullia Fauziah_Jurnalistik 1/A_Keluarga besarku_Tugas 5

Nanda Aullia Fauziah (11150510000119)

Jurnalistik 1/A

Tugas 5

 

KELUARGA BESARKU

Ø  ASAL USUL

         Keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang diikat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama. Secara sosiologis Keluarga menunjukkan bahwa dalam keluarga itu terjalin suatu hubungan yang sangat mendalam dan kuat, hubungan tersebut disebut hubungan lahir batin. Adanya hubungan ikatan darah menunjukkan kuatnya hubungan yang dimaksud. Hubungan antara keluarga tidak saja berlansung selama mereka masih hidup tetapi setelah meninggal duniapun masing-masing individu. Individu masih memeliki keterkaitan satu sama lain.

Horton dan Hurt mendefinisikan Keluarga menjadi tiga yaitu :

1.      Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang  sama

2.      Suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah dan perkawinan

3.      Pasanagan perkawinan  dengan atau tanpa anak

4.      Pasangan tanpa nikah yang mempunyai anak

5.      Para anggota atau komunitas yang biasanya ingn disebut keluarga.

         Berbicara mengenai Keluarga, tentunya setiap manusia yang dilahirkan pasti mempunyai keluarga. Sama halnya dengan saya, saya juga memiliki Keluarga besar. Keluarga besar saya adalah gabungan dari dua budaya dan suku yang berbeda yaitu, Suku Sunda dan Betawi. Dari namanya saja sudah berbeda bukan? Menggabungkan dua budaya yang berbeda menjadi satu kesatuan yang pada akhirnya berada pada satu lingkup bersama yaitu Keluarga bukanlah hal yang mudah. Namun dari berpedaan itu justru membuat hubungan keluarga saya menjadi sangat erat dan saling memahami dan menghormati antara budaya satu dengan yang lain.

         Nama saya Nanda aullia Fauziah, saya dilahirkan dari sepasang suami-istri yaitu H.Zainal Arifin dan Ina Rosalina. Saya anak pertama dari empat bersaudara, saya memeliki satu adik perempuan dan dua adik laki-laki. Bapak saya anak ke-dua dari delapan bersaudara dari pasangan suami istri yaitu, H.Mawardi dan Hj.Neneng. sedangkan ibu saya adalah anak pertama dari tujuh bersaudara dari pasangan suami istri H.Gufron dan Hj. Uun. Kali ini saya akan menceritakan keluarga bapak dan ibu saya.

         Keluarga "Baba" saya berasal dari suku Betawi, tentunya tanpa saya sebutkanpun pasti akan tahu bahwa bapak saya adalah suku Betawi asli, tepatnya didaerah Cipete JakSel. Berbicara mengenai suku Betawi tentu identik dengan logat bicaranya dan tidak sedikit juga orang menyebutnya kalau orang Betawi itu Juragan kontrakan dan malas bekerja. Namun itu tidak berlaku bagi keluarga bapak saya, bekerja tetaplah menjadi kewajiban dan walaupun memiliki tanah yang banyak itu bukan alasan untuk bermalas-malasan. Bapak saya adalah pribadi yang tegas, disiplin namun juga pribadi yang humoris. Sifat tegas itu adalah sifat keturunan yang juga dimiliki bapaknya yaitu bermana H.Mawardi (kakek saya). Sifat tegas itu sebagian kecil dari bentuk tanggung jawab beliau sebagai kepala keluarga untuk melindungi dan menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang baik. Ibu dari ayah saya yang bermana Hj.Neneng mempunyai ibu yaitu berasal dari cina beliau bernama Hj.Fatmah yaitu buyut saya sendiri. Beliau menjadi muallaf ketika menikah dengan suaminya yaitu buyut saya yang bernama H. Miftah.

         Ibu saya yang bernama Ina Rosalina, berasal dari keluarga yang sederhana di suku sunda tepatnya di Bogor Jawa barat. Ibu saya pribadi yang sangat ramah dan murah senyum seperti orang tuanya. Walaupun ibu saya tinggal di desa dan jauh dari pusat kota itu tidak menghalanginya untuk berhenti belajar dan bersekolah setinggi-tingginya. Pada saat kuliah ibu saya rela bulak balik bogor-depok. Oleh sebab itu ibu saya selalu menekankan saya untuk bersungguh-sungguh belajar. Ibu saya sangat membebaskan saya untuk belajar dibidang apapun asalkan dijalani dengan sungguh-sungguh. Ibu saya sangat dekat dengan kakeknya yaitu H.Qomar (buyut saya) menurutnya beliaulah yang yang mengantarkan kuliah pada saat itu.

 

Ø  JARINGAN SOSIAL

         Jaringan sosial, dari katanya saja sudah "jaringan" berarti fungsinya untung menghubungkan. Atau juga disebut koneksi dalam hubungan sosial individu, maupun kelompok. Hubungan itu bisa bersifat ekonomi, politik atau  hubungan sosial yang lain. Jaringan sosial yang ada pada keluarga besar saya sebagian besar adalah dibidang ekonomi. karena bapak saya berasal dari suku Betawi yang pada saat dahulu belum seperti sekarang gedung bertinggkat di mana-mana, pada saat dahulu semua rumah yang berbaris di sebelah rumah bapak saya itu semua saudara sedarah, sangat jauh bila di bandingkan dengan sekarang sudah banyak pendatang dari luar jakarta.banyak tanah-tanah yang dijdiakan kontrakan. Namun, walaupun begitu kita tetap melakukan jaringan sosial dengan penduduk pendatang baru. Keluarga besar bapak saya rata-rata berprofesi sebagai pegawai swasta, wirausaha dan juga pembisnis property. Melalui profesi-profesi inilah kita dapat menghubungan sosial individu satu dengan yang lainnya dijaringan sosial yang bersifat ekonomi yang sudah saya katakan tadi. Dengan begitu dapat membuat jaringan sosial semakin melebar lagi.

 

 

NILAI – NILAI DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA YANG DI PERGUNAKAN DI DALAM KELUARGA

          Nilai-nilai dan sistem sosial sama fungsinya sebagai alat kontrol perilaku manusia dengan daya tekan dan daya mengikat tertentu agar orang tersebut berperilaku sesuai dengan niai dan sistem yang dianutnya. Berbicara mengenai nilai dan sistem budaya yang ada pada keluarga saya yaitu sistem sosial budaya yang masih tradisioanal contohnya, dengan masihnya menggunakan bahasa daerah atau karena bapak saya orang Betawi maka sebutan-sebutan seperti "engkong, baba,ncing, dan ncang" masih di gunakan hingga saat ini. Terbukti dengan saya yang memanggil adiknya bapak saya dengan sebutan "ncing". Tidak hanya itu nilai budayanya juga masih sangat kental tidak hanya pada suku Betawi, suku Sundapun yaitu suku ibu saya juga masih sangat kental akan budaya dan pada saat acara pernikahan di keluarga ibu saya ada acara upacara adat "lengser".

        Tidak hanya sosial budayanya, nilai-nilai yang ada pada keluarga saya pun diajarkan untuk nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab dan taat pada aturan yang berlaku dikeluarga saya. Tidak boleh keluar malam,tidak boleh main tanpa seizin terlebih dahulu, tidak boleh berpaian terbuka. Mungkin itu sedikit contoh nilai-nilai dan sistem sosial budaya yang ada pada keluarga saya.

        

 

·        Itulah hasil penelitian yang penulis buat dengan tema "keluarga besakur".

·        Penelitian dilakukan melalui metode kuantitatif.

·        Penelitian ini melalui informasi dari keluarga terdekat dan oleh penulis sebagai bagian dari keluarga besar.

Fatia Nurul Ismi - KPI 1A - Tugas 5 - Keluarga Besarku

Keluarga Besarku

Asal Usul

 

 Keluarga adalah sekelompok orang yang hidup bersama dalam perkumpulan unit masyarakat terkecil yang mempunyai hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainya yang saling bergantung antara satu dengan yang lainya. Fungsi adanya keluarga adalah untuk meneruskan keturunan, memberikan identitas anggota keluarga, Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga, Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masih banyak lagi jika dijabarkan penjelasan tentang keluarga ini. Intinya keluarga adalah segalanya untuk kita karena dari keluarga kita dapat membentuk karakter kita sesuai dengan ajaran yang diajarkan dalam keluarga.

 Mengenai keluarga besar, saya akan memperkenalkan asal usul keluarga besar saya. Saya mempunyai keluarga besar yang tergabung dari pekawinan ayah dan ibu, hubungan darah ibu dan ayah dengan saudaranya dan orang tuanya yang berbeda dari latar belakang suku dan budayanya. Ibu saya adalah keturunan Betawi asli, kakek saya dari Bogor dan nenek saya dari Grogol, ibu saya dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Betawi pada masa itu karena ibu saya bertempat tinggal di Grogol. Kakek saya seorang atlit badminton dan nenek saya anak dari kepala camat didaerahnya, sedangkan ibu saya berprofesi sebagai guru Seni Budaya dan berwirausaha dirumah menjual aneka kue rumahan, padahal asalnya ibu saya sarjana Tata Busana UNJ yang seharusnya berprofesi sebagai Designer atau penjahit dan lain sebagainya yang berkaitan dengan busana. Keluarga besar dari ibu saya sangat kental dengan budaya Betawi. Salah satu budayanya adalah Lenong teater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an Ayah saya keturunan sunda tepatnya dari Garut, kakek dan nenek saya dari ayah juga berasal dari kota yang sama Garut. Kakek saya seorang violis dan suka mengarransemet lagu jaman dulu, nenek saya berkerja berdagang di pasar, dan ayah saya seorang mekanik pesawat maskapai Garuda. Keluarga besar ayah saya kental dengan adat sunda yang mana orang sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang.

 

B. Jaringan sosial

 

            Jaringan Sosial adalah hunbungan koneksi dalam individu yang mempunyai timbal balik. Jaringan sosial dalam keluarga saya tidak mempunyai usaha yang turun temurun semua keluarga saya bekerja dan berusaha sendiri untuk hidup. Keluarga besar ayah saya kebanyakan bekerja sebagai mekanik pesawat, pedagang, pegawai bank, pramugari dan supervisor perusahaan sedangkan keluarga besar dari ibu saya ada yang bekerja sebagai PNS, guru, dosen, musisi, pemilik laundry, dan pemilik tempat les. Jaringan sosial keluarga kami hanya sebatas pada interaksi masing-masing keluarga dalam pekerjaanya karena dalam keluarga saya tidak ada jaringan sosial perekonomian secara turun temurun.

 

 

C.     Nilai-nilai dan Sistem Sosial Budaya yang Diperwujudkan dalam Keluarga

            Nilai dan system budaya yang dilakukan dalam keluarga saya beragam karena kami berkumpul dalam berbeda suku dan budaya dimana tidak semua suku dan budaya sama dalam menjalankan nilai-nilai dan system budayanya.

            Dalam keluarga saya setiap hari Raya tiba hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha diwajibkan berkumpul, kami memasak berbagai macam masakan seperti karedok, empal gentong, kolang-kaling, goyogot, dodol betawi, dan kue talam untuk disantap bersama. Kemudian acara kumpul bulanan untuk sekedar berkumpul dan berdoa bersama untuk mendoakan para sanak saudara yang sudah meninggal. Ibu saya mewajibkan saya dan adik saya untuk berwirausaha tujuanya agar pencarian kami tidak hanya dari satu sumber.

 

 

Sabtu, 10 Oktober 2015

hilma nur alifah_keluarga besarku,tugas 5(jurnalistik 1a)

Hilma Nur Alifah

Jurnalistik 1 A(11150510000040)

Tugas 5

 

Keluarga Besarku.

·        Asal usul

            Berbicara tentang keluarga,setiap manusia yang lahir di muka bumi ini pasti mempunyai keluarga.Walau terpisah oleh keluarga besar, tetap saja asal kelahiran manusia itu mempuyai sebuah keturunan dari orang-orang terdahulu.Karena keluarga adalah ikatan yang paling erat di kehidupan kita sehari-hari.Keluarga adalah kelompok kerabat yang tinggal pada satu lingkungan, walaupun berbeda namun mereka memiliki ikatan darah atau hubungan darah,bersatu.Dapat diartikan pula bahwa keluarga adalah kelompok sosial yang tanpa di sadari,secara tidak langsung mempunyai fungsi yang sangat humanis dan plural seperti: saling menjaga,memelihara dan melengkapi anggotanya,budaya keturunannya,agamanya,bahkan keseimbangan lainnya yang masih sulit di seimbangkan di dalam kehidupan ber sosial.

            Apabila kita membahas apa itu keluarga besar?.Maka tidak akan ada habisnya.Karena ada banyak pengertian,fungsi serta unsur yang terdapat dari kata keluarga itu sendiri.Maka dari itu dapat kita tafsirkan bahwa keluarga adalah tempat kita memulai belajar,dimana sebuah kepribadian itu terbentuk.Dimana bisa kita lihat bahwasannya para orang tua berperan banyak dalam membentuk karaktek dan sikap terhadap anak mereka.

            Mengenai pembahasan keluarga besar, saya mempunyai keluarga besar yang berbeda dalam suku tentu juga dalam budaya.Akan tetapi kami bersatu pada satu anutan agama yaitu Agama Islam.Jika mengatakan bahwa keluarga saya sangat kental di bidang agamanya, tentu tidak.Karena di keluarga besar saya, tidak memaksa untuk anggotanya menganut keras agama yang kami naungi.Yang terpenting adalah melaksanakan kewajiban di dalam agama islam itu sudah cukup.Beda jika membicarakan  keluarga inti saya,kami menaati poin peraturan yang ayah saya buat untuk keluarga inti saya.

            Berawal dari keluarga ibu saya,ibu saya keturunan Jawa  dimana ibu saya sendiri  telah lama tinggal di Jakarta beserta keluarga besar lainnya.Suku yang dimiliki keluarga ibu saya memang Jawa namun sejak nenek dan kakek saya berkeluarga.Tempat tinggal tetap keluarga ibu saya adalah Jakarta.Sedangkan Jawa tengah hanyalah identitas asal mula nenek moyang saya yang terdahulu.Atau bisa disebut juga saudara kandung nenek moyang saya beserta keturunannya yang tinggal menetap di Jawa(Yogyakarta)Dan sangat menyayangkan sekali, tidak pernah sekalipun untuk keluarga inti saya bisa datang ketempat tinggal terdahulu nenek dan kakek saya tinggali.Karena memang ruang waktu yang kami gunakan hanya dapat bersilaturahmi terhadap keluarga besar dari ibu yang menetap di Jakarta.Bercerita tentang kakek dan nenek saya.Ibu saya mengatakan bahwa sejak kedatangan mereka ke Jakarta sebagai pasangan Suami-Isteri.Mereka memiliki tempat tinggal dikalangan masyarakat yang tidak mempunyai majlis satu pun.Pada akhirnya mereka membangun Majlis kecil dengan nama Al-Furqon,dan berhasil menjadi tokoh masyarakat yang terkenal di daerah tempat tinggalnya hingga kini pada umurnya sekitar 75 Tahun.Disertakan dengan keluarga besar saya lainnya kami mempunyai ikatan yang tidak akan pernah terputus seperti dengan sepupu,om,tante,paman,bibi saya kami masih seringkali berkumpul di dalam satu event yang di adakan dalam sebulan sekali.

            Dibandingkan dengan keluarga ibu saya,keluarga besar ayah saya sangat tipis jangkauan tali persilaturahmiannya.Kenapa? karena memang keluarga besar ayah saya ini memang sudah terpisah semenjak nenek dan kakek saya menikah.Justru,kali ini keluarga inti ayah sayalah yang menetap di asal tinggalnya,sedangkan keluarga yang lainnya tinggal diluar kota asal kelahiran mereka sendiri.Memang banyak yang bilang jika ingin sukses maka menyebrang ke pulau lain.Karena itu keluarga besar ayah saya banyak yang berpisah dari tempat tinggal keluarga besarnya untuk menjalani hidup primernya.Ayah saya merupakan penduduk Suku Sunda asli.Sejak lahir,beliau tinggal di daerah Subang,Kalijati hidup dengan kakek ,nenek dan ke-3 saudaranya yang saling timbal balik di dalam pekerjaan.Maksud dari timbal balik disini adalah adanya kerja sama antara kakek,nenek dan anak-anaknya di dalam menghasilkan uang untuk kehidupan sehari-hari di dalam keluarga.Pada akhir kelulusan SMA nya.Ayah saya memutuskan pula untuk tinggal di Jakarta.Bekerja,kuliah serta menikah di Jakarta hingga akhirnya mempunyai pekerjaan tetap dan dapat melanjutkan studinya di Pasca Sarjana.Semangat inilah yang menjadi ciri khas dari keluarga besar ayah saya untuk memperjuangkan kehidupan kedepannya.

·        Jaringan sosial

          Jaringan sosial dapat diibaratkan seperti  beberapa titik yang berbeda kemudian saling bergandengan sehingga bersatu dan menimbulkan timbal balik terhadap satu sama lain.Jaringan sosial ini di dalam keluarga berfungsi sebagai pemersatu yang jauh menjadi dekat dalam artian  mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya.

            Jaringan sosial di dalam keluarga saya ada pada pengembangan bisnis secara turun menurun seperti sebuah kontrakan yang di kelola utama oleh ibu saya.Kemudian saling membantunya mencari lowongan kerja pada bidang arsitektur dan penjualan obat-obat herbal secara meluas.

            Dengan adanya jaringan sosial inilah  membuat keluarga besar saya semakin erat hubungannya, terutama keluarga besar saya dari ibu yang sudah menetap lama di Jakarta.Tali silaturahmi memang harus di jaga namun bagaimana silaturahmi itu akan terus di pegang erat oleh masing-masing keluarga jika tidak ada timbal balik yang berhubungan secara baik.

           

·        Nilai-nilai dan Sistem Sosial Budaya yang Diperwujudkan dalam Keluarga.

         

          Nilai dengan nama lain adalah sebuah poin yang wajib diwujudkan sebagai seorang anggota.Sedangkan sistem sosial budaya adalah keberlakuan unsur-unsur peraturan yang ada pada kebiasaan budaya tertentu dan di berlakukan di dalam keluarga itu sendiri.

            Seperti hal misalnya di dalam keluarga saya ada sebuah larangan untuk tidak makan dengan gesekan gigi yang keras sehingga menghasilkan suara kunyahan yang seringkali disebut dengan kecapan kuda.Kemudian tidak diperbolehkan makan dengan suaru dentingan antara sendok dan piring.Larangan itu berlaku karena tidak memenuhi etika makan yang sopan begitu kata orang-orang Jawa terdahulu.

            Kemudian nilai kebudayaan yang berlaku di keluarga besar saya,apabila ada keluarga yang meninggal maka akan di adakan sebuah pengajian tahlilan pada malam setelah hari meninggalnya selama 7 hari.Di sambung pada hari ke 40 lalu pada hari haulnya.Dan nilai terakhir pada kebudayaan kleuarga besar saya adalah wajibnya berkumpul di kediaman rumah keluarga yang dituakan pada Hari Raya Idul Fitri.

 

-          Itulah hasil penelitian yang penulis deskripsikan dengan tema"Keluarga Besarku"

-          Merupakan penelitian dengan metode kuantitatif

-          Informasi penelitian di dapatkan dari narsumber terdekat seperti orang tua,saudara kandung dan anggota keluarga besar terdekat.

           

           

           

           

           

 

 

Muhammad Badruzzaman - KPI 1A - Tugas 5 - Keluarga Besarku

KELUARGA BESARKU

  • ASAL - USUL

          Menurut Departemen Kesehatan RI ( 1988 ) Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Pengertian diatas merupakan pengertian dari keluarga inti, sedangkan pengertian keluarga besar ialah gabungan dari beberapa keluarga inti yang memilki satu keturunan.


          Kali ini saya akan menjelaskan asal – usul keluarga besar saya, nama saya Muhammad Badruzzaman saya anak pertama dari dua bersaudara adik saya bernama Muhammad Fakhri Aziz. Saya dan adik saya dilahirkan dari pasangan suami istri Ibu Azizah dan Bapak Budi Sulistiyo. Ibu saya dilahirkan dari pasangan suami istri Bapak Shodiqin dan Ibu Puriah, Ibu saya anak ke lima dari tujuh bersaudara. Bapak saya dilahirkan dari pasangan suami istri Bapak Wahyuri dan Ibu Siti Rahayu, Bapak saya anak kelima dari delapan bersaudara. Kakek dari Bapak saya dilahirkan dari pasangan Bapak Abdul Rahman dan Ibu Simpen. Nenek dari Bapak saya dilahirkan dari ppasangan suami istri Bapak Wahidin dan Ibu Warni. Kake dari Ibu saya dilahirkan dari pasangan suamii istri Bapak Ahsan dan Ibu anah. Sedangkan Nenek dari Ibu saya dilahirkan dari pasangan Suami istri Bapak Talqah dan Ibu Sumi.

         

 

 

 

 

  •    JARINGAN SOSIAL

          Jaringan sosial adalah sebuah pola koneksi dalm hubungan sosial individu, kelompok dan berbagai bentuk kolektif lain. Jaringan sosial dalam keluarga besar kami rata-rata mereka berprofesi sebagai guru dan wirausaha. Keluarga besar dari ayah saya hampir semuanya PNS, ada yang menjadi guru, ada yang di departemen keagamaan, ada yang di wali kota dan lain-lain. Sedangkan dikeluarga besar Ibu saya hampir semunya berwirusaha, ada yang dibidang pakaian, kebutuhan pokok, otomotif, dan lain-lain.

 

        Ayah dan ibu saya berprofesi sebagai PNS, selain mereka berprofesi sebagai PNS mereka juga memiliki usaha sampingan diantarnya dalam bidang pakaian, perhotelan, kuliner dan property. Dalam keluarga besar ibu saya anak-anaknya sudah di ajarkan berwirausaha sejak dini, dengan harapan ketika sudah dewasa mereka sudah bisa dilepas untuk berwirausaha sendiri. Seperti saya saat ini dengan usia saya 20 tahun, saya sudah berwirausaha  dalam bidang otomotif  dengan memiliki dua bengkel mobil.


          Dalam keluarga besar baik dari Ibu maupun Bapak, mereka membebaskan anak-anaknya untuk sekolah setinggi-tinnginya dimanapun dan dalam bidang apapun selama apa yang dikerjakannya disenangi dan membawa manfaat bagi banyak orang.


  • Nilai - nilai dan System Social Budaya Yang Dipergunakan Dalam Keluarga      

          Karena keluarga besar saya berasal dari suku jawa, maka nilai – nilai adat istiadat dan budaya jawa sangat terasa dalam acar acara keluarga seperti nikahan, sunatan, akikahan dan lain – lain. Setiap lebaran Idul Fitri baik dari keluarga besar Bapak ataupun Ibu saya mereka mengadakan acara Halal bi halal. Dalam keluarga besar Ibu saya ada tradisi dimana anak – ananknya yang sudah memiliki usaha sendiri mereka setiap bulannya wajib untuk memberikan sumbangan kepada kepala desa disana yang akan disalurkan untuk usaha warga, yang akan memberikan lapangan pekerjaan untuk warga desa disana. Tradisi tersebut dicetus oleh buyut H. Ahsan dengan tujuan dapat berbagi dengan sesama dan memakmurkan warga desa disana.


tasya yustina anggraini atmadinata_KPI 1A_tugas 5_keluarga besarku

Tasya yustina anggraini atmadinata_kpi 1A_keluarga besarku

"Keluarga besarku"

A.    Asal usul

Jika saya sebut kata "keluarga", semua orang pasti akan tahu bahwa keluarga adalah orang-orang yang dekat dengan kita dan mempunyai ikatan darah yang mengalir dalam tubuhnya. Seperti kata salvicion dan celis (1998) yang mengatakan bahwa: "didalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain di dalam perannya masing masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan".

 

Teori Struktural Fungsional. Ritzer (2009: 21) konsep utama dalam teori ini adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manisfest, dan keseimbangan. Dimana Keluarga sebagai lingkungan pertama seorang anak mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Sehingga keluarga yang merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multifungsional mempunyai fungsi pengawasan, sosial, ekonomi, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi terhadap anggota-anggotanya.

 

Keluarga juga menjadi salah satu factor sosiologis seseorang bagaimana cara dia bersikap dan lain lain. Membahas tentang keluarga, saya akan membahas tentang keluarga besar saya.

 

Saya bernama tasya yustina anggraini atmadinata, saya anak ke-3 dari ibu dan ayah saya. Ibu saya bernama Ida Yunensih dan bapak saya bernama Raden Tito Syafrani Nurbaman Atmadinata. Saya mempunyai dua kaka, kaka pertama saya perempuan bernama Yustitia Nurlita Atmadinata dan kaka kedua saya laki-laki bernama Raden Trendy Suryana Putra Atmadinata.

 

Saya diberi nama tasya dari huruf hijaiyah alif, ba, ta, sya. Kata yustina berarti keadilan, anggraini berarti anak perempuan/putri dan atmadinata adalah nama keluarga saya.

 

Asal usul keluarga atmadinata adalah dari sunan kalijaga yang turun temurun. Buyut saya adalah salah satu keturunannya, yang bernama Raden Ating Atmadinata yang menjadi gubernur pertama di bandung(bojong soang). Lalu mempunyai anak bernama Raden Tatang Soetapa Atmadinata(kakek saya), tuti, tini, dan toni.

 

Kakek saya mempunyai istri bernama Neti nurnasih dan melahirkan 5 orang anak yang bernama wulan nursasih atmadinata, isye nursasih atmadinata, anggraini atmadinata, Raden Teddynur Syarifudin Atmadinata, dan yang terakhir Raden Tito Syafrani Atmadinata(ayah saya).

 

Keluarga saya memang identik dengan kesundaannya yang kental dimana sunda mempunyai banyak sekali tradisi. Entah saat mengandung, melahirkan, menikah dan lain lain sunda mempunyai cirri khas nya sendiri. Rata-rata dari keluarga ayah saya merupakan seseorang yang memang mempunyai bakat seni, walaupun hanya sedikit dan tidak di eksplor.

 

Ida Yunensih, ibu saya. Merupakan keluarga keturunan guru. Bisa dibilang bahwa keluarga ibu saya memang orang orang pintar. Kakek saya yang bernama nana suhana juga menjadi pengawas di departemen pendidikan. Mempunyai 5 anak yang memang rata rata adalah guru, termasuk ibu saya. Mempunyai kemampuan yang berbeda beda tetapi tetap pintar dalam pembelajarannya.

 

Ibu saya juga merupakan orang sunda yang tinggal di sebuah pedesaan bernama ciparasi, banten. Walaupun ibu saya tinggal di sebuah pedesaan yang cukup dalam dimana saat itu listrik pun belum ada, tetapi tak mematahkan semanat ibu saya untuk belajar. Ibu saya merupakan orang hebat. Ibu terhebat yang Alhamdulillah saya dapatkan.

 

B.     Jaringan social

Jaringan social, dari namanya saja kita sudah tau bahwa jaringan adalah sebuah koneksi yang saling berhubungan. Dalam keluarga besar saya, jaringan social ang terjadi adalah melalui nama. Dalam keluarga saya, setiap anak laki laki harus di berikan nama dengan inisial RTS. Seperti Raden Tito Syafrani N. Atmadinata, Raden Trendy Suryana P. Atmadinata dan lain sebagainya.

 

Untuk jaringan social bidang ekonomi. Keluarga saya tidak mempunyai bisnis turun menurun. Namun kami hanya ditinggalkan sebuah kontrakan masing masing keluarga untuk menghasilkan uang.

 

Ayah saya sudah tua dan tidak bekerja. Namun Alhamdulillah ayah saya masih mempunyai kontrakan untuk menafkahi. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga dan Pegawai Negeri Sipil. Ibu saya bekerja di banten, karna kebetulan ibu saya memang ditugaskan disana.

 

Senin sampai kamis ibu saya tidak ada dirumah. Kaka saya yang perempuan ngekost dibogor karna tuntutan kuliah di IPB dan kerja di bank mandiri secara bersamaan sehingga kaka saya yang ini jarang ada dirumah. Jadi saya lah yang mengerjakan pekerjaan rumah dari senin hingga kamis.

 

Keluarga kami tetap mengadakan kerja sama antar keluarga. Keluarga saya akan mencarikan lowongan pekerjaan bagi yang mencari pekerjaan. Namun dalam keluarga besar saya, tak ada saling membantu dalam urusan member uang begitu saja. Harus kita yang berusaha untuk mencari uang tersebut.

 

Jadi jaringan social yang kami miliki hanyalah sebatas mencarikan pekerjaan saja. Namun bagi kami segitu saja sudah lebih dari cukup.

 

C.     Nilai nilai dan system social budaya yang dipergunakan dalam keluarga

Nilai yang keluarga saya gunakan adalah nilai nilai yang masih berhubungan dengan kesundaan. Dimana semua perilaku, adat istiadat, moral dan etika masih sangat kental dengan kesundaannya. Seperti adanya saserahan saat pernikahan, atau mungkin pada saat mengandung yang setiap 3, 7, 9 atau lebih dari 9 bulan mengadakan upacara layaknya orang sunda. Sungguh masih khas sunda sekali keluarga kami.

 

Keluarga dari ayah saya memang sangat lah kental akan hal hal kedisplinan dan kedarah biruannya. Namun bagi keluarga ibu saya, kebersamaanlah yang terpenting. Setiap lebaran, keluarga dari ibu saya selalu akan mengadakan ngeliwet kalau kata orang sunda. Disana kita membeberkan nasi, jengkol,ikan peda dan sambal untuk di santap. Setelah itu keluarga kami akan kepemakaman untuk mendoakan para leluhur keluarga kami yang sudah tiada. Sungguh menyenangkan.

 

·         Membuat penelitian agar pembaca tau bagaimana keluarga besar saya.

·         Melalui metode kulitatif

·         Pertanyaan penelitian benar adanya dari sumber yang terpecaya

tugas ke2_demografi_m fahmi nurdin

M Fahmi Nurdin

1113054000023

PMI 5

Tugas ke2_Mortalitas, Fertilitas, Migrasi_Mata kuliah_Demografi

KEMATIAN (MORTALITAS)

Kematian atau mortalitas adalah salah satu dari tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk. Tinggi rendahnya tingkat mortalitas penduduk di suatu daerah tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan penduduk, tetapi juga merupakan barometer dari tinggi rendahnya tingkat kesehatan masayarakat di daerah tersebut.  

Mati ialah peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanent, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Dari definisi ini terlihat bahwa keadaan mati hanya bisa terjadi kalau sudah terjadi kelahiran hidup. Morbiditas yang diartikan sebagai penyakit atau kesakitan. Penyakit dan kesakitan dapat menimpa manusia lebih dari satu kali dan selanjutnya rangkaian morbiditas ini atau sering disebut morbiditas kumulatif pada akhirnya menghasilkan peristiwa yang disebut kematian. Penyakit atau kesakitan adalah penyimpangan dari keadaan normal, yang biasanya dibatasi pada kesehatan fisik dan mental. Peristiwa kematian yang terjadi di dalam rahim disebut intra uterin, sedangkan yang terjadi diluar rahim disebut dengan extra uterin. Pada masa janian masih dalam kandungan ibu, terdapat peristiwa-peristiwa kematian janin sebagai berikut:

KELAHIRAN (FERTILITAS)

Fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan, misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainaya. Fekunditas (fecundity) sebagai petunjuk kepada kemampuan fisiologis dan biologis seorang perempuan untuk menghasilkan anak lahir hidup. Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran mortalitas, karena seorang perempuan hanya meninggal satu kali, tetapi ia dapat melahirkan lebih dari seorang bayi. Di samping itu, seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai resiko kematian lagi. Sebaliknya, seorang perempuan yang telah melahirkan seorang anak tidak berarti resiko melahirkan dari perempuan tersebut menurun. Ada dua macam pengukuran fertilitas, yaitu pengukuran fertilitas tahunan (vital rates) dan pengukuran fertilitas kumulatif. Pengukuran fertilitas kumulatif ialah mengukur jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang permpuan hingga mengakhiri batas usia subur. Sedangkan pengukuran fertilitas tahunana (vital rates) ialah mengukur jumlah kelahiran pada tahun tertentu dihubungkan dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko untuk melahirkan pada tahun tersebut.

 

 

MOBILITAS PENDUDUK

 

Mobilitas penduduk adalah pergerakan penduduk dari satu daerah ke daerah lain. Baik untuk sementara maupun untuk jangka waktu yang lama atau menetap seperti mobilitas ulang-alik (komunitas) dan migrasi. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari suatu daerah ke daerah lain.

 

Mobiliats penduduk dapat dibedakan antara mobilitas penduduk vertikal dan mobilitas penduduk horinzontal.

·      Mobiliats penduduk vertical sering disebut dengan perubahan status, atau perpindahan dari cara-cara hidup tradisional ke cara-cara hidup yang lebih modern. Dan salah satu contohnya adalah perubahan status pekerjaan. Seseorang mula-mula bekerja dalam sector pertanian sekarang bekerja dalam sector non pertanian.

·      Mobilitas penduduk horizontal sering pula disebut dengan mobilitas penduduk gegrafis adalah gerak (movement) penduduk yang melintas batas wilayah menuju ke wilayah yang lain dalam periode waktu tertentu (mantra, 1987), atau dengan kata lain perpindahan penduduk dari satu lapangan hidup ke lapangan hidup yang lain. Penggunaan batas wilayah dan waktu untuk indicator mobilitas penduduk horizontal ini mengikuti paradigma ilmu geografi yang berdasarkan konsepnya atas wilayah dan waktu (space and time concept).

v  Mobilitas Penduduk Permanen (Migrasi)

Migrasi penduduk

Migrasi penduduk terbagi menjadi 2 jenis yaitu:

Migrasi internasional. Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara.

Migrasi interen adalah migrasi yang terjadi dalam batas wilayah suatu negara. Terdiri dari:

Ø  Migrasi sirkuler yaitu perpindahan penduduk sementara karena mendekati tempat pekerjaan.

Ø  Komuter atau ngelaju yaitu pergi ketempat atau kota lain di pagi hari dan pulang di sore hari ataupun malam hari.

Ø  Urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan maksud untuk mencari nafkah.

Sebab-sebab timbulnya migrasi penduduk yaitu adanya alasan ekonomis, adanya alasan politis, adanya alasan wabah penyakit yang timbul disuatu daerah tertentu, dan adanya alasan pendidikan.

Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Migrasi

Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi, adalah sebagai berikut :

1.         Faktor ekonomi, yaitu ingin mencari kehidupan yang lebih baik di tempat yang baru.

2.         Faktor keselamatan, yaitu ingin menyelamatkan diri dari bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, banjir, gunung meletus dan bencana alam lainnya.

3.         Faktor keamanan, yaitu migrasi yang terjadi akibat adanya gangguan keamanan seperti peperangan, dan konflik antar kelompok.

4.         Faktor politik, yaitu migrasi yang terjadi oleh adanya perbedaan politik di antara warga masyarakat seperti RRC dan Uni Soviet (Rusia) yang berfaham komunis.

5.         Faktor agama, yaitu migrasi yang terjadi karena perbedaan agama, misalnya terjadi antara Pakistan dan India setelah memperoleh kemerdekaan dari Inggris.

6.         Faktor kepentingan pembangunan, yaitu migrasi yang terjadi karena daerahnya terkena proyek pembangunan seperti pembangunan bendungan untuk irigasi dan PLTA.

7.         Faktor pendidikan, yaitu migrasi yang terjadi karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

 

Referensi Bacaan

http://rahma-kurnia.blogspot.com/2006/09/kematian-mortalitas.html. Posted by Rahma Kurnia @ 4:24 PM. Diakses pada tanggal 10 oktober 2015. Pukul 10.00 WIB.

tugas ke2_demografi_ali nida

Ahmad Ali Nidaulhaq

1113054000027

PMI 5

Tugas ke2_Mortalitas, Fertilitas, dan Migrasi_Mata Kuliah_Demografi

Pengertian Fertilitas (kelahiran)

Fertilitas merupakan kemampuan berproduksi yang sebenarnya dari penduduk (actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan. Kelahiran yang dimaksud disini hanya mencakup kelahiran hidup, jadi bayi yang dilahirkan menunjukan tanda-tanda hidup meskipun hanya sebentar dan terlepas dari lamanya bayi itu dikandung. Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seseorang wanita atau sekelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup. Fekunditas, sebaliknya, merupakan potensi fisik untuk melahirkan anak. Jadi merupakan lawan arti kata sterilitas. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas hanya berbeda ruang lingkupnya. Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk sedangkan natalitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia. Pengukuran fertilitas lebih kompleks dibandingkan dengan pengukuran mortalitas (kematian) karena seorang wanita hanya meninggal sekali, tetapi dapat melahirkan lebih dari seorang bayi. Kompleksnya pengukuran fertilitas ini karena kelahiran melibatkan dua orang (suami dan istri), sedangkan kematian hanya melibatkan satu orang saja (orang yang meninggal). Seseorang yang meninggal pada hari dan waktu tertentu, berarti mulai saat itu orang tersebut tidak mempunyai resiko kematian lagi. Sebaliknya, seorang wanita yang telah melahirkan seorang anak, tidak berarti resiko melahirkan dari wanita tersebut menurun.

Pengaruh Fertilitas

Menurut Ida Bagus Mantra (1985), terdapat sejumlah factor yang dapat mempengaruhi fertilitas yang dibedakan atas factor-faktor demografi dan factor-faktor non demografi. Factor-faktor demografi antara lain: struktur atau komposisi umur, status perkawinan, umur kawin pertama, keperidian atau fekunditas, dan proporsi penduduk yang kawin. Factor-faktor non demografi antaranya keadaan ekonomi penduduk, tingkat pendidikan, perbaikan status wanita, urbanisasi dan industrialisasi. Factor-faktor tersebut dapat berpengaruh secara langsung ataupun tidak langsung terhadap fertilitas. 

Pengertian Mortalitas (kematian)

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9.5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu. 

Pengaruh Mortalitas

Faktor-faktor yang mempengaruhi kematian dibagi menjadi dua yaitu:

  • Faktor langsung (faktor dari dalam)
  1. Umur
  2. Jenis kelamin
  3. Penyakit
  4. Kecelakaan, kekerasan, bunuh diri

2) Faktor tidak langsung (faktor dari luar)

  1. Tekanan, baik psikis maupun fisik,
  2. Kedudukan dalam perkawinan
  3. Kedudukan sosial-ekonomi,
  4. Tingkat pendidikan,
  5. Pekerjaan,
  6. Beban anak yang dilahirkan,
  7. Tempat tinggal dan lingkungan,
  8. Tingkat pencemaran lingkungan,
  9. Fasilitas kesehatan dan kemampuan mencegah penyakit,
  10. Politik dan bencana alam.

 

  1. Pengertian Migrasi (Perpindahan)

Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.

Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap..

contoh faktor pendorong:

  • Berkurangnya lapangan pekerjaaan di tempat asal
  • Bencan alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus dll
  • Adanya wabah penyakit berbahaya
  • Makin berkurangnya sumber-sumber alam ditempat asal
  • Adanya tekanan atau diskriminasi politik, agama atau suku di daerah asal
  • Alasan perkawinan atau pekerjaan yang mengharuskan pindah dari daerah asal

Contoh faktor penarik:

  • Adanya rasa kecocokan di tempat yang baru atau kesempatan untuk memasuki lapangan pekerjaan yang cocok
  • Kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik
  • Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi
  • Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang dianaggap menyenangkan misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas umum lainnya
  • Banyak terdapat tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi penduduk-penduduk pedesaan atau kota kecil

SIMPULAN

Fertilitas merupakan kemampuan berproduksi yang sebenarnya dari penduduk (actual reproduction performance). Atau jumlah kelahiran hidup yang dimiliki oleh seorang atau sekelompok perempuan. Kelahiran yang dimaksud disini hanya mencakup kelahiran hidup, jadi bayi yang dilahirkan menunjukan tanda-tanda hidup meskipun hanya sebentar dan terlepas dari lamanya bayi itu dikandung. Istilah fertilitias sering disebut dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang wanita dengan adanya tanda-tanda kehidupan, seperti bernapas, berteriak, bergerak, jantung berdenyut dan lain sebagainya. Sedangkan paritas merupakan jumlah anak yang telah dipunyai oleh wanita. Apabila waktu lahir tidak ada tanda-tanda kehidupan, maka disebut dengan lahir mati (still live) yang di dalam demografi tidak dianggap sebagai suatu peristiwa kelahiran. Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Still birth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada berbagai macam faktor keadaan. Besar kecilnya tingkat kematian ini dapat merupakan petunjuk atau indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah. Migrasi merupakan bagian dari mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah ke daerah lain. Mobilitas penduduk ada yang bersifat nonpermanen (sementara) misalnya turisme baik nasional maupun internasional, dan ada pula mobilitas penduduk permanen (menetap). Mobilitas penduduk permanen disebut migrasi. Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu tempat ke tempat lain dengan melewati batas negara atau batas administrasi dengan tujuan untuk menetap.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.edukasi.net/index.php?mod=script&cmd=Bahan%20Belajar/Materi%20Pokok/view&id=80&uniq=892. Diakses pada tanggal 10 Oktober 2015. Pukul 13.00 WIB.

 

 

Jumat, 09 Oktober 2015

Kabir Al-Fadly H - Keluarga Besarku - Tugas5

Kabir Al Fadly Habibullahh

KPI 1 A (11150510000011)

Tugas 5

Keluarga Besarku

A.     Asal Usul

         Secara umum keluarga dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi, merupakan susunan rumah tangga sendiri, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putrinya, saudara laki-laki dan perempuan serta merupakan pemeliharaan kebudayaan bersama. Jadi keluarga merupakan kesatuan sosial yang terikat oleh hubungan darah dan masing-masimg anggotanya mempunyai peranan yang berlainan sesuai dengan fungsinya. Lebih luas lagi diatas dari definisi tadi yang merupakan definisi keluarga inti, yang terdiri atas anak dan orang tua, ada keluarga yang lebih luas lagi lingkupnya. Keluarga besar, yang merupakan gabungan dari beberapa keluarga inti keatas. Baik dari ibu keatasnya maupun ayah keatasnya.

         Keluarga besar di keluarga saya adalah sebuah ikatan kelompok sosial yang berlatar belakan berbeda secara budaya dan suku. Namun memiliki keterikatan dan keterkaitan yang saling melengkapi. Dengan saling melengkapi inilah mealahirkan hubungan yang sangat hangat, humanis dan dinamis baik secara biologis lebih–lebih lagi sosiologis.

         Dimulai dari keluarga ibu yang merupakan keturunan asli Suku Sunda, tepatnya dareah Singaparna, Tasikmalaya. Dilihat dari karakter sosiologis masyarakat sunda yang penuh dengan kesahajaannya dan kearifan lokalnya, serta karakter-karakter lain yang membentuknya seperti tingkat spiritualitas yang tinggi, karena memegang teguh apa yang telah diwaariskan orang tua terdahulu. Maupun karakter yang dibentuk akibat letak fisik dan geografis masyarakat Tasikmalaya yang tinggal di lereng Gunung Galunggung, dipenuhi lahan dan kebun, empang dan kolam serta suasana alam yang sangat menenangkan membuat karakteristik tersendiri yang mempengaruhi kepribadian masyarakat Suku Sunda itu sendiri. Kondisi-kondisi yang asri dan tenang serta sejuk seperti demikian membuat pola interaksi masyarakat suku Sunda cenderung sangat damai, adem-ayem saja. Interaksi terbangun dengan sangat dinamis namun humanis,gotong-royong sesama masyarakat maupun interaksi-interaksi yang lain yang  seolah mengalir  begitu  saja.

         Ibu saya Yohanah Hs, dikutip dari beliau langsung. Adalah seorang yang dilahirkan dengan keluarga yang memiliki background Pengajar atau Guru. Kakek saya H. Juaeni Syamsudin bin Abdurrohman adalah seorang guru yang memiliki dedikasi tingkat tinggi. Sebagai guru dikampungnya, yang bertugas mendidik masyarakat membuat irama yang demikian itu dibawa beliau (kakek saya) kerumah sebagai bahan ajar dan bahan pendidikan bagi seluruh anak anaknya. Ketegasan sorang guru berlaku tidak hanya dikelas ketika beliau mengajar namun juga dirumah saat mendidik anak-anaknya terutama soal penddidikan yang menyangkut moralitas dan agama. Begitupu dengan istri beliau Nyai Turkiyah binti Ijo (nenek saya) yang menguatkan jalan yang telah diambil suaminya, yakni pola pendidikan`ketegasan, dan penanaman nilai-nilai moral dan agama yang terbukti sekarang mampu melahirkan generasi-generasi yang baik.

         Lalu keluarga besar ayah saya yang merupakan anggota struktur masyarakat "Betawi Pinggiran" istilahnya. Yakni masyarakat Suku Betawi yang tinggal di daerah pinggiran ibu kota Jakarta tepatnya Tangerang. Kondisi keterpinggiran masyarakat Betawi pada dasarnya disebabkan oleh karakter dan pola tingkah laku masyarakat betawi itu sendiri. Mengapa demikian? Masyarak Suku Betawi dikenal sebagai orang yang memiliki tanah yang amat luas berhektar-hektar, memiliki rumah-rumah yang disewakan (kontrakan) dan lahan-lahan yang disewakan. Tapi itu masa lalu, mindset orang betawi yang "tidaktahan" jika harus dihadapkan dengan tawaran uang yang sangat banyak membuat Orang-orang betawi melepaskan  hampir seluruh aset-asetnya yang berupa tanah, lahan maupun bangunan tadi. Yang tanpa disadari, sebenarnya menggeser secara perlahan keberadaan dan keutuhan masyarakat Betawi itu sendiri. Hingga banyak masyarakat betawiyang kini menepi ke daerah-daerah sekitar seperti Bekasi, Bogor, Depok maupun Tangsel dan Tangerang.

         Kakek buyut saya yang berasal dari ayah kalau disebutkan seperti ini silsilahnya. Kabir Al-Fadly bin H.Hasanudin bin H.Saban bin Sangkan bin Jeran dan seterusnya yang kesemuanya merupakan asli keturunan suku betawi yang hingga kini sedikit banyak mewariskan akar budaya turun temurun yang ditinggalan kakek moyang sejak dahulu. Walaupun tinggaldi daerah hitungannya ibukota yang menuntut sejak dulu kakek saya sudah harus kerja keras tiap hari bolak-balik Jakarta Kota-Tangerang dengan Onthel tuanya. Paman-paman saya, saya teringat jika mereka dahulu berkisah tentang perjuangan kakek saya yang berjualan cendol di ibukota kemudian mengumpulkan jerih payah hasil kerjanya hingga mampu membeli berpetak-petak sawah di kampungnya yang kini kami tempati. Dahulu termasuk saat saya masih kecil areal persawahan masih kerap saya dapati di kampung saya ini (Tangerang). Beda halnya dengan sekarang yang berubah menjadi deretan apartement, ruko bahkan mall. Ini seperti yang saya bilang sebelumnya sebagai titik lemah karakter orang betawi.

         Dari dua keluarga besar tersebut ada irisan-irisan kesamaan antara kultur masyarakat Betawi maupun Sunda yang saaling bersimbiosis membentuk sebuah keluarga besar yang syarat akan nilai-nilai baik agama, sosial, budaya dan lainnya. Yang kesemuanya mendarah daging masuk kesela- sela kehidupan kami semua sebagai sebuah keluarga yang mau tidak mau mengakui dan bangga terhadap "leluhur" atau orang tua dari keluarga besar kami.

 

 

B.     Jaringan Sosial

         Jaringan Sosial, ini yang menurut saya unik. Mengapa unik, karena jaringan inilah yang diibaratkan setrum dan kabel yang mengaliri seluruh komponen-komponen yang memiliki sebuah ikatan. Untuk masalah jaringan saya melihat pertama ada sebuah kekuatan suprastruktur yang dibangun oleh orang-orang tua terdahulu di keluarga besar saya yang masih terjaga hingga kini. Walau memiliki sifat seperti yang telah saya ungkapkan diatas, namunsejak dahulu para leluhur telah berfikir tentang sebuah jaringan yang terstruktur.

         Hampir semua kepala keluarga di kampung saya kini, adalah sebuah kelompok keluarga besar yang jika dilihat lebih jauh memiliki hubungan sedarah baik yang dekat maupun jauh. Kecuali para pendatang yang tinggal di kontrakan atau telah memiliki rumah sendiri. Malah dahulu menurut orangtua saya, satu kampung ini,yang kita huni ini adalah benar-benar sebuah ikatan masal, kelompok sosial yang bukan hanya secara biologis namun sebuah ikatan psikis dan sosiologis. Yang telah dibangun sejak waktu yang teramat lampau. Yang meilikir rasa sepenanggungan dan sependeritaan sebagai sebuah keluarga besar.

         Dan kini, struktur yang demikian tetap terpeliahara bahkan menjadi heteregon dengan kedatangan para pendatang dari Jawa utamanya yang mengadu nasib ke kota membentuk sebuah jaringan maaupun hubungan yang terjalin dengan sangat baik antara mmasyarakat peribumi maupun pendatang. Jaringan tersebut kini berkembang dan sangat dinamis dalam keluarga besar saya jaringan tersebut tidak hanya soal urusan fisik, psikis dan sosial bahkan merambah hingga membentuk sebuah jaringan ekonomi yang memiliki aarus timbal balik bagi keluarga saya maupun seluruh komponen masyarakat.

         Jaringan yang telah terbangun ini makin meluas hingga menyentuh komponen sosial lain yang memiliki karakteristik dan kesukuan yang berbeda. Lewat perkawinan dengan kelompok sosial yang lain terbukti membuat jaringan dan pola hubungan di keluarga saya yang semakin kesini semakin meluas.

 

 

C.     Nilai-nilai dan Sistem Sosial Budaya yang Diperwujudkan dalam Keluarga

         Bicara nilai di keluarrga besar saya berarti berbicara soal pola tingkah laku utamanya yang berkaitan dengan moralitas dan keagamaan. Karena mengapa seperi yang saya kutip pada penjelasan awal bahwasanya pendidikan agama dan moral adalah barometer dan titik acu dasar sebagai social control yang nantinya berbuah menjadi Nilai-nilaidan Sistem Sosial yang berlaku.

         Sebetunya tidak ada aturan khusus yang mengikat semua anggota keluarga besar saya, selama itu tidak mlewati batas batas etika, moral, akhlaq dan agama sah-sah saja walau tetap ada beberapa hal yang disoroti dan patut digaris bawahi yang seolah menjadi kesepakatan tidak tertulis yang memang betul diikuti dengan penuh kesadaran oleh seluruh anggota keluarga besar. Seperti soal dilarangnya seorang anak gadis "dilangkahi" oleh adik-adiknya. Namun tidak berlaku untuk anak laki laki.

         Atau kecenderungan untuk menyambung tali perkawinan dengan orang yang"dekat-dekat saja". Akan menjadi sesuatuyang tidak lazim dalam keluarga besar kami jika berbesan dengan orang yang jauh apalagi hingga ke luar pulau. Tapi ini hanya soal pembiasaan yang jika dilanggar sekalipun tidak akan membuat jatuhnya sanksi sosial yang akan memberatkan suatu anggota keluarga besar. Semua berjalan mengalir saja, mengikuti posisi dan menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing yang harus tetap saling menguatkan, membela, memperthankan dan saling mengingatkan dan menasehati karena kami semua adalah sebuah kelompok sosial yang diikat baik seacara lahir maupun batin.

 

Epilog:

        

·         Itulah seklumit tentang dinamika keluarga besar yang terjadi dan benar-benar saya alami sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sebuah komponen sosial yang terbentuk dari ikatan darah, ikatan nasib dan ikatan rasa yang saling melengkapi satu sama lain. Dibawah tatanan nilai-nilai yang telah disepakati bersama.

·         Tulisan ini ditulis berdasarkan observasi yang telah dijalani oleh penulis selama hidup dan menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.

·         Selain itu proses pengambilan data diambil pula lewat beberapa konfirmasi yang dilakukan oleh penulis kepada orang tua maupun saudara.

 

 

Tangerang, 9 Oktober 2015, 23.02

 

Cari Blog Ini