Rabu, 20 Maret 2013

PERSPEKTIF DALAM PSIKOLOGI SOSIAL_Nur halimah_tugas2


Berbagai  perspektif dalam psikologi sosial yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial. Ada empat perspektif, yaitu diantaranya:
1.        Perspektif struktural
Perspektif struktural menekankan bahwa perilaku seseorang dapat dimengerti dengan sangat baik jika diketahui peran sosialnya. Hal ini terjadi karena perilaku seseorang merupakan reaksi terhadap harapan orang-orang lain. Untuk menjelaskan perilaku sosial seseorang dapat dikaji sebagai  sesuatu proses yang instinktif,  karena kebiasaan, dan juga yang bersumber dari proses mental. William James dan John Dewey menekankan pada penjelasan kebiasaan individual, tetapi mereka juga mencatat bahwa kebiasaan individu mencerminkan kebiasaan kelompok, yaitu adat-istiadat masyarakat atau struktur sosial. struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil.
Pewarisan struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. Ada beberpa teori yang mendasari perspektif struktural, diantaranya:
a.          Teori peran
Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. teori peran lebih mengkaji pada skala makro, yaitu peran yang ditetapkan oleh masyarakat. Menurut teori ini setiap orang memiliki peran tertentu. Misal seorang ibu dan ibu sebagai orang tua mempunyai peran masing-masing. Seorang ibu akan memerankan perannya sebagai seorang ibu, yaitu dengan melahirkan, menyusui, mendidik, dan sebagainya. Demikian pula peran seorang ayah sebagi pencari nafkah, dengan demikian prilaku ditentukan oleh peran sosial.
b.         Teori Pernyataan Harapan
Teori ini berfokus pada kelompok kerja yang lebih kecil. Menurut teori ini, anggota-anggota kelompok membentuk harapan-harapan atas dirinya sendiri dan diri anggota lain, sesuai dengan tugas-tugas yang relevan dengan kemampuan mereka, dan harapan-harapan tersebut mempengaruhi gaya interaksi di antara anggota-anggota kelompok. Anggota-anggota dari kelompok dituntut memiliki motivasi dan keterampilan lebih dalam kinerja kerjanya . Harapan bisa dilihat dari atribut pribadi dan kelompok, seperti: jenis kelamin, ras, dan usia. Dalam masyarakat tertentu biasanya lebih melihat pada atribut pribadi, karena mereka menggap atribut pribadi lebih utama dibanding dengan atribut kelompok. Dalam pemilihan ketua kelas saja misalnya, seorang laki-laki lebih dominan dijadikan calon, bahkan yang dipilih menjadi seorang ketua kelas, karena memandang laki-laki lebih kuat dari perempuan dan lebih mempunyai jiwa kepemimpinan dibanding degan perempuan. dengan demikian, status tersebut  ( jenis kelamin, ras, usia, dan lainnya) mempunyai pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial.
2.      Perspektif Kognitif
perspektif kognitif menekankan pada pandangan bahwa kita tidak bisa memahami perilaku seseorang tanpa mempelajari proses mental mereka. Manusia tidak menanggapi lingkungannya secara otomatis. Perilaku mereka tergantung pada bagaimana mereka berpikir dan mempersepsi lingkungannya. Jadi untuk memperoleh informasi yang bisa dipercaya maka proses mental seseorang merupakan hal utama yang bisa menjelaskan perilaku sosial seseorang.
Indikasinya bahwa kebiasaan (habit) merupakan penjelasan alternatif yang bisa digunakan untuk memahami perilaku sosial seseorang di samping instink (instinct). Namun beberapa analis sosial percaya bahwa kalau hanya kedua hal tersebut (kebiasaan dan instink) yang dijadikan dasar, maka dipandang terlampau ekstrem - karena mengabaikan kegiatan mental manusia. Ada beberpa teori  yang melandasi perspektif kognitif ini, diantaranya:
a.    Teori Medan
Teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field) di sekeliling individu bepengaruh pada perilakunya. Teori ini memandang bahwa eksistensi bagian-bagian atau unsur-unsur tidak bisa terlepas satu sama lainnya. Misalnya,  kalau kita melihat bangunan, kita tidak melihat batu bata, semen, kusen, kaca, secara satu persatu. Demikian pula kalau kita mempelajari perilaku individu, kita tidak bisa melihat individu itu sendiri, lepas dari konteks di mana individu tersebut berada.
b.        Teori kognitif kontemporer
Teori kognisi kontemporer memandang manusia sebagai agen yang secara aktif menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mengalihkan informasi. Kita secara aktif berpikir, membuat rencana, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Intinya, teori-teori kognitif memusatkan pada bagaiamana kita memproses informasi yang datangnya dari lingkungan ke dalam struktur mental kita Teori-teori kognitif percaya bahwa kita tidak bisa memahami perilaku sosial tanpa memperoleh informasi tentang proses mental yang bisa dipercaya, karena informasi tentang hal yang obyektif, lingkungan eksternal belum mencukupi. 
3.      Perspektif interaksi
Psikologi Woodworth menambahkan hubungan manusia dengan lingkungan meliputi:
a.       Individu dapat bertentangan dengan lingkungan.
b.      Individu dapat menggunakan lingkungan.
c.       Individu dapat berpartisipasi dengan lingkungan.
d.      Individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Interaksi sosial adalah suatu bhubungan antara individu atau kelompok, yang mana tingkah laku individu yang satu dengan yang lain mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan individu yang lain. Bahkan setiap individu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan dan selalu berinteraksi antar satu dengan yang lain. Teori Convergensi yang dipimpin oleh William stream, beranggapan bahwa perkembangan pribadi manusia dipengaruhi dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan, faktor luar dan dalam (indogen dan exogen).
a.       Kemungkinan manusia baru bisa berkembang bila bergaul dengan dengan masyarakat artinya lingkungan tidak memungkinkan berkembang tiap-tiap potensi, maka potensi tidak mungkin juga berkembang. Misal, orang mempunyai benih penyanyi, tapi ia lahir di kalangan kiayi, maka tidak mungkin benih tersebut berkembang, jagung yang tumbuh diatas batu kering.
b.       Pengaruh sekitarpun ada batasnya, walaupun lingkungan memberi kemungkinan samapai bagaimana pun juga, tetapi potensi tidak ada,maka tidak mungkin juhga berkembang. Misal, seorang yang mempuyai kemampuan rendah, walaupun di ajarkan oleh seorang profesor, maka tidak mungkin bsa pandai.
4.      Perspektif prilaku
Watson dalam penelitiannya dia menyarankan agar pendekatannya ini tidak sekedar satu alternatif bagi pendekatan instinktif dalam memahami perilaku sosial, tetapi juga merupakan alternatif lain yang memfokuskan pada pikiran, kesadaran, atau pun imajinasi. Watson menolak informasi instinktif semacam itu, yang menurutnya bersifat "mistik", "mentalistik", dan "subyektif".
Dalam pendekatan perilaku terdapat teori-teori yang mencoba menjelaskan secara lebih mendalam mengapa fenomena sosial yang diutarakan dalam pendekatan perilaku bisa terjadi. Beberapa teori antara lain adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory).
a.       Teori Pembelajaran Sosial.
     Neil Miller dan John Dollard (1941) mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Mereka mengindikasikan bahwa kita  belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan bisa begitu saja karena instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan "social learning (pembelajaran sosial).
b.      Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita. Misalnya, pola-pola perilaku para pedagang dan pembeli di pasar hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.
Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial  adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini