Jumat, 03 Oktober 2014

TUGAS3_NIRMA SUGIARTI_1112051000136_KPI 4D

A.    Definisi Filsafat
1.      Secara etimologi
Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosphia, terdiri atas kata philein yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom). Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Phitagoras (582-496 SM).
2.      Secara Terminologi
a.       Plato
Plato berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli.
b.      Aristoteles
Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang ada di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika , logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).
c.       Al Farabi
Al Farabi mengatakan bahwa filsfat adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat bagaimana alam maujud yang sebenarnya.
d.      Rene Descartes
Menurut Descartes, filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
e.       Immanuel Kant
Menurut Kant, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pangkal dari semua pengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistimologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui.
f.       Langeveld
Berpendapat bahwa filsafat adalah berpikir tentang masalah-masalah yang akhir dan yang menentukan, yaitu masalah-masalah mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian, dan kebebasan.
g.      Hasbullah Bakry
Menurut Bakry, ilmu filsafat adalah ilmu yang meyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan juga manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
h.      N. Driyarkara
Berpendapat bahwa filsafat adalah perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sabab-sebab "ada" dan "berbuat", perenungan tentang kenyataan (reality) yang sedalam-dalamnya sampai ke "mengapa" yang penghabisan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan menggunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat bukan mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena. Filsafat membahas lapisan dari segala sesuatu atau membahas masalah yang paling mendasar.
B.     Unsur-Unsur Filsafat
1. Epistimologi
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Berdasarkan epistemologi, manusia memperoleh pengetahuan dengan tiga cara, yaitu cara sains, cara filsafat (logika, akal), dan cara latihan rasa (intuisi, kasyf)
2. Ontologi
Setelah memahami cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai mengahadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam pada hakikatnya. Oleh karena itu bagian ini disebut ontologi atau teori hakikat. Bidang ini membicarakan segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicari ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai).
3. Aksiologi
Aksiologi adalah ilmu yang menyelidiki hakikat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi juga menunjukkan kaidah-kaidah apa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu ke dalam praktis. Aksiologi memuat pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan. Aksiologi juga mengandung pengertian lebih luas pada etika atau nilai-nilai kehidupan yang bertaraf tinggi.
A.    Metode Filsafat
Metode filsafat adalah suatu alat pendekatan untuk mencapai hakikat sesuai dengan corak pandangan filsuf itu sendiri. Runes dalam Dictionary Of Philosophy yang dikutip dari Anton Bakker menguraikan, sepanjang sejarah filsafat telah dikembangkan sejumlah metode filsafat yang berbeda dengan cukup jelas. Sedikitnya ada sepuluh metode, sebagai berikut.
1. Metode Kritis: Socrates, Plato: Bersifat analisis istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika yang menjelaskan keyakinan dan memperlihatkan pertentangan. Dengan jalan bertanya (berdialog), membedakan, membersihkan, menyisihkan dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat.
2. Metode Intuitif :Plotinus, Bergson: Dengan jalan introspeksi intuitif dan dengan pemakaian simbol-simbol diusahakan pembersihan intelektual (bersama dengan penyucian moral) sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.
Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
3. Metode Skolastik:Aristoteles,Thomas Aquinas, Filsafat Abad Pertengahan: Bersifat sintesis-deduktif. Dengan bertitik-tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik berbagai kesimpulan.
4. Metode Geometris: Rene Descartes dan Pengikutnya: Melalui analisis mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat 'sederhana' (ide terang dan berbeda dari yang lain); dari hakikat itu dideduksikan secara matematis segala pengertian lainnya.
5. Metode Empiris: Hobbes, Locke, Berkeley, David Hume: Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar; maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan cerapan-cerapan (impresi) dan kemudian disusun bersama secara geometris.
6. Metode Transendental: Immanuel Kant, Neo-Skolastik: Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
7. Metode Fenomenologis: Hussserl, Eksistensialisme: Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction), refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
8. Metode Dialektis: Hegel, Marx: Dengan jalan mengikuti dinamis pemikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis, sintesis dicapai hakikat kenyataan.
9. Metode Neo-Positivistik: Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan auran-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta).
10. Metode Analitika Bahasa :Wittgenstein: Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis.
Dari metode-metode di atas, hanya beberapa metode yang khas yang dibahas Anton Bakker dalam bukunya Metode-Metode Filsafat yang mencakup metode kritis, metode intuituf, metode skolastik, metode geometris, metode eksperimentil, metode kritis-transendental, metode dialektis, metode fenomenologis, dan metode analitika bahasa. Adapun metode neo-positivistik tidak diuraikan karena sebenarnya bukan metode khas dari filsafat.
B.     Hakikat Filsafat
Hakikat adalah realitas; realitas adalah ke-real-an; "real" artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah. Hakikat merupakan suatu prinsip yang menyatakan "sesuatu" adalah "sesuatu" itu adanya. Filsafat adalah usaha untuk mengetahui segala sesuatu. "Ada" (being) merupakan imllikasi dasar. Jadi, segala sesuatu yang mempunyai kualitas tertentu pasti adalah "ada".
Hakikat permasalahan filsafat meliputi hal-hal sebagai berikut.
1)      Filsafat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan, suatu bentuk pengetahuan.
2)      Obyek pengetahuan kita ialah: Semua yang ada.
3)      Dunia tempat manusia hidup dapat dipersoalkan pula.
4)      Apakah sebenarnya pada hakikatnya manusia itu?
 
Sumber: Drs. Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat cet.8, PT. Bumi Aksara: Jakarta, 2009
               Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, PT. Bumi Aksara: Jakarta, 2005

DEWI UTARI_1112051000134_TUGAS KE 3 MAKALAH INDIVIDU ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

NAMA       : DEWI UTARI            NIM           : 1112051000134 / KPI 5E
TUGAS KE 3 ETIKA DAN FILSAFAT  KOMUNIKASI
       I.            Definisi Filsafat
Menurut Aristoteles (381 SM – 322 SM), filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu; metafisika, logika, etika, ekonomi, politik dan estetika.[1]
Sedangkan menurut, Plato (427 SM – 347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk mencapai kebenaran yang asli. Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.[2]
    II.            Unsur-unsur Filsafat
Filsafat memiliki 3 unsur, yaitu: Ontologi, Epistemologi dan Axiologi. Ontologi adalah Ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada, yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran. (Sutardjo AW, 2007:34). Epistemologi adalah Membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan.Pengetahuan manusia ada tiga macam, yaitu pegetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Dan Axilogi adalah sebuah teori yang membicarakan tentang guna nilai pengetahuan itu.[3] Teori nilai mencakup dua cabang filsafat yang cukup terkenal: Etika dan Estetika.[4]
 III.            Metode Filsafat
Didalam dictionary of philosophy yang dikutip oleh Dr.Anton Bakker disebutkan adanya sepuluh metode filsafat konkret yaitu:[5]
                               a.            Metode kritis
Metode ini bersifat analisa istilah dan pendapat. Merupakan hermeneutika, yang menjelaskan tentang keyakinan, dan memperlihatkan pertentangan.
                              b.         Metode intiutif platinos, Bergons
Dengan jalan intropeksi pembersihan intelektual, sehingga tercapai suatu penerangan pikiran.
                               c.         Metode skolastik,  
Metode ini bersifat sintessis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi-definisi atau prinsip-prinsip yang jelas dengan sendirinya, ditarik kesimpulan-kesimpulan.
                              d.            Metode matematis
Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intiusi akan hakikat-hakikat sederhana, dari hakikat itu diduskusikan secara matematis segala pengertian lainnya.
                               e.       Metode empiris
Hanya pengalamanlah yang menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian dalam intropeksi dibandingkan dengan serapan-serapan dan kemudian disusun bersama secara geometris.
                               f.       Metode transedental
Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriopri bagi pengertian sedemikian.
                              g.      Metode dialektis,
Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antithesis dicapai hakikat kenyataan.
                              h.       Metode fenomenologis,
Dengan jalan beberapa pemotongana sistematis, refleksi atas fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
                                i.      Metode neo-positivistis
Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlakunya pada ilmu pengetahuan positif.
                                j.       Metode analitika bahasa.
Dengan jalan analisis pemakaian bahasasehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofi.
 IV.            Hakikat Filsafat
Filsafat memiliki hakikat  sarwa yaitu: hakikat Tuhan., hakikat alam semesta dan hakikat manusia.
Daftar Pustaka
Prof. Dr. Praja, Juhaya S. Aliran-aliran filsafat dan etika. Jakarta: Prenada Media Group. 2003.
Drs. Sudarsono, S.H.M.Si. ilmu filsafat. Jakarta:PT. Rineka Cipta. 1993.
Prof. Dr. Tafsir, Ahmad. filsafat umum akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chopra. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
 


[1] Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika, (Jakarta; Prenada Media Group), 2003, h. 2
[2] Drs. poerwantana, Drs. A. Ahmadi dan M.A. Rosali, seluk beluk filsafat islam, (
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chopra, (Bandung; PT Remaja Rosdakarya), h. 23-28
[4] [4] Prof. Dr. Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika, 2003, h. 58
[5] Drs. Sudarsono, S.H. M.Si, ilmu fisafat, Jakarta:PT. Rineka Cipta 1993. h 86.

Falahul Mualim Yusuf 1112051000087 KPI 5C

Nama  :Falahul Mualim Yusuf

NIM : 1112051000087 (KPI 5C)

A.    DEFINISI FILSAFAT

Secara etimologis, filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa inggris dan bahasa yunani. Dalam bahasa inggris yaitu "philosophy" sedangkan dalam bahasa Yunani "philein" atau "philos" dan "sofein" atau "sophi". Ada pula yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu "falsafah" yang artinya al-hikmah. Akan tetapi, kata tersebut pada awalnya berasal dari bahasa Yunani. "philos" artinya cinta, sedangkan "sophia" artinya kebijaksanaan. Oleh karna itu, filsafat dapat diartikan dengan cinta kebijaksanaan yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan al-hikmah. Para ahli filsafat disebut dengan filosof, yakni orang yang mencintai dan mencari kebijaksanaan atau kebernaran. Filosof bukan orang yang bijaksana atau berpengetahuan benar, melainkan orang yang sedang belajar mencari kebenaran atau kebijaksanaan.

Pencarian kebijaksanaan bermakna menelusuri hakikat dan sumber kebenaran. Alat untuk menemukan kebijaksanaan adalah akal yang merupakan sumber primer dalam berfikir. Oleh karena itu, kebenaran filosofis tidak lebih dari kebenaran berfikir yang rasional dan radikal.  Dalam kinerja filsafat terdapat wacana atau argumentasi dalam setiap aktivitasnya mengandalkan pemikiran dan rasio, tanpa verifikasi uji empiris. "Perbincangan dengan menutup mata." Kebenaran filosofis tidak memerlukan pembuktian-pembuktian atau tidak perlu disadari bukti kebenaran, baik melalui eksperimentasi maupun pencarian data lapangan.

Secara terminologis, filsafat mempunyai arti yang bervariasi. Juhaya S. Praja (200:2) mengatakan bahwa arti yang sangat formal dari filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi. Suatu sikap falsafi yang benar adalah sikap yang kritis dan mencari. Sikap itu merupakan sikap toleran dan terbuka dalam melihat persoalan dengan berbagai sudut pandang dan tanpa prasangka. Berfilsafat tidak hanya berarti membaca dan mengetahui filsafat. Seseorang memerlukan kebolehan berargumentasi, memakai tekhnik analisis, serta mengetahui jumlah bahan pengetahuan sehingga ia memikirkan dan merasakan secara falsafi. Filsafat mengantarkan semua yang mempelajarinya ke dalam refleksi pemikiran yang mendalam dan penuh dengan hikmah.

 

B.     UNSUR-UNSUR FILSAFAT

1.Ontologi
      Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dengan demikian Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

2.Epistemologi
     Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory.
Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar.

Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan "kebenaran" macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.

3.Axiologi
     Sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan manusia Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral yang berlaku.

 

C.    METODOLOGI FILSAFAT

Metode mempelajari filsafat ada tiga, yaitu : a. Metode sistematis, b. Metode historis, dan c. Metode kritis.

Yaitu bahwa mempelajari metode sistematis, pada hakikatnya adalah memahami objek yang dikaji, sistematika filsafat, unsur-unsur filsafat dsb, yang disajikan dengan baik dengan berbagai batasannya secara kognitif. Metode historis adalah mempelajari sejarah filsafat secara mendalam, artinya mempelajari dari sejak lahirnya filsafat hingga kepada perkembangannya yang secara komperhensif memberikan penjabaran secara jelas. Metode kritis yaitu mengkritisi secara menyeluruh tentang eksistenti dari filsafat itu sendiri.

 

D. HAKIKAT FILSAFAT

Filsafat adalah pencariaan kebenaran melalui alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatu yang dilakukan secara teratur mengikuti sistem yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat, melaikan mengikuti aliran yang benar.

Filsafat selalu mencari jawaban-jawaban, tetapi jawaban yang ditemukan tidak pernah abadi. Oleh karena itu, filsafat tidak pernah selesai dan tidak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Masalah-masalah filsafat tidak pernah selesai karena itulah memang sebenarnya berfilsafat.

Filsafat adalah seni kriktik yang bukan semata-mata membatasi diri pada destruksi atau seakan-akan takut untuk membawa pandangan positifnya sendiri. Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa kritisnya filsafat adalah kritis dalam arti bahwa filsafat tidak pernah puas diri, tidak pernah membiarkan sesuatu sebagai sudah selesai.

Hakikat Filsafat terdapat tiga metode yaitu :

a.       Metode berfikir untuk : Memperoleh hakikat atas gejala (peristiwa) alam sosial (didalamnya termasuk ekonomi, politik, dan budaya), memecahkan masalah alam dan sosial, artinya keputusan, dan memahami hubungan bentuk dan isi sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera.

b.      Pedoman berfikir, bersikap dan bertindak dalam menghadapi gejala/peristiwa alam dan sosial

c.       Metode berffikir kritis-rasional (selalu mempertanyakan tentang gejala/peristiwa alam dan sosial), holistik (berfikir saling hubungan objek secara menyeluruh), dan dialekti (berfikir konflik, perubahan, dan perkembangan tentang obyek)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Prawironegoro, Darsono, Filsafat ilmu, Nusantara Consulting : 2010. Jakarta.

Abdul Hakim, Atang dan Saebeni, Beni Ahmad. Filsafat umum, Pustaka setia : 2008. Bandung

 

 

 

Kamis, 02 Oktober 2014

Tugas 3_Fadel Muhammad Anugrah

Fadel Muhammad Anugrah_KPI 5D_1112051000113

FILSAFAT

A. Definisi Filsatat
Secara etimologis, kata filsafat berasal dari gabungan dua kata: Philein yang beraeti mencintai dan sophos yang berarti keaeifan atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi, dilihat dari asal katanya, filsafat berarti mencintai kebijaksanaan. Filsafat dipahami sebagai apa yang ada dalam pikiran seseorang yang membuatnya menganggap apa yang penting dalam nilai hidupnya. Pengertian mengenai filsafat sangatlah kompleks. Istilah filsafat juga digunakan untuk melihat cara berpikir apapun dalam diri manusia. Setiap manusia pada dasarnya dianggap memiliki filsafat atau berfilsafat (entah filsafatnya benar atau salah).
Dalam ptaktik penggunaannya, istilah filsafat digunakan dalam banyak hal untuk menyebut suatu watak yang terdiri dari banyak kategori pula. Materialisme adalah filsafat moral yang memandang tujuan mengejar materi merupakan nilai yang dianggap utama.

B. Unsur-unsur Filsafat
1. Ontologi
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.

2. Epistemologi
Epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar. Epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan "kebenaran" macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.

3. Axiologi (teori tentang nilai)
sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan manusia Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

C. Metode Filsafat
Sangat banyak metode filsafat yang digunakan oleh para filsuf dari dahulu sampai sekarang ini, yaitu:
1. Metode Zeno : Reductio ad Absurdum
2. Metode Sokrates : Maieutik Dialektis Kritis Induktif
3. Metode Plato : Deduktif Spekulatif Transendental
4. Metode Aristoteles: Silogistis Deduktif
5. Metode Plotinos :Kontemplatif-Mistis
6. Metode Descartes: Skeptis
7. Metode Francis Bacon: Induktif

D. Hakikat Filsafat
1. Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar serta dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam sehungga ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

2. FILSAFAT PENDIDIKAN adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.dasar pendidikan cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

Nurani Soyomukti, 2011. Pengantar Filsafat Umum. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media.

Tugas 3_Savinatun Naja

Savinatun Naja_KPI 5D

FILSAFAT

A. Definisi
Secara etimologis, asal kata menurut bahasa, "filsafat" atau dalam bahasa Inggris philosophy, berasal daro bahasa Yunani philosophia. Filosofia, berupa gabungan dari dua kata, ialah phielein yang berarti cinta, merindukam, menikmati, dan sophia atau sofein yang artinya kenikmatan, kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan atau kejernihan. Jadi secara etimologis, berfilsafat atau filsafat itu berarti mencintai, menikmati, merindukan kebijaksanaan atau kebenaran. Hal ini sejalan dengan apa yang diucapkan ahli filsafat Yunani kuno, Socrates, bahwa filosof adalah orang yanh mencintai atau mencari kebijaksanaan atau kebenaran.
Dalam bahasa Indonesia, filsafat, juga berbakar dari bahasa arab, filsafah, yang juga berakar pada istilah Yunani itu. Menurut Mautner (1999) terdapat tiga arti filsafat, ialah pertama sebagai aktivitas intelektual yang dapat didefinisikan dalam banyak arti, tergantung pada apa yang menjadi penekanan artinya, ialah metodenua, masalah atau subject-matternya atau maksud tujuannya. Sebagai metode filsafat merupakan penelusuran rasional. Arti filsafat yang kedua, adalah suatu teori yang dapat dari atau sebagai hasil dari pemikiran filsafati, pemikiran yang menuju pada akarnya. Serta yang ketiga, adalah suatu pandangan menyelurih, komprehensif, mengenai realitas dan tempat manusia berada atau mengada didalamnya. Dilihat dari praktisnya, filsafat adalah alam berpikir atau alam pikiran.

B. Unsur-unsur Filsafat
1. Ontologi
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dengan demikian Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

2. Epistemologi
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar.

Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan "kebenaran" macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.

3. Axiologi (teori tentang nilai)
Sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan manusia Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

C. Metode
1. Metode Sistematis
Metode sistematis adalah cara mempelajari objek material filsafat, ialah mengenai materi/masalah-masalah yang dibicarakannya. Yang dimaksud sistematis disini adalah adanya susunan dan urutan dan juga hubungan menyangkut materi atau materi yang terdapat dalam bahasa.
2. Metode Historos
Metode historis adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu perkembangan pemikoran filsafat yang telah terjadi, sejak kelahirannya sampai saat ini, sepanjang dapat dicatat dan memenuhi syarat-syarat pencatatan dan penulisan sejarah.

D. Hakikat
1. Hakikat merupakan istilah filsafat yang dimaksudkan sebagai pemahaman atau hal yanv paling mendasar.
2. Filsafat tidak saja bicara wujud atau materi sebagaimana ilmu pengetahuan, tetapi juga berbicara makna yang terdapat di belakangnya.
3. Hakikat filsafat adalah sebagai akibat berpikir radikal
4. Filsafat adalah kebebasan berpikir tenatng sesuatu tanpa batas, dia mengacu pada hukum keraguan atas segala hal.

Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi. 2009. Pengantar Filsafat, Bandung : PT. Refika Aditama

Tugas 3_Savinatun Naja_1112051000120

Savinatun Naja_KPI 5D

A. Definisi
Secara etimologis, asal kata menurut bahasa, "filsafat" atau dalam bahasa Inggris philosophy, berasal daro bahasa Yunani philosophia. Filosofia, berupa gabungan dari dua kata, ialah phielein yang berarti cinta, merindukam, menikmati, dan sophia atau sofein yang artinya kenikmatan, kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan atau kejernihan. Jadi secara etimologis, berfilsafat atau filsafat itu berarti mencintai, menikmati, merindukan kebijaksanaan atau kebenaran. Hal ini sejalan dengan apa yang diucapkan ahli filsafat Yunani kuno, Socrates, bahwa filosof adalah orang yanh mencintai atau mencari kebijaksanaan atau kebenaran.
Dalam bahasa Indonesia, filsafat, juga berbakar dari bahasa arab, filsafah, yang juga berakar pada istilah Yunani itu. Menurut Mautner (1999) terdapat tiga arti filsafat, ialah pertama sebagai aktivitas intelektual yang dapat didefinisikan dalam banyak arti, tergantung pada apa yang menjadi penekanan artinya, ialah metodenua, masalah atau subject-matternya atau maksud tujuannya. Sebagai metode filsafat merupakan penelusuran rasional. Arti filsafat yang kedua, adalah suatu teori yang dapat dari atau sebagai hasil dari pemikiran filsafati, pemikiran yang menuju pada akarnya. Serta yang ketiga, adalah suatu pandangan menyelurih, komprehensif, mengenai realitas dan tempat manusia berada atau mengada didalamnya. Dilihat dari praktisnya, filsafat adalah alam berpikir atau alam pikiran.

B. Unsur-unsur Filsafat
1. Ontologi
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Dengan demikian Ontologi adalah hakikat yang Ada (being, sein) yang merupakan asumsi dasar bagi apa yang disebut sebagai kenyataan dan kebenaran.

2. Epistemologi
Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos, theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat, atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar.

Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan, bahkan menentukan "kebenaran" macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Bila kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi. Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.

3. Axiologi (teori tentang nilai)
Sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan manusia Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

C. Metode
1. Metode Sistematis
Metode sistematis adalah cara mempelajari objek material filsafat, ialah mengenai materi/masalah-masalah yang dibicarakannya. Yang dimaksud sistematis disini adalah adanya susunan dan urutan dan juga hubungan menyangkut materi atau materi yang terdapat dalam bahasa.
2. Metode Historos
Metode historis adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu perkembangan pemikoran filsafat yang telah terjadi, sejak kelahirannya sampai saat ini, sepanjang dapat dicatat dan memenuhi syarat-syarat pencatatan dan penulisan sejarah.

D. Hakikat
1. Hakikat merupakan istilah filsafat yang dimaksudkan sebagai pemahaman atau hal yanv paling mendasar.
2. Filsafat tidak saja bicara wujud atau materi sebagaimana ilmu pengetahuan, tetapi juga berbicara makna yang terdapat di belakangnya.
3. Hakikat filsafat adalah sebagai akibat berpikir radikal
4. Filsafat adalah kebebasan berpikir tenatng sesuatu tanpa batas, dia mengacu pada hukum keraguan atas segala hal.

TUGAS 3_Ellya Pratiwi_1112051000030

FILSAFAT

A.    Definisi Filsafat

Secara harfiah, istilah filsafat berasal dari Bahasa Yunani yakni Philosophia, kemudian dalam perkembangannya dikenal juga dalam beberapa bahasa diantaranya Belanda, Jerman dan Perancis yang dikenal sebagai philosophie, dalam bahasa Inggris disebut philosophy, philosophia dalam bahasa Lain dan falsafah dalam bahasa Arab.

Dari pengertian-pengertian secara istilah diatas, memunculkan beberapa pemahaman makna filsafat yang berbeda-beda. Namun para filsuf yang berupa philosophien merumuskan bahwa terdapat dua unsur pokok dalam istilah filsafat secara harfiah tersebut yang terbagi atas dua akar kata yaitu phillien dan shopos  serta philos  dan sophia.

Kemudian para filsuf tersebut mencoba untuk menguraikan satu persatu pengertian dari kedua kelompok unsur pokok tersebut. Unsur pokok pertama yakni phillien dan shopos,phillien memiliki arti mencintai dan shopos memiliki arti bijaksana. Dari pengertian secara harfiah dari kedua kata tersebut, maka bermakna bahwa filsafat berarti mencintai segala sesuatu yang memiliki sifat kebijaksanaan.

Sedangkan arti atau makna dari kata philosophia ditinjau dari akar kata philos dan shopia memiliki arti kawan kebijaksanaan. Dengan kata lain philosopie berarti menurut katanya ialah mencintai akan kebijaksanaan dan berusaha untuk memilikinya.Kebijaksanaan yang dimaksud memiliki kandungan arti hakikat. Seorang filsuf berarti seorang yang mencintai kebijaksanaan dan mencari hakikat sedalam-dalamnya.

Untuk batasan-batasan filsafat sendiri, para filsuf memiliki ukuran dan batasan yang berbeda. Setiap masing-masing filsuf memiliki rumusan dan batasan tersendiri mengenai filsafat. Perbedaan tersebut sangat beragam, terkadang perbedaan itu berdasarkan essensialnya. Namun semua perbedaan itu tidak benar-benar mendasar. Namun secara jelasnya, perbedaan yang beragam tersebut dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi etimologi dan dari segi terminologi.

Secara etimologi, seperti yang sudah diuraikan diatas sebelumnya bahwa filsafat berasal dari beberapa bahasa sesuai dengan pendapat masing-masing. Ada yang beranggapan filsafat berasal dari bahasa Arab 'falsafah', ada juga yang berasal dari bahasa Yunani ''philosophia' yang merupakan sumber akar pula dari 'philosophy' yang berasal dari bahasa Inggris.

Sedangkan secara terminologi, ada banyak tokoh dan ahli dalam bidang filsafat yang mengemukakan definisi filsafat tersebut sesuai dengan kecenderungan pemikiran dan pandangan mereka masing-masing terhadap filsafat itu sendiri. Diantaranya yaitu:

1.      Menurut Plato filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan yang asli.

2.      Menurut Aristoteles filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika,ekonomi, politik dan estetika.

3.      Menurut Al Farabi filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.

Dan beberapa pengertian lainnya masih banyak filsuf yang mengemukakan pendapatnya masing-masing. Namun dari semua uraian diatas dapat ditarik garis besarnya bahwa filsafat ialah ilmu yang mencari dan mendalami tentang sesuatu secara sungguh-sungguh sehingga mencapai hakikat dari situasi tersebut.

B.     Unsur-unsur filsafat

Unsur-unsur filsafat terbagi menjadi tiga macam, antara lain:

1.      Ontologi

Secara harfiah, ontologi berasal dari bahasa Yunani; ta onta yang berarti 'yang berbeda' dan logi yang berarti ilmu pengetahuan/ajaran. Bisa disimpulkan ontologi ialah ilmu pengetahuan tentang yang berada. Secara sederhananya ontologi ialah ilmu tentang agama. Dalam levelnya ia berada di metafisik/abstrak, kemudian diurunkan ke ilmu pengetahuan (epistomologi).

Tokoh yang memperkenalkan istilah ontologi ini ialah C. Wolff (1679-1714)

2.      Epistomologi

Secara harfiah epistomologi terdiri dari kata 'episteme' yang berarti pengetahuan dan kata 'logos' yang berarti teori. Sehingga dalam istilah bahasa Inggris epistomlogi dikenal sebagai 'Theory of knowledge'. Epistomologi secara artian yang lebih rinci diistilahkan sebagai salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari lebih dalam tentang asal  mula pengetahuan, struktur, metode dan validitas pengetahuan.

3.      Aksiologi

Secara harfiahnya aksiologi berasal kata Yunani yang terdiri dari axion yang berarti nilai dan logos  yang berarti teori tentang nilai. Sedangkan secara istilahnya aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yang mempertanyakan dan mempelajari secara mendalam tentang bagaimana manusia menggunakan ilmunya. 

Aksiologi dibagi menjadi dua yaitu estetika yang berarti artistik, praktis dan bersifat relatif, serta etika yang berarti nilai atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai kata ethic.

C.     Metode

Dalam ilmu filsafat ada banyak sekali metode-metode yang dimilikinya. Sesuai dengan referensi buku yang dikutip ini, ada sekitar sepuluh metode filsafat konkret yang terdapat didalam Dicionary Of Philosophy yang dikutip oleh DR. Anton Bakker, antara lain:

1.      Metode kritis

Dipelopori oleh Socrates dan Plato yang bersifat analisa isitilah pendapat melalui cara diskusi dan bertanya.

2.      Metode intuitif

Dipelopori oleh Platinos dan Bregson, dengan cara intropeksi pembersihan intelektual serta persucian moral dan dengan jalan pembaruan antara kesadaran dan proses perubahan.

3.      Metode skolastik

Dipelopori oleh Aristoteles, Tomas Aquinas dan filsuf abad pertengahan. Bersifat sintetis deduktif.

4.      Metode matematis

Yang dipeolopori oleh Descrates dan pengikutnya. Dengan cara menganalisa hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat yang sederhana.

5.      Metode empiris

Dipelopori oleh Hobbes, Locke, Barkeley dan Hume. Metode ini mengatakan bahwa hanya pengalaman lah yang menyajikan pengertian yang benar.

6.      Metode transendental

Dipelopori oleh Kant dan Neo-Skolastik. Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.

7.      Metode dialektis

Dipelopori oleh Marx dan Hegel. Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri.

8.      Metode fenomenologis

Dipelopori oleh Husserl dan eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis, refleksi atas fenonim dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.

9.      Metode Neo-Positivitis

Kenyataan dipahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif.

10.  Metode analitika bahasa

Dipelopori oleh Wittgenstein, dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknyaucapan-ucapan filosofi. 

D.    Hakikat Filsafat

Pada hakikatnya filsafat merupakan ilmu yang berasal dari pemikirian manusia secara menyeluruh. Dapat dikatakan juga filsafat ialah sumber dari segala ilmu. Ilmu yang mencari dan mendalami tentang kebenaran dari sebuah kebenaran yang sudah ada melalui beragai proses dan metode-metode yang beragam. 

Dalam penacapaian kebenerannya yang sudah dianggap benar sebelumnya, hal ini menandakan bahwa pengetahuan manusia terhadap kebenaran itu sebenarnya terbatas dan tidak berkembang dengan pemikiran yang lain. Karena filsafat adalah satu titik penemuan tentang hakikat kebenaran yang sudah ada namun ingin dikembangkan lagi secara mendalam karena penyelesaian masalah dalam filsafat itu bersifat mendalam dan universal.

Berfikir mengenai filsafat sebenarnya lebih unggul daripada berfikiran tentang ilmu yang lainnya. Karena filsafat tidak hanya berhenti di satu titik saja,namun berkembang. Berbeda halnya dengan ilmu lain yang hanya selesai dan berhenti sampai pada pemikiran awal saja.

Dikutip pula dari pengertian filsafat oleh Hasbullah Bakry mengatakan bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segtala sesuatu dengtan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat mengahsilakn pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya mencapai pengetahuan itu. 

 

 

 

 

Cari Blog Ini