Selasa, 11 Maret 2014

Bls: kartika al ashzim_tugas(1)_Pembahasan(teori emile durkheim)




Pada Selasa, 11 Maret 2014 0:06, Kartika Al azhim <kartikaalazhim@yahoo.co.id> menulis:



Pada Senin, 10 Maret 2014 23:38, Kartika Al azhim <kartikaalazhim@yahoo.co.id> menulis:
TEORI SOSIOLOGI EMILE DURKHEIM
Emile Durkheim dipandang sebagai pewaris tradisi Pencerahan karena penekanannya pada sains dan reformisme sosial. Tetapi Durkheim juga dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif. Durkheim melegitimasi sosiologi di Perancis dan karyanya akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan perkembangan teori sosiologi pada khususnya.          
Secara politik, Durkheim adalah seorang liberal, tetapi secara intelektual ia tergolong lebih konservatif. itu terbukti ketika gagasan Marx tentang perlunya revolusi sosial bertolak belakang dengan gagasan reformasi Durkheim. akibatnya, gagasan Durkheim tentang keteraturan dan reformasi menjadi dominan sedangkan gagasan Marxian merosot.
Fakta-fakta sosial. Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Dalam The Rule of Sociological Method (1895/1982) Durkheim menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial. dalam bukunya yang berjudul Suicide (1897/1951) Durkheim berpendapat bawa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi.
Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosial yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. durkheim mengembangkan pandangan sosiologi tersendiri dan mencoba menunjukkan kegunaannya dalam studi ilmiah tentang bunuh ini.
Dalam The Rule Of Sociological Method, ia membedakan antara dua tipe fakta sosial :
Material dan Nonmaterial.
Durkheim lebih mengutamakan pada fakta nonmaterial ( mislanya kultur, institusi sosial) daripada fakta sosial material (misalnya birokrasi, hukum). Itu terbukti dalam karyanya paling awal yang berjudul The Division Of Labor In Society (1893/1964), perhatiannya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan berada dalam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan terutama oleh fakta sosial nonmaterial, khususnya oleh kuatnya ikatan moralitas bersama, atau oleh apa yang ia sebut sebagai kesadaran kolektif yang kuat. Menurut Durkheim, pembagian kerja dalam masyarakat modern menimbulkan beberapa patologi (pathologies). Dengan kata lain, divisi kerja bukan metode yang memadai yang dapat membantu menyatukan masyarakat. Kecenderungan sosiologi konservatif durkheim terlihat ketika ia menganggap revolusi tak diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Menurutnya, berbagai reformasi dapat memperbaiki dan menjaga sistem sosial modern agar tetap berfungsi. Meski ia mengakui bahwa tak mungkin kembali ke masa lalu di mana kesadaran kolektif masih menonjol, namun ia menganggap bahwa dalam masyarakat modern moralitas bersama dapat diperkuat dan karena itu manusia akan dapat menanggulangi penyakit sosial yang mereka alami dengan cara yang lebih baik.
Agama. Dalam karyanya yang terakhir, The Elementary Forms Of Religious Life (1912/1965), ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhr fakta sosial nonmaterial yakni agama.
Durkheim membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Ia yakin bahwa ia akan dapat secara lebih baik menemukan akar agama itu dengan jalan membandingkan masyarakat primitif yang sederhana ketimbang di dalam mayarakat modern yang kompleks. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menentukan bahwa sesuatu itu bersifat sakral dan yang lainnya bersifat profan, khususnya dalam kasus yang disebut totemisme  (tumbuh-tumbuhan dan binatang didewakan). Durkheim menyimpulkan bahwa mayarakat dan agama (kesatuan kolektif) adalah satu dan sama.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini