Sabtu, 03 Mei 2014

Trs: Agung Laksono Wibowo _Tugas 6_TOR & Hasil Penelitian Lapangan


Pada Sabtu, 3 Mei 2014 16:38, Agung Laksono <agunglaksono155@yahoo.com> menulis:
 
 
Dampak Ditutupnya Terminal Lebak Bulus Bagi Perekonomian Para Supir Bus Travel
   I.                  Latar Belakang
         Terminal Lebak Bulus adalah terminal bus yang terletak di Kelurahan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Terminal bus ini merupakan salah satu terminal bertipe A yang ada di Provinsi DKI Jakarta ini. Terminal Lebak Bulus memiliki keberfungsian sebagai sarana penyedia transportasi umum yang  terbagi menjadi dua, yaitu untuk melayani penumpang dengan tujuan dalam dan luar kota. Terminal ini menjadi terminal tujuan awal atau akhir dan juga terminal yang dilewati untuk beberapa rute perjalanan. Dan terminal ini juga bersebelahan dengan Stadion Lebak Bulus, namun sekarang sudah tidak dapat diberfungsikan lagi sebagaimana semestinya, karena adanya proyek pembangunan MRT.
          Terkait dengan permasalahan pada tema penelitian ini, pada dasarnya bersumber pada perencanaan Proyek MRT. Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta adalah sebuah proyek jangka panjang pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam upaya menanggulangi kemacetan yang sudah menjadi hal yang lumrah dialami oleh seluruh masyarakat Ibukota, Jakarta. Namun, besar harapan segera dapat terselesaikan proyek MRT ini sebagai sarana angkutan transportasi missal yang lebih modern, serta ramah lingkungan ini, demi mengurangi angka kemacetan di DKI Jakarta.
 
Latar Belakang Proyek Transportasi Massal Cepat Berbasis Rel MRT
         Perkiraan Jakarta akan macet total : saat ini pertumbuhan jalan di DKI Jakarta kurang dari 1 persen per/tahun dan setiap hari, setidaknya ada 1000 lebih unit kendaraan bermotor baru turun ke jalan di Jakarta (Data DinasPerhubungan DKI Jakarta). Berdasarkan hasil survey studi Japan International Corporation Agency (JICA) 2004, menyatakan bahwa bila tidak dilakukan perbaikan pada sistem transportasi, maka diperkirakan lalu lintas Jakarta akan macet total pada 2020 (Study on Integrated Transportation Master Plan (SITRAMP II)).
          Adapun kerugian ekonomi yang dapat timbul akibat dari kemacetan lalu lintas di Jakarta berdasarkan hasil penelitianYayasan Pelangi pada 2005 ditaksir Rp 12,8 triliun/tahun yang meliputi nilai waktu, biaya bahan bakar dan biaya kesehatan. Sementara, berdasarkan SITRAMP II tahun 2004 menunjukkan bahwa bila sampai 2020, tidak ada perbaikan yang dilakukan pada sistem transportasi, maka perkiraan kerugian ekonomi mencapai Rp 65 triliun/tahun. Polusi udara akibat kendaraan bermotor telah berdampak pada 80 persen polusi di Jakarta. MRT Jakarta digerakkan oleh tenaga listrik, sehingga tidak menimbulkan gas emisi CO2 di perkotaan. Berdasarkan riset tersebut, makajelas DKI Jakarta sangat membutuhkan angkutan transportasi massal yang lebih handal serta teknologi yang jauh lebih actual, seperti  MRT yang dapat menjadi solusi alternatif transportasi massal yang ramah lingkungan bagimasyarakat.
          Membangun sistem jaringan MRT, bukanlah hanya mengenai urusan kelayakan ekonomi dan finansial saja, melainkan lebih dari itu. Pembangunan MRT pada dasarnya mencerminkan visi sebuah kota. Kehidupan dan  aktivitas ekonomi sebuah kota antara lain ; tergantung dari seberapa mudah warga  kota melakukan perjalanan/mobilitas dan seberapa sering mereka dapat melakukannya keberbagai tujuan dalam kota. Tujuan utama dibangunnya sistem MRT ialah memberikan kesempatan kepada warga kota untuk meningkatkan kualitas, serta kuantitas perjalanan / mobilitasnya menjadi lebih berperadaban,praktis, aman, nyaman, terjangkau dan lebih ekonomis, serta efisien waktu perjalanannya.
 
A.    Penting Penelitian
   Adapun beberapa alasan mengapa saya mengangkat tema penelitian ini yakni yang terkait dengan Pembangunan Proyek MRT yang berdampak pada ditutupnya Terminal Lebak Bulus. Sebenarnya Proyek Pembangunan MRT ini, telah lama dirancang oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Gubernur Ir. Joko Widodo dan Wakil Gubernur, Basuki Tjahya Purnama, yang telah menggagas, serta berkontribusi besar terhadap pelaksanaan Proyek MRT ini sehingga dapat terwujud.
   Terminal Lebak Bulus merupakan salah satu jantung perekonomian di DKI Jakarta ini, sebab di terminal ini digunakan sebagai salah satu sentral/pusat transit para pelaku urbanisasi yang datang ke Jakarta. Dengan ditutupnya terminal ini, maka secara otomatis telah memberikan dampak yang amat besar bagi para pelaku ekonomi disana yang meliputi para supir travel, pedagang, maupun masyarakat di sekitarnya. Di satu sisi, Pemprov DKI memiliki niat yang mulia yakni dengan mengurangi, bahkan berusaha mengentaskan kemacetan di ibukota ini dengan perencanaan pembangunan proyek MRT.
B.     Asumsi
   Namun pada realitas sosialnya, penutupan terminal ini telah menghentikan laju perekonomian bagi seluruh supir bus travel serta pedagang, maupun masyarakat di sekitarnya yang memperoleh mata pencaharian di Terminal Lebak Bulus ini. Karena melalui mata pencaharian di terminal tersebut mereka dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, terlebih lagi di zaman globalisasi ini terbilang sulit mencari pekerjaan, sebab semakin ke sini, persaingan semakin sulit. Terlebih lagi, mereka hanya mengenyam pendidikan yang terbilang rendah.
 
    II.               Metode Penelitian
-         Kualitatif
   Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yaitu suatu metode yang mengarah kepada analisis data yang mengutamakan keterangan penelitian yang ada berdasarkan kenyataan yang ada, dengan cara mengamati dan wawancara dapat menyimpulkan apa saja yang menjadi pembahasan pola-pola pekerjaan yang terjadi di masyarakat. Dan mengutamakan cara kerja dengan menjabarkan data yang telah diperoleh, sebagai jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistika atau bentuk hitungan lainnya.
   III.           Teori
Teori yang digunakan pada observasi ini adalah teori Emile Durkheim, karena subjek yang diteliti ialah kelompok supir bus travel terminal Lebak Bulus. Serta metode yang ditinjau ialah observasi dan out put yang dihasilkan adalah narasi atau sebuah pemaparan dari pelbagai penemuan observasi yang telah ditelaah.
 
    IV.           Pertanyaan
-         Penelitian
1.      Bagaimana kronologi peristiwa hingga ditutupnya Terminal Lebak Bulus ?
2.      Bagaimana reaksi dari berbagai pihak yang merasa dirugikan terkait penutupan Terminal Lebak Bulus ini ?
 
   Awal mula, kronologi dari penutupannya Terminal Lebak Bulus dikarenakan oleh Pembangunan Proyek Transportasi Massal MRT yang dicanangkan oleh PemProv DKI. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur, Jokowi dan Ahok untuk menutup Terminal Lebak Bulus, serta memberhentikan seluruh aktifitas perekonomian maupun perhubungan di Terminal Lebak Bulus. Hal ini diberlakukan, demi mewujudkan program Jokowi-Ahok yakni mengurangi angka kemacetan di Provinsi DKI Jakarta ini dengan memperbanyak jumlah transportasi umum dan salah satunya dengan MRT ini. Hal ini tak pelak telah menimbulkan reaksi dahsyat dari para supir bus travel, beserta para kernet mereka, maupun warga sekitar kawasan Terminal Lebak Bulus yang menolak Penutupan Terminal Lebak Bulus ini untuk Pembangunan Proyek MRT. Berbagai langkah demonstrasi unjuk rasa maupun blokade jalan raya, mereka lakukan di sepanjang kawasan terminal tersebut sebagai upaya penolakan keras terhadap kebijakan Jokowi – Ahok tersebut, karena telah memutus mata pencaharian mereka dan kurangnya sosialisasi terlebih dahulu atas tindakan kebijakan yang telah mereka lakukan.
 
 
-         Lapangan
1.      Siapa saja pihak yang dirugikan akibat pembangunan proyek MRT ini?
2.      Apakah dampak yang ditimbulkan dari ditutupnya terminal Lebak Bulus ini bagi perekonomian para bus travel ?
3.      Apakah pembangunan proyek MRT ini sesuai dengan AMDAL yang berlaku pada lingkungan sekitar terminal?
4.      Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan ini demi kesejahteraan para supir bus travel serta kenyamanan semua pihak yang dirugikan ?
 
   Adapun berbagai pihak yang dirugikan akibat pembangunan proyek MRT yang dicanangkan oleh Pemprov DKI ini ialah diantaranya para supir bus travel beserta para kernet mereka, karena telah memutus mata pencaharian mereka sehari-hari, dan di samping itu penduduk sekitar terminal Lebak Bulus yang merasa terganggu akibat pengadaan proyek MRT ini. Karena proyek ini dapat mengorbankan tempat tinggal mereka yang digusur untuk perluasan wilayah pengadaan proyek MRT dan pedagang yang biasa berjualan di terminal ini turut serta merasa dirugikan sebab dapat memutuskan sumber pereekonomian mereka.
   Secara otomatis, di samping adanya dampak positif dari pembangunan proyek ini, yakni untuk mengurangi angka kemacetan di ibukota, namun terdapat pula banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari pengadaan proyek ini, yaitu telah memutus perekonomian para bus travel, beserta para kernet mereka, pedagang, maupun warga sekitarnya karena penggusuran tempat tinggal mereka untuk perluasan wilayah proyek MRT.
   Pada dasarnya pembangunan proyek MRT ini belum berbasis secara AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), karena berdasarkan Perpu Kementrian Lingkungan Hidup belum memenuhi segala kriteria yang ada dalam prosedur yang ada di dalamnya yakni mengidentifikasi dampak dari rencana usaha/kegiatan, menguraikan rona lingkungan awal, memprediksi dampak penting, dan evaluasi perumusan masalah RKL/RPL.
 
   V.               Kesimpulan
    Terlepas dari hal itu semua, harus ada langkah solusi yang kongkrit pada permasalahan ini, pertama dibutuhkan sosialisasi yang intensif oleh pemerintah kepada masyarakat, agar tidak terulangnya kembali permasalahan seperti ini dikemusian hari. Kedua, perlu adanya jaminan sosial bagi warga sekitar terminal yang tempat tinggalnya tergusur akibat pembangunan proyek ini, yakni dengan mengganti rugi, maupun menggantikan tempat tinggal mereka di tempat lain. Ketiga, Pemprov DKI harus mengambil langkah yang cepat untuk berdiskusi dengan para bus travel dan kernet untuk memutasikan mereka ke terminal lain yang ada di wilayah Jakarta ini sebagai upaya mensejahterakan kehidupan mereka dan bukannya memiskinkan mereka.
 
Profil Narasumber :
Nama             : Ahmad Badrun
Usia                : 52 tahun
Daerah Asal   : Indramayu, Jawa Barat
Profesi            : Supir Bus Travel
Lama Profesi : 25 tahun

Nama : Agung Laksono Wibowo
NIM   : 1113054100004
Prodi  : Kesejahteraan Sosial
Kelas  : 2A
 
 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini