Sabtu, 22 Maret 2014

Fitri Qomariah_Tugas 3_Karl Marx

TEORI KARL MARX
1. Teori Modal Produksi
Modal produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). ). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari modal produksi dalam masyarakat.
Marx memiliki pemikiran materialistik. Menurut Marx , materi itu sumber dari segalanya, dari materi terbitlah ide. Marx juga percaya bahwa sejarah peradaban manusia bergerak karena perubahan cara manusia dalam memenuhi kebutuhan melalui kegiatan ekonominya.
Tipe-tipe modal produksi, antara lain :
1. Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.
2. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.
Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal. Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan "pengorbanan" yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.
Marx melihat pada modal produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi "korban" eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.
Periodisasi sejarah manusia bisa dilakukan dengan cara meninjau bagaimana populasi itu memenuhi kebutuhan ekonominya. Pertama kali populasi manusia melakukan berburu, kemudian muncul masyarakat yang bercocok tanam, setelah itu masyarakat saling menukar komoditas dengan cara barter, lalu ditemukannya alat tukar barang, dan muncullah masyarakat feodal yang membagi masyarakat menjadi dua kelas yaitu tuan tanah dengan petani. Dan apa yang terjadi pada masa Marx adalah tidak hanya barang yang bisa dijual tapi jasa dan tenaga bisa dijadikan komoditas untuk mendapatkan uang. Pada masa ini masyarakat terbagi pada dua kelas, kelas pemilik modal/borjuis dan buruh/proletar.
Marx membagi dua struktur dalam fenomena kehidupan. Yang dibawah bernama Base Structure dan diatas bernama Supra structre. Yang dibawah akan medikte yang diatas. Yang dibawah ini adalah materi, suatu yang tangible, yang bisa diukur, itu adalah ekonomi. Dan yang diatas itu adalah ide-ide yang tak terukur, seperti agama, pendidikan, hukum, politik, sosial, dan lain-lain. Sederhananya, ekonomi akan mendikte agama, pedidikan, hukum, dan politik. Jadi yang penting bagi Marx adalah membenahi sesuatu yang bisa kita ukur, yaitu ekonomi. Ketika ekonomi baik, stabil, dan mencapai keadilan. Maka kita akan mendapatkan supra structure yang baik. Suatu hal yang percuma jika kita meubah-ubah dan berjuang menyelesaikan pendidikan, hukum, politik, karena semua hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa, kecuali ekonomi sebagai base structure berubah. Itulah pandangan Marx. Kuncinya ada pada ekonomi.
Marx memprediksi keruntuhan kapitalisme, karena kapitalisme bukanlah akhir dari sejarah manusia, kapitalisme menyimpan kontradiksi di dalam tubuhnya sendiri. Dengan majunya tekhnologi dan orientasi kapitalisme pada keuntungan, para kapitalis akan mengganti para buruh dengan mesin-mesin yang lebih efisien dalam modal produksi. Ini membuat para buruh yang sudah memiliki keterampilan terusir dari industri. Para buruh yang selama ini menjadi bagian produksi dan sekaligus menjadi konsumen kehilangan daya beli karena mereka tidak memiliki lagi upah dari pekerjaannya. Kapitalisme membunuh dirinya sendiri, barang yang ia produksi pada akhirnya tidak ada yang membeli sehingga para pemilik modal bangkrut. Dengan demikian, muncullah masyarakat tanpa kelas, masyarakat sosialis. Masyarakat yang egaliter dalam segala bidang.
2. Teori Kelas
Pernyataannya yang terkenal dalam manifesto komunis, "The history of all hitherto existing society is the history of class struggles." Baik itu pada masa purba, masa feodal, atau masa kapitalis seperti yang sedang menggejala saat itu, Marx selalu melihat terdapat pertarungan antara kelas yang berkuasa dengan kelas yang dikuasai. Dalam masyarakat kapitalis, kelas-kelas tersebut adalah kelas majikan (borjuis) dan kelas buruh (proletar).
Teori kelas ini sendiri berdasarkan pemikiran bahwa : " sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan ". Analisanya Marx selalu mengemukakan tentang bagaimana hubungan antar manusia terjadi dilihat dari hubungan antara posisi masing – masing terhadap sarana – asarana produksi, yaitu dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber – sumber daya yang langka. Ia mencatat bahwa perbedaan atas sarana tidak selalu menjadi sebab dari pertikaian antargolongan. Marx beranggapan kuat bahwa posisi di dalam struktur yang seperti ini selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk memperbaiki nasib mereka. Walaupun demikian, kepentingan golongan tidak dianggap sebagai sesuatu yang paling utama di dalam sosiologi Marx. Orang – orang berkembang di bawah lindungan orang – orang yang menduduki posisi sosial tertentu dan menuju ke arah social tertentu pula. Marx sendiri beranggapan bahwa meskipun gejala – gejala historis adalah hasil dari mempengaruhi antar berbagai komponen, namun pada analisa terakhir hanya ada satu independent variable yaitu factor ekonomi. Dan menurut Marx sendiri, perkembangan – perkembangan politik, hokum, filsafat, kesusasteraan serta kesenian, semuanya tertopang pada factor ekonomi.
3. Teori Kritis
Teori kritis diawali Gagasan Karl Marx dalam Theses on Feuerbach. Dalam tulisan tersebut Marx menyatakan bahwa para "filsuf memberi banyak interpretasi yang berbeda terhadap dunia, namun yang terpenting adalah bagaimana mengubah dunia". Dalam hal ini Teori Kritis menggugat kembali rasionalitas dan positivisme karena bersifat ideologis. Positivisme logis menyatakan bahwa ilmu pengetahuan atau sains modern telah direduksi secara total menjadi sistem administrasi yang semata-mata bersifat rasional dan teknologi murni. Menurut Marx Teori Kritis lebih berfokus kepada suprastruktur dibandingkan basis ekonomi dari masyarakat. Selain itu Teori Kritis juga menekankan pandangan terhadap nilai-nilai moral, politik dan agama. Di sini dipahami bahwa Teori Kritis memiliki klaim bahwa pengetahuan bersifat relatif terhadap kepentingan manusia dan oleh sebab itu diperkenalkan suatu rentang yang luas dari kritisisme budaya ke dalam teori sosial Marxis.
4. Implikasi Marx ( akademik dan pergerakan sosial )
Karl Marx secara akademis yang pada mulanya berusaha mengungkap penindasan yang dilakukan oleh para kapitalis terhadap kaum pekerja (buruh) dengan berbagai teori yang dikemukakan telah melahirkan berbagai gerakan perlawanan terhadap kapitalisme. Gerakan sosial lama (klasik) merupakan cerminan dari perjuangan kelas di sekitar proses produksi, dan oleh karenanya gerakan sosial selalu dipelopori dan berpusat pada kaum buruh. Paradigma dalam gerakan ini adalah menggunakan teori perbedaan kelas Marx, sehingga gerakan ini selalu melibatkan dirinya pada wacana idiologis yang meneriakkan 'anti kapitalisme', 'revolusi kelas' dan 'perjuangan kelas'. Orientasi nya juga selalu berkutat pada penggulingan pemerintahan yang digantikan dengan pemerintahan baru. Teori gerakan sosial baru lahir sebagai kritik terhadap teori lama sebelumnya yang selalu ada dalam wacana idiologis kelas. Gerakan sosial baru adalah gerakan yang lebih berorientasi isu dan tidak terlalu tertarik pada gagasan revolusi. Dan tampilan dari gerakan sosial baru lebih bersifat plural, yaitu mulai dari gerakan anti rasisme, anti nuklir, feminisme, kebebasan sipil dan lain sebagainya. Gerakan sosial baru beranggapan bahwa di era kapitalisme liberal saat ini perlawanan timbul tidak hanya dari gerakan buruh, melainkan dari mereka yang tidak terlibat secara langsung dalam sistem produksi seperti misalnya, mahasiswa, kaum urban, kaum menengah, dan lain-lain. Karena sistem kapitalisme telah merugikan masyarakat yang berada di luar sistem produksi. Ada beberapa hal yang baru dari gerakan sosial, seperti berubahnya media hubung antara masyarakat sipil dan negara serta berubahnya tatanan masyarakat kontemporer itu sendiri.
Fitri Qomariah
(1113054100034)
KesSos 2A
Daftar Pustaka
Lawang, Robert M (terj.). 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern
http://sendyakalaning.blogspot.com/2011/02/sedikit-menegenal-sosiologi-kritis.html
http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/24/gerakan-mahasiswa-konsistensi-teori-dan-praktek-531675.html
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini