Senin, 27 Mei 2013

GLOBALISASI DAN DAMPAK KOMUNIKASI MASSA_NANDA CAHAYA FEBRIANA_TUGAS KE 10

GLOBALISASI DAN DAMPAK KOMUNIKASI MASSA
NANDA CAHAYA FEBRIANA (1110051000141)
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM 6F
I.       PENDAHULUAN
Ekspansi televisi sejak tahun 1980-an, dimungkinkan oleh teknologi penyiaran yang baru, efisien, dan juga murah, telah digerakkan oleh motif komersial dan mendorong tuntutan akan impor. Hal ini juga merangsang industry produksi audiovisual baru di banyak negara yang pada gilirannya mencari pasar baru. Penerima utama dan pengekspor utama adalah AS yang memiliki produksi hiburan popular yang besar dan berlebih dan pembuka kepada banyak pasar yang dilindungi oleh keakraban budaya dari produk-produknya. Terutama yang dihasilkan oleh film Amerika selama beberapa decade. Bahasa inggris yang merupakan keuntungan tambahan meskipun bukan yang utama karena sebagian besar ekspor televise selalu disulih suara atau diberi teks terjemahan ketika disiarkan.
Komponen penting dari komunikasi massa internasional adalah iklan yang berhubungan dengan globalisasi dari banyak produk pasar dan mencerminkan karakter internasional dari banyak agen periklanan serta dominasi pasar oleh sejumlah perusahaan kecil. Pesan iklan yang sama muncul di banyak, dan terdapat juga efek internasional secara tidak langsung di media yang membawa iklan. Hal yang terakhir dari kekuatan yang mempromosikan globalisasi adalah ekspansi yang besar dan privatisasi infrastruktur serta bisnis telekomunikasi.
Penyebab utama dari globalisasi media diantaranya adalah lebih banyak teknologi yang hebat untuk penyiaran jarak jauh, perusahaan komersial, hasil dari hubungan perdagangan dan diplomatic, kolonialisasi dan imperialism dari masa lalu maupun masa kini, ketergantungan ekonomi, ketidakseimbangan geopolitik, periklanan dan ekspansi telekomunikasi.
Globalisasi dan konsentrasi perusahaan media besar juga cenderung mengarah pada pembentukan kartel, dan perusahaan-perusahaab yang sangat besar saling bekerja sama sekaligus berkompetisi dalam berbagai cara. Perusahaan-perusahaan juga berkerja sama dengan berbagi pendapatan, produksi bersama, pembelian film secara bersama-sama, dan berbagi-bagi pasar lokal. Sebagaimana yang kita liat, ada tantangan yang kuat terhadap kritik media massa popular dan pesimisme budaya secara umum. Hal ini juga memengaruhi pemikiran mengenai efek pertukaran budaya global, walaupun mungkin tidak mengenai aliran global berita. Tentunya, kita sering menemukan pandangan yang positif bahkan bersifat perayaan dari keadaan inklusif global yang dibawa oleh media massa. Ranah simbolik bersama dapat diperluas, dan batasan ruang dan waktu yang dikaitkan dengan sistem media yang terbagi-bagi secara nasional dapat dihindari. Globalisasi budaya bahkan dapat terlihat baik jika dibandingkan dengan etnosentrisme, nasionalisme, dan xenophobia yang mencirikan beberapa sistem media nasional.
II.    METODE STUDI
Dalam penulisan karya tulis ini, saya menggunakan metode studi pustaka. Metode Studi Pustaka  Merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengambil data atau keterangan dari buku literatur di perpustakaan.Buku yang dipergunakan dalam penulisan karya ini adalah buku yang berjudul Teori Komunikasi Massa Mc Quail buku 1 edisi 6 terbitan Salemba Humanika.

III. ANALISIS ISI
Sering kali media membantu proses pertumbuhan, penyebaran, penciptaan, dan kreativitas budaya dan tidak hanya sekedar merendahkan budaya yang ada. sebagian teori dan bukti yang mendukung pandangan bahwa invasi media-budaya terkadang dapat dilawan atau didefinisikan kembali menurut budaya dan praktik. Sering kali internasionalisasi yang terlibat adalah pilihan sendiri dan bukan hasil dari imperialism. Lull dan Wallis (1992) menggunakan istilah transkulturasi untuk menggambarkan proses interaksi budaya yang termediasi di mana music Vietnam disilangkan dengan gaya Amerika Utara untuk menghasilkan hibrida budaya baru. Ada banyak proses yang serupa. Ahli teori cenderung melihat globalisasi diiringi oleh proses glokalisasi menurut saluran internasional.seperti CNN dan MTV, menyesuaikan dengan keadaan wilayah yang dilayani (Kraidy, 2001). Penggabungan beragam format dan standar kinerja ke dalam produksi lokal merupakan aspek lain dari proses ini. (Wasserman dan Rao, 2008).
Masalah kerusakan budaya potensial dan transnasionalisasi media mungkin dilebih-lebihkan. Secara global, banyak regional, nasional, dan (subnasional) yang penting di Eropa dan wilayah lain yang masih kuat dan bertahan. Khalayak mungkin dapat bertoleransi atas beberapa praktik budaya yang berbeda dan tidak konsisten (misalnya lokal, nasional, subkelompok, dan global) tanpa harus saling menghancurkan satu sama lain. Media dapat memperluas pilihan budaya dengan cara yang kreatif, dan internasionalisasi dapat bekerja secara kreatif. Relativitas masalah ini tidak menghapuskannya, dan ada beberapa situasi dimana kehilangan budaya benar-benar terjadi.
Dampak positif mengenai globalisasi ini berdasarkan pengamatan bahwa arus media internasional secara umum adalah respons dari tuntutan, dan harus dipahami dalam kaitannya dengan keinginan dan kebutuhan penerima dan bukan hanya sekedar motif dari pemasok saja. Fakta ini tidak dengan sendirinya membatalkan kritik terhadap imperialism media dalam batasan pasar media global. Banyak cirri-ciri situasi media di dunia yang menegaskan kekuatan aparat dan etos kapitalis yang lebih besar terhadap media di hampir semua tempat, tidak menyisakan tempat untuk bersembunyi.
Salah satu dari sedikit efek teknologi komunikasi adalah dimana ada persetujuan secara luas adalah tren internasionalisasi komunikasi massa. Pertanyaan mengenai efek budaya potensial yang mengalir dari tren ini sangat diperdebatkan. Pergerakan menuju budaya media global yang memiliki beberapa sumber yang paling terkenal adalah mengingkatnya kapasistas untuk menyiarkan suara dan gambar (bergerak) dengan ongkos murah ke seluruh dunia, mengatasi batasan waktu dan ruang. Penyebab yang kuat juga adalah munculnya bisnis media global yang menyediakan kerangaka organisasi dan mendorong kekuataan globalisasi. Tidak ada satupun kondisi ini yang hadir tiba-tiba, atau bahwa ide mengenai budaya transnasional itu sendiri adalah baru, tetapi apa mungkin baru adalah mengingkatnya potensi komunikatif transkultural dari gambar dan music. Perubahan relevan dalam struktur industry media dan aliran global, terutama yang berhubungan dengan televise telah diteliti dengan mendalam, tetapi konsekuensi budayanya kurang lebih terbuka bagi pengamatan dan mendorong spekulasi dan kritik terhadapnya.
Ide mengenai kondisi postmodern (Harvey, 1989) menjaring banyak imajinasi dari para ahli teori sosial dan budaya dan teori ini masuk ke dalam teori masyarakat informasi. Meskipun jangkauannya luas, konsep ini kompleks dan sulit dipahami, dan melibatkan beberapa ide yang relevan terhadap media massa. Dampak politiknya adlah bahwa proyek pencerahan telah mencapai kesimpulan sejarahnya, terutama penekanan terhadap kemajuan material, egalitarisme, pembaruan sosial, dan penerapan ala birokrasi untuk mencapai tujuan sosial yang telah ditetapkan. Sekarang menjadi usang untuk merujuk zaman kita sebagai postmodern dalam artian harfiah sebagai masa setelah periode modern yang dicirikan dengan perubahan sosial yang cepat, industrialisasi dan sistem pabrik, kapitalisme, bentuk birokrasi organisasi,dan pergerakan politik missal.
Sebagai sebuah filsafat sosio-kultural, postmodernisme melemahkan ide mengenai kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap dan hirekakis. Pada saat itu, konsep ini mendorong bentuk budaya yang sementara menyenangkan dan menarik dari pada bersifat logika. Budaya postmodern berubah-ubah, tidak logis, kaleidoskopik, dan hedonistik. Postmodern mendorong emosi dari pada logika. Budaya media massa memiliki keuntungan menarik bagi inderawi sebagaimana juga dikaitkan dengan kebaruan dan perubahan. Banyak karakter dari budaya media popular mencerminkan elemen postmodernisme. Ide lama mengenai kualitas seni dan pesan yang serius tidak dapat dipertahankan, kecuali oleh penguasa dan dilihat sebagai borjuis yang pasti.
Keuntungan lain dari komunikasi massa bagi politik demokrasi adalah sebagai ruang untuk interaktivitas sebagaimana juga arus satu arah. Kehadiran komunikasi vertical dan horizontal, mempromosikan kesetaraan. Hilangnya perantara, berarti berkurangnya pesan jurnalisme untuk melakukan mediasi pada hubungan antara warga negara dan politikus. Ongkos yang rendah bagi pengirim dan penerima. Kontak yang langsung bagi dua belah pihak. Hilangnya batasan terhadap kontak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini