Senin, 06 April 2015

Mang Nashuha:oleh Mughni Labib_PMI 4

Nama               :   Mughni Labib
NIM                :   1113054000003
Prodi               :   Pengembangan Masyarakat Islam
Semester          :   IV

Mang Nashuha: Life History Inspirator 'Dakwah Waktu' 
Era globalisasi seperti pasca Perang Dunia I-II hingga sekarang ini menimbulkan dua dampak. Dampak positif dan dampak negatif. Bicara soal dampak negatifnya, terlebih yang ditimbulkan dari arus teknologi informasi melalui kecanggihan internetnya, telah banyak mempengaruhi pemuda sampai anak-anak. Sebut saja game online sudah menjejal di sektor WarNet manapun yang membuat tergiur anak-anak. Pemuda-pemuda pun demikian. Disamping menyebabkan terkikisnya budaya anak bangsa, internet (yang salah satunya disokong game online itu) mengakibatkan seseorang jauh dari agama. Bahkan bersikap apriori. Datang waktu adzan, anak-anak masih saja asik main game online. Peristiwa tersebut masih terbilang soal cetek

 Belum video-video sara bertebaran disitus-situs 'tak bertanggungjawab' yang bisa saja siapa pun membukanya. Apalagi warnet buka hingga 24 jam, meski sebagian kecil sudah tolelir menutup warnetnya hingga jam 09.30. Disinggung pula oleh Rhoma Irama dalam lagunya, "Karena dimabuk oleh kemajuan, sampai computer dijadikan Tuhan (yang bener aje!).." berjudul "Qur'an dan Koran".  
Melihat hal itu lelaki parubaya, mang Nashuha, sangat prihatin. Beliau bernama lengkap Drs. Nashuha Abu Bakar, MA. Penyebutan "mang" di depan namanya terkesan merendahkan, namun dirinya tak merasa direndahkan, malah merasa akrab. Memang, beliau telah biasa disebut mang Nashuha selain Ust. Nashuha. Terlebih, kelahiran Cirebon 2 Desember 1966 ini telah menganggap ke semua yang lebih muda darinya sebagai keponakan/saudaranya (ngaamangkeun—dalam bahasa Sunda).
Oleh sebab berjubelnya kenegatifan teknologi informasi, suami dari Irene, S.Pd.I (selanjutnya disebut Umi) ini mendirikan Pondok Pesantren Sabiluna bersama Umi serta masyarakat sekitar. Pesantren ini merupakan salah satu pesantren dari tiga pesantren yang ada di Kelurahan Pondok Ranji berdiri bersama Ponpes Sunanul Husna dan Ponpes Daar El-Hikam. Beliau juga menjabat sebagai Ketua MUI bidang Komisi Fatwa wilayah Tangerang Selatan. Selain itu, beliau merupakan pebisnis, lebih tepatnya peternak burung. Uniknya bisnis yang dirintisnya tersebut dijadikan ladang dakwah. Sayangnya, beliau tak bergabung dengan grup pebisnis burung di media sosial. Bagi beliau menjelajah dan bergabung di dunia maya urusan gampang, yang penting sudah bergabung (silaturahmi) dan aktif melakuakan berbagai kegiatan  dengan berbagai pebisnis burung di dunia nyata.  
Sambil mengasuh para santriwan dan santriwati di pondok pesantren yang didirikannya, melayani umat—salah satunya—lewat kebijakan fatwa-fatwanya, belum melayani masyarakat sekitar—khususnya ibu-ibu pengajian yang dibimbingnya, beliau pun sibuk meniti karir sebagai peternak burung. Tentu aktivitas Mang Nashuha membutuhkan pembagian waktu yang tepat serta berinteraksi dengan banyak orang. Sempat dikisahkan bahwa saat-saat merintis Ponpes Sabiluna, tak sedikit orang yang memfitnah dan melakukan intimidasi kepada beliau. Namun beliau tak mau menyebut dalam bentuk apa fitnah dan intimidasi itu. Pokoknya banyak sekali, sampai-sampai beliau sempat tak jadi akan membangun pesantren.
Hingga pada suatu waktu beliau menyempatkan sowan kepada nenek Raden Muthiah (selanjutnya disebut Emak) di Pasirmuncang, Cicurug, Bogor. Emak dikenal oleh sebagian masyarakat sebagai ahli hikmah. Mang Nashuha dengan mengucurkan air mata seperti pengakuan Bu Nunung Nurzakiyah, sahabat dekatnya, curhat mengadukan persoalannya itu kepada Emak. Emak pun langsung berkata dengan lirih sambil tersenyum, "Ayeuna mah sing sabar heula Nashuha, engke ge bakal loba nu mantuan..." Mendengar itu Mang Nashuha agak lega dan minta do'anya Emak agar pesantren yang sedang dirintisnya terbangun dengan sukses. Tak sampai disitu saja beliau meminta saran. Setelah dari kediaman Emak, beliau bertolak menuju Karawang. Tepatnya Kaum-Rengasdengklok, Ponpes Al-Mu'wanah, tempat dirinya menempa ilmu agama dahulu. Tak mau melewatkan kesempatan itu, beliau pun segera sowan kepada gurunya yang telah dianggap ayahnya sendiri, yakni KH Ahmad Damiri. Selang beberapa lama Mang Nashuha bertamu ke rumah temannya, Ust. Sofyan Sauri. Banyak wejangan dan nasehat yang diberikan oleh keduanya. Salah satunya tak jauh beda dengan saran Emak, sabar.
Waktu demi waktu Mang Nashuha dengan sabar mendirikan Sabiluna. Dan akhirnya keberhasilan itu diraihnya. Mang Nashuha berhasil mendirikan Ponpes Sabiluna dengan suka-duka yang dilaluinya bersama Umi yakni dengan mau memahami tindakan-tindakan dari individu perorangan hingga masyarakat terhadapnya berupa bantuan, sokongan, penghormatan, penghargaan maupun fitnah dan kesulitan lainnya. Setelah itu beliau olah (tafakkur—proses memahami tindakan/kepekaan) sebagai pelajaran/hikmah tersendiri baginya. Kemudian dimanifestasikan dengan akhlāqul karīmah atau budi pekerti yang baik. Sikap memahami makna dibalik tindakan orang lain, berempati (menyesuaikan diri) dalam kerangka berpikir orang lain yang dengan sendirinya dia mau utarakan mengapa dia berperilaku, situasinya bagaimana dan motivasi apa sehingga membuatnya untuk berperilaku serta tujuan berbuat itu sendiri.
Mang Nashuha adalah pribadi yang ramah dan cepat akrab. Sifat kesolidariatsannya pun terlihat, saat saya tanya ke tetangga dekatnya. Yang menarik, sampai tukang bakso pun kenal kepadanya. Sebab, jarang sekali seorang elit, pejabat atau tokoh-tokoh yang sangat dekat dengan masyarakat bahkan yang 'kelas'-nya berbeda. Beliau seorang yang menghormati betul ibunya. Dan selebihnya, yang paling menonjol adalah tentang manajemen waktunya. Dari paparan Umi, Mang Nashuha memang sangat ulet. Dia pandai membagi waktu; waktu untuk santri-santri, waktu untuk mengajar, waktu untuk musyawarah dan bekerja, waktu untuk berbisnis/beternak dan tentunya waktu untuk dirinya dan keluarga. Ditambah dari keterangan atau pengakuan atau kesaksian dari beberapa tokoh seperti KH. Bahruddin, S.Ag yang 'mengacungi jempol' dirinya, KH. Ahmad Damiri sendiri mengakui ketekunan, kesungguhan beliau dalam mengaji walau awalnya sempat ada kekurangan, begitu pun Bu Nunung Nurzakiyah, menyatakan bahwa Mang Nashuha seorang yang penyabar. Meskipun dilanda fitnah, namun ia tetap tabah. 
Hasil dari pendekatan life history ini (sebenarnya pengembangan dari penelitian sebelumnya), dapat diambil beberapa data. Mang Nashuha merupakan salah satu pelaku urban. Asli Cirebon lalu ke Dongkal-Karawang bersama ibunya. Dari Dongkal, ia pergi ke Kaum Krajan-Rengasdengklok menimba ilmu di Ponpes al-Mu'awanah asuhan KH. Ahmad Damiri. Baru setelah menamatkan aliyah di MA Rengasdengklok (saat ini MAN Rengasdengklok), ia merantau ke Ciputat-Tangerang Selatan. Mang Nashuha menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH). Menikah dengan Umi, wanita parubaya asal Cengkareng.
Beliau mempunyai satu orang putra bernama Muhammad Abdurrahman Kasyful Anwar dan dua orang putri bernama Najmah Hadzami Zahra dan Hannah Tsuroya Halimah. Hampir berbarengan dengan pernikahannya, mendirikan Sabiluna yang beralamat di Jln. Mawar No. 22 Pondok Ranji, Ciputat Timur-Tangerang Selatan. Selang beberapa lama, Mang Nashuha menempuh S2 di Jurusan Tafsir Hadits-Fakultas Ushuluddin. Hingga kini beliau menjadi Ketua MUI komisi Fatwa sekaligus peternak burung. Tindakannya yang banyak memberi kontribusi terhadap perkembangan masyarakat, tak lepas dari sikap peka.
Tujuan sebenarnya mendirikan pesantren adalah membantu anak-anak yang memang tidak 'tersentuh' oleh negara, oleh masyarakat, dan tidak mampu dalam materi, namun mereka ingin belajar, menuntut ilmu agama. Sebab, bila manusia itu 'bodoh' cenderung melakukan hal-hal yang bodoh. Orang yang kurang berilmu saat melakukan hal yang positif pun cenderung tidak produktif. Tetapi, orang yang berilmu melakukan apapun 'luar biasa'. Pekerjaan orang-orang yang berilmu dan yang tidak itu berbeda. Beliau beserta staf pengajar membekali ilmu mereka (anak-anak tersebut yang kemudian disebut santri). Supaya mereka melakukan hal-hal yang produktif, positif bahkan yang monumental. Ia mempertegas bahwa ketiadaan materi, uang, modal jangan dijadikan alasan tidak bisa belajar!
MANAJEMEN WAKTU
Semua manusia diberi modal waktu 24 jam, Mang Nashuha mencoba mengaturnya sebaik mungkin. Beliau mencari waktu yang tepat untuk mengajar, musyawarah juga bersantai. Namun, sekalipun bersantai, beliau menegaskan agar aktivitas santai itu juga bermanfaat seperti kegiatan ternak burungnya. Ada banyak peluang waktu. Manajemen waktu ini tampaknya telah merasuk dalam jiwanya. Sebab dulu Mang Nashuha telah berwirausaha sambil duduk dibangku kuliah. Ketika Mang Nashuha masih duduk dibangku kuliah, ia mengaku berjualan majalah, minyak wangi dan mengajar (private) untuk membayar biaya perkuliahannya, dengan modal dengkul (tak punya uang).
Ia memberi pesan bahwa, kita harus gigih, maksimal dan mesti punya semangat, jangan lemah supaya dapat mencapai target. Berwirausaha seperti telah disebutkan diatas, menurutnya sesuatu yang berbeda dari mayoritas mahasiswa (di luar mainstream). Jadi, jika ingin 'berbeda' (dalam artian positif, lebih bagus) dengan orang lain maka lakukanlah hal yang berbeda pula. Yang penting, usahanya itu halal dan bermanfaat.
Kesimpulan dari penelitan dengan pendekatan life history ini adalah sebagai umat Islam dalam berdakwah (terkhusus lewat kepercayaan) kita dituntut untuk cerdas. Cerdas ilmu juga cerdas perilaku. Hal ini ditunjukkan oleh Mang Nashuha yang membangun sebuah pesantren sebagai sebuah tempat anak-anak belajar ilmu keagamaan. Selain itu, melayani masyarakat pula lewat kebijakan-kebijakan fatwanya serta mengingatkan bagi yang 'lupa' dalam komunitas peternak burung yang sedang dirintisnya. Sudah barang pasti, aktivitas tersebut akan mencapai titik keberhasilan melalui manajemen waktu. Ambil waktu santai tapi bermanfaat, walaupun hanya sedikit. Juga dalam proses, tak semuanya 'langsung jadi', tetapi slow but sure (pelan tapi pasti) yang ditandai dengan berdo'a karena sebagai perlambang senjatanya orang beriman dan betapa butuhnya manusia kepada Tuhan (to given) dan beusaha keras dalam menggapai cita-cita (to taken). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini