Senin, 11 Mei 2015

RIZKY ARIF SANTOSO_TUGAS 7_TIPOLOGI BUDAYA BISNIS MASYARAKAT

NAMA            : RIZKY ARIF SANTOSO
KELAS           : PMI 4
NIM                : 1113054000001

TIPOLOGI BUDAYA BISNIS MASYARAKAT
Pengertian Tipologi merupakan suatu pengelompokan bahasa berdasarkan ciri khas tata kata dan tata kalimatnya (Mallinson dan Blake,1981). Budaya merupakan sebuah kata yang terdiri dari budi dan daya. Budaya juga bisa diartikan sebagai suatu aktifitas adanya interaksi antara dua orang atau lebih yang menghasilkan pola pikir yang baru dan menghasilkan budaya yang baru pula.
Memahami perbedaan budaya menjalankan bisnis antar negara bukan hanya melintasi wilayah, tapi juga budaya. Budaya dari satu negara berbeda dengan budaya dari negara lain apalagi budaya yang terdapat di wilayah lokal sendiri. Dan karena yang dihadapi dalam bisnis adalah manusia yang juga memiliki budaya sendiri. Seorang pebisnis harus bisa memahami perbedaan budaya yang ada antara dirinya dan partner bisnisnya. Tiga komponen budaya yang paling penting yang berkaitan dengan transaksi bisnis adalah : Bahasa, Agama, dan Tipe dasar budaya.
Guncangan budaya salah satu yang sering terjadi bila bekerja dengan budaya yang berbeda adalah guncangan budaya (cultural shock). Contoh Guncangan budaya dalam berbisnis adalah seorang pengusaha yang ingin memperluas usahanya di luar negeri terhambat prosesnya karena tidak bisa bekomunikasi dengan adanya perbedaan bahasa dan perlu penerjemah. Kegagalan kontrak untuk kerjasama karena sikap dalam penyampaian kontrak tidak sesuai dengan budaya mitra bisnis.
Cara Mengatasi Gunjangan Budaya yaitu : Menjalin komunikasi, meski terdapat perbedaan dalam berkomunikasi akan perbedaan bahasa tapi tetap harus terdapat komunikasi selain untuk menunjukkan keakraban dan minat juga diperlukan untuk belajar bahasa dengan lebih cepat, Mempelajari budaya mitra bisnis, agar dapat memahami bagaimana cara bersikap terhadap mitra bisnis.
Menjalankan bisnis Internasional berarti meningkatkan kontak dengan orang yang berbicara dengan bahasa berbeda dan tinggal dengan budaya berbeda. Bahkan membentuk komunikasi yang paling sederhana pun akan bisa menjadi masalah. Belajar mengatasi perbedaan – perbedaan ini dan mungkin mengalihkannya menjadi keuntungan keberhasilan dan kegagalan kesepakatan bisnis.
 Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi budaya kerja :
a)      Para pekerja itu sendiri : Faktor utama dalam memengaruhi budaya kerja dan berperan penting ialah pekerja itu sendiri. Para pekerja berperan dalam berkontribusi dalam bisnis bekerja mencakup sikap, mentalitas, minat, persepsi dan bahkan cara berfikir para pekerja akan mempengaruhi budaya bisnis. Misalnya, organisasi yang mempekerjakan orang dari latar belakang kemiliteran/tentara, boleh jadi cenderung mengikuti budaya disiplin kaku dan ketat, dimana semua para pekerja diharapkan mematuhi pedoman dan kebijakan yang telah ditetapkan.
b)      Jenis kelamin para pekerja : dalam hal ini faktor jenis kelamin dapat mempengaruhi budaya bisnis. Bisnis yang didominasi oleh para pekerja dari jenis kelamin laki-laki, mungkin akan lebih agresif dan pro-aktif ketimbang wanita yang lebih halus dan berhati lembut, sehingga akan mempengaruhi pada tempo dan irama kerja suatu bisnis.
c)      Sifat bisnis juga dapat mempengaruhi budaya kerja. Saham pialang perusahaan, jasa keuangan, industri perbankan semua tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti permintaan dan penawaran, kapitalisasi pasar, earning per share dan sebagainya. Ketika pasar mengalami kelesuan, perusahaan tidak memiliki pilihan lain selain mengurangi jumlah para pekerja, yang pada akhirnya juga mempengaruhi budaya tempat bekerja. Fluktuasi pasar dapat menyebabkan keresahan, ketegangan dan menurunkan motivasi para pekerja, mereka menjadi tidak yakin tentang karir mereka sendiri dalam organisasi tersebut.
d)     Tujuan dan sasaran juga dapat mempengaruhi budaya kerja bisnis : dalam hal ini strategi dan prosedur yang dirancang untuk mencapai sasaran bisnis juga berkontribusi terhadap budaya kerja bisnis. Individu yang bekerja dalam organisasi pemerintahan misalnya, mungkin akan mematuhi pedoman kerja, namun belum tentu mampu memberikan umpan-balik sehingga membentuk budaya "asal bapak senang". Organisasi yang bergerak dengan serba cepat seperti bisnis periklanan, mungkin mengharapkan agar para pekerjanya mampu bergerak lebih agresif dan hiperaktif.
e)      Pelanggan dan pihak eksternal dapat mempengaruhi budaya kerja organisasi : dalam hal ini suatu organisasi yang bergerak dibidang katering misalnya, yang memiliki pelanggan beragam dan menuntut timing yang tepat dalam hal pengiriman, mungkin akan mempekerjakan pekerja dengan cara shift untuk mencocokkan dengan timing pesanan pelanggan mereka, sehingga hal inipun dapat membentuk budaya kerja.
f)       Manajemen dan gaya kepemimpinan juga dapat mempengaruhi budaya di tempat kerja: dalam hal ini, terdapat organisasi tertentu dimana manajemen memungkinkan para pekerjanya mengambil keputusan sendiri dan membiarkan mereka berpartisipasi dalam melakukan strategi. Dalam budaya seperti itu, para pekerja menjadi terikat terhadap manajemen mereka dan berharap untuk terus terlibat secara jangka panjang dengan organisasi. Manajemen harus menghormati para pekerja untuk menghindari budaya dimana para pekerja bekerja hanya untuk uang semata. Sehingga mereka tidak memperlakukan organisasi sebagai sekedar sumber mencari penghasilan belaka dan terlibat hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat.

Budaya bisnis di masyarakat juga beragam dan bermacam-macam, ada yang memiliki sifat keuletan dalam bekerja dan ada pula yang bersifat malas. Kategori budaya bisnis masyarakat yang bersifat ulet bisa ditemukan pada para pekerja yang memiliki loyalitas dan rasa tanggung jawab yang tinggi akan pekerjaan yang dijalaninya. Seperti halnya para pedagang sayur-mayur yang sudah bangun di pagi buta untuk mencari nafkah. Tidak ada toleransi dan kata telat untuk bermalas-malasan. Rejeki bagi mereka datang bagi mereka-mereka yang ulet, gigih dan bekerja keras. Rejeki di pagi hari sangatlah berarti, maka itu kegigihan dan semangat kerja mereka terpancar dari keikhlasan mereka bangun pagi demi memenuhi kebutuhan.

Selain itu, ada pula budaya bisnis berdasarkan letak geografisnya seperti halnya negara Jepang. Menurut Robert N. Bellah dalam analisisnya mengenai pengamatannya kepada negara dunia ketiga perihal pembangunan ekonomi, sosial dan lain sebagainya pada suatu negara khususnya yang ia amati ialah Jepang. Menurutnya, Jepang berbeda dengan negara negara asia lainnya, negara ini (Jepang) pada tahun 1945-an mengalami musibah yang besar dan diakui negara yaitu peristiwa Bom Atom Hiroshima-Nagasaki. Kedua tempat ini luluh lantah dan rata dengan tanah, hancur berantakan dan tak terlihat kehidupan. Namun negara ini cepat bangkit dari keterpurukan, mereka segera membangun segala kebutuhan negara baiknya infrastruktur maupun sosial di negaranya. Menurut Bellah, ia menyatakan pembangunan di negara Jepang dikarenakan karena budaya kerja yang memiliki jiwa semangat yang tinggi, menjunjung kejujuran dalam beraktivitas dan berniaga, dan memiliki rasa malu ketika berbuat kesalahan. Ini merupakan prinsip dasar yang menjadi landasan berperilaku dan bertinndak dalam segala aktivitas. Hal ini terimplementasikan pada kegigihan dan kerja keras seorang nelayan dalam berlaut dan mencari ikan dan diproses dengan sangat baik hingga ikan-ikan mereka bisa laku terjual dan terkenal ke mancanegara seperti makanan sushi yang merupakan bahan dasarnya ikan. Makanan jenis ini bisa terkenal dan disukai hingga ke mancanegara karena kerja keras dan kegigihan para nelayan Jepang, begitupun dengan sikap dan mental rakyat yang santun dan jujur dalam keseharian sehingga mental seperti ini menjadi suatu budaya dalam bisnis yang khas bagi negara Jepang.
Kesimpulannya, apapun tradisinya, pola pencahariannya, letak geografisnya dan sifatnya, budaya bisnis yang baik merupakan budaya yang memiliki mental, sikap dan mentoleransikan perbedaan antar lintas budaya dimanapun letak dan geografisnya. Hal ini menjadikan suatu langkah baik dalam menjalani bisnis yang maju dan berkembang di tengah-tengah masyarakat di zaman yang modern ini. Sehingga, walaupun era globalisasi mendorongnya adanya kompetitif khususnya dalam hal bisnis, namun dengan adanya kehadiran budaya yang bermental baik membuat bisnis menjadi tetap eksis dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini