Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Sabtu, 19 September 2015
TiyniWahazalBaladilAmiyni_KonflikSosialDanPerebutanSumberDaya_KPI1B_Tugas3
Nanda Aullia Faujiah (11150510000119) - Jurnalistik 1/A - Konflik sosial dan Perebutan Sumberdaya - tugas 3
Sosiologi Nama : Nanda Aullia Faujiah
NIM : 11150510000119
Jurusan : Jurnalistik 1/A
Konflik Sosial dan Perebutan Sumberdaya
A. Konflik Sosial dalam perspektif Sosiologi
Konflik Sosial merupakan proses sosial yang terjadi pada individu atau kolompok. Masing-masing pihak berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan atau kekerasan. Masing-masing pihak berusaha untuk saling menghancurkan. Biasanya konflik sosial dalam bentuk amarah , rasa benci yang menimbulkan dorongan untuk melukai atau menyerang pihak lain atau menekan dan menghancurkan lawan. Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu "configure", yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik dapat diartikan sebagai proses sosial dimana terdapat gejala-gejala untuk menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkannya.
Menurut Lewis A. Coser, konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, bermaksud menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan. Sedangkan menurut Robert M. Z. Lawang, konflik merupakan sebuah perjuangan untuk memperoleh hal-hal langka seperti nilai, status, dan kekuasaan. Tujusn dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh kemenangan, tetapi juga untuk mendudukkan lawannya. Menurut pendapat para ahli, maka dapat didefinisikan bahwa konflik sebagai perbedaan pendapat, kepentingan, atau tujuan antara dua atau lebih pihak yang mempunyai objek yang sama dan membawa pada perpecahan.
Dampak yang ditimbulkan dari konflik sosial:
Dampak Positif Konflik Sosial
· Dapat menciptakan integrasi yang harmonis
· Memperkuat identitas pihak yang berkonflik
· Menciptakan kelompok baru
· Membuka wawasan
· Meningkatkan solidaritas antara anggota kelompok
Dampak Negatif Konflik Sosial
· Rusaknya fasilitas umum
· Terjadi perubahan kepribadian
· Menimbulkan keretakan hubungan antara individu dan kelompok
· Menyebabkan rusaknya berbagai harta benda dan jatuhnya korban jiwa
B. Sumberdaya dalam perspektif Sosiologi
Sumberdaya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki suatu unsur tertentu dalam kehidupan. Sumberdaya terdiri dari sumberdaya fisik dan non fisik. Semua sumber baik manusia, materi, maupun energi yang secara nyata dan potensial dapat di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan disebut sumberdaya. Sumberdaya termasuk dalam kajian sosiologi lingkungan. Beragam perilaku sosial seperti konflik dan intergrasi yang berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan, hal ini juga sangat berpengaruh terhadap sumberdaya baik sumberdaya fisik maupun non fisik.
C. Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Konflik sosial :
· Konflik pribadi : seseorang yang meminjam uang pada temannya, karena tidak di kemnalikan maka timbul perasaan tidak senang/dendam.
· Konflik antarkelas sosial (kelas sosial tinggi & rendah) : seperti konflik antara pimpinan perusahaan dan karyawan masalah kenaikan gaji.
· Konflik politik : konflik yang terjadi pada partai politik dan partai politik pesaingnya, saling menjatuhkan satu sama lain agar calon pemimpin dari partai tersebut dapat tepilih..
· Konflik internasional : konflik yang terjadi antara Indonesia dan malaysia mengenai tarian budaya, batik dll yang diakui oleh Malaysia, dan konflik yang terjadi antara negara Israel dan Palestina. ketika Indonesia dan Malaysia ditahun 2005 dimana saat itu Malaysia mengklaim wilayah Blok Ambalat merupakan bagian dari kepulaun Nusantara.
Perebutan sumberdaya
· Sengketa lahan/ batas wilayah.
· Banyak peusahaan-peusahaan indonesia bukan mempekerjakan orang pribumi melainkan orang asing.
· Banyak kasus penggalian tambang secara ilegal oleh perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab.
Sumber Buku : Wartanto, SE. Drs. Muktarman, Prihartanto, SE, MM
Definisi konflik sosial & perebutan sumber daya
KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA
Apa itu konflik social ? konflik social adalah suatu interaksi social yang dimana adanya keadaan antara satu pihak dengan pihak lain di dalam masyarakat yang ditandai dengan adanya sikap saling mengancam,menekan,atau adanya keinginan untuk menjatuhkan pihak lain yang pada akhirnya bisa menimbulkan kekerasan. Lalu apa saja faktor terjadinya konflik social ?
· Adanya rasa saling ketergantungan antara pihak satu dengan pihak lainnya, yang tentu saja dapat menimbulkan konflik karena salah satu pihak merasa menjadi tempat bergantung pihak lain.
· Perbedaan tujuan,adanya perbedaan tujuan tentu saja menimbulkan berbagai tabrakan tujuan yang sudah pasti menimbulkan gesekan-gesekan konflik.
· Perbedaan pendapat atau presepsi yang sudah pasti berbeda pada setiap orang pada suatu masalah pasti akan menimbulkan suatu konflik.
Ada beberapa pandangan mengenai konflik,yakni :
· Pandangan tradisional yang menyatakan bahwa konflik harus dihindari karena bias merusak hubungan kekeluargaan
· Pandangan hubungan kemanusiaan yang menyatakan bahwa konflik pasti terjadi,karena itu bagian dari alamiah kemanusiaan.
· Pandangan interaksionis yang menyatakan bahwa konflik diperlukan untuk memberi kinerja positive dalam suatu kelompok.
Macam-macam konflik dalam hal (dengan siapa) :
· Konflik intraindividu : konflik yang dialami oleh dan dengan diri sendiri. Apa contohnya ? seperti saat kita bingung dalam memilih baju mana yang akan kita beli atau saat kita kecewa pada diri sendiri.
· Konflik antarindividu : konflik yang terjadi antar satu individu dengan individu lain karena perbedaan tujuan atau pendapat. Apa contohnya ? seperti kelompok belajar yang saling menjatuhkan karena kelompok belajar yang satunya merasa bahwa kelompok belajar mereka menjiplak tugasnya.
· Konflik antara organisasi : konflik yang terjadi antar satu staff di sebuah organisasi dengan staff lain. Apa contohnya ? konflik yang terjadi antara bagian pemasaran dengan bagian produksi,yang dimana misalnya pemasaran kurang bekerja dengan baik sehingga bagian produksi menurunkan tingkat produk yang akan dipasarkannya.
Macam-macam konflik yang ditinjau dari segi materi atau sumber masalahnya :
· Konflik tujuan : adanya perbedaan tujuan,ntah antar individu , kelompok, ataupun antar organisasi.
· Konflik peranan : karena setiap orang berperan lebih dari satu,yang kemungkinan bias bertabrakan dengan peran orang lain yang berbeda.
· Konflik nilai : adalah konflik yang terjadi karena apa yang ia perbuat tidak sesuatu dengan nilai ataupun norma yang ada.
· Konflik kebijakan : konflik ini timbul karena suatu individu atau kelompok tidak sependapat dengan kebijakan yang telah di tetapkan oleh sebuah organisasi.
Konflik juga menimbulkan 2 efek, yaitu :
1. Mengintegrasikan (menyatukan), mengapa ? karena sesudah konfluik berakhir,ada beberapa yang justru malah saling memahami "bagaimana seharusnya peran saya" yang bias saling mengintropeksi diri dan menimbulkan kerukunan dengan pihak lain.
2. Mengdisintegrasikan (memisahkan), mengapa ? karena,tidak sedikit pula yang sesudah konflik tetap pada ego nya dan malah memilih untuk tetap saling bersaing secara tidak sehat.
Apa itu perebutan sumberdaya ?
Perebutan sumber daya adalah kondisi dimana hampir setiap lapisan memiliki rasa ketamakan untuk menguasai sumberdaya ntah itu alam ataupun non alam dengan cara saling bersaing atau menjatuhkan pihak lain. Perebutan sumber daya,bisa terjadi antar individu dengan individu,kelompok dengan kelompok,ataupun organisasi antar organisasi, bahkan antar Negara sekalipun. Seperti contoh perebutan wilayah pulau-pulau yang berada di Indonesia yang di klaim oleh Malaysia yang tentu saja ini masuk pada contoh kasus perebutan sumberdaya. Perebutan sumber daya tentu sangat erat hubungannya dengan konflik social, mengapa ? karena kosakata "perebutan" termasuk definisi dari konflik.Firda Nur Fildzah Konflik Sosial dan Perebutan Sumberdaya Tugas 3
KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBERDAYA
Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, dimana saja dan kapan saja. Istilah "konflik" secara etimologis berasal dari bahasa Latin "con" yang berarti bersama dan "fligere" yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan demikian, "konflik" dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih.
Konflik ternyata suatu proses yang dipraktikkan secara luas, yang berbeda dengan kompetisi yang selalu berlangsung damai. Konflik sosial adalah Suatu proses sosial yang berlangsung dengan melibatkan orang-orang atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Proses sosial yang namanya konflik sosial itu adalah suatu proses yang bersifat disosiatif. Namun demikian, sekalipun sering berlangsung dengan keras dan tajam, proses sosial juga berakibat positif.
Terdapat dua pemicu terjadinya konflik sosial yang berujung saling mengalahkan, melenyapkan, dan memusnahkan, yakni; perbedaan kepentingan dan pandangan. Perbedaan antara teori konflik dan fungsionalisme struktural terletak pada asumsi yang berbeda-beda tentang elemen-elemen pembentuk masyarakat. Pandangan teori struktural fungsional menempatkan elemen-elemen sosial dalam keadaan saling berhubungan secara normal dan saling mendukung kelangsungan hidup sistem sosial, sementara teori konflik sosial memandang antar-elemen sosial memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda.
Konflik sosial juga bisa terjadi karena empat faktor, yakni; Perbedaan Individu, Perbedaan Kepentingan, Perbedaan Kebudayaan, dan Pelanggaran HAM. Perbedaan Individu terjadi karena sifat dan karakter yang dimiliki setiap orang berbeda, mereka berbeda dalam cara memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Setiap individu pasti memiliki rencana harian yang akan dilakukan, maka dari itu akan terjadilah konflik sosial bila salah seorang dari kelompok tersebut tidak menyetujui rencana tersebut. Perbedaan kebudayaan terbentuk dari suatu interaksi sosial yang tidak sesuai dengan lingkungan setempat, perbedaan persepsi ,dan perbedaan ideologi. Seseorang yang menentang HAM tentu akan berontak dan juga berakhir pada konflik sosial.
Sumber daya adalah Suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga non-fisik (intangible). Sumber daya ada yang dapat berubah, baik menjadi semakin besar maupun hilang, dan ada pula sumber daya yang kekal (selalu tetap). Selain itu, dikenal pula istilah sumber daya yang dapat pulih atau terbarukan (renewable resources), dan sumber daya tak terbarukan (non-renewable resources) ke dalam sumber daya dapat pulih termasuk tanaman dan hewan (sumber daya hayati).
Perebutan sumberdaya juga merupakan salah satu contoh konflik sosial, bahkan hal ini sering terjadi di Indonesia. Perebutan sumberdaya seperti perebutan tanah Sipadan dan Ligitan. Tanah ini disengketakan Indonesia dan Malaysia, tanah tersebut juga milik Indonesia, namun selalu diakui oleh Negara Malaysia. Perebutan sumberdaya yang tidak asing lagi yang terjadi antara Indonesia Malaysia yakni batik dan alat music angklung. Hal ini juga tidak meninggalkan konflik sosial yang heboh.
Konflik sosial yang sering terjadi di keluarga yakni ketika anak dan orang tua berbeda pendapat masalah kelanjutan studinya di jenjang perguruan tinggi. Di dalam sebuah organisasi, meski organisasi sudah memiliki visi, misi, program kerja, dan tujuan dari sebuah acara yang akan dilaksanakan, namun dalam pelaksanaanya tetap terjadi konflik sosial, hal ini terjadi karena penyebab konflik sosial adalah perbedaan kepentingan.
Sumber :
Usman Kolip dan dan Elly M. Setiadi. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Bagong Suyanto dan J. Dwi Narwoko. 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
M Fahmi Nurdin.Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan. tugas 1 sosiologi kesehatan
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting
dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui
pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan
tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan
oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Notoatmodjo, 2007).
Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang
kondusif, perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan
kesehatan yang berhasil dan berdaya guna tersebar merata di seluruh
wilayah Indonesia.Akan tetapi pada kenyataanya, pembangunan kesehatan
masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan-permasalahan kesehatan
masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah: penyakit-penyakit
seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin menyebar luas,
kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak, prioritas kesehatan rendah,
serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. sebenarnya
individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status
kesehatan. Dengan kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan
tentang kesehatan yang biasa kita lakukan dan mengikuti perubahan
zaman (Prasetyawati, 2012).
Masyarakat dan kebudayaan manusia dimanapun selalu berada dalam
keadaan berubah, baik dari masyarakat dengan kebudayaan primitive yang
terisolasi dari hubungan masyarakat di luar dunianya sendiri.
Perubahan yang terjadi dalam kebudayaan primitive terjadi karena
adanya sebab yang yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan
itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Mitos telah menjadi adat istiadat yang bersifat turun temurun dari
orang tua kita terdahulu, menjadi suatu hal yang biasa dan sangat
mereka yakini. Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan
tidak layak untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos
yang dapat dinalar, diterima oleh akal dan ternyata ada faktanya.
Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita mengulas soal
mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui
faktanya (Alamsyah, 2011).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang yaitu
lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dimana
lingkungan sosial ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Manusia
sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan satu sama lain
dengan lingkungannya sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain,
dalam memecahkan berbagai masalah individu maupun masalah-masalah
sosial yang terjadi dalam lingkungan sekitar manusia.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan adat
istiadat yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku
seseorang termasuk dalam perilaku kesehatan, sehingga petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
mempunyai latar belakang suku, adat istiadat dan budaya yang berbeda,
harus mampu memahami budaya masyarakat yang dilayaninya.
Koentjaraningrat, (2002)mengemukakan bahwa ada beberapa aspek sosial
yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah :
a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit
berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebiha banyak menderita
penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih banyak menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker,
dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya
dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan
laki-laki banyak menderita kanker prostat.
c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya
dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja
yang banyak dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing.
Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri , misal dipabrik tekstil
banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak
terpapar dengan debu.
d. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya
penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak
ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada
perilaku kesehatan :
1. Self concept
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau
ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama
bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain.
Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa yang kita
lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.
2. Image kelompok
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai
contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran
dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau
petani tidak terpapar dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan
juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan adalah:
a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi
wabah penyakit kuru.penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus.penderita hamya terbatas pada anak-anak dan
wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar
karena adanya tadisi kanibalisme
b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan. Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok
tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah
titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat
kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi
anaknya yang sakit pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.
c. Sikap ethnosentris
Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa kebudayaan
sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak
lain.misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu
dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya
dari masyarakat yang sedang berkembang. tetapi dari sisi lain,semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar
alamiah adalah yang terbaik. Oleh karena itu,sebagai petugas kesehatan
kita harus menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah
orang yang paling pandai,paling mengetahui tentang masalah kesehatan
karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan masyarakat
setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan masyarakat tersebut
dalam masalah kesehatan masyarakat.dalam hal ini memang petugas lebih
menguasai tentang masalah kesehatan,tetapi masyarakat dimana mereka
bekerja lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh : Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan
tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu
kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat
bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan
mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan
kambing.
e. Pengaruh norma
Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya,norma
dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota
masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai
pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan.
Contoh : upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak
mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara
dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna
pelayanan.
f. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan. Contoh : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih
daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih
tinggi diberas merah daripada diberas putih. Meskipun masyarakat
mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1 jika
dibandingkan dengan beras putih,masyarakat ini memberikan nilai bahwa
beras putih lebih enak dan lebih bersih.
Contoh lain adalah masih banyak petugas kesehatan yang merokok
meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap
kesehatan
g. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa (Notoatmodjo, 2007).
Pada tingkat awal proses sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain
bagaimana cara makan,bahan makanan apa yang dimakan,cara buang air
kecil dan besar,dan lain-lain. kebiasaan tersebut terus dilakukan
sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut
sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah
(Koentjaraningrat, 2002).
Ali Nida. Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan. tugas 1 sosiologi kesehatan
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya tidak bisa hidup
sendiri sehingga membentuk kesatuan hidup yang dinamakan
masyarakat.dengan definisi tersebut,Ternyata pengertian masyarakat
masih dirasakan luas dan abstrak sehingga untuk lebih konkretnya maka
ada beberapa unsur masyarakat,unsur masyarakat dikelompokan menjadi 2
bagian yaitu:kesatuan sosial dan pranata sosial.kesatuan sosial
merupakan bentuk dan susunan dari kesatuan-kesatuan individu yang
berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.sedangkan yang dimaksud
pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan
masyarakat.norma-norma tersebut memberikan Petunjuk bagi tingkah laku
seseorang yang hidup dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak
membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan
pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang
sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan
norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Indonesia yang yang terdiri dari beragam etnis tentu memiliki banyak
budaya dalam masyarakatnya. Terkadang, budaya suatu etnis dengan etnis
yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini menyebabkan suatu budaya yang
positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis lainnya. Sehingga
tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di Indonesia begitu
kompleksnya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah
faktor sosial budaya, bila faktor tersebut telah tertanam dan
terinternalisasi dalam kehidupan dan kegiatan masayarakat ada
kecenderungan untuk merubah perilaku yang telah terbentuk tersebut
sulit untuk dilakukan. Untuk itu, untuk mengatasi dan memahami suatu
masalah kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai budaya
dasar dan budaya suatu daerah. Sehingga dalam mensosialisasikan
kesehatan pada masyarakat luas dapat lebih terarah yang implikasinya
adalah naiknya derajat kesehatan masyarakat.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan
sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat
dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam
proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap
kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak
hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti
tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan
keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.
Perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas
seseorang yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai
faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Determinan faktor
internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat
bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin
dan sebagainya. Sedangkan determinan faktor eksternal adalah factor
yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang, yaitu lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sudarti (2005)
yang menyimpulkan pendapat Bloom tentang status kesehatan, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu; lingkungan
yang terdiri dari lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, perilaku,
keturunan, dan pelayanan kesehatan, selanjutnya Bloom menjelaskan,
bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja mempengaruhi status
kesehatan, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Selanjutnya
Sudarti (2005), yang mengutip pendapat G.M. Foster menyatakan, selain
aspek sosial yang mempengaruhi perilaku kesehatan, aspek budaya juga
mempengaruhi kesehatan seseorang antaranya tradisi, sikap fatalisme,
nilai, etnocentrism, dan unsur budaya yang dipelajari pada tingkat
awal dalam proses sosialisasi.
Green dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perilaku manusia dari
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor
perilaku (behaviour cause) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour
cause). Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga faktor,
yaitu;
1. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya
2. Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, air
bersih dan sebagainya
3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
1. Pengetahuan Kesehatan (health knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui penginderaan mata (melihat) dan
telinga (mendengar). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih permanen dianut oleh seseorang dibandingkan dengan perilaku yang
biasa berlaku, pengetahuan yang dimiliki sangat penting untuk
terbentuk sikap dan tindakan.
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui oleh
seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan. Indikator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi tiga indikator, yaitu;
1) Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2) Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3) Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2007).
2. Sikap Terhadap Kesehatan (health attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau
ketidak senangan seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari
pengalaman, atau dari orang yang dekat dengan kita. Mereka dapat
mengakrabkan kita dengan sesuatu, atau menyebabkan kita menolaknya
(Wahid, 2007).
Sikap dapat dipandang sebagai predisposisi untuk bereaksi dengan cara
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap objek, orang dan
konsep apa saja. Ada beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut,
yaitu:
1) sikap berhubungan dengan perilaku
2) sikap yang berkaitan erat dengan perasaan seseorang terhadap objek
3) sikap adalah konstruksi yang bersifat hipotesis, artinya
konsekuensinya dapat diamati, tetapi sikap itu tidak dapat dipahami.
Adapun ciri-ciri sikap menurut Azwar (2009) adalah sebagai berikut :
1. Pemikiran dan perasaan (Thoughts and feeling), hasil pemikiran
dan perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan
pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau stimulus.
2. Adanya orang lain yang menjadi acuan (Personal reference)
merupakan factor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi
tetap mengacu pada pertimbangan-pertimbangan individu.
3. Sumber daya (Resources) yang tersedia merupakan pendukung
untuk bersikap positif atau negatif terhadap objek atau stimulus
tertentu dengan pertimbangan kebutuhan dari pada individu tersebut.
4. Sosial budaya (Culture), berperan besar dalam memengaruhi pola
pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek/stimulus tertentu.
3. Tindakan Kesehatan (health practice)
Praktik kesehatan ataupun tindakan untuk hidup sehat adalah semua
kegiatan atau aktivitas seseorang dalam rangka memelihara kesehatan.
Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan (over behavior),
untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas (sarana dan prasarana),
juga diperlukan dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo,
2007).
KESIMPULAN
Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu
tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem
kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang
bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial
budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan
tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang
untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan
pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan.
Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi
tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam
memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit. Oleh karena itu dalam
memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam
hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian
individu-individunya.
M Fahmi Nurdin. perubahan sosial dan perlikau masyarakat terhadap kesehatan
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Masalah kesehatan merupakan salah satu faktor yang berperan penting
dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui
pembangunan di bidang kesehatan diharapkan akan semakin meningkatkan
tingkat kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan dapat dirasakan
oleh semua lapisan masyarakat secara memadai (Notoatmodjo, 2007).
Berhasilnya pembangunan kesehatan ditandai dengan lingkungan yang
kondusif, perilaku masyarakat yang proaktif untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah terjadinya penyakit, pelayanan
kesehatan yang berhasil dan berdaya guna tersebar merata di seluruh
wilayah Indonesia.Akan tetapi pada kenyataanya, pembangunan kesehatan
masih jauh dari yang diharapkan. Permasalahan-permasalahan kesehatan
masih banyak terjadi. Beberapa diantaranya adalah: penyakit-penyakit
seperti DBD, flu burung, dan sebagainya yang semakin menyebar luas,
kasus-kasus gizi buruk yang semakin marak, prioritas kesehatan rendah,
serta tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi. sebenarnya
individu yang menjadi faktor penentu dalam menentukan status
kesehatan. Dengan kata lain, merubah pola hidup ataupun kebudayaan
tentang kesehatan yang biasa kita lakukan dan mengikuti perubahan
zaman (Prasetyawati, 2012).
Masyarakat dan kebudayaan manusia dimanapun selalu berada dalam
keadaan berubah, baik dari masyarakat dengan kebudayaan primitive yang
terisolasi dari hubungan masyarakat di luar dunianya sendiri.
Perubahan yang terjadi dalam kebudayaan primitive terjadi karena
adanya sebab yang yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan
itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Mitos telah menjadi adat istiadat yang bersifat turun temurun dari
orang tua kita terdahulu, menjadi suatu hal yang biasa dan sangat
mereka yakini. Tidak sedikit mitos yang hanya tinggal mitos, bahkan
tidak layak untuk sekedar diyakini. Namun ternyata banyak pula mitos
yang dapat dinalar, diterima oleh akal dan ternyata ada faktanya.
Sehingga tidak ada salahnya apabila sekali waktu kita mengulas soal
mitos-mitos yang banyak ditemui di masyarakat sekaligus mengetahui
faktanya (Alamsyah, 2011).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan seseorang yaitu
lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial, dimana
lingkungan sosial ini dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Manusia
sebagai makhluk sosial yang saling ketergantungan satu sama lain
dengan lingkungannya sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain,
dalam memecahkan berbagai masalah individu maupun masalah-masalah
sosial yang terjadi dalam lingkungan sekitar manusia.
Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya dan adat
istiadat yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi tingkah laku
seseorang termasuk dalam perilaku kesehatan, sehingga petugas
kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
mempunyai latar belakang suku, adat istiadat dan budaya yang berbeda,
harus mampu memahami budaya masyarakat yang dilayaninya.
Koentjaraningrat, (2002)mengemukakan bahwa ada beberapa aspek sosial
yang mempengaruhi status kesehatan antara lain adalah :
a. Umur
Jika dilihat dari golongan umur maka ada perbedaan pola penyakit
berdasarkan golongan umur. Misalnya balita lebiha banyak menderita
penyakit infeksi, sedangkan golongan usila lebih banyak menderita
penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, kanker,
dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan menghasilkan penyakit yang berbeda pula. Misalnya
dikalangan wanita lebih banyak menderita kanker payudara, sedangkan
laki-laki banyak menderita kanker prostat.
c. Pekerjaan
Ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan pola penyakit. Misalnya
dikalangan petani banyak yang menderita penyakit cacing akibat kerja
yang banyak dilakukan disawah dengan lingkungan yang banyak cacing.
Sebaliknya buruh yang bekerja diindustri , misal dipabrik tekstil
banyak yang menderita penyakit saluran pernapasan karena banyak
terpapar dengan debu.
d. Sosial Ekonomi
Keadaan sosial ekonomi juga berpengaruh pada pola penyakit. Misalnya
penderita obesitas lebih banyak ditemukan pada golongan masyarakat
yang berstatus ekonomi tinggi, dan sebaliknya malnutrisi lebih banyak
ditemukan dikalangan masyarakat yang status ekonominya rendah.
Menurut H.Ray Elling (1970) ada 2 faktor sosial yang berpengaruh pada
perilaku kesehatan :
1. Self concept
Self concept kita ditentukan oleh tingkatan kepuasan atau
ketidakpuasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri, terutama
bagaimana kita ingin memperlihatkan diri kita kepada orang lain.
Apabila orang lain melihat kita positip dan menerima apa yang kita
lakukan, kita akan meneruska perilaku kita, begitu pula sebaliknya.
2. Image kelompok
Image seorang individu sangat dipengaruhi oleh image kelompok. Sebagai
contoh, anak seorang dokter akan terpapar oleh organisasi kedokteran
dan orang-orang dengan pendidikan tinggi, sedangkan anak buruh atau
petani tidak terpapar dengan lingkungan medis, dan besar kemungkinan
juga tidak bercita-cita untuk menjadi dokter.
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek budaya dapat mempengaruhi
kesehatan adalah:
a. Pengaruh tradisi
Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif
terhadap kesehatan masyarakat, misalnya di New Guinea, pernah terjadi
wabah penyakit kuru.penyakit ini menyerang susunan saraf otak dan
penyebabnya adalah virus.penderita hamya terbatas pada anak-anak dan
wanita.setelah dilakukan penelitaian ternyata penyakit ini menyebar
karena adanya tadisi kanibalisme
b. Sikap fatalistis
Hal lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku
kesehatan. Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok
tertentu (fanatik) yang beragama islam percaya bahwa anak adalah
titipan Tuhan, dan sakit atau mati adalah takdir, sehingga masyarakat
kurang berusaha untuk segera mencari pertolongan pengobatan bagi
anaknya yang sakit pengobatan bagi anaknya yang sakit,atau
menyelamatkan seseorang dari kematian.
c. Sikap ethnosentris
Sikap ethnosentrime adalah sikap yang memandang bahwa kebudayaan
sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan pihak
lain.misalnya orang-orang barat merasa bangga terhadap kemajuan ilmu
dan teknologi yang dimilikinya,dan selalu beranggapan bahwa
kebudayaannya paling maju,sehingga merasa superior terhadap budaya
dari masyarakat yang sedang berkembang. tetapi dari sisi lain,semua
anggota dari budaya lainnya menganggap bahwa yang dilakukan secar
alamiah adalah yang terbaik. Oleh karena itu,sebagai petugas kesehatan
kita harus menghindari sikap yang menganggap bahwa petugas adalah
orang yang paling pandai,paling mengetahui tentang masalah kesehatan
karena pendidikan petugas lebih tinggi dari pendidikan masyarakat
setempat sehingga tidak perlu mengikut sertakan masyarakat tersebut
dalam masalah kesehatan masyarakat.dalam hal ini memang petugas lebih
menguasai tentang masalah kesehatan,tetapi masyarakat dimana mereka
bekerja lebih mengetahui keadaan di masyarakatnya sendiri.
d. Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh : Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan
tertentu, menolak untuk makan daun singkong, walaupun mereka tahu
kandungan vitaminnya tinggi. Setelah diselidiki ternyata masyarakat
bernaggapan daun singkong hanya pantas untuk makanan kambing, dan
mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat disamakan dengan
kambing.
e. Pengaruh norma
Seperti halnya dengan rasa bangga terhadap statusnya,norma
dimasyarakat sangat mempengaruhi perilaku kesehatan dari anggota
masyarakatnya yang mendukung norma tersebut. sebagai contoh,untuk
menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena adanya norma yang melarang hubungan antara dokter sebagai
pemberi layanan dengan ibu hamil sebagai pengguna layanan.
Contoh : upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak
mengalami hambatan karena ada norma yang melarang hubungan antara
dokter yang memberikan pelayanan dengan bumil sebagai pengguna
pelayanan.
f. Pengaruh nilai
Nilai yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku
kesehatan. Contoh : masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih
daipada beras merah, padahal mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih
tinggi diberas merah daripada diberas putih. Meskipun masyarakat
mengetahiu bahwa beras merah lebih banyak mengandung vitamin B1 jika
dibandingkan dengan beras putih,masyarakat ini memberikan nilai bahwa
beras putih lebih enak dan lebih bersih.
Contoh lain adalah masih banyak petugas kesehatan yang merokok
meskipun mereka mengetahui bagaimana bahaya merokok terhadap
kesehatan
g. Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari
proses sosialisasi terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap
kebiasaan pada seseorang ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang
biasa makan nasi sejak kecil, akan sulit diubah kebiasaan makannya
setelah dewasa (Notoatmodjo, 2007).
Pada tingkat awal proses sosialisasi,seorang anak diajakan antara lain
bagaimana cara makan,bahan makanan apa yang dimakan,cara buang air
kecil dan besar,dan lain-lain. kebiasaan tersebut terus dilakukan
sampai anak tersebut dewasa dan bahkan menjadi tua.kebiasaan tersebut
sangat mempngaruhi perilaku kesehatan yang sangat sulit untuk diubah
(Koentjaraningrat, 2002).
ali.perubahan sosial dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan
1113054000027
PMI 5
Tugas 1 Perubahan Sosial dan Perilaku Masyarakat Terhadap Kesehatan
Manusia adalah makhluk sosial yang dalam kehidupannya tidak bisa hidup
sendiri sehingga membentuk kesatuan hidup yang dinamakan
masyarakat.dengan definisi tersebut,Ternyata pengertian masyarakat
masih dirasakan luas dan abstrak sehingga untuk lebih konkretnya maka
ada beberapa unsur masyarakat,unsur masyarakat dikelompokan menjadi 2
bagian yaitu:kesatuan sosial dan pranata sosial.kesatuan sosial
merupakan bentuk dan susunan dari kesatuan-kesatuan individu yang
berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.sedangkan yang dimaksud
pranata sosial adalah himpunan norma-norma dari segala tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan
masyarakat.norma-norma tersebut memberikan Petunjuk bagi tingkah laku
seseorang yang hidup dalam masyarakat.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak
membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan
pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang
sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan
norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu
tempat tertentu.
Indonesia yang yang terdiri dari beragam etnis tentu memiliki banyak
budaya dalam masyarakatnya. Terkadang, budaya suatu etnis dengan etnis
yang lain dapat berbeda jauh. Hal ini menyebabkan suatu budaya yang
positif, dapat dianggap budaya negatif di etnis lainnya. Sehingga
tidaklah mengherankan jika permasalahan kesehatan di Indonesia begitu
kompleksnya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah
faktor sosial budaya, bila faktor tersebut telah tertanam dan
terinternalisasi dalam kehidupan dan kegiatan masayarakat ada
kecenderungan untuk merubah perilaku yang telah terbentuk tersebut
sulit untuk dilakukan. Untuk itu, untuk mengatasi dan memahami suatu
masalah kesehatan diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai budaya
dasar dan budaya suatu daerah. Sehingga dalam mensosialisasikan
kesehatan pada masyarakat luas dapat lebih terarah yang implikasinya
adalah naiknya derajat kesehatan masyarakat.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting
dalam mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan
sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat
dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam
proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya,
sebagai salah satu contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat
bertahan dengan cara pengobatan tertentu sesuai dengan tradisi mereka.
Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan dan respons terhadap
kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak
hanya mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti
tentang proses terjadinya suatu penyakit dan bagaimana meluruskan
keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya dengan kesehatan.
Perilaku adalah merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas
seseorang yang merupakan hasil bersama atau resultante antara berbagai
faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Determinan faktor
internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat
bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin
dan sebagainya. Sedangkan determinan faktor eksternal adalah factor
yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang, yaitu lingkungan fisik,
sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya.
Salah satu faktor yang menentukan kondisi kesehatan masyarakat adalah
perilaku kesehatan masyarakat itu sendiri. Dimana proses terbentuknya
perilaku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Sudarti (2005)
yang menyimpulkan pendapat Bloom tentang status kesehatan, ada
beberapa faktor yang mempengaruhi status kesehatan yaitu; lingkungan
yang terdiri dari lingkungan fisik, sosial budaya, ekonomi, perilaku,
keturunan, dan pelayanan kesehatan, selanjutnya Bloom menjelaskan,
bahwa lingkungan sosial budaya tersebut tidak saja mempengaruhi status
kesehatan, tetapi juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Selanjutnya
Sudarti (2005), yang mengutip pendapat G.M. Foster menyatakan, selain
aspek sosial yang mempengaruhi perilaku kesehatan, aspek budaya juga
mempengaruhi kesehatan seseorang antaranya tradisi, sikap fatalisme,
nilai, etnocentrism, dan unsur budaya yang dipelajari pada tingkat
awal dalam proses sosialisasi.
Green dalam Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa perilaku manusia dari
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor
perilaku (behaviour cause) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour
cause). Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga faktor,
yaitu;
1. Faktor Predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam
pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya
2. Faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam
lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas
atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obat-obatan, air
bersih dan sebagainya
3. Faktor pendorong (reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap
dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
1. Pengetahuan Kesehatan (health knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui penginderaan mata (melihat) dan
telinga (mendengar). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan
lebih permanen dianut oleh seseorang dibandingkan dengan perilaku yang
biasa berlaku, pengetahuan yang dimiliki sangat penting untuk
terbentuk sikap dan tindakan.
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui oleh
seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan. Indikator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi tiga indikator, yaitu;
1) Pengetahuan tentang sakit dan penyakit
2) Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat
3) Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2007).
2. Sikap Terhadap Kesehatan (health attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau
ketidak senangan seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari
pengalaman, atau dari orang yang dekat dengan kita. Mereka dapat
mengakrabkan kita dengan sesuatu, atau menyebabkan kita menolaknya
(Wahid, 2007).
Sikap dapat dipandang sebagai predisposisi untuk bereaksi dengan cara
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap objek, orang dan
konsep apa saja. Ada beberapa asumsi yang mendasari pendapat tersebut,
yaitu:
1) sikap berhubungan dengan perilaku
2) sikap yang berkaitan erat dengan perasaan seseorang terhadap objek
3) sikap adalah konstruksi yang bersifat hipotesis, artinya
konsekuensinya dapat diamati, tetapi sikap itu tidak dapat dipahami.
Adapun ciri-ciri sikap menurut Azwar (2009) adalah sebagai berikut :
1. Pemikiran dan perasaan (Thoughts and feeling), hasil pemikiran
dan perasaan seseorang, atau lebih tepat diartikan
pertimbangan-pertimbangan pribadi terhadap objek atau stimulus.
2. Adanya orang lain yang menjadi acuan (Personal reference)
merupakan factor penguat sikap untuk melakukan tindakan akan tetapi
tetap mengacu pada pertimbangan-pertimbangan individu.
3. Sumber daya (Resources) yang tersedia merupakan pendukung
untuk bersikap positif atau negatif terhadap objek atau stimulus
tertentu dengan pertimbangan kebutuhan dari pada individu tersebut.
4. Sosial budaya (Culture), berperan besar dalam memengaruhi pola
pikir seseorang untuk bersikap terhadap objek/stimulus tertentu.
3. Tindakan Kesehatan (health practice)
Praktik kesehatan ataupun tindakan untuk hidup sehat adalah semua
kegiatan atau aktivitas seseorang dalam rangka memelihara kesehatan.
Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan (over behavior),
untuk mewujudkannya menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan
faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain
adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas (sarana dan prasarana),
juga diperlukan dukungan (support) dari pihak lain (Notoatmodjo,
2007).
KESIMPULAN
Perilaku manusia dalam menghadapi masalah kesehatan merupakan suatu
tingkah laku yang selektif, terencana, dan tanda dalam suatu sistem
kesehatan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat yang
bersangkutan. Perilaku tersebut terpola dalam kehidupan nilai sosial
budaya yang ditujukan bagi masyarakat tersebut. Perilaku merupakan
tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan sekelompok orang
untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan tertentu berdasarkan
pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma kelompok yang bersangkutan.
Kebudayaan kesehatan masyarakat membentuk, mengatur, dan mempengaruhi
tindakan atau kegiatan individu-individu suatu kelompok sosial dalam
memenuhi berbagai kebutuhan kesehatan baik yang berupa upaya mencegah
penyakit maupun menyembuhkan diri dari penyakit. Oleh karena itu dalam
memahami suatu masalah perilaku kesehatan harus dilihat dalam
hubungannya dengan kebudayaan, organisasi sosial, dan kepribadian
individu-individunya.
Jumat, 18 September 2015
Risha Shafira Deskansa-11150510000002-KPI 1A-KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA-Tugas 3
KONFLIK SOSIAL DAN PEREBUTAN SUMBER DAYA
Nama : Risha Shafira Deskhansa
Kelas : KPI 1/A
NIM : 11150510000002
A. Konflik Sosial Menurut Prospektif Sosiologi
Pada hakikatnya, teori konflik sosial muncul sebagai bentuk reaksi atas tumbuh suburnya teori fungsionalisme stuktural yang dianggap kurang memperhatikan fenomena konflik sebagai salah satu gejala di masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Teori konflik adalah salah satu prespektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian atau komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda di mana konponen yang satu berusaha menaklukan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya.
Menurut Marx, pendekatan konflik sosial ini dapat dilakukan dengan cara memandang masyarakat berdasarkan kelas borjuis (yang memiliki sarana lengkap) dan proletar ( yang hanya dapat menjual tenanganya). Dengan begitu terjadinya konflik antarkelas sosial ini terjadi karena pengekploitasian terhadap kelompok proletar. Perubahan sosial ini berdampak buruk pada kelompok proletar karena akan semakin banyaknya jumlah penduduk yang akan menyulitkan kehidupan kelompok ini akan tuntutan lapangan pekerjaan yanag tidak sesuai dengan pertumbuhan penduduk. Gejala inilah yang menyebabkan ketimpangan sosial.
Menurut Dahrendorf, dalam setiap kehidupan masyarakat selalu ada asosiasi seperti; Negara, industri, partai, agama klub-klub dan sebagainya. Dalam setiap asosiasi akan selalu ada dua kelas, yaitu kelas yang mempunyai kewenangan (dominasi) dan yang tak memiliki wewenang (subjeksi).
Setiap kehidupan sosial selalu berada dalam proses perubahan dan terdapat konflik di dalam dirinya sendiri, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanen dan mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Dan setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil perubahan dan konflik sosial yang saling berpengaruh. Serta setiap masyarakat akan terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi kekuatan secara sepihak yang menimbulkan konsiliasi.
Ada banyak akibat konflik sosial, akan tetapi para sosiolog sepakat menyimpulkannya dalam 5 poin penting berikut ini:
1. Bertambah kuatnya rasa solidaritas kelompok.
2. Hancurnya kesatuan kelompok.
3. Adanya perubahan kepribadian individu.
4. Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada.
5. Hilangnya harta benda dan korban manusia.
B. Sumber Daya Menurut Prospektif Sosiologi.
Sumber daya adalah suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau unsur tertentu dalam kehidupan. Sumber daya tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga non-fisik
Dalam pembangunan kualitas sumber daya masyarakat indonesia tentunya tidak luput dari fakta sosial, tindakan sosial, Khayalan sosilogis, dan realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat indonesia secara umum ataupun khusus untuk membuat suatu pemecahan terhadap hal-hal yang dapat menurunkan kualitas sumber daya masyarakat. Perubahan masyarakat dapat dipelajari muali dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasrkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh.
Dengan adanya suatu research mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang terjadi dimasyarakat melalui pendekatan-pendekatan sosial maka akan terlihat perubahan pada masyarakat secara keseluruhan guna mengetahui aspek-aspek sosiologis pada masyarakat akan bisa menjadi suatu pemecahan terhadap penghambat pembangunan kualitas sumber daya masyarakat indonesia.
Maka dari itu untuk melakukan researh terhadap fakta-fakta sosial di butuhkan pemahaman terhadap ilmu sosiologi guna meningkatkan pembangunan kualitas masyarakat indonesia.
C. Contoh Dalam Kehidupan Sehari-Hari.
- Anti-Malaysia akibat kekerasan TKI di Malaysia.
- Perang antara Irak dan Iran
- Kasus kemelut antara karyawan dan monopoli yang dilakukan oleh direktur utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI)
- Persengketaan tanah
- Perusahaan besar Indonesia yang lebih mempercayakan pekerja asing yang bekerja di perusahaannya dibandingkan pekerja lokal.
Referensi : Setiadi, Elly M & Kolip, Usman. Pengantar Sosiologi. Bandung ; kencana, 2011