Sabtu, 04 Oktober 2014

Nama : M. Hidayatul Munir NIM : 1112051000131 Kls/jrsn/smstr : 5 KPI E Tugas : Etika dan Filsafat Komunikasi

Nama                          : M. Hidayatul Munir
NIM                            : 1112051000131
Kls/jrsn/smstr            : 5 KPI E
Tugas                          : Etika dan Filsafat Komunikasi
1.      Definisi Filsafat
Poedjawijatna (1974:1) menyatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab yang berhubungan rapat dengan bahasa Yunani, bahkan asalnya memang dari bahasa Yunani. Kata Yunaninya ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philoshopia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan shopia; philo artinya cinta dalam arti luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu; shopia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurut namanya saja Filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebajikan (lihat juga Windelband, 1958 ;1; 1)
            Jadi, berdasarkan kutipan itu dapatlah diketahui bahwa dari segi bahasa, filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.
Poedjawitna (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang berdasarkan fikiran belaka. Plato menyatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli, dan bagi Aristoteles filsafat ialah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung didalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, estetika, dan bagi Al Faraby filsafat ialah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya. Pengertian umum filsafat adalah ilmu pengetahan yang menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.
 
2.      Unsur-unsur Filsafat
 
A.    Epistemologi
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan, itulah sebabnya kita sering menyebutnya Istilah filsafat pengetahuan karena ia membicarakan hal pengetahuan, Istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F. Ferrrier pada tahun 1854 (Runes, 1971:94).
Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan itu diperoleh manusia melalui beberapa cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Ada beberapa aliran yang membicarakan tentang ini yaitu: aliran Empirisme, aliran Rasionalisme, Aliran Positivisme, dan aliran intuisionisme.
B.     Ontologi
Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan teori hakikat. Ada yang menamakan bagian ini Ontologi.
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas; realitas ialah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarny sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan menipu.
                              
C.    Aksiologi
Seandainya ditanyakan kepada, Scorates atau Nietzsche apa guna filsafat, agaknya mereka akan menjawab bahwa filsafat dapat menjadi manusia bijaksana. Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, pertama filsafat sebagai kumpulan teori, kedua filsafat sebagai pandangan hidup (philoshopi of life), dan ketiga filsafat sebagai metode pemecahan masalah.
 
3.      Metode-metode Filsafat
1.       Metode Kritis (Socrates)
Metode kritis disebut juga metode dialektik. Dipergunakan oleh Socrates dan Plato. Harold H Titus mengatakan bahwa metode ini merupakan metode dasar dalam filsafat.
Socrates (470-399 SM) menganalisis objek-objek filsafatnya secara kritis dan dialektis. Berusaha menemukan jawaban yang mendasarkan tentang objek analisanya dengan pemeriksaan yang amat teliti dan terus-menerus. Ia menempatkan dirinya sebagai intelektual mid wife, yaitu orang yang memberi dorongan agar seseorang bisa melahirkan pengetahuannya yang tertimbun oleh pengetahuan semunya. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap orang tahu akan hakekat.
2.       Metode Intuitif (Platinos dan Bergson)
Filsuf yang mengembangkan pemikiran dengan metode ini adalah Platinos (205-275 M) dan Henri Bergson (1859-1941). Platinos menggunakan metode intuitif atau mistik dengan membentuk kelompok yang melakukan kontemplasi religious yang dijiwai oleh sikap kontemplatif.
Filsafat Platinos adalah a way of life. Tapi  bukan doktrin yang dogmatis, merupakan jalan untuk menghayati hidup religious yang mendalam. Dalam kelompoknya Platinos melakukan usaha untuk member semangat dan mengantarkan mereka kedalam kehidupan rohani.
Metode filsafat Platinos disebut metode mistik sebab dimaksudkan untuk menuju pengalaman batin dan persatuan dengan Tuhan.
3.       Metode Skolastik (Aristoteles dan Thomas Aquinas)
Metode Skolastik dikembangkan oleh Thomas Aquinas (1225-1247). Juga disebut metode sintetis deduktif. Metode berpikir skolastik menunjukan persamaan dengan metode mengajar dalam bentuknya yang sistematis dan matang.
Ada dua prinsip utama dalam metode sekolastik yaitu Lectio dan Disputatio.
Lectio adalah perkuliahan kritis, diambil teks-teks dari para pemikir besar yang berwibawa untuk dikaji. Biasanya diberi interpretasi dan komentar-komentar kritis. Disputatio adalah suatu diskusi sistematis dan meliputi debat dialegtis yang sangat terarah
4.       Metode Geometris, Rene Descartes
Rene Descartes (1596-1650) adalah pelopor filsafat modern yang berusaha melepaskan dari pengaruh fisafat klasik. Dalam metodenya Descartes mengintegrasikan logika, analisa geometris dan aljabar dengan menghindari kelemahannya. Metode ini membuat kombinasi dari pemahaman intuitif akan pemecahan soal dan uraian analitis. Mengembalikan soal itu kehal yang telah diketahui tetapi akan menghasilkan pengetian baru.
Menurut Descartes semua kesatuan ilmu harus dikonsepsikan dan dikerjakan  oleh seorang diri saja
5.       Metode Empiris (Thomas Hobbes & John Locke)
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan pengetahuan itu sendiri dan mengecilkan peran akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa yunani empeiria yang berarti pengalaman. Sebagai suatu doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme
6.       Metode Transendental (Immanuel Kant & Neo Skolastik)
Immanuel Kant (1724-1804) dalam filsafat mengembangkan metode kritis transcendental. Kant berpikir tentang unsure-unsur mana dalam pemikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam rasio manusia. Ia melawan dogmatisme
7.       Metode Fenomenologis (Husserl)
Edmund Husserl (1859-1938) mengembangkan metode fenomenologis dalam filsafat. Menurut Husserl dalam usaha kita mencapai hakekat –pengertian dalam aslinya- harus melalui proses reduksi. Reduksi adalah proses pembersihan atau penyaringan dimana objek harus disaring dari beberapa hal tambahannya. Obyek penyelidikan adalah fenomena. Dan yang kita cari adalah kekhasan hakekat yang berlaku bagi masing-masing fenomena. Fenomena adalah yang menampak. Yaitu data sejauh disadari dan sejauh masuk dalam pemahaman. Obyek justru dalam relasi dengan kesadaran. Jadi fenomena adalah yang menampakkan diri menurut adanya didalam diri manusia.
8.       Metode Dialektis (Hegel, Marx)
Dialektis terjadi dalam langkah-langkah yang dinamakan tesis-antitesis-sintesis. Diungkapkan dalam tiga langkah: dua pengertian yang bertentangan, kemudian dipertemukan dalam suatu kesimpulan. Implikasinya adalah dengan  cara kita menentukan titik tolaknya lebih dulu.
 
9.       Metode Nen-Positivistis
Non-positivisme adalah satu cara pandang open mind untuk mendapatkan keunikan informasi serta tidak untuk generalisasi, yang entry pouint pendekatannya berawal dari pemaknaan untuk menghasilkan teori dan bukan mencari pembenaran terhadap suatu teori ataupun menjelaskan suatu teori, dikarenakan kebenaran yang diperoleh ialah pemahaman terhadap teori yang dihasilkan. Untuk ini dalam non positivisme terdapat tiga hal penyikapan, yaitu:
Memusatkan perhatian pada interaksi antara actor dengan dunia nyata.
 
10.   Metode Analitika Bahasa (Wittgenstein)
Analisa bahasa adalah metode netral. Tidak mengandaikan epistemology, metafisika, atau filsafat. Metode Wittgenstein mempunyai maksud positif dan negatif. Positif maksudnya bahasa sendirilah yang dijelaskan. Apakah memang dapat dikatakan dan bagaimanakah dapat dikatakan.
Segi positif diarahkan pada segi negatif dengan jalan poositif mempunyai efektherapeutis (penyembuhan) terhadap kekeliuran dan kekacauan
4.      Hakikat Filsafat
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas, ialah ke-real-an "real" artinya kenyataan yang sebenarnya, kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara, atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
            Kosmologi membicarakan hakikat asal, hakikat susunan, hakikat berada, juga hakikat tujuan kosmos. Adapun hakikat manusia dibicarakan oleh antropologi; ini juga cabang teori hakikat. Pembahasan hakikat Tuhan dilakukan oleh fheodicen, juga cabang dari teori hakikat. Theodicon untuk filsafat agama. Filsafat agama juga termasuk ke dalam teori hakikat, demikian pula filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan lain-lain.
            Dalam hakikat filsafat pertama yang kita bicarakan adalah realitas benda-benda. Apakah sesuai penampakannya (appearance) atau sesuatu yang bersembunyi di balik penampakan itu? Dalam pertanyaan tersebut muncullah 4 atau 5 aliran yaitu materialisme, idealisme, dualisme, dan agnostisisme.
 
Daftar Pustaka
·         Fatchurrahman, M. 1990. Pengantar Filsafat. Padang: Universitas Andalas.
·         Prof. Dr. Ahmad Tafsir. 2002. Filsafat Umum( Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra). PT. Remaja Rosdakarya Offset. Bandung
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini