Minggu, 15 Maret 2015

TUGAS METODE PENELITIAN KUALITATIF (PARADIGMA DALAM METODE PENELITIAN KUALITATIF)

NAMA: RIRIH DJIKRIYAH
JURUSAN: BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM
SEMESTER: 6
PARADIGMA DALAM METODE PENELITIAN KUALITATIF
Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk mengekplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mula dari teman-teman yang khusus ke teman-teman umum, dan menafsirkan makna data.1

Paradigma merupakan perspektif penelitian yang digunakan peneliti, yang berisi bagaimana peneliti melihat realita (world views), bagaimana mempelajari fenomena, cara-cara yang digunakan dalam penelitian, dan cara-cara yang digunakan dalam menginterprestasikan temuan. 2
Implementasi paragdigma dalam penilitian kualitatif menurut pemikiran Max Weber yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan gejala-gejala sosial, tetapi pada makna-makna yang terdapat dibalik tindakan-tindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala-gejala tersebut.3 Oleh karena itu, metode yang utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah pemahaman bukan penjelasan.
Paradigma dalam penelitian adalah sistem keyakinan dasar yang berlandaskan asumsi ontology, epistemologi, dan metodologi. Dengan kata lain paradigm ialah sistem keyakinan dasar sebagai landasan untuk mencari jawaban atas pertanyaan apa itu hakikat realitas? Apa hakikat hubungan antara peneliti dan realitas? Dan bagai man acara peneliti mengetahui realitas?4
Paradigm dalam metode penelitian kualitatif Ada empat pandanga dunia filosofis. Yang pertama pandangan dunia post-positivisme, ke dua pandangan dunia konstruktivisme sosial, ke tiga pandangan dunia advokasi dan partisipatoris, ke empat pandangan dunia pragmatic.
Empat pandangan dunia :
Post-positivisme
Konstruktivisme
  • Determinasi
  • Reduksionisme
  • Observasi dan pengujian empiris
  • Verifikasi teori
  • Pemahaman
  • Makna yang beragam dari partisipan
  • Konstruksi sosial dan historis
  • Penciptaan teori
Advokasi/partisipatoris
Pragmatism
  • Bersifat politis
  • Berorientasi pada isu pemberdayaan
  • Kolaboratif
Berorientsi pada perubahan
  • Efek-efek tindakan
  • Berpusat pada masalah
  • Bersifat pluralistic
Berorientasi pada praktik dunia nyata

  1. Pandangan Dunia Post-positivisme
Asumsi-asumsi post-positivis merepresentasikan bentuk tradisional penelitian, yang kebenarannya lebih sering disematkan untuk penelitian kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif. Pandangan kedua ini terkadang disebut sebagai metode saintifik atau penelitian sains. Adapula yang menyebutkan sebagai penelitian positivis/post-positivis, sains empiris, dan post-positivisme. Istilah terakhir disebut post-positivisme karena ia merepresentasikan pemikiran post-positivisme, yang menentang gagasan tradisional tentang kebenaran absolut ilmu pengetahuan (Philips & Burbules,2000), dan mengakui bahwa kita tidak bisa terus menjadi "orang yang yakin/positif" pada klaim-klaim kita tentang pengetahuan ketika kita mengkaji perilaku dan tindakan manusia.5
Membaca buku Philips dan Burbules (2000), kita akan menemukan sejumlah asumsi dasar yang menjadi inti dalam paradigma penelitian post-positivis, yaitu:
  1. Pengetahuan bersifat konjektural/terkaan bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan kebenaran absolut.
  2. Penelitian merupakan proses membuat klaim-klaim, kemudian menyaring sebagian klaim tersebut menjadi "klaim-klaim lain" yang kebenarannya jauh lebih kuat.
  3. Pengetahuan dibentuk oleh data, bukti, dan pertimbangan-pertimbangan logis.
  4. Penelitian harus mampu mengembangkan statemen-statemen yang relevan dan benar, statemen-statemen yang dapat menjelskan situasi yang sebenarnya atau dapat mendeskripsikan relasi kausalitas dari suatu persoalan.
  5. Aspek terpenting dalam penelitian adalah sikap objektif. Para peneliti harus menguji kembali metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan yang sekiranya mengandung bias.6
  1. Pandangan Dunia Konstruktivisme Sosial
Kelompok lain memiliki pandangan dunia yang berbeda. Salah satunya adalah pandangan dunia konstruktivisme sosial (yang sering kali dikombinasikan dengan interpretivisme) (lihat Mertens, 1998). Pandangan dunia ini biasanyadipandang sebagai suatu pendekatan dalam penelitian kualitatif.
Konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia dimana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna –makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu.
Para peneliti juga perlu menyadari bahwa latar belakang mereka dapat mempengaruhi penafsiran mereka terhadap hasil penelitian. Untuk itulah, ketika melakukan penelitian, mereka harus memosisikan diri mereka sedemikian rupa seraya mengakui dengan rendah hati bahwa interpretasi mereka tidak pernah lepas dari pengalaman pribadi, kultural, dan historis mereka sendiri. Dalam konteks konstruktivisme, peneliti memiliki tujuan utama, yakni berusaha memaknai (atau menafsirkan) makna-makna yang dimiliki orang lain tentang dunia ini.7
  1. Pandangan Dunia Advokasi dan partisipatoris
Pendekatan Advokasi/ partisipatoris ini muncul sejak 1980-an hingga 1990-an dari sejumlah kalangan yang merasa bahwa aumsi-asumsi post positivis telah membebankan hukum-hukum dan teori-teori structural yang sering kali tidak sesuai dengan / tidak menyertakan individu-individu yang terpinggirkan dalam masyarakat kita atau isu-isu keadilan sosial yang memang perlu dimunculkan.
Pandangan Dunia Advokasi dan partisipatoris berasumsi bahwa penelitian harus dihubungkan dengan politik dan agenda politis. Untuk itulah, penelitian ini pada umumnya memiliki agenda aksi demi reformasi yang diharapkan dapat mengubah kehidupan para partisipan, institusi-institusi dimana mereka hidup dan bekerja, dan kehidupan para peneliti sendiri.8
  1. Pandangan Dunia Pragmatik
Prinsip lain berasal dari kelompok pragmatis. Paragmatis yang satu ini memiliki banyak bentuk, tetapi pada umumnya paragmatisme sebagai pandangan dunia lahir dari tindakan-tindakan, situasi-situasi dan konsekuensi-konsekuensi yang sudah ada, dan bukan dari kondisi-kondisi sebelumnya (seperti dalam post positivisme). Berdasarkan kajian Cherryholmes (1992), Morgan (2007), pragmatism pada hakikatnya merupakan dasar filosofis untuk setiap bentuk penelitian, khususnya penelitian metode campuran:9
  1. Pragmatisme tidak hanya diterapkan untuk satu sistem filsafat atau realitas saja.
  2. Setiap peneliti memiliki kebebasan memilih.
  3. Kaum pragmatis tidak melihat dunia sebagai kesatuan yang mutlak.
  4. Kebenaran adalah apa yang terjadi pada saat itu.
  5. Para peneliti pragmatis selalu melihat apa dan bagaimana meneliti, seraya mengetahui apa saja akibat-akibat yang akan mereka terima kapan dan dimana mereka harus menjalankan penelitian tersebut.
  6. Kaum pragmatis setuju bahwa penelitian selalu muncul dalam konteks sosial, historis, politis, dan lain sebagainya.
  7. Percaya akan dunia eksternal yang berada diluar pikiran manusia.
  8. Untuk itulah, bagi para peneliti metode campuran, pragmatism dapat membuka pintu untuk menerapkan metode-metode yang beragam, pandangan duni yang berbeda-beda, dan asumsi-asumsi yang bervariasi,serta bentuk-bentuk yang berbeda dalam pengumpulan analisis data .









DAFTAR PUSTAKA

W. Creswell, Jhon, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed Yogyakarta: 2010.
Gunawan Imam Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini