Minggu, 15 September 2013

nurapzafidah 1/b_tugas2_teori emile durkheim


Teori Emile Durkheim
Fakta sosial
        Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, buku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individual sebagai sebuah paksaan eksternal ; atau bisa juga dikatakan bahwa sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual. Dalam buku The Rules of Sociological Method, Durkeim membedakan dua jenis fakta sosial yaitu:
1.     Fakta sosial material
Fakta sosial material,seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, dan hukum  dan perundang-undangan, relatif mudah dipahami karena keduanya bisa diamati secara langsung.
2.     Fakta sosial nonmaterial
Fakta soaial nonmaterial memiliki batasan tertentu, ia ada dalam pikiran individu. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi secara sempurna, maka interaksi itu akan "mematuhi hukunya sendiri" (Durkheim, [1912] 1965:471)
a.     Moralitas
Perspektif Durkheim tentang moralitas terdiri dari dua aspek. Pertama, Durkheim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial, dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris karena ia berada di luar individu, ia memaksa individu, dan bisa dijelaskan dengan fakta-fakta sosial lain. Kedua, Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya didorong oleh kepeduliannya pada "kesehatan" moral masyarakat modern. Sebagian  besar sosiologi Durkheim bisa dinggap sebagai sebuah produk dari perhatiannya terhadap isu moral ini.
b.     Kesadaran Kolektif
Durkheim mencoba mewujudkan perhatiannya pada moralitas dengan berbagai macam konsep.
c.      Representasi Kolektif
Karena kesadaran kolektif merupakan sesuatu yang luas dan gagasan yang tidak memiliki bentuk yang tetap, oleh karena itu tidak mungkin dipelajari secara langsung, akan tetapi mesti didekati melalui relasi fakta sosial material.

            Dalam buku Suicide (1897/1951), Durkheim beralasan jika saja ia dapat mengaitkan perilaku individu, semisal bunuh diri, dengan sebab-sebab sosial, itu berarti dia berhasil membuktikan betapa pentingnya disiplin sosiologi. Namun Durkheim tidak meneliti mengapa individu A atau B melakuan bunuh diri : justru ia tertarik pada sebab-sebab perbedaan angka bunuh diri di antara beberapa kelompok, kawasan, negara dan kategori orang yang berlainan (misalnya, menikah atau lajang).

Empat Jenis Bunuh Diri
1.     Bunuh Diri Egoistis. Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok dimana individu tidak beriteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi ini melahirkan perasaa bahwa individu bukan bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan pula bagian dari manusia –moralitas, nilai dan tujuan kita –berasal dari masyarakat.
2.     Bunuh Diri Altruistis. Tipe bunuh diri kedua yang dibahas Durkheim adalah bunuh diri altruistis. Kalau bunuh diri egoistis terjadi ketika integrasi  sosial melemah, bunuh diri altruistis terjadi ketika integrasi sosial sangat kuat. Salah satu contoh paling cepat untuk bunug diri altruistis adalah bunuh diri massal dari pengikut Pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana, pada tahun 1978.
3.     Bunuh Diri Anomik. Yang terjadi  ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena melemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari apakah gangguan itu positif (misal, peningkatan ekonomi) atau negatif (penurunan ekonomi).
4.     Bunuh Diri Fatalistis. Terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim (1897/1951:276) menggambarkan sesorang yang melakukan bunuh diri fatalitas seperti "seseorang yang masa depannya telah tertutp dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini