Rabu, 11 Mei 2016

Fauzia Nurul Khotimah, Vikron Fahreza_Ekologi Manusia_Tugas 5

A      Sejarah suku Semendo

Suku Semendo (Semende), adalah salah satu etnis yang berada di kecamatan Semendo kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan. Populasi suku Semendo diperkirakan sebesar 105.000 orang.

            Masyarakat suku Semendo, berbicara dalam bahasa Semendo, yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu. Bahasa Semendo banyak terdapat kemiripan dengan bahasa Palembang. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari pada bahasa Semendo pada umumnya berakhiran "e." Suatu ciri khas dari karakter bahasa Melayu.
            Asal usul suku Semendo secara pasti tidak diketahui darimana, salah satu versi cerita rakyat yang menyatakan suku Semendo dahulunya hidup bersama-sama dengan suku Palembang, sebelum masa pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Kemungkinan karena tekanan dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang memperluas wilayah kekuasaannya, mendesak suku ini masuk lebih ke pedalaman Sumatra Selatan. Sepertinya suku Semendo ini berasal dari suku bangsa deutro-malayan yang bermigrasi secara besar-besaran ke wilayah Asia Tenggara dari daratan Indochina pada awal tahun Masehi sekitar abad 3 Masehi, yang mana kelompok Semendo ini mendarat di pesisir Sumatra Selatan dan sempat bermukim sekian lama di wilayah pesisir, hidup bersama-sama kelompok deutro-malayan lainnya, seperti suku Palembang dan lain-lain.

 

Seluruh adat-istiadat dan budaya dalam masyarakat suku Semendo terlihat jelas sangat dipengaruhi oleh budaya Melayu Islam. Dari musik rebana, lagu daerah dan tarian seluruhnya dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Salah satu adat pada suku Semendo adalah adat Tunggu Tubang, yaitu adat yang mengatur hak warisan pada keluarga, adat ini menentukan hak atas warisan adalah anak wanita yang paling tua.

B       Lokasi dan Gambaran umum

Orang bersuku Semendo sekarang tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Aslinya suku ini banyak berdiam di Sumatera Selatan, misalnya di Kabupaten Muaraenim, Kecamatan Muaradua, sebagian di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Baturaja, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan. Di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, etnik Semendo juga banyak. Sebagian ada juga yang menetap di Lampung dan daerah lainnya, yang berdekatan dengan Sumatera Selatan. Nama Semendo ini di internal etniknya akrab disapa "Semende". Akhiran "e" memangkhas suku bangsa ini.

Suku bangsa Semendo menganut matrilineal, artinya garis keturunan dari pihak ibu. Maka itu, ada istilah yang terkenal dari suku ini, yakni tunggu tubang. Apa itu? Tunggu tubang bermakna anak perempuan atau menantu perempuan pertama akan mendapatkan harta berumah rumah, tanah, dan ladang. Tapi, pemberian ini bukannya gratis. Warisan berbentuk sebidang sawah dan sebuah rumah yang diwariskan dari generasi ke generasi secara terus menerus. Adat inilah yang menyebabkan tingginya hasrat untuk merantau bagi anak laki-laki. Budaya dan adat-istiadat Islami yang diamalkan suku Semendo ini diperkirakan berasal dari bangsa-bangsa Melayu yang membawa budaya mereka dari daratan Riau atau Malaysia.

Ajaran Islam pada masyarakat suku Semendo sangat kuat dalam kehidupan masyarakat Semendo. Mereka sangat patuh menjalankan syariat Islam secara rutin dan teratur, sesuai dengan rukun Islam. Hampir di setiap tempat terdapat tempat ibadah bagi masyarakat ini. Selain itu pesantren juga banyak terdapat di wilayah suku Semendo ini, yang secara khusus mendidik putra-putri suku Semendo menjadi penyebar agama Islam di daerahnya.

Suku Semendo membutuhkan peningkatan pengolahan lahan pertanian agar dapat dikerjakan dengan lebih modern. Saat ini telah ada proyek kerja sama yaitu : proyek penggilingan kopi, perikanan dan percontohan perikanan. Proyek ini perlu didukung dan dikembangkan lagi untuk lebih meningkatkan taraf hidup masyarakat. Mereka juga membutuhkan peningkatan dalam bidang pendidikan.

Masyarakat Semendo hidup dari hasil pertanian terutama pada tanaman padi sawah dan ladang, yang diolah dengan cara tradisional. Pada umumnya mereka menanam kopi jenis Robusta dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dari daerah suku Semendo ini jumlah produksi kopi Robusta pada setiap panen bisa mencapai 300 ton per tahun. Selain itu masyarakat suku Semendo ini juga bergerak pada bidang perikanan dan pembibitan ikan

Orang bersuku Semendo sekarang tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Aslinya suku ini banyak berdiam di Sumatera Selatan, misalnya di Kabupaten Muaraenim, Kecamatan Muaradua, sebagian di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Baturaja, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan. Di Palembang, ibu kota Sumatera Selatan, etnik Semendo juga banyak. Sebagian ada juga yang menetap di Lampung dan daerah lainnya, yang berdekatan dengan Sumatera Selatan. Nama Semendo ini di internal etniknya akrab disapa "Semende". Akhiran "e" memangkhas suku bangsa ini.

 Suku bangsa Semendo menganut matrilineal, artinya garis keturunan dari pihak ibu. Maka itu, ada istilah yang terkenal dari suku ini, yakni tunggu tubang. Apa itu? Tunggu tubang bermakna anak perempuan atau menantu perempuan pertama akan mendapatkan harta berumah rumah, tanah, dan ladang. Tapi, pemberian ini bukannya gratis. Tunggu tubang mesti mengelola harta itu dengan baik. Sebab, semua anak turun dari garis keturunan itu, kalau ada kebutuhan keuangan, berhak meminta kepada tunggu tubang. Misalnya untuk biaya sekolah, biaya menikah, dan pemecahan masalah dalam keluarga. Bisa dibilang, menjadi tunggu tubang ini berat tanggung jawabnya.

menyatakan bahwa Tunggu tubang terdiri dari dua kata yang berlainan artinya : Tunggu dan Tubang. Tunggu dapat diartikan menanti atau menunggu, sedangkan tubing adalah sepotong bambu yang terletak di bawah tirai di dapur yang dipergunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan sehari-hari seperti terasi, ikan kering, serta yang lain-lainnya, yang dalam pepatah disebutkan tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan, begitulah kira-kira artinya sifat yang dimiliki oleh anak tunggu tubing.

Tunggu tubang adalah nama jabatan yang dipercayakan kepada anak perempuan tertua dalam suatu keluarga, dimana jabatan tersebut adalah merupakan jabatan otomatis yang sifatnya turun temurun dan biasanya jabatan tersebut diadakan penyerahan setelah anak perempuan tertua menginjak berumah tangga, namun dalam hal ini orang tua dari anak tunggu tubing tersebut masih tinggal bersama-sama dengan anak tunggu tubing sampai anak tersebut dapat hidup mandiri dalam keluarga sebagaimana layaknya anak-anak tunggu tubing yang lainnya hidup dalam masyarakat.

C      Nilai-nilai Ekologi suku Semendo

Kehidupan masyarakat Semende sehari-harinya terkait erat dengan adat-istiadat dan tidak akan lepas dari lambing adat yang terdiri dari lima bagian yang masing-masing mempunyai yaitu:
1.
Kujur/tombak, memiliki makna cepat tanggap pada setiap permasalahan, dan jika hal itu merupakan perintah dari meraje, tidak pernah membantah (dalam hal yang baik-baik) dan segera melaksanakannya. Mencerminkan kejujuran dalam bahasa Semende disebut kujur.
2. Kampak/kapak, yang terdiri dari dua sisi. Ini melambangkan bahwa masyarakat Semende melihat perlakuan yang sama antara pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan dalam membina jurai, mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga dengan seadil-adilnya/ tidak berat sebelah.
3. Jala/jale, yang digunakan untuk alat menangkap ikan. Jala terdiri dari tiga bagian yaitu pusat jala, daun jala dan rantai atau batu jala. Jala bila ditarik berawal dari pusat, sehingga rantai yang berbentuk cincin akan terkumpul. Secara filosofis melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat/keluarga yang dinamakan Jurai yang dikomandoi oleh Meraje.
4. Tebat/kolam. Berbeda dengan sungai, kolam tidak memiliki riak-riak seperti sungai, selalu tenang. Kondisi ini didukung dengan kondisi alam yang dingin dan air gunung selalu mengalir. Kolam ini perlambang kepribadian tunggu tubing yang tetap sabar dan konsisten menghadapi persoalan dalam jurai. Jika ada perselisihan dalam rumah tangga, harus dapat diselesaikan tanpa perlu melibatkan orang tua, mertua apalagi sampai keluarga besar.
5. Guci, sebagai tempat menyimpan makanan untuk persiapan dan diperlukan ketika ada tamu. Hal ini melambangkan bahwa Tunggu tubing bersifat hemat dan bila ada jurai yang bertandang dapatlah dijamu. Merupakan aib, jika jurai yang bertamu, tunggu tubing tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan. Bahkan merupakan kebiasaan jika ada jurai atau keluarga yang dating dari jauh akan kembali ke tempatnya, maka tunggu tubang memberikan oleh-oleh. Ini membuktikan warga Semende terbuka untuk menerima tamu baik keluarga dekat atau orang lain.

Durkhemian, hubungan

1.      Proposisi teori diletakkan pada model hubungan rasional-struktural

2.      Hubungan didasarkan pada moralitas dan etika

3.      Individu dianggap "hilang" dalam masyarakat

4.      Program dianggap anomali "patologi – penyakit sosial"

5.      Metode pasitivis apriori

6.      Mengajukan klasifikasi pada hasil temuan

Perspektif ekologi  struktural :

Hubungan manusia dan lingkungan saling memberikan pengaruh

Apa yang diperbuat oleh manusia akan memberikan dampak ekologis :

·         Bentang alam : reklamasi

·         Kesejahteraan masyarakat

·         Keberlanjutan lingkungan

·         Masyarakat merupakan subyek utama

Pada masyarakat Semende menurut analisis yang sudah kami lakukan masyarakat Semende menggunakan perspektif Durkhemian karena didalam masyarakat ini terdapat berbagai macam nilai-nilai moral yang sudah dikukuhkan dan menjadi sebuah kebiasaan yang telah mendarah daging, hampir sebagian nilai-nilai yang terkandung itu merupakan nilai yang positif dan berdampak baik bagi masyarakat Semendo sendiri. Semua itu terbukti dari beberapa nilai-nilai yang ada diatas seperti kujur/tambak, kampak/kapak, jala/jale, semua itu merupakan nilai-nilai kebaikan yang dibungkus dalam bahasa mereka sehari-hari sehingga dapat dikatakan mereka memaknai dengan cara yang unik tanpa meremehkan budaya leluhur mereka akan tetapi mudah untuk diingat karena menggunakan bahasa sehari-hari.

Dikutip dari :

http://wimpi-shi.blogspot.co.id/2012/01/adat-istiiadat-semende.html

http://protomalayans.blogspot.co.id/2012/07/suku-semendo-semende.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini