Selasa, 18 Desember 2012

laporan ke 6 maimunah permata hati hasibuan jurnalistik 1a

Judul Penelitian                      : Konflik anak-anak yang putus sekolah
Nama Peneliti                         : Maimunah Permata Hati Hasibuan (1112051100018)
I.                   Latar Belakang
Menurut Collins (1975) menjelaskan bahwa perhatiannya terhadap konflik tidak akan bersifat ideologis ; yakni, dia tidak mengawali dengan pandangan politis bahwa konflik adalah baik atau buruk. Dia mengatakan bahwa dia memilih konflik sebagai fokus berdasarkan landasan yang realistik, yakni bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial.    
Termasuk ke dalam contoh konflik ini, banyak sekarang anak-anak yang putus sekolah sehingga banyak ditemukan dijalan-jalan raya mereka yang mengamen dijalan, menjadi pengasong di pasar maupun di tempat lainnya dan bahkan menjadi pekerja setengah pengangguran.
II.                Pertanyaan Pokok Peneliti
Apa penyebab terjadinya Konflik anak-anak ini sehingga putus sekolah ?
III.             Metode Penelitian
Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan metode penelitian secara kuantitatif karena menurut peneliti metode ini lebih cocok serta memberikan kemudahan bagi peneliti. Dan dilakukan pada hari selasa, 18 desember 2012 menggunakan data yang sudah tersedia.
IV.              Gambaran Objek Penelitian
Banyak sekarang bahkan sudah biasa kita jumpai anak-anak yang seharusnya menuntut ilmu di bangku sekolah menjadi pengemis, mengamen, berdagang, bahkan mengasong di jalan-jalan raya maupun di tempat lainnya yang ramai orangnya.
Konflik ini banyak diakibatkan oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu diakibatkan oleh pekerjaan orang tua yang berpengaruh terhadap pendapatan orang tuanya. Dimana pendapatan orang tuanya itu rendah (miskin). Maka dari itu terpaksalah anak-anak mereka ikut membantu untuk meringani beban orang tuanya.
Lalu ada juga karena keterbatasan dan adanya faktor lingkungan (pergaulan). Pemenuhan hak pendidikan tersebut diperoleh secara formal di sekolah, secara informal melalui keluarga. Khususnya pendidikan formal tidak semua anak mendapatkan haknya karena kondisi-kondisi yang memungkinkan orang tuanya tidak memenuhinya.
 Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua yang rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal sehingga anak mengalami putus sekolah.
V.                 Analisis
Jadi, inti dari konflik ini adalah faktor ekonomi dalam keluarga. Anak-anak putus sekolah karena biaya yang minim.Orang tua mempunyai peranan dan dasar terhadap keberhasilan perkembangan anak, sedangkan tugas dan tanggung jawab untuk hal tersebut adalah tugas bersama antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah serta anak itu sendiri.
Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan dan tekhnologi seni dan budaya, untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Banyak sekali faktor yang menjadi penyebab anak mengalami putus sekolah, diantaranya yang berasal dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan karena malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekolah.
Bagi anak-anak miskin, bantuan operasional sekolah (BOS) saja belum cukup. Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya pendidikan.
 
DAFTAR PUSTAKA
Ferlinafitrah.blogspot.com/2012/07/10-contoh-konflik-di-indonesia.html?m=1
 

Umi Kulsum_Lap6_Konflik lahan_Jurnalistik1A

Konflik Lahan Timbulkan Masalah untuk Masyarakat Adat


Umi Kulsum

1112051100003

Jurnalistik 1A

       I.            Latar Belakang

            Dalam sepuluh tahun terakhir, berbagai konflik seputar perebutan tanah adat banyak bermunculan, dipenelitian terakhir atau penelitian yang ke 6 ini saya mencoba menganalisis mengenai Konflik Lahan menimbulkan masalah untuk masyarakat adat yang merugikan banyak pihak, sebetulnya masalh ini selalu berlarut larut karena kedua belah pihak yang tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Partisipasi masyarakat adat penting dilakukan misalnya dalam pemetaan tanah. Langkah ini dinilai efektif karena mampu meminimalisir terjadinya konflik antar suku maupun konflik dengan pihak lain seperti swasta atau pemerintah atas klaim kepemilikan tanah adat.

    II.            Pertanyaan Pokok

Bagaimana cara penyelesaian konflik Lahan Timbulkan Masalah untuk Masyarakat Adat?

 

 III.            Metode Penelitian

Dalam pembahasan penelitian ini saya menggunakan metode kualitatif. Hal ini bertujuan agar informasi yang saya dapatkan lebih mudah untuk dipahami dan untuk memperjelas sebuah informasi. Metode kualitatif mengandalkan dalam pengumpulan data dari narasumber  misalkan  biografi  narasumber, dan awal perjuangan hingga sukses saat ini. Metode ini lebih fleksibel dan mudah dibandingkan metode kuantitatif mengandalkan dalam pengumpulan angka yang harus teliti metode ini sangatlah rumit.

 

 IV.            Gambaran Objek

Sebuah kelompok masyarakat adat Bonokeling menyelenggarakan prosesi unggah-unggahan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Ini dikarenakan untuk mensosialisasikan penyelesaian konflik yang sedang terjadi dengan masyarakat adat. Konflik lahan yang menimbulakan sebuah masalah baru dan melibatkan masyarakat adat.

 

 

    V.            Analisis

Sebuah kelompok masyarakat adat Bonokeling menyelenggarakan prosesi unggah-unggahan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah.

Partisipasi masyarakat adat penting dilakukan misalnya dalam pemetaan tanah. Langkah ini dinilai efektif karena mampu meminimalisir terjadinya konflik antar suku maupun konflik dengan pihak lain seperti swasta atau pemerintah atas klaim kepemilikan tanah adat.

                Partisipasi ini juga mampu menjadi alat advokasi dalam mempertahankan hak-hak masyarakat adat. "Oleh sebab itu penting bagi pemimpin suku mendorong masyarakatnya untuk melakukan pemetaan lahan secara partisipatif," kata Direktur Sekolah Pascasarjana UGM Hartono, Senin (29/10), di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

                 Ia memaparkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir ini berbagai konflik seputar perebutan tanah adat banyak bermunculan. Hal ini disebabkan karena belum adanya batas-batas lahan yang jelas dan tegas. Tak hanya itu, pembukaan lahan untuk kepentingan industri baik pertambangan maupun perkebunan turut menjadi pemicunya.

Budiawan, Staf Pengajar Kajian Media dan Budaya Populer Sekolah Pascasarjana UGM menambahkan, masyarakat adat di berbagai wilayah Indonesia tidak hanya dihadapkan pada konflik perebutan lahan. Mereka pun juga dihadapkan posisi mereka juga semakin terpinggir di tengah modernisasi.

"Masyarakat adat semakin terpinggir posisinya, tapi di sisi lain mereka semakin lantang menyuarakan kepentingannya. Ini terlihat dengan dibentuknya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang muncul sebagai forum untuk menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi mereka," jelasnya.

Menurut Budiawan, masyarakat adat tidak hanya semakin tersisih, kontribusi mereka dalam pembangunan juga sangat minim. "Masyarakat adat baru diposisikan sebagai komoditas pariwisata bagi pemerintah dan belum banyak dilibatkan dalam pembangunan," kata Budiawan.

Melihat kompleksitas yang dialami masyarakat adat Indonesia, maka itu penting dilakukan partisipasi masyarakat adat dalam berbagai hal.
(Olivia Lewi Pramesti)

 

 

 

 

Moh.Firman.Hadi_Lap6_Konflik sosial dalam masyarakat_JRN1B

KONFLIK SOSIAL : PEREBUTAN LAHAN ANTAR KELOMPOK PREMAN JOHN KEI VS HERCULES
MUHAMMAD FIRMAN HADI (1112051100038)
Jurnalistik 1B
 
 
        I.            Latar Belakang
                Secara Sosiologis konflik diartikan sebagai proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Konflik merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menempatkan dan menjaga garis batas antara dua atau lebih kelompok. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya, Menurut Lewis A. Coser. Kemudian Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan. Sedangkan Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkit nya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
Sebagai makhluk social manusia tidak dapat lepas dari interaksi social, dimana setiap manusia pasti melakukan hal tersebut. Baik interaksi soaial yang bersifat positif maupun negative, dalam prosesnya pelaku interaksi social sangat berpengaruh dalam terciptanya interaksi yang positif ataupun negative. Akan  tetapi apabila interaksi social yang terjadi dimasyarakat adalah interaksi yang negative maka hal itu berakibat timbulnya  Konflik social dimasyarakat. Konflik dalam masyarakat dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan individu, maupun antara kelompok dengan kelompok. Konflik antar kelompok ini merupakan konflik yang sering muncul, karena melibatkan banyak pihak.
Salah satu contoh konflik semacam ini adalah kerusuhan yang sempat terjadi di Cengkareng  beberapa waktu lalu tepatnya di kamal raya Jakarta Barat, yang sempat peneliti rasakan karea tepat setelah kejadian peneliti kebetulan melewati tempat kejadian perkara yang waktu itu dekat dengan tempat kerja peneliti. Dengan berbekal pengalaman dan beberapa narasumber yang melihat langsung kejadian tersebut peneiti tertarik untuk meneliti lebih lanjut kasus ini .
 
      II.            Pertanyaan Pokok Penelitian
               
                Bagaimana latar belakang munculnya kerusuhan antar preman di Cengkareng dan Apa pengaruhnya terhadap Masyarakat sekitar?
 
 
    III.            Metode Penelitian
                Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode kualitatif dengan penggabungan teknik wawancara serta gathering data.
Waktu              : Selasa
Pukul                : 13.00-15.00 WIB
Tempat             : Jalan Raya Semanan RT/RW 005/011 kel.Semana  Kec.  Kalideres Jakarta barat
Narasumber pada penelitian kali ini adalah Muhammad Ghofur, beliau adalah rekan peneliti yang merasakan langsung terjadinya kerusuhan antar preman di Cengkareng  saat itu. Disamping itu peneliti juga menggunakan teknik gathering data dengan menggunakan buku terkait dan juga mencari sumber- sumber lain dimedia online.
 
    IV.            Gambaran Subjek Penelitian
 
                Cengkareng  adalah kota padat yang terletak dipinggir Jakarta Barat, kota  yang menghubungkan  langsung antara Jakarta dengan tangerang ini merupan daerah yang strategis untuk lalu lintas perdagangan diwilayah pinggiran ibu kota Jakarta ini. Dengan latar belakang ini lah memicu terjadinya Perebutan lahan kosong di Jalan Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat yang berujung bentrokan antara kelompok John Kei dan Hercules. Dalam kasus ini peneliti sempat mewawancarai saudara Ghofur salah satu saksi mata dalam kejadian tersebut.
                Beliau yang sehari- hari bekerja sebagai pedangang di daerah sekitar  tempat kejadian perkara yang sangatlah paham dengan kronologi peristiwa tersebut. Saat ditanya kisruh perebutan lahan antar kelompok preman itu beliau sempat heran karena selama ini kedua kelompok itu hidup rukun dan jarang sekali mengalami konflik tapi kemarin adalah saat puncak dari sederet peristiwa yang melatar belakangi kejadian ini. Kedua Kelompok  preman tersebut  awalnya hidup dengan damai tapi mengapa beberapa hari ini sering kali bercekcok  mulai dari perebutan daerah kekuasaan, perebutan lahan dan lain sebagainya.
 
      V.            Analisis
 
                Belum lama ini kita kejutkan oleh berita-berita di media elektronik maupun online tentang bentrok atau konflik antar preman yang terjadi di Cengkareng Jakarta Barat pada bulan agustus 2012 kemarin. konflik social yang  terjadi di sebuah lahan kosong di samping Komplek Taman Palem Lestari, di Jalan Raya Kamal, Cengkareng, Jakarta Barat pada Rabu siang. Bentrokan diduga dipicu perebutan lahan antara dua kelompok massa yang belakangan diketahui kelompok John Kei dan kelompok Herkules. Bentrok tersebut diduga dipicu penguasaan lahan tanah PT Sabar Ganda. Menurut narasumber suasana terjadinya bentrok sangatlah mencekam, berikut kronologi kejadian yang berhasil peneliti dapatkan dari narasumber.
                Pada Pukul 11.30 WIB, sekitar 100 orang kelompok John Kei datang ke lokasi PT Sabar Ganda yang selama ini dijaga oleh kelompok Hercules.  Pada saat itu, semua kelompok Hercules diminta keluar dari lokasi sehingga terjadi tawuran antara kedua belah pihak. Belum terjadi kontak fisik, sudah di halau terlebih dahulu oleh anggota Polsek Cengkareng. Namun setengah jam kemudian, kedua kelompok ini kembali bentrok dan berhasil direda oleh aparat polisi. Bentrokan berlanjut di mana kelompok Hercules yang sudah terusir menyerang kembali kelompok John Kei yang sudah menguasai lahan PT Sabar Ganda.
                Aparat Polres Jakarta barat pun turun tangan. Kapolres Jakarta Barat Kombes Suntana kemudian memerintahkan anggota berseragam untuk menangkap kelompok yang berada di luar pagar PT Sabar Ganda dan memerintahkan kelompok John Kei untuk keluar dari lahan tersebut. Kelompok John Kei kemudian keluar dan mengarah ke Perum Taman Palem Lestari sambil melawan arus lalu lintas. Sementara itu kelompok Hercules tetap bertahan di lokasi sehingga petugas mendorong kelompok Hercules ke arah Pintu Air Jl Kamal Raya.
 
                Dalam upaya represif tersebut, tiga orang dari kelompok Hercules mengalami luka tembak, satu di antaranya tewas yakni Semi Binggo. Semi mengalami luka tembak pada bagian kepala belakang, tembus ke pelipis sebelah kiri.Begitulah sepenggal kronologi kejadian yang berhasil peneliti dapatkan  kemudian dari konflik sosial yang terjadi paling tidak ada korban atau pun orang yang dirugikan dalam konflik tersebut. Lalu  dalam konflik ini terdapat 3 korban jiwa yakni Semi Binggo mengalami luka tembak pada bagian kepala belakang, tembus ke pelipis sebelah kiri hingga tewas.  Kemudian, Lajuma Maswatu  mengalami luka tembak pada dada belakang yang tembus ke dada depan bagian kanan dan dalam kondisi kritis. Terakhir Ongen  Rettob mengalami luka tembak pada bagian kaki. Adanya korban jiwa ini dipicu karena saat polisi melakukan penggledahan, ada sebuah mobil kijang inova yang mencoba melarihan diri serta menabrak polisi sehingga polisi terpaksa menembakan tembkan pringatan namun tidak dihiraukan sehingga mobil itu dihujani peluru oleh petugas.
                Setelah diamati pengaruh yang peneliti lihat dari masyarakat sekitar tempat kejadian yakni masyarakat mengaku kaget dengan konflik social yang terjadi di daerah cengkareng tersebut karena tidak biasanya kedua kelompok preman tersebut malakukan adu fisik. setelah diteliti lebih lanjut didapatkan informasi  ternyata  tanah kosong di Jalan Kamal Raya, Cengkareng, Jakarta Barat memiliki luas tanah 21.000 m2. Tanah itu dimiliki dua perusahaan yakni PT Sabar Ganda seluas 14.000 m2 dan sebuah perusahaan properti ternama seluas 7.000 m2. Ternyata PT Sabar Ganda membayar kelompok Hercules untuk menjaga lahannya. Sementara perusahaan properti pemilik lahan di sampingnya membayar kelompok John Kei untuk menjaga lahannya. Dari sinilah konflik social terebut berasal dan membuat resah warga sekitar serta pengguna jalan, karena setelah  kejadian banyak sekali batu-batu serta kerusakan lainnya yang merembet sampai kejalan raya sekitar taman palem yang menggangu penguna jalan dan peneliti merasakan sendiri akibat yang ditimbnulkan konflik social tersebut.
 
    VI.            Daftar Pustaka
·         Bapak Ghofur (narasumber)
·          http://www.metro.polri.go.id/kondisi-kamtibmas-masyarakat-jakarta/konflik-sosial
 
 

Nur Fajri Rahmawati_Lap6_Konflik dan Pertentangan Kec Kalianda dengan desa Sidoreno_jrnl1a

KONFLIK KECAMATAN KALIANDA DENGAN DESA SIDORENO
 
NAMA            :  Nur Fajri Rahmawati
NIM                : 1112051100023
Jurusan            : Jurnalistik 1a
 
1.      Latar Belakang
 
Teori konflik yang muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh dapat dimengerti sebagai respon dari lahirnya dual revolution, yaitu demokratisasi dan industrialisasi, sehingga kemunculan sosiologi konflik modern, di Amerika khususnya, merupakan pengikutan, atau akibat dari, realitas konflik dalam masyarakat Amerika (Mc Quarrie, 1995: 65). Selain itu teori sosiologi konflik adalah alternatif dari ketidakpuasaan terhadap analisis fungsionalisme struktural Talcot Parsons dan Robert K. Merton, yang menilai masyarakat dengan paham konsensus dan integralistiknya.Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokoh klasik seperti Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1864-1920), sampai George Simmel (1858-1918). Keempat pemikiran ini memberi kontribusi sangat besar terhadap perkembangan analisis konflik kontemporer. Satu pemikiran besar lainnya, yaitu Ibnu Khouldoun sesungguhnya juga berkontribusi terhadap teori konflik. Teori konflik Khouldun bahkan merupakan satu analisis komprehensive mengenai horisontal dan vertikal konflik.
 
Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
 
2.      Pertanyaan Pokok Penelitian
 
Apa latar belakang penyebab munculnya  konflik antara kecamatan Kalinda dengan Desa Sidoreno?
 
3.      Metode Penelitian
 
Metode penelitian yang digunakan saat ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan teknik gathering data (pengumpulan data) menggunakan daftar pustaka, serta media pengumpulan data yang sudah ada. Pengumpulan data dimulai tanggal 16 Desember 2012.
 
4.      Gambaran Obyek/Subyek
 
Kalianda adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Indonesia yang terletak di kaki Gunung Rajabasa, kota kecil yang bersahaja. Kota ini juga terletak di tepi pantai di sepanjang teluk Lampung. Kebanyakan Suku asli Kalianda adalah Lampung Pesisir. Di dalam kecamatan kalianda ini juga terdapat suku pendatang  diantaranya ada jawa, sunda, jawa serang,Minang kabau (padang), Semenda (Palembang),batak, bali. Biasanya suku pendatang tinggal secara berkelompok dan bisa menjadi sebuah desa. Selain itu juga Lampung juga mempunyai desa Sedorano yang mayoritas kependudukannya itu kebanyakan orang muslim.
 
5.      Analisis
 
Bentrokan massa terjadi antara desa Agom Kalianda dengan massa desa Balinuraga kecamatan Way Panji Lampung Selatan pada Minggu 28 Oktober 2012.Akibat bentrokan ini tiga orang meninggal dunia.Korban adalah  Yahya, warga Way Urang, Marhadan, warga Gunung Terang dan Alwin, warga Tajimalela, Kalianda. Disamping tiga korban meninggal dunia, juga terdapat empat korban luka berat.Terjadinya peristiwa  bentrok massal ini dipicu oleh isu yang berkembang adanya pelecehan yang dialami oleh dua orang remaja puteri yang berasal dari desa Agom.Dalam keterangannya Kapolres Lampung Selatan AKBP Tatar Nugroho, menjelaskan peristiwa ini berawal pada kejadian Sabtu 27-10-2012.Dua remaja puteri asal desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor terjatuh setelah di cegat oleh pemuda desa Balinuraga.
 
Permasalahan ini pada awalnya sudah bisa di atasi oleh kedua Kepala desa bersangkutan.Tapi kemudian berkembang isu pemuda Balinuraga melakukan pelecehan saat melakukan pertolongan terhadap kedua remaja puteri asal desa Agom saat jatuh dari motor.Isu beredar menyulut emosi massa yang berakibat  bentrokan massal.Akibat isu ini pertikain tidak dapat dihindari dan ribuan massa dari desa Agom dan sekitarnya melakukan penyerangan ke desa Balinuraga.Tiga orang menjadi korban dalam peristiwa ini dan beberapa rumah rusak dan terbakar.Kapolres Lampung Selatan meminta ke dua massa yang bertikai agar bisa menahan diri,karena bentrokan ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan malah semakin memperuncing masalah.
Ketua  Komisi Informasi Masyarakat Lampung  Juniardi mengatakan informasi yang menyesatkan sering menimbulkan menyulut perpecahan dan konflik dalam masyarakat.Masyarakat seharusnya tidak mudah mempercayai informasi menyesatkan.Disisi lain Juniardi mengatakan pejabat dan aparat sangat lemah dalam melakukan pembinaan terhadap masyarakat.Pemerintah harus dapat melakukan upaya preventif didaerah yang potensial terjadi konflik.Hal ini bisa dilakukan dengan menggali kearifan penduduk lokal yang bisa menciptakan masyarakat yang punya budaya toleransi.
 
Masyarakat kecamatan kalimda berharap Pemerintah segera turun tangan dan mencari akar permasalahan yang sebenarnya terjadi terhadap bentrokan yang melibatkan warga penduduk desa Agom dan sekitarnya dengan penduduk desa Balinuraga yang pendatang.Bentrokan seperti warga penduduk asli dan pendatang seperti ini sudah sangat sering terjadi di tanah air.Penyelesaiannya tidak pernah benar-benar tuntas dan sewaktu-waktu bisa meletus lagi.Salam Kompasiana
 
6.      Daftar Pustaka
 
"http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kalianda,_Lampung_Selatan&oldid=531265"Kategori
www.wikipedia.com
 

Cari Blog Ini