Senin, 28 Maret 2016

Nubdzatus S,Rifdah_social mapping narasi TPA Halimatussa'diyah_tugas 4(md4b)

Nama Kelompok : *Nubdzatus Saniyah 11140530000040

 

                               *Rifdah afifah          11140530000057

 

 

 

 

 

TPA halimatussa'diyah berdiri pada tahun 90an. TPA tersebut memliki 45 anak-anak yang belajar mengaji (survei : 26-03-2016). Alasan terkuat dikarenakan TPA tersebut dekat dengan rumah-rumah warga ketimbang TPA lain yang jaraknya lumayan jauh. Selain itu, guru ngaji yang mengajar di TPA ini termasuk Ust yang disegani didaerah tersebut. Dan merupakan pendiri TPA itu sendiri. Pengajaran di TPA tersebut masih menggunakan pengajaran yang traditional dengan menggunakan alas lekar sebagai alat untuk membaca. Dan metode pembelajaranya juga terbilang simple. Jadi, sehabis anak-anak mendapat giliran untuk membaca, maka setelah membaca dipersilahkan untuk pulang kerumahnya masing-masing. Metode pembelajaran ini dilakukan dikarenakan keterbatasan waktu, karena waktu mengaji dari pukul 16:00-17:00, Sementara jumlah anak yang mengaji terbilang cukup banyak.

 

 

Dikarenakan jumlah anak yang mengaji di TPA ini cukup banyak, akhirnya terjadi tingkat ketidak kondusifan yang terbilang cukup tinggi. Tingkat ketidak kondusifan ini menurut hasil penelitian kami disebabkan karena kurangnya kuota tenaga pengajar di TPA tersebut. Selain itu, anak-anak yang sedang menunggu giliran untuk membaca sering keluar area TPA untuk jajan di warung, bahkan terkadang mereka pergi untuk membeli jajanan tetapi tidak kembali ke TPA tersebut melainkan bermain dengan teman-teman yang tidak mengaji di TPA tersebut.

 

 

Tidak ada perubahan cara atau metode mengajar selama TPA tersebut terbentuk. Biasanya anak-anak yang mengaji di TPA tersebut apabila sudah lancar dalam membaca Al-Qur'an dan sudah beranjak dewasa maka dengan sendirinya anak tersebut berhenti untuk mengaji di TPA dan melanjutkan kepengajian remaja yang diadakan di daerah rumah-nya. Dalam belajar mengaji di TPA ini tidak memasang tarif, melainkan hanya membayar seikhlasnya itupun jika orang tua dari anak-anak tersebut mampu, Jika tidak maka tidak ada pemungutan biaya. Karena tujuan sang pendiri TPA hanya ingin anak-anak didaerahnya bisa untuk membaca al-qur'an dan mengerti hukum tajwid yang memang bagi setiap muslim dan muslimah harus mengert

 

 

Proses kami dalam meneliti social mapping terbilang cukup sulit, karena kami harus kumpul dikampus dahulu untuk melakukan penelitian tersebut. Dikarenakan tempat tinggal kami yang bertolak belakang arah rumahnya. Maka kami mengambil jalan tengah yaitu kampus. Sampai dikampus pukul 09:00, dan pada jam 09:10 kami ketempat lokasi yang mau kami teliti. Dengan menggunakan alat transportasi angkot yang nantinya turun di halte lebak bulus lalu melanjutkan naik bus transjakarta kearah senen yang nntinya turun di mampang. Namun setelah kami turun dari bus, cukup sulit mencari kendaraan yang murah kearah lokasi tersebut. Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan sampai bertemu pangkalan ojek. Setelah sampai di lokasi tujuan sekitar pukul 11:00 , kami kerumah pemilik TPA tersebut untuk meminta izin meneliti keseluruhan mengenai TPA Halimatussa'diyah ini. Ternyata TPA ini berada di depan rumah pendirinnya. Penelitian yang kami jalankan tak semulus perkiraan atau planning kami. Ternyata sang pemilik tidak ada di rumah-nya, dikarenakan sedang pergi ke acara keluarga. karena kami berfikir untuk tidak mungkin jika kembali dihari esok, maka kami menunggu sambil menanyakan ketetangga tetangga disekitar rumah tersebut,diantaranya para ibu-ibu.

 

 

Namun, hanya beberapa ibu-ibu saja yang mau menjelaskan dan yang  lain memilih untuk bungkam. Ibu Ani : beliau menjelaskan bahwa TPA ini kondisi nya dari dulu sewaktu belum memiliki anak memang sudah seperti itu secara arsitektur, tidak ada perubahan secara signifikan. Ibu Ratih: beliau adalah pemilik warung kata beliau anak-anak di TPA sering jajan di warung miliknya dan terkadang membawa makanan ketempat ngaji tersebut sehingga pengajian sering kotor dlunya sampai ust nya menyapu setelah mengajar, namun sekarang-sekarang sudah tidak karena tersedia tempat sampah dipengajian tersebut. Dan anak-anak dianjurkan untuk membuang sampah pada tempatnya. Dan terakhir menurut Ibu marlina : ibu ini adalah babysitter yang anak dari bos nya mengaji di TPA tersebut. Dia mengatakan bahwa majikannya senang apabila diajarkan di TPA tersebut selain dapat berbaur atau menambah teman anak majikannya jadi sering mengulang bacaan iqra' nya dirumah. Dan selalu ingin dating lebih awal untuk mendapat giliran pertama. Masih sangat terbatas informasi yang kami dapat Tapi setidaknya kami sudah mendapatkan informasi walaupun masih terbilang sedikit.

 

 

Selanjutnya, setelah bertanya-tanya dengan tetangga di sekitar TPA tersebut sambil menunggu, kami memutuskan untuk  ketempat warung makan di daerah tempat tersebut. Kebetulan memang sudah waktunya untuk makan siang sekitar pukul 12:30. Setelah menunggu lama kami pun kembali kerumah sekaligus ke TPA tersebut. Ternyata sang pemilik rumah belum pulang, namun ada anak beliau yang sudah pulang, namanya halimatussa'diyah. Nama ka halimah ini digunakan menjadi nama TPA dikarenakan ka halimah ini adalah anak pertama dari sang pemilik TPA. Dan mungkin umurnya tidak jauh dari umur TPA milik ayahnya. Ditengah perbinjangan kami dengan anak beliau, kami teringat jika belum melaksanakan sholat, akhirnya perbincangan harus terputus sejenak. Setelah sholat kami melanjutkan perbincangan sambil menunggu sang pemilik TPA datang. Entah apa yang ada difikiran kami atau terlalu asyik berbincang, kami sampai lupa akan tujuan kami datang kelokasi tersebut. Baru terfikirkan oleh kami untuk mewawancara anak beliau saja dikarenakan sang pemilik yang diperkirakan lama untuk sampai dirumah beliau. akhirnya kami mewawancarai anak beliau. Walaupun masih banyak info yang semestinya kami miliki, namun kami rasa ini cukup untuk hasil penelitian kami.

 

 

Tak terasa waktu terus berjalan jam menunjukkan pukul 16:00 kami izin untuk pamit pulang. Namun kami tak langsung pulang, melainkan sholat di Mushola didaerah tersebut. Dan kami pun berpisah setelah sholat dikarenakan rumah saya (Nubza) tak jauh dari lokasi yang dituju. Sedangkan rifdah harus melakukan perjalanan jauh lagi dikarenakan rumahnya yang terletak di daerah  Parung Bogor.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini