Senin, 17 Maret 2014

Rosa juni andri_tugas2_penataan ruang dan penguatan insfrastruktur desa dalam mendukung konsep agropolitan

PENATAAN RUANG DAN PENGUATAN INFRASTRUKTUR DESA DALAM MENDUKUNG KONSEP AGROPILITAN
 
Pendahuluan
            Pedesaan di dunia ketiga atau Negara-negara yang sedang berkembang sebagaimana dikemukakan Dalal-Claiton et al.(2003) secara umum dicirikan oleh tiga isu menonjol 1. Adalah masalah kemiskinan dan terbatasnya alternatif lapangan kerja 2. masalah sumber daya lahan secara berkelanjutan, dan masalah-masalah terkait dengan hak untuk dapat mengakses penggunaan sumber daya utama khususnya lahan. 3. Masalah hubungan dan keterkaitannya ke perkotaan (urban linkages) , termasuk spartial links (aliran penduduk, barang, limbah, capital/financial serta informasi) dan sektor links (keterkaitan dengan aktifitas-aktifitas berbasis "pedesaan" diperkotaan: seperti urban agriculture) dan masalah membangkitkan sektor manufacture dan jasa dikawasan pedesaan dan implikasi terhadap perencanaan keterkaitan desa-kota.
            Dalam pandangan pembangunan pedesaan dan perkotaan yang paling mutakhir saat ini, hubungan desa-kota selalu ditempatkan dalam hubungan keterkaitan (linkages) yang tidak terpisahkan hubungan yang saling memperkuat . mempertahankan pola hubungan status quo merupakan kepentingan Negara-negara industry maju di belahan utara.
 
MASALAH DISPARITAS DAN KEBERIMBANGAN DESA-KOTA
            Lama kelamaan semakin tampak adanya kesenjangan antara jumlah tenaga kerja dengan lapangan usaha yang tersedia, pengangguranpun bertambah diwilayah ini.
 
KESEHATAN DAN PENDIDIKAN
            Pendudukan merupakan komponen utama untuk membangun manusia yang handal dan menjadi paling mendasar yang harus dipenuhi untuk mewujudkan tunjuan pembangunan manusia merupakan motor penggerak pembangunan merupakan modal utama yang harus ditingkatkan terus menerus kualitasnya. Terlepas dari keterisolasian dan kualitas sumber daya manusia yang terbatas pelajaran yang menarik dari krisis ekonomi yang telah berlangsung dalam satu decade ini adalah tingkat kemiskinan dengan besaran dampak kriisis, ternyata tidak selalu berkorelasi positif.
            Realita bahwa usaha pertanian yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat pedesaan umumnya cukup beresiko tinggi. Kerentanan ini merupakat penyebab infestasi pada usaha pertanian kurang diminati. Disamping itu, komitmen pemerintah untuk usaha primer ini dirasakan masih kurang menjadi prioritas, mengingat penerimaan daerah (reveneus) dari sektor pajak secara umum masih terbatas, terutama sumber pajak diwilayah pedesaan yang relative langka. Akibatnya alokasi dana untuk pengembangan usaha pertanian yang telah disiapkan oleh pemerintah daerah sering tidak mencukupi.
 
VISI PEDESAAN 2030
            Dinegara-negara yang relative matang  keberimbangan pembangunan antara wilayah, perencanaan kawasan pedesaan (plural planning) sudah menjadi keharusan dan kebutuhan. Pedesaan dan desa merupakan kawasan yang penting untuk direncanakan perkembangannya.
            Struktur perekonomian pedesaan secara perlahan namun pasti akan terus bergeser ke sektor-sektor hilir (seconder dan tersier) dicirikan semakin dominannya pekerja pedesaan yang pekerjaan utamanya di sektor off-farm dan semakin banyaknya petani yang juga memiliki pekerjaan off-farm. Sedangkan petani yang sepenuhnya bekerja di on-farm menjadi sangat minoritas.
            Transformasi struktur perekonomian seperti ini akan tercapai dengan berbagai pra kondisi berups terjadinya perubahan produktifitas dan efisiensi system pertanian on-farm yang dicirikan oleh berbagai factor (kombinasi factor) : 1) peningkatan ekonomis off scele 2) economi of scoupe, dan 3) konsilidasi secara fisik, pemilikan atau penguasaan dan pengusahaan (managemen system peroduksi pertanian, yang ditopang oleh adanya. 4) perbaikan struktur penguasaan sumber daya utama (terutama lahan dan air) yang meningkatkan akses masyarakat local terhadap sumber daya utamanya setelah tercapainya suatu kematangan defolusi pengelolaan sumber daya alam dan 5). Desentralisasi kewenangan hingga ke tingkat desa, yang merupakan desentralisasi gelombang kedua setelah desentralisasi gelombang pertama (dari pusat ke kabupaten atau propinsi).
            Secara lebih spesifik, penataan ruang dilakukan sebagai : 1.) optimasi pemanfaatan sumber daya (mobilisasi dan alokasi pemanfaatan sumber daya) (prnsip efisiensi produktifitas) 2.) alat dan wujud distribusi sumber daya : asas pemerataan, keberimbangan dan keadilan, dan 3.) menjaga keberlanjutan (sustaibiliti) pembangunan. Beberapa pihak lainnya menambahkan dua tujuan lain yakni sebagai upaya : 4.) menciptakan rasa aman dan 5.)kenyamanan ruang.
            Unsur-unsur fisik penataan ruang mencakup pengaturan-pengaturan fisik(physical arrangement) dan sekaligus merupakan produk fisik dari suatu penataan ruang itu sendiri. Unsur-unsur fisik penataan ruang meliputi : (1) pengaturan pemanfaatan fisik ruang, (2) penataan Struktur/hararki pusat-pusat aktifitas social-ekonomi, (3) penataan jaringan keterkaitan antar pusat-pusat aktifitas, dan (4) pengembangan infrastruktur.
 
 
 
Infrastruktur perdesaan
            Sebagian besar literature menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara instruktur dengan tingkat perkembangan ekonomi. Beberapa berargumen bahwa jenis insfrastruktur tertentu seperti transportasi merupakan  hal terpenting dalam pembangunan ekonomi dan dalam pendapat yang lain menyatakan bahwa factor lain seperti sumberdaya manusia dan lokasi merupakan factor terpentingnya.
            Secara umum dapat dikatakan bahwa infrastruktur merupakan syarat perlu dalam pembangunan. Tidak terkecuali pembangunan pertanian dan pedesaan. Deutsche Gesselsechaft fur Techische Zusammenarbeit(GTZ) GmBH(2003) cyusun "GUIDE to Rural Economic and Enterprise Development" yang merupakan suatu pendekatan bertujuan untuk diversivikasi dan inovasi ekonomi perdesaan(rural),meningkatkan orientasi ekonominya dan memberikan nilai tambah pada produk sumberdayanya.  
Pengembangan Agropolitan
          Lahirnya konsep agropolitan adalah sebagai jawaban atas kegagalan pembangunan inter-regional yang cenderung urban bias (lipton, 1977) suatu deskripsi tentang diskriminasi terhadap sector pertanian dan wilayah pedesaaan. Urban bias terjadi akibat kecenderungan pembangunan  yang mendahulukan  pertumbuhan ekonomi melalui kutub-kutub pertumbuhan  ke wilayah hinterland-nya ternyata net- effect-nya malah menimbulkan pengurasan besar(massive backwash effect).
            Friedmann dan Douglass(1975), Rondinelli(1985), menyarankan suatu bentuk pendekatan agropolitan sebagai aktivitas pembangunan yang terkonsentrasi  di wilayah perdesaan dengan dengan jumlah penduduk antara 50.000 sampai 150.000 orang.

Ari Herlangga_Teori 2_Teori Max Webber

NAMA : ARI HERLANGGA

KELAS : KESSOS 2A

NIM : 1113054100027

 

TEORI MAX WEBBER

 

Idealisme – Historisme Jerman terhadap Pemikiran Weber

Pemikiran Weber tentang sosiologi terutama dibangun oleh serangkaian debat intelektual (methodenstreit) yang berlangsung di Jerman pada masanya. Yang terpenting dari perdebatan tersebut adalah masalah hubungan sejarah dengan ilmu pengetahuan. Perdebatan ini berlangsung antara kubu posithivis yang memandang sejarah tesusun beradasarkan hukum – hukum umum (disebut jga pandangan nomotetik dimana mereka berfikir bahwa sejarah bisa seperti ilmu alam) dengan kubu subjektivis yang menciutkan sejarah menjadi sekadar tindakan dan peristiwa idisinkratis (disebut juga pandangan idiografis). 

Weber menolak kedua kutub ekstrim tersebut dan berusaha mengembangkan cara tersendiri untuk menangani sosiologi historis. Menurut Weber, sejarah terdiri dari sejumlah peristiwa empiris unik ; tidak mungkin ada generalisasi pada level empiris. Dengan demikian sosiolog harus memisahkan dunia empiris dari jagat konseptual yang mereka bangun. Konsep ini tidak pernah sepenuhnya mampu memahami dunia empiris, namun dapat digunakan sebagai perangkat heuristik untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik atas realitas. Dengan konsep-konsep ini, sosiolog dapat mengembangkan generalisasi, namun generalisai-generalisasi tersebut bukanlah  sejarah dan tidak boleh dicampuradukan dengan realitas empiris. Meskipun jelas mendukung generalisasi, Ia pun menolak sejarawan yang berusaha mereduksi sejarah menjadi serangkaian hukum sederhana.

Ketika menolak pandangan para ilmuan Jerman yang saling bertentangan menyangkut soal sejarah, Weber menawarkan perspektifnya sendiri, Yang merupakan gabungan dari dua orientasi tadi. Weber merasa bahwa sejarah yaitu sosiologi historis, membahas individualitas dan generalitas, penyatuan dilakukan melalui perkembangan dan pemanfaatan konsep umum yang nanti akan disebut dengan “tipe-tipe ideal” dalam studi terhadap individu, peristiwa, atau masyarakat tertentu. Konsep umum ini digunakan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan individualitas pada setiap perkembangan, karakteristik yang membuat orang melahirkan kesimpulan dengan cara yang berbeda dari orang lain. Setelah dilakukan, kemudian orang dapat menetukan sebab-sebab yang mengarah pada perbedaan-perbedaan ini. Dalam melakukan analisis kausal ini, Weber menolak, paling tidak pada level sadar, gagasan untuk mencari agen kausal tunggal sepanjang perjalanan sejarah. Ia justru menggunakan perangkat konseptualnya untuk menilai beragam faktor dalam kasus historis menurut signifikansi kausalnya.

Pandangan Weber tentang sosiologi historis dibangun oleh ketersediaan, dan komitmennya pada studi tentang data historis. Singkat kata, Weber percaya sejarah terdiri dari bentangan fenomena spesifik yang tiada habisnya. Untuk mempelajari fenomena ini, perlu dikembangkan beragam konsep yang didesain agar berguna bagi penelitian tentang dunia nyata. Sebagai aturan umum, meskipun Weber tidak menganutnya secara kaku dan kebanyakan sejarawan dan sosolog pun tidak, tugas sosiologi adalah mengembangkan konsep-konsep ini, yang digunakan sejarah dalam analisis kausal tentang fenomena historis spesifik. Dalam hal ini, Weber berusaha untuk mengkombinasikan yang spesifik dan yang umum dalam upayanya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang mengkaji hakikat kehidupan sosial yang begitu kompleks.

 

C.    Sosiologi Interpretatif (Verstehen) dan Aplikasinya dalam Analisis Sosiologi

Weber merasa bahwa sosiolog memiliki kelebihan daripada ilmuwan alam. Kelebihan tersebut terletak pada kemampuan sosiolog untuk memahami fenomena sosial, sementara ilmuwan alam tidak dapat memperoleh pemahaman serupa tentang prilaku atom atau ikatan kimia. Kontroversi sekitar konsep verstehen dan beberapa masalah dalam menafsirkan maksud Weber, muncul dari masalah umum dalam pemikiran metodologis Weber. Ia cenderung gegabah dan tidak tepat sasaran karena merasa bahwa ia sekedar  mengulangi gagasan pada zaman terkenal dikalangan sejarawan jerman. Terlebih lagi weber tidak terlalu memikirkan refleksi metodologis.

Pemikiran Weber tentang verstehen sering ditemukan dikalangan sejarawan jerman pada zamannya dan berasal dari bidang yang dikenal dengan hermeneutika.[1][2]  Weber bersama yang lain salah satunya dengan Wilhelm Dilthey berusaha memperluas setiap gagasan dari pemahaman teks ke pemahaman kehidupan sosial : memahami aktor, interaksi, dan seluruh sejarah manusia.

Beberapa orang berpendapat bahwa  Verstehen melibatkan dua pendekatan. P. A. Monch (1975), mengatakan bahwa untuk memahami tindakan sepenuhnya kita harus (1) mengindentifikasikan pemahaman tindakan sebagaimana yang dikenhendaki oleh sang aktor dan (2) mengenali konteks yang melingkupi dan yang digunakan untuk memahaminya.

Verstehen adalah alat pemahaman bagi analisis level makro, karena Weber memfokuskan pandangannya pada konteks Budaya dan Sosial – kultural. Dengan kata lain verstehen merupakan cara bagaimana kita sebagai seorang peneliti harus memahami (understanding) setiap makna (meaning) yang dimiliki atau dikeluarkan oleh informan. Apa yang dikemukakan oleh Weber lantas menjadi dasar bagi salah satu paradigma besar yang berada di level mikro, yakni interaksionisme simbolik yang menekankan pada pemaknaan atas simbolisasi oleh orang lain.

Kausalitas

Kausalitas itu sendiri adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti oleh peristiwa yang lain, menurut Weber (1921/1968). Ketika sejarah dan sosiologi tidak dapat dipisahkan secara jelas dalam karya Subtantif Weber. Weber berusaha mengkombinasikan pendekatan Nomotetis dan idiografis. Menurutnya, peneliti tidak hanya mencari keajekan historis, pengulangan, dan keparalelan tetapi sekaligus  melihat alasan, makna, perubahan-perubahan historis yang terjadi.

Seperti dalam sosiologi subtantifnya, Weber selalu menyelaraskan hubungan anatara ekonomi, masyarakat, politik, organisasi, stratifikasi sosial, agama dan lain sebagainya. Sebenarnya Ia hanya ingin mengatakan bahwa etika protestan adalah salah satu dari faktor kausal munculnya semangat kapitalisme modern.

Pemikiran Weber tentang Kausalitas terkait erat dengan upayanya memahami konflik anatara pengetahuan nomotetis dengan pengatahuan Idiografis. Penganut pengetahuan nomotetis akan berargumen bahwa terdapat hubungan pasti anatar fenomena sosial. Sedangkan penganut pengetahuan idiografis cenderung hanya melihat hubungan acak anatar entitas-entitas tersebut. Kausalitas adalah posisi tengah yang diambil oleh Weber dengan cara membuat pertanyaan Probabilitastik tentang hubungan antar fenomena sosial: jadi, apabila x terjadi, maka ada kemunginan y akan terjadi.

Tipe – Tipe Ideal

Seperti yang dikatak Weber dalam tipe – tepi ideal adalah “Fungsinya adalah alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian atau kemiripan, untuk menggambarkan dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual”. Ilmuan sosial mengkontruksikan tipe – tipe ideal birokrasi, kemudian tipe ideal tersebut dibandingkan dengan birokrasi aktual. Selanjtunya ilmuwan sosial mencari sebab-sebab ketidaksesuaian dari kasus rill dengan tipe ideal yang ditetapkan.

Tipe – tipe ideal harus dikembangkan secara keseluruhan. Karena setiap masyarakt selalu mengalami perubahan (dinamis) tidak serta merta selalu statis. Begitu juga dengan minat ilmuwan, perlu dikembangkan tipologi – tipologi baru agar sesuai dengan realitas yang terus bergerak (berubah). Ini sejalan dengan pandangan Weber bahwa tidak mungkin ada konsep yang abadi dan tetap dalam ilmu sosial.

 

Nilai

Perspektif umum terhadap pandangan Weber adalah bahwa imuwan sosial tidak boleh membiarkan nilai pribadinya mempengaruhi penelitian ilmiah. Seperti dalam karyany tentang nilai jauh lebih rumit dan tidak boleh direduksi menjadi sekedar pandangan bahwa nilai harus dijaukan dari sosiologi.[2][3]

 

Nilai dan Ajaran

Weber sangat tidak setuju apabila seorang guru mengapresiasikan nilai pribadi dalam pembelajaran akademik. Menurutnya, ruang kuliah harus dibedakan dari area diskusi publik. Ada perbedaan terpenting antara pidato umum dengan kuliah akademik yang terletak pada audiensnya. Pidato umum adalah kerumunan orang yang menyaksikan pembicaraan dimuka umum dan audiensnya dapat pergi kapan saja yang dia mau. Sedangkan kuliah akademik, tidak bisa memilih kecuali medengarkan profesor yang sarat nilai. Ada ambiguitas posisi Weber tentang kebebasan nilai. Akademik harus mengekspresika fakta bukan nilai pribadi, didalam kelas. Weber berpendapat, ia percaya bahwa mungkin saja memisahkan nilai dan fakta. Sedangkan, Marx tidak setuju karena menurutnya pandangannya tentang nilai dan fakta saling terkait secra dialektis.

 

Nilai dan Penelitian

Pendapat Weber tentang nilai dan penelitian sangat membingungkan. “Peneliti dan guru mutlak harus memisahkan posisi fakta empiris dari penelitian pribadinya, misalnya, penilaiannya bahwa fakta-fakta tertentu memuaskan atau tidak memuaskan.” Yang dimaksud Weber, kita harus menjalankan prosedur reguler penelitian ilmiah, seperti pengamatan secara akurat dan perbandingan secara sistematis.

Pandangan Weber terrhadap sosiologi pada masa itu bertentangn dengan organisme yang berkembang pada waktu itu. Contohnya, Weber berkata “Saya menjadi sosiolog yang akan mengakhiri konsep-konsep kolektivitas. Dengan kata lain, sosiologi hanya dapat dipraktikkan mulai dari satu atau beberapa tindakan dari individu, Weber berarti menggunakan metode “Individualis”. Walaupun begitu, Weber terpaksa mengakui bahwa mustahil menghapus secara keseluruhan gagasan-gagasan kolektif dari sosiologi.[3][4]           

Menurut Udehn, Weber menggunakan metodologi individu dan Subjektif. Pada Metodologi individu, Weber tertarik pada apa yang dilakukan individu dan mengapa mereka melakukannya (motif subjektif mereka). Pada sosiologi subtantifnya, Weber lebih memusatkan perhatiannya pada struktur skala-besar seperti pada birokrasi atau kapitalisme. Ia tidak memberikan perhatiannya secara langsung yang dilakuakn individu dan mengapa individu tersebut melakukannya. Struktur tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata, tindakan individu tersebut tidak berdasarkan motifnya sendiri melainkan peraturan yang ditentukan dalam struktur tersebut. Ada sedikit kontradiksi dalam karya-karya Weber.

 

D.    Kritik terhadap Teori Weber

Kritik terkait dengan metode verstehen Weber.

Weber terperangkap diantara dua persoalan terkait dengan verstehen ini. Di satu sisi, verstehen tidak bisa semata-mata berarti intuisi subjektif karena jika demikian, maka verstehen tidak akan ilmiah. Di sisi lain, sosiolog tidak dapat begitu saja menyatakan makna “objektif” fenomena sosial. Weber menegaskan bahwa metode ini terletak diantara dua pilihan ini, tapi sayangnya dia tidak pernah menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi.

Kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam metodologinya tidak selalu jelas jika kita membaca analisis Weber hanya dengan berdasarkan interpretasi-interpretasinya sendiri, namun akan menjadi sangat jelas kalau kita mencoba menerapkan metodenya itu pada penelitian kita sendiri atau, lebih dari itu ketika kita mencoba mengajarkan verstehen kepada orang lain. Jelas sekali kalau metode ini melibatkan penelitian sistemis dan ketat, namun anehnya penelitian tentang tilikan-tilikan Weber yang mencerahkan justru membuat kita makin tidak paham. Inilah yang mendorong sebagian kalangan untuk menempatkan verstehen pada suatu cara kerja penemuan yang bersifat heuristik yang mendahului kerja-kerja ilmiah sosiologi yang sesungguhnya. Sementara sebagian lainnya menyatakan bahwa verstehen harus dilihat sebagai sebuah proses sosial juga dan bahwa pemahaman kita tentang orang lain selalu bermula dari sebuah dialog.

 



 

 

 

Yusmar Abdillah_tugas 2_teori max weber

Verstehen (Pemahaman)
Pemakaian istilah Verstehen ini secara khusus oleh Weber dalam penelitian historis adalah sumbangannya yang paling banyak dikenal dan paling kontroversial terhadap metodologi sosiologi kontemporer. Kontroversi sekitar konsep verstehen, dan beberapa masalah dalam menafsirkan maksud Weber, muncul dari masalah umum dalam pemikiran metodologis Weber. Dari awal, Weber tidak terlalu memikirkan refleksi metodologis. Ia cenderung gegabah dan tidak tepat sasaran karena merasa bahwa ia sekedar mengulangi gagasan-gagasannya yang pada zamannya terkenal dikalangan sejarahwan Jerman.
Penafsiran vertstehen pada level budaya selaras dengan teori-teori skala besar (fungsionalisme structural), sementara itu pandangan pada level individu sesuai untuk teori skala kecil (interaksionisme simbolis). Seperti kita ketahui, fokus Weber pada konteks budaya dan sosial structural dari tindakan mebawa kita pada pandangan bahwa verstehen adalah alat bagi analisis level makro.
Kausalitas
Kausalitas menurut Weber adalah kemungkinan suatu peristiwa diikuti atau disertai peristiwa lain. Weber cukup jelas ketika membicarakan tentang isu keragaman kausalitas dalam studinya tentang hubungan antara protestanisme dengan semgat kapitalisme. Weber sebenarnya hanya ingin menyatakan bahwa etika Protestan adalah salah satu dari faktor kausal munculnya semangat kapitalisme modern. Ia menganggap lugu gagasan yang mengatakan protestanisme adalah satu-satunya sebab tunggal. Sama lugunya menurut Weber, menganggap kapitalisme hanya dapat lahir sebagai akibat dari reformasi protestan. Yang perlu diingat dalam pemikiran Weber tentang kausalitas adalah keyakinan dia bahwa karena kita dapat memiliki pemahaman khusus tentang kehidupan sosial (verstehen), pengakuan kasual atas ilmu-ilmu sosial berada dengan pengetahuan kausal tentang ilmu-ilmu alam.
Tipe-tipe ideal
Tipe-tipe ideal adalah perangkat heuristik yang digunakan dalam irisan realitas sejarah yang berfungsi sebagai alat pembanding dengan realitas empiris untuk menentukan ketidaksesuaian ataupun kemiripan, untuk menggambarkannya dengan konsep yang paling dapat dipahami secara tepat, dan untuk menentukan dan menjelaskannya secara kasual. Karena memiliki deinisi yang seperti ini, Weber tidak sepenuhnya konsisten dengan caranya menggunakan tipe ideal. Pada level paling dasar, tipe ideal adalah konsep yang dikonstruksi oleh ilmuwan sosial, menurut minat dan orientasi teoretisnya, dalam rangka memahami cirri utama fenomena sosial.
Tipe-tipe ideal harus masuk akal di dalam dirinya sendiri, makna komponen-komponennya harus kompatibel, dan semua hal itu harus membantu kita memahami dunia riil. Ada beberapa macam tipe ideal yang weber tawarkan, yaitu : 1) tipe ideal histories, 2) tipe ideal sosiologis umum, 3) tipe ideal tindakan, 4) tipe ideal struktural.
Nilai
Persepsi umumterhadap pandangan Weber adalah bahwa ilmuwan sosial tidak boleh membiarkan nilai –nilai pribadinya memengaruhi penelitian ilmiah.

Nilai dan ajaran
Yang Weber maksudkan disini adalah hubungan antara guru dengan muridnya atau antara dosen dengan mahasiswa. Weber dengan tegas menyatakan kewajiban guru mengontrol nilai-nilai pribadi mereka di dalam ruang kelas.

Nilai dan Penelitian
Weber memahami peran nilai pada aspek spesifik proses penelitian, ia berpikir bahwa mereka harus dijauhkan dari pengumpulan data penelitian secara actual. Yang dimaksud Weber adalah kita harusn menjalankan prosedur regular penelitian ilmiah, seperti pengamatan secara akurat dan perbandingan secara sistematis. Meskipun weber menentang mencampuradukkan fakta dengan nilai, ia tidak percaya bahwa nilai harus dihapuskan dari ilmu-ilmu sosial. Ia bersiap mengakui nilai menempati ruang tertentu, kendati ia mengingatkan para peneliti agar berhati-hati dengan peran nilai.
Sosiologi Substantif
Dalam metodologi individualis, Weber tertarik untuk mereduksi aktivitas menjadi tindakan individu. Namun, dikebanyakan sosiologi substantifnya, Weber memfokuskan perhatiannya pada struktur skala besar (seperti birokrasi dan kapitalisme) dan tidak memberikan perhatian secara langsung pada apa yang dilakukan individu atau mengapa mereka melakukannya. Dengan ini, definisi sosiologi yang dikemukakan weber adalah bahwa sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatiannyapada pemahaman interpretif atas tindakan sosial pada penjelasan kausal atas proses dan konsekuensi tindakan tersebut. Gabungan dari penjelasan dari awal, dapat disimpulkan bahwa sosiologi haruslah berupa ilmu, harus memusatkan perhatian pada kausalitas, dan sosiologi juga harus menggunakan pemahaman interpretif.
Tindakan sosial
Ia membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Stimulus datang dan perilaku terjadi, dengan sedikit saja jeda antara stimulus dan respons. Ia memusatkan perhatiannya pada tindakan yang jelas-jelas campur tangan proses pemikiran antara terjadinya stimulus dan respons.
Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola regulitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. Yang terpenting adalah pembedaan yang dilakukan Weber terhadap kedua tipe dasar tindakan rasional.

Rasionalitas sarana-tujuan = tindakan yang ditentukan oleh harapan terhadap perilaku objek dalam lingkungan dan perilaku manusia lain.
Rasionalitas nilai = tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis, religius atau bentuk perilaku lain, yang terlepas dari prospek keberhasilannya.
Tindakan afektual = tindakan yang ditentukan oleh emosi aktor
Tindakan tradisional = tindakan yang ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa dan telah lazim dilakukan.
Kelas, Status, dan Partai.
Aspek terpenting dari analisis ini adalah bahwa Weber tidak mau mereduksi stratifikasi menjadi sekedar faktor ekonomi, melainkan melihatnya sebagai sesuatu yang bersifat multidimensional. Jadi, masyarakat terstratifikasi menurut basis ekonomi, status, dan kekuasaan.
Weber menyatakan bahwa situasi kelas hadir ketika ketiga syarat dibawah ini terpenuhi :
Sejumlah orang memiliki kesamaan komponen kausal spesirik peluang hidup mereka, selama
Komponen ini hanya direpresentasikan oleh kepentingan ekonomi berupa penguasaan barang atau peluang untuk memperoleh pendapatan, dan
Direpresentasikan menurut syarat-syarat komoditas atau pasar tenaga kerja.
Jadi, kelas bukanlah komunitas, melainkan sekedar sekelompok orang yang berada dalam situasi ekonomi atau situasi pasar yang sama.
Berlawanan dengan kelas, biasanya status merujuk pada komunitas, kelompok status biasanya berupa komunitas, kendati sedikit agak terbentuk. Status didefinisikan Weber sebagai setiap komponen tipikal kehidupan manusia yang ditentukan oleh estimasi sosial tentang derajat martabat tertentu, positif atau negative.
Kalau kelas hadir dalam tatanan ekonomi dan kelompok status hadir dalam tatanan sosial, partai dapat ditemukan dalam tatanan politik. Bagi Weber, partai selalu merupakan struktur yang berjuang untuk meraih dominasi. Jadi, partai adalah elemen paling teratur dalam sistem stratifikasi Weber.
Struktur otoritas
Weber bukanlah seorang politis radikal. Weber memilih demokrasi sebagai bentuk politik bukan karena ia percaya pada massa namun karena demokrasi menawarkan dinamika maksimal dan merupakan mileu terbaik untuk menciptakan pemimpin politik. Weber selalu mengawali analisisnya tentang struktur otoritas dengan asumsinya tentang hakikat dan sifat dasar tindakan. Ia mendefinisikan dominasi sebagai probabilitas suatu perintah tertentu akan dipatuhi oelh sekelompok orang. Yang terutama menarik perhatian Weber adalah bentuk dominasi yang sah, atau yang disebutnya dengan otoritas.
Otoritas legal : otoritas legal dapat memiliki beragam bentuk struktural, namun bentuk yang paling menarik perhatiannya adalah birokrasi, yang ia pandang sebagai tipe paling murni dari dijalankannya otoritas legal.
Otoritas tradisional : otoritas tradisional didasarkan pada klaim pemimpin dan keyakinan para pengikutnya bahwa terdapat kelebihan dalam kesucian aturan dan kekuasaan yang telah berusia tua. Pemimpin dalam sistem semacam itu bukan penguasa superior, namun personal.
Otoritas karismatik : Weber tidak menyangkal bahwa pemimpin karismatik dapat memiliki ciri menonjol, karismanya lebih tergantung pada kelompok pengikut dan bagaimana mereka mendefinisikan pemimpin karismatik.yang krusial dalam proses inin adalah ketika seorang pemimpin dipisahkan dari orang biasa dan diperlakukan seolah-olah ia memiliki kekuatan atau kualitas supranatural, supermanusia, atau skeurang-kurangnya kekuatan tidak lazim yang tidak dapat dimiliki oleh orang biasa.
Karisma dan revolusi : bagi Weber, karisma adalah kekuatan revolusioner. Yang membedakan karisma sebagai kekuatan revolusioner adalah bahwa dia menyebabkan berubahnya pikiran aktor, ini menyebabkan reorientasi subjektif atau internal.
Organisasi karismatik dan rutinisasi karisma : minat Weber pada organisasi dibelakang pemimpin karismatik dan staf yang ada didalamnya membawanya pada pertanyaan tentang apa yang terjadi dengan otoritas karismatik ketika pemimpinya mati. Akhirnya, sistem karismatik pada dasarnya sangat rentan. Sistem ini terlihat mampu bertahan hanya selama pemimpin karismatik hidup. Bagi Weber, karisma pada dasarnya tidak stabil, ia hadir dalam bentuknya yang murni selama pemimpin karismatiknya hidup.
Rasionalisasi
Tipe-tipe rasionalitas ada empat. Tipe pertama adalah rasinalitas praktis yang didefinisikan sebagai setiap jalan hidup yang memandang dan menilai aktivitas-aktivitas duniawi dalam kaitannya dengan kepentingan individu yang murni pragmatis dan egoistis. Tipe kedua adalah rasionalitas teoritis melibatkan upaya kognitif untuk menguasai realitas melalui konsep-konsep yang makin abstrak dan bukannya melalui tindakan. Tipe ketiga adalah rasionalitas substantif (seperti rasionalitas praktis, tapi tidak rasionalitas teoritis) secara langsung menyusun tindakan-tindakan ke dalam sejumlah pola melalui kluster-kluster nilai. Tipe keempat adala rasionalitas formal, yang melibatkan kalkulasi sarana-tujuan. Meskipun seluruh tipe rasionalitas lain juga bersifat lintas peradaban dan melampaui sejarah, rasionalitas formal hanya muncul di Barat seiring dengan lahirnya industrialisasi.
Rasionalitas formal dan substantif. Rasionalitas formal dapat didefinisikan berdasarkan enam ciri utama. Pertama, struktur dan institusi rasional formal menekankan kalkulabilitas. Kedua, fokus pada efisiensi, pencarian cara terbaik untuk mencapai tujuan tertentu. Ketiga, perhatian besar pada terjaminnya prediktibilitas. Keempat, sistem rasional formal secara progresif mengurangi teknologi manusia dan pada akhirnya menggantikan teknologi manusia dengan teknologi nonmanusia. Kelima, sistem rasional formal berusaha melakukan kontrol atas ketidakpastian. Akhirnya, sistem rasional cenderung mengandung serangkaian konsekuensi irasional bagi orang yang terlibat didalamnya dan bagi sistem itu sendiri, maupun bagi masyarakat yang lebih luas. Rasionalitas formal beelawanan dengan semua tipe rasionalitas lain, terutama bertentangan dengan rasionalitas substantif. Weber percaya bahwa konflik antara kedua jenis rasionalitas tersebut memainkan peran penting dalam pemahaman terhadap proses rasionalisasi di Barat.
Rasionalisasi dalam berbagai setting sosial. Ketika kita bergerak dari suatu setting ke setting lainnya, seperti Weber, kadang-kadang kita memusatkan perhatian pada rasionalisasi secara umum dan pada kesempatan lain memusatkan perhatian pada tipe rasionalisasi yang khusus.
Ekonomi
Agama
Hukum
Politik
Kota
Bentuk seni
Agama dan kelahiran kapitalisme
Salah satu perhatian utama Weber adalah hubungan antara berbagai agama didunia dengan perkembangan sistem ekonomi kapitalis yang hanya terjadi di Barat. Weber terutama tertarik pada sistem gagasan agama-agama dunia, semangat kapitalisme, dan rasionalisasi sebagai nilai dan norma sistem modern. Iapun sangat tertarik pada struktur agama-agama dunia, komponen-komponen struktural masyarakat tempat agama-agama tersebut berkembang, yang dapat memfasilitasi atau menghambat rasionalisasi, aspek-aspek struktural kapitalisme dan belahan dunia modern. Meskipun Weber mengutamakan gagasan agama, khususnya dimasa-masa awal kariernya, belakangan ia mulai menyadari kalau kekuatan-kekuatan materiallah yang lebih penting, bukan sistem gagasan.
Weber mengembangkan tipologi jalan keselamatan. Asketisisme adalah jenis religiosistas pertama yang cakupannya begitu luas begitu luas, yang menggabungkan orientasi pada tindakan dengan komitmen orang beriman untuk meninggalkan kenikamatan dunia. Agama-agama asketis dapat dibagi kedalam dua subtype. Pertama, asketisisme dunia lain, yang meliputi serangkaian norma dan nilai yang memerintahkan para pengikut agar tidak bekerja didunia sekuler dan melawan hawa. Kedua, asketisisme duniawi, karena jenis ini mencakup Calvinisme.
Dalam karyanya yang berjudul The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber menjelaskan bahwa minat paling utamanya adalah lahirnya rasionalisme khas Barat. Dalam bukunya itu bukanlah buku tentang kelahiran kapitalisme modern, melainkan tentang asal-usul semangat tertentu yang pada akhirnya membuat kapitalisme modern berkembang dan mulai mendominasi ekonomi. Menurut pandangan Weber, semangat kapitalisme tidak dapat didefinisikan begitu saja berdasarkan kerakusan ekonomi. Dia adalah sistem etika, dan etos, yang memang jadi salah satu pendorong terjadinya kesuksesan ekonomi. Namun, protestanisme berhasil mengalihkan upaya mencari keuntungan menjadi semacam jihad moral.
Weber melakukan perbandingan sah antara Barat dan Cina adalah bahwa keduanya memiliki prasyarat bagi perkembangan kapitalisme. Di Cina, terdapat tradisi penguasaan secara intens dan persaingan bebas. Ada industri besar dan peluang kerja luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Terdapat sejumlah gilda yang begitu kuat. Penduduk meningkat. Terjadi pertumbuhan logam mulia secara terus-menerus. Menurut pandangan Weber, kapitalisme dasar di Cina menuju kea ran yang berlawanan dengan perkembangan perusahaan ekonomi rasional.
Weber mendaftar beberapa kendala struktural bagi lahirnya kapitalisme di Cina. Pertama, terdapat struktur komunitas khas Cina. Kedua, struktur Negara Cina. Ketiga, sifat bahasa Cina. Meskipun ada hambatan struktural lain bagi kelahiran kapitalisme, faktor kuncinya adalah tiadanya mentalitas yang diperlukan untuk itu, tiadanya sistem gagasan yang dibutuhkan.
Konfusianisme. Ciri utama sistem konfusianisme adalah penekanannya pada pendidikan literer sebagai prasyarat  bagi diperolehnya jabatan dan bagi status sosial. Banyak komponen Konfusianisme lain berlawanan dengan kapitalisme. Sebaliknya, tidak ada gagasan keselamatan dalam konfusianisme, dan tiadanya ketegangan lama antara agama dengan dunia juga bertindak menghambat kelahiran kapitalisme. Weber menjelaskan bahwa konfusianisme menjadi kanonisasi tradisi tiada henti.
Weber memahami Taoisme sebagai agama Cina mistis yang di dalamnnya kebaikan tertinggi diyakini sebagai kondisi psikis, kondisi pikiran, dan bukan kondisi menggembirakan yang diperoleh dengan amal perbuatan dan kerja didunia nyata. Satu kesamaan cirri Taoisme dan Konfusianisme adalah tidak satupun yang cukup menghasilkan ketegangan, atau konflik, antaranggota yang mendorong mereka melakukan tindakan-tindakan inovatif didunia ini.
Weber mendiskusikan kendala struktural sistem kasta. Diantaranya, sistem kasta menjadi kendala yang begitu besar bagi mobilitas sosial dan bahkan cenderung mengatur hal-hal kecil aspek kehidupan. Agama Hindu menjadi kendala ideasional serupa. Gagasan kuncinya adalah reinkarnasi.dalam hal ini, sistem gagasan yang diasosiasikan dengan Hinduisme gagal menghasilkan orang yang dapat menciptakan sistem ekonomi kapitalis dan lebih umum lagi masyarakat yang tertata secara rasional.
Kritik
Ada banyak kritikan yang ditujukkan kepada Weber. Disini akan disebutkan empat yang terpenting diantara kritikan-kritikan itu. Kritikan yang pertama adalah terkait dengan metode verstehen Weber. Yang kedua menyatakan bahwa Weber tidak menawarkan teorisasi makro-sosiologi yang utuh. Kritik yang ketiga adalah bahwa dia tidak punya teori yang kritis. Dan yang terakhir adalah pesimisme sosiologi Weber. Weber bukan saja tidak berusaha menawarkan alternatif buat kita, di nampaknya juga lupa bahwa beberapa konsekuensi yang tidak dimaksudkan sebelumnya bisa jadi menawarkan alternatif tersebut.

irsadi parhan

Nama:irsyadi farhan

Kelas/semester:PMI 2

Mata kuliah:sosiologi perdesaan

 

PENINGKATAN KUALITAS MANUSIA

BEDASARKAN IPM

Hardiansyah

 

Pendahuluan

Kualitas dapat dimaknai sebagai kumpulan ciri yang menunjukan keunggulan.suatu yang berkualitas berarti memiliki nilai yang unggul atau lebih dari yang lain.kualitas juga bisa diartikan kondisi pemenuhan ciri-ciri yang diharapkan.

Kualitas manusia berarti sekumpulan ciri yang menunjukan keunggulan manusia,yang dapat dicermati sebagai individu,dan pada sekelompok manusia atau masyarakat disuatu wilayah.

Meskipun manusia amat komleks,namun secara sederhana seringkali ditinjau dari segi kualitas jasmani dan rohani.kualitas raga dicerminkan oleh kesehatan dan ketahanan fisik.kualitas jiwa dicerminkan oleh akal,kalbu dan nafsu.semua kemampuan ini membangkitkan semangat manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai kepekaan,kesetiakawanan dan tanggung jawab sosial.

Sosok Kualitas Manusia Masa Datang

Sosok abstrak kualitas manusia indonesia telah dituangkan dalam lagu indonesia raya oleh WR supratman sekitar 80 tahun yang lalu atau belasan tahun sebelum indonesia merdeka.sejak saat itu bangsa indonesia sesungguhnya sudah mempunyai tekad untuk menetapkan tujuan utama pembangunan manusia dan bangsa indonesia,yaitu “bangunlah jiwanya bangunlah badannya”.

Lebih lanjut,tujuan pembangunan jiwa dan membangun badan manusia indonesia,telah dirumuskan dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 yaitu untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Selama 60 tahun terakhir tampak pasang surut perhatian pemerintah terhadap pembangunan manusia dalam berbagai kebijakan pembangunan.

Bedasarkan UU nomor 17/2007 sosok manusia indonesia yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah manusia indonesia yang cerdas,tangguh,kompetitif,berakhlak mulia dan bermoral berdasarkan falsafah pancasila.

Kriteria pertama dari sosok manusia indonesia 2025 adalah cerdas.alfred binet,psikolog prancis,merupakan orang pertama yang mengembangkan ukuran kecerdasan anak sekolah yang disebut intelligence quotient (IQ).

Diharapkan sosok manusia indonesia 2025 bukan hanya sekedar khayalan,tetapi sebuah komitmen bersama yang harus diwujudkan dalam kenyataan secara bertahap sampai tahun 2025.

Indeks Pembangunan Manusia Sebagai Proksi Kualitas Manusia

 

 IPM merupakan ukuran komposit dari tiga dimensi pembangunan manusia,yaitu manusia yang:1)hidup sehat berumur panjang 2)berpengetahuan dan pendidikan 3)penghasilan yang layak.IPM menunjukan nilai tiga dimensi dasar pembangunan manusia tersebut,yang kemudian diranking antara negara yang dianalisis (177 negara)

Semakin tinggi nilai IPM menunjukan pembangunan manusia (dari segi kesehatan,pendidikan dan ekonomi) yang semakin baik dan sebaliknya semakin rendah nilai IPM menunjukan pembangunan manusia yang belum baik atau merata di suatu wilayah atau negara.

IPM bukan dimaksudkan untuk mengukur kualitas manusia secara individu atau orang perorang.IPM merupakan ukuran keberhasilan atau kegagalan pembangunan suatu bangsa atau masyarakat yang ditinjau dari segi sosial (kesehatan,pendidikan) dan ekonomi secara makro.

Posisi Indonesia Berdasarkan IPM

Bagaimana posisi IPM Indonesia diantara berbagai negara di dunia? Dalam laporan UNDP (2006) posisi IPM bangsa indonesia berada pada ranking 108 dari 177 negara.

Perbedaan nilai ranking GDP dengan ranking IPM (ranking GDP ranking IPM) menunjukan secara sederhana adanya ketimpangan antara ketiga dimensi pembangunan manusia (kesehatan,sosial pendidikan,dan ekonomi)

Indonesia dalam laporan UNDP pernah berada pada peringkat 112 dari 175 negara pada tahun 2003.yang membuat kita kurang gembira adalah mengapa mutu manusia (IPM) indonesia lebih rendah yang pada tahun tersebut lebih buruk dari pada vietnam (109),filipina (85) thailand (74) malaysia (58).

Kesenjangan Kualitas Manusia Antar Wilayah

Sejak tahun 2002,BPS Indonesia bekerjasama dengan bappenas dan UNDP menganalisis dan menerbitkan laporan indeks pembangunan manusia.

Dengan pertimbangan pola umum data statistik sosial ekonomi di indonesia bahwa angka harapan hidup dan tingkat pendidikan lebih rendah di daerah perdesaan dibanding di perkotaan,maka dapat disimpulkan bahwa nilai IPM di perdesaan lebih rendah dibanding di perkotaan.

Upaya mempercepat mengatasi masalah ini sebaiknya berfokus pada upaya peningkatan layanan gizi dan kesehatan (terutama ibu dan anak)pengendalian penyakit dan kesehatan lingkungan,peningkatan dan pemerataan kesempatan pendidikan sekolah dasar sampai SLTA,percepatan peningkatan pendapatan,peluang kerja dan usaha,yang disertai dengan penguatan SDM,kelembagaan,regulasi,teknologi dan infrastuktur.

Peningkatan IPM Peluang Tantangan

Mendiskusikan tentang IPM dalam rangka pembangunan desa 2030,mengajak kita untuk memikirkan desa seperti apa yang diharapkan terwujud pada tahun 2030.

Berdasarkan pemikiran bahwa jumlah penduduk tetap meningkat yang juga menuntut perluasan areal pemukiman,kegiatan ekonomi dan industri serta ruang untuk aktifitas lainnya,maka mau tidak mau desa yang sekarang sebagian akan mengalami transformasi menjadi kota,baik dalam arti sosial maupun fisik dan kehidupan lainnya.

Masalah peningkatan kualitas manusia,termasuk di perdesaan akan semakin pelik bila perdesaan yang semakin menyempit mengalami berbagai krisis ekologi,seperti deforestasi,marginalisasi,biodlversiti,pemanasan global,ancaman biosafety,dan pencemaran lingkungan hidup.

 Inovasi dan investasi pada dimensi kesehatan,pendidikan dan kesejahteraan sosial serta ekonomi perlu dirancang dalam suatu strategi besar pembangunan manusia beserta pembangunan wilayah desa dan kota dengan pendekatan ekologi manusia.

Bila indonesia ingin memiliki IPM yang lebih baik seperti malaysia sekarang tentu banyak hal yang harus diperhatikan dan banyak faktor yang harus dimasukan dalam model simulasi.

Secara sederhana,dengan menganalisis laju pertumbuhan IPM tahunan indonesia selama kurun waktu 1995 sampai 2004

Peluang ada,tpi juga ada masalah dan tantangan peningkatan IPM indonesia menjadi IPM dengan kategori IPM tinggi.hal ini berkaitan dengan ketenagaan,manajemen,penegak hukum penguatan dan pengembangan modal sosial,termasuk kearifan lokal,dan pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

Malaysia dulu banyak belajar ke indonesia,kini saatnya kita belajar dengan tetangga.malaysia semenjak pertengahan tahun 90an sudah membuat visi yang dikenal dengan malaysia 2020.pada pertengahan tahun 90an pemerintah malaysia sudah memilki gambaran masyarakat malaysia seperempat abad ke depan sehingga program-program pembangunan di negara tetangga itu difokuskan pada pencapaian visi.dalam hal disiplin sewajarnya kita belajar dari singapura negara yang mungil ini bisa menjadi maju karena kedisiplinan di berbagai bidang dijunjung tinggi.

Singapura,taiwan,hongkong dan israel merupakan contoh negara dengan sumberdaya alam yang minimal tapi bisa maju dengan fokus pada pembangunan sumberdaya manusia dan ICT.india dan cina merupakan dua negara dengan penduduk tinggi di asia,yang kaya sumberdaya alam,juga mengembangkan ICT lebih baik dibanding indonesia.

Salah satu kunci dalam pembangunan manusia adalah pembangunan dan pemanfaatan potensi information and communication technologi ICT.kita sadari ketergantungan masyarakat semakin hari semakin meningkat pada ICT.

Pembangunan ICT secara terencana dan mudah diakses masyarakat untuk berbagai kepentingan terutama bagi pendidikan,kesehatan dan ekonomi akan mempercepat peningkatan kualitas manusia indonesia baik secara sosial maupun ekonomi.secara ekonomi juga diarahkan agar bangsa indonesia mampu memproduksi berbagai komponen dan produk ICT sebagai substitusi impor bahkan mengekspor.indonesia akan ,menjadi pasar ICT yang besar dimasa datang.       

 

 

SarahAmaliaKusnendar_tugas2_teorimaxweber

Max Weber lahir di Erfurt, Jerman, pada tanggal 21 April 1864, dari keluarga kelas menengah. Perbedaan antara orang tuanya membawa dampak besar pada orientasi intelektual dan perkembangan psikologinya. Ayahnya adalah seorang birokrat yang menduduki posisi politik yang relative penting.  Ibu Max Weber adalah seorang calvinis yang sangat religious, seorang perempuan yang berusaha menjalani kehidupan asketis yang tidak banyak terlibat dalam kenikmatan duniawi yang didambakan oleh suaminya. Perhatiannya lebih kearah dunia lain, ia terusik oleh ketidaksempurnaan yang merupakan tanda bahwa ia tidak ditakdirkan untuk mendapatkan keselamatan.

1. Pengertian Tindakan Sosial 

Tindakan sosial terjadi ketika individu melekatkan makna subjektif pada tindakan mereka. Hubungan sosial menurut Weber  yaitu suatu tindakan dimana beberapa aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Masing-masing individu berinteraksi dan saling menanggapi

Kita sebagai makhluk hidup senantiasa melakukan tindakantindakan untuk mencapai tujuan tertentu. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya guna mencapai tujuan tertentu. 

2. Jenis-Jenis Tindakan Sosial 

Menurut Max Weber, tindakan sosial dapat digolongkan menjadi empat kelompok (tipe), yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afeksi.

a. Tindakan Rasional Instrumental 

Tindakan ini dilakukan seseorang dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya guna menunjang kegiatan belajarnya dan agar bisa memperoleh nilai yang baik, Fauzi memutuskan untuk membeli buku-buku pelajaran sekolah daripada komik.

b. Tindakan Rasional Berorientasi Nilai 

Tindakan ini bersifat rasional dan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang hendak dicapai tidak terlalu dipentingkan oleh si pelaku. Pelaku hanya beranggapan bahwa yang paling penting tindakan itu termasuk dalam kriteria baik dan benar menurut ukuran dan penilaian masyarakat di sekitarnya. Misalnya menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing.

c. Tindakan Tradisional 

Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak rasional. Seseorang melakukan tindakan hanya karena kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tanpa menyadari alasannya atau membuat perencanaan terlebih dahulu mengenai tujuan dan cara yang akan digunakan. Misalnya berbagai upacara adat yang terdapat di masyarakat.

d. Tindakan Afektif 

Tindakan ini sebagian besar dikuasai oleh perasaan atau emosi tanpa pertimbangan-pertimbangan akal budi. Seringkali tindakan ini dilakukan tanpa perencanaan matang dan tanpa kesadaran penuh. Jadi dapat dikatakan sebagai reaksi spontan atas suatu peristiwa. Contohnya tindakan meloncat-loncat karena kegirangan, menangis karena orang tuanya meninggal dunia, dan sebagainya.

Webber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis, yaitu:

1.      Tindakan Tradisional

Tindakan sosial dalam buku berjudul “The Problem of Sociology”, tindakan tradisional dalam pelaksanaannya terdapat batasan antara suatu kegiatan yang bermakna dan tidak bermakna dan dapat dijelaskan dengan interpretative sosiologi. Ini karena tindakan tradisional adalah tindakan yang dilakukan dibawah pengaruh adat dan kebiasaan. Hal tersebut dilakukan secara sadar dan berdasarkan pada tindakan yang tradisional, bahkan tindakan tersebut mengandung nilai subjektif dan tidak dapat dipahami (Lee: 176). 

Jadi, tindakan tradisional berdasarkan suatu nilai yang hanya mengikut pada tradisi yang dilakukan dan hanya berdasarkan oleh para pendahulunya saja, tidak tahu apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tindakan ini bahkan tidak rasional untuk dilaksanakan. Contohnya adalah upacara adat Jawa yang sudah ada semenjak zaman dahulu. Kadang tujuannya bahkan tidak diketahui oleh yang melaksanakan. Contoh laainnya adalah kegiatan mudik yang dilaksanakan setiap lebaran tiba.

2.      Tindakan Afektif

Tindakan ini terjadi dibawah pengaruh keadaan emosional seseorang. Sama seperti tindakan tradisional, tindaka afektif juga memiliki sifat naluriah, tidak sadar atau tidak dapat dimengerti dan hanya dapat dijelaskan oleh psikologi dan psikoanalisa. Tindakan afektif ditandai dengan fakta bahwa tindakan tersebut tidak membawa tujuan untuk berakhir, tetapi sebagai tujuan itu sendiri dan murni untuk kepentingan dirinya sendiri (Lee: 177). Tindakan ini juga bersifat irrasional. Contohnnya adalah seseorang bekerja lebih giat untuk mendapatkan pujian dari atasannya. Tindakan ini didasarkan pada perasaan yang ingin mendapat perhatian lebih. Contoh lainnya, orang tua akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Bahkan melakukan hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan anaknya. Tindakan afektif terhadap si anak, membuat orangtua tersebut melakukan hal yang orang lain tidak mau lakukan.

Webber mengklasifikasikan tindakan sosial menjadi empat jenis, yaitu:

3.      Rasional Berorientasikan Nilai

Rasionalitas berorientasikan nilai dijujung tinggi oleh fakta yang individual dikendalikan untuk mengesampingkan suatu yang ideal. Tindakan rasional berorientasikan nilai berpegang pada agama, politik atau lainnya sehingga menyebabkan tidak memperhitungkan pertimbangan lain yang relevan (Lee: 177). 

Bagaimanapun, hal ini tetap mengandung suatu yang irasional karena ini hanya mengangkat satu tujuan khusus diatas semua dan tidak menghitung konsekuensi dari serangkaian tujuan yang mungkin memiliki pada pencapaian tujuan-tujuan mereka sendiri. 

Jadi, rasional berorientasikan nilai adalah tindakan sosial yang memperhitungkan manfaatnya, tapi tujuan yang ingin dicapai tidak terlalu dipertimbangkan. yang pasti tidakan tersebut dinilai baik dan benar oleh masyarakat sekitarnya.

Contohnya yaitu seseorang yang melakukan ibadah sesuai dengan agamanya masing-masing. Contoh lainnya yaitu seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan bahwa anak muda harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang berpuasa sekian hari untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.

4.     Rasional Instrumental

Yaitu tindakan sosial yang dilaksanakan dengan pertimbangan tertentu antara usaha, manfaat dan tujuan yang ingin didapat oleh orang tersebut. tindakan sosial ini adalah tindakan paling rasional diantara tindakan sosial lainnya. 

Contohnya, seseorang ingin membeli kendaraan bermotor. Ia harus bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Uang tersebut disisihkan untuk keperluan pribadi dan tabungan membeli kendaraan. Jika tabungannya sudah terkumpul atau sudah mencukupi harga sebuah kendaraan bermotor, maka ia akan membeli kendaraan tersebut.

Teori verstehen

 Teori Verstehen merupakan salah satu kelebihan sosiologi dibandingkan ilmu lain, pemahaman yang dilakukan sosiolog untuk memahami kondisi masyarakat tidak dapat digunakan untuk mengamati atom atau molekul-molekul. Konsep Verstehen bukan berarti suatu intusi yang dapat digunakan para peneliti sebagai metodologi riset yang lunak. Bagi Webber Verstehen merupakan metodologi riset yang rasional. Verstehen sering di temukan dalam kalangan sejarawan jerman dalam bidang hermeneutika, yaitu pendekatan khusus terhadap penafsiran tulisan-tulisan atau teks. Sedangkan Webber mengembangkan gagasannya menyangkut kepada kehidupan sosial seperti memahami aktor, interaksi, dan seluruh sejarah manusia. Teori Verstehen masih sangat relevan untuk digunakan dalam penelitian sosiologi hingga saat ini. Perubahan sosial yang dinamis dalam perkembangan masyarakat harus selalu diperbaharui dengan pengamatan dan pemahaman. Satu titik simpul yang membuat perubahan bukan hanya dari sudut pandang dimana kebanyakan orang melihatnya. Tetapi dari sudut pandang berbeda yang dapat kita kaji melalui penjelasan fakta tanpa mempersoalkan baik buruknya fakta yang terjadi (non-etis).

Otoritas karismatik : Weber tidak menyangkal bahwa pemimpin karismatik dapat memiliki ciri menonjol, karismanya lebih tergantung pada kelompok pengikut dan bagaimana mereka mendefinisikan pemimpin karismatik.yang krusial dalam proses inin adalah ketika seorang pemimpin dipisahkan dari orang biasa dan diperlakukan seolah-olah ia memiliki kekuatan atau kualitas supranatural, supermanusia, atau skeurang-kurangnya kekuatan tidak lazim yang tidak dapat dimiliki oleh orang biasa. 
Karisma dan revolusi : bagi Weber, karisma adalah kekuatan revolusioner. Yang membedakan karisma sebagai kekuatan revolusioner adalah bahwa dia menyebabkan berubahnya pikiran aktor, ini menyebabkan reorientasi subjektif atau internal. 
Organisasi karismatik dan rutinisasi karisma : minat Weber pada organisasi dibelakang pemimpin karismatik dan staf yang ada didalamnya membawanya pada pertanyaan tentang apa yang terjadi dengan otoritas karismatik ketika pemimpinya mati. Akhirnya, sistem karismatik pada dasarnya sangat rentan. Sistem ini terlihat mampu bertahan hanya selama pemimpin karismatik hidup. Bagi Weber, karisma pada dasarnya tidak stabil, ia hadir dalam bentuknya yang murni selama pemimpin karismatiknya hidup.

Sumber:

Buku sosiologi modern 

Waluya, Bagja. 2007. “Sosiologi, Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat”. Bandung: PT. Setia Purna Inves

Teori Tindakan Sosial Max Weber, http://www.drzpost.com/reading-121-Teori-Tindakan-Sosial-Max-Weber.html.

Cari Blog Ini