Minggu, 21 September 2014

Nurlaila_PMI 5_Tugas 1

Nama : Nurlaila
NIM : 1112054000027
Jurusan : PMI 5
 
A.     DEFINISI DEMOGRAFI
Pengertian tentang demografi berkembang seiring dengan perkembangan keadaan penduduk serta penggunaan statistik kependudukan yang dialami oleh para penulis kependudukan pada zamannya. Berikut beberapa contoh tentang perkembangan pengertian demografi.
·         Johan Sussmilch (1762, dalam Iskandar, 1994) berpendapat bahwa demografi adalah ilmu yang memepelajari hukum Tuhan yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pada umat manusia yang terlihat dari jumlah kelahiran, kematian, dan pertumbuhannya.
·         Achille Guillard (1855) memberikan definisi demografi debagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur, yaitu meliputi perubahan secara umum, fisisknya, peradabannya, intelektualitasnya, dan kondisi moralnya.
·         David V. Glass (1953) menekankan bahwa demografi terbatas pada studi penduduk sebagai akibat pengaruh dari proses demografi, yaitu fertilitas, moralitas, dan migrasi.
 
Dengan mengacu kepada definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu demografi merupakan suatu alat untuk mempelajari perubahan-perubahan kependudukan dengan memanfaatkan data dan statistik kependudukan serta perhitungan-perhitungan secara metematis dan statisktik dari data penduduk terutama mengenai perubahan jumlah, persebaran, dan komposisi/strukturnya.
B.     SEJARAH PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA
Pembahasan transisi demografi tidak terlepas dari persoalan pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, perlu kiranya mengetahui persoalan penduduk dan sejarah pertumbuhannya. Pada permulaan tahun Masehi, 1 AD, jumlah penduduk dunia diperkirakan masih sekitar 250.000.000 jiwa dengan angka pertumbuhan sekitar 0,04% per tahun. Pada abad berikutnya, kemajuan teknologi di Eropa dan di beberapa belahan dunia lain mulai memperlihatkan dampaknya. Penemuan obat-obatan (seperti penisilin) dan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan amat mengurangi berbagai penyakit.
Selain itu, penemuan alat transportasi berdampak pada perluasan perdagangan yang membuat persediaan bahan pangan lebih mudah didapat dan pada gilirannya memperbaiki nutrisi penduduk. Tingkat kematian yang tinggi pada abad sebelumnya mulai menurun dan angka harapan hidup mulai meningkat secara perlahan-lahan. Terjadinya peningkatan jumlah penduduk yang cukup tajam ini menandai masuknya era modern dari sejarah demografi yang dinyatakan sebagai transisi demografi tahap kedua. Perubahan prilaku masyarakat agraris ke masyarakat modern bersamaan dengan terjadinya industrialisasi dan urbanisasi dianggap mempunyai dampak pada perubahan prilaku demografi.
Di negara-negara maju, tahap transisi demografi yang terjadi pada abad ke-20 mempunyai titik kematangannya, yang ditandai dengan terjadinya penurunan angka kelahiran dan kematian sampai pada titik terendah. Pada masa setelah Perang Dunia II, angka pertumbuhan penduduk di negara-negara tersebut telah menunjukan tanda-tanda mencapai di bawah angka satu persen.Bahkan pada priode 1995-2000, angka pertumbuhan penduduk rata-rata untuk beberapa negara maju, seperti Swedia, Prancis, dan Jepang mencapai angka yng sangat rendah, masing-masing sebesar 0,11 %, 0,37% dan 0,25% per tahun.
C.     TEORI TRANSISI DEMOGRAFI
Istilah transisi demografi pada dasarnya dipakai untuk menyatakan perubahan yang terjadi terhadap tiga komponen utama perubahan penduduk, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan penduduk (mobilitas/migrasi). Akan tetapi, konsep transisi demografi yang dikenal secara umum hanya memperlihatkan perubahan pertumbuhan penduduk secara alamiah, yaitu faktor kelahiran dan kematian.
Dari berbagai literature dapat disarikan bahwa transisi demografi dibedakan atas 4 tahapan. Tahapan-tahapan tersebut didasarkan atas pengalaman perubahan pola fertilitas dan mortalitas yang terjadi di beberapa negara di Eropa pada masa lampau.
1.      Tahap I (Pre-industrial)
Perubahan penduduk sangat rendah yang dihasilkan oleh perbedaan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, sekitar 40-50 per 1.000 penduduk. Jumlah kelahiran dan kematian yang sangat tinggi ini tidak terkendali setiap tahunnya.
2.      Tahap II (Early Industrial)
Angka kematian menurun dengan tajam akibat revolusi industri serta kemajuan teknologi dan juga mulai ditemukannya obat-obatan, terutama antibiotik pensilin. Sementara itu, angka kelahiran menurun amat lambat dan masih tetap tinggi, yang disebabkan karena kepercayaan atau pandangan mengenai jumlah anak banyak lebih menguntungkan.
3.      Tahap III (Industrial)
Angka kematian terus menurun dengan kecepatan yang melambat. Di pihak lain, angka kelahiran mulai menurun dengan tajam sebagai akibat dari perubahan perilaku melahirkan dan tersedianya alat / cara kontrasepsi serta adanya peningkatn pendidikan dan kesehatan masyarakat.
4.      Tahap IV (Mature Indutrial)
Angka kelahiran dan kematian sudah mencapai angka yang rendah sehingga angka pertumnuhan penduduk yang rendah, yang dihasilkan dalam kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang maju.
 
Oleh karena erat kaitannya dengan variabel vital (fertilitas dan mortalitas), konsep transisi demografi seiring pula disebut sebagai transisi vital (transisi fertilitas dan transisi mortalitas). Secara lebih spesifik, Coale (1973) menggambarkan transisi fertilitas dalam bentuk penurunan angka kelahiran total, dari tingkat fertilitas yang tinggi sampai kepada tingkat fertilitas yang rendah, atau mencapai tahap penggantian penduduk, yakni apabila angka reproduksi neto sama dengan 1. Di sebagian besar negara-negara berkembang, di mana data kematian orang dewasa tidak banyak tersedia, angka kematian bayi menjadi indikator utama dalam menentukan tingkat transisi mortalitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini