Rabu, 15 April 2015

IdhaChusaini_pmi6_ekologiManusia

Nama             :idha Chusaini
NIM                :1112054000007
Jurusan          :PMI 6

Love Canal: Berkaca untuk Bangsa

Mungkin baru sebagian kecil masyarakat Indonesia yang mengetahui tentang cerita pilu dibalik bencana Love Canal, salah satu bencana lingkungan terbesar di Amerika Serikat, atau mungkin di dunia. Sebuah kanal di kitaran Sungai Niagara yang dibangun oleh seorang bernama William T. Love pada 1980 ini gagal diluncurkan sebagai salah satu monumen di kota yang direncanakan menjadi model kota sempurna. Konflik pemerintahan ditambah teknologi kelistrikan yang minim pada saat itu membuat kanal ini akhirnya tidak dapat beroperasi dan menjadi seonggok lahan kosong dengan luas 24.000 m2 bekedalaman hingga 40 meter.
Sekitar 50 tahun kemudian, Hooker Chemical, sebuah perusahaan kimia, membeli kanal tersebut untuk membuang limbah yang mereka hasilkan sebagai hasil samping produksi parfum, pelarut, pewarna, dan lainnya. Izin didapatkan dari pemerintah dan Kanal Cinta tersebut berubah fungsi sebagai penimbunan limbah yang kemudian diketahui mengandung (sebagian besar) dioksin dan benzena, dua zat yang karsinogenik dan amat beracun bagi makhluk hidup. Penimbunan ini pun penuh dan ditutup dengan pasir, tanah liat, serta vegetasi rerumputan pada tahun 1953.
Bencana mulai terjadi ketika pemerintah mendukung pembelian Love Canal oleh salah satu pihak sekolah, 99th Street School, yang putus asa mencari lahan pendidikan mereka karena mau tidak mau mereka harus memperluas lahan untuk mengimbangi penduduk yang mulai berdatangan. Satu dollar adalah harga yang akhirnya diberikan oleh Hooker Chemical untuk seluruh lahan pembuangan setelah sebelumnya mereka mewanti-wanti pihak pembeli akan bahaya yang akan dihadapi. Akhirnya perusahaan kimia tersebut mengibarkan bendera putih atas argumennya dengan satu syarat: ia bebas dari segala tuduhan bila ada kejadian buruk kedepannya.
Penggalian fondasi bangunan, penggunaan tanah liat pelapis limbah untuk pembangunan bangunan sekolah, dan berbagai hal lain yang dikenakan pada Love Canal membuat lahan yang harusnya tersegel itu terekspos pada alam. Air hujan mulai membanjiri kanal yang kemudian membawa aliran zat kimia berbahaya menuju sekolah dan perumahan di sekitarnya. Di beberapa tempat limbah bahkan terekspos sebagai genangan dan mirisnya dipakai bermain oleh anak-anak tak berdosa.
Bom Waktu
Leukimia, epilepsi, keguguran, mutasi genetik adalah hal yang biasa ditemui di Love Canal kemudian hari. Miris, sebuah kota dengan populasi yang terus meningkat harus menghadapi masa depan tersuram dalam sejarah kesehatan Amerika Serikat. Penelitian beberapa reporter yang dimulai pada 1976 memberikan fakta menakutkan tentang kualitas lingkungan yang amat buruk. Kucing bermata satu hingga bayi dengan sebaris gigi tambahan adalah fakta menakutkan yang membayangi semua orang di sekitar Love Cana. Pemerintah bergeming sesaat, kalap, menyangkal bahwa bencana tersebut datang dari limbah Hooker Chemical. Sementara itu, fakta lapangan terus berkata lain: 58% bayi mengalami kelainan saat dilahirkan, 33% tingkat kerusakan kromosom, dan angka-angka mengejutkan lain membuat pemerintah akhirnya menyegerakan  evakuasi yang diutamakan untuk anak di bawah usia dua tahun serta ibu hamil. Kota tersebut perlahan mati, ditutup, dan sebagian properti yang ada dihancurkan.
Kitaran Love Canal kini hanyalah kota mati. Seperti dilansir pada sebuah media yang ditulis Dr. Elizabeth Whelan, 'a public health time bomb' telah benar-benar meledak dan menimbulkan bencana yang mengerikan. Bencana kesehatan yang bermuara pada satu hal: musnahnya sebuah ekosistem kota.
Kanal berbahaya tersebut saat ini telah dikubur dengan plastik tebal, tanah liat, dan pasir. Lahan tersebut disegel dan dibatasi oleh pagar kawat untuk keamanan lebih lanjut. Bencana Love Canal menjadi kisah pilu yang seharusnya bisa menjadi pelajaran bagi banyak pihak; sebuah contoh nyata bahwa bumi memiliki kapasitas untuk menampung limbah yang dihasilkan manusia.
Berkaca untuk Bangsa
Love Canal mungkin sudah ditutup, namun kanal-kanal kecll rupanya tumbuh berkembang di Indonesia tanpa diketahui oleh masyarakat sekitar. Beberapa kasus terkuak ketika kondisi sudah memburuk: bau busuk, keracunan air tanah, dan kerusakan lainnya. Oknum-oknum penimbunan limbah berbahaya di negeri ini rupanya tak diapat di hitung jari. Tak hanya pihak industri, pihak ketiga dengan slogan penyedia jasa pengolahan limbah pun bermain belakang dengan diam-diam menimbun umpan mereka sendiri. Sebuah potret menyedihkan yang amat tidak bijak. Ribuan peraturan yang dibuat tentang perlimbahan rupanya tak mampu mengukung para pihak terkait untuk mematuhi, bahkan dengan ganjaran yang telah dilipatgandakan.
Mungkin tragedi Love Canal mampu menjadi cermin bagi bangsa ini; atau bagi siapapun yang merasa memiliki andil dalam produksi limbah. Bumi memiliki kapasitas yang bukan berbentuk asimtot. Ada batasan tertentu dimana ia mampu dengan sukarela menampung apapun yang kita sia-siakan. Setelah itu? Bumi hanyalah lahan untuk dipijak yang harus dirawat. Butuh waktu yang panjang bagi planet biru ini untuk mengembalikan kapasitasnya dan kitalah yang bertanggungjawab untuk menyediakan waktu tersebut. Bukanlah fakta yang menyenangkan bila tragedi Love Canal kedua terjadi  di negeri ini. Melirik tragedi Bandung Lautan Sampah dan penuhnya TPST-TPST di Indonesia (bonus beberapa ledakan), bukan tidak mungkin hal itu terjadi. Harus ada upaya untuk mengembalikan bumi pada kapasitasnya semula.
Teknologi semakin berkembang dan dunia mulai sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Cleaner productionwaste treatment, hingga carbon footprintsudah dimulai bagi kalangan menengan ke atas dan pihak industri. Memilah sampah,recyclereuse, dan efektivitasi dengan mudah bisa dilakukan semua pihak. Mereka ada untuk diikuti, bukan untuk diketahui tanpa diaplikasikan. Banyak cara untuk mulai menghargai lingkungan dan membuat bumi kembali meregenerasi kapasitasnya sebagai penjaga keseimbangan alam, masihkah pantas kita beralasan untuk lalai?
Mari budayakan sikap peduli terhadap lingkungan.

Rate this:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini