Senin, 11 Mei 2015

Suryo Widodo_Tugas ke-5 Tipologi Budaya

Nama               :Suryo Widodo
Kelas               : PMI IV
Tipologi Budaya Bisnis
Tipologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengelompokan berdasarkan tipe atau jenis. Dan budaya menurut Koentjaraningrat yaitu keseluruhan sistem gagasn,tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang di miliki manusia dengan belajar.[1]
Sedangkan bisnis menurut Raymond E. Glos yaitu seluruh kegiatan yang di organisasikan oleh orang-orang yang bekecimpung di dalam bidang perniagaan dan industri yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standar serta kualitas hidup mereka.[2]
Jadi Tipologi budaya bisnis yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang tipe atau jenis kebiasaaan di kehidupan dalam melakukan sebuah perniagaan yang bertujuan untuk memperbaiki standar serta kualitas dalam hidup mereka.

Inovasi dalam sudut pandang Jepang dinilai sebagai hasil kerja tim (Seng, 2007). Tidak ada pendapat individual dalam kelompok. Sehingga tak heran jika di perusahaan-perusahaan besar PMA Jepang di negara Indonesia (misalnya Toyota Astra Motor), kerjasama tim sangat ditekankan di masing-masing divisi untuk menghasilkan sebuah inovasi produk (goningumi). Folosofi bisnis Jepang mengatakan bahwa rasa memiliki organisasi sangat tinggi. Hal ini sesuai budaya asli orang Jepang, menjunjung tinggi harga diri (semangat bushido dan samurai). Dalam hal kedisiplinan, Jepang sangat ketat. Mereka rajin bekerja dan giat. Dalam hal lini manajemen, hampir bisa dikatakan tidak ada batas ruang antara atasan dan bawahan. Budaya kerja Jepang sangat menghargai waktu. Pencatatan waktu kerja sangat diperlukan. Budaya senam pagi sebelum kerja juga merupakan hal yang sangat umum dilakukan di perusahaan-perusahaan Jepang. Setelah keruntuhan Jepang dengan adanya bom di nagasaki dan hiroshima, Jepang berusaha meniru dan mempelajari produk lain dari luar untuk kemudian dikembangkan sendiri menjadi sebuah karya yang inovatif. Ada juga paradigma Jepang yang menyatakan bahwa setiap laki-laki Jepang wajib bekerja. Lain halnya dengan wanita. Jika seorang wanita telah melahirkan, maka kewajiban yang utama adalah mengurus rumah tangga. Jika seorang laki-laki pulang kerja lebih awal, justru akan dipertanyakan oleh tetangga sekitar. Bisa dikatakan merupakan sebuah aib. Tidak menyia-nyiakan waktu adalah sesuatu yang lumrah di sana. Misalnya dengan membaca buku ketika dalam perjalanan naik kreta. Sampai tahun 2007, Jepang adalah negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia. Hutang adalah sebuah pantangan di negara tersebut. Hidangan wajib warga Jepang adalah teh hijau.
Sebagai contoh di Toyota. Ada dua kunci utama kesuksesan perusahaam raksasa itu. Dalam buku "Toyota Way" (Liker, 2206), diungkapkan bahwa kunci tersebut adalah (1)continuous improvement ; (2) respect to the other people. Perubahan yang berkelanjutan dan dilakukan dengan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit), begitulah yang diterapkan di sana. Kunci kedua adalah menghargai pendapat setiap orang di perusahaan, tak peduli apa posisi dan jabatanya. Karena bisa  jadi hal itu yang akan menjadi salah satu kunci sukses perusahaan, misalnya dalam hal inovasi proses bisnis.
Cina lebih fleksibel dan terbuka daripada Jepang dalam hal berbisnis. Sehingga koneksi dan  jaringan Cina lebih luas daripada Jepang. Kepercayaan sangat dijunjung tinggi di Cina. Merantau adalah hal yang utama dan wajar dilakukan untuk merubah nasib menjadi lebih baik. Maka, dapat dilihat di berbagai penjuru dunia, warga Cina tersebar luas di mana-mana. Dan sangat ulet dalam hal bekerja, seperti halnya Jepang. Budaya Cina, tak malu-malu untuk melakukan pekerjaan apapun, yang penting menguntungkan. Walaupun pekerjaan itu kasar, misalnya harus mengurus toko Baju di tanah abang mereka akan membawa langsung baju" mereka dari pabrik untuk di jual dengan harga murah.ini membuktikan mereka akan melakukan apapun demi meraup keuntungan
Lain halnya dengan budaya Barat (Amerika Serikat). Inovasi adalah sebuah karya individu. Sikap kapitalisme sangat berkembang. Sebagai misal, ketika seorang pekerja dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar di perusahaan lain, walaupun lebih mapan dan lebih lama bekerja di perusahaan asal, maka tentu saja yang diutamakan adalah materi, mencari keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Dengan cara apapun. Ibaratnya seekor tikus. Maka akan mencari bongkahan keju yang lebih besar. Berlomba-lomba untuk memperkenyang diri sendiri dahulu. Prinsip kepemimpinan ditekankan di paradigma barat atau Amerika. Budaya feodal (perbedaan harkat dan martabat antara petinggi dan bawahan) sudah menjadi barang yang wajar.
TIPE – TIPE DASAR BUDAYA
Bagaimana orang dan budaya mendefinisikan dirinya, berdampak besar dalam praktek bisnis mereka. Dalam bagian ini lebih menjelaskan bagaimana tipe dasar budaya mempengaruhi manajerial perusahaan ketika membangun perusahaan di negara lain.
a.       Individualisme vs kolektivisme
Di Amerika Serikat yang bersifat Individualistis, eksekutif dibayar 28 kali rata – rata pekerja manufaktur. Sedangkan Jepang yang bersifat kolektif, eksekutif dibayar 10 kali rata – rata pekerja manufaktur. Eksekutif Amerika mengukur keberhasilan mereka melalui gaji dan tunjangan, sedangkan eksekutif Jepang melalui kesehatan perusahaan mereka secara keseluruhan dan kepuasan karyawan.
b.      Rentang Kekuasaan
Di negara latin seperti Meksiko, memiliki rentang kekuasaan tinggi karyawannya yang berada di tingkat rendah mengandalkan para manajer atau karyawan di tingkat tinggi untuk mengurusi semua masalah. Sedangkan untuk negara Anglo seperti Amerika, memiliki rentang kekuasaan rendah dimana karyawannya yang berada di tingkat rendah memiliki peranan dalam mengurusi masalah.
c.       Sikap terhadap ketidakpastian
Para karyawan di dalam budaya yang menghindari resiko tinggi seperti jepang, yunani, dan portugal cenderung bertahan dalam jangka waktu yang lama di perusahaan mereka. Sementara karyawan yang berasal dari negara dengan tingkat penghindaran resiko yang rendah seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Denmark cenderung berpindah – pindah perusahaan.
d.      Maskulinitas vs Femininitas
 Negara seperti Venezuela memilki tipe Maskulin dimana dalam suatu masyarakat menekankan ketegasan, akuisis uang, dan status, serta pencapaian penghargaan organisasional baik yang simbolis maupun yang terlihat. Sedangkan untuk negara yang memiliki tipe Femininitas seperti negara Chili lebih menekankan pada hubungan, perhatin terhadap orang lain, dan kualitas hidup secara keseluruhan.


[1] Tedi Sutardi,Antropologi mengungkap keberagaman budaya untuk kelas XI Sma/Ma,Bandung:PT.Setia Purna Inves,2007.hlm. 10
[2] Husein Umar,Business an Introduction,Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama, 2003. Hlm.3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini