Blog tempat mengirimkan berbagai tugas mahasiswa, berbagi informasi dosen, dan saling memberi manfaat. Salam Tantan Hermansah
Selasa, 01 Oktober 2013
indah kurniawati_PMI 3_Tugas ke_4_Teori kritis (marxisme)
NAMA : INDAH KURNIAWATI
NIM : 1112054000028
MATA KULIAH : SOSIOLOGI PERKOTAAN
TEORI KRITIS (MARXISME)
Teori Kritis dapat dibilang adalah salah satu perspektif dalam
disiplin ilmu Hubungan Internasional, yang keberadaanya memiliki sifat
unik. Teori Kritis berusaha untuk mendobrak keberadaan
perspektif-perspektif tradiosional, tetapi di sisi lain tetap
mengambil beberapa poin dari perspektif tradisional itu sendiri.
Contoh konkrit adalah bukti jika Teori Kritis menyetujui
ideologi-ideologi dari perspektif Marxisme. Tetapi kenyatanya Teori
Kritis juga menyerang perspektif Marxisme. Bahkan menariknya di dalam
teori Kritis terjadi sebuah fenomena saling kritik, hal ini
diakibatkan oleh dasar terbentuknya teori Kritis, yaitu adanya
keinginan untuk 'terus menerus mengkritik, tetapi kritik yang
dilontarkan tidak selalu bermakna negatif' (Wardhani 2013). Teori
Kritis mencoba untuk merekonstruksi perspektif-persektif tradisional,
dengan jalan penyodoran kritik secara immanent (terus menerus). Kritik
dianggap sebagai sebuah jalan untuk mengkritisi dan sekaligus memberi
solusi.
Teori Kritis lahir di Jerman, tepatnya di University
Frankfurt am Main. Pada awalnya Teori Kritis memiliki nilai-nilai
Marxisme, yang disebarkan oleh tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Max
Weber, Hegel dan Immanuel Kant. Maka Teori Kritis juga sering disebut
sebagai perspektif 'Marxis-humanisme' atau 'Open-Marxis'. Fokus awal
teori kritis juga sejalan dengan fokus utama Marxisme, yaitu
penghapusan ketidak-adilan. Janji-janji yang disusung oleh kaum
Liberalis, ternyata dalam implementasinya tidak sesuai denga harapan.
Terdapat eksploitasi berlebihan dari para pemegan modal terhadap
kaum-kaum bawah. Perang yang terjadi, yang dianggap oleh kaum Realis
sebagai pelebaran kekuasaan negara, nyatanya tidak membawa dampak
signifikan
Tetapi lama kelamaan fokus Teori Kritis sedikit memisah
karena fokus yang berseberangan dengan perspektif Marxis.
Perseberangan ini didasari karena fokus perspektif Marxis yang hanya
berkutat pada permasalahan yang terjadi antara kaum Borjuis dan
Proletar saja (Wardhani 2103), padahal kenyataanya terdapat berbagai
macam aspek di luar kedua kaum tadi, yang jauh lebih signifikan
dampakya. Sehingga Teori Kritis terus berkembang dan perlahan mulai
memperluas fokus, jauh lebih lebar dari lingkup fokus dari perspektif
Marxis.
Teori Kritis berkembang dari nilai-nilai kaum
behavioralis. Terdapat kecenderungan untuk melawan kaum Positivis,
yang membawa asumsi bahwa ilmu itu harus bebas, dalam artian bebas
nilai. Bagi kaum behavioralis, keberadaan ilmu, terlebih lagi dalam
ilmu sosial, tidak dapat dipahami melalui jalan bebas nilai. Hal ini
didasari oleh perbedaan dasar antara ilmu pasti atau eksak, dimana
subjek dan objek dapat dipisahkan proses pemahamannya, dengan ilmu
sosial, yang tidak boleh memisahkan posisi subjek dan objek sebagai
bagian dalam proses pemahaman.
"The facts which our senses present to us are socially performed in
two ways: through the historical character of the object perceived and
through the historical character of the perceiving organ. Both are not
simply natural; they are shaped by human activity, and yet the
individual perceives himself as receptive and passive in the act of
perception" (Horkheimer 1976, 213).
Semua kejadian dalam kehidupan sosial manusia memang terjadi karena
keberadaan manusia itu sendiri. Tetapi jika telah berbicara mengenai
bagaimana manusia mempersepsikan sesuatu, seringkali manusia
memosisikan diri sebagai individu yang reseptif dan pasif. Inilah poin
kritikan utama dari kaum Teori Kritis, yang memandang bahwasanya
diperlukan sinergi antara objek dan subjek yang tengah diamati, umtuk
mencapai hail pengamatan yang benar-benar valid. Hal ini disebabkan
dari keabsahan data, karena melalui dua belah pihak.
Teori Kritis berakar dari enlighment para tokoh-tokoh
seperti Marx, Imannuel Kant dan Hegel. Sehingga dapat dipahami jika
Teori Kritis mendapat berbagai macam pengaruh dari banyak tokoh. Salah
seorang tokoh, yaitu seorang Andrew Linklater, beranggapan bahwa Teori
Kritis haruslah merubah mindset. Perubahan mindset akan selalu sejalan
dengan perubahan cara dan pola berpikir manusa. Perubanan ini nantinya
dapat mengantarkan manusia untuk bebas dari aturan yang mengekang,
yang membatasi manusia untuk bertindak. "Critical theory extend human
capacity for determination" (Linklater 1982). Peranan Teori Kritis
adalah sebagai aktor yang memperluas kapasitas manusia, untuk
determinasi (memilih) serangkaian tindakan yang dapat diambil atau
diperbuat. Dan jika berbicara mengenai kebebasan, maka keberadaan dari
kebebasan ini tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan emansipasi.
Seperti yang telah diketahui bersama, terdapat tiga asumsi
emansipatori dalam disiplin ilmu Hubungan Internasional, yaitu
Critical Theory, Post-Modernism dan Feminism (Wardhani 2013). Teori
Kritis berusaha untuk memajukan dan mengutamakan kebebasan bagi
individu untuk mengekspresikan diri, karena individu harus memiliki
mindset sebagai orang yang bebas.
Berbeda dengan perspektif lain yang, Teori Kritik selalu
memperbaharui diri. Perspektif lain juga dapat melakukan hal yang
sama, tetapi proses pembaharuan diri ini tidak akan secepat dan
sesignifikan layaknya Teori Kritik. Pembaharuan yang siginifikan ini
terjadi karena adanya immanent critics (Wardhani 2013). Teori Kritik
selalu berusaha memberikan kritik atas segala sesuatu yang tengah
terjadi, yang tengah berlangsung, atau segala sesuatu yang akan
terjadi. Maka tidak heran jika di dalam Teori Kritik sendiri, terdapat
kecenderungan saling kritik antara satu tokoh dengan tokoh lain. Hal
ini dianggap wajar, karena kritik dipandang sebagai jalan terbaik
untuk memperbaharui diri setiap saat. Sehingga lama kelamaan Teori
Kritik berevolusi menjadi sumber filsafsat dalam disiplin ilmu
Hubungan Internasional. Hal ini disebabkan oleh rasa ingin mengkritik
terus menerus, sehingga Teori Kritik memberikan
kemungkinan-kemungkinan baru, yang tidak pernah dapat disajikan oleh
perspektif lain.
Teori Kritik memposisikan diri sebagai perspektif yang
selalu mengkritik gejala atau fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Teori Kritik menghadirkan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang
tidak pernah disajikan oleh perspektif lain.
Pandangan Marxisme terhadap kapitalisme yang eksploitatif terdiri dari
dua. Pertama, kapitalisme adalah segala sesuatu yang melibatka
produksi yang bisa ditukarkan (jual beli) untuk hal lain. Intinya
setiap barang memiliki nilai termasuk jam kerja orang. Kedua,
kapitalisme adalah semua hal yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan
produksi yang dimiliki oleh kapitalis. Ketiga, pekerja adalah orang
yang bebas, akan tetapi untuk bertahan hidup mereka harus menyerahkan
ketenegakerjaan pada kapitalis, sedangkan kapitalis adalah yang
mengatur hubungan produksi sekaligus menentukan laba yang diberikan
oleh pekerja.
Dengan perekonomian yang terus menerus meluas dengan dialih menemukan
pasar baru dan mendapatkan sumber daya alam, Negara maju kapitalislah
yang memiliki semua teknologi dan factor-faktor produksi. Terdapat
kecendrungan Negara kaya akan semakin kaya dan kuat, sementara
kekayaan sumber daya alam Negara kecil terkuas dan semakin lama
semakin miskin. Teori marxisme mengungkapkan bahwa globalisasi adalah
kendaraan kapitalis yang paling modern saat ini di mana globalisasi
sebenarnya untuk meyakini bahwa kekuatan dan kemakmuran Negara besar
terus berlangsung sementara yang miskin tetap miskin.
Berbagai kritik yang muncul mendsiskreditkan Marxisme banyak berasal
dari kaum liberal, realis, dan English School. Salah satunya adalah
Martin Wight yang berpendapat bahwa Maexisme-Lenin misalnya terjebak
pada segi ekonomi, pendekatan sempit katanya. Marxisme, menurutnya
terlalu menekankan segala sesuatu negative berkaitan dengan
pewrkembanganm kapitalis dalam system internasional. Marxisme seolah
mengabaikan aspek-aspek lain dalam system internasional seperti hukum
internasional, diplomasi, kerjasama positive absolute gain dan lainnya
sebagai salah satu upaya untuk menghindari dan mengakhiri konflik.
Tetapi, marxisme menyediakan wawasan bahwa nasionalisme (persatuan)
terbentuk ketika etnis heterogen bisa merasakan satu perasaan akibat
penindasan ekonomi. Persepsi nasionalisme inilah yang menyatukan
kehendak kelas bawah dengan menggulingkan entitas politis yang
eksploitatif tidak menghiraukan kepentingan kelas bawah dengan
mendirikan entitas politik yang bersifat kominal dan social; artinya
kepentingan tidak hanya berpusat pada satu kelas atas yang
mendomonasi. Dengan demikian, yang di maksud dengan Marxisme intinya
adalah perjuangan kelas untuk mengakhiri konflik (penindasan kelas dan
terhadap yang dibawahnya) melalui suatu revolusi social.
indah kurniawati_PMI 3_Tugas ke_3_kontruksivism
Nim : 1112054000028
Tugas Ke 3 Sosiologi Perkotaan
Konstruktivism
A. Max Weber
Masyarakat yang modern adalah masyarakat yang rasional dengan bekal
perangkat metodelogis berupa langkah komphrensif dan metode "tipe
ideal", weber menyadari adanya beragam studi komparatif menyangkut
bentuk-bentuk hukum, tipe agama, cara organisasi dan politik. Menurut
sang penulis economie et seciete ini "rasionalisasi kehidupan sosial"
menjadi ciri signifikan masyarakat modern weber menjelaskan tiga tipe
besar aktivitas manusia yaitu:
1. Tindakan tradisional yang terkait dengan adat istiadat. Aktivitas
seahari-hari seperti makan dengan menggunakan garpu atau cara member
slam kepada teman merupaka tidakan tradisional.
2. Tindakan efektif yang digerakkan oleh nafsu. Para renternir dan
penjudi bertindak pada level ini.
3. Tindakan rasional yang merupakan alat (instrument), ditunjukkan
kearah nilai atau tujuan yang bermanfaat dan berimplikasi pada
kesesuaian abtara tujuan dengan cara. Startegi (militer atau ekonomi)
termasuk dalam ketegori ini. Strategi ini bersifat rasional dalam hal
penyesuaian efektivitas tindakan yang lebih baik dan diarahkan ke
tujuan meteriil (misalnya penaklukan sebuah wilayah) atau
diorientasikan lewat nilai-nilai (misalnya kemenangan).
Menurut weber tindakan rasional menjadi cirri masyarakat mpdern: yaitu
mewujudkan dirinya sebagai pengusaha kapitalis, ilmuwan, konsumen,
atau pegawai yang bekerja bertindak sesuai dengan logika tesebut.
Sekalipun demikian weber menegaskan bahwa "jarang sekali aktivitas
terutama aktivitas sosial yang hany berorientasi pada salah satu jenis
aktivitas saja. Jenis-jenis aktivitas itu hanya berupa tipe-tipe murni
yang dibangun untuk tujuan riset sosiologi. Aktivitas riil itu kurang
lebih sebanding dan lebih sering berkombinasi. Produktivitas
(fecondite), menurut hemat saya, menyebabkan munculnya kebutuhan
unutuk membangun (aktivitasnya).
Sebenarnya kita bisa saja menunjukkan bahwa ketiga jenis tindakan itu
saling berkelindan menjadi satu aktivitas serupa seperti halnya
aktivitas konsumen. Biasanya konsumen memilih produk yang disesuaikan
dengan penghasilannya(tindakan rasional). Namun ia bisasaja didorong
memilih karena kebiasaan konsumsinya (tindakan tradisional) atu karena
keinginan yang tak tertahan lagi (tindakan efektif). Dalam karayanya
yang terkenal yaitu " Ethique protestante et l'esprit du capitalism
(etika protestan dan jiwa kapitalis) weber menunjukkan bahwa
rasinalisasi tindakan hidup sehari-hari seperti yand di puji oleh para
pendiri agam protestan ternyata mendukung perkembangan kapitalisme.
Max weber menyatakan bahwa indutrialisasi dan modernisasi di eropa
barat pada abad ke 19 bersumber pada pandangan hidup agama Kristen
protestan.
Perilaku konsumtif ini dapat dapat teris mengakar di dalam gaya
hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi
orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif
ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih
besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan
dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja
berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada bahkan
etika.
B. Peter Berger
Istilah kontruksi sosial atau realitas (sosial construction of
reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan
interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu
relitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Asal usul
kontruksi sosial dari filsafat kontruktivisme yang di mulai dari
gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut von glasersfeld,
pengertian konstruktif kognitif muncul dalam tulisan mark Baldwin yang
secara luas di perdalam dan disebarkan oleh jean piage. Namun apabila
ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan pokok konsruktivisme sebenranya
telah dimulai oleh giambastissta vico, seorang epistemologi dari
italia ia adalah cikal bakal konstruktifisme.
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah muncul sejak
Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak plato menemukan
akal budi dan gagasan tersebut semkin lebih konkrit lagi setelah
aristoteles mengenalkan istilah, informasi, relasi, individu,
subtansi, materi, esensi, dan sebagainya. Ia mengatakan bahwa manusia
adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan
kebenarannya, bhawa kunci pengetahun adalah fakta.
Ada tiga macam konstruktivisme yakni konstruktivisme radikal, realism
hipotesis dan biasa. Berikut penjelasan ketiga macam konstruktivisme
diantaranya sebagai berikut:
1. Konstruktivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh
pikiran kita. Bentuk itu tidak selalu representasi dunia nyata. Kaum
konstruktivisme mengesampingkan hubungan antara pengethuan dan
kenyataan sebagai suatu kriteria kebenaran. Pengetahuan bagi mereka
tidak merefleksi suatu realitas ontologism obyektif, namun sebuah
realitas yang dibentuk oelh pengalaman seseorang. Pengetahuan selalu
merupakan kontruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat
ditransfer kepada individu lain yang pasif karena itu kontruksi harus
dilakukan sendiri oleh terhadap pengertahuan itu, sedangkan lingkungn
adalah saran terjadinya kontruksi itu.
2. Realisme hipotesis pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari
struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju kepada
pengetahuan yang hakiki.
3. Konstruktivisme biasa mengambil semua konsekuensi konstruktivisme
dan memahami pengetahuan sebagai gambaran dari realitas itu. Kemudian
pengetahuan individu dipandang sebagai gambaran yang dibentuk dari
realitas objektif dalam dirinya sendiri.
Dari tiga macam konstruktivisme, terdapat kesamaan dimana
konstruktivisme dilihat sebagai sebuah dunia realitas yang ada karena
terjadi realisi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang
yang disekitarnya.
Individu kemudian membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang
dilihat itu berdasarkan kepada struktur pengetahuan yang telah ada
sebelumnya, inilah yang oleh berger dan luckhman disebut dengan
konstruksi sosial.
Realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan
konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Hubungan
antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu
timbul, bersifat berkembang dan dilembagakan. Kehidupan masyarakat itu
dikontruksikan secar terus menerus memebedakan antara realitas dengan
pengetahuan. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di
kenyataan yang diakui sebagai pemilik keberadaan (being) yang tidak
bergantung kepada kehendak kita sendiri. Sementara pengetahuan
didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata
(real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.
Masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan
interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat
nyata secara obyektif, namun pada kenyataan semuanya dibangun dalam
definisi subjektif melalui proses interaksi. Objektivitas baru bisa
terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang
lain yang memiliki definisi subyektif yang sama. pada tingkat
generalitas dunia dalam makna simbolis dan universal, yaitu pandngan
hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur
bentuk-bentuk sosial serta member makna pada berbagai bidang
kehidupannya. Proses konstruksinya, jika dilihat dari perspektif teori
berger berlangsung melalui interaksi sosial yang dielektis dari tiga
bentuk realitas yang menjadi entry concept, yakni subjective reality,
symbolis reality, dan objective reality. Selain itu juga berlangsung
dalam suatu proses dengan tiga momen simultan, eksternalisasi,
objektivikasi dan internalisasi.
Objective reality, merupakan suatu kompleksitas definisi realitas
(termasuk ideologi dan keyakinan) serta rutinitas tindakan dan tingkah
laku yang telah mapan terpola, yang kesemuanya dihayati oleh individu
secara umum sebagai fakta. Symbolic reality, merupakan semua ekspresi
simbolik dari apa yang dihayati sebagai objective reality misalnya
teks produk industri media, seperti berita di media cetak atau
elektronika, begitu pun yang ada di film-film. Subjective reality ,
merupakan konstruksi definisi realitas yang dimiliki individu dan
dikonstruksi melalui proses internalisasi.
Nim : 1112054000028
Tugas Ke 3 Sosiologi Perkotaan
Konstruktivism
A. Max Weber
Masyarakat yang modern adalah masyarakat yang rasional dengan bekal
perangkat metodelogis berupa langkah komphrensif dan metode "tipe
ideal", weber menyadari adanya beragam studi komparatif menyangkut
bentuk-bentuk hukum, tipe agama, cara organisasi dan politik. Menurut
sang penulis economie et seciete ini "rasionalisasi kehidupan sosial"
menjadi ciri signifikan masyarakat modern weber menjelaskan tiga tipe
besar aktivitas manusia yaitu:
1. Tindakan tradisional yang terkait dengan adat istiadat. Aktivitas
seahari-hari seperti makan dengan menggunakan garpu atau cara member
slam kepada teman merupaka tidakan tradisional.
2. Tindakan efektif yang digerakkan oleh nafsu. Para renternir dan
penjudi bertindak pada level ini.
3. Tindakan rasional yang merupakan alat (instrument), ditunjukkan
kearah nilai atau tujuan yang bermanfaat dan berimplikasi pada
kesesuaian abtara tujuan dengan cara. Startegi (militer atau ekonomi)
termasuk dalam ketegori ini. Strategi ini bersifat rasional dalam hal
penyesuaian efektivitas tindakan yang lebih baik dan diarahkan ke
tujuan meteriil (misalnya penaklukan sebuah wilayah) atau
diorientasikan lewat nilai-nilai (misalnya kemenangan).
Menurut weber tindakan rasional menjadi cirri masyarakat mpdern: yaitu
mewujudkan dirinya sebagai pengusaha kapitalis, ilmuwan, konsumen,
atau pegawai yang bekerja bertindak sesuai dengan logika tesebut.
Sekalipun demikian weber menegaskan bahwa "jarang sekali aktivitas
terutama aktivitas sosial yang hany berorientasi pada salah satu jenis
aktivitas saja. Jenis-jenis aktivitas itu hanya berupa tipe-tipe murni
yang dibangun untuk tujuan riset sosiologi. Aktivitas riil itu kurang
lebih sebanding dan lebih sering berkombinasi. Produktivitas
(fecondite), menurut hemat saya, menyebabkan munculnya kebutuhan
unutuk membangun (aktivitasnya).
Sebenarnya kita bisa saja menunjukkan bahwa ketiga jenis tindakan itu
saling berkelindan menjadi satu aktivitas serupa seperti halnya
aktivitas konsumen. Biasanya konsumen memilih produk yang disesuaikan
dengan penghasilannya(tindakan rasional). Namun ia bisasaja didorong
memilih karena kebiasaan konsumsinya (tindakan tradisional) atu karena
keinginan yang tak tertahan lagi (tindakan efektif). Dalam karayanya
yang terkenal yaitu " Ethique protestante et l'esprit du capitalism
(etika protestan dan jiwa kapitalis) weber menunjukkan bahwa
rasinalisasi tindakan hidup sehari-hari seperti yand di puji oleh para
pendiri agam protestan ternyata mendukung perkembangan kapitalisme.
Max weber menyatakan bahwa indutrialisasi dan modernisasi di eropa
barat pada abad ke 19 bersumber pada pandangan hidup agama Kristen
protestan.
Perilaku konsumtif ini dapat dapat teris mengakar di dalam gaya
hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi
orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif
ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih
besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan
dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja
berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada bahkan
etika.
B. Peter Berger
Istilah kontruksi sosial atau realitas (sosial construction of
reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan
interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu
relitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Asal usul
kontruksi sosial dari filsafat kontruktivisme yang di mulai dari
gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut von glasersfeld,
pengertian konstruktif kognitif muncul dalam tulisan mark Baldwin yang
secara luas di perdalam dan disebarkan oleh jean piage. Namun apabila
ditelusuri, sebenarnya gagasan-gagasan pokok konsruktivisme sebenranya
telah dimulai oleh giambastissta vico, seorang epistemologi dari
italia ia adalah cikal bakal konstruktifisme.
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah muncul sejak
Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak plato menemukan
akal budi dan gagasan tersebut semkin lebih konkrit lagi setelah
aristoteles mengenalkan istilah, informasi, relasi, individu,
subtansi, materi, esensi, dan sebagainya. Ia mengatakan bahwa manusia
adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan
kebenarannya, bhawa kunci pengetahun adalah fakta.
Ada tiga macam konstruktivisme yakni konstruktivisme radikal, realism
hipotesis dan biasa. Berikut penjelasan ketiga macam konstruktivisme
diantaranya sebagai berikut:
1. Konstruktivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh
pikiran kita. Bentuk itu tidak selalu representasi dunia nyata. Kaum
konstruktivisme mengesampingkan hubungan antara pengethuan dan
kenyataan sebagai suatu kriteria kebenaran. Pengetahuan bagi mereka
tidak merefleksi suatu realitas ontologism obyektif, namun sebuah
realitas yang dibentuk oelh pengalaman seseorang. Pengetahuan selalu
merupakan kontruksi dari individu yang mengetahui dan tidak dapat
ditransfer kepada individu lain yang pasif karena itu kontruksi harus
dilakukan sendiri oleh terhadap pengertahuan itu, sedangkan lingkungn
adalah saran terjadinya kontruksi itu.
2. Realisme hipotesis pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari
struktur realitas yang mendekati realitas dan menuju kepada
pengetahuan yang hakiki.
3. Konstruktivisme biasa mengambil semua konsekuensi konstruktivisme
dan memahami pengetahuan sebagai gambaran dari realitas itu. Kemudian
pengetahuan individu dipandang sebagai gambaran yang dibentuk dari
realitas objektif dalam dirinya sendiri.
Dari tiga macam konstruktivisme, terdapat kesamaan dimana
konstruktivisme dilihat sebagai sebuah dunia realitas yang ada karena
terjadi realisi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang
yang disekitarnya.
Individu kemudian membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang
dilihat itu berdasarkan kepada struktur pengetahuan yang telah ada
sebelumnya, inilah yang oleh berger dan luckhman disebut dengan
konstruksi sosial.
Realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan
konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Hubungan
antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu
timbul, bersifat berkembang dan dilembagakan. Kehidupan masyarakat itu
dikontruksikan secar terus menerus memebedakan antara realitas dengan
pengetahuan. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di
kenyataan yang diakui sebagai pemilik keberadaan (being) yang tidak
bergantung kepada kehendak kita sendiri. Sementara pengetahuan
didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata
(real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.
Masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan
interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat
nyata secara obyektif, namun pada kenyataan semuanya dibangun dalam
definisi subjektif melalui proses interaksi. Objektivitas baru bisa
terjadi melalui penegasan berulang-ulang yang diberikan oleh orang
lain yang memiliki definisi subyektif yang sama. pada tingkat
generalitas dunia dalam makna simbolis dan universal, yaitu pandngan
hidupnya yang menyeluruh, yang memberi legitimasi dan mengatur
bentuk-bentuk sosial serta member makna pada berbagai bidang
kehidupannya. Proses konstruksinya, jika dilihat dari perspektif teori
berger berlangsung melalui interaksi sosial yang dielektis dari tiga
bentuk realitas yang menjadi entry concept, yakni subjective reality,
symbolis reality, dan objective reality. Selain itu juga berlangsung
dalam suatu proses dengan tiga momen simultan, eksternalisasi,
objektivikasi dan internalisasi.
Objective reality, merupakan suatu kompleksitas definisi realitas
(termasuk ideologi dan keyakinan) serta rutinitas tindakan dan tingkah
laku yang telah mapan terpola, yang kesemuanya dihayati oleh individu
secara umum sebagai fakta. Symbolic reality, merupakan semua ekspresi
simbolik dari apa yang dihayati sebagai objective reality misalnya
teks produk industri media, seperti berita di media cetak atau
elektronika, begitu pun yang ada di film-film. Subjective reality ,
merupakan konstruksi definisi realitas yang dimiliki individu dan
dikonstruksi melalui proses internalisasi.
DelshaAmandaPohanKPI1B_Tugas4_Maxweber
Konsep dasar Marx weber untuk mengklasifikasian tindakan sosial adalah Rasionalitas. Rasionalitas itu sendiri dibagi menjadi 4 :
1. Rasionalitas Praktis
2. Rasionalitas Formal
3. Rasionalitas Subtansial
4. Rasionalitas Teoritis
Setelah itu, weber menggunakan rasionalitas untuk mengklasifikasikan tindakan sosial . Tindakan sosial ini maksudnya adalah tindakan yang dilakukan dan memiliki makna. tindakan itu dibagi oleh weber menjadi :
1.Tidakan yang Rasional
-Tindakan Rasional Instrumental/ Tujuan, Tindakan ini dilakukan untuk mencapai tujuan individu, misalnya Budi ingin lulus ujian mandiri, lalu dia belajar dengan benar, tapi setelah di pikir-pikir lagi akhirnya si budi ikut bimbingan belajar dan latihan sekolah di rumah.
- Tindakan Rasional Nilai, Tindakan ini digunakan untuk Nilai keyakinan, seperti agama
2. Tindakan yang non Rasional
-Tindakan Tradisional, Tindakan ini mengacu pada Tradisi seperti kalau lewat di depan orang yang lebih tua harus bilang permisi atau membukukan badan (hormat pada yang tua)
- Tindakan Afektif, Tindakan ini mengacu pada kondisi perasaan kita sekarang apakah sedang sedih, senang, marah, kecewa dan lain sebagainya.
Otoritas dan Organisasi, kerap ditemukan di lingkup masyarakat. Dominasi kekuasaan, atau orang yang bisa mempengaruhi orang lain menurut kehendak yang memegang kekuasaan dan kekuasaan ini nyaris tidak bisa di tolak.weber membagi lagi 3 tipe ideal dominasipada kekuasaan yaitu :
1. Dominasi Tradisional, Domisi ini di dasarkan oleh Tradisi
Gerontokrasi (pimpinan dipegang sejumlah orang tua)
Patriakalime (kelompok kekerabatan berdasarkan garis keturunan laki-laki)
Patrimonialisme (staf organisasi sosial dipegang oleh orang-orang yang mempunyai hubungan pribadi dengan pemimpin)
2. Dominasi Karismatik, domisi ini di dasarkan oleh karismatik atau kewibawaan
3. Dominasi Legal- Irasional, domisi ini di dasarkan oleh aturan hukum yang jelas.
Nurdin Araniri_Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)_III_Tugas Ke-4_Teori Kritis dan Marxisme
Nama : Nurdin Araniri
NIM : 1112054000010
Jurusan/Semester : Pengembangan Masyarakat Islam (PMI)/3
"Teori Kritis dan Marxisme"
A. Teori Kritis
Teori kritis merupakan salah suatu persepektif teoritis yang bersumber pada berbagai pemikiran yang berbeda seperti pemikiran Ariestoteles, Foucault, Gadamer, Hegel, Marx, Kant, Wittgenstein dan pemikiran-pemikiran lain. Pemikiran-pemikiran berbeda tersebut disatukan oleh sebuah orientasi atau semangat teoretis yang sama, yakni semangat untuk melakukan emansipasi.
Istilah teori kritis pertama kali ditemukan Max Horkheimer pada tahun 30-an. Pada mulanya teori kritis berarti pemaknaan kembali ideal-ideal modernitas tentang nalar dan kebebasan, dengan mengungkap deviasi dari ideal-ideal itu dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis. Untuk memahami pendekatan teori kritis, ia harus ditempatkan dalam konteks Idealisme Jerman dan kelanjutannya. Karl Marx dan generasinya menganggap Hegel sebagai orang terakhir dalam tradisi besar pemikiran filosofis yang mampu "mengamankan" pengetahuan tentang manusia dan sejarah. Namun, karena beberapa hal, pemikiran Marx mampu menggantikan filsafat teoritis Hegel, yang hal ini, menurut Marx terjadi dengan membuat filsafat sebagai hal yang praktis; yakni merubah praktik-praktik yang dengannya masyarakat mewujudkan idealnya.
Marx memberikan suatu paradigma baru dalam teori kritik. Marx mencoba mengontekstualisasikan teori kritik dengan kehidupan sosial politik masyarakat pada waktu itu. Teorinya ini juga didasari dengan analogi basis-suprastruktur dan kelas masyarakat yang akhirnya memunculkan suatu konsep sosialisme ilmiah (scientific socialism).
Teori kritis mengalami suatu perkembangan yang lebih pesat lagi di era post- Marxisme. Di era post Marxisme muncul berbagai macam mazhab-mazhab yang mencoba untuk memberikan paradigma baru dalam teori kritis seperti Mazhab frankfurt dengan tokohnya Adorno, Horkheimer, Habermas dan Mazhab Post-strukturalis dan Post-Modernis dengan tokohnya Foucault dan Derrida.
Tujuan teori kritis adalah menghilangkan berbagai bentuk dominasi dan mendorong kebebasan, keadilan dan persamaan. Teori ini menggunakan metode reflektif dengan cara mengkritik secara terus menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomi yang ada, yang cenderung tidak kondusif bagi pencapaian kebebasan, keadilan, dan persamaan.
Ciri khas Teori Kritis tidak lain ialah bahwa teori ini tidak sama dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Singkatnya, pendekatan teori ini tidak bersifat kontemplatif atau sepekulatif murni. Pada titik tertentu, ia memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipotaris. Selain itu, tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah.
Pada dasarnya, esensi Teori Kritis adalah kontruktivisme yaitu memahami keberadaan struktur-stuktur sosial dan politik sebagai bagian atau produk dari intersubyektivitas dan pengetahuan secara alamiah memiliki karakter politis, terkait dengan kehidupan sosial dan politik.
Hubungan antara Teori Kritis dan Marxisme digambarkan secara gamblang oleh Bertens (2006:194-5) dengan kalimat :"Oleh karenanya Institut Penelitian ini tidak mau tergantung pada universitas Frankfurt, yang pada saat itu masih muda, biarpun beberapa anggotanya mengajar di universitas tersebut. Kebanyakan anggotanya merasa simpati kepada marxisme dan beberapa diantaranya menjadi anggota partai komunis Jerman…"
B. Marxisme
Karl marx adalah sosok pemikir barat yang lahir pada tahun 1818 adalah keturunan Yahudi penganut christianity akan tetapi pada akhirnya menganut paham atheis (tidak bertuhan), yang dikarenakan faktor keluarga dan pergolakan sosial yang terjadi pada masa itu.
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti pandangan-pandangan dari Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapitalis mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.
Salah satu alasan mengapa Marxisme merupakan sistem pemikiran yang amat kaya adalah bahwa Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masi telah sangat berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman, teori politik Prancis, dan ilmu ekonomi Ingris. Marxisme tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai "filsafat" seperti filsafat lainnya, sebab marxisme mengandung suatu dimensi filosofis yang utama dan bahkan memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap banyak pemikiran filsafat setelahnya. Itulah sebabnya, sejarah filsafat zaman modern tidak mungkin mengabaikannya.
Menurut Karl Marx hal paling mendasar yang harus dilakukan manusia agar dapat terus hidup adalah mendapatkan sarana untuk tetap bertahan hidup. Apapun yang bisa menghasilkan pangan, sandang, dan papan bagi mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tidak ada yang bisa menghindar dari tugas memproduksi hal-hal itu. Namun demikian, ketika cara-cara produksi berkembang dari tahap primitif, segera muncul kebutuhan agar tiap individu dapat melakukan spesialisasi, karena menemukan bahwa mereka akan lebih makmur dengan cara itu. Lalu, orang menjadi bergantung satu dengan yang lain. Produksi sarana hidup kini menjadi aktivitas sosial, bukan lagi aktivitas individu.
Jika dilihat dari sudut pandang antropologi (gambar tentang manusia), marxisme dapat dikatakan sangat optimis. Manusia adalah bagian dari alam, dimana melalui kerja manusia, alam dapat dikuasai, diubah dan dijadikan milik manusia. Manusia melalui kerjanya menguasai materi (materialisme). Ini bukan proses individual, tetapi proses kolektif yang melayani pemenuhan kebutuhan masyarakat. Proses ini terjadi bukan secara evolusioner, melainkan melalui munculnya pertentangan-pertentangan di masyarakat yang dipecahkan secara revolusioner untuk mencapai tingkat baru sejarah (materialisme dialektis). Hakikat manusia dipenuhi melalui proses masyarakat, di mana semua pemisahan antara manusia (kelas, negara dll) ditiadakan. Karena manusia sendiri adalah subjek perubahan yang hakiki (yang berkembang secara revolutioner), akhirnya manusia adalah pencipta dan penebus dirinya sendiri.
R. Ahmad Nabhan/ PMI III. Tugas ke-4 : Teori Kritis Karl Max dan Marxisme
Teori Kritis Karl Max dan Marxisme
A. Teori Kritis
Istilah teori kritis pertama kali ditemukan Max Hokheimer pada tahun 30-an. Awalnya teori kritis berarti pemaknaan kembali gagasan-gagasan ideal modernitas berkaitan dengan nalar dan kebebasan. Pemaknaan ini dilakukan dengan mengungkap deviasi dari gagasan-gagasan ideal tersebut dalam bentuk saintisme, kapitalisme, industri kebudayaan, dan institusi politik borjuis.
Untuk memahami pendekatan teori kritis, tidak bisa tidak, harus menempatkannya dalam konteks Idealisme Jerman dan kelanjutannya. Karl Marx dan generasinya menganggap Hegel sebagai orang terakhir dalam tradisi besar pemikiran filosofis yang mampu "mengamankan" pengetahuan tentang manusia dan sejarah. Namun, karena beberapa hal, pemikiran Marx mampu menggantikan filsafat teoritis Hegel. Menurut Marx, hal ini terjadi karena Marx menjadikan filsafat sebagai sesuatu yang praktis; yakni menjadikannya sebagai cara berpikir (kerangka pikir) masyarakat dalam mewujudkan idealitasnya. Dengan menjadikan nalar sebagai sesuatu yang 'sosial' dan menyejarah, skeptisisme historis akan muncul untuk merelatifkan klaim-klaim filosofis tentang norma dan nalar menjadi ragam sejarah dan budaya forma-forma kehidupan.
Dan dapat diartikan sebagai teori yang menggunakan metode reflektif dengan melakukan kritik secara terus-menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomiyang ada. Teori kritis menolak skeptisisme dengan tetap mengaitkan antara nalar dan kehidupan sosial. Dengan demikian, teori kritis menghubungkan ilmu-ilmu sosial yang bersifat empiris dan interpretatif dengan klaim-klaim normatif tentang kebenaran, moralitas, dan keadilan yang secara tradisional merupakan bahasan filsafat. Dengan tetap memertahankan penekanan terhadap normativitas dalam tradisi filsafat, teori kritis mendasarkan cara bacanya dalam konteks jenis penelitian sosial empiris tertentu, yang digunakan untuk memahami klaim normatif itu dalam konteks kekinian.
Tujuan dan Karakteristik Teori Kritis
Tujuan teori kritis adalah menghilangkan berbagai bentuk dominasi dan mendorong kebebasan, keadilan dan persamaan. Teori ini menggunakan metode reflektif dengan cara mengkritik secara terus menerus terhadap tatanan atau institusi sosial, politik atau ekonomi yang ada, yang cenderung tidak kondusif bagi pencapaian kebebasan, keadilan, dan persamaan.[1]
Ciri khas Teori Kritis tidak lain ialah bahwa teori ini tidak sama dengan pemikiran filsafat dan sosiologi tradisional. Singkatnya, pendekatan teori ini tidak bersifat kontemplatif atau spektulatif murni. Pada titik tertentu, ia memandang dirinya sebagai pewaris ajaran Karl Marx, sebagai teori yang menjadi emansipatoris. Selain itu, tidak hanya mau menjelaskan, mempertimbangkan, merefleksikan dan menata realitas sosial tapi juga bahwa teori tersebut mau mengubah.
Pada dasarnya, esensi Teori Kritis adalah konstruktivisme, yaitu memahami keberadaan struktur-stuktur sosial dan politik sebagai bagian atau produk dari intersubyektivitas dan pengetahuan secara alamiah memiliki karakter politis, terkait dengan kehidupan sosial dan politik.
B. Marxisme
`Marxisme dianggap sebagai dasar pemikiran dari semua teori-teori yang ada dalam tradisi kritis. Marxiesme ( dengan M besar) berasal dari pemikiran Karl Marx, seorang ahli filsafat, sosiologi dan ekonomi dan Friedrich Engels, sahabatna. Marxisme beranggapan bahwa sarana produksi dalam masyarakat bersifat terbatas. Ekonomi adalah basis seuruh kehidupan sosial. Saat ini, kehidupan sosial dikuasai oleh kelompok kapitalis, atau sistem ekonomi yang ada saat ini adalah sistem ekonomi kapitalis.
Dalam masyarakat yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis, profit merupakan faktor yang mendorong proses produksi, dan menekan buruh atau kelas pekerja. Hanya dengan perlawanan terhadap kelas dominan (pemilik kapital) dan menguasai alat-alat produksi, kaum pekerja dapat memperoleh kebebasan. Teori Marxist klasik ini dinamakan 'The Critique of Political Economy' (kritik terhadap Ekonomi Politik).
Marx ingin membangun suatu filsafat praxis yang benar-benar dapat menghasilkan kesadran untuk merubah realitas, pada saat Marx hidup, yakni masyarakat kapitalis berkelas dan bercirikan penghisapan. Teori Marx meletakkan filsafat dalam konteks yang historis, sosiologis dan ekonomis. Teori Marx bukan sekedar analisa terhadap masyarakat. Teori Marx tidak bicara eonomi semata tetapi "usahanya untuk membuka pembebasan manusia dari penindasan kekuatan-kekutan ekonomis".
Menurut Marx, dalam sistem ekonomi kapitalis yang mengutamakan profit, masing-masing kapitalis beruang mati-matian untuk mengeruk untuk sebanyak mungkin. Jalan paling langsung untuk mencapai sasaran itu adalah dengan penghisapan kerja kaum pekerja. Namun kaum pekerja lama-lama memiliki kesadaran kelas dan melawan kaum kapitalis.
Yang akan terjadi menurut ramalan Marx adalah penghisapan ekonomi dengan cara penciptaan kebutuhan-kebutuhan artifisial (palsu) lewat kepandaian teknologi kaum kapitalis. Oleh karena itu kaum kapitalis monopolis ditandai dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Dengan difasilitasi teknologi, tidak lagi terjadi penghisapan pekerja oleh majikan di sebuah perusahaan, tetapi penghisapan ekonomi "si miskin" oleh "si kaya" di luar jam kerja, di luar institusi ekonomi. Kapitalisme dapat menimbun untung karena nilai yang diberikan oleh tenaga kerja secara gratis, di luar waktu yang sebenarnya diperlukan untuk memproduksi suatu pekerjaan, Inilah salah satu kritik ekonomi politik kapitalisme Marx.
Pada awalnya Marxisme adalah ilmu sejarah yang terdiri atas suatu sistem konsep-konsep ilmiah baru yang memungkinkan mempelajari sejarah sebagai sebuah ilmu. Sebelumnya, kisah-kisah sejarah hanya menjadi ideologi atau filsafat dan bukan sebagai ilmu yang mandiri. Oleh Karl Marx, paham ini disebut "materialisme sejarah" atau "materialisme historis", sedangkan oleh Friedrich Engels disebut "materialisme dialektis". Maka kombinasi gagasan Marx dan Engels ini dikenal dengan metode Materialisme – Dialektika – Historis.
Salah satu buku Karl Marx yang berjudul "Das Kapital" merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Pada waktu itu, kondisi kaum proletar sangat menyedihkan. Mereka dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk menyejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme perlu diganti dengan paham sosialisme. Bila kondisi seperti itu terus dibiarkan, menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan.
Lahirnya marxisme merupakan bentuk awal dari penolakan marx terhadap system kapitalis, dimana saat itu marx melihat telah terjadi kesenjangan social yang dipraktekkan oleh masyarakat Eropa yang mana kaum-kaum yang berasal dari bangsawan (borjuis) telah menguasai kawum bawahan (buruh). Saat itu kaum buruh (proletar) dipaksakan untuk bekerja hanya demi segelintir kaum bangsawan. Dengan kata lain, lahirnya Marxisme adalah beranjak dari konteks masyarakat industri Eropa abad ke-19, dengan semua ketidakadilan, eksploitasi manusia khususnya kelas bawah / kelas buruh. Menurut pandangan Marx, kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah/hasil kerjanya. Karena keterasingan manusia dari hasi kerjanya terjadi dalam jumlah besar maka untuk memecahkannya juga harus bersifat kolektif dan global.
Marxisme, dalam batas-batas tertentu bisa dipandang sebagai jembatan antara revolusi Prancis dan revolusi Bolshevik di Rusia pada tahun 1917. Untuk memahami Marxisme sebagai satu ajaran filsafat dan doktrin revolusioner, serta kaitannya dengan gerakan komunisme di Uni Soviet maupun di bagian belahan dunia lainnya, barangkali perlu mengetahui terlebih dahulu kerangka histories Marxisme itu sendiri.
Berbicara masalah Marxisme, memang tidak bisa lepas dari nama-nama tokoh seperti Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Kedua tokoh inilah yang mulai mengembangkan akar-akar komunisme dalam pengertiannya yang sekarang ini. Transisi dari kondisi masyarakat agraris ke arah industrialisasi menjadi landasan kedua tokoh diatas dalam mengembangkan pemikirannya. Dimana eropa barat telah menjadai pusat ekonomi dunia, dan adanya kenyataan di mana Inggris Raya berhasil menciptakan model perkembangan ekonomi dan demokrasi politik.
Ada tiga hal yang bisa menjadi komponen dasar dari Marxisme, yaitu:
1. Ajaran filsafat Marx yang disebut dengan materialism dialektika dan materialism historis
2. Sikap terhadap masyarakat kapitalis yang bertumpu pada teori nilai tenaga kerja dari David Ricardo (1772) dan Adam Smith (1723-1790)
3. Menyangkut teori negara dan teori revolusi yang dikembangkan atas dasar konsep perjuangan kelas. Konsep ini dipandang mampu membawa masyarakat ke arah komunitas kelas.
Untuk poin pertama yang disebut sebagai materialisme dialektik, dan materialisme historis. Disebut sebagi materialism dialektik karena peristiwa kehidupan yang didominasi oleh keadaan ekonomis yang materil itu berjalan melalui proses dialektik. Menurut metode tersebut, perubahan-perubahan dalam pemikiran, sifat dan bahkan perubahan masyarakat itu sendiri berlangsung melalui tiga tahap, yaitu tesis (affirmation), antitesis (negation), dan sintesisis (unification). Mula-mula manusia hidup dalam keadaan komunistis aslis tanpa pertentangan kelas, dimana alat-alat produksi menjadi milik bersama (tesis), kemudian timbul milik pribadi yang menyebabkan adanya kelas pemilik (kaum kapitalis) dan kelas tanpa milik (kaum proletar) yang selalu bertentangan (anti tesis). Jurang perbedaan antara kaum kaya (kapitalis) dan kaum miskin (proletar) semakin dalam, maka timbullah krisis yang besar. Akhirnya kaum proletar bersatu mengadakan revolusi perebutan kekuasaan, maka timbullah dictator proletariat dan terwujudlah masyarakat tanpa kelas dimana alat-alat produksi menjadi milik masyarakat atau Negara (sintesis).[2]
Adapun Marxisme disebut materialism historis, karna menurut teorinya bahwa arah yang ditempuh sejarah sepenuhnya ditentukan oleh sarana-sarana produksi yang materil. Disinai Marx berkeyakinan bahwa seluruh sejarah manusia akan menuju kesuatu keadaan ekonomis tertentu yaitu komunisme, dimana milik pribadi akan diganti menjadi milik bersama dan barulah kebahagiaan bangsa manusia akan tercapai. Dengan kata lain bahwa perjuangan kelas yang dilakukan Marx secara muthlak untuk mencapai masyarakat komunis.
Di kemudian hari teori Karl Marx ini diadopsi oleh Lenin dengan mendirikan Partai Komunis. Maka sejak saat itu paham atau ideologi Komunisme juga disebut sebagai "Marxisme-Leninisme". Ujungnya, meletuslah Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917.
Lianti Meida KPI 1/C_Tugas 4_Max Weber
Arianne Sarah_PMI 3_Tugas4_Kritis
Teori Kritis
Oleh: Arianne Sarah
1112054000014
Pengembangan Masyarakat Islam
Awal kemunculan marxisme dan teori kritis merupakan respon dari dua perspektif sebelumnya, yakni liberalisme dan realisme. Marxisme dan teori kritis menganggap bahwa liberalisme dan realisme merupakan perspektif yang terbatas, maka itu keduanya tidak fleksibel. Keduanya dapat dikatakan gagal dalam memaknai fenomena-fenomena, khususnya pada sistem internasional, yang terus berkembang. Realisme dan liberalisme dianggap hanya berpatokan pada orientasi aktor seperti power dan interest yang kurang memperhatikan proses sosial pada aktor yang pada dasarnya sudah dikrontruksi secara historis dan secara tersirat menolak kemungkinan adanya alternatif lainnya yang berupa proses produksi sosial (Rupert, 2007:149). Teori yang di bawa oleh Karl Marx ini menyoroti aspek-aspek yang dimiliki manusia seperti self-productive secara sosial dan perlunya pertimbangan wawasan kritis yang mencakup budaya, politik, ekonomi, dan aspek-aspek dalam proses tersebut.
Semakin kompleksnya hubungan antar-manusia berimplikasi pada semakin dinamisnya perkembangan teori-teori sosial. Teori kritis dan Marxisme merupakan dua bangun pengetahuan yang berawal dari kepentingan dan cita-cita yang sama yaitu penegakan atas emansipasi manusia. Dalam banyak literatur dijelaskan bahwa teori kritis merupakan kelanjutan dari pemikiran Marxis, akan tetapi tidak dapat dinafikkan pula adanya kritik yang dialamatkan teori kritis atas pemikiran Marx. Marxisme berkembang pada pertengahan 1840-an dan merupakan sebuah perspektif yang berangkat dari pemikiran Karl Marx mengenai sejarah dan kapitalisme. Pemikiran ini berawal dengan melihat adanya ketimpangan dan kontradiksi yang nyata dalam sejarah manusia yang ditandai dengan perjuangan kelas. Kritik tersebut ditujukan Marx pada model produksi kapitalistik Adam Smith dan David Ricardo yang menurut Marx berjalan dengan sangat eksploitatif.
Sementara itu teori kritis pada awalnya merujuk pada sebuah tradisi pemikiran yang berkembang di sebuah institut penelitian di Universitas Frankfurt, tahun 1920an yang kemudian dikenal dengan mahzab Frankfurt atau Frankfurt School. Pemikiran ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Georg Hegel, Max Weber, Emmanuel Kant, Sigmund Freud dan terutama Karl Marx. Adapun pemikir utama pada masa itu antara lain Max Horkheimer dan Theodore Adorno. Pemikiran ini banyak mengalami perkembangan dan modivikasi sehingga muncul aliran-aliran baru yang membawa nama seperti Jurgen Habermas sebagai pemikir teori kritis kontemporer. Namun walaupun banyak terinspirasi dari pemikiran Marx, pada dasarnya terdapat perbedaan yang signifikan antara pemikiran teori kritis dengan Marxisme. Hal ini terutama dilihat dari bagaimana kedua teori tersebut dibangun dengan asumsi-asumsi utama yang mendukungnya. Menganalisis lebih jauh dua teori tersebut akan memperlihatkan sejumlah perbedaan ontologis yang tentunya menjadi landasan utama berdirinya setiap teori.
Teori kritis menyandarkan advokasinya untuk memberikan pencerahan dalam diri masyarakat sebagai pelaku sosial sehingga mereka dapat "bergerak" untuk menentukan dan memperjuangkan "kepentingan sejati" mereka. Teori kritis berupaya untuk menyajikan kerangka sistematis untuk memperlihatkan pada masyarakat akan adanya hegemoni. Suatu hegemoni akan roboh ketika masyarakat menyadari akan adanya hegemoni, dan bentindak resisten terhadapnya dan dalam tahap yang lebih lanjut akan menjadikan teori counter-hegemony sebagai rujukan ideologis dalam aktifitas sosial mereka. Teori kritis menekankan bahwa agar tercipta perubahan, maka perlu untuk tidak hanya memenangkan peperangan 'di lapangan' tetapi juga dalam wilayah ide-ide. Dengan demikian perubahan ini juga mencakup seperangkat nilai-nilai dan terutama sejumlah konsep alternatif sebagai upaya untuk memikirkan dan menjelaskan 'realitas' sosial yang sedang berlangsung dan kemungkinan-kemungkinan alternatifnya.
Sementara itu dengan berdasar pada landasan materialistisnya advokasi Marxis lebih menekankan pada perjuangan kesetaraan kelas. Upaya transformasi atas masyarakat internasional untuk menghilangkan alienasi, eksploitasi dan keterasingan merupakan cita-cita politik yang mendasar dalam tradisi pemikiran Marxis. Untuk itu sistem kapitalisme yang dilihat sebagai induk dari penindasan dan eksploitasi manusia sebagai makhluk yang mampu melakukan produksi, harus ditumbangkan. Kapitalisme merupakan sebuah sistem yang terbentuk dari struktur yang menghalangi manusia dari sumber-sumber produksi untuk melakukan kerja. Dengan demikian Marxis meyakini suatu kesimpulan bahwa revolusi politik akan menggulingkan tatanan kapitalis dan menciptakan sebuah masyarakat sosialis dimana prinsip-prinsip kebebasan dan kesetaraan akan terwujud untuk meningkatkan derajat kehidupan manusia di seluruh dunia.
Daftar Pustaka:
- http://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme
- http://tikamarzaman.blogspot.com/2012/09/teori-kritis-marxisme_14.html