Kamis, 11 April 2013

Teori Strukturalis_Kharisma Utama_Tugas Pertemuan Ke 2

Nama : Kharisma Utama
109051000179

TEORI STRUKTURALIS
  1. Pendahuluan
Teori Strukturalisme merupakan sebuah teori yang besar yang mempengaruhi hampir sebahagian besar bidang ilmu. Secara umum, teori Strukturalisme merupakan suatu percobaan untuk menerapkan teori linguistik kepada objek-objek dan kegiatan-kegiatan lain, selain bahasa itu sendiri. Berdasarkan pada pernyataan ini, maka teori Strukturalisme dapat dipahami sebagai teori yang menitikberatkan perkara-perkara dalaman (content) yang membentuk rangka atau struktur sesebuah teks. Struktur sesebuah teks termasuklah tema, plot, perwatakan, bahasa, latar dan sudut pandangan.
Struktur ini adalah yang sangat biasa bagi genre novel, cerpen dan drama. Bagi genre puisi terdapat unsur-unsur lain seperti rima, bentuk, nada dan rangkap. Teori Strukturalis tidak memberi perhatian pada pengarang atau apa-apa juga aspek lain di luar teks. Makna teks sepenuhnya terletak pada keseluruhan sistem dan struktur teks itu sendiri. Oleh kerana itu, pembaca tidak terpengaruh dengan aspek-aspek kontekstual dalam mencari dan merumuskan makna dalam teks, termasuk pengarang teks itu sendiri. Pengarang tidak penting dan tidak dipenting dalam Strukturalis. Pengarang bukan pusat yang menerbitkan makna teks.
  1. Metode Studi
Metode yang digunakan dalam penulisan adalah dengan menggunakan metode studi kepustakaan, yakni dengan mencari sumber-sumber referensi, menghipun dari buku-buku, catatan, dan bacaan yang relevan terkait dengan pembahasan yang akan dianalisis
  1. Analisis
Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structura, bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangun), structura berarti bentuk bangunan.
Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai salah satu tokoh penggagas aliran ini, meskipun masih banyak intelektual Perancis lainnya yang dianggap memberi pengaruh lebih luas. Aliran ini kemudian diterapkan pula pada bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, psikologi, psikoanalisis , teori sastra dan arsitektur. Ini menjadikan strukturalisme tidak hanya sebagai sebuah metode, tetapi juga sebuah gerakan intelektual yang datang untuk mengambil alas eksistensialisme di Perancis tahun 1960-an.
Saussure tidak memfokuskan diri pada penggunaan bahasa (parole, atau ucapan), melainkan pada sistem yang mendasari bahasa (langue). Teori ini lalu muncul dan disebut semiologi. Namun, penemuan sistem ini harus terlebih dahulu melalui serangkaian pemeriksaan parole (ucapan). Dengan demikian, Linguistik Struktural sebenarnya bentuk awal dari linguistik korpus (kuantifikasi). Pendekatan ini berfokus pada  bagaimana sesungguhnya kita dapat mempelajari unsur-unsur bahasa yang terkait satu sama lain  'sinkronis' daripada 'diakronis'. Akhirnya, dia menegaskan bahwa tanda-tanda linguistik terdiri atas dua bagian, sebuah penanda (pola suara dari sebuah kata, baik dalam proyeksi mental – seperti pada saat kita membaca puisi untuk diri kita sendiri dalam hati – atau sebenarnya, realisasi fisik sebagai bagian dari tindak tutur) dan signified (konsep atau arti kata). Ini sangat berbeda dari pendekatan sebelumnya yang berfokus pada hubungan antara kata dan hal-hal di dunia dengan referensinya.
Banyaknya perbedaan pendapat dalam teori strukturalisme sendiri dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu strukturalisme formalis , strukturalisme genetik, strukturalisme dinamik yang pada dasarnya secara global strukturalisme menganut paham penulis paris yang dikembangkan oleh Ferdinand de Sausessure, yang memunculkan konsep bentuk dan makna (sign and meaning). 

Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini