Senin, 17 Desember 2012

Ruqoyah_jurnalistik 1A_Laporan 6_Konflik yang terjadi di Masyarakat

Konflik Desa Galala yang Terlibat dalam konflik Islam-Kristen di Ambon dan Maluku
I.                 Latar Belakang

Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Soerjono soekanto menyebut konflik sebagai suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannaya dengan jalan menantang pihak lawan, yang disertai dengan ancaman dan/ atau kekerasan.

Lewis A. coser berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

Sedangkan Gillin dan Gillin melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan (oppositional process).

Artinya konflik adalah bagian dari proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan fisik, emosi, kebudayaan dan prilaku.
 
II.               Pertanyaan Pokok Penelitian
 
-        Apa penyebab yang menyebabkan desa Galala terlibat dalam pertikaian konflik masyarakat Islam-Kristen di Ambon?
 
III.              Metode Penelitian
 
Metode ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan sumber sebuah buku yang penulisnya adalah seorang yang berasal dari Ambon sehingga beliau merasakan konflik yang terjadi disana. Penelitian ini dilakukan pada Senin, 17 Desember 2012. Di rumah peneliti.
 
IV.             Gambaran Subjek Penelitian
 
Desa Galala adalah desa yang terletak diujung utara kota Ambon ini adalah merupakan desa yang tergolong besar, padat penduduk dan tingkat kehidupan masyarakat yang cukup baik. Rumah-rumah yang teratur dengan konstruksi dan bahan bangunan jauh lebih baik dari pedesaan/perkampungan masyarakat islam di dalam kota maupun luar kota, mejadi percontohan yang menarik. Desa itu berkembang dari desa asli yang telah dihuni nenek moyang mereka sejak ratusan tahun lalu, kini di huni oleh anak cucu yang rata-rata Pegawai Negri/Swasta serta nelayan kapal ikan cakalang yang pendapatannya rata-rata diatas pendapatan nelayan yang kita kenal di Indonesia ini.
 
V.               Analisis
 
Dalam konflik masyarakat Islam-Kristen ini, masyarakat desa ini bersikap manis tidak mau terlibat, mereka berudaha tetap netral. Tetapi tentu saja dalam konflik seperti ini ada saja pihak-pihak yang berfikiran lain atau mereka dipaksakan oleh RMS untuk harus terlibat. Perkembangan baru ini terbukti dengan aksi sebagian masyarakat Galala yang ikut membakar perkampungan Aster tetangganya. Aster yang baru saja tumbuh 10 tahun terakhir berpenduduk agama heterogen mauoun asal daerah termasuk dari luar Maluku sebagaimana areal hunian masyarakat maju yang tidak lagi mengotak-kotakan diri. Kesluruhan rumah muslim dan masjid megah ditengah kompleks dibakar habis, yang selamat hanya yang berdampingan rapat dengan rumah keluarga Kristen karena takut ilut terbakar.

Peristiwa penghadangan dan pembakaran mobil Hotel Maulana milik Des Alwi dijalan raya kampong Galala, melengkapi sikap masyarakat Galala yang sudah tidak netral lagi betapapun ada pihak yang membela dengan menunjuk perilaku para pemuda yang selama ini sulit diatur dikampung itu.
 
Di awal juni 2000, para mujahidin menetapkan Galala sebagai sasaran yang harus dihancurkan. Dan kemudian pada tanggal 12 juni 2000 dipagi buta terdengar ledakan bom pertama disusul ledakan-ledakan berikutnya. Senjata standar maupun rakitan menyalak cukup ramai. Pertempuran yang sudah hamper meninggalkan pedang dan tombak ini berlangsung cukup sengit, korban gugur dan luka terus mengalir ke Rumah Sakit Al-Fatah.
Serangan ke Galala ini berakhir untuk sementara kemudian pada tanggal 26 juni 2000 pagi dilanjutkan lagi dengan tembakan belasan buah granat Mortir-5 hasil rampasan dari gudang amunisi Polda Maluku pada tanggal 19 juni 2000. Serangan mortar ini berlanjut dengan desakan para mujahidin untuk mencoba menjebol pertahanan desa Galala untuk kedua kalinya.
 
Desa Galala bukan sasaran saat itu, dipertahankan terlalu kuat dengan hinterland (daerah pendalaman) pendukung yang terlalu banyak. Tetapi siapa yang bisa menghentikan serangan ke Galala yang mustahil itu. Akhirnya kegagalanlah yang menghentikan kemauan keras para laskar, mereka sadar bahwa caranya bukan demikian.
Pemaksaan yang tidak masuk akal itu menghasilkan belasan korban, dan akhirnya tekanan terhadap desa Galala baru berhenti 3 hari kemudian setelah sangat terancam oleh para sniper ditepi desa itu.

Syarif Hidayatullah_Lap6_Konflik Yang Terjadi Dalam Masyarakat.

Judul Penelitian     :
Konflik Antara Masyarakat (Pemuda) Rawasari dan Masyarakat (Pemuda) Utan Kayu.
Peneliti                       :           Syarif Hidayatullah.   (1112051100007)
Jurnalistik 1A.
 
I.                   Latar Belakang.
Konflik adalah sebuah perselisian yang terjadi dikarenakan sebab tertentu, bisa antara individu maupun kelompok. Sedangkan konflik sosial dalam konteks ini diartikan sebagai perkelahian antar masyarakat atau perkelahian yang melibatkan massa yang besar dan melibatkan antar kelompok, golongan maupun suku bangsa.
Adapun beberapa definisi konflik menurut beberapa ahli yakni  menurut  James W. Vander Zanden berpendapat bahwa konflik adalah suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan betujuan menetralkan, merugikan, ataupun menyisihkan lawan mereka. Dan Soerjono Soekanto berpendapat bahwa konflik adalah proses social dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Serta pedapat dari  Berstein Konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik mempunyai potensi positif dan ada pula yang negative di dalam interaksi social.
Dari beberapa definisi di atas dapat di peroleh kesimpulan secara garis besar bahwa konflik adalah proses sosial yangb terjadi bisa dalam tubuh individu maupun kelompok, dengan sebab tertentu dan tujuan tertentu yang sifatnya menentang di pihak lawan sosial.
 
II.                 Pertanyaan Pokok.
1.      Apa yang menyebabkan terjadinya konflik antara masyarakat (pemuda) Rawasari dengan Utan Kayu ?
 
III.              Metode Penelitian.
Metode yang peneliti gunakan adalah metode kualitatif, yakni dengan melakukan wawancara mendalam terkait masalah konflik yang terjadi antara pemuda Rawasari dengan pemuda Utan Kayu, pada hari Minggu, 17 Desember 2012 kurang lebih pukul 20.00 WIB di Jl. Pramukasari 1, Rt 10, Rw 08, No 6, di kediaman salah seorang warga sekaligus nara sumber peneliti kali ini.
 
IV.              Gambaran Subjek Penelitian.
Rawasari adalah nama tempat setingkat kelurahan yang letaknya di Jakarta Pusat dan berbatasan lansung dengan Jakarta Timur, kelurahan Utan Kayu tepatnya, dengan di batasi oleh jalan raya yang cukup luas dengan lalu lalang yang ramai hamper di setiap hari normal.
Karena letak geografis yang membuat kedua tempat ini dekat dan tak jarang terjadi banyak hal terkait letaknya yang dekat dan berbatasan langsung, baik dalam hal yang positif ataupun negatif.
Hampir disetiap hari libur khususnya pada pagi hari, tak jarang para pemuda masing-masing meluangkan waktu untuk berjalan-jalan pagi di jalan raya yang saat pagi tiba kendaraan masih sedikit, dan mereka gunakan untuk main serta berkumpul dengan yang lainnya.
V.                Analisa.
Berawal dari hari libur bulan suci Ramadan yang pada umumnya selalu ramai hampir di setiap saat dan tepat setelah waktu solat subuh masing-masing pemuda baik dari Rawasari dan Utan Kayu berkumpul di jalan raya yang menjadi batas masing-masing daerah, mereka berkumpul walau hanya berjalan-jalan ataupun nongkrong.
Dan konflikpun terjadi saat ketika terjadi interaksi antara kelompok yang hanya berpapasan kemudian di lanjutkan dengan saling ejek dan semakin parah dalam ejekan meraka dan berakhir dengan konflik yang sengit antara kedua kelompok pemuda ini. Diperparah dengan lemparan batu dan petasan yang meraka bawa yang tadinya hanya untuk mainan, berubah fungsi menjadi senjata yang mereka miliki.
Konflik masih berlanjut untuk beberapa hari di tempat yang sama yakni di jalan raya tepat pembatas kedua kelurahan, karena sudah saling rencana disini konflik semakin menjadi dengan batu yang saling melayang serta petasan yang lebih banyak dari hari pertama.
Kejadian yang berlangsung beberapa hari pada tahun 2007 ini kemudian mendapat perhatian dari masyarakat yang mulai resah akan tingkah laku pemuda-pemuda yang lama kelamaan menjadi brutal seperti preman, akhirnya kasus ini diserahkan kepada pihak yang berwajib yakni aparat kepolisian. Dan setelanjutnya kedua pihak terkait di damaikan oleh aparat kepolisian.
 
Daftar Pustaka.
 
·         Fitri Kuswari (Warga Kelurahan Rawasari).
·         http://www.metro.polri.go.id/kondisi-kamtibmas-masyarakat-jakarta/konflik-sosial

Muhammad Arfian - Laporan 6 - konflik sosial: kerusuhan Ambon

KONFLIK SOSIAL BERNUANSA SARA DI AMBON

Muhammad Arfian Mubarak (1112051100013)

Jurnalistik 1A

 

I.                   Latar Belakang

 

Untuk mengawali tulisan laporan penelitian yang bertemakan konflik ini ada baiknya memberikan terlebih dahulu arti konflik itu sendiri. Ada beberapa pendapat para ahli mengenai definisi tentang konflik itu sendiri dari sudut pandang masing-masing.

Dalam pandangan Zanden dalam bukunya Sociology, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status atau wilayah tempat yang saling berhadapan, bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka.

Robert M. Z. Lawang juga mengemukakan bahwa konflik adalah perjuangan memperoleh status, nilai, kekuasaan, di mana tujuan mereka yang berkonflik tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya.

Sedangkan menurut Soerjono Soekanto, konflik merupakan suatu proses sosial di mana orang per orangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai ancaman atau kekerasan.

Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik berlangsung dengan melibatkan orang orang atau kelompok-kelompok yang saling menantang dengan ancaman kekerasan. Dalam bentuk ekstrimnya, konflik dilangsungkan tidak hanya sekadar untuk mempertahankan hidup dan eksistensi. Konflik juga bertujuan sampai tahap pembinasaan eksistensi orang atau kelompok lain yang dipandang sebagai lawan atau saingannya.

Dalam laporan penelitian kali ini, peneliti akan menjelaskan tentang konflik yang direkomendasikan oleh teman peneliti yang mengetahui kisahnya, kerusuhan yang terjadi di Ambon 11 september 2011 silam.

 

II.                Pertanyaan Pokok Penelitian

 

1.       Bagaimana latar belakang munculnya kerusuhan di Ambon dan bagaimana dampakya bagi masyarakat Ambon?

 

III.             Metode Penelitian

 

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara dan gathering data. Narasumber pada penelitian ini adalah Agus Noor Prasetyo, mahasiswa semester 1 jurusan Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), teman peneliti yang mengetahui banyak kisah tentang kerusuhan di ambon pada masa itu. Peneliti melakukan wawancara melalui media facebook karena yang bersangkutan sedang sibuk pada saat akan diwawancara. Peneliti juga menggunakan media internet untuk memperdalam penulisan laporan ini. Penelitian ini dilakukan pada 17 Desember 2012.

 

IV.             Gambaran Subjek penelitian

Kota Ambon adalah kota dan sekaligus ibu kota provinsi Maluku, Indonesia. Kota ini dikenal juga dengan nama Ambon Manise, merupakan kota terbesar di kepulauan Maluku. Saat ini kota Ambon menjadi pusat pelabuhan, pariwisata dan pendidikan di provinsi Maluku.

Kota Ambon mulai berkembang semenjak kedatangan Portugis di tahun 1513, kemudian sekitar tahun 1575, penguasa Portugis mengerahkan penduduk di sekitarnya untuk membangun benteng Kota Laha atau Ferangi yang diberi nama waktu itu Nossa Senhora de Anunciada di dataran Honipopu. Dalam perkembangannya sekelompok masyarakat pekerja yang membangun benteng tersebut mendirikan perkampungan yang disebut Soa, kelompok masyarakat inilah yang menjadi dasar dari pembentukan kota Ambon kemudian (Cita de Amboina dalam bahasa Spanyol atau Cidado do Amboino dalam bahasa Portugis ) karena di dalam perkembangan selanjutnya masyarakat tersebut sudah menjadi masyarakat geneologis teritorial yang teratur. Selanjutnya, setelah Belanda berhasil menguasai kepulauan Maluku dan Ambon khususnya dari kekuasaan Portugis, benteng tersebut lantas menjadi pusat pemerintahan beberapa Gubernur Jenderal Belanda dan diberi nama Nieuw Victoria (terletak di depan Lapangan Merdeka, bekas Markas Yonif Linud 733/Masariku kini markas Detasemen Kavaleri). Benteng ini merupakan tempat dimana Pattimura dieksekusi. Pahlawan Nasional Slamet Rijadi juga gugur di benteng ini dalam pertempuran melawan pasukan Republik Maluku Selatan.

Republik Maluku Selatan (RMS) adalah daerah yang diproklamasikan merdeka pada 25 April 1950 dengan maksud untuk memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur (saat itu Indonesia masih berupa Republik Indonesia Serikat). Namun oleh Pemerintah Pusat, RMS dianggap sebagai pemberontakan dan setelah misi damai gagal, maka RMS ditumpas tuntas pada November 1950. Sejak 1966 RMS berfungsi sebagai pemerintahan terror di pengasingan, Belanda.

Pada bulan September 2011, Jendral Kivlan Zen purn. mengaku dalam wawancara dengan Global Post bahwa Kerusuhan Ambon sebenarnya rekayasa dari para elit RMS dan Pendukung RMS di Belanda. Mereka membuat skenario yang seolah-olah TNI dan Pemerintah Republik Indonesia telah melakukan destabilisasi Maluku secara politik dan ekonomis. Dalam skenario ini dibuat seolah-olah RMS dipersalahkan dengan sengaja dan dikambinghitamkan. Mereka memakai kalimat-kalimat seperti:

"Pada saat Kerusuhan Ambon yang terjadi antara 1999-2004, RMS kembali mencoba memakai kesempatan untuk menggalang dukungan dengan upaya-upaya provokasi, dan bertindak dengan mengatas-namakan rakyat Maluku.

Pada tanggal 29 Juni 2007, beberapa elemen aktivis RMS berhasil menyusup masuk ke tengah upacara Hari Keluarga Nasional yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para pejabat dan tamu asing. Mereka menari tarian Cakalele seusai gubernur Maluku menyampaikan sambutan. Para hadirin mengira tarian itu bagian dari upacara meskipun sebenarnya tidak ada dalam jadwal. Mulanya aparat membiarkan saja aksi ini, namun tiba-tiba para penari itu mengibarkan bendera RMS. Barulah aparat keamanan tersadar dan mengusir para penari keluar arena. Di luar arena para penari itu ditangkapi, tetapi tidak pernah disiksa dan dianiaya.

Kerusuhan Ambon 2011 adalah serangkaian krerusuhan yang dipicu oleh bentrokan antarwarga di Kota Ambon, Maluku, Indonesia tanggal 11 dan 12 September 2011. Dua kelompok massa saling melempar batu, memblokir jalan, dan merusak kendaraan di sejumlah titik di Kota Ambon serta sejumlah rumah warga dibakar Akibat peristiwa ini, tujuh orang tewas, lebih dari 65 orang luka-luka dan ribuan orang mengungsi. Kerusuhan ini sempat dikabarkan bermuatan SARA, walaupun pihak berwenang kemudian membantah hal tersebut. Namun media media Islam bersikukuh bahwa kerusuhan ini memang didasarkan oleh SARA dan pihak berwenang sengaja menutup nutupi hal tersebut, entah dengan alasan apa. 

V.                Analisis

Peristiwa berdarah 11 September 2011 bermula dari meninggalnya terhadap seorang tukang ojek Muslim bernama Darvin Saiman di daerah Gunung Nona (kampung Kristen). Peristiwa penuh kejanggalan tersebut oleh aparat kepolisian dinyatakan peristiwa kecelakaan lalu lintas tunggal. Melihat adanya kejanggalan dan ketidak wajaran dalam peristiwa lakalantas rekayasa tersebut, membuat jengkel warga muslim Ambon. Sebab fakta yang ada dilihat dari luka dan sepeda motor milik korban serta tempat kejadian perkara tidak nampak adanya kecelakaan lalu lintas, justru yang nampak jelas dan meyakinkan adalah bekas-bekas penganiayaan dan pembunuhan. Seperti luka sobek di punggung, badan penuh dengan memar dan lain-lain. Sekalipun fakta telah sangat jelas namun pihak kepolisian dan pemerintah daerah tetap ngotot dengan asumsinya bahwa itu lakalantas tunggal. Sepulang dari pemakaman Darvin ternyata warga Kristen telah menghadang dengan melakukan provokasi. Dan dalam hitungan menit tiba-tiba kampung muslim Waringin telah diserang oleh perusuh Kristen. Kerusuhan pun menjalar cepat hingga ke kota Ambon.

Pendapat lain mengemukakan bahwa kerusuhan di Ambon yang pecah Minggu petang disebabkan oleh kepentingan politik yang menggunakan sentimen keagamaan. Ada kelompok tertentu yang sengaja memancing kerusuhan. Kejadian di Ambon bermula dari tukang ojek yang mengandarai sepeda motornya dalam kondisi mabuk berat. Dalam  kecepatan tinggi, motornya menabrak pohon dan terpelanting ke rumah penduduk. Ia tewas dalam perjalanan ke rumah sakit. Sontak beredar informasi lewat sms bahwa si tukang ojek tewas karena dianiaya oleh kalangan pemeluk agama tertentu. Informasi  sesat itu meluas dalam waktu singkat, hingga terjadilah perang batu antarwarga. Dari arah yang tidak diketahui, sejumlah orang terkena tembakan senjata api. Lima tewas, belasan luka-luka. Sejumlah korban luka memberikan kesaksian bahwa mereka tidak mendengar letusan senjata api. Kuat dugaan, mereka ditembak oleh sniper dari posisi yang tidak diketahui.

Namun itu hanyalah persoalan dalam mengambil sudut pandang. Seperti yang sudah sudah kerusuhan di Ambon sangat mudah dipicu oleh hal hal yang berbau provokativ. Ambon adalah daun kering yang sangat mudah dibakar. Api kejadian kecil saja mudah ditiup menjadi kerusuhan besar. Oleh karena itu, dalam kasus Ambon, seperti kasus kerusuhan lainnya, kuncinya adalah kesigapan aparat keamanan. Andaikan saja sejak awal, aparat kepolisian langsung bertindak tegas, berdiri di tengah-tengah masa yang bertikai untuk melerai, kerusuhan tidak akan membesar hingga menimbulkan korban jiwa dan luka parah. 

Dua hari pasca bentrok di sejumlah tempat, aktivitas Kota Ambon masih belum kembali normal. Belum ada perkantoran yang buka, toko-toko pun masih tutup. Bahkan, Ambon Plasa yang biasanya penuh sesak dengan pengunjung, tak beraktivitas. Kegiatan belajar-mengajar juga belum sepenuhnya aktif. Hari ini mereka sudah mulai kembali sekolah. Namun, tak semua murid bisa masuk, terutama mereka yang harus melewati daerah bekas bentrokan. Namun Gubernur Maluku, Karel Albert Rahalu, menyatakan sutuasi keamanan di Ambon telah kondusif, menyusul penambahan 200 personel Brimob Makassar ke Kota Ambon. Sementara, Wakil Walikota Ambon, Sam Latuconsina menyatakan, sampai saat ini belum ada aktivitas perkantoran pada lingkup Pemerintah Kota Ambon.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-          http://anaajat.blogspot.com/2012/10/pengertian-dan-bentuk-bentuk-konflik.html

-          http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/kita-prihatin-kasus-ambon/11154

-          http://id.wikipedia.org/wiki/Kerusuhan_Ambon_2011

-          http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/09/11/20593/1-tahun-kerusuhan-ambon-911-dalang-masih-menjadi-misteri/

 

Ahmad Fauzi _laporan 6_Konflik yang Terjadi di Masyarakat

Judul Penelitian :

Konflik antara kampung Uwung Hilir dan Uwung Girang

Peneliti :

Ahmad Fauzi (1112051100026)

 

1.    1.  Latar belakang

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik yang terjadi di masyarakat cukup beragam, yang diakibatkan mulai dari perbedaan pendapat sampai dengan perbedaan pola pikir. Konflik biasanya dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa oleh individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya perbedaan ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, keyakinan, adat istiadat, dan lain sebagainya. Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap kehidupan masyarakat dan tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya.

Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

2.     2.  Pertanyaan pokok penelitian

Apakah yang menyebabkan pemuda- pemuda dari 2 kampung ini bersitegang?

3.     3. Metode penelitian

Peneliti dalam hal ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara secara mendalam kepada narasumber.  Lokasi penelitian ini di salah satu rumah warga kampung Uwung Hilir di Jl. Dipati Ukur  No.13 Rt.03/10, Tangerang pada hari sabtu 15 Desember 2012 pukul 15.00 WIB.

4.      4. Gambaran Subjek/Objek Penelitian

Kampung Uwung Hilir adalah salah satu kampong yang sering menjadi tuan rumah turnamen sepak bola dengan maksud untuk menjalin silaturrahmi antar kampong. Dan uwung Girang adalah kampung tetangga dari Uwung Hilir.

Adanya turnamen ini diharapkan untuk mempertajam tali persaudaraan antar kampung  karena para tetua dari kedua kampung ini mempunyai hubungan yang baik dan mereka ingin agar hubungan yang baik ini juga dijalin oleh para pemuda sebagai yang nantinya akan menjadi penerus mereka. Karena pemuda pada zaman sekarang banyak yang urak-urakan terhadap teman satu kampung maupun kampung tetangga dan sikap itulah yang ditakuti oleh para tetua dari kedua kampung ini menyebar luas dan menjadi paham.

5.      5. Analisis

Kampung Uwung Hilir sering mengadakan turnamen sepakbola antar kampong atau lebih dikenal "tarkam". Dan kampung Uwung Girang adalah salah satu peseta yang ikut dalam turnamen yang di adakan oleh kampung Uwung Hilir. Turnamen ini bukan sekedar turnamen sepak bola bagi kedua warga kampung ini tetapi juga sebagai ajang menunjukkan mana yang lebih kuat antara kedua kampung karena menjaga gengsi. Bisa dibilang perseteruan kedua kampung ini dalam kacamata sepak bola seperti "El Classico" (ini adalah istilah untuk pertandingan antara Barcelona melawan Real Madrid) karena satu sama lain sama-sama menjaga gengsi untuk tidak kalah.

 

Perseteruan ini dimulai ketika pertandingan final yang mempertemukan keduanya antara tim sepak bola dari kampung Uwung Hilir selaku tuan rumah menghadapi tim sepak bola dari kampung Uwung Girang sebagai penantang. Ketika waktu menunjukan pertandingan tinggal 15 menit lagi dan tim sepak bola dari Uwung Hilir menang dengan kedudukan 2-1. lalu salah satu pendukung dari tim Uwung Girang ada yang memasuki lapangan dan memukul wasit yang saat itu sedang diam karena pertandingan belum dimulai saat tim Uwung Hilir baru menjebol gawang lawan.dan wasit yang terkena pukulan itu langsung jatuh dan membalas dengan sebuah tendangan serta di barengi dengan serbuan dari kedua pemuda dari kedua kampung dan terjadilah bentrok antar pemuda ini hingga berlanjut sampai malam hari dilanjutkan dengan tawuran. Tawuran ini diawali dengan serangan yang dimulai oleh kubu Uwubg Girang yang menyerang para pedagang yang berada di perbatasan kampong dengan cara menghancurkan kaca serta gerobak. Lalu ada salah satu pemuda dari kubu Uwung Hilir yang dikeroyok oleh mereka hingga bonyok dan ada pemuda yang lain yang melihat kejadian itu lalu ia melapor kepada para pemuda dari kubu Uwubg Hilir setelah terkumpul pasukan kubu Uwung Hilir pun lalu mendatangi pasukan daru kubu Uwung Girang dan bentrok terjadi dari jam 21.00 sampai tengah malam yang diakhiri dengan kedatangan para petugas keamanan. Lalu setelah ada petugas kedua para pemuka dari kedua kampung ini dikumpulkan dan dirembukkan jalan keluarnya dan masalah terselesaikan dengan damai dan sekarang tidak ada konflik lagi antar kedua kubu ini.

6.      6. Daftar Pustaka

Muhammad Syafe'I (warga kampung Uwung Hilir)

http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik

Minggu, 16 Desember 2012

Annisa Novianti_Laporan 6_Konflik yang Terjadi di Masyarakat

Judul Penelitian:
Konflik antar Organisasi Masyarakat yang Berbasis Kesukuan
Peneliti:
Annisa Novianti ( 1112051100004 )

I.                   I. Latar Belakang
Konflik yang terjadi di masyarakat cukup beragam, yang diakibatkan mulai dari perbedaan pendapat sampai dengan perbedaan pola pikir. Konflik biasanya dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa oleh individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya perbedaan ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, keyakinan, adat istiadat, dan lain sebagainya. Konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap kehidupan masyarakat dan tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya.
Menurut beberapa para ahli, konflik memiliki beberapa definisi, diantaranya menurut Taquiri dalam newstrom dan Davis (1997), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat dari pada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi, dan pertentangan diantara dua pihak atau lebih secara berterusan. Lalu, menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Kemudian, definisi yang terakhir menurut Pace dan Paules (1994), konflik merupakan ekspresi pertikaian antar individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Menurut definisi yang disebutkan oleh beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa definisi konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuat tidak berdaya.
Peneliti dalam hal ini mengangkat mengenai konflik masyarakat yang terjadi di ruang lingkup organisasi masyarakat yang berbasis kesukuan, yaitu Forum Betawi Rempug (FBR) dengan Forkabi (Forum Komunikasi Anak Betawi). Peneliti merasa tertarik, karena peneliti sering berinteraksi dengan suku betawi, sehingga peneliti menyoroti konflik yang terjadi di dua organisasi masyarakat yang berbasis suku betawi tersebut.
 
II.                II. Pertanyaan Pokok Penelitian
1.      Konflik apa yang memicu ketegangan dua ormas antara FBR dengan Forkabi?
 
III.             III. Metode Penelitian
Peneliti dalam hal ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara secara mendalam kepada narasumber. Lokasi penelitian ini dilakukan di kediaman salah satu anggota organisasi masyarakat tersebut, di Jl. Raya Lenteng Agung, Gg. Ikhlas Rt 05/08 No. 96, Kebagusan, Jakarta Selatan, pada hari Sabtu, 15 Desember 2012 pukul 09.00 WIB.
 
IV.              IV. Gambaran Subjek/Objek Penelitian
Kemauan keras yang dimiliki oleh KH. A. Fadloli El Muhir dalam mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi mendorong berdirinya organisasi massa Forum Betawi Rempug (FBR). Kehadiran organisasi ini diharapkan dapat membangkitkan semangat masyarakat Betawi. Arti dari 'Rempug' yang dianut FBR sendiri yaitu agar tetap bersatu, kompak, solid, dan sebagainya.
Kehadiran FBR dirasa sangat penting untuk membantu menumbuhkan kesadaran masyarakat Betawi, terutama kaula muda, agar bangkit dan memperbaiki hidupnya. Terlebih yang tercermin dalam gemerlapnya kehidupan Kota Jakarta dan acara-acara yang ditayangkan televisi, ternyata telah memberikan pengaruh buruk pada pertumbuhan sikap dan kejiwaan sebagian kaum muda Betawi. Kehidupan masyarakat Betawi yang dulu terkenal agamis, kini mulai terkikis. Tempat ibadah mulai banyak ditinggalkan kaum muda, karena mereka lebih senang nongkrong di pinggir jalan dan tak jarang menjadi preman pasar.
Kegiatan agama kini banyak tergantikan oleh kegiatan tawuran, berjudi dan minum minuman keras. Akibatnya, putra daerah yang seharusnya dapat diandalkan dalam mengamankan Jakarta, justru sering kali malah ikut merusak Jakarta. Hal itu sungguh menyedihkan. Kehadiran FBR hanya ingin menumbuhkan kesadaran masyarakat Betawi bahwa pendidikan itu sangat penting dan mereka kembali ke kehidupan yang religius.
FBR yang berdiri pada tanggal 29 Juli 2001 tidak hanya sebagai tempat berkumpul bagi kaum muda Betawi yang tinggal di Jabotabek, namun juga diharapkan bisa menjadi tempat bagi kaum muda Betawi untuk menimba ilmu agama dan menghidupkan kembali adat-istiadat Betawi yang mulai ditinggalkan.
Kurang lebih terdapat sekitar 250 unit gardu di Jabotabek. Masing-masing gardu memiliki minimal 100 anggota. Di tempat itulah mereka setiap minggu berkumpul untuk belajar agama dan adat Betawi serta mencoba menggugah kesadaran kaum muda Betawi mengenai arti pentingnya pendidikan dalam menghadapi persaingan dunia kerja saat ini. Tak hanya sebagai sebuah tempat belajar, FBR juga berusaha membantu para anggotanya untuk mendapatkan kesempatan kerja di sejumlah perusahaan swasta serta selalu mengingatkan anggota untuk bekerja keras.
 
V.                 V. Analisis
FBR dan Forkabi merupakan dua ormas dalam ruang lingkup suku betawi, yang mempunyai visi dan misi yang sama. Kehadiran kedua ormas itu dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat betawi, terutama kaum mudanya agar bangkit dan memperbaiki kehidupannya. Namun, terkadang terjadi konflik kecil yang memicu ketegangan antara kedua ormas tersebut. Ada yang berspekulasi bahwa, konflik yang terjadi itu untuk memecah belah orang-orang betawi. Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut sempat dicurigai sebagai penyebab konflik yang terjadi antar dua ormas beraliran betawi itu.
FBR dan forkabi sempat bersitegang pada Februari 2010. Persetruan yang disebabkan oleh perebutan lahan parkir itu, menimbulkan kedua ormas tersebut terlibat bentrok. FBR 'versus' Forkabi terlibat bentrok dibawah jembatan layang (fly over) Arif Rahman Hakim, Depok, Jawa Barat. Saling balas antar dua ormas ini menyebabkan dua anggota Forkabi terluka, dan massa Forkabi pun membalas dengan menghancurkan Posko FBR di Jl. Nusantara Raya 60, Beji, Depok. Buntut konflik ini akhirnya polisi menangkap empat anggota FBR. Pasca bentrok ini pihak FBR dan Forkabi akhirnya sepakat untuk mengambil jalan islah atau berdamai untuk menyelesaikan konflik ini.
Betawi versus Betawi, itulah sebutan jika kita menarik kesimpulan dari konflik yang terjadi antara FBR dan Forkabi ini. Ormas kesukuan yang seharusnya bersinergi untuk menyatukan keutuhan suatu suku bangsa, tidak pantas terlibat pertikaian yang hanya diperkarai oleh suatu permasalahan kecil. Jika ada perbedaan pendapat antar dua kubu, seyogyanya dapat diselesaikan dengan cara musyawarah dan tidak langsung main hakim sendiri. Beruntung permasalahan dua ormas betawi antar FBR dan Forkabi ini tidak berkepanjangan dan dapat diselesaikan dengan damai.
 
VI.              VI. Daftar Pustaka
Irwan Budiawan (Anggota FBR)

Cari Blog Ini