Minggu, 09 Maret 2014

Meidikartikasari_tugas1_teorisosiologiemildurkhem


NAMA : MEIDI KARTIKASARI
KELAS: KESSOS 2A
NIM     : 1113054100016
MATKUL: PENGANTAR SOSIOLOGI
A . TEORI SOSIOLOGI  EMIL DURKHEM
          Hubungan Durkhem dengan Pncerahan jauh lebih mendua ketimbang Comte. Durkhem dipandang sebagai pewaris tradisi Pencerahan karena penekanannya pada sains dan reformisme sosial. Akan tetapi, Durkhem juga dipandang sebagai pewaris tradisi konservatif , khususnya seperti tercermin dalam karya Comte. Bedanya, semenara Comte tetap berada diluar dunia akademi, yang kokoh untuk kemajuan karirnya. Durkhem melegitimasi sosiologi di Prancis dan karya akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam perkembangan sosiologi pada umumnya, dan perkembangan sosiologi pada khususnya (R. Jones, 2000).
          Secara politik , Durkhem adalah seorang liberal, tetapi secara intelektual ia tergolong lebih konservatif. Seperti Comte dan orang katolik yang menentang Revolusi Prancis, ia cemas dan membenci kekacauan sosial. Karyanya dapat banyak mendapat inspirasi dari kekacauan yang ditimbulkan oleh perubahan sosial besar seperti Revolusi Prancis dan oleh perubahan sosial lain (seperti pemogokan buruh industry, kekacauan kelas penguasa, perpecahan Negara gereja, dan kebangkitan politik antisemitise) yang menonjol di Prancis di masa hidup  Durkhem (Karady, 1993). Sebenarnya sebagian besar karyanya tercurah pada studi tentang tertib sosial. Menurutnya, kekacauan sosial bukan keniscayaan dari kehidupan modern dan dapat  dikurangi melalui reformasi sosial. Marx memandang bahwa masalah dunia modern melekat dalam masyarakat, sedangkan Durkhem (dan kebanyakan teoritis klasik lainnya) tak berpendapat demikian. Akibatnya, gagasan Marx tentang perlunya revolusisosial bertolak belakang dengan gagasan revolusi Durkhem dan teoritis lainnya. Ketika teori sosiologi klasik berkembang, gagasan Durkhem tentang keteraturan dan reformasi menjadi dominan sedangkan pemikiran Marxian merosot.
      





   Fakta-fakta Sosial. Durkhem mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris . Dalam The Rules of Sociological Method (1895/1982) Durkhem menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta –fakta sosial . Ia membayangkan fakta sosial sebagai kekuatan (forces) (Takla dan Pope, 1985) dan strukur yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Studi tentang kekuatan dan struktur berskala luas ini, misalnya, hukum yang melembaga dan keyakinan  moral bersama dan pengaruhnya terhadap individu menjadi sasaaran studi banyak teoritis sosiologi di kemudian hari (misalnya Parsons). Dalam  bukunya yang berjudul Suicide (1897/1951) Durkhem berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungka prilaku individu seperti bunuh diri itu dengan sebab-sebab sosial (fakta sosial) maka ia akan dapat menciptakanalasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi. Tetapi, Durkem tak sampai menguji mengapa individu A atau B melakukan bunuh diri; ia lebih tertarik terhadap penyebab yang berbeda-beda dalam rata-rata perilaku bunuh diri dikalangan kelompok, wilayah, negara, dan dikalangan golongan individu yang berbeda (misalnya, antara orang yang kawin dan lajang). Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosial yang menyebabkan perbedaan rata-rata bunuh diri. Misalnya, perang atau depresi ekoni dapat menciptakan perasaan depresi kolektif yang selanjutnya dapat menigkatkan anka bunuh diri. Masih banyak lagi yang dapat di bahas mengenai masalah ini, tetapi tujuan utama kita di sini adalah tuk mengatakan bahwa Durkhem mengembangkan pandangan sosiologi tersendiri dan mencoba menunjukan kegunaannya dalam studi ilmiah tentang bunuh diri.
          Agama . Dalam karyanya yang kemudian, fakta sosial nonmaterial menempati posisi yang jauh lebih sentral. Dalam karyanya yang terakhir , The Elementary Forms of  Religious Life (1912/1965), ia memusatkan perhatian pada bentuk terakhir fakta sosial non material---yakni agama. Dalam karya ini Durkhem membahas masyarakat primitif untuk menemukan akar agama. Durkhem yakin bahwa ia akan dapat secara lebih baik menemukan akar agama itu dengan jalan membandingkan masyarakat primitive yang sederhana ketimbang didalam masyarakat modern yang kompleks. Temuannya adalah bahwa sumber agama adalah masyarakat itu sendiri. Masyarakatlah yang menetukan bahwa sesuatu itu bersifat sacral dan yang lainnya bersifat profane, khususnya dalam kasus yang disebut tetomisme. Akhirnya Durkhem menyimpulkan  bahwa masyarakat dan agama(atau lebihbi umum lagi, kesatuan kolektif) adalah satu dan sama. Agama adalah cara maassyarakat memperlihatkan dirinya sendiri dalam bentuk fakta sosial nonmaterial.
          Buku-buku yang disebutkaan diatas tersebut merupakan karya penting lainnya yang membantu menetapkan posisi sosiologi di dunia akademi di Prancis pada masa pergantian abad dan menempatkan Durkhem di posisi puncak dalam bidang kajian yang sedang tumbuh itu. Pada 1898 Durkhemmenerbitkan jurnal ilmiah L'annee Sociologique (Besnard, 1983). Jurnal ini sangat berpengaruh dalam prkembangan dan penyebaran pemikiran sosologi. Durkhem dengan gigih membantu pertumbuhan sosiologi dan ia menggunakan jurnalnya sebagai sarana untuk membangun kelompok muridnya. Muridnya ini kemudian mengembangkan gagasan Durkhem dan menyebarkannya keberbagai aspek kehidupan sosial yang lai (seperti sosiologi hukum dan sosiologi perkotaan) (Besnard, 1983:1). Tahun 1910 Durkhem mendirikan pusat kajian sosiologi yang kuat di Prancis dan kajian sosiologi secara akademis melembaga secara baik di Prancis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini