Minggu, 12 Oktober 2014

ZUYINARWANI_TUGAS DEMOGRAFI_PMI 5

PROPOSAL PENELITIAN MINI
PERAN ETIKA LINGKUNGAN HIDUP TERHAP KESEHATAN
DOSEN PENGAMPUH:
Dr. Tantan Hermansyah M,S.i
 
 
Disusun oleh:
ZUYIN ARWANI
(1112054000020)
 
FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
JURUSAN PENGEMBANGAN MASYRAKAT ISLAM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Kesehatan adalah sebuah keadaan dimana munculnya kekuatan baik fisik, jasmani, dan rohani.
Menurut siti nafsiah Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.[1]
Dalam Undang-Undang yang dimaksud dengan:[2]
1.   Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
2.   Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
3.   Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
4.   Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
5.   Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna
 
Orang bijak banyak mengatakan bahwa "sehat bukanlah segala-galanya tetapi tanpa kesehatan apa daya kita". Dari kata tersebutlah bahwa dengan keadan sehat timbulah inovasi dan kreasi yang dapat dikembangkan sehinga menghasilakan produk-produk ekonomis berdaya saing tinggi.
Menurut beberapa ahli menjelaskan bahwa kesehatan itu terbagi atas 3 hal:
1.      Kesehatan jasmani atau fisik
2.      Kesehatan Mental atupun emosional
3.      Kesehtan Spritual
 
1.      Etika lingkungan hidup
Salah satu pertanyaan pokok yang perlu dijawab adalah mengapa kita perlu etika lingkungan hidup ? apa relevansinya dan apa kegunaannya?.
Lingkungan hidup bukanlah semata-mata persoalan teknis saja, akan tetapi lingkungan hidup pula adalah permasalahan moral dan perilaku manusia.[3]   
Tidak bisa disangkal bahwa bebagai kasus lingkungan hidup yang terjadi saat ini, bai pada lingkup global maupun lingkup nasional, sebagian besar bersumber dari prilaku manusia. Seperti kasus-kasus pencemaraan dan kerusakan baik dilaut hutan, atmosfer, air, tanah dan seterusnya yang itu semua berasal dan bersumber pada prilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli dan mementingkan diri sendiri.
Menurut Arne Naess, krisis lingkungan hidup dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan prilaku manusia terhadap alam secara fundamental dan radikal. Dibutuhkan gaya hidup dan pola baru yang tidak hanya menyangkut orang perorang, tetapi juga budaya masyrakat secara keseluruhan. Artinya, dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntun manusia untuk berinteraksi secara baru dalam alam semesta.[4]   
Dengan ini mau dikatakan bahwa krisis lingkungan hidup global yang kita alami ini sebenarnya bersumber pada kesalahan fundamental dan filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenal dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekositem.
Pada gilirannya, kekeliruan cara ini melahirkan prilaku yang keliru terhadap  alam. Manusia keliru memandang alam dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnnya. Dan inilah awal mula bencana lingkungan hidup yang kita alami.
Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang mempunyai nilai, sementara alam dan segala isinya sekedar sebagai alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia. Manusia dianggap berada diluar, diatas dan terpisah dari alam. Bahkan, manusia dipahami sebagai penguasa ats alam yang boleh melakukan apa saja terhadap alam. Cara pandang tersebut melahirkan sikap dan prilaku ekploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai pada dirinnya sendiri.     
Etika atroposentrisme merupakan cara pandang barat, yang bermula dari Aristoteles sehingga filusuf modern. Ada tiga kesalahan fundamental dari cara pandang ini:
Pertama, Manusia dipahami sebagai mahluk social (Social Animal), yang eksistensi dan identitas dirinnya ditentukan oleh komunitas sosialnnya. Dalam pemahaman ini, manusia berkembang menjadi dirinya dalam interaksi dengan sesama manusia dalam dalam komunitas sosialnya. Identitas dirinnya dibentuk oleh komunitas sosialnya, sebagaimana dia sendiri ikut membentuk komunitas sosialnya. Manusia tidak dilihat sebagai makhluk ekologis yang identitasnnya ikut dibentuk oleh alam.
Kedua, Etika hanya berlaku bagi komunitas sosial manusia. Jadi, yang disebut sebagai norma dan nilai moral hanya dibatasi oleh keberlakuannya bagi manusia. Dalam paham ini, hanya manusia sebagai pelaku moral, yaitu manusia yang mempunyai  kemampuan untuk bertindak secara moral berdasarkan akal dan budi dan kehendak bebasnya. Etika tidak berlaku bagi makhluk lain diluar manusia.
Ketiga, kesalahan cara pandang pada antroposentrisme tersebut diperkuat lagi oleh pandangan ataupun paradigma ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang Cartesian dengan ciri utama mekanis dan reduksionitis.  
Dalam kajian paradigm pengetahuan yang Cartesian, ada pemisahan secara tegas antara alam sebagai objek ilmu pengetahuan dan manusia sebagai  subjeknya. Demikan pula ada pemisahan yang tegas antara fakta dan nilai.
 
 
 B.     TEORI LINGKUNGAN HIDUP
Dari penelitian kali ini saya menggunakan teori biosentrisme dan ekosentrisme sebagai kritisasi atas kesalah pahaman tentang pola kehidupan manusia.
Teori biosentrisme dan ekosentrisme adalah teori yang memandang manusia buakan hanya makhluk social saja akan tetapi makhluk ekologis dan biologis. Manusia hanya bisa hidup dan berkembang sebagai manusia yang utuh dan penuh, buakan hanya dalam komunitas sosialnya saja akan tetapi dalam juga dalam komunitas ekologis, yaitu makhluk yang kehidupannya tergantung dan terkait erat dalam dengan semua kehidupan lain dialam semesta.
Dalam kajian penelitian ini penulis ingin menyampaikan betapa pentingnya etika dalam menjaga ekologi sekitar, sehingga memimalisirkan wabah serta penyakit dalam masyarakat terutama penyakit keserakahan dan maniekploitatif kekuasaan atas alam, sehingga menimbulkan banyaknya bencana alam.
 
C.     METHODE PENELITIAN
Methode penelitian saya menggunakan methode kualitatif yang bersifat deskriftif dengan menggunakan beberapa kajian pustaka yang dipadukan dengan observasi wilayah sekitar.
Dalam kajian penelitian ini didasarkan kajian terhadap kritik teori antromerfisme yang diapdukan dengan etika kesehatan lingkungan  oleh teori biosentrisme dan ekosentrisme
Untuk mencapai tahap yang komplek dan sempurna secara ontologis adalah hal yang amat rumit dan perlu pemahaman serta pendalaman fiolofi dari teori tersebut, karena minimnya dan batasnya waktu kami mohon untuk memakluminya
Wass'alamualaikum wr.wb
 
 
 
 


[1] Siti Nafsiah, "Prof. Hembing pemenang the Star of Asia Award: pertama di Asia ketiga di dunia", Gema Insani, 2000, 979915703X, 9789799157034.
[2] "Undang-undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan & Undang-undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran", VisiMedia,
[3] Keraf Sony A,2010. Etika Lingkungan Hidup.Kompas Media nusantara, Jl.Palang merah selatan. Hal.1
[4] Ibid. Hal 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini