Senin, 11 Maret 2013

Teori dasar dalam sosiologi sosial.

M.IRHAMNI
Pengembangan Masyarakat Islam 4
Istilah sosiologi muncul pertama kali pada tahun 1839 pada keterangan sebuah paragraf dalam et telah menggunakan nama tersebut untuk menyebut apa yang sekarang dianggap sebagai demografi.
Oleh karena hal tersebut dengan terpaksa Comte mengurungkan niat untuk memberi nama "ilmu pengetahuannya" tersebut dengan fisika sosial, sebagai gantinya Comte menyebutnya sebagai "sosiologi", yang dibentuk dari bahasa Latin socius (masyarakat) dan bahasa Yunani logos (ilmu). 



Selain hal tersebut, Comte juga yang pertamakali mengaplikasikan metode ilmiah kedalam ilmu sosial, Comte percaya bahwa studi sosiologi haruslah ilmiah. Ia memberikan pengaruh yang cukup besar pada beberapa orang teoretisi sosiologi. Comte hidup pada masa akhir revolisi Prancis yang didalamnya terdapat serangkaian pergolakan-pergolakan yang muncul saling berkesinambungan, sehingga Comte lebih menekankan arti pentingnya keteraturan sosial. Comte merasa terusik dengan anarki dimasa itu seingga menyebabkan ia lebih kritis dengan para pemikir yang menumbuhkan revolusi (pencerahan). Comte mengembangkan pandangan ilmiahnya untuk melawan apa yang secara destruktif memberikan filsafat negatif dari pencerahan.
Comte dalam pandangannya sejalan dan dipengaruhi oleh pemikir Katolik kontrarevolusi Prancis seperti de Bonald dan de Maistre. Namun apa yang dikemukakan oleh Comte memiliki 2 kelebihan, yaitu :
1. Menurut pendapatnya, tidak mungkin untuk kembali lagi ke Zaman Pertengahan dikarenakan telah berkembangnya secara canggih ilmu pengetahuan dan industri yang menjadikan hal tersebut mustahil.
2. Comte mengembangkan sistem teoretis yang lebih canggih (terstruktur dan sistematis) daripada para pendahulunya, yaitu sebuah sistem teoretis yang cukup untuk membangun sosiologi awal.
Selain hal-hal tersebut, latar belakang lain yang mempengaruhi jalan pemikiran Comte terhadap pandangannya ialah lahirnya paham yang dikembangkan oleh para pemikir sosialistik, terutama yang diprakarsai oleh Saint-Simon.
Menurutnya sosiologi akan menjadi sebuah ilmu yang dominan, menelaah tentang statika (struktur sosial yang ada) dan dinamika sosial (perubaan sosial). Meskipun keduanya sama-sama melibatkan pencarian hukum-hukum kehidupan sosial, ia merasa bahwa dinamika sosial lebih penting daripada statika sosial karena dinamika sosial berisi tentang teori perkembangan dan kemajuan masyarakat dan dinamika sosial juga merupakan study tentang sejarah yang akan mengilangkan filsafat yang spekulatif tentang sejarah itu sendiri. Fokus pada perubahan sosial inilah yang menunjukkan minatnya kepada reformasi sosial, khususnya reformasi terhadap dampak negatif yang telah ditimbulkan oleh adanya Revolusi Prancis dan Pencerahan.
Tetapi dalam pandangannya tersebut Comte tidak menyerukan untuk perubahan secara Revolusioner, karena ia merasa evolusi alamiahlah yang dapat merubah masyarakat dan memperbaiki semuanya. Reformasi yang dibutuhkan hanya sedikit untuk membantu terlaksananya proses ini. Kemudian melalui pandangan ini Comte mengeluarkan pendekatannya tentang teori evolusi linier yang disebutnya sebagai hukum tiga tahap, didalam teori ini tersirat bahwa terdapat tiga tahap intelektual yang secara pasti akan dilalui oleh ilmu pengetahuan, dunia, individu, masyarakat dan bahkan pikiran pun ikut turut kedalam teori tiga tahap ini.
Tahap yang pertama ialah tahap Teologis yang merupakan ciri dunia sebelum tahun 1300. Dalam masa itu, sistem pikiran utama manusia dititikberatkan pada  kepercayaan terhadap kekuatan supranatural dan figur-figur religius menjadi akar segalanya. Secara khusus, dunia sosial dan fisik dianggap sebagai dua hal yang dibuat oleh Tuhan. Masa ini adalah masa kepercayaan magis, percaya pada jimat, roh, dan agama, dunia dipercayai menuju kepada alam baka, menuju ke pemujaan terhadap nenek moyang, kemudian menuju ke sebuah dunia dimana "orang mati dianggap mengatur orang hidup". Kemudian pada tahap yang kedua ialah tahap Metafisika. Yang kira-kira berlangsung antara tahun 1300 hingga tahun 1800. Era ini dicirikan oleh kepercayaan bawa kekuatan abstrak seperti 'alam', dan bukan tuhan yang dipersonalisasikan, diyakini dapat menjelaskan segalanya. Kepercayaan gaib diganti oleh kekuatan abstrak, seperti "Alamnya" Spinoza, "Tuhan Geometrinya" Descartes, "Materinya" Diderot dan juga "Akal sehatnya" Abad Pencerahan. Masa ini dianggap sebagai masa kemajuan jika dikaitkan dengan pemikiran antropomorfis sebelumnya, namun demikian pemikiran orang masih dianggap terbelenggu dalam konsep filosofis yang abstrak dan universal. Orang mengkaitkan realitas dengan prinsip-prinsip pertama. Ini yang ditulis oleh Comte sebagai "metode filsuf". Kemudian, pada jenjang terakhir ialah tahap positif yaitu pada tahun 1800 yang dicirikan oleh kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, keadaan intelegensia kita yang telah 'berani'. Kini orang lebih cenderung berhenti melakukan pencarian sebab mutlak (Tuhan atau alam) tetapi lebih berkonsentrasi pada penelitian dunia sosial dan fisik dalam upayanya menemukan hukum yang mengaturnya. Semangat positif menyingkirkan pencarian menyangkut pertanyaan hakiki "mangapa" yang terkait dengan segala sesuatu dalam memikirkan tentang perbuatan, yaitu "hukum-hukum efektif berupa hubungan suksesi dan kesamaan yang tidak berubah.
Jelas bahwa dalam teorinya tentang dunia, Comte mengedepankan perhatiannya pada faktor intelektual. Ia menegaskan bahwa kekacauan intelektuallah yang menjadi dasar dari kekacauan sosial. Kekacauan yang timbul dari sistem pemikiran sebelumnya (teologis dan metafisis) kemudian terus muncul pada pada zaman positivistic (ilmiah). Baru setelah positivism mengambil kendali semauanya, keresahan sosial akan menurun dan hal tersebut merupakan proses evolusi yang hingga akhirnya nanti dapat mendatangkan keteraturan dalam dunia sosial. Menurut pandangananya juga terdapat banyak kekacauan yang terjadi di dunia ini. Pada banyak kasus, Comte mengemukakan bahwa yang diperlukan adalah perubahan intelektual, sehingga hanya ada sedikit alasan untuk melakukan revolusi politik dan sosial.
Secara keseluruhan beberapa pandangan Comte yang penting dalam perkembangan sosiologi klasik. Landasannya yang begitu konservatif, reformis, dan ilmiah, dan pandangannya tentang evolusionernya dunia. Comte ada di garis depan perkembangan sosiologi posivistik, positivismnya menegaskan bahwa 'alam semesta sosial bertanggung jawab atas perkembangan hukum yang dapat diuji dengan pengumpulan data secara seksama' dan 'hukum-hukum abstrak ini akan merujuk pada unsur dasar dan genetik semesta sosial tersebut dan akan memperlihatkan hubungan alamiah'. Meskipun positivism tetap penting dalam sosiologi kontemporer, namun ia telah dicecar dari berbagai arah. Walaupun Comte miskin dari segi akademis yang kuat bagi terbangunnya mazhab teori sosiologi Comtian, namun ia telah meletakan dasar bagi perkembangan arus utama dalam teori sosiologi. Namun signifikansi jangka panjang ini dikerdilkan oleh penerusnya di sosiologi Prancis, dan pewaris sejumlah gagasanya, Emile Durkheim maupun teoretis klasik lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini