Sabtu, 19 September 2015

Definisi konflik sosial & perebutan sumber daya

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA

 

Apa itu konflik social ? konflik social adalah suatu interaksi social yang dimana adanya keadaan antara satu pihak dengan pihak lain di dalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam,menekan,atau adanya keinginan untuk menjatuhkan pihak lain yang pada akhirnya bisa menimbulkan kekerasan. Lalu apa saja faktor terjadinya konflik social ?

·         Adanya rasa saling ketergantungan antara pihak satu dengan pihak lainnya, yang tentu saja dapat menimbulkan konflik karena salah satu pihak merasa menjadi tempat bergantung pihak lain.

·         Perbedaan tujuan,adanya perbedaan tujuan tentu saja menimbulkan berbagai tabrakan tujuan yang sudah pasti menimbulkan gesekan-gesekan konflik.

·         Perbedaan pendapat atau presepsi yang sudah pasti berbeda pada setiap orang pada suatu masalah pasti akan menimbulkan suatu konflik.

 

Ada beberapa pandangan mengenai konflik,yakni :

·         Pandangan tradisional yang menyatakan bahwa konflik harus dihindari karena bias merusak hubungan kekeluargaan

·         Pandangan hubungan kemanusiaan yang menyatakan bahwa konflik pasti terjadi,karena itu bagian dari alamiah kemanusiaan.

·         Pandangan interaksionis  yang menyatakan bahwa konflik diperlukan untuk memberi kinerja positive dalam suatu kelompok.

 

Macam-macam konflik dalam hal (dengan siapa)  :

·         Konflik intraindividu : konflik yang dialami oleh dan dengan diri sendiri. Apa contohnya ? seperti saat kita bingung dalam memilih baju mana yang akan kita beli atau saat kita kecewa pada diri sendiri.

·         Konflik antarindividu : konflik yang terjadi antar satu individu dengan individu lain karena perbedaan tujuan atau pendapat. Apa contohnya ? seperti kelompok belajar yang saling menjatuhkan karena kelompok belajar yang satunya merasa bahwa kelompok belajar mereka menjiplak tugasnya.

·         Konflik antara organisasi : konflik yang terjadi antar satu staff di sebuah organisasi dengan staff lain. Apa contohnya ? konflik yang terjadi antara bagian pemasaran dengan bagian produksi,yang dimana misalnya pemasaran kurang bekerja dengan baik sehingga bagian produksi menurunkan tingkat produk yang akan dipasarkannya.

 

Macam-macam konflik yang ditinjau dari segi materi atau sumber masalahnya :

·         Konflik tujuan : adanya perbedaan tujuan,ntah antar individu , kelompok, ataupun antar organisasi.

·         Konflik peranan : karena setiap orang berperan lebih dari satu,yang kemungkinan bias bertabrakan dengan peran orang lain yang berbeda.

·         Konflik nilai : adalah konflik yang terjadi karena apa yang ia perbuat tidak sesuatu dengan nilai ataupun norma yang ada.

·         Konflik kebijakan : konflik ini timbul karena suatu individu atau kelompok tidak sependapat dengan kebijakan yang telah di tetapkan oleh sebuah organisasi.

 

Konflik juga menimbulkan 2 efek, yaitu :

1.      Mengintegrasikan (menyatukan), mengapa ? karena sesudah konfluik berakhir,ada beberapa yang justru malah saling memahami "bagaimana seharusnya peran saya" yang bias saling mengintropeksi diri dan menimbulkan kerukunan dengan pihak lain.

2.      Mengdisintegrasikan (memisahkan), mengapa ? karena,tidak sedikit pula yang sesudah konflik tetap pada ego nya dan malah memilih untuk tetap saling bersaing secara tidak sehat.

 

Apa itu perebutan sumberdaya ?

Perebutan sumber daya adalah kondisi dimana hampir setiap lapisan memiliki rasa ketamakan untuk menguasai sumberdaya ntah itu alam ataupun non alam dengan cara saling bersaing atau menjatuhkan pihak lain. Perebutan sumber daya,bisa terjadi antar individu dengan individu,kelompok dengan kelompok,ataupun organisasi antar organisasi, bahkan antar Negara sekalipun. Seperti contoh perebutan wilayah pulau-pulau yang berada di Indonesia yang di klaim oleh Malaysia yang tentu saja ini masuk pada contoh kasus perebutan sumberdaya. Perebutan sumber daya tentu sangat erat hubungannya dengan konflik social, mengapa ? karena kosakata "perebutan" termasuk definisi dari konflik.

sumber : www.kokaino.wordpress.com (mengenai pandangan konflik)
               buku catatan Sosiologi pada saat kelas 2 Sma

 catatan : pak,saya mengenai perebutan sumberdaya belom menemukan seperti apa spesifiknya,maka dari itu ini hanya sekedar pemikiran saya saja.

nama : Nadya Hendriyan Putri (11150510000158)
Jurnalistik 1A

Firda Nur Fildzah Konflik Sosial dan Perebutan Sumberdaya Tugas 3

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA

Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Istilah "konflik" secara etimologis berasal dari bahasa Latin "con" yang berarti bersama dan "fligere" yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan demikian, "konflik" dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih.

Konflik ternyata suatu proses yang dipraktikkan secara luas, yang berbeda dengan kompetisi yang selalu berlangsung damai. Konflik sosial adalah Suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Proses sosial yang namanya konflik sosial itu adalah suatu proses yang bersifat disosiatif. Namun demikian, sekalipun sering berlangsung dengan keras dan tajam, proses sosial juga berakibat positif. 

Terdapat dua pemicu terjadinya konflik sosial yang berujung saling mengalahkan, melenyapkan, dan memusnahkan, yakni; perbedaan kepentingan dan pandangan. Perbedaan antara teori konflik dan fungsionalisme struktural terletak pada asumsi yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat. Pandangan teori struktural fungsional menempatkan elemen-elemen sosial dalam keadaan saling berhubungan secara normal dan saling mendukung kelangsungan hidup sistem sosial, sementara teori konflik sosial memandang antar-elemen sosial memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda.

Konflik sosial juga bisa terjadi karena empat faktor, yakni; Perbedaan Individu, Perbedaan Kepentingan, Perbedaan Kebudayaan, dan Pelanggaran HAM. Perbedaan Individu terjadi karena sifat dan karakter yang dimiliki setiap orang berbeda, mereka berbeda dalam cara memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Setiap individu pasti memiliki rencana harian yang akan dilakukan, maka dari itu akan terjadilah konflik sosial bila salah seorang dari kelompok tersebut tidak menyetujui rencana tersebut. Perbedaan kebudayaan terbentuk dari suatu interaksi sosial yang tidak sesuai dengan lingkungan setempat, perbedaan persepsi ,dan perbedaan ideologi. Seseorang yang menentang HAM tentu akan berontak dan juga berakhir pada konflik sosial.

Sumber daya adalah Suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga non-fisik (intangible). Sumber daya ada yang dapat berubah, baik menjadi semakin besar maupun hilang, dan ada pula sumber daya yang kekal (selalu tetap). Selain itu, dikenal pula istilah sumber daya yang dapat pulih atau terbarukan (renewable resources), dan sumber daya tak terbarukan (non-renewable resources) ke dalam sumber daya dapat pulih termasuk tanaman dan hewan (sumber daya hayati).

Perebutan sumberdaya juga merupakan salah satu contoh konflik sosial, bahkan hal ini sering terjadi di Indonesia. Perebutan sumberdaya seperti perebutan tanah Sipadan dan Ligitan. Tanah ini disengketakan Indonesia dan Malaysia, tanah tersebut juga milik Indonesia, namun selalu diakui oleh Negara Malaysia. Perebutan sumberdaya yang tidak asing lagi yang terjadi antara Indonesia Malaysia yakni batik dan alat music angklung. Hal ini juga tidak meninggalkan konflik sosial yang heboh.

Konflik sosial yang sering terjadi di keluarga yakni ketika anak dan orang tua berbeda pendapat masalah kelanjutan studinya di jenjang perguruan tinggi. Di dalam sebuah organisasi, meski organisasi sudah memiliki visi, misi, program kerja, dan tujuan dari sebuah acara yang akan dilaksanakan, namun dalam pelaksanaanya tetap terjadi konflik sosial, hal ini terjadi karena penyebab konflik sosial adalah perbedaan kepentingan.

 

 

Sumber :

Usman Kolip dan dan Elly M. Setiadi. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Bagong Suyanto dan J. Dwi Narwoko. 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

M Fahmi Nurdin.Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan. tugas 1 sosiologi kesehatan

M Fahmi Nurdin
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting
dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui
pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan
tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan
oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Notoatmodjo, 2007).
Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang
kondusif, perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan
kesehatan yang berhasil dan berdaya guna tersebar merata di seluruh
wilayah Indonesia.Akan tetapi pada kenyataanya, pembangunan kesehatan
masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan-permasalahan kesehatan
masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah: penyakit-penyakit
seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin menyebar luas,
kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak, prioritas kesehatan rendah,
serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. sebenarnya
individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status
kesehatan. Dengan kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan
tentang kesehatan yang biasa kita lakukan dan mengikuti perubahan
zaman (Prasetyawati, 2012).
Masyarakat dan kebudayaan manusia dimanapun selalu berada dalam
keadaan berubah, baik dari masyarakat dengan kebudayaan primitive yang
terisolasi dari hubungan masyarakat di luar dunianya sendiri.
Perubahan yang terjadi dalam kebudayaan primitive terjadi karena
adanya sebab yang yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan
itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Mitos telah menjadi adat istiadat yang bersifat turun temurun dari
orang tua kita terdahulu, menjadi suatu hal yang biasa dan sangat
mereka yakini. Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan
tidak layak untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos
yang dapat dinalar, diterima oleh akal dan ternyata ada faktanya.
Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita mengulas soal
mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui
faktanya (Alamsyah, 2011).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang yaitu
lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dimana
lingkungan sosial ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Manusia
sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan satu sama lain
dengan lingkungannya sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain,
dalam memecahkan berbagai masalah individu maupun masalah-masalah
sosial yang terjadi dalam lingkungan sekitar manusia.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan adat
istiadat yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku
seseorang termasuk dalam perilaku kesehatan, sehingga petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
mempunyai latar belakang suku, adat istiadat dan budaya yang berbeda,
harus mampu memahami budaya masyarakat yang dilayaninya.
Koentjaraningrat, (2002)mengemukakan bahwa ada beberapa aspek sosial
yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah :

a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit
berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebiha banyak menderita
penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih banyak menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker,
dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya
dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan
laki-laki banyak menderita kanker prostat.
c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya
dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja
yang banyak dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing.
Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri , misal dipabrik tekstil
banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak
terpapar dengan debu.
d. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya
penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak
ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada
perilaku kesehatan :
1. Self concept
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau
ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama
bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain.
Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa yang kita
lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.
2. Image kelompok
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai
contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran
dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau
petani tidak terpapar dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan
juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan adalah:
a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi
wabah penyakit kuru.penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus.penderita hamya terbatas pada anak-anak dan
wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar
karena adanya tadisi kanibalisme
b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan. Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok
tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah
titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat
kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi
anaknya yang sakit pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.
c. Sikap ethnosentris
Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa kebudayaan
sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak
lain.misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu
dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya
dari masyarakat yang sedang berkembang. tetapi dari sisi lain,semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar
alamiah adalah yang terbaik. Oleh karena itu,sebagai petugas kesehatan
kita harus menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah
orang yang paling pandai,paling mengetahui tentang masalah kesehatan
karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan masyarakat
setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan masyarakat tersebut
dalam masalah kesehatan masyarakat.dalam hal ini memang petugas lebih
menguasai tentang masalah kesehatan,tetapi masyarakat dimana mereka
bekerja lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh : Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan
tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu
kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat
bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan
mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan
kambing.
e. Pengaruh norma
Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya,norma
dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota
masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai
pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan.
Contoh : upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak
mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara
dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna
pelayanan.
f. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan. Contoh : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih
daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih
tinggi diberas merah daripada diberas putih. Meskipun masyarakat
mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1 jika
dibandingkan dengan beras putih,masyarakat ini memberikan nilai bahwa
beras putih lebih enak dan lebih bersih.
Contoh lain adalah masih banyak petugas kesehatan yang merokok
meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap
kesehatan
g. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa (Notoatmodjo, 2007).
Pada tingkat awal proses sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain
bagaimana cara makan,bahan makanan apa yang dimakan,cara buang air
kecil dan besar,dan lain-lain. kebiasaan tersebut terus dilakukan
sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut
sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah
(Koentjaraningrat, 2002).

Ali Nida. Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan. tugas 1 sosiologi kesehatan

Ahmad Ali Nidaulhaq
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya tidak bisa hidup
sendiri sehingga membentuk kesatuan hidup yang dinamakan
masyarakat.dengan definisi tersebut,Ternyata pengertian masyarakat
masih dirasakan luas dan abstrak sehingga untuk lebih konkretnya maka
ada beberapa unsur masyarakat,unsur masyarakat dikelompokan menjadi 2
bagian yaitu:kesatuan sosial dan pranata sosial.kesatuan sosial
merupakan bentuk dan susunan dari kesatuan-kesatuan individu yang
berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.sedangkan yang dimaksud
pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan
masyarakat.norma-norma tersebut memberikan Petunjuk bagi tingkah laku
seseorang yang hidup dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak
membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan
pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang
sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan
norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Indonesia yang yang terdiri dari beragam etnis tentu memiliki banyak
budaya dalam masyarakatnya. Terkadang, budaya suatu etnis dengan etnis
yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini menyebabkan suatu budaya yang
positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis lainnya. Sehingga
tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di Indonesia begitu
kompleksnya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah
faktor sosial budaya, bila faktor tersebut telah tertanam dan
terinternalisasi dalam kehidupan dan kegiatan masayarakat ada
kecenderungan untuk merubah perilaku yang telah terbentuk tersebut
sulit untuk dilakukan. Untuk itu, untuk mengatasi dan memahami suatu
masalah kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai budaya
dasar dan budaya suatu daerah. Sehingga dalam mensosialisasikan
kesehatan pada masyarakat luas dapat lebih terarah yang implikasinya
adalah naiknya derajat kesehatan masyarakat.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan
sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat
dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam
proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap
kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak
hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti
tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan
keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.
Perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas
seseorang yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai
faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Determinan faktor
internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat
bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin
dan sebagainya. Sedangkan determinan faktor eksternal adalah factor
yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang, yaitu lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sudarti (2005)
yang menyimpulkan pendapat Bloom tentang status kesehatan, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu; lingkungan
yang terdiri dari lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, perilaku,
keturunan, dan pelayanan kesehatan, selanjutnya Bloom menjelaskan,
bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja mempengaruhi status
kesehatan, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Selanjutnya
Sudarti (2005), yang mengutip pendapat G.M. Foster menyatakan, selain
aspek sosial yang mempengaruhi perilaku kesehatan, aspek budaya juga
mempengaruhi kesehatan seseorang antaranya tradisi, sikap fatalisme,
nilai, etnocentrism, dan unsur budaya yang dipelajari pada tingkat
awal dalam proses sosialisasi.
Green dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perilaku manusia dari
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor
perilaku (behaviour cause) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour
cause). Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga faktor,
yaitu;
1. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya
2. Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, air
bersih dan sebagainya
3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
1. Pengetahuan Kesehatan (health knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui penginderaan mata (melihat) dan
telinga (mendengar). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih permanen dianut oleh seseorang dibandingkan dengan perilaku yang
biasa berlaku, pengetahuan yang dimiliki sangat penting untuk
terbentuk sikap dan tindakan.
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui oleh
seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan. Indikator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi tiga indikator, yaitu;
1) Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2) Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3) Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2007).

2. Sikap Terhadap Kesehatan (health attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau
ketidak senangan seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari
pengalaman, atau dari orang yang dekat dengan kita. Mereka dapat
mengakrabkan kita dengan sesuatu, atau menyebabkan kita menolaknya
(Wahid, 2007).
Sikap dapat dipandang sebagai predisposisi untuk bereaksi dengan cara
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap objek, orang dan
konsep apa saja. Ada beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut,
yaitu:
1) sikap berhubungan dengan perilaku
2) sikap yang berkaitan erat dengan perasaan seseorang terhadap objek
3) sikap adalah konstruksi yang bersifat hipotesis, artinya
konsekuensinya dapat diamati, tetapi sikap itu tidak dapat dipahami.
Adapun ciri-ciri sikap menurut Azwar (2009) adalah sebagai berikut :
1. Pemikiran dan perasaan (Thoughts and feeling), hasil pemikiran
dan perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan
pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau stimulus.
2. Adanya orang lain yang menjadi acuan (Personal reference)
merupakan factor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi
tetap mengacu pada pertimbangan-pertimbangan individu.
3. Sumber daya (Resources) yang tersedia merupakan pendukung
untuk bersikap positif atau negatif terhadap objek atau stimulus
tertentu dengan pertimbangan kebutuhan dari pada individu tersebut.
4. Sosial budaya (Culture), berperan besar dalam memengaruhi pola
pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek/stimulus tertentu.

3. Tindakan Kesehatan (health practice)
Praktik kesehatan ataupun tindakan untuk hidup sehat adalah semua
kegiatan atau aktivitas seseorang dalam rangka memelihara kesehatan.
Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan (over behavior),
untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas (sarana dan prasarana),
juga diperlukan dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo,
2007).

KESIMPULAN
Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu
tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem
kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang
bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial
budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan
tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang
untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan
pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan.
Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi
tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam
memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit. Oleh karena itu dalam
memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam
hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian
individu-individunya.

M Fahmi Nurdin. perubahan sosial dan perlikau masyarakat terhadap kesehatan

M Fahmi Nurdin
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting
dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui
pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan
tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan
oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Notoatmodjo, 2007).
Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang
kondusif, perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan
kesehatan yang berhasil dan berdaya guna tersebar merata di seluruh
wilayah Indonesia.Akan tetapi pada kenyataanya, pembangunan kesehatan
masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan-permasalahan kesehatan
masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah: penyakit-penyakit
seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin menyebar luas,
kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak, prioritas kesehatan rendah,
serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. sebenarnya
individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status
kesehatan. Dengan kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan
tentang kesehatan yang biasa kita lakukan dan mengikuti perubahan
zaman (Prasetyawati, 2012).
Masyarakat dan kebudayaan manusia dimanapun selalu berada dalam
keadaan berubah, baik dari masyarakat dengan kebudayaan primitive yang
terisolasi dari hubungan masyarakat di luar dunianya sendiri.
Perubahan yang terjadi dalam kebudayaan primitive terjadi karena
adanya sebab yang yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan
itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Mitos telah menjadi adat istiadat yang bersifat turun temurun dari
orang tua kita terdahulu, menjadi suatu hal yang biasa dan sangat
mereka yakini. Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan
tidak layak untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos
yang dapat dinalar, diterima oleh akal dan ternyata ada faktanya.
Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita mengulas soal
mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui
faktanya (Alamsyah, 2011).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang yaitu
lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dimana
lingkungan sosial ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Manusia
sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan satu sama lain
dengan lingkungannya sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain,
dalam memecahkan berbagai masalah individu maupun masalah-masalah
sosial yang terjadi dalam lingkungan sekitar manusia.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan adat
istiadat yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku
seseorang termasuk dalam perilaku kesehatan, sehingga petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
mempunyai latar belakang suku, adat istiadat dan budaya yang berbeda,
harus mampu memahami budaya masyarakat yang dilayaninya.
Koentjaraningrat, (2002)mengemukakan bahwa ada beberapa aspek sosial
yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah :

a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit
berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebiha banyak menderita
penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih banyak menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker,
dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya
dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan
laki-laki banyak menderita kanker prostat.
c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya
dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja
yang banyak dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing.
Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri , misal dipabrik tekstil
banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak
terpapar dengan debu.
d. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya
penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak
ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada
perilaku kesehatan :
1. Self concept
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau
ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama
bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain.
Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa yang kita
lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.
2. Image kelompok
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai
contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran
dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau
petani tidak terpapar dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan
juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan adalah:
a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi
wabah penyakit kuru.penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus.penderita hamya terbatas pada anak-anak dan
wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar
karena adanya tadisi kanibalisme
b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan. Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok
tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah
titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat
kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi
anaknya yang sakit pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.
c. Sikap ethnosentris
Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa kebudayaan
sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak
lain.misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu
dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya
dari masyarakat yang sedang berkembang. tetapi dari sisi lain,semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar
alamiah adalah yang terbaik. Oleh karena itu,sebagai petugas kesehatan
kita harus menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah
orang yang paling pandai,paling mengetahui tentang masalah kesehatan
karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan masyarakat
setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan masyarakat tersebut
dalam masalah kesehatan masyarakat.dalam hal ini memang petugas lebih
menguasai tentang masalah kesehatan,tetapi masyarakat dimana mereka
bekerja lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh : Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan
tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu
kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat
bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan
mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan
kambing.
e. Pengaruh norma
Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya,norma
dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota
masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai
pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan.
Contoh : upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak
mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara
dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna
pelayanan.
f. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan. Contoh : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih
daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih
tinggi diberas merah daripada diberas putih. Meskipun masyarakat
mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1 jika
dibandingkan dengan beras putih,masyarakat ini memberikan nilai bahwa
beras putih lebih enak dan lebih bersih.
Contoh lain adalah masih banyak petugas kesehatan yang merokok
meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap
kesehatan
g. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa (Notoatmodjo, 2007).
Pada tingkat awal proses sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain
bagaimana cara makan,bahan makanan apa yang dimakan,cara buang air
kecil dan besar,dan lain-lain. kebiasaan tersebut terus dilakukan
sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut
sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah
(Koentjaraningrat, 2002).

ali.perubahan sosial dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan

Ahmad Ali Nidaulhaq
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya tidak bisa hidup
sendiri sehingga membentuk kesatuan hidup yang dinamakan
masyarakat.dengan definisi tersebut,Ternyata pengertian masyarakat
masih dirasakan luas dan abstrak sehingga untuk lebih konkretnya maka
ada beberapa unsur masyarakat,unsur masyarakat dikelompokan menjadi 2
bagian yaitu:kesatuan sosial dan pranata sosial.kesatuan sosial
merupakan bentuk dan susunan dari kesatuan-kesatuan individu yang
berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.sedangkan yang dimaksud
pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan
masyarakat.norma-norma tersebut memberikan Petunjuk bagi tingkah laku
seseorang yang hidup dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak
membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan
pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang
sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan
norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Indonesia yang yang terdiri dari beragam etnis tentu memiliki banyak
budaya dalam masyarakatnya. Terkadang, budaya suatu etnis dengan etnis
yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini menyebabkan suatu budaya yang
positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis lainnya. Sehingga
tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di Indonesia begitu
kompleksnya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah
faktor sosial budaya, bila faktor tersebut telah tertanam dan
terinternalisasi dalam kehidupan dan kegiatan masayarakat ada
kecenderungan untuk merubah perilaku yang telah terbentuk tersebut
sulit untuk dilakukan. Untuk itu, untuk mengatasi dan memahami suatu
masalah kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai budaya
dasar dan budaya suatu daerah. Sehingga dalam mensosialisasikan
kesehatan pada masyarakat luas dapat lebih terarah yang implikasinya
adalah naiknya derajat kesehatan masyarakat.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan
sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat
dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam
proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap
kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak
hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti
tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan
keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.
Perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas
seseorang yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai
faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Determinan faktor
internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat
bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin
dan sebagainya. Sedangkan determinan faktor eksternal adalah factor
yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang, yaitu lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sudarti (2005)
yang menyimpulkan pendapat Bloom tentang status kesehatan, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu; lingkungan
yang terdiri dari lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, perilaku,
keturunan, dan pelayanan kesehatan, selanjutnya Bloom menjelaskan,
bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja mempengaruhi status
kesehatan, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Selanjutnya
Sudarti (2005), yang mengutip pendapat G.M. Foster menyatakan, selain
aspek sosial yang mempengaruhi perilaku kesehatan, aspek budaya juga
mempengaruhi kesehatan seseorang antaranya tradisi, sikap fatalisme,
nilai, etnocentrism, dan unsur budaya yang dipelajari pada tingkat
awal dalam proses sosialisasi.
Green dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perilaku manusia dari
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor
perilaku (behaviour cause) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour
cause). Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga faktor,
yaitu;
1. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya
2. Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, air
bersih dan sebagainya
3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
1. Pengetahuan Kesehatan (health knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui penginderaan mata (melihat) dan
telinga (mendengar). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih permanen dianut oleh seseorang dibandingkan dengan perilaku yang
biasa berlaku, pengetahuan yang dimiliki sangat penting untuk
terbentuk sikap dan tindakan.
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui oleh
seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan. Indikator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi tiga indikator, yaitu;
1) Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2) Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3) Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2007).

2. Sikap Terhadap Kesehatan (health attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau
ketidak senangan seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari
pengalaman, atau dari orang yang dekat dengan kita. Mereka dapat
mengakrabkan kita dengan sesuatu, atau menyebabkan kita menolaknya
(Wahid, 2007).
Sikap dapat dipandang sebagai predisposisi untuk bereaksi dengan cara
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap objek, orang dan
konsep apa saja. Ada beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut,
yaitu:
1) sikap berhubungan dengan perilaku
2) sikap yang berkaitan erat dengan perasaan seseorang terhadap objek
3) sikap adalah konstruksi yang bersifat hipotesis, artinya
konsekuensinya dapat diamati, tetapi sikap itu tidak dapat dipahami.
Adapun ciri-ciri sikap menurut Azwar (2009) adalah sebagai berikut :
1. Pemikiran dan perasaan (Thoughts and feeling), hasil pemikiran
dan perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan
pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau stimulus.
2. Adanya orang lain yang menjadi acuan (Personal reference)
merupakan factor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi
tetap mengacu pada pertimbangan-pertimbangan individu.
3. Sumber daya (Resources) yang tersedia merupakan pendukung
untuk bersikap positif atau negatif terhadap objek atau stimulus
tertentu dengan pertimbangan kebutuhan dari pada individu tersebut.
4. Sosial budaya (Culture), berperan besar dalam memengaruhi pola
pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek/stimulus tertentu.

3. Tindakan Kesehatan (health practice)
Praktik kesehatan ataupun tindakan untuk hidup sehat adalah semua
kegiatan atau aktivitas seseorang dalam rangka memelihara kesehatan.
Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan (over behavior),
untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas (sarana dan prasarana),
juga diperlukan dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo,
2007).

KESIMPULAN
Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu
tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem
kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang
bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial
budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan
tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang
untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan
pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan.
Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi
tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam
memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit. Oleh karena itu dalam
memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam
hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian
individu-individunya.

Jumat, 18 September 2015

Risha Shafira Deskansa-11150510000002-KPI 1A-KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA-Tugas 3

KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA

 

Nama  : Risha Shafira Deskhansa

Kelas   : KPI 1/A

NIM    : 11150510000002

 

A.   Konflik Sosial Menurut Prospektif Sosiologi

Pada hakikatnya, teori konflik sosial muncul sebagai bentuk reaksi atas tumbuh suburnya teori fungsionalisme stuktural yang dianggap kurang memperhatikan fenomena konflik sebagai salah satu gejala di masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Teori konflik adalah salah satu prespektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian atau komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda di mana konponen yang satu berusaha menaklukan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya.

Menurut Marx, pendekatan konflik sosial ini dapat dilakukan dengan cara memandang masyarakat berdasarkan kelas borjuis (yang memiliki sarana lengkap) dan proletar ( yang hanya dapat menjual tenanganya). Dengan begitu terjadinya konflik antarkelas sosial ini terjadi karena pengekploitasian terhadap kelompok proletar. Perubahan sosial ini berdampak buruk pada kelompok proletar karena akan semakin banyaknya jumlah penduduk yang akan menyulitkan kehidupan kelompok ini akan tuntutan lapangan pekerjaan yanag tidak sesuai dengan pertumbuhan penduduk. Gejala inilah yang menyebabkan ketimpangan sosial.

Menurut Dahrendorf, dalam setiap kehidupan masyarakat selalu ada asosiasi seperti; Negara, industri, partai, agama klub-klub dan sebagainya. Dalam setiap asosiasi akan selalu ada dua kelas, yaitu kelas yang mempunyai kewenangan (dominasi) dan yang tak memiliki wewenang (subjeksi).

Setiap kehidupan sosial selalu berada dalam proses perubahan dan terdapat konflik di dalam dirinya sendiri, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanen dan mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Dan setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil perubahan dan konflik sosial yang saling berpengaruh. Serta setiap masyarakat akan terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi kekuatan secara sepihak yang menimbulkan konsiliasi.

Ada banyak akibat konflik sosial, akan tetapi para sosiolog sepakat menyimpulkannya dalam 5 poin penting berikut ini:

1.     Bertambah kuatnya rasa solidaritas kelompok.

2.     Hancurnya kesatuan kelompok.

3.     Adanya perubahan kepribadian individu.

4.     Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada.

5.     Hilangnya harta benda dan korban manusia.

 

B.   Sumber Daya Menurut Prospektif Sosiologi.

 

Sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga non-fisik 

Dalam pembangunan kualitas sumber daya masyarakat indonesia tentunya tidak luput dari fakta sosial, tindakan sosial, Khayalan sosilogis, dan realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat indonesia secara umum ataupun khusus untuk membuat suatu pemecahan terhadap hal-hal yang dapat menurunkan kualitas sumber daya masyarakat. Perubahan masyarakat dapat dipelajari muali dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasrkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh.

Dengan adanya suatu research mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang terjadi dimasyarakat melalui pendekatan-pendekatan sosial maka akan terlihat perubahan pada masyarakat secara keseluruhan guna mengetahui aspek-aspek sosiologis pada masyarakat akan bisa menjadi suatu pemecahan terhadap penghambat pembangunan kualitas sumber daya masyarakat indonesia.

Maka dari itu untuk melakukan researh terhadap fakta-fakta sosial di butuhkan pemahaman terhadap ilmu sosiologi guna meningkatkan pembangunan kualitas masyarakat indonesia.

 

C.   Contoh Dalam Kehidupan Sehari-Hari.

 

-        Anti-Malaysia akibat kekerasan TKI di Malaysia.

-        Perang antara Irak dan Iran

-        Kasus kemelut  antara karyawan dan monopoli yang dilakukan oleh direktur utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI)

-        Persengketaan tanah

-        Perusahaan besar Indonesia yang lebih mempercayakan pekerja asing yang  bekerja di perusahaannya dibandingkan pekerja lokal.

 

Referensi : Setiadi, Elly M & Kolip, Usman. Pengantar Sosiologi. Bandung ; kencana, 2011

Kamis, 17 September 2015

MAULIDYA MUSLIMAH - JNRL 1A - KOMUNITAS, ORGANISASI SOSIAL, DAN KELOMPOK SOSIAL - TUGAS 1

Nama : Maulidya Muslimah

NIM : 11150510000052

 

KOMUNITAS, ORGANISASI SOSIAL, DAN KELOMPOK SOSIAL

 

A.    Definisi

 

1.      Komunitas

Komunitas merupakan suatu  unit atau  kesatuan sosial yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok dengan kepentingan bersama (communitis of common interest), baik yang bersifat fungsional maupun yang mempunyai territorial.

2.      Organisai sosial

Secara harfiah organisasi adalah suatu kesatuan orang-orang yang tersusun dengan teratur  berdasarkan pembagian tugas tertentu. Dan sosial adalah sesuatu yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan  masyarakat. Dapat di artikan organisasi sosial merupakan suatu susunan atau struktur dari berbagai hubungan amtar manusia yang terjadi dalam masyarakat, dimana hubungan tersebut merupakan suatu kesatuan yang teratur.

            Secara luas organisasi sosial adalah jaringan tingkah laku manusia dalam ruang lingkup yang kompleks pada setiap masyarakat. Dalam arti sempit tingkah laku seorang dalam kelompok-kelompok kecil, seperti keluarga, sekolah, dan sebagainya.

            Secara ringkas organisasi sosial adalah suatu rangkaian pelampiasan terstuktur hubungan antar manusia yang saling ketergantugan.

 

Dalam suatu organisasi sosial terdapat proses yang dinamis, dimana hubungan antara manusia di dalamnya senantiasa berubah-ubah.

 

3.      Kelompok sosial

Kelompok sosial merupakam kesatuan sosial yang terdiri dari kumpulan individu-individu yang hidup bersama dengan mengadakan hubungan timbal balik yang cukup intensif dan teratur. Hidup manusia selalu tergantung dengan manusia lainnya dalam memenuhi ketiga hajat hidupnya. Karena manusia tidak dapat hidup secara mandiri.

Syarat-syarat suatu kelompok menjadi kelompok sosial :

a.       Setiap individu harus merupakam bagian dari kesatuan sosial

b.      Terdapat hubungan timbal balik

c.       Adanya faktor kesamaan (tujuan)

d.      Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku

e.       Bersistem dan berproses.

Kelompok sosial pada dasarnya dapat di bedakan atas :

a.       Kelompok sosial teratur:

1.      Berdasarkan atas jumlah anggota (primary grooup dan secondary group)

2.      Berdasarkan atas derajat organisasi (formal group dan informal group)

3.      Berdasarkan atas interaksinya ( refrence group dan membership group)

b.      Kelompok sosial yang tidak teratur

1.      Kerumunan (crowd)

2.      Publik.

 

B.     Perbedaan dan Persamaan

Perbedaan antara komunitas, organisai sosial dan kelompok sosial ialah :

1.      Komunitas ialah kesatuan sosial yang terorganisasi dalam kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan bersama.

2.      Organisasi sosial ialah hubungan antar manusia yang didalamnya senantiasa berubah-ubah.

3.      Kelompok sosial ialah kumpulan individu-individu yang hidup bersama dan memiliki hubungan timbal balik yang intensif dan teratur.

Persamaan antara komunitas, organisasi sosial dan kelompok sosial ialah :

1.      Saling memiliki kepentingan bersama.

2.      Hubungan antar manusia yang saling bergantung

 

C.     Contoh komunitas, organisasi dan kelompok sosial dalam kehudupan sehari-hari

 

1.      Komunitas

Komunitas ialah gabungan dari beberapa organisasi yang ada dan memiliki kepentingan yang sama. Contohnya ialah para organisasi touring motor banyak yang menyatukan beberapa organisasi motor dan menjadikan komunitas di saat ingin tour ke suatu daerah.

2.      Organisasi sosial

Organisasi-organisasi yang ada di sekeliling kita seperti osis, pramuka, karang taruna dan lain sebagainya.

3.      Kelompok sosial

Contoh kelompok sosial yang paling kita ketahui ialah keluarga. Hampir semua manusia pada mulanya menjadi anggota kelompok keluarga.

 

Tugas individu

Shaleha Nurudina_11150510000224_Jurnalistik 1_B

Definisi Komunitas,organisasi.dan kelompok sosial.beserta perbedaan dan persamaannya.

Komunitas adalah satuan sosial yang didasari oleh lokalitas, mempunyai ikatan solideritas yang kuat antar anggotanya sebagai akibat kesamaan tempat tinggal, memiliki perasaan membutuhkan satu sama lain, serta keyakinan tanah di mana tempat mereka tinggal memberikan kehidupan kepada mereka (Community Sentiment). Unsur-unsur sentimen komunitas terdiri dari: Unsur perasaan, unsur sepenanggungan dan unsur memerlukan.

 Contoh,   *Komunitas pecinta sepeda ontel.

                 *Komunitas blogger.

Organisasi adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.

Contoh,    * HMI (himpunan mahasiswa islam).

                 *Pramuka.

                 *Oppm(organisasi pelajar pondok modern).

Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan & saling berinteraksi atau himpunan kesatuan manusia yang hidup bersama ,karena adanya hubungan di antara mereka.

Contoh,    *Karang taruna Komplek halim perdana kusuma.

                 *Kelompok belajar.

Persamaan dari ketiganya :

Ketiganya sama sama membutuhkan interaksi satu sama lain,hubungan timbal balik,dan tidak bisa dilakukan perorangan.ketiganya sama sama mempunyai peran dalam mempererat kebersamaan dan kekompakan antar makhluk sosial.

Perbedaan dari ketiganya :

Kelompok : adalah merupakan sekumpulan atau gabungan baik itu suatu benda atau barang, hewan maupun manusia dalam suatu wadah tertentu.

Organisasi : adalah sekumpulan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama dalam suatu wadah tertentu dan biasanya bersifat formal serta bernaungan hukum.

 

Komunitas :  adalah sekumpulan orang-orang yang mempunyai kesamaan seperti sifat, hobi dan lain-lain. Biasanya bersifat informal, cenderung bebas dan tidak mempunyai tujuan yang jelas atau sekedar ekspresi jiwa, tergantung chemistry anggota-anggotanya.

tugas individu sosiologi

Jurnalistik 1A
Anwar Kamil Hanif 1115150000036
"Komunitas, Organisasi, dan Kelompok Soisal"

A. Komunitas
Komunitas adalah kelompok sosial yang berasal dari beberapa organisme yang saling berinteraksi di dalam daerah tertentu dan saling bebagi lingkungan. Biasanya mempunyai ketertarikan dan habitat yang sama.
Definisi Komunitas yang lainya adalah sebuah kelompok yang menunjukkan adanya kesamaan kriteria sosial sebagai ciri khas keanggotaannya, misalnya seperti: kesamaan profesi, kesamaan tempat tinggal, kesamaan kegemaran dan lain sebagainya. Seperti contohnya: kelompok petani, karyawan pabrik, kelompok warga, kelompok suporter sepak bola dan lain sebagainya.
Tujuan dibentuknya komunitas yaitu untuk dapat saling membantu satu sama lain dalam menghasilkan sesuatu, sesuatu tersebut adalah tujuan yang telah di tentukan sebelumnya.
Apa yang dimaksud dengan komunitas ? Berikut ini beberapa pengertian komunitas menurut para ahli :

1. Hendro Puspito – Kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur & tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama.
2.Soenarno (2002) – Komunitas adalah sebuah identifikasi & interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional.
menurut Paul B. Horton & Chaster L. Hunt – Kelompok sosial adalah suatu kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya & saling berinteraksi.
Adapun beberapa manfaat dari komunitas, diantaranya seperti di bawah ini :
Misalnya kita membentuk komunitas bisnis, didalam komunitas kita akan mendapatkan info mengenai bisnis. Atau contoh lainnya kita membentuk komunitas otomotif, disanapun kita akan mendapatkan berbagai macam informasi mengenai otomotif.
Dapat menjalankan program dengan arah yang sama dan dapat saling memberikan informasi ter-update satu sama-lain.
Lalu dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang memiliki pemikiran dan tujuan yang sama.
Perlu diketahui bahwa suatu komunitas tidak akan berjalan dengan baik jika anggotanya tidak dapat mematuhi pada ketentuan-ketentuan komunitas itu sendiri, dan tidak berinteraksi satu sama lain, jadi dalam komunitas harus mematuhi ketentuan-ketentuan yang ada dan harus saling berinteraksi.

B. Organisasi
Organisasi dalam bahasa Yunani: ὄργανον, organon - alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), atau analisis organisasi (organization analysis). Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok satu sama lain, dan ada pula yang berbeda.Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut.
Stoner mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
James D. Mooney mengemukakan bahwa organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Chester I. Bernard berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Stephen P. Robbins menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Keith Davis juga mengemukakan jenis-jenis partisipasi, yaitu sebagai berikut :
1. Pikiran (psychological participation)
2. Tenaga (physical partisipation)
3. Pikiran dan tenaga
4. Keahlian
5. Barang
6. Uang

C. Kelompok Sosial
Kelompok sosial adalah merupakan sekumpulan atau sekelompok orang yang ada di masyarakat dan memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi satu sama lain, serta biasanya memiliki suatu kesuakaan yang sama (hobbi, pekerjaan, aktivitas, fans dsb). Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya. Berikut ini adalah pengertian kelompok sosial menurut para ahli :

1. Soerjono Soekanto Pengertian dari Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
2. Paul B. Horton dan Chester L Hunt Istilah kelompok sosial diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotannya dan saling berinteraksi.
3. George Homans Kelompok adalah kumpulan individu yang melakukan kegiatan, interaksi, dan memiliki perasaan untuk membentuk suatu keseluruhan yang terorganisasi dan berhubungan.

Adapun contoh-contoh kelompok social :
1. Kelompok Sepeda Onthel Yogyakarta
2. Remaja Masjid Al-Hikmah Sleman
3. Karang Taruna

Menurut Soerjono Soekato, suatu himpunan manusia atau yang dikatan sebagai kelompok sosial memiliki ciri kurang lebih sebagai berikut :
1. Setiap anggota kelompok harus memiliki kesadaran bahwa ia adalah sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota yang lainnya.
3. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat, misalnya: nasib yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain.
4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.
5. Bersistem dan berproses.
6. Memiliki struktur sosial sehingga kelangsungan hidup kelompok tergantung pada kesungguhan anggotannya dalam melaksanakan perannya
7. Memiliki norma-norma yang mengatur hubungan diantara para anggotanya
Memiliki kepentingan bersama.

Sulistyowati jurnal 1A Komunitas,organisasi, dan Kelompok sosial

Kepada : Dr.Tantan Hermansah

"Komunitas ,Organisasi dan Kelompok Sosial"

 

A.Komunitas

      Komunitas berasal dari bahasa latin (communitas) berasal dari kata "communis" yang berarti "masyarakat,publik atau banyak orang". Komunitas adalah kelompok social dari beberapa organisme yang berbagai lingkungan,umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.Memiliki maksud,kepercayaan,sumber daya,preferensi,kebutuhan,resiko,dan sejumlah kondisi ain yang serupa dan saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya,saling berinteraksi dan mempengaruhi bagi yang lainnya.

"Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi social yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional." Soenarno (2002)

 

" Komunitas adalah sekolompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya,didalamnya terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas karena kesamaan interest atau values" Kertajaya Hermawan (2008)

 

contoh komunitas dalam sehari-hari adalah komunitas perumahan Griya Serpong Asri yang didalamnya ada banyak jumlah RT, dalam habitat yang sama dan saling berinteraksi satu sama lain, dan saling peduli satu dengan yang lainnya. Atau contoh lainnya adalah komunitas keluarga kita,yang terdiri dari beberapa orang,dalam satu habitat dan saling bermanfaat satu dengan yang lainnya.

 

 

B.Organisasi

       Organisasi berasal dari Bahasa Yunani (opyavov,organon – alat) yang berartikan Suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama,digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul,berkerjasama secara rasional dan sistematis,terencana,terpimpin dan terkendali,dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

1.Organisasi formal

            Kumpulan dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tuuan bersama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional.Contohnya:Sekolah

2.Organisasi Informal

          Kumpulan dua orang atau lebih yang terlibat pada suatu aktifias serta tujuan bersama yang tidak disadari.Contohnya:Arisan ibu-ibu sekampung.

 

Contoh dari organisasi ialah organisasi karang taruna,organisasi arisan ibu-ibu.

" organisasi adalah suatu pla hubngan yang melalui mana orang-orangdibawah pengarahan

Atasan mengejar tujuan bersama" Stoner

"Organisasi adalah suatu system aktifitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih" Chester I. Bernard

               

"organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama"

James D. Mooney.




 C.Kelompok Sosial

            Kelompok social adalah kumpulan manusia yang memiiki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Atau dalam perkata berartikan (kelompok : sekumpulan manusia) sedangkan (social : masyarakat) jadi bisa juga diartikan dengan kumpulan manusia yang lebih dari dua orang untuk melakukan suatu interaksi dalam masyarakat.

"Kesatuan manusia yang hidup bersama,hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi"

Soerjono Soekanto.

 

"Kelompok social adalah kumpulan nyata,teratur,dan tetap dari sejumlah individu yang melakukan peran perannya yang saling berkaitan" Hendro Puspito.

 

"Sekumpulan individu yang melakukan kegiatan bersama,saling berinteraksi,dan terorganisasi"Georga Homas.

 

"Kumpulan orang yang memiliki kesadarn bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi"Horton.

 

Contohnya  kelompok pemuda masjid .

 

            Dari kesipulan diatas, persamaan antara Komunitas,Organisasi, dan Kelompok social adalah sama – sama terdiri atas 2 atau lebih dan saling berinteraksi satu sama lain.

Perbedaanya adalah:

  1. Komunitas adalah sekelompok manusia,hewan atau tumbuhan yang hidup dalam satu habitat yang sama,dan dapat berinteraksi.

  2. Organisasi adalah beberapa orang dua atau lebih yang berkumpul dalam suatu wadah atau tempat untuk berkerjasama,atau memecahkan permasalahan untuk tujuan bersama.

  3. Kelompok social adalah rasa kesadaran untuk berorganisasi dan keanggotaan dan juga saling berinteraksi

  4.  

     

     

    Demikian hasil tugas yang saya kerjakan mohon maaf bila terdapat kata atau penulisan yang salah,

     

     

    Sulistyoawati

    11150510000126

Cari Blog Ini