Sabtu, 14 September 2013

Muhammad Oki Nugroho kpi1b_Tugas2_TEORI EMILE DURKHEIM

TEORI EMILE DURKHEIM
A.    SUICIDE (Bunuh Diri)
Durkheim Mengatakan bahwa tujuannya dalam studi ini tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pemahaman sosial saja, akan tetapi untuk mengetengahkan sebuah contoh metode disiplin sosiologi yang baru.
Ia memilih studi ini karena persoalannya merupakan fenomena yang sering terjadi di dalam masyarakat, konkret dan juga spesifik. Tetapi ia tidak terlalu fokus mengapa suatu individu melakukan bunuh diri melainkan tertarik terhadap suatu kelompok yang memiliki angka bunuh diri lebih tinggi di bandingkan dengan kelompok lain.
Durkheim menawarkan dua cara untuk mengurangi angka bunuh diri di dalam kelompok. Cara pertama adalah dengan membandingkan suatu tipe masyarakat dengan masyarakat lain. Cara kedua adalah melihat perubahan angka bunuh diri di suatu kelompok dalam rentang waktu, kasus yang lain, antarbudaya maupun sejarah. Durkheim mengakui bahwa suatu individu mempunyai alasan masing-masing mengapa ia bunuh diri.
Empat Jenis Bunuh diri:
Integrasi
Rendah
Bunuh diri egoistis
Tinggi
Bunuh diri Altruistis
Regulasi
Rendah
Bunuh diri anomik
Tinggi
Bunuh diri fatalistis

            Integrasi merujuk kepada terikatnya dengan masyarakat, sedangkan regulasi Merujuk pada paksaan eksternal yang di rasakan oleh suatu individu.
1.      Bunuh Diri Egoistis
Tingginya angka bunuh diri egoistis disebabkan karena suatu individu tidak berinteraksi dengan baik oleh kelompok atau masyarakat dan juga sebaliknya masyarakat tidak berinteraksi dengan baik dengan individu. Lemahnya integrasi ini membuat prasangka bahwwa individu bukan bagian dari masyarakat dan sebaliknya. Menurut Durkheim bagian paling baik dari  manusia adalah moralitas, nilai, dan tujuan kita berasal dari masyarakat. Sebuah masyarakat seperti itu dapat memberikan dukungan dan motivasi terhadap individu yang sedang frustasi. Tanpa ini besar kemungkinan kita untuk melakukan tindakan bunuh diri walaupun masalahnya hanya kecil.
Statistik yang di kemukakan oleh durkheim juga membuktikan bahwa masyarakat yang belum menikah lebih tinggi angka kematiannya karena kurangnya integrasi dalam keluarga, sedangkan angka tersebut akan menurun ketika terjadi krisis politik, ekonomi semisal terjadinya revolusi.
2.      Bunuh Diri Altruistis
Terjadi karena integrasi(keterikatan dengan masyarakat) terlalu kuat, dapat dikatakan individu melakukannya secara terpaksa dalam melakukan bunuh diri.
Sebagai contohnya adalah bunuh diri massal dari pengikut Pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, pada tahun 1978. Mereka mendapatkan racun secara sembunyi-sembunyi lalu menenggaknya sampai meninggal kemudian anak-anak mereka juga ikut menenggak racun tersebut. Mereka berani melakukan bunuh diri karena memiliki integrasi yang sangat kuat dalam sebuah kelompok sebagai pengikut fanatik.
Contoh lainnya adalah yang terjadi peristiwa penabrakan gedung kembar wtc oleh para teroris 11 september 2001. Secara umum mereka melakukan itu karena merasa itu adalah tugas mereka.
3.      Bunuh Diri Anomik
Terjadi ketika regulasi di masyarakat terganggu. Gangguan tersebut memungkinkan individu merasa tidak  puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka yang merasa tidak pernah puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat apakah gangguan tersebut positif(contoh: peningkatan ekonomi) atau negatif(penurunan ekonomi). Perubahan-perubahan ini menempatkan orang dalam situasi dimana norma lama sudah tidak berlaku lagi sementara norma baru belum bermunculan atau berkembang.
Sebagai contoh adalah pabrik yang bangkrut karena depresi ekonomi sehingga menyebabkan para pekerjanya tidak mempunyai pekerjaan lagi, sehingga mereka terlepas dari pengaruh regulatif yang selama ini terikat dengan struktur lainnya seperti keluarga, agama, dan negara.
4.      Bunuh Diri Fatalistis
Teori ini tidak terlalu banyak di bahas oleh Durkheim. Ia menggambarkan orang yang melakukan bunuh diri fatalistis sebagai "seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas".
Contoh dari kasus ini adalah seorang budak yang putus asa karena regulasi yang terus menekan setiap apa yang ia lakukan. Regulasi yang terlalu berlebihan dapat membuat kesedihan sehingga menyebabkan tingginya angka kematian.
B.     RULE OF SOCIOLOGICAL METHOD
Dalam buku Rule of Sociological Method, Durkheim menulis "fakta sosial adalah setiap cara berfikir, bertindak, baik tetap atau tidak yang boleh menjadi pengaruh atau bagi suatu individu". Ia juga menyatakan bahwa pembelajaran dan sosialisasi merupakan proses pembinaan, mempertanggung jawabkan tugas, dan harapan yang akan di capai dalam suatu masyarakat, contoh: peraturan sekolah.
Di dalam buku tersebut terdapat 5 rule(aturan) dasar di dalam masyarakat, yaitu:
-          Rules for  the Observation of Social  Facts
-          Rules for  the  Distinction of  the Normal from the Pathological
-          Rules for the Constitution of Social Types
-          Rules  for  the  Explanation of  Social Facts
-          Rules for  the Demonstration of Sociological

Sumber:
-          Teori Sosiologi Modern karya Ritzer
-          The Rules of Sociological Method di jelaskan oleh Steven Lukes


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini